Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nusantara. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Februari 2018

Kemeriahaan Festival Kebaya oleh IPPNU Brebes

Brebes, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Masih dalam peringatan Hari Kartini, Pimpinan Cabang (PC) IPPNU Kabupaten Brebes, Jawa Tengah mengadakan Festival Kebaya. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Brebes, Ahad (24/4) yang diikuti 26 peserta utusan dari PAC IPPNU Se-Kabupaten Brebes dan dihadiri ratusan kader IPPNU.

Kemeriahaan Festival Kebaya oleh IPPNU Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemeriahaan Festival Kebaya oleh IPPNU Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemeriahaan Festival Kebaya oleh IPPNU Brebes

Ketua PC IPPNU Kabupaten Brebes Ade Melly Seftiana ditemui di sela acara menjelaskan bahwa ? kegiatan ini merupakan kali kelima IPPNU menyelenggarakan Festival Kebaya guna meneladani pemikiran dan juga sikap RA Kartini sebagai pahlawan yang memperjuangkan kaum perempuan.

”Di era sekarang sudah banyak kaum perempuan yang berkontribusi terhadap kemajuan bangsa ini, seperti di Kabupaten Brebes juga dipimpin oleh perempuan,” terang Melly

Sementar itu, Ketua Panitia Lia Ulfiyanah menjelaskan beberapa rangkaian kegiatan Festival Kebaya antara lain santunan Anak yatim untuk 80 anak yatim/piatu, kemudian Seminar Produktivitas Perempuan oleh Afiyah Hidayati dari BKBPP Kabupaten Brebes.

Adapun Dewan Juri Festival Kebaya tersebut yaitu Istiqomah Solihin dari PC Muslimat NU Brebes, Siti Khoerotul Aeni dari PW IPPNU Jateng, dan Hj Hidayah Edi Muammar dari HARPI (Himpunan Rias Penganten Indonesia) Cabang Brebes.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Setelah diambil 10 besar peserta di uji wawasannya tentang kebudayaan, kebangsaan, keislaman, ke-IPPNU-an dan menunjukan kemampuan antara lain membaca puisi, Al-Qur’an dan juga menyanyi,” lanjut Lia

Setelah melalui proses penilaian yang ketat keluar sebagai juara I yaitu Siti Laelatul Hana dari PAC IPPNU Tanjung, juara II Mayasari Nuriyah dari PAC IPPNU Brebes, Juara III Noviayani dari PAC IPPNU Larangan.

Turut hadir pada kegiatan tersebut Kabag Kesra Setda Kabupaten Brebes H Imron Hisyam, Camat Brebes Eko Purwanto, PCNU Brebes, Pengurus Badan Otonom NU tingkat Kabupaten Brebes, Para Pembina dan Alumni IPPNU. (Bayu/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, PonPes, Pendidikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 14 Februari 2018

Kesan Jamaah atas Taushiyah Habib Umar di Haul Gus Dur

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Habib Umar Muthohar menyampaikan taushiyah pada acara peringatan Haul ke-7 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ? di komplek Al-Munawwaroh Jalan Warung Silah 10 Ciganjur, Jakarta Selatan, Jumat (23/12) lalu.

Sebagaimana haul Gus Dur yang diadakan tahun-tahun sebelumnya. Pada haul Gus Dur kali ini pun jajaran pejabat, ulama, seniman dan segenap masyarakat pecintai Gus Dur ? memadati tempat haul untuk memperingati, dan meneladani bapak bangsa.

Kesan Jamaah atas Taushiyah Habib Umar di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Kesan Jamaah atas Taushiyah Habib Umar di Haul Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Kesan Jamaah atas Taushiyah Habib Umar di Haul Gus Dur

Setelah acara usai, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal berkesempatan mewawancarai Syukur (30), dan Mamang M. Haerudin (26) untuk memberikan respon terhadap taushiyah Habib Umar.

Menurut Syukur, taushiyah Habib Umar penuh dengan humor yang menyegarkan. Kita diajarkan untuk tidak gampang marah, tidak arogan, menjauhi caci-maki. ?

“Oleh karenanya, kita harus bersikap moderat dalam memahami atau menyikapi kehidupan beragama ini,” ujarnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara kata Mamang M. Haerudin, Habib Umar ceramahnya sangat menghibur, dan ini menjadi teladan buat kita semua, terutama bagaimana dalam beragama tidak harus kaku, cepat tersinggung, dan cepat marah.?

“Kita bisa meneladani keberislaman Habib Umar sebagaimana Habib Umar meneladani Gus Dur,” imbuhnya.

Dalam penyampainnya, Habib Umar banyak melontarkan joke-joke yang membuat hadirin tidak ngantuk, banyak yang tertawa lepas.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kita dalam berkehidupan itu harus santai seperti ber-humor, tapi humor yang tidak kehilangan arah, humor yang penuh makna,” pungkasnya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Santri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 05 Februari 2018

Tak Progresif, Kader IPNU Bisa Digilas Kemajuan Teknologi

?Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam menghadapi perkembangan dunia yang begitu cepat, seluruh kader Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dituntut lebih progresif dan militan dalam banyak hal termasuk teknologi informasi. Jika tidak demikian, kemajuan teknologi itu sendiri yang akan menggilas kader IPNU.

Tak Progresif, Kader IPNU Bisa Digilas Kemajuan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)
Tak Progresif, Kader IPNU Bisa Digilas Kemajuan Teknologi (Sumber Gambar : Nu Online)

Tak Progresif, Kader IPNU Bisa Digilas Kemajuan Teknologi

Mantan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi ?Muhaimin Iskandar mengatakan hal itu saat mengisi seminar Rapat Kerja Nasional Pimpinan Pusat IPNU di Hotel Paragon, Jumat (9/12). "Ini fenomena teknologi informasi, yang mampu menggerakkan massa dalam demo 411 dan 212 kemarin," ujar pria yang akrab disapa Cak Imin ini.

Cak Imin menambahkan, perubahan yang sangat cepat ini tidak boleh membuat IPNU melemah, justru harus lebih kuat dan tangguh menghadapi segela tantangan ke depan. Inilah pekerjaan rumah pengurus IPNU dalam mengembangkan organisasi.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Selamat berjuang kepada pengurus IPNU seluruh Indonesia, dalam menghadapi segala tantangan yang menghadang," tambahnya. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Cak Imin menegaskan, IPNU bukanlah organisasi main-main, karena para pelajar dan santri yang tergabung dalam organisasi ini adalah generasi penerus bangsa Indonesia. Sedini mungkin para pelajar harus memupuk diri dengan berbagai ilmu pengetahuan, yang kelak akan bermanfaat di kemudian hari.

Lanjut Cak Imin, kondisi bangsa ke depan tergantung di tangan para pelajar, sehingga? diharapkan dapat menjadi generasi yang dapat membawa bangsa ini ke arah yang lebih maju dan beradab.? Seluruh kader IPNU harus menggunakan teknologi informasi, dengan melihat dari aksi 411 dan 211 kemarin.

"Di tangan pelajar harus tergantung kondisi bangsa ke depan, sehingga bangsa ini lebih maju dan beradab," pungkasnya. (Benny Ferdiansyah/Mahbib)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Internasional, Pertandingan, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor

Maroko, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dengan nilai Summa Cumlaude, Mustasyar PCINU Maroko H Muhammad Shofin Sugito berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji di aula utama perpustakaan Fakultas Sastra dan Humaniora Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah Fes, Maroko, Senin (7/4).

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor

Pada disertasi berjudul "Al-Hiwar ad-Diniy-ast-Tsaqafi wa atsaruhu fi Ma’arif al-Wahyi; dirasah qadhaya wa namadhij (Dialog Agama-Budaya dan Pengaruhnya pada Horizon Pemahaman Wahyu)", Shofin memaparkan risalah universal langit yang dibawa Nabi Muhammad Saw, yakni untuk seluruh makhluk di alam.

“Sehingga, risalah samawiyah ini akan terus bergulat dan berdialog dengan variasi pemikiran dan kebudayaan manusia dan bangsa di berbagai tempat dan masa hingga hari kiamat nanti,” kata Shofin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Shofin mengungkapkan, Islam sebagai agama langit tidak begitu saja turun ke bumi seperti makhluk luar angkasa yang asing dan menyendiri. Islam bersosial-diri dan berdialog dengan berbagai pola pikir dan kebudayaan masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Demikianlah yang diejawantahkan Nabi Muhammad SAW pembawa risalah langit dan para sahabat penerus estafet kepemimpinan umatnya,” tambahnya. 

Disertasi ini diuji oleh pakar semiotik Sayyid Mohamed Zuhair, pakar studi Quran-Sunnah dan Maqashid Syari’ah Idris Charqie, pakar Perbandingan Agama Lichaedhar Zohouth, dan pakar Pemikiran Islam Modern Al-Hassan Hamdouchi.

“Saya mendapati kuatnya bahasa Arab dan penyampaiannya dalam disertasi anak Indonesia ini. Saya kagum dari caranya meramu dan menyajikan banyak tema-tema lama (turats) yang terlupakan,” kata Idris Charqie.

Atas predikat Musyarraf Jiddan (Summa Cumlaude) yang diraih Shofin, Dubes RI untuk kerajaan Maroko H Tosari Widjaja beserta para staf, anggota PPI Maroko, dan warga Indonesia di Maroko memberikan apresiasi luar biasa.

H Tosari Widjaja menyatakan pihaknya akan meningkatkan jembatan peradaban Indonesia-Maroko terutama pada bidang keislaman dan budaya. Kerja sama itu akan memperkaya khazanah informasi ilmiah terkait Islam Indonesia melalui pertukaran dosen dan mahasiswa.

Ia juga berharap, disertasi itu dicetak setelah diperbaiki sesuai catatan para penguji untuk dimanfaatkan ilmunya. (Kusnadi El-Ghezwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Amalan, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pada Bulan Ramadhan, Allah menurunkan malam penuh dengan fadhilah dan barakah yang berjuluk malam seribu bulan yaitu malam lailatul qadar. Malam ini merupakan malam dimana diturunkan Al-Qur’an dan para Malaikat Allah ke muka bumi.

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad

"Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW patut bersyukur karena malam spesial ini hanya diberikan kepada kita. Ummat sebelum Nabi Muhammad tidak memilikinya," ujar Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pringsewu KH Ridwan Syuaib saat menyampaikan materi Ngaji Ahad Sore (Jihad Sore), Ahad (26/6).

Berdasarkan beberapa Hadits yang termaktub pada Kitab Irsyadul Ibad, pada 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan Nabi Muhammad meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya bersama keluarganya.

"Nabi selalu beribadah dengan sungguh-sungguh di 10 hari terakhir dan mengamalkan ibadah yang tidak dilakukan beliau pada bulan lainnya," terangnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Abah Ridwan, begitu Ia biasa dipanggil, menjelaskan beberapa ciri datangnya lailatul qurban yang salah satunya adalah turun dimalam-malam ganjil pada 10 malam terakhir ramadhan.

"Rasul juga memberitahukan bahwa pada ciri lain Lailatu Qadar di antaranya suasana malam yang terang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung, tidak hujan dan berangin dan tidak ada bintang berjalan," rincinya. Pada siang harinya tambahnya, suasana cerah dan matahari bersinar namun tidak terasa panasnya.

Pada lailatul qadar, Abah Ridwan menghimbau seluruh ummat Islam untuk memburu malam yang hanya ada di Bulan Ramadhan. "Mari bersama-sama memburu, mengintai lailatul qadar dengan doa, shalat dan amalan-amalan ibadah lainnya," ajaknya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Secara pribadi, Abah Ridwan dan Jamaah dilingkungannya sudah melakukan Program Tahunan untuk mendapatkan lailatul qadar. "Kita beritikaf di Masjid pada malam-malam ganjil sampai dengan shubuh dengan melakukan rangkaian amalan Ibadah," ujarnya.

Ibadah-ibadah tersebut meliputi Shalat Tahiyatul Masjid Shalat Sunnat Wudlu, Taubat, Hajat dan Tahajud. Setelah itu membaca Tasbih, Fatihah dan doa yang ditujukan untuk para Nabi, Guru, Orang Tua dan putera-puteri kita.

"Setelah membaca shalawat dan tahlil sebanyak 100 kali kegiatan ditutup dengan doa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Muharraman, Remaja Karangwangi Gelar Pawai Obor dan Main Bola Api

Cirebon, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Memperingati tahun baru 1435 H, remaja masjid Baitul Makmur di Desa Karangwangi, Kecamatan Depok, Cirebon, Jawa Barat menggelar pawai obor dan main sepak bola api. Mereka mengusung obor mengelilingi jalan utama di desa tersebut selepas sembahyang Isya, Senin (4/11) malam.

Pawai obor dilepas dengan pemasangan kembang api. Sedikitnya 300 remaja masjid Baitul Makmur berarak-arakan mengelilingi desa. Pawai ini diiringi tabuhan marching band dan hadrah para siswa SMP Al-Falah Desa Karangwangi.

Muharraman, Remaja Karangwangi Gelar Pawai Obor dan Main Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)
Muharraman, Remaja Karangwangi Gelar Pawai Obor dan Main Bola Api (Sumber Gambar : Nu Online)

Muharraman, Remaja Karangwangi Gelar Pawai Obor dan Main Bola Api

Batok kelapa rendaman minyak tanah digunakan sebagai bola dalam pertandingan sepak bola. Batok kelapa kemudian dibakar sesaat sebelum digunakan. Permainan yang sulit ditemukan di layar televisi ini menarik perhatian masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Para pemain didoakan sebelumnya sejumlah kiai untuk menghindari cedera yang tidak diinginkan,” kata Seksi Acara Gema Muharrom 1435 H Imam Syahid di lokasi, Senin (4/11) malam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pertandingan sepak bola api dilangsungkan di lapangan sepak bola Desa Karangwangi, sebelah utara Masjid Baitul Makmur.

“Sebelum pawai dan main bola api, remaja mengikuti selawatan kubro dan istighotsah di masjid setelah sembahyang Maghrib,” kata Ketua Panitia Gema Muharram 1435 H Ikhwan Abbas, Ahad (3/11) malam.

Selain remaja, masyarakat umum juga menghadiri selawatan kubro dan istighotsah. Kami, tambah Ikhwan, melibatkan para imam musholla yang ada di Karangwangi, pemuka agama, tokoh masyarakat, dan aparat desa. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Toleransi Agama di Temanggung Terus Dipupuk

Temanggung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Toleransi antar umat beragama di Kabupaten Temanggung sebenarnya telah membudaya. Pada praktik kehidupan sehari-hari, kerukunan antar umat beragama sudah menjadi kebiasaan. Hal tersebut harus terus dipupuk untuk mengantisipasi konflik dengan latar belakang agama.

Toleransi Agama di Temanggung Terus Dipupuk (Sumber Gambar : Nu Online)
Toleransi Agama di Temanggung Terus Dipupuk (Sumber Gambar : Nu Online)

Toleransi Agama di Temanggung Terus Dipupuk

Hal tersebut disampaikan Bupati Temanggung, Bambang Sukarno pada resepsi HUT RI ke-68, yang diselenggarakan Jaringan GUSDURian dan Gereja Kristen Indonesia (GKI) Temanggung, Selasa petang (27/8). 

“Temanggung sudah terjalin dengan baik. Harus kita pupuk dan kembangkan,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hadir dalam kegiatan tersebut, Wakil Bupati Temanggung, Irawan Prasetyadi, Dandim 0706/Temanggung, Letkol Inf Ganardyto Herry, Wakapolres Kompol Suwandi, Wakil Ketua DPRD Temanggung, Muhammad Amin, Wakil Ketua DPRD Wonosobo, Abdul Arif. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Dialog ini adalah salah satu cara untuk menjalin kerukunan tersebut,” paparnya.

Dalam kegiatan yang dimoderatori Abaz Zahrotien ini, menghadirkan dua pembicara, masing-masing Pendeta Darmanto Lemuel dan Koordinator Nasional Jaringan GUSDURian, Alissa Wahid.

Ketua panitia kegiatan, Andreas Kristianto, mengatakan, kegiatan tersebut dilakukan dalam rangka meningkatkan hubungan antar agama yang harmonis. Kegiatan ini akan dilakukan secara rutin dengan melibatkan seluruh agama yang ada di daerah penghasil tembakau ini.  

“Ini langkah awal menjalin toleransi,” papar pria yang calon pendeta GKI ini.

Alissa mengatakan, Indonesia diancam dengan adanya gerakan intoleransi yang semakin menguat dan masuk ke masyarakat. Untuk mengantisipasi hal tersebut, perlu dilakukan pendampingan dan pengawalan yang kuat terhadap keragaman yang ada. 

“Indonesia dibangun atas keragaman, untuk itu harus dijaga dengan kuat, bagaimanapun caranya,” katanya.

Ia mengatakan, untuk menjaga keragaman merupakan tanggungjawab bersama seluruh unsur masyarakat. Dalam menjaga keragaman tersebut, peran serta masyarakat sangat dominan untuk membentuk tatanan sosal berdasarkan Pancasila. 

“Ancaman terbesar adalah perpecahan, untuk itu harus dijaga,” tandas putri Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid ini. 

Redaktur: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Daerah, Nasional, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 Desember 2017

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Temanggung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Peringatan hari Santri di Temanggung kemarin berlangsung semarak. Sekitar 15 ribu santri tumplek blek memadati halaman Gedung Pemuda Temanggung. Mereka mengikuti apel akbar dalam rangka peringatan hari santri (HSN) 2017 dengan inspektur apel Bupati Temanggung Bambang Sukarno dan komandan apel sahabat Puryawanto (Banser Ansor Temanggung).

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Temanggung Usul Kiai Subchi Bambu Runcing Jadi Pahlawan Nasional

Apel akbar kemarin, dikemas layaknya upacara kenegaraan, meskipun para santri tetap mengenakan sarung dan peci atau almamater pondok pesantrenya masing-masing, begitu pula dengan santriwatinya. 

Selain diikuti santriwan-santriwati dari pondok pesantren se-Temanggung, para ulama dan kyai serta siswa-siswi dari lembaga pendidikan Maarif NU, peserta apel merupakan seluruh kader badan otonom (banom) NU, seperti Muslimat, Fatayat, Ansor, IPNU-IPPNU, juga PMII.

Pembacaan teks Pancasila dipimpin oleh Bupati Bambang Sukarno, petugas pembaca ikrar santri indonesia oleh Jakfar Shodiq (Sekretaris Lakpesdam NU Temanggung), pembaca amanat PBNU oleh KH Muhammad Furqon atau Gus Furqon (Ketua PCNU Temanggung) dan pembaca teks resolusi jihad oleh KH Yacub Mubarok (Rais Syuriyah PCNU Temanggung).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Tanfidz PCNU Temanggung KH Muhammad Furqon menuturkan, hari ini (kemarin, red) keluarga besar NU Temanggung bersama santri memperingati hari santri. Dengan peringatan hari santri ini, isi resolusi jihad 22 ktober 1945 silam, bisa menyemai dan memberi semangat para santri sebagaiamana yang telah dilakukan oleh sang pendiri  NU KH Hasyim Asyari.  

"Santri bisa tetap mencintai NKRI dan bisa memberi kenyamanan untuk lingkungan atau masyarakat. Saya berharap, santri bisa meneladai perjunagan KH Hasyim Asyari," harapnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

KH Yacub Mubarok menuturkan, dirinya bersama Bupati Temanggung Bambang Sukarno dalam waktu dekat ingin menghadap Presiden Joko Widodo untuk menyampaikan dan mengusulkan KH Subchi Parakan Temanggung bisa menjadi pahlawan nasisional.

Menurutnya, KH Subchi tidak hanya terkenal di Temanggung dan Indonesia saja, namun juga terkenal sampai Belanda dan Jepang. Beliau merupakan penggerak hebat untuk NKRI, sehingga bisa menghantarkan bangsa dan negara ini ke gerbang kemerdekaan. 

"Atas jasa dan perjuanganya itu, sudah selayaknya negara memberikan pengahargaan. Beliua seorang  patriotis, berjuang untuk kedaimaan, kenyamana dan kemerdekaan. Beliau merupakan aset bangsa dan idola kita semua," ucapnya.

Sementara itu, Bupati Bambang Sukarno mengaku siap mengawal dan mengantarkan Yacub Mubarok ke Istana negara untuk menghadap presiden. Menurut Bambang, jasa KH. Subchi saat besar untuk bangsa ini, beliau tidak hanya milik Temanggung, Bangsa Indonesa, tapi juga dunia internasional.

"Sudah sepatnya, belaiu (almarhum KH Subchi) mendapat gelar pahlawan. Dengan momentum hari santri tahun ini, saya berharap santri dan warga Temanggung pada umumnya tetap cinta NKRI, setia terhadap pancasila, UUD 1945 dan bhineka tunggal ika," pungkasnya. (Ahsan Fauzi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Quote, Habib, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada

Way Kanan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan mengajak pelajar NU terlibat aktif dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) pada Rabu 9 Desember mendatang. Pelajar NU yang sudah memiliki hak suara dan hak pilih, diminta partisipasinya untuk mengawal jalannya pemilukada mendatang.

IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada

"Pelajar NU yang menapaki pendidikan di jenjang menengah ke atas, tentu tak sedikit yang sudah memiliki hak pilih. Bagi kami tentu menolak untuk golput," terang Ketua IPNU Way Kanan Zaenal Abidin di Blambangan Umpu, Selasa (30/6).

Menurut alumnus STAI Al-Ma’arif Way Kanan ini, pelajar NU harus selalu menghadirkan spirit kebangsaan sebagaimana telah dicontohkan oleh para sesepuh dan pendiri NU yang peduli terhadap nilai demokrasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Beberapa hari yang lalu, IPNU Way kanan melakukan komunikasi dan kordinasi dengan KPU Way Kanan untuk menjadi pemanatu pemilukada 9 Desember mendatang.

Komisioner KPU Way Kanan Erwan Bustami membenarkan kedatangan IPNU yang melakukan koordinasi terkait minat organisasi pelajar NU tersebut sebagai pemantau.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Erwan mengatakan, saat ini KPU Way Kanan mengundang organisasi atau lembaga independen lainnya untuk menjadi pemantau Pemilukada 9 Desember mendatang. Calon pemantau pilkada ini berasal dari lembaga resmi yang telah berbadan hukum, baik ormas, atau lembaga yang memang membidangi.

Selain itu, calon pemantau disyaratkan berasal dari lembaga yang memiliki struktur kepengurusan yang jelas serta memunyai dana sendiri untuk melakukan pemantauan pada pilkada di Kabupaten Way Kanan, kata Erwan.

Ketua Pimpinan Cabang Generasi Muda Kesatuan Penerus Perjuangan Republik Indonesia (GARUDA KPP-RI) Way Kanan Heri Amanudin mengatakan bahwa masyarakat  diharapkan bisa cerdas dalam memilih. Jika ada kandidat yang bermain money politic, itu sudah jelas tidak boleh dipilih.

"Sebab, calon yang main money politic, disadari atau tidak, telah melakukan penodaan terhadap nilai demokratisasi. Juga, melecehkan rakyat dengan mengetengahkan suap," ujar Heri yang pernah memimpin PKC PMII Sumatera Selatan tersebut. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Bahtsul Masail, AlaNu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 05 November 2017

Hanya 10 Bulan, Omzet BMTNU Pakong Tembus Rp2,3 Miliar

Pamekasan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Baitul Mal wat Tamwil Nahdlatul Ulama (BMTNU) Jawa Timur Cabang Pakong menjadi perbincangan hangat selama Rapat Anggota Tahunan (RAT) BMTNU area cabang Pamekasan dan Sampang di Aula STAIN, Sabtu (14/1). Pasalnya, BMTNU yang baru berdiri 10 bulan tersebut berhasil meraih omzet sebesar Rp2,3 miliar.

Angka itu merupakan yang terbesar di Kabupaten Pamekasan, kalah sedikit ke Cabang Camplong Kabupaten Sampang yang menembus Rp2,7 miliar. Bedanya, Cabang Camplong sudah bertahun-tahun berdiri dan tertua dibanding BMTNU lainnya.

Hanya 10 Bulan, Omzet BMTNU Pakong Tembus Rp2,3 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)
Hanya 10 Bulan, Omzet BMTNU Pakong Tembus Rp2,3 Miliar (Sumber Gambar : Nu Online)

Hanya 10 Bulan, Omzet BMTNU Pakong Tembus Rp2,3 Miliar

"Ini luar biasa. Kami bangga dengan prestasi para pengelola BMTNU di Kabupaten Pamekasan dan Sampang. Utamanya MWCNU Cabang Pakong yang hanya dalam hitungan 10 bulan sudah mampu menembus omzet Rp2,3 miliar," ujar Direktur Utama MWCNU Jawa Timur Masyudi.

Sementara itu, Ketua MWCNU Pakong KH Zainul Waqud menyatakan, keberhasilan ini tidak lepas dari kekompakan para pengurus MWCNU Pakong beserta para banomnya. Warga NU di Pakong memunyai andil besar dalam kemajuan BMTNU.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Para pengurus dan warga nahdliyin cukup sadar bahwa BMTNU merupakan salah satu alat perjuangan untuk menggapai kemandirian di bidang ekonomi," tandasnya. (Hairul Anam/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Syariah, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 September 2017

Sejarah Indonesia Tak Memberi Ruang untuk Pesantren

Pati, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Buku babon sejarah nasional Indonesia enam jilid yang diterbitkan oleh pemerintah Orde Baru tidak memberi ruang bagi kalangan pesantren dalam perjuangan nasional. Padahal jelas sekali peran ulama dan santri luar biasa besar dalam mendirikan dan mempertahankan negara Indonesia.

Sejarah Indonesia Tak Memberi Ruang untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejarah Indonesia Tak Memberi Ruang untuk Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejarah Indonesia Tak Memberi Ruang untuk Pesantren

Demikian dalam bedah buku ‘Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad’ karya Zainul Milal Bizawie di STAI Mathali’ul Falah (STAI MAFA) Pati, Jawa Tengah, Kamis (10/4). Penulisnya hadir sebagai narasumber bersama Munawir Aziz (peneliti dan kolumnis), dan juga Ketua STAIMAFA, H. Abdul Ghoffar Rozien.

‘Laskar Ulama Santri dan Resolusi Jihad’ ingin meluruskan kembali sejarah nasional Indonesia yang sudah dibelokkan oleh kekuasaan Orde Baru, melalui tim kerja Nugroho Notosusanto itu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Milal mengungkapkan, pertarungan kepentingan untuk melemahkan Indonesia antara lain dilakukan melalui narasi sejarah.

“Jika mau menghancurkan negara, sekarang tidak usah berperang. Cukup dengan melenyapkan dan membelokkan sejarahnya, maka pelan-pelan akan hancur sendiri,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Karena itu, Milal berusaha untuk mengetengahkan kembali peran ulama dan pesantren dalam perjuangan nasional.

Munawir Aziz mengatakan, banyak sekali ulama-ulama yang berjuang pada masa Perang Diponegoro dan perang kemerdekaan pada 1945.

“Akan tetapi hal ini tidak kelihatan karena naskah-naskah sejarah yang ada tidak banyak memberi tempat bagi kiprah ulama,” ungkap Munawir yang sedang melakukan riset tentang kajian pesisiran.

Abdul Ghoffar Rozien menambahkan, narasi pengetahuan Indonesia yang beredar memang tidak menyebutkan ulama-ulama sebagai penegak perjuangan kemerdekaan.

“Maka sudah saatnya, sejarah dan pengetahuan di Indonesia, diluruskan dengan informasi dan publikasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Santri dan kaum pesantren bukan penumpang, tapi pemilik sah Indonesia,” tegas Rozien.

Buku karya Milal Bizawie, mengisahkan tentang perjuangan ulama dan santri pada perjuangan kemerdekaan awal abad 20. (Farid Abbad/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 September 2017

Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia

Rembang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dalam sebuah acara pengajian, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair menyinggung soal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar serentak di sebagian besar kabupaten dan kota di Indonesia pada 9 Desember lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah menuturkan, pemilihan umum ini merupakan tonggak demokrasi Indonesia.

Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia

"Siapapun yang ikut mencalonkan diri pada tanggal 9 Desember kemarin, mereka adalah anak bangsa yang juga telah ikut andil dalam menyukseskan demokrasi di Indonesia", tuturnya dalam acara Haflah Khatmil Qur’an di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Islamic Center, Lasem, Rembang, Senin (14/12) sore.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Mbah Moen, sapaan akrabnya, politik bukan untuk memuaskan kepentingan sesaat, melainkan untuk mendialogkan Islam dengan kebangsaan. Ia menambahkan, pemilihan umum ini merupakan tindak lanjut dari praktik yang pernah dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin.

Turut hadir dalam acara ini beberapa tokoh agama, di antaranya KH Sofwan (Imam Masjid Lasem), KH Khaizul Maali (Mustasyar PCNU Kabupaten Rembang), H Arwani Thomafi (anggota DPR RI). Acara ditutup dengan doa oleh KH Maimoen Zubair. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 23 Agustus 2017

‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya

Hague, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemerintah Belanda tidak memberi toleransi kepada warganya yang terindikasi terlibat dalam terorisme. Langkah-langkah politik administratif dilakukan untuk membendung gejala ekstremisme di negaranya.

‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya

Baru saja menteri kehakiman negeri kincir angin itu mencabut status kewarganegaraan empat orang warganya diduga kuat melakukan perjalanan ke zona konflik dan bergabung dengan organisasi teroris.

(Baca juga: Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah)

 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kepada wartawan di Parlemen Belanda, Rabu (12/9), seperti dikutip AP, Menteri Kehakiman Belanda Stef Blok mengatakan, keempat orang tersebut diyakini telah melakukan perjalanan ke Suriah. Menurutnya, mereka semua berkebangsaan ganda, yakni Belanda dan Maroko.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mereka yang identitasnya belum dipublikasikan itu juga mendapat julukan sebagai "makhluk asing yang tak diinginkan," yang berarti mereka tidak dapat secara sah kembali ke Belanda atau ke negara lain di zona perjalanan paspor Schengen Uni Eropa.

Sejumlah warga Belanda telah pergi ke Suriah dan Irak dalam beberapa tahun terakhir untuk bergabung dengan kelompok ekstremis yang mengatasnamakan nama Islam. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Tokoh, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 26 Juli 2017

Lakpesdam Diharapkan Jadi Pusat Pengkaderan NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) diharapkan menjadi pusat pengkaderan di lingkungan NU. Hal itu seiring dengan kegelisahan atas fenomena mandegnya proses kaderisasi di tubuh organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Indonesia itu.

Demikian pesan mantan Rois Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Muchit Muzadi sebagaimana disampaikan Ketua Umum Lajnah Ta’lif wan Nasyr NU Munim DZ saat berbicara pada roundtable discussion yang digelar Pengurus Pusat (PP) Lakpesdam NU di kantornya, Jalan KH Ramli, Jakarta, Jum’at (24/11)

Lakpesdam Diharapkan Jadi Pusat Pengkaderan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam Diharapkan Jadi Pusat Pengkaderan NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam Diharapkan Jadi Pusat Pengkaderan NU

Pada diskusi bertajuk “Refleksi dan Evaluasi Pengkaderan di Lingkungan NU” itu hadir beberapa petinggi PBNU, Drs H Masrur Ainun Najih (Katib Syuriah) Drs H Taufiq R Abdullah (Wakil Sekjen)—serta para aktivis muda NU dari sejumlah badan otonom, lajnah maupun lembaga yang berada di bawah naungan NU.

Menurut Munim, Kiai Muchit yang juga kakak kandung Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi menginginkan agar Lakpesdam NU mampu menjalankan tugas dan peran sebagai penguat proses pengkaderan di tubuh NU. “Tujuannya tidak hanya penjenjangan di organisasi, tapi juga menumbuhkan militansi kader NU,” tandasnya.

Kekhawatiran atas semakin menguatnya gerakan dan kelompok Islam garis keras di negeri ini, tampaknya menjadi salah satu alasan utama. Karena, menurutnya, saat ini tidak sedikit kelompok-kelompok Islam radikal tersebut telah berani dan terang-terangan merebut aset milik NU, termasuk kadernya. “Banyak kader NU yang berada di luar telah kehilangan militansinya terhadap NU,” pungkasnya.

Lebih lanjut, Munim menjelaskan, pola kaderisasi yang seharusnya dilakukan NU melalui Lakpesdam seharusnya bersifat indoktriner dan tidak lagi menggunakan pola partisipatoris. Karena dengan cara itulah militansi seorang kader akan tumbuh. “Menghadapi kehidupan yang begitu keras seperti sekarang ini jangan pakai pola partispatoris,” tegasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bak gayung bersambut. Tampaknya PBNU pun menghendaki hal yang sama. Lakpesdam, sebagai sebuah lembaga yang selama ini menjadi pusat penelitian dan pengkajian di NU tersebut memang seharusnya pula mampu menjadi pusat pengkaderan. Ibaratnya, di pundak Lakpesdam lah, masa depan NU digantungkan.

“Jadi, seperti konsep, sistem, pola, metode pengkaderan dan sebagainya, berasal dari Lakpesdam. Lakpesdam lah yang bertugas menyusun sistem pengkaderan bagi Muslimat NU, GP Ansor, Fatayat NU, IPNU-IPPNU, dan lain-lain,” kata Wakil Sekjen PBNU Taufiq R Abdullah yang juga mantan Ketua Pengurus Wilayah Lakpesdam NU Jatim.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pada dasarnya, kata Taufiq, peran tersebut, telah dijalankan Lakpesdam NU saat ia berstatus lajnah. Hal itu kemudian berubah, bahkan hilang sama sekali, ketika Lakpesdam NU berganti status menjadi lembaga saat Muktamar NU ke-29 di Cipasung, Jawa Barat tahun 1994.

“Dulu, Lakpesdam benar-benar menjadi pusat pengkaderan NU. Hal itu didukung statusnya sebagai lajnah yang sifatnya sangat lintas lembaga, lintas sektoral,” terang Taufiq. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Olahraga, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 22 Maret 2017

Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Workshop Pengkaderan Pimpinan Pusat (PP) Ikatan Pelajar Puteri Nahdlatul Ulama (IPPNU) siap digelar. Forum yang akan merumuskan sistem, metode dan strategi pengkaderan paling mutakhir di organisasi berbasis pelajar puteri NU itu akan dilaksanakan pada 4-7 Januari mendatang di Vila Lacitra, Cipanas, Bogor, Jawa Barat.

Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)
Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar (Sumber Gambar : Nu Online)

Workshop Pengkaderan IPPNU Siap Digelar

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi akan membuka secara resmi acara yang akan diikuti 50 peserta perwakilan dari pengurus wilayah (PW) IPPNU seluruh Indonesia tersebut. Upacara pembukaan akan dilakukan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta.Sejumlah tokoh NU direncanakan akan hadir dalam acara tersebut. Antara lain Ketua PBNU, Masdar Farid Mas’udi dan Ahmad Bagdja. Beberapa mantan Ketua Umum IPPNU, Ulfa Masfufah dan Ratu Dian Hatifah pun dijadwalkan turut hadir. Mereka akan memberikan masukan dalam kaitannya dengan pengkaderan di NU.

Sebagaimana diberitakan situs ini, kurang optimalnya proses pengkaderan di NU, terutama pula di IPPNU menjadi alasan utama diselenggarakannya acara tersebut. Selain itu, acara tersebut juga merupakan bagian dari upaya untuk merevisi buku pedoman metode pengakaderan yang sudah ada. Karena metode yang ada dalam buku tersebut dirasa kurang relevan lagi.

“Yang jelas perlu evaluasi atas proses pengkaderan kita (IPPNU) selama ini. Dari workshop itu diharapkan ditemukan rumusan atau formula baru pada pengkaderan IPPNU,” kata Ketua Umum PP IPPNU Wafa Patria Umma kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di Kantor PBNU, Jakarta, Selasa (2/1).

Pada workshop itu, lanjut Wafa, setiap pimpinan wilayah (PW) diberi kesempatan untuk menjelaskan potensi dan tantangan pengkaderan IPPNU di masing-masing daerah. Harapannya, katanya, dapat ditemukan rumusan baru pengkaderan organisasi yang dipimpinnya, selain juga meminta masukan dari para tokoh NU.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara, hingga berita ini diturunkan, sejumlah peserta sudah mulai bedatangan, terutama peserta dari luar pulau Jawa. Di antaranya, perwakilan dari PW Sulawesi Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Barat, Kalimatan Selatan, Bengkulu, Papua, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Buku Saku Aswaja

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain akan merumuskan kembali sistem pengkaderan yang nantinya akan disusun dalam bentuk buku pedoman, Wafa mengatakan, IPPNU juga akan menerbitkan buku saku yang berisi tentang ajaran atau paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)—sebagaimana dianut NU. Hal itu, katanya, dilakukan juga untuk mendukung proses pengkaderan.

Buku saku Aswaja yang akan dibuat dalam format sederhana itu, imbuhnya, nantinya akan dibagikan secara gratis untuk setiap kader. “Biar kalau ada kader IPPNU yang nggak paham Aswaja, bisa langsung baca buku saku itu,” ungkapnya. (rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Humor Islam, Kajian Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 02 Februari 2017

PBNU Perlu Program Tangkal Budaya Asing

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Merosotnya moralitas bangsa ? dan masuknya budaya asing yang bertentangan dengan budaya bangsa Indonesia harus mendapat perhatian khusus oleh PBNU. Perhatian tersebut akan terlihat dari program-program kerja yang dihasil selama berlangsungnya Muktamar NU yang berlangsung di Jombang awal Agustus 2015 ini.?

Hal itu mengemukakan pada sidang Komisi Program Muktamar ke-33 NU yang berlangsung di Pondok Pesantaren Darul Ulum, Rejoso, Jombang, Selasa (4/8) siang. Sidang Komisi dipimpin Ketua Sidang Komisi Program Arifin Junaidi yang juga ? Ketua PP LP Maarif, ? dihadiri lebih kurang 450 peserta utusan dari PW, PC dan PCINU.?

Pengurus PCNU Kota Palembang Musawir mengungkapkan, perlu program menangkal budaya asing maupun yang tumbuh dari Indonesia yang merusak nilai-nilai moral anak bangsa. ? Tayangan ? film dan sinetron di sejumlah televisi swasta nasional banyak yang tidak mendidik, bahkan mengajarkan nilai-nilai tak bermoral.?

PBNU Perlu Program Tangkal Budaya Asing (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Perlu Program Tangkal Budaya Asing (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Perlu Program Tangkal Budaya Asing

"Untuk itu, bagaimana PBNU hadir dengan program yang mampu menangkal budaya dari ? tayangan-tayangan televisi tersebut. Karena Tayangan tersebut masuk ke kamar-kamar ? anak-anak di seluruh pelosok negeri," tambah Musawir.?

Seiring dengan itu, Imran dari PC Bandung mempersoalkan belum tergambarnya program PBNU terkait penyalahgunaan narkoba, merosotnya moralitas, perzinaan, kebebasan pergaulan, dampak IT (informasi teknologi). Dengan adanya program tersebut, berarti PBNU ? peduli dengan ? bangsa ini.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Karena masalah penyalahgunaan narkoba, moralitas, perzinaan, pergaulan bebas dan dampak negatif IT bisa menghancurkan bangsa ini," katanya.?

Mayoritas warga NU berada di daerah ? pinggiran. Mereka dikuasai oleh ? media televisi, tapi ? bukan media milik NU dan bernuansa NU. Untuk itu, harus ada media (televisi) yang bisa dijadikan sarana komunikasi dari pusat hingga ranting. Media IT satu-satunya cara membangun kekuatan NU ke depan, tambahnya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ahmad Jaelani dari PCNU Lampung Tengah, Propinsi Lampung mengungkapkan kalau Wahabi dulu ada di Timur Tengah, tapi sekarang sudah banyak ada di Indonesia. Kehadirannya ? sudah meresahkan masyarakat di Indonesia. Untuk itu, sangat penting mengirimkan buku-buku aswaja dan amaliah NU ke daerah-daerah. Kalau pun ada di PCNU buku tersebut, tapi lebih indah kalau PBNU yang mengirimkan ke PCNU sehingga seragam seluruh Indonesia.?

Ahmad Jaelani juga mengusulkan, PBNU tidak hanya memperbanyak buku-buku bernuansa NU dari berbagai sisi. Alasannya, mayoritas warga NU tidak gemar membaca buku. Jadi VCD ini penting bagi warga NU yang tidak gemar membaca. ? VCD amaliah dan dalil-dalil dari ? amaliah NU dalam bentuk VCD bisa disaksikan berulang-ulang sampai pendengarnya paham. Langkah awal bisa mencetak sejuta VCD yang disebar ke berbagai wilayah dan cabang di Indonesia. (Armaidi Tanjung/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal PonPes, Nusantara, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 30 September 2016

Inilah Fatwa Unik KH Ali Mustafa Yakub

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Pakar hadits Indonesia almarhum KH Ali Mustafa Yakub dengan cermat meneliti hadits yang berkenaan dengan shalat untuk minta turun hujan, istisqa. Dari hadits tersebut mantan Imam Besar Masjid Istiqlal ini menyimpulkan bahwa Rasulullah SAW mengajarkan bentuk lain dari doa yang selama ini diamalkan umat Islam.

Menurut Pengasuh Pesantren Luhur Darussunnah Pisangan-Barat Ciputat, Tangerang Selatan ini, selain doa dalam bentuk lafal Rasulullah SAW juga mengajarkan doa dengan isyarat.

Inilah Fatwa Unik KH Ali Mustafa Yakub (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Fatwa Unik KH Ali Mustafa Yakub (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Fatwa Unik KH Ali Mustafa Yakub

“Pada peristiwa shalat ististqa ini Rasulullah SAW memutar posisi serbannya. Beliau SAW mengajarkan kita doa bir rumuz, yakni doa dengan isyarat atau simbol,” kata Hengki Ferdiansyah, salah seorang santri Pesantren Darussunnah menirukan gurunya almarhum KH Ali Mustafa Yakub.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ulasan ini, kata Hengki, disampaikan dengan pengantar berbahasa Arab oleh almarhum Kiai Ali Mustafa Yakub saat mengajarkan para santri di pesantrennya beberapa bulan lalu.

Doa dengan isyarat ini juga dipraktikkan masyarakat Islam Nusantara. Di Jawa Timur ada tradisi bakar bakar batu atau keramik dengan cara unik. Kalau mau warna merahnya bagus, mereka menancapkan batang lidi di depan rumah. Ujung lidinya diberi cabai.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Ini adalah bentuk doa bir rumuz agar batu bata yang dibakar bisa berwarna merah seperti warna cabai,” kata Hengki mengulang contoh yang diberikan Kiai Ali Mustafa.

Almarhum Kiai Ali memberikan contoh lain praktik doa seperti ini. Sebagian masyarakat Nusantara biasa meletakan buah kelapa ketika mengawali pembangunan rumah. “Itu sebagai doa agar rumah yang mereka bangun bisa bermanfaat seperti halnya buah kelapa.”

Terkait jumlah hadits yang dihafal Kiai Ali Mustafa, para santrinya tidak bisa menyebutkan secara pasti. Kiai lebih menekankan pemahaman hadits itu sendiri, tambah santri asal Sumatera Barat ini kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di Jakarta, Senin (2/5) siang.

“Kiai lebih menekankan pemahaman akan hadits ke kita. Paham secara mendalam satu hadits lebih baik ketimbang hafal dan baca banyak hadits tetapi tidak paham atau setengah paham,” ujar Hengki mengenang pesan kiainya.

Senin (3/5) malam ini pihak keluarga dan pesantren menyelenggarakan peringatan tujuh hari wafatnya almarhum KH Ali Mustafa Yakub di Pesantren Luhur Darussunnah Jalan SD Inpres No. 11 Pisangan-Barat Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.

Semoga Allah SWT menempatkan almarhum di sisi-Nya dan menganugerahi ampunan-Nya untuk almarhum guru kami, tandas Hengki. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Februari 2016

Perkuat Ideologi, PMII Subang Gelar Sekolah Aswaja

Subang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus harian PMII Subang memfasilitasi kadernya dalam “Sekolah Aswaja” di pesantren Minhajut Thalibin, Patokbeusi, Subang. Sejak Jumat-Ahad (17-19/4), peserta diajak mengaji bersama paham Aswaja NU secara teologis hingga politis.

Perkuat Ideologi, PMII Subang Gelar Sekolah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkuat Ideologi, PMII Subang Gelar Sekolah Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkuat Ideologi, PMII Subang Gelar Sekolah Aswaja

Ketua PMII Subang Abdun Nasir dalam sambutannya menyampaikan, generasi anak bangsa harus diselamatkan, perkembangan radikalisme dan pergaulan bebas, minuman-minuman keras berkembang sangat luar biasa. Untuk itulah sekolah Aswaja digelar.

"Ini dalam rangka menggodok para mahasiswa yang tergabung dalam PMII terkait dengan akidah dan nalar berpikir keislaman serta keindonesiaan," ujar ? Nasir, Jumat (17/4).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemateri kegiatan ini terdiri atas tokoh-tokoh agama di Subang seperti Ketua PCNU Subang KH Musyfieq Amrullah, aktivis kawakan NU Wari Maulana, dan lainnya.

"Manfaatkan sekolah Aswaja ini sebaik mungkin untuk memperkuat pribadi kita, dan menjaga nilai-nilai radikalisme yang bisa merusak keutuhan NKRI," ujarnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pengasuh pesantren Minhajut Thalibin KH Mahfudz Romly menyatakan bahagia atas adanya kegiatan tersebut. kegiatan ini diharapkan memberikan kecerahan generasi muda di masa mendatang.

"Salah satu yang melatarbelakangi kenapa wali 9 begitu sukses membawa ajaran Islam, padahal waktu itu warga pribumi mayoritas non muslim, itu karena yang dibawakan oleh wali 9 adalah nilai-nilai Aswaja," ujarnya.

Ia menyebutkan 4 pilar dalam Aswaja untuk membawa pribadi muslim yang selamat di dunia dan akhirat. Pertama, toleransi, untuk ? membentengi aliran-aliran radikal. Kedua, tasamuh atau pertenghan sehingga anti terhadap kekerasan. Ketiga, tawazun (moderat) menjaga keseimbangn antara duniawi dan ukhrowi. Keempat, itidal, keberpihakan terhadap kebenaran.

"Selamat belajar. Tegakkan terus nilai-nilai Aswaja," ujarnya.

Selagi paham Aswaja masih ada di Indonesia, maka NKRI tidak akan bubar. Karenanya harapan besar antara lain ditujukan kepada kader-kader PMII untuk membangun bangsa agar menjadi bangsa yang lebih baik lagi.

"NU ini akan bergerak dan hidup manakala bergerak, berjalan sesuai dengan posisinya, menegakan terus nilai-nilai Aswaja," kata Kepala Kemenag Subang H A Sukandar saat membuka sekolah Aswaja. (Zaenal Mutaqin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Nusantara, Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 Mei 2015

PBNU: Presiden Tak Boleh Tunduk pada Kepentingan Partai

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil  Siroj menyatakan Presiden Joko Widodo merupakan presiden yang dipilih oleh rakyat dan kini menentukan arah nasibnya rakyat. Walaupun ia diusung oleh partai tertentu, tetapi tidak boleh tunduk pada kepentingan partai. Kepentingan rakyat harus menjadi prioritas diatas kepentingan yang lain. 

PBNU: Presiden Tak Boleh Tunduk pada Kepentingan Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Presiden Tak Boleh Tunduk pada Kepentingan Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU: Presiden Tak Boleh Tunduk pada Kepentingan Partai

“Apa yang terjadi, kita tonton setiap hari merupakan batu ujian besar bagi pemerintah sekarang. Ujian yang cukup berat, tetapi kalau Pak Jokowi bisa mengatasi masalah ini, akan mudah. Tetapi kalau tidak mampu, maka popularitasnya akan terus merosot,” jelasnya di gedung PBNU, Selasa (17/2).

Mengenai keputusan pra pengadilan yang mengabulkan gugatan calon kapolri Budi Gunawan, ia menghormati keputusan tersebut. “Keputusan tersebut harus dihargai, soal BG dilantik atau tidak, itu hak perogratif presiden,” tandasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hal lain yang diapresiasinya adalah sikap netral Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang netral, sama sekali tidak ikut campur tangan dalam urusan politik yang menunjukkan semakin dewasanya TNI dalam mengawal demokrasi. “Kalau kondisi sekarang terjadi di Timur Tengah, sikap tentara pasti sudah lain ceritanya,” imbuhnya. (mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Juli 2013

Putusnya Persaudaraan Jadi Penghambat Turunnya Rahmat

Sumedang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Janganlah sekali-kali memutuskan persaudaraan karena akan menghambat turunnya Rahmat Allah Swt. Hal tersebut disampaikan Ketua PCNU Sumedang H Sadulloh dalam silaturahmi dan halal bihalal Lembaga Pendidikan Maarif Kabupaten Sumedang yang diselenggarakan di SMK Maarif 1 Sumedang, Sabtu (5/8).

Putusnya Persaudaraan Jadi Penghambat Turunnya Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)
Putusnya Persaudaraan Jadi Penghambat Turunnya Rahmat (Sumber Gambar : Nu Online)

Putusnya Persaudaraan Jadi Penghambat Turunnya Rahmat

Semua yang terjadi di dunia, itu karena Rahmat Allah Swt. Sapaya Rahmat Allah turun kepada kita maka persatuan harus tetap utuh dan jagalah persaudaraan. Ada beberapa hal yang harus dilaksanakan supaya persaudaraan tetap terjaga.

Pertama, sesama manusia tidak boleh saling mengejek karena siapa tahu yang diejek itu lebih baik dari daripada si pengejek. Kedua, jauhilah berburuk sangka. Ketiga, harus toleran, harus menyadari bahwa manusia diciptakan dalam berbagai suku, warna kulit, bentuk wajah, dan lain sebagainya. 

Keempat, jangan merasa paling beriman, paling berislam, dan paling bertaqwa. Dihadapan Allah Swt manusia itu sama kecuali taqwa yang membedakannya. Dan yang kelima yaitu manusia harus saling menghargai. 

“Kalau kelima sikap ini bisa dilaksanakan maka persaudaraan akan tetap terjaga dan Rahmat Allah akan turun,” kata Sadulloh. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara Ketua Lembaga Pendidikan Maarif NU Kabupaten Sumedang Cucu Suhayat mengatakan bahwa kegiatan silaturahmi dan halal bihalal ini merupakan agenda tahunan LP Maarif NU Sumedang. 

Karena halal bihalal ini bertepatan dengan tahun pelajaran baru, maka dalam susunan acara dimasukan agenda pembagian SK kepada 501 guru dari 43 sekolah yang ada di lingkungan LP Maarif NU Sumedang. Semoga LP Maarif NU Sumedang kedepanya bisa lebih maju lagi. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock