Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aswaja. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Februari 2018

Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Kajian Tafsir Al-Qur’an pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di Gedung PCNU Pringsewu, Lampung, sudah memasuki pembahasan Surat al-Lahab. Kajian mingguan yang dilaksanakan untuk umum mulai dari pukul 06.00 sampai pukul 07.00 ini selalu diasuh oleh Mustasyar PCNU Kabupaten Pringsewu H. Sujadi.

Dengan referensi Tafsir Jalalain dan beberapa referensi kitab lainnya, ustadz penghafal Al-Qur’an ini memberikan penjelasan tentang asbabun nuzul atau sebab diturunkannya surat yang didalamnya menceritakan orang yang suka memprovokasi dan menghalangi perjuangan Nabi Muhammad dalam mensyiarkan Islam di Kota Makkah.

Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator (Sumber Gambar : Nu Online)
Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator (Sumber Gambar : Nu Online)

Jihad Pagi NU Pringsewu Bahas Abu Lahab Sang Provokator

Menurutnya, dalam Surat al-Lahab ini dikisahkan bagaimana paman Nabi sendiri yang bernama Abu Lahab menentang ajaran Islam yang dibawa keponakannya. Abu Lahab atau bernama asli Abdul Uzza bin Abdul Mutholib tak sendirian, istrinya pun yang bernama Ummu Jamilah juga memprovokasi kaum Quraisy untuk menentang syiar Islam tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Abah Sujadi, begitu ia piasa disapa, mengatakan bahwa dalam setiap perjuangan akan selalu ada saja orang yang menghalangi, memprovokasi, dan mengajak orang lain untuk menyerang perjuangan yang sedang dilakukan. "Maka itu ada istilah musuh dalam selimut seperti perjuangan Nabi yang ditentang oleh pamannya sendiri, yaitu Abu Lahab," katanya.

Namun, Abah Sujadi yang merupakan alumni Pesantren Quran Kalibeber Jawa Tengah ini menyampaikan bahwa optimisme harus terus ditanamkan dalam hati untuk terus melakukan perjuangan. "Allah melindungi orang-orang yang benar-benar berjuang di jalan-Nya," tegasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, setiap perjuangan menegakkan agama Islam pasti melalui medan yang penuh tantangan. Adalah sunnatullah sesuatu diciptakan oleh Allah berlawan-lawanan. Ada pahala ada siksa, ada yang setuju ada yang menyerang dan merongrong, dan seterusnya.

"Namun siapa saja yang menentang risalah Allah, mereka tidak akan berhasil dan akan rusak segala sesuatu yang diusahakannya di dunia," katanya.

Jamaah tampak antusias mengikuti kajian tafsir ini. Salah satunya adalah Mustangin yang berasal dari Kecamatan Banyumas. Menurutnya Kajian Tafsir yang diasuh oleh H. Sujadi sangat penting sekali untuk lebih memahami ayat Al-Qur’an sehingga tidak seenaknya sendiri menafsirkannya.

"Zaman sekarang banyak sekali orang yang menafsirkan sendiri melalui Al-Qur’an terjemahan dengan modal keilmuan yang minim. Padahal menafsirkan Al-Qur’an membutuhkan kemampuan berbagai disiplin keilmuan," katanya.

Menurutnya H. Sujadi merupakan sosok yang memiliki kemampuan tersebut. Selain hafidz Al-Qur’an dan alumni pesantren Al-Qur’an, silsilah keilmuannya juga jelas. "Pringsewu bangga memiliki ulama seperti beliau yang Istiqomah dalam memberikan pencerahan kepada masyarakat dan umat," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Santri, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Oleh Aswab Mahasin

Manusia dalam dirinya mempunyai empat hal: harapan, keinginan, kegelisahan, dan penderitaan. Siapapun mereka, sekaya apapun mereka, dan semiskin apapun mereka—empat hal tersebut pasti ada dalam diri manusia. Allah SWT memerintahkan kita untuk selalu berusaha dan berpikir kreatif agar tidak terpenjara oleh empat hal itu. Untuk apa? Sebagai cara manusia bereksistensi.

Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalan-jalan ke Dalam Diri (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalan-jalan ke Dalam Diri

Dalam kehidupan ini, manusia sering dirundung masalah, dari mulai yang biasa-biasa saja, sampai dengan yang terberat. Kadangkala dalam posisi tertentu tidak sedikit yang merasa kesulitan dan lelah menghadapi masalah. Padahal, jika kita mau berpikir, masalah terbesar kehidupan manusia bukanlah masalah, tapi tanpa masalah. Kenapa? manusia akan mengalami kekosongan, manusia tidak akan “menjadi”, ia berada pada ruang hampa, tanpa bisa dinilai dan tanpa penilaian. Artinya, ia kehilangan eksistensinya. 

Manusia dilemparkan ke dunia di awali dengan masalah, Nabi Adam dan Ibu Hawa menghuni dunia ini dimulai dengan kisah “masalah”, putra Nabi Adam saling membunuh adalah “masalah”. Itu sebagai cara Allah SWT agar manusia “menjadi”, tanpa kekosongan. Karena dalam proses menjadi itu manusia berbuat, bertindak, berpikir, dan berkenalan. Perjalanan itu berlaku hingga sekarang, semua manusia berusaha untuk “menjadi” dan bereksistensi. 

Perjalanan dalam proses “menjadi”—manusia dipaksa untuk berhadapan dengan manusia lainnya, yang sama-sama punya keinginan, punya harapan, punya kegelisahan, dan punya penderitaan. Sehingga antara manusia satu dengan manusia lainnya mengalami benturan kepentingan. Di sini terkadang manusia lupa diri dan lupa akan dirinya. 

Ini yang paling berbahaya, manusia harus berdamai dengan dirinya sendiri. Tanpa berdamai, susah bagi kita untuk menyelesaikan masalah. Konsekuensinya, kalau tidak lari dari masalah, tergerus oleh masalah, dengan kata lain terhempas dari persaingan hidup. Persaingan jangan dimaknai sebagai saling menjatuhkan, melainkan fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan). 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berlomba dalam kebaikan, berarti tidak melakukan kecurangan. Bermain sepak bola tidak boleh ujug-ujug kita ambil bolanya pakai tangan, kita bawa lari sampai gawang, lalu kita masukan ke gawang lawan. Ini pasti kena kartu merah. Artinya, sama saja kita menambah masalah hidup kita yang sudah penuh masalah.

Dengan demikian, kita dituntut mengenal diri dan menjabat tangan sendiri. Dengan mengenal diri akan mengenal aturan, berarti apa? Kesadaran yang akan terlahir.“Man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa rabbahu” –seseorang yang mengetahui jati dirinya, maka ia akan mengetahui Tuhannya. Telah jelas bukan? Masalahnya pada diri kita sendiri, yang paling susah dari manusia itu merendahkan diri sendiri untuk menghantam kesombongan, dan mengeluarkan kewarasan untuk mengejek kearifan. Seringnya, kearifan kita berbarengan dengan kesombongan kita.

Mengenali diri praktiknya tidaklah mudah. Tidak setiap orang dengan sendirinya kenal terhadap kesejatian diri. Setiap orang bisa saja mengenali wajahnya melalui cermin atau foto, namun bukan itu maksudnya, ini perjalanan ke dalam diri. Kenapa orang buta yang tak pernah melihat wajahnya tapi mengenali dirinya, karena ‘menjabat tangan sendiri’ tidak hanya sekedar fisik, tetapi kedalaman jati diri. 

Diri adalah keakuan, atau ego, dan dalam bahasa Arab disebut nafs, pada hakikatnya bersifat transenden, dapat melewati batas-batas fisiknya yang bersifat materi yang terbingkai dalam ruang dan waktu tertentu. Karena itu, keakuan manusia bisa kembali ke masa lalu, seperti masa kanak-kanak atau masa remaja, meskipun saat ini sudah memasuki usia-usia lanjut. Demikian halnya juga dengan keakuan seseorang bisa berada di tempat lain meskipun sebenarnya ia berada di sini. Semua itu dimungkinkan terjadi, karena sifat transendennya ego itu sendiri. (Prof. Dr. Musya Asy’ari, Dialektika Agama untuk Pembebasan Spiritual, [Yogayakarta: LESFI, 2002]. Hlm. 4)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Memasuki diri, keakuan atau ego yang transenden diperlukan kemampuan untuk mengenali jati diri secara benar, yaitu dengan memahami, memasuki dan menyatu dalam substansi jati diri yang aktual, yang terbangun dari berbagai komponen yang membentuk suatu kepribadian dalam aktualitas tindakan atau karyanya, baik komponen yang fisik maupun komponen yang metafisik. (Prof. Dr. Musya Asy’ari: 2002)

Allah SWT Berfirman, “Dan Allah telah menyempurnakan bagimu nikmat zahir dan nikmat batin.” (QS. Lukman: 20). Dalam surat Adh-Dhariyat ayat 21, Allah berfirman, “Dan di dalam diri kamu apakah kamu tidak memperhatikannya”. Selain itu, dalam Hadits Qudsi, “Aku jadikan dalam rongga anak Adam itu mahligai,dan dalam mahligai itu ada dada, dan dalam dada itu ada hati (qalbu) namanya, dan dalam hati (qalbu) ada mata hati (fuad), dan dalam mata hati (fuad) itu ada penutup mata hati (saghaf), dan dibalik penutup mata hati (saghaf) itu ada nur/cahaya (labban), dan di dalam nur/cahaya (labban) ada rahasia (sirr), dan di dalam rahasia (sirr) itulah Aku kata Allah.”

Dengan demikian, mengenali diri selalu bersifat ke dalam dirisebagai manhaj/metode memahami Tuhannya, agar kita tidak lupa bahwa kita adalah manusia, tidak sepantasnya berlaku seperti Tuhan. Manusia diciptakan tidak lain untuk beribadah kepada Allah. Dengan demikian, proses perjalanan ke dalam diri harus dengan penghayatan yang mendalam, jujur akan setiap tindakan dan tidak boleh merasa benar.

Dalam perspektif tasawuf, yang dimaksud dengan diri manusia (al-nafs al-insaniyah) bukanlah diri dalam pengertian fisiologi yang bersifat kebendaan (maddi), atau diri sebagaimana dipahami dalam psikologi yang lebih bersifat kehewanan. Tetapi diri yang dimaksudkan oleh ahli tasawuf ialah diri asali manusia yang secara fitrahnya (human nature) mempunyai kecenderungan menyembah Allah Taala. Konsep fitrah dalam Islam menuntut bahwa manusia dari segi sifat dasarnya adalah beragama tauhid.

Menurut al-Qur’an, sejak awal penciptaan Adam sudah terdapat perjanjian (mithaq) dan kesaksian (syahadah) daripada jiwa manusia, hanya Allah yang merupakan Tuhan sebenarnya, tiada yang lain. (lihat QS. Al-A’raf: 172). (Abdul Rahman Haji Abdullah, Wacana Falsafah Ilmu: Analisis Konsep-konsep Asas dan Falsafah Pendidikan Negara [Kuala Lumpur: Utusan Publications & Distributors Sdn Bhd, 2005]. Hlm. 89-90)

Sebab itu, orang yang sudah mampu mengenal dirinya, selalu digambarkan sebagai sosok yang arif, bijaksana, suka menolong, dan penuh pesona kebaikan. Berbeda sebaliknya, orang yang masih jauh akan pengenalan diri, hidupnya belum berdamai dengan siapapun, ia arogan, sembrono, dan semaunya sendiri.

Zaman now, kita banyak menemukan orang yang semaunya sendiri. Kemaren, ada seorang suami menembak istrinya, kejadian ini aneh bin ajaib. Saya tidak tahu masalahnya apa, namun tidak ada prinsip kemanusiaan satu pun yang mengizinkan seseorang membunuh, apalagi istrinya sendiri. Sebelum-sebelumnya, ada kejadian anak membunuh orang tuanya, orang tua membunuh anaknya, dan ada orang tua memperkosa anaknya. Orang-orang ini maunya apa?

Kalau boleh usul, Indonesia dengan berbagai macam kegaduhannya, harus ada pembersihan jiwa nasional (Tazkiyyat al-nafs) atau penyucian hati nasional (tasfiyah al-qalb). Jangan hanya patah hati saja yang nasional, tapi pembersihan diri juga harus digerakan secara nasional. Yang disayangkan, setiap aktifitas keagamaan ada muatan politiknya, bukannya jadi bersih malah semakin kotor (baca: gaduh). Lantas bagaimana?

Pembersihan jiwa dan hati nasional, bukan berarti berkumpul sampai mengumpulkan puluhan juta atau ratusan juta orang, tidak. Melainkan, tumbuh kesadaran dari setiap individu, kelompok, organisasi, dan pemerintahnya juga, untuk satu sama lain saling mengingatkan, menjaga sikap, menjaga lisan, menjaga tulisan, menjaga ujaran, dan meminimalisir semua tindakan yang dapat menyulut perpecahan. Minimal, satu sama lain dari kita mau bercermin dan berintrospeksi diri. 

  

Menjalin kesatuan umat seperti itu memang tidak mudah, kalau begitu alternatifnya adalah melalui jalur pendidikan: sekolah, pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Atau melalui mushola-mushola, dimana peran kiai kampung, memberikan pemahaman terhadap anak didiknya yang mengaji. “La yu’minu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi kama yuhibbu linafsihi”—tidak beriman seseorang hinga ia dapat mencintai saudaranya seperti ia mencitai dirinya sendiri. “Al fitnatu asyaddu minal qatli”—fitnah lebih kejam daripada pembunuhan. “Inna ba’dla zanni ismun”—sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. 

Penulis adalah Pembaca Setia Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Tanpa harus menunggu instruksi RW atau RT, warga NU sudah mengerti dari sononya untuk menyediakan aneka penganan dan makanan untuk dihidangkan dalam perayaan maulid Nabi Muhamad SAW.

Penganan maupun makanan yang tidak setiap hari tergeletak di meja sarapan pagi, bisa keluar begitu saja di perayaan maulid sebagai berkat. Penganan basah maupun kering khas di lingkungan masing-masing, mengobati kerinduan mereka pada makanan-makanan langka tersebut.

Penganan siap lahap antara lain adalah kue pisang, ketimus, gemblong, dodol, uli, ketan, lemper, dan lainnya. Kecuali itu, perayaan maulid juga dihadiri aneka buah-buahan baik yang panen musim setahun sekali atau lebih.

Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Mencicipi Berkat Maulid Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)

Mencicipi Berkat Maulid Nabi

Dalam menyajikan hidangan maulid, warga NU sekenanya saja mengemas berkat. Kemasan yang dipakai berupa daun pisang, plastik, kertas nasi, hingga daun jati. Ada juga yang menggabungkan antara plastik dan daun pisang. Bahkan, ada pula yang membungkus makanan dalam keranjang dari anyaman bambu. Itu sah saja ditinjau dari hukum agama maupun hukum positif.

Isi berkat tentu saja bukan urusan kiai apalagi jajaran perangkat desa. Isi berkat ditentukan oleh individu masyarakat sendiri. Nasi boleh sama. Perkara lauknya, itu putusan yang tidak akan pernah bulat hingga hari Kiamat. Lauk berkat boleh daging kerbau, sapi, ikan bandeng, ikan emas, ikan mujahir, ayam atau telurnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Boleh jadi daging itu dimasak model goreng, semur, rendang, atau dendeng. Untuk ayam, ada kekhususan sedikit selain aneka model di atas. Warga NU juga kerap menyajikannya dalam bentuk opor atau dimasak banjir kecap. Yang pasti, nasi itu tidak dibiarkan sendirian. Akan terlihat janggal kalau nasi putih sendirian mendekam di dalam berkat.

Ini pelajaran awal yang baik buat para remaja perihal hak yang nilainya melebihi harga sepuluh kilo daging. Aneka warna penganan dan lauk meramaikan perayaan maulid tanpa ada pembatasan atau pengawasan dari institusi apapun. Penganan yang terlalu manis atau asin juga tidak membuat mereka cerewet seperti pengunjung restoran.

Berkat maulid berupa penganan masuk tidak hanya ke dalam rongga tubuh mereka. Berkat juga bisa masuk ke alam pikiran mereka. Bayangkan, kehadiran beragam makanan membuat kanak-kanak yang belum mengerti dunia kegirangan. Meskipun pasti kebagian, kanak-kanak berebutan menjambret makanan dari tangan panitia.

Kanak-kanak seperti kesetanan. Kalau keadaan sudah demikian, imbauan tertib panitia takkan diindahkan. Mereka hanya mengerti berebut. Titik. Tetapi, melihat kekisruhan kecil itu, orang dewasa hanya tertawa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berkat Gaya Muslimat NU Depok

Dalam rangka peringatan maulid Nabi Muhamad SAW. pada 1434 H yang bertepatan pada tahun 2013, pengurus Muslimat NU Depok tidak mau tertinggal kaum Nahdliyin. Mereka mengumpulkan paling sedikit dua ribu kadernya di Masjid Dian Al-Mahri yang masyhur dikenal ‘Masjid Kubah Emas’, jalan Meruyung, Kecamatan Limo Depok, Senin (28/1) pagi.

Hanya saja perayaan maulid tahun ini meleset jauh makanan dan penganan di atas. Mereka terima undangan dari majelis taklim, lalu datang hanya membawa diri tanpa makanan apapun. Karena, berkat sudah disediakan panitia maulid. Hal ini dipandang ringan saja oleh para hadirin.

Pulang mendengarkan sifat luhur Nabi Muhamad SAW, kaum ibu Muslimat NU Depok hanya menenteng kepalan-kepalan garam mentah. Tak ada semur kerbau, opor ayam, pecak bandeng, atau keributan kanak-kanak berebut berkat.

Bagi umat Islam pengamal setia maulid atau penentangnya, berkat berupa garam mentah tidak lazim sama sekali. Sesuatu di luar kelaziman akan mendatangkan guncangan di tengah masyarakat. Setuju dengan model berkat demikian? Silakan. Tidak setuju? Anggap saja angin lalu.

Yang masih menggantung, apa maksudnya pengurus Muslimat NU Depok membekali garam mentah sebagai berkat? Apa karena kaum ibu dinilai lebih akrab dengan cobek? Mungkin boleh jadi kaum ibu dinilai lebih mandiri dalam mengolah makanan yang senantiasa bercengkerama dengan garam?

Pengurus Muslimat NU Depok mungkin hanya ingin mengingatkan bahwa garam merupakan satu kebutuhan dasar bagi manusia. Tanpa garam, orang bisa diserbu penyakit gondok. Tak ada garam, kelezatan masakan pun berkurang drastis seperti benda jatuh dari lantai lima langsung menuju lubang sumur.

Boleh jadi berkat berisi garam mentah merupakan cara kaum ibu NU membela nasib petani garam Indonesia yang terhuyung-huyung akibat kebijakan impor garam oleh pemerintah setahun terakhir.

Berkat garam Muslimat NU Depok boleh jadi merupakan kelanjutan dari kongres Asosiasi Petani Garam Nusantara, Aspegnu 11-12 Juli 2012 di Madura atas pelbagai soal terkait garam nasional. Bagi-bagi garam merupakan partisipasi Muslimat NU agar petani garam dalam negeri tidak menjadi “Anak itik mati di lumbung padi” atau alih profesi menjadi importir garam.

Sadar akan kepentingan umum, Muslimat NU Depok sanggup mengurungkan niat untuk berdemonstrasi yang akan menimbulkan kebisingan selain kemacetan. Dalam hal ini, kaum ibu Muslimat NU tidak mau gegabah menyikapi masalah garam nasional. Karena, salah-salah ambil sikap dapat merumitkan persoalan yang sebenarnya mudah.

Karena itu, mereka berinisiatif untuk memilih bentuk berkat maulid tahun ini dengan garam mentah dalam arti harfiah. Artinya, berkat itu benar-benar garam mentah yang dibawa pulang oleh 2000 kader Muslimat NU Depok. Mereka akan bercerita berkat pada suami, anak, dan anak menantu mereka. (Alhafiz Kurniawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Ulama harus Sinergikan Teks Agama dan Realitas Sosial

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sabtu (29/06), kawasan Pendopo LKiS Sorowajan sudah mulai ramai sejak ba’da Maghrib oleh para peserta diskusi bertajuk “Memikirkan Islam dalam Kesatuan Tanpa Keseragaman" yang dimoderatori oleh Gus Irwan Masduqi (Mlangi) dan pembicara Habib Ismail Fajrie Alatas (kandidat doktor di Universitas Michigan) yang akrab disapa dengan nama Habib Aji. Acara ini terselenggara atas kerjasama Jaringan Gusdurian, IPNU-IPPNU DIY, serta Mahasiswa Ahli Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Matan).

Dalam kesempatan ini Habib Aji menyampaikan berbagai hal berkaitan dengan lokalitas budaya umat dan pluralitas sosial keagamaan, khususnya dalam cakupan Islam. Para ulama, menurut dia, tidaklah cukup hanya menguasai dan memahami tradisi tekstual keagamaan saja, melainkan juga harus memahami kondisi kontekstual masyarakat dengan segala adat budayanya. Sehingga mampu mengakomodasi khazanah keilmuan Islam, fiqh misalnya, perlu disosialisasikan di tengah masyarakat dengan bahasa yang mudah dicerna dan meresap.

Ulama harus Sinergikan Teks Agama dan Realitas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Ulama harus Sinergikan Teks Agama dan Realitas Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Ulama harus Sinergikan Teks Agama dan Realitas Sosial

Dengan demikian, para ulama yang terjun di masyarakat tidak hanya mumpuni dalam masalah-masalah keagamaan, tetapi juga bisa menegosiasikan tradisi teks historis dari generasi salafussalih dengan lokalitas yang dihadapi secara riil. Hal ini meniscayakan adanya perbedaan-perbedaan hukum yang khas di setiap daerah yang berbeda secara geografis maupun waktu. Keislaman di suatu daerah di Afrika bisa saja berbeda dengan keislaman masyarakat di pelosok Aceh, atau di sudut Jawa Timur, misalnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Namun keberagaman itu tetap dapat disatukan, salah satunya dengan tetap dilestarikannya rantaian sanad keilmuan dari murid ke guru, guru ke gurunya, terus bersambung hingga Rasulullah saw. Sanad keilmuan ini bisa menyatukan keberagaman itu karena bersifat trans geografis dan trans historis.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menanggapi pertanyaan salah seorang peserta tentang clash yang terjadi sesama umat Islam karena alasan perbedaan, Habib Aji berpendapat tidak perlu ada penyatuan aliran-aliran yang berbeda. Namun di sisi lain, konsepsi terhadap makna persatuan harus ditata. Di sinilah pentingnya dialog intensif antara negara sebagai ranah kekuasaan mentah dan ulama yang bersifat konsultatif.

Dalam tanggapannya, Alissa Wahid (Koordinator Sekretariat Nasional Jaringan Gusdurian) menyampaikan apresiasi terhadap aktualitas tema yang diangkat dalam diskusi malam itu. Mbak Lisa, begitu ia disapa, juga mempertanyakan bagaimana implementasi yang efektif atas hasil-hasil diskusi di forum-forum semacam ini di tengah masyarakat. Habib Aji menawarkan gagasan pentingnya implementasi ide secara praktis di dalam individu maupun komunitas sendiri, khususnya NU. Ia mengatakan bahwa problem yang dihadapi mayoritas kaum muda NU adalah keengganan untuk bergerak, namun baru bersikap reaktif ketika ada pihak luar yang merongrong akidah maupun amaliah. Inilah titik di mana kaum muda NU harus melakukan introspeksi.

Menurut pandangannya, tidak sedikit anak-anak muda NU yang mengidap penyakit gengsi ketika sudah membahas perkara-perkara pelik keagamaan atau mulai bersentuhan dengan pemikiran-pemikiran modern. Mereka mulai malas untuk terjun di tengah masyarakat dalam rangka memahamkan hal-hal dasar yang sederhana, merasa bukan kelasnya.

Dalam hal ini, Habib Aji mencontohkan sosok KH Abdurrahman Wahid alias Gus Dur. Menurut Habib Aji, Gus Dur adalah sosok yang tidak hanya mampu berdialog kritis dengan para filsuf kelas dunia, tetapi juga bisa menjalani peran sebagai kiai kampung dengan apik dan berbicara dengan masyarakat yang buta huruf sekalipun. Acara ini diakhiri menjelang pukul 23.00.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Zia Ul Haq

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, News, Kiai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Menguatnya radikalisme dan intoleransi yang terjadi di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya menjadi persoalan yang perlu penanganan serius oleh berbagai pihak termasuk Nahdlatul Ulama (NU). Indonesia sebagai negara yang sangat beragam, baik agama, suku, bahasa, budaya dan lainnya, patut bangga terhadap keberadaan NU yang mempunyai basis pesantren untuk terus menjaga Indonesia dari radikalisme dan intoleransi tersebut.

Hal itu disampaikan oleh Sujiwo Tedjo saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di Jakarta. Menurut pria yang akrab dipanggil Mbah Tejo ini, santri dan pesantren merupakan potensi dalam hal toleransi di Indonesia.

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Sujiwo Tejo: Beragama dengan Tersenyum itu Hanya Orang Pesantren

“Kalau di pesantren atau NU diajarkan bahwa toleransi itu dari dulu sudah tinggi,” katanya seusai mengisi acara pembacaan puisi Gedung Graha Bakti Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Senin (16/10) malam.

Oleh karena itu, pria yang berprofesi sebagai dalang ini pun menganggap bahwa keberadaan santri sangat dibutuhkan Indonesia.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Santri sangat dibutuhkan untuk kecenderungan global yang makin mengekstremkan (dalam hal) agama,” jelas pria kelahiran Jember, Jawa Timur ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pria berumur 55 tahun ini menyebut bahwa cara beragama yang dijalankan pesantren itu luwes, dan menebar rahmat.

“Beragama dengan tersenyum itu pesantren saja,” katanya.

Acara pembacaan puisi sendiri diselenggarakan Kementerian Agama dalam rangka memperingati hari santri yang ke-2 dengan tema Merawat Keberagaman dan Memantapkan Keberagamaan.

Turut menjadi pembaca puisi pada malam tersebut, Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin, Kamaraudin Amin, Abidah El Kholiqie, Habiburrahman El Shirazy, Sosiawan Leak, KH Husein Muhammad, Jamal D. Ramah, Acpe Zam Zam Noor, Ahmad Tohari, Sutardji Calzoum Bachri, D. Zawawi Imron dan lain-lain. (Husni Sahal/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Jadwal Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Januari 2018

Ketika Bendera NU Penuhi Jalan Arteri Pulau Lombok

Lombok, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal . Aroma perhelatan acara Pra-Muktamar NU tercium sangat kuat ketika Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal menjejakkan kaki di Pulau Lombok, Rabu (8/4) siang waktu setempat. Tak sampai satu kilometer meninggalkan Bandar Udara Internasional Lombok, bendera NU terus berkibar, diterpa angin sepoi-sepoi.

Ketika Bendera NU Penuhi Jalan Arteri Pulau Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Bendera NU Penuhi Jalan Arteri Pulau Lombok (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Bendera NU Penuhi Jalan Arteri Pulau Lombok

Bendera dan umbul-umbul yang berjajar rapat tersebut seolah menyambut kedatangan warga Nahdliyin yang ingin memeriahkan perhelatan pra-muktamar. Selain itu, kain hijau bergambar bola dunia dengan di kelilingi bintang sembilan dan logo muktamar itu seakan hendak mewartakan besarnya warga Nahdliyin di pulau sebelah timur Bali tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari pantauan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, bendera warna hijau tua khas NU, umbul-umbul acara pra-muktamar, dan logo muktamar yang telah dinyatakan menang sayembara terpasang rapi di sepanjang jalan arteri mulai bandara dari hingga lokasi pesantren.

“Padahal, jarak dari sini ke pesantren kurang lebih enam hingga tujuh kilometer. Kalau jarak antara bendera dan umbul-umbul hanya dua meter, rasanya cukup lelah juga kita menghitungnya,” ujar Abdul Hamid sesaat setelah meninggalkan bandara menuju arena pra-muktamar.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hamid, kader PMII jebolan UIN Jakarta ini, tampak antusias menceritakan semangat warga Nahdliyin di “bumi para tuan guru” menyambut perhelatan akbar di wilayahnya. Tak tanggung-tanggung, spanduk berukuran besar di perempatan dan pertigaan sepanjang jalan tersebut juga terpasang dengan gagahnya.

Suasana kian semarak ketika memasuki gang Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan, tempat perhelatan pra-muktamar. Pengunjung dipastikan terpesona melihat warna-warni hijau tua yang mendominasi mulai depan papan nama pesantren hingga halaman yang berukuran cukup luas.

“Besok pagi, halaman pesantren ini akan penuh dengan warga Nahdliyin. Kurang lebih, 2500-an. Kami mengundang seluruh PCNU se-Provinsi NTB. Para wali santri yang jumlahnya tak kurang 1500 orang,” ujar TGH Taqiuddin Manshur di kediamannya, Rabu sore.

Ditanya soal asal muasal pesantren asuhannya terpilih sebagai tempat pra-muktamar, TGH Taqiuddin menjawab singkat. “Sederhana saja sebenarnya. Mungkin karena saya Ketua Tanfidziyah PWNU NTB yang punya pesantren. Itu barangkali ya,” ujarnya gembira.

Hal tak kalah penting, lanjut Tuan Guru, pesantrennya kini sangat strategis menyusul diresmikannya Bandara Internasional Lombok. Bandara tersebut dibuka pertama kali pada 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi Bandara Selaparang Mataram. (Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Aswaja, News Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah

Salah satu yang menyemangati Agus Sunyoto menyusun Atlas Wali Songo adalah ketika ia membuka Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru van Hoeve. Dalam ensiklopedi yang berjilid-jilid itu ternyata Wali Songo, tokoh-tokohnya, dan karya tidak dicantumkan. Artinya Wali Songo dianggap bukan bagian dari sejarah Islam Nusantara.

Padahal para penyebar Islam di Indonesia yang datang belakangan dituliskan secara panjang lebar. “Yang muncul dalam Ensiklopedia Islam itu malah tiga serangkai yang membawa faham Wahabi ke Indonesia: Haji Miskin, Haji Sumanik, Haji Piabang,” kata Agus Sunyoto pada Peluncuran Atlas Wali Songo karya Agus Sunyoto di PBNU Jakarta, Juli 2012 lalu.

Sementara khazanah kebudayaan Islam Nusantara pada zaman Wali Songo seperti karya sastra, seni musik, seni rupa, seni pertunjukan, seni suara, desain, arsitektur, filsafat, tasawuf, hukum, tata negara, etika, ilmu falak, sistem kalender, ilmu pengobatan yang lahir dan berkembang pada masa Wali Songo tidak disinggung.

Bukan hanya “orientalis” yang mencampakkan sejarah Wali Songo. Yang agak lucu, aspek kesejarahan Wali Songo ini juga digugat secara terang-terangan dalam berbagai karya tulis para akademisi dari kampus-kampus Islam yang memakai nama Wali Songo dan tokoh-tokohnya sebagai nama kampus mereka.

Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Wali Songo Tidak Dianggap Sejarah

Mengapa Wali Songo tidak dianggap sejarah, hanya dianggap sekedar mitos dan bukan fakta? Apakah ada upaya-upaya sistematis untuk menghilangkan Wali Songo dan ajaran-ajarannya dari sejarah peradaban umat Islam? Silakan menyusun sendiri jawaban untuk pertanyaan itu.

Atlas Wali Songo yang disusun selama bertahun-tahun itu bermaksud untuk menghadirkan Wali Songo sebagai fakta sejarah. Dengan dilengkapi berbagai bukti sejarah, buku ini telah menjawab berbagai keraguan para sejarawan konvensional.

Dan barangkali usaha Agus Sunyoto tidak sia-sia. Tak kurang, arkeolog kenamaan dari Universitas Indonesia Mundardjito dalam pengantar buku itu memberikan apresiasi yang cukup positif terhadap karyanya. Harian umum Kompas (6/7/2012) juga tak segan mengebut Atlas Wali Songo sebagai buku pertama yang menuliskan Wali Songo sebagai fakta sejarah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Paling tidak, sekarang ini, para para peziarah yang datang ke makam para tokoh Wali Songo setiap waktu dan silih berganti tidak hanya berhadapan dengan mitos dan kisah-kisah karomah, tetapi juga warisan luhur berupa khazanah, karya-karya, ajaran-ajaran dan metode dakwah dari para penyebar Islam Nusantara itu.

?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

A. Khoirul Anam

Serial ini ditulis dalam rangka menyambut kegiatan Pengajian dan Bedah Buku Atlas Walisongo untuk memperingati Harlah NU dan Maulid Nabi Muhammad SAW di halaman PBNU, Jakarta, 31 Januari dan 1 Februari 2013.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Hasil penelitian Puslitbang Pendidikan Agama dan Keagamaan Balitbang dan Diklat Kemenag (2016 yang dilakukan di tiga Madrasah Tsanawiyah (MTs) yaitu MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru menemukan enam strategi peningkatan mutu pendidikan di madrasah.

Pertama, pengembangan kurikulum dan pembelajaran yang berorientasi pada siswa (student centered). Strategi ini lebih mampu memberdayakan pembelajaran siswa yang menekankan pada keaktifan belajar murid, bukan pada keaktifan mengajar guru.

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)
6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah (Sumber Gambar : Nu Online)

6 Strategi Peningkatan Mutu Madrasah

Kedua, pengelolaan kesiswaan yang berfokus pada pelayanan terhadap peserta didik agar mereka berhasil dalam mengikuti proses pembelajaran dan sekaligus dapat memberi harapan semua pihak.

Ketiga, pengelolaan pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelolaan ketenagaan bertujuan? untuk? mendayagunakan tenaga-tenaga kependidikan secara efektif dan efisien guna mencapai hasil yang optimal, namun tetap dalam kondisi yang menyenangkan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Keempat, pengelolaan sarana prasarana, mulai dari pengadaan, pemeliharaan dan perbaikan, hingga sampai pengembangan. Hal ini didasari oleh kenyataan bahwa madrasah yang paling mengetahui kebutuhan sarana dan prasarana, baik kecukupan, kesesuaian, maupun kemuktahirannya, terutama sarana dan prasarana yang sangat erat kaitannya dengan proses belajar mengajar secara langsung.

Terkait penyediaan sarana prasarana di tiga MTs, dimana? MTsN 2 Bandar Lampung, MTs Al Hikmah dan MTsN Bukit Raya Pekanbaru telah menyediakan beragam fasilitas penunjang peningkatan mutu pendidikan diantaranya mulai dari penyediaan ruangan belajar, kantor kepala, TU dan guru, laboratorium komputer, laboratorium IPA, laboratorium bahasa, gedung olahraga, lapangan upacara, ruang Bimbingan Konseling, ruang UKS/M, sangar pramuka, sanggar seni, perpustakaan, masjid, tempat parkir, pos keamanan, pagar.

Kelima, pengelolaan pembiayaan. Keuangan di madrasah merupakan bagian yang amat penting karena setiap kegiatan membutuhkan dana. Madrasah? juga? harus? diberikan? kebebasan? untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mendatangkan penghasilan, sehingga sumber keuangan tidak semata-mata tergantung pada pemerintah.

MTsN 2 Bandar Lampung dan MtsN Bukit Raya? dana yang digunakan selain adari Bantuan Operasional Sekolah (BOS), juga dari para donatur, keterlibatan orang tua, juga bantuan dana dari Pemda dan lembaga DPRD. Sedangkan MTs Al-Hikmah Bandar Lampung, dana banyak berasal dari kharismatik Kyai pesantren Al-Hikmah Bandar Lampung yang membuat masyarakat mau membrikan sumbangan dana untuk peningktan mutu madrasah.

Keenam, output yang diharapkan. Madrasah harus memiliki output yang diharapkan. Output madrasah adalah prestasi madrasah yang dihasilkan oleh proses pembelajaran dan manajemen di madrasah. Output madrasah diklasifikasikan menjadi dua, yaitu output berupa prestasi akademik (academic achievement) dan output berupa prestasi non akademik (non academic achievement).

Terkait output yang prestasi di madrasah, tiga MTs yang telah diteliti memiliki peserta didik yang mumpuni di bidang akademik, dimana peserta didik telah mendapat NEM yang bagus dan meraih berbagai? kejuaraan di antaranya kejuaraan olimpiade matematika, fisika, biologi. Begitu pula dengan prestasi nonakademik, dimana ketiga Mts yang diteliti telah memiliki penghargaan mulai dari tingkat nasional, tingkat propinsi dan tingkat kab/kota, misalnya kejuaraan pramuka, PMR, seni tari, Silat, Musabaqoh Tilawatil Qur’an (MTQ). (Kendi Setiawan/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid

Haid secara etimologi berarti mengalir. Sedangkan haid secara terminologi adalah darah yang keluar dari farji/kemaluan seorang wanita setelah umur 9 tahun, dengan sehat (tidak karena sakit), tetapi memang kodrat wanita, dan tidak setelah melahirkan anak. Dasar haid di dalam Al-Qur’an adalah sebagaimana dalam Surat Al-Baqarah ayat 222.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? (222

Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid (Sumber Gambar : Nu Online)
Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid (Sumber Gambar : Nu Online)

Pengertian, Dalil dan Hikmah Haid

Artinya, “Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haid; dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang tobat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ayat ini turun–sebagaimana dalam riwayat Imam Muslim di dalam kitab shahihnya–sebagai respon atas fenomena kaum Yahudi yang memperlakukan wanitanya yang sedang haid dengan tidak manusiawi. Mereka akan mengusirnya, tidak mau tinggal seatap dan enggan makan bersama-sama seoalah-olah wanita ketika haid adalah manusia yang menjijikan. Allah menurunkan ayat ini yang menjelaskan bahwa haid memang darah kotor sehingga dilarang bagi suami untuk melakukan hubungan badan dengannya selama ia haid sampai datang masa suci. Nabi SAW juga menegaskan kembali di dalam sabdanya, “Lakukan apa saja kecuali jimak,” yaitu boleh bagi suami untuk tetap tinggal seatap dengan istrinya, makan bersama dan melakukan aktivitas bersama-sama dengan istrinya seperti biasa ketika suci kecuali berhubungan badan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sedangkan dasar haid dari hadits Nabi SAW adalah sebagaimana tergambar dalam hadits Nabi SAW riwayat Aisyah RA di dalam Shahih Al-Bukhari berikut ini:

? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? : ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Hadits di atas menyebutkan bahwa Aisyah RA saat berhaji dengan Rasulullah SAW dan ketika sampai di Kota Sarf ia menangis karena haid sehingga ia tidak dapat melanjutkan ibadah hajinya. Rasulullah SAW mencoba menenangkannya dengan mengatakan, “Sungguh ini adalah perkara yang telah ditetapkan Allah untuk anak-anak prempuan keturunan Adam, maka selesaikanlah rangkaian ibadah haji yang harus diselesaikan selain Thawaf.” Aisyah berkata, “Dan (setelah itu) Rasulullah SAW menyembelih sapi untuk para istrinya.”

Cerita Aisyah RA ini mengajarkan kepada seluruh wanita agar tidak perlu bersedih ketika mengalami menstruasi karena hal ini sudah ketentuan Allah SWT yang diberikan kepada setiap wanita dan tentunya ada hikmah dan manfaat di baliknya. Beberapa hikmah dan  manfaat adanya darah haid adalah:

1. Latihan bagi wanita menghadapi cairan sperma yang menjijikkan untuk sebagian wanita. Karena ketika seorang wanita menikah, maka ia harus siap menghadapi cairan suaminya berupa cairan sperma sehingga wanita harus melatih dan membiasakan dirinya menghadapi dan membersihkan darahnya sendiri yakni darah haid sebelum ia akan menghadapi cairan yang lebih menjijikkan lagi yakni sperma.

2. Melatih wanita lebih rajin, tidak jijik dan cekatan. Selain mengurus suami ia juga akan mengurus dan merawat anak-anaknya, membersihkan kotoran-kotorannya dan najis-najisnya. Allah SWT memberikannya latihan stimulasi berupa haid agar ia rajin, tidak merasa jijik dengan najis-najis, cekatan dalam merawat bayi serta mengerti cara mencuci yang baik.

3. Makanan bagi janin di dalam rahim wanita. Karena janin yang ada di dalam rahim seorang wanita tidak dapat makan sebagaimana yang dimakan oleh anak di luar rahim. Tidak mungkin bagi si ibu untuk menyampaikan sesuatu makanan untuknya. Allah SWT telah menjadikan pada diri kaum wanita proses pengeluaran darah yang berguna sebagai zat makanan bagi janin dalam kandungan ibu tanpa perlu dicerna. Oleh karena itu, apabila seorang wanita tidak sedang dalam keadaan hamil, maka darah yang seharusnya dicerna oleh janin itu akan keluar dan menjadi darah haid atau menstruasi. Sementara bagi ibu yang sedang hamil, maka jarang sekali akan mengeluarkan darah haid karena telah dicerna oleh sang janin di dalam kandungannya.

Uraian ini disarikan dari kitab I’anatun Nisa’, Risalatul Mahidh dan Risalah fid Dima’it Thabi‘iyyah lin Nisa’, Shahihul Bukhari, dan Shahih Muslim, At-Tafsirul Munir. Wallahu a‘lam. (Annisa Hasanah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Syariah, Doa, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

PBNU Luncurkan Program Bersih-Bersih Masjid Berkah

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua PBNU Bidang Dakwah dan Takmir Masjid, KH Abdul Manan Ghani mengatakan bahwa dari 800 ribu masjid yang ada di Indonesia, 80 persennya adalah masjid NU. Ia berharap Masjid-Masjid tersebut dapat dimaksimalisasi fungsinya baik untuk dakwah maupun Ibadah.

PBNU Luncurkan Program Bersih-Bersih Masjid Berkah (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Luncurkan Program Bersih-Bersih Masjid Berkah (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Luncurkan Program Bersih-Bersih Masjid Berkah

Hal tersebut disampaikannya saat hadir pada acara peluncuran kegiatan Bersih-Bersih Masjid Berkah (BBM Berkah) di Masjid An-Nahdlah Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Kamis (18/5).

Ia berharap dengan diadakannya BBM Berkah yang akan dilakukan secara serentak mulai 19-25 Mei 2017 tersebut nantinya Masjid akan dapat membangkitkan ekonomi umat dan juga bisa menyapa umat lebih dekat.

Hal ini sesuai dengan Pesan Sunan Gunung Jati yaitu bahwa Ia menitipkan masjid dengan memberdayakan fakir miskin. "Jadi dari miskin harus berdaya, jangan miskin terus," tegasnya pada Kegiatan BBM Berkah PBNU yang sekaligus dalam rangka menyambut datangnya Bulan Ramadhan ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kegiatan BBM berkah di Ibukota Jakarta, lanjutnya, akan ada melibatkan sekitar 100 masjid yang akan dibersihkan tim PBNU. Kegiatan ini juga diharapkannya dapat menjadi motivasi dan ? semangat pengurus PWNU dan PCNU untuk melakukan kegiatan serupa.

Sementara itu, Ketua Panitia Kegiatan BBM, Ali Sobirin mengatakan bahwa sebenarnya kegiatan yang ditujukan untuk menghidupkan kembali Masjid tersebut sudah pernah dilakukan sejak akhir 2013. Namun pada tahun ini diluncurkan bersamaan secara nasional.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Oleh karena itu, Ali Shobirin yang juga Wakil Sekretaris Lembaga Tamir Masjid (LTM) PBNU ini mengajak seluruh ummat Muslim untuk ikut andil berpartisasi dalam kegiatan ini. Kegiatan BBM bisa dilakukan seperti membersihkan alas atau karpet di masjid, membersihkan dan mengelap kaca Masjid, membersihkan mimbar, dan membersihkan tempat wudlu ataupun WC.

Hadir pada Acara tersebut perwakilan pengurus masjid dari berbagai daerah seperti Bandung, Bogor, Bekasi, Tangerang, Banten, dan DKI Jakarta. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

KMNU Nasional Bakal Helat Olimpiade Seni Budaya NU

Bandung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Presidium Nasional (Presnas) 5 berencana akan menyelenggarakan Nahdlatul Ulama Science and Cultural Art Olympiad (NU-santara) 2015 pada 16-18 Oktober di Bogor, Jawa Barat.

Olimpiade ilmu dan seni budaya NU tersebut merupakan bgian dari upaya KMNU mewujudkan visinya, yakni sebagai pusat kajian keislaman yang berlandaskan Ahlussunnah wal Jamaah di? perguruan tinggi.

KMNU Nasional Bakal Helat Olimpiade Seni Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Nasional Bakal Helat Olimpiade Seni Budaya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Nasional Bakal Helat Olimpiade Seni Budaya NU

Abdul Rahman (Presnas 5) di Bandung mengemukakan, NU-santara 2015 diadakan dengan tujuan menggali potensi, minat dan bakat, serta ajang mengapresiasi prestasi para mahasiswa Nahdlatul Ulama yang memiliki kemampuan di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek) dan iman dan taqwa (Imtaq) yang mumpuni.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kegiatan ini terdiri dari empat rangkaian acara, yaitu Lomba Tingkat Nasional, Pelatihan Nasional, Forum Pembina KMNU Se-Indonesia, Seminar Kebangsaan dan Kontemplasi Budaya,” tambah Umam selaku Ketua Panitia NU-santara 2015.

Lomba Tingkat Nasional meliputi Lomba Esai, Lomba Cipta Mars KMNU, Lomba Hadrah, dan Lomba Musabaqoh Qiraatul Kutub dengan kategori peserta mahasiwa D3/S1. Sementara Pelatihan Nasional terdiri dari Pelatihan Administrasi dan Keuangan, Pelatihan Jurnalistik dan IT, Pelatihan NU-Training, Pelatihan Kajian dan Dakwah Aswaja, serta Pelatihan Ke-NU-an dan Ke-KMNU-an yang dikhususkan bagi delegasi dari 12 KMNU perguruan tinggi. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Untuk Seminar Kebangsaan dan Kontemplasi Budaya, KMNU mengundang masyarakat secara umum untuk ikut berpartisipasi.? Panitia berharap serangkaian acara tersebut menjadi ajang bergengsi bagi mahasiswa NU.

“Mohon doanya kepada semua pihak semoga NU-santara 2015 dapat berjalan dengan sukses dan berkah. Amiin,” tutup Puguh selaku SC NU-santara 2015. Info lengkap perihal tentang ini bisa dilihat dengan mengunjungi web resmi panitia http://nu-santara.kmnu.or.id/. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, Fragmen, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

SMK Unggulan NU Mojoagung, Berkarakter dengan Pendidikan ala Pesantren

Berbagai kalangan sangat sadar bahwa pendidikan karakter yang sebenarnya ada di pesantren. Itu pula yang dilakukan SMK Unggulan NU Mojoagung, Jombang, Jawa Timur. Sekolah yang berdiri tahun 2009 ini menerapkan model pendidikan layaknya santri dan kelak akan mengganti nama sekolah dengan tambahan pesantren.

?

"Banyak yang berbicara soal pendidikan karakter namun tidak jujur mengakui bahwa menanamkan karakter anak didik terbaik justru ada di pesantren," kata kepala sekolah SMK Unggulan NU Mojoagung Jombang Jawa Timur, Bapak Zaenal Maarif, SE, SPd, MPdI.

SMK Unggulan NU Mojoagung, Berkarakter dengan Pendidikan ala Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
SMK Unggulan NU Mojoagung, Berkarakter dengan Pendidikan ala Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

SMK Unggulan NU Mojoagung, Berkarakter dengan Pendidikan ala Pesantren

Ditemui di kantor sekolah, Bapak Zaenal, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa istilah full day school atau islamic boarding school yang kini mulai marak adalah meniru model pesantren. "Hanya istilah saja yang berbeda, namun esensinya adalah mencontoh pendidikan ala pesantren," tandas alumnus pascasarjana jurusan Magister Pendidikan Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bahkan kalau mau diadu, semua model sekolah unggulan dan sejenisnya akan kalah jauh dengan tempaan yang dilakukan di pondok pesantren. "Karena di pesantren, para santri dididik sepanjang hari, sepanjang waktu sejak awal tidur hingga bangun," ungkapnya. Sedangkan kalau di sekolah, hanya sejak jam tujuh pagi hingga jam tiga sore, lanjutnya.

Berangkat dari keberhasilan pesantren dalam mendidik dan menghasilkan santri yang memiliki karakter, maka sekolah ini kelak akan mengubah namanya menjadi sekolah pesantren. Alumnus Pondok Pesantren Darussalam Sumbersari Kediri ini mengemukakan, apa yang dilakukan di sekolahnya sebagai pembentukan karakter yang dilandasi dengan keagungan ajaran pesantren. "Sebenarnya definisi dan penjabaran pendidikan karakter adalah model yang telah dilakukan pesantren," katanya. Bagaimana mungkin akan lahir manusia yang memiliki karakter luhur tanpa ditempa secara baik seperti layaknya di pesantren. "Kelak, kami akan menamakan sekolah ini dengan SMK Unggulan NU Pesantren," tandas bapak kelahiran Jombang, 13 Oktober 1974 ini.

?

Pembiasaan dalam Keseharian

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bapak Zaenal tidak memungkiri bahwa citra SMK sebagai sekolah bagi siswa yang sedikit bebas dan "liar". "Sejak awal hal tersebut telah kami sadari," terangnya. Karena itu, yang dilakukan sekolah ini adalah dengan memberikan pembiasaan dalam segala kegiatan keagamaan, bukan sebagai paksaan.

"Kegiatan tahlilan dan pengenalan tradisi keagamaan kami lakukan secara berjamaah," kata alumnus jurusan Pendidikan Akutansi Universitas Negeri Malang ini. Sehingga dengan demikian, para siswa tidak merasa harus menghafal beberapa kebiasaan keagamaan yang menjadi tradisi di masyarakat.

"Aktivitas doa memulai dan menutup pelajaran, asmaul husna, wiridan bakda shalat, doa usai shalat rawatib, ratibul hadad, doa shalat dhuha, doa manaqib, istighatsah maupun tahlil serta menghafal surat pendek dilakukan hampir setiap saat secara bersama," katanya. Dengan demikian para siswa akhirnya secara tidak sengaja telah membiasakan diri bahkan hafal dengan sendirinya sejumlah bacaan tersebut.

Mendidik rasa hormat kepada guru juga dilakukan dengan pembiasaan. "Sebelum proses belajar mengajar dimulai, para pengajar di sekolah kami sudah hadir di sekolah," ungkapnya. Mereka berbaris menunggu para siswa datang, sehingga sebelum masuk kelas terlebih dahulu berjabat tangan dan mengucapkan salam. Dengan demikian, karakter dan pembiasaan seperti inilah yang membedakan siswa SMK ini dengan sekolah lain.

Meskipun berstatus sebagai sekolah SMK, namun soal perilaku keseharian telah terdidik seperti layaknya santri. "Sejak awal masuk yakni saat masa orientasi, para siswa telah dididik dengan disiplin yang sangat tinggi," katanya. Saat Masa Orientasi Peserta Didik yang berlangsung selama satu minggu misalnya, sekolah telah bekerja sama dengan pihak Kodim 0814 Jombang untuk mendidik disiplin tersebut.

Demikian pula kerja sama dengan pihak kepolisian setempat juga dilakukan. "Kami hanya memanfaatkan waktu tiga hari terakhir saat masa orientasi untuk menyampaikan visi dan misi sekolah," katanya.

Pengenalan disiplin dan visi serta misi sekolah merupakan prasyarat utama bagi calon peserta didik. "Dengan demikian para siswa memahami apa yang membedakan sekolah ini dengan SMK lain," kata suami dari Abirotun Najla, SEI, SPd ini.

Seperti kebiasaan shalat berjamaah maupun menyampaikan salam dan berjabatan tangan ketika bertemu guru. Hal tersebut seakan mematahkan anggapan bahwa siswa SMK adalah pelajar yang liar dan susah diatur.

?

Betah di Lingkungan Sekolah

Sejak awal, sekolah yang berdiri tahun 2009 ini memang berupaya agar para siswa bisa kerasan di sekolah. "Kalau ada hadits yang menyatakan bahwa rumahku adalah surgaku, maka kita berupaya agar para siswa juga merasakan kenyamanan layaknya surga selama berada di sekolah," katanya.

Untuk dapat menjawab kepuasan para siswa ini, sejumlah pembiasaan telah dilakukan. "Para guru sudah berada di lingkungan sekolah sebelum siswa datang," katanya. Demikian juga berbagai permasalahan siswa baik yang menyangkut kesulitan dalam memahami pelajaran dan keterampilan telah disiapkan. "Guru juga hadir untuk menjawab problem perkembangan diri dari para siswa," terangnya. alumnus jurusan Pendidikan Akutansi Universitas Negeri Malang ini.

Untuk dapat menjawab berbagai kebutuhan tersebut, sekolah yang berada di bawah MWC NU Mojoagung ini menerapkan kebijakan bahwa para guru kelas tidak dibebani jam mengajar. "Sehingga saat ada kejadian apapun di kelas, maka segera dapat dideteksi tanpa terkendala jam pelajaran," kata ayah tiga anak ini. Dengan demikian, para guru memang fokus untuk mengajar sesuai mata pelajaran yang menjadi kewajiban. "Sedangkan perkembangan siswa dikontrol dan diawasi oleh para guru kelas," tandasnya.

Hal ini ternyata berbuah manis. Seperti pantauan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal saat berkunjung ke sekolah ini, waktu telah menunjukkan pukul 14.30 WIB dan bersamaan dengan itu bel sekolah berdering. Ini pertanda prosesi belajar mengajar di sekolah ini telah usai. Namun sejumlah siswa enggan beranjak dari bangkunya. Sebagian malah menunggu adzan Shalat Ashar berkumandang untuk melaksanakan shalat berjamaah.

"Para siswa di sini malah betah berlama-lama di lingkungan sekolah, walau jam pelajaran telah berakhir," katanya. Dalam pandangannya, hal itu terjadi lantaran para siswa menemukan lingkungan yang menyenangkan berada di lingkungan sekolah yang berada di sebelah Makam Sayid Sulaiman ini.

Kerja Sama Sejumlah Pihak

Hingga kini, sekolah ini telah membuka sejumlah jurusan sesuai minat dan harapan dunia kerja. Ada akuntansi, teknik komputer dan jaringan, teknik sepeda motor, serta teknik permesinan. Agar lulusan yang ada memiliki standar yang diharapkan, sejumlah kerja sama telah dilakukan.

"Kami bekerja sama dengan Wearnes dan A Note untuk keahlian teknisi komputer, instalasi personal computer atau pc, teknisi perangkat jaringan lokal atau LAN serta desain grafis dan multimedia," ungkapnya.

Demikian pula kerja sama dengan PTPN X untuk keahlian sales accounting, finance administrator, sistem informasi akutansi dan sebagainya.

"Untuk teknik sepeda motor, sekolah bahkan telah bekerja sama dengan PT Mitra Pinasthika Mulia (MPM) yang juga distributor tunggal dan terpercaya, penyedia pelayanan purna jual dan suku cadang sepeda motor Honda," katanya.

Sedangkan untuk lembaga pendidikan kampus, sekolah telah membina kerja sama dengan Universitas Terbuka, Universitas Darul Ulum, Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), serta Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Dewantara yang semuanya berada di Jombang. "Kami juga bekerja sama dengan Institut Teknologi Surabaya," terangnya.

Kerja sama dengan sejumlah kampus ini dilakukan agar para siswa kelak dapat melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, disamping juga bekerja di sejumlah perusahaan.

Tidak mengherankan kalau keberadaan sekolah mendapat apresiasi dari berbagai kalangan, khususnya calon siswa. "40 persen siswa kami dari kawasan sekitar," katanya. Sedangkan 40 persen lagi dari luar kota. Bahkan, sisanya adalah dari luar pulau.

Apa yang dilakukan selama ini tidak lain pengejawantahan dari semboyan sekolah sebagai kejuruan berbasis religi. Demikian juga demi menyelaraskan dengan visi sekolah yang anggun dalam budi pekerti, unggul dalam prestasi serta terampil dalam amali.

?

Mulai Selektif

Kalau sejak awal sekolah tidak memberikan batasan banyaknya jumlah siswa yang diterima saat tahun ajaran baru, hal ini tidak akan dilakukan untuk tahun mendatang. "Karena keterbatasan gedung dan fasilitas serta keinginan untuk memberikan pendampingan yang terbaik, maka kami akan melakukan seleksi yang cukup ketat," katanya. Komitmen ini juga telah mendapatkan persetujuan dari yayasan dan MWC NU setempat agar tidak menimbulkan persepsi beragam.

Dengan pembatasan peserta didik, maka upaya mendampingi mereka dirasa akan lebih optimal. "Dengan demikian, kami akan bisa melakukan seleksi yang lebih ideal, demikian pula rasio antara guru dan pendamping juga akan lebih baik," terangnya.

Dan bila memungkinkan, pihak sekolah juga menyediakan asrama yang memadai bagi peserta didik dari luar kota dan pulau. "Kepercayaan itu sangat besar, sehingga kami harus melakukan pembenahan," katanya.

Seleksi yang cukup ketat juga dilakukan kepada para guru dan tenaga pendamping di sekolah. "Untuk kapasitas dan kapabilitas memang haruis melalui seleksi dari sekolah," katanya. Namun untuk komitmen keNUan dan keislaman serta keindonesiaan dipasrahkan kepada MWC NU dan pimpinan yayasan. "Dari tahapan inilah, para guru dan karyawan serta pendamping kelas diseleksi," terangnya.

Keberadaan sekolah ini juga sebagai jawaban atas keinginan besar warga NU yang demikian bersemangat untuk menyekolahkan anaknya ke jenjang SMK yang bermutu sekaligus bercirikan Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja.

Pada saat yang sama, sekolah telah menyambut pelaksanaan Kurikulum Satuan Tingkat Sekolah atau KTSP serta sarana dan prasarana yang memadai. Dari mulai laboratorium komputer, laboratorium IPA, internet, serta bengkel kerja. "Hal itu para siswa dapat mempelajari dan menguasai teknologi dengan sebaik-baiknya," terangnya.

Upaya memberikan layanan dan melakukan seleksi yang demikian panjang ini sebagai tahapan yang harus dilewati agar para alumni sekolah benar-benar tidak mengecewakan. "Inilah yang bisa kami lakukan sebagai jawaban atas kepercayaan masyarakat yang menitipkan anak-anaknya di sekolah kami," pungkasnya. (Ibnu Nawawi)



?

Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah

Oleh Muhammad Qomarudin



Pertengahan Ramadhan ini, bangsa Indonesia kembali diguncang nestapa. Momentum bulan Ramadhan sebagai bulan sakral nan suci bagi kaum Muslimin untuk menjalankan ibadah teriringi oleh ujian yang begitu berat. Bencana banjir dan tanah longsor kembali mengguncang 16 kabupaten/kota di Jawa Tengah yang meliputi? Purworejo, Banjarnegara, Kendal, Sragen, Purbalingga, Banyumas, Sukoharjo, Kebumen, Wonosobo, Pemalang, Klaten, Magelang, Wonogiri, Cilacap, Karanganyar, dan kota Solo. Bencana tersebut mengakibatkan 35 orang meninggal dunia, 25 orang hilang, dan ratusan rumah rusak (Jawa Pos, 20 Juni 2016).

Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)
Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah (Sumber Gambar : Nu Online)

Memaknai Ramadhan sebagai Bulan Muhasabah

Bencana alam di atas adalah secuil dari bukti tanda kebesaran Allah SWT. Peristiwa memilukan tersebut merupakan sunnatullah yang menyimpan berbagai hikmah dan pelajaran di dalamnya. Salah satu hikmah tersebut adalah kewajiban kita untuk terus menjaga alam dengan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kerusakan di muka bumi sebagaimana Firman Allah SWT dalam Ar Ruum: 41, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah SWT menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Ayat di atas secara implisit menyadarkan kita akan berlakunya hukum timbal balik yang terjadi secara alamiah di muka bumi ini. Jika kita menjaga alam sebagai salah satu makhluk Allah SWT dengan baik, maka ia akan memberikan respon yang baik bahkan lebih baik kepada kita. Begitu juga sebalikanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Satu hal hikmah yang bisa kita raih dari bencana alam di Jawa Tengah ini adalah terjadi pada bulan Ramadhan yang notabene banyak dari kaum Muslimin sedang menjalankan ibadah dengan porsi lebih semangat. Itulah kekuasaan Allah SWT. Bencana apa pun, kapan pun dan dimana pun merupakan hak prerogratif sekaligus bukti rahasia Allah SWT sebagai pencipta makhluk (Al-Khaliq) dan sang penguasa jagad raya (Al-Mulk). Tidak ada satu pun makhluk di muka bumi ini yang dapat menyamai atau menandingi kebesaran Allah SWT. Kita sebagai hamba-Nya dapat menjadikannya sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri.

Jika itu terjadi, maka akan muncul berbagai pertanyaan reflektif dan evaluatif sebagai berikut. Seberapa besar rasa syukur kita kepada Allah SWT atas segala nikmat dan karunia yang tercurah? Seberapa besar tekad kita dalam beribadah dalam bulan yang penuh maghfirah ini? Seberapa luas upaya kita dalam berkasih sayang kepada makhluk di sekitar kita?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tiga pertanyaan di atas seharusnya dapat menjadi bahan pijakan untuk mengevaluasi sejauh mana diri kita dalam memaknai Ramadhan dengan sebaik-baiknya. Kita pun mahfum, keistimewaan bulan Ramadhan sangatlah besar dan tiada bandingnya. Ia bak samudra dan limpahan air di atasnya dapat diibaratkan sebagai pahala yang terlimpah luas. Pada fase awal, Rasulullah SAW mengabarkan bahwa dengan “hanya” merasa gembira dalam menyambut Ramadhan saja dapat menghindarkan diri dari api neraka, apalagi bila kita mampu melewatinya dengan ibadah yang baik pula. Sungguh luar biasa pesona Ramadhan tersebut.

Namun terkadang diri ini alpa, ada beberapa hal yang salah dalam pola pikir kita dalam memaknai Ramadhan. Kita sering melabeli Ramadhan sebagai bulan untuk bermalas-malasan. Wajar memang, dengan berpuasa, energi dan fungsi organ tubuh terasa lebih lemah sehingga berdampak pada perilaku bermalas-malasan dalam beraktivitas. Karena hal itulah, sering kita mendapati banyak dari kita menjadikan tempat-tempat strategis untuk menabung pahala seperti masjid dan mushala digunakan hanya untuk sekadar tidur-tiduran. Ironi memang, maka berlaku produktif dalam memanfaatkan setiap detik Ramadhan dengan perilaku yang benar merupakan pilihan terbaik bagi kita.

Ramadhan bukan hanya menganjurkan kita untuk beribadah, baik sunah maupun wajib, ia juga memberikan kita makna besar untuk mengorelasikan hablum minallah (interaksi individual dengan Allah SWT) dan hablum minannas (interaksi sosial dengan makhluk) secara seimbang. Hal ini memanglah benar adanya. Mengingat dr. Ratib an-Nabusi, ulama terkemuka Suriah pernah mengatakan, ibadah formal (syar’iyah) seseorang tidak diterima selama ibadah interaktif (ta’amuliyah) tidak benar.? ? ? ? ?

Pada pekan awal Ramadhan ini, kita mendapati pro kontra tentang larangan berjualan pada siang hari. Maka di sinilah diperlukan kesadaran hati dan kepekaan jiwa dari semua pihak yang berkepentingan. Seberapa manfaat dan madarat dari setiap aturan perlu dikaji ulang secara rasional dan sistematis. Maka menghargai—seseorang yang tidak berkewajiban puasa—juga menjadi titik poin yang patut mendapatkan perhatian. Inilah bentuk apresiasi pada makna keberagaman yang tercipta di negeri ini secara turun temurun.

Pada perkembangan selanjutnya di pertengahan bulan Ramadhan, bangsa ini, terutama kaum muslimin kembali diuji dengan adanya pemberitaan tentang penodaan agama Islam yang dilakukan oleh oknum remaja di Banyuwangi dan Tulungagung. Kedua daerah tersebut ada di wilayah Jawa Timur. Keduanya menggunakan jejaring sosial Facebook sebagai media untuk menjalankan aksi kejinya.

Lantas, bagaimanakah kita menyikapi fenomena ini? Rentetan kasus dan bencana alam yang datang silih berganti menunjukkan betapa besar cinta Allah SWT yang tercurah kepada umat Islam. Maka berlaku penuh kesabaran adalah jalan yang ditempuh dalam melewati fase ini. Bersabar bukan berarti pasif akan tetapi justru lebih aktif dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Bukankah kesabaran dapat mendatangkan pertolongan dari setiap kesusahan? Jika hal ini terlaksana, bukan tidak mungkin akan tercipta pribadi muslim yang tegar, taat dan berakhlakul karimah.

Bagaimanakah cara menumbuhkan kasih sayang kepada sesama manusia? Marilah kita belajar dari cara Rasulullah SAW dalam menyayangi keluarganya. Rasulullah SAW dikenal sebagai pribadi yang ringan tangan dan murah senyum. Hal itulah yang menjadikan beliau disegani tidak hanya oleh sahabatnya, tetapi juga musuh-musuhnya sehingga dengan kewibawaan dan kesederhanaanya, beliau mampu meluluhkan hati kaum kafir sehingga mereka berbondong-bondong masuk Islam. Adapun bentuk kasih sayang Rasulullah SAW termaktub dalam QS Ali Imran (159) yang berbunyi “maka berkat rahmah Allah SWT engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut kepada mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentu mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah SWT mencintai orang yang bertawakal”

Marilah kita jadikan kembali Ramadhan ini sebagai bulan intropkesi (syahrul muhasabah) untuk merenungi makna setiap langkah kita dalam meniti kehidupan di muka bumi sebagai bekal untuk akhirat nanti sehingga kita bisa berlaku adil dalam beribadah maupun kepada sesama.? Semoga!

Penulis adalah Alumnus Pondok Pesantren Attanwir Talun, Sumberrejo, Bojonegoro, Jawa Timur; Pengurus Bidang Kaderisasi PC IPNU Bojonegoro



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Berita, Fragmen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 26 November 2017

Guru NU Dapat Beasiswa Kuliah Pascasarjana

Bandung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal 

Persatuan Guru Nahdlatul Uama (Pergunu) bekerjasama dengan Universitas Islam Nusantara (Uninus) memberikan beasiswa pascasarjana S2 dan S3 bagi guru-guru NU kuliah di Uninus. Beasiswa tersebut berbentuk parsial, sehingga para guru NU hanya membayar 50 persen dari biaya kuliahnya.

Guru NU Dapat Beasiswa Kuliah Pascasarjana (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru NU Dapat Beasiswa Kuliah Pascasarjana (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru NU Dapat Beasiswa Kuliah Pascasarjana

"Beasiswa ini dimulai pada masa perkuliahan tahun akademik 2016-2017 dengan jumlah mahasiswa S2 PAI sebanyak 87 orang, S2 Manajemen Pendidikan sebanyak 47 orang dan S3 Ilmu Pendidikan sebanyak 37 orang," papar Ketua PP Pergunu H Saepuloh, di ruang kerjanya, Kamis (20/9).

Saepuloh mengatakan untuk tahun akademik 2017-2018 beasiswa diraih oleh 104 orang untuk S2 PAI. Jumlah ini meningkat drastis dari tahun sebelumnya.

"Sedangkan untuk S2 Manajemen Pendidikan dan S3 Ilmu Pendidikan masih dalam tahap seleksi dan akan diumumkan dalam waktu secepatnya," tambahnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Terkait persyaratan mendapatkan beasiswa tersebut, Saepuloh menjelaskan calon mahasiswa penerima beasiswa harus mempunyai kartu tanda anggota (KTA) Pergunu, rekomendasi dari PW Pergunu, dan lolos seleksi akademik di Uninus.

Selain dengan Uninus, Pergunu juga menjalin kerja sama dengan Institut KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet, Mojokerto memberikan beasiswa penuh untuk program S2 Pendidikan Agama Islam dan S2 Menejemen Pendidikan Islam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Beasiswa S2 Pendidikan Agama Islam dan S2 Menejemen Pendidikan Islam di Institut KH Abdul Chalim (IKHAC), ini beasiswa full yang meliputi biaya kuliah, uang makan, asrama, dan pengajian di pondok pesantren," tutur Saepuloh

Beasiswa mahasiswa IKHAC diberikan kepada 68 orang guru NU perwakilan dari semua provinsi, dengan ketentuan mendapatkan rekomendasi dari PW Pergunu atau PWNU serta siap tinggal di Pondok Pesantren Amanatul Ummah selama mengikuti pendidikan. (Awis Saepuloh/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Daerah, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan

Medan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Puluhan ribu warga Nahdlyin “putihkan” Istana Maimun yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Medan. Warga menghadiri acara Istigotsah Kubro di Istana peninggalan Kesultanan Deli itu dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Ke-82, Ahad (3/2).

Hadir dalam acara tersebut sejumlah ulama NU seperti KH Muchtar Muda Nasution, tokoh-tokoh pesantren dan NU seperti Drs H Amri Tambunan, H Afiduddin Lubis, H Maratua Simanjuntak, H Abdul Wahab Dalimunthe Drs H Syariful Mahya Bandar, para pengurus NU Sumut, Pengurus Cabang (PC) NU Sumut, beberapa lembaga, lajnah dan badan otonom NU.

Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan

Turut hadir juga sejumlah tokoh Ormas Islam seperti Ketua PW Alwashliyah Sumut Drs H Nizar Syarief. Demikian dilaporkan kontributor Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Muhammad Safii Sitorus dari Medan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Panitia Harlah NU Ke 82 PWNU Sumut HM Arifin Matondang dalam sambutannya menyatakan, kegiatan Istigosah Kubro ini merupakan puncak acara Harlah Ke-82 yang dilaksanakan secara serentak ditingkat Nasional dimulai pada 31 Desember 2008 lalu ditandai dengan pengibaran bendera NU di seluruh Sumatera Utara. Penyerahan bendera dilakukan oleh Mustasyar PWNU Sumut H Abdul Wahab Dalimunthe, SH dan Drs H Syariful Mahya Bandar.

Pada tanggal 12 Januari lalu dilakukan bakti sosial kepada kaum dhuafa di Jalan Sei Batanghari No 52 Medan. Pada 27 Januari 2008 pelaksanaan nikah masal di Asrama Haji Medan sebanyak 24 pasangan. Pada 28 Januari dilaksanakan Bahtsul Masail dengan topik "Faham Ahlussunnah wal Jamaah Menangkis Aliran Sesat" di wisma PHI Jalan Gatot Subroto Medan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pada 2 Februari 2008 lalu dilaksanakan silaturrahmi Ulama dan Umara NU di Hotel Madani Medan dan Seminar Nasional "Reposisi Aswaja Dalam Pergulatan Sosial, Ekonomi ,Politik ,dan Faham Keagamaan" di Hotel Dharma Deli Medan.

Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan menyatakan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah ikut mensukseskan acara ini. Dijelaskannya, Istigotsah juga dilaksanaan secara serentak di seluruh Indonesia yang dipusatkan di Istora Gelora Bung Karno.

Pada kesempatan itu Ashari juga menyatakan komitmen kebangsaan NU tidak akan tergoyahkan dalam situasi apapun dan kondisi apapun karena bagi NU yang terpenting bukan Islam seremonial, akan tetapi Islam subtansial.

Rais Syuriah PWNU Sumut Dr Pagar Hasibuan ,MA dalam tausyiahnya menyatakan pelaksanaan Isigosah Kubro ini membuktikan bahwa keberadaan NU di Sumatera tetap eksis dan Istigotsah ini menandakan kebangkitan NU di Sumut.

Dr Pagar juga menyatakan pelaksanaan Istiogah ini merupakan doa untuk keselamatan bangsa dijauhkan dari segala cobaan yang selama ini sering menimpa.

Usai pelaksanaan Istigosah dilanjutkan pawai seluruh kader muda NU dengan mengendarai ratusan sepeda motor mengelilingi Kota Medan. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Pahlawan, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 November 2017

Antara Teroris dan Teloris

Otong dan Ujang suatu kali sedang ngobrol serius tentang bom di Sarinah di serambi pesantren. Tiba-tiba Ujang bertanya sama Otong.

"Kang tahu tidak, kemarin seorang pemuda asal Brebes ditangkap polisi ketika berjalan di dekat pusat perbelanjaan dan membawa tas bermuatan yang cukup berat?" tanya Ujang.

Antara Teroris dan Teloris (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Teroris dan Teloris (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Teroris dan Teloris

"Tidak, Kang. Kok di TV dan medsos enggak ada yang memberitakan tentang itu? Mungkin itu hoax."

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Tapi..." lanjut Ujang sambil menampakan mimik wajah serus.

"Tapi apa, Kang?" tanya Otong penasaran.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Tapi, setelah memeriksa ketat isi tas, polisi mendapatkan barang yang bukan ia curigai."

"Emang isinya apa?"

"Telor asin, yang akan didrop ke warung-warung. Kini pemuda tersebut ditetapkan sebagai teloris," jelas Ujang sambil ketawa. (Ahmad Rosyidi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pesantren, Fragmen, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 19 Oktober 2017

Pemerintah Biarkan Konflik Pengusaha dan Buruh

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pemerintah melepas diri dari persoalan pengupahan. Pengusaha dan buruh dibiarkan menyelesaikan persoalannya. Padahal pemerintah memiliki posisi penting dalam penyelesaian masalah pengupahan dan juga hubungan pengusaha dan buruh.

Demikian dikatakan Wakil Sekretaris Umum Sarekat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) Baitul Khoiri kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal per telepon, Jumat (1/11) siang.

Pemerintah Biarkan Konflik Pengusaha dan Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemerintah Biarkan Konflik Pengusaha dan Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemerintah Biarkan Konflik Pengusaha dan Buruh

“Pengupahan menjadi bermakna kalau pemerintah sanggup mengatasi dan mengendalikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Apa artinya kenaikan upah kalau biaya hidup terus meningkat?” tegas Baitul Khoiri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Masalah kesejahteraan buruh, sambung Baitul, perlu diselesaikan secara menyeluruh. Penyelesaian harus melibatkan sejumlah departemen dan lembaga pemerintahan. Departemen Industri dan Perdagangan, Departemen Perumahan Rakyat, Kadin, Kepala Daerah, dan anggota DPRD harus dilibatkan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan membiarkan konflik berkepanjangan antara pengusaha dan buruh, pemerintah membiarkan pengusaha dan buruh sebagai korban.

Pasalnya, kata Baitul Khoiri, kenaikan upah buruh membuat pihak pengusaha tersudut. Kalau upah tidak dinaikan, buruh selalu menempati posisi korban.

Buruh tidak butuh kenaikan upah. Percuma naik, kalau pemerintah tidak sanggup mengendalikan lonjakan harga kebutuhan sehari-hari masyarakat. Mereka hanya perlu sejahtera, tutup Baitul Khoiri. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 15 Oktober 2017

Doa ketika Melihat Langit

Segala ciptaan baik di alam raya maupun dalam diri manusia adalah tanda atau ayat (keagungan) Allah. Sehingga, saat seseorang menyaksikan ciptaan, apa saja, semestinya juga membawa kepada pengalaman ruhaniyah akan kemahabesaran itu. Demikian pula ketika melihat langit. Dalam hadits shahih, Rasulullah menganjurkan kita untuk membaca doa berikut ini yang merupakan kutipan dari Surat Ali Imran ayat 191:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Doa ketika Melihat Langit (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa ketika Melihat Langit (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa ketika Melihat Langit

Rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilan subhânaka faqinâ ‘adzâban nâr

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa Neraka. (Lihat Muhyiddin Abi Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Adzkâr, Penerbit Darul Hadits, Kairo, Mesir)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

(Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Khutbah, Nahdlatul Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 06 Oktober 2017

Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah

Jombang,Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pondok Pesantren Bahrul Ulum (PPBU) yang lebih akrab disebut Pesantren Tambakberas, Jombang, Jawa Timur akan melangsungkan gawe besar yakni peringatan seabad madrasah dan 191 tahun pesantrennya. Untuk menyambut itu kepanitiaan mengupayakan pusat dokumentasi atau museum.

Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tambakberas Berburu Bukti Sejarah

"Kami terus berburu testimoni atau pengakuan dari para pelaku sejarah, dalam hal ini siapa saja yang mengetahui kiprah pesantren di masa awal," kata divisi dokumen, H Muhyiddin Zainul Arifin, Sabtu (26/3).

Bersama panitia yang lain, H Muhyiddin melakukan serangkaian wawancara dan pencarian dokumen demi mengukuhkan keberadaan dan kiprah para pendahulu maupun pesantren. "Sejumlah sesepuh yang masih bisa diajak komunikasi terkait kiprah para pendahulu pesantren satu demi satu kami datangi," katanya. Demikian pula dokumen yang membenarkan usia madrasah serta sejumlah barang penting dari para pengasuh masa awal juga terus diupayakan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Bahkan ada piagam yang berhasil ditemukan panitia yang menerangkan bahwa usia madrasah ternyata lebih tua dari data yang dimiliki panitia," terang dosen di Universitas KH Abdul Wahab Chasbullah atau Unwaha Jombang ini. Demikian pula benda bersejarah yang pernah dimiliki para pendahulu pesantren turut diinventarisir, lanjutnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebagai langkah awal dan berdasarkan masukan saat koordinasi dengan anggota devisi telah disepakati untuk menggali data dari para putra dan putri pengasuh. "Para panitia sudah kami bagi agar bisa menyebar ke sejumlah dzurriyah atau keluarga pesantren," katanya. Karena dari para keluarga dalem tersebut nantinya akan muncul temuan baru atau bahkan rekomendasi siapa saja yang layak untuk dikonfirmasi terkait kiprah para pendahulu pesantren.

"Kami akan mengumpulkan sebanyak mungkin pandangan dan pengakuan hingga barang bersejarah dari berbagai kalangan sebagai upaya untuk mengungkap kiprah para sesepuh dan pendahulu," ungkapnya. Beberapa keluarga juga tidak berkeberatan berbagi koleksi foto dan benda pusaka yang nantinya akan dipamerkan. "Tidak menutup kemungkinan, foto dan dokumen serta benda bersejarah tersebut belum terpublikasi," lanjutnya.

Terhadap pihak yang tidak berkenan untuk menyerahkan benda bersejarah yang ada kaitannya dengan pesantren dan para pengasuh, divisi ini tidak akan memaksa. "Kami bisa menggunakan kamera atau scan agar bisa mendapatkan materi yang ada," jelasnya. Dan nantinya seluruh koleksi tersebut akan dipamerkan di Gedung Serba Guna KH Abdullah Said dari tanggal 27 hingga 2 Juni.

Seperti diberitakan sebelumnya, Pesantren Tambakberas yang didirikan tahun 1825 oleh salah satu pasukan Pangeran Diponegoro yang membentengi Jawa yakni Abdussalam yang lebih populer dengan nama Mbah Saichah akan memperingati ulang tahun. Dan di pesantren yang mulai mengenalkan model madrasah secara klasikal tahun 1915 ini juga mengadakan sejumlah kegiatan dari mulai 26 April hingga 4 Juni mendatang. (Ibnu Nawawi/Abdullah Alawi)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Santri, Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 29 September 2017

“Unggah-unggahan” Sambut Ramadhan

Malam itu, Rabu (19/7), warga Nahdliyin di Desa Timbangreja Kecamatan Lebasiu Kabupaten Tegal menunggu awal datangnya bulan Ramadhan dari hasil sidang Itsbat dari pemerintah melalui Kementrian ? Agama. Ada tradisi yang sudah disiapkan oleh warga sambut jelang Ramadhan, unggah-unggahan.

Jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia unggah-unggahan artinya kenaikan. Bentuk dari tradisi ini adalah warga desa yang mayoritas warga Nahdliyin memberikan sedekah dengan mengadakan selamatan kirim doa. Mereka membawa makanan seadanya dan menurut kemampuan setiap warga.?

“Unggah-unggahan” Sambut Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
“Unggah-unggahan” Sambut Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

“Unggah-unggahan” Sambut Ramadhan

Makanan yang disediakan oleh warga ada dua macam yaitu makanan yang akan di bagikan dan makanan yang akan di makan bersama-sama setelah selamatan. Sebelum makan dibagi atau dimakan bersama ? tersebut dikumpulkan dimusholla atau Masjid terdekat, dan semua warga berkumpul .?

Salah satu warga, Ustadz Mahmuludin (37) menuturkan, unggah-unggahan merupakan tradisi yang dilakukan oleh setiap warga dua hari jelang Ramadhan dan tidak dilakukan bulan-bulan lain seolah-olah menjadi amalan wajib sambut datangnya bulan Ramadhan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Saya pernah diceritai oleh kiai Rahmat (Alm.) yang merupakan kiai sepuh zaman dulu yang juga merupakan penggiat NU, bahwa tardisi unggah-unggahan diharapakan kualitas hidup kita mengalami kenaikan, dan bulan ramadhan itu merupakan sarana untuk ? menaikan kualitas hidup, diantaranya kualitas hidup bermasyarakat dan meningkatkan iman,” jelas Mahmul .

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Rahmat juga menafsirkan, lanjut Mahmul, tentang makan bersama setelah selamatan , merupakan kebersamaan karena tidak masuk akal kalau sudah kumpul bersama kemudian makan bersama dalam satu nampan secara bersama-sama kemudian menjadikan ? saling membenci, yang ada adalah rasa bungah (senang) .?

Mahmul , yang ditemui Rabu (18/7) malam setelah mengikuti taradisi unggah-unggahan juga menggangap bahwa tradisi semacam itu tidak buruk dan patut dilaksanakan karena tidak bertentangan dengan nilai-nilai keislaman. “Justru disinilah simbol kerukukan umat akan terpelihara dengan baik," tururnya.

Selian Mahmuludin, salah satu tokoh terkemuka Ustadz Khambali menambahkan , unggah-unggahan merupakan bentuk silaturahmi antar umat manusia yang disebut dengan hablum minanas dan unsure lain dari unggah-unggahan terdapat juga hablum minallah dengan berkirim doa dan memuja Gusti Allah.?

“Unggah-unggahan dalam doa tersebut merupakan bentuk berterima kasih kepada orang-orang terdahulu yang telah membawa Islam sehingga sampai kepada umat yang ada sekarang ini," katanya?

Pada zaman dulu, lanjut Ustadz Khambali, makanan yang disajikan dlam unggaha-unggahan adalah jenis kue apem yang kalau istilahkan dengan menggunakan bahsa Arab itu Afuwun artinya minta maaf dan saling memaafkan, jadi isi dari unggah-unggahan tersebut adalah serentetan kegiatan untuk menyambut bulan suci agar jiwa kita juga bersih atau suci .?

“Jadi diawali dengan batin yang suci dan diakhir ramadhan ? kita juga akan menjumpai hari raya idul fitri dengan fitrah yang suci, dengan demikian akan semakin kualitas hidup kita," tutur Rois Syuriah PR. NU Desa Timbangreja . ?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nasional, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock