Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612

Tasikmalaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Corp Brigade Pelajar (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya melakukan Jumat Bersih (Jumsih) yang diselenggarakan Komando Distrik Militer (Kodim) 0612 Kota Tasikmalaya. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (25/11) dari pukul 08.00 pagi sampai 09.45.

Jumsih merupakan tindak lanjut dari Surat Perintah dan Derektif Danrem untuk melaksanakan kegiatan pembinaan peta jarak jaring teritorial tahun 2016. Kegiatan ini dilaksanakan dari berbagai unsur mulai anggota TNI, Organisasi Kepelajaran (OKP), dan masyarakat sekitar kampung Cikalang.

Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612 (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612 (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612

Tiap peserta dari berbagai OKP mengirimkan 4 orang anggotanya untuk Jumsih di sekitar Jalan Laswi Kelurahan Cikalang Kecamatan Tawang. Peserta yang hadir sekitar 100 orang lebih dan berjajar membersihkan pinggir jalan sepanjang 1 km.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Wakil Komandan CBP IPNU Kota Tasikmalaya M. Baharudin Fauzi mengatkaan mendukung penuh Jumsih karena merupakan bagian dari untuk tetap menjaga kebersihan wilayah.

“Kita selaku pelajar NU harus cinta akan kebersihan dan harus mendorong semua lapisan masyarakat untuk cinta kebersihan karena kebersihan itu sebagian dari iman,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Komandan Banser Kota Tasikmalaya Haedar Burhan juga mendukung kerja sama pihak aparatur pertahanan dengan kepemudaan untuk senantiasa melaksanakan dan menjaga kebersihan.

Ia juga berharap agar jumsih ini dilakukan setiap seminggu sekali Supaya kota Tasik selalu bersih dan terhindar dari wabah penyakit. (Agum Gumilar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, AlaSantri, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI

Sidoarjo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal ?

Puluhan tim Turnamen Futsal tingkat MI/SD se-Kabupaten Sidoarjo bertanding memperebutkan juara satu, dua dan tiga pada ajang futsal yang diadakan oleh MTs Nurul Huda, Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo, di lapangan futsal sekolah setempat, Jumat (3/3).

Menurut Panitia Turnamen Futsal Fathur Rahman, turnamen ini sebagai ajang silaturahim serta mencari bibit unggul dari anak MI atau SD yang mempunyai kelebihan, baik bidang akademik maupun nonakademik yang nantinya akan dikirim ke Koni untuk mengikuti turnamen tingkat nasional.

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI

Turnamen Futsal itu rutin diadakan setiap dua tahun sekali untuk mendorong para pelajar khusunya di Kecamatan Sedati supaya masuk ke MTs Nurul Huda. Turnamen itu sendiri sudah ke empat kalinya diadakan.

"Tahun ini ada sekitar 32 tim futsal yang bertanding. Turnamen ini juga sebagai sarana untuk mengenalkan ke anak-anak tentang keberadaan sekolah MTs Nurul Huda," kata Fathur Rahman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syaifuddin mengapresisasi dengan adanya kegiatan tersebut. Pasalnya, turnamen ini bisa memotivasi anak-anak MI dan SD untuk senantiasa aktif daripada bermain dan membuang waktu secara sia-sia.

"Saya berpesan kepada seluruh peserta agar terus berjuang hingga berprestasi dan selalu menjunjung tinggi sportifitas. Sebab, anak yang senantiasa jujur, sportif akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat," kata pria yang akrab disapa Cak Nur itu.

Turnamen futsal tingkat MI/SD se-Kabupaten Sidoarjo tahun 2017 ini dibuka Wakil Bupati Sidoarjo ditandai dengan tendangan bola ke gawang, dengan didampingi Kepala Kemenag Sidoarjo H Achmad Rofii, Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan, Ketua LP Maarif Sidoarjo H Misbahudin. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, Kajian, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda?

Assalamualaikum Wr. Wb. Kami suami-istri yang baru menikah. Dan selama seminggu saya keluar kota, begitu pulang karena kami tidak tahan kami melakukan hubungan badan pada siang hari di bulan Ramadlan. Yang ingin saya tanyakan apakah kami berdua wajib membayar kaffarat ataukah hanya pihak suami saja yang wajib, mengingat hubungan itu kami lakukan berdua dan sama-sama menikmatinya. Kami mohon penjelasannya, dan atas penjelasannya kami ucapkan terimakasih. (Ali-Sorong)

 

Jawaban

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt, dan bisa menjalankan puasa dengan lancar sampai selesai. Bahwa hubungan badan yang dilarang dan membatalkan puasa adalah hubungan yang dilakukan siang hari, dan pelakunya berhak mendapatkan kaffarat. Larangan ini tidak berlaku untuk hubungan badan yang dilakukan pada malam hari.

Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda?

Yang menjadi persoalan apakah pihak perempuan yang melakukan hubungan di siang hari itu juga berhak mendapatkan kaffarat atau hanya pihak lelaki saja?

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Menurut madzhab Hanafi dan Maliki jika seorang istri melakukan hubungan badan dengan suaminya maka ia wajib membayar kaffarat. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Imam Dawud azh-Zhahiri tidak ada kewajiban membayar kaffarat atasnya. Demikian sebagaimana dikemukakan Ibnu Rusyd:

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?..

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Adapun masalah ketiga: yaitu perselisihan mereka (para ulama) tentang kewajiaban membayar kaffarat bagi seorang perempuan yang melakukan jima` dengan suaminya maka Abu Hanifah beserta para pengikutnya dan Imam Malik beserta para pengikutnya mewajibkan ia membayar kaffarat. Sedang menurut Imam Syafii dan Imam Dawud azd-Zhahiri, tidak ada kewajiban kaffarat baginya” (Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Mesir-Musthafa al-Babi al-Halabi, 1395 H/1975 M, h. 204)

Di antara alasan yang mewajibkan kaffarat, misalnya menurut madzhab Hanafi adalah bahwa sebab yang mewajibkan membayar kaffarat adalah pelanggaran dengan merusak puasa (jinayah al-ifsad). Dan keduanya dianggap berkolaborasi (musyarakah) dan bersama-sama dalam melakukan pelanggara tersebut. Karenanya, baik lelaki maupun pihak perempuan memiliki kewajiban membayat kaffarat.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sedangkan di antara alasan yang dikemukakan oleh pandangan kedua yang tidak mewajibkan kaffarat bagi pihak perempuan adalah, karena Rasulullah saw dalam haditsnya hanya memerintahkan kepada pihak laki-laki yang melakukan jima` dengan istrinya pada siang Ramadlan untuk membebaskan budak, jika tidak mampu puasa selama dua bulan berturut-turut, dan jika masih tidak mampu juga maka memberikan makanan kepada enam puluh orang miskin. Yang diwajibkan membayar kaffarat hanya suami, padahal jelas dalam kasus ini pihak perempuan juga terlibat di dalamnya.

Saran kami, ikuti pendapat yang pertama sepanjang bisa dilakukan. Karena jika kita mengikuti pendapat pertama, maka kita juga mengakomodir pendapat kedua. Di samping itu pendapat pertama adalah pendapat yang diikuti mayoritas ulama.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, dan semoga bisa bermanfaat. Dan kami ingatkan jangan sekali-kali mengulangi hal tersebut karena itu jelas melanggar aturan syara’. Puasa adalah sarana untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya dihalalkan, dalam hal ini adalah hubungan suami istri seperti dibahas di atas. Jika merasa tidak kuat menahan, hindari intensitas pertemuan di siang hari. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Bupati Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta. Dalam seminar tersebut, ia diplot sebagai seorang Budayawan yang lekat dengan sarung.

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Dalam kesempatan seminar bersarung itu, Dedi Mulyadi yang juga mengenakan sarung bersama narasumber lain, KH Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo mengungkapkan kesannya setiap kali berada di tengah Nahadlatul Ulama (NU).?

Baginya, NU memberikan pelajaran berharga tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” ungkap Kang Dedi, sapaannya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan pemaparannya terkait sarung, Bupati yang dinilai berhasil dalam mengangkat budaya Sunda itu menjelaskan bahwa sarung juga telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda dalam sejarah kosmologinya.?

“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” jelas pria yang kerap memakai ‘udeng-udeng’ khas Sunda di kepalanya ini.

Dedi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah yang mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad

Di era dunia digital seperti saat ini, informasi menjadi sesuatu yang tidak terbatas. Semua orang bisa mengaksesnya. Tidak dibatasi pada sekat-sekat wilayah dan geografi. Seseorang bisa mengetahui suatu peristiwa dan informasi di belahan dunia lain hanya dalam waktu beberapa detik dari kejadian peristiwa tersebut, bahkan real time pada saat itu juga. Semuanya tersambung ke dalam dunia maya yang begitu luas dan cepat. 

Perang informasi dengan skala yang lebih luas pun menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Masing-masing membuat dan menyebarkan informasi yang menurut mereka benar dan menganggap yang lain salah. Berbagai macam strategi pun dipakai untuk menarik perhatian publik. Membuat narasi playing victim, dan memenuhi konten-konten versi kelompoknya di media sosial adalah sederet strategi yang umumnya dipakai dalam perang informasi. 

Sehingga perang informasi ini menyebabkan masyarakat dunia maya atau netizen terbelah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah yang bingung karena ada satu peristiwa namun ada dua informasi yang berbeda mengenai peristiwa tersebut. Kelompok kedua adalah yang hanya mempercayai informasi dari kelompoknya sendiri dan menolak segala informasi dari luar tanpa melakukan crosscheck informasi terlebih dahulu. 

Sebetulnya pada zaman Nabi Muhammad juga ada yang namanya perang informasi. Berbeda dengan saat ini yang menggunakan media sosial sebagai alat, pada zaman Nabi Muhammad perang informasi menggunakan syair dan disebarkan dari mulut ke mulut. Nabi Muhammad, sahabat, dan umat Islam saat itu pun terlibat dalam perang informasi. 

Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad

Lalu bagaimana strategi dan langkah-langkah Nabi Muhammad dalam menghadapi perang informasi? Sebagaimana dikutip dari buku Perang Muhammad; Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah, ada beberapa hal yang dilakukan Nabi Muhammad dalam menghadapi perang informasi.

Pertama, mendiamkan. Setelah kaum musyrik kalah dalam konfrontasi militer, mereka menyerang Nabi Muhammad dengan berbagai cara lainnya, termasuk dalam bentuk cacian dan makian. Adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab, yang pertama kali melakukan itu. Ia terus-terusan memaki Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya. 

Pada saat dakwah Islam semakin berkembang, para penyerang dari kalangan penyair semakin banyak. Diantaranya Abdullah bin al-Zab’ari (seorang penyair Quraisy paling bersinar) Abu Suyan bin al-Harist (sepupu dan saudara susuan Nabi Muhammad), Hindun binti Uthbah (istri Abu Sufyan), dan lainnya.     

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bahkan, Kaum Quraisy mengubah nama Muhammad (artinya yang terpuji) menjadi Mudzammah (yang tercela). Mereka juga menggubah syair-syair yang menyerang Nabi Muhammad dan agama Islam. Pada tahap tertentu, Nabi Muhammad membiarkan dan mendiamkannya.  

Kedua, menyerang yang menyerang Nabi Muhammad. Gelombang perang informasi dan cacian kepada Nabi Muhammad dan umat Islam semakin banyak dan gencar. Melihat kondisi yang seperti ini, Nabi Muhammad meminta pada sahabatnya untuk mempersiapkan diri menyerang balik mereka yang menyerang Nabi Muhammad dan umat Islam. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketiga, memilih orang yang tepat. Nabi Muhammad sangat paham betul bagaimana cara berperang, termasuk dalam perang informasi. Nabi Muhammad menunjuk sahabat terbaiknya untuk menjadi ujung tombak dalam perang informasi. Sahabat Hassan bin Tsabit menawarkan diri untuk menjadi pemimpin pasukan perang informasi. Setelah  menerima ujian dan tantangan langsung dari Nabi Muhammad dan dinyatakan qualified, maka Hassan bin Tsabit diangkat menjadi ‘komandan’ perang informasi. 

Ia menyerang siapa saja yang menyerang umat Islam. Dengan gubahan syairnya yang tajam, Hassan bin Tsabit berhasil mempermalukan dan membuat musuh-musuh Islam tidak berkutik. Maka kemudian dikenal lah Hassan bin Tsabit sebagai penyair dan penyeru kebenaran. Ia disegani oleh semua musuh Islam. Kalau dulu perang informasi pada zaman Nabi Muhammad mengandalkan keahlian dan kecerdasan seorang penyair untuk membungkam maka perang informasi saat ini seharusnya menggunakan data-data yang valid dan kata-kata yang sopan, bukan dengan kebohongan.

Keempat, memaafkan mereka yang menyerang. Seiring dengan tumbuhnya agama Islam, penyair yang membela Islam semakin banyak sementara penyair yang memusuhi Islam terus berkurang. Mereka mulai bertobat dan menyatakan diri bergabung dengan umat Islam. Melihat perkembangan ini, Nabi Muhammad memaafkan mereka semua yang dulu menyerangnya. 

Salah satu musuh yang dulu menyerang Islam, namun kemudian membela Islam adalah Nabighah al-Ja’di. Ia kemudian menggubah sebuah puisi sebagaimana berikut ini:

    Kudatangi Rasulullah

    Sang pembawa petunjuk Allah

    Sang pembaca Al-Qur’an

    Laksana bintang berkilauan

 A Muchlishon Rochmat,

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejak tahun 1967 silam, sistem pengajaran keagamaan di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo sudah mulai berkembang. Hal ini dikarenakan saat itu ada pembelajaran agama lewat sebuah musholla kecil yang berkembang cukup pesat. Dari waktu ke waktu musholla tersebut selalu menjadi pusat pembelajaran agama masyarakat sehingga berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang kelak dikenal dengan Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Keberadaan Pondok Pesantren Rabithatul Islam ini memang tidak bisa dilepaskan dari dua kiai yang masih besanan. Yakni, KH Abdur Rouf dan KH Thoha. Dimana sebelum pesantren berdiri, kedua kiai ini selalu mengajarkan ilmunya di musholla kecil yang banyak didatangi oleh santri. Uniknya, kedua kiai ini mempunyai sebuah kelebihan yang berbeda sehingga mampu melengkapi. KH Abdur Rouf yang ahli tabib mampu diimbangi oleh KH Thoha yang ahli dalam ilmu Al Qur’an dan agama lainnya.

Perjuangan yang dilakukan oleh KH Thoha tampaknya diteruskan oleh sang menantu KH Ahmad Bisyri. Upaya itu diwujudkan dengan mendirikan sebuah pesantren yang awalnya menggunakan sebuah rumah sebagai tempat dalam menampung santrinya. Hingga akhirnya pada tahun 1976, dia mendirikan MI Raudlatul Muta’allimin dan MA tahun 1983.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Untuk menampung para santri, Abah (Kiai Bisyri) membangun sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu yang biasa disebut cangkruk. Biasanya santri-santri menjadikan tempat itu untuk beristirahat,” ujar Kiai Muhammad Hafid, Pengasuh kedua Ponpes Rabithatul Islam yang merupakan putra Kiai Bisyri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Hafid menerangkan bahwasanya Abahnya dulu awalnya mondok dan nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang berada di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Untuk menambah ilmunya, dia kemudian mondok di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Dari situlah dia kemudian mendapatkan penugasan menyebarkan agama Islam dari Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Hasan Saifourridzal di kawasan Tengger.

“Kebetulan waktu itu Abah langsung mendapatkan penugasan di kawasan Tengger yang mayoritas masyarakat sangat memegang teguh keyakinan terhadap agamanya. Disamping itu, Abah juga mendapatkan amanat agar bisa mendirikan pondok pesantren,” jelasnya.

Sejak diasuh oleh Kiai Hafid, Pondok Pesantren Rabithatul Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat. Di mana santrinya mampu mencapai 180 orang. Padahal waktu masih diasuh oleh Kiai Bisyri, rata-rata santrinya hanya berkisar antara 60 hingga 80 santri.

“Memimpin sebuah pondok pesantren itu tidaklah mudah. Butuh sebuah perjuangan dan kerja keras dari semua pihak. Apalagi sebelum Abah meninggal, beliau menyerahkan tanggung jawab perkembangan pesantren ini kepada saya. Oleh karena itu saya terus berupaya agar pesantren ini bisa terus maju dan berkembangan,” tegasnya.

Meskipun pesantrennya maju dengan pesat, namun Gus Hafid mengaku jika keinginannya untuk mendirikan laboratorium bahasa belum bisa terwujud. Hanya saja pendirian laboratorium ini masin terkendala dengan tenaga pendidikan dan sarana prasarana.

“Walau sudah lama berdiri, tetapi kami masih menggantungkan diri kepada suami-istri dan anaknya agar mau berkhidmat memajukan keberlangsungan pendidikan di pondok pesantren,” katanya.

Istiqomah Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Sama seperti halnya dengan pondok pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Rabithatul Islam secara istiqomah menerapkan sistem pendidikan salafiyah. Dimana para santri mulai mengikuti kegiatan pesantren sejak pukul 03.00 WIB dengan sholat Tahajjud yang dilanjutkan dengan sholat Subuh berjamaah. Kemudian santri mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00 WIB.

Yang berbeda pesantren ini dengan pesantren lainnya adalah pondok pesantren ini lebih mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam ikhtiar Kiai Bisyri yang mengarang kitab Qisshotul Qiyamah, sebuah kitab tauhid. Kitab tersebut dikarang Kiai Bisyri saat masih nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan.

“Prinsip kami santri yang mondok disini akhlaknya harus bagus. Tingkah lakunya bisa mencerminkan seorang santri yang menghormati orang tuanya. Sebab rasanya percuma memiliki santri pintar tetapi akhlaknya jelek,” ujar Kiai Hafid.

Di Pondok Pesantren Rabithatul Islam diterapkan sejumlah metode pendidikan salafiyah meliputi madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, holaqoh diniyah, Tahfidatul Qur’an hingga Jami’iyah Qurra’ wal Huffadz. Disamping juga mengelola lembaga kholafiyah atau modern seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Raudlatul Atfal (RA).

Keberadaan pesantren lengkap dengan adanya lembaga pendidikan formal yang sediakan. Misalnya, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Muta’allimin, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Islamiyah dan Madrasah Aliyah (MA) Zainul Hasan III. Walaupun berada di dalam lingkungan pesentren, namun lembaga formal tersebut juga menerima siswa dari luar pesantren. “Setidaknya sepulang dari sekolah umum, para santri bisa mengikuti sekolah diniyah,” katanya.

Lengkapnya lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Rabithatul Islam membuat para santrinya sukses menuai sejumlah prestasi. Seperti juara harapan tingkat Provinsi Jawa Timur untuk lomba Qiroatul Qutub dan Qori’. Sementara untuk di tingkat Kabupaten Probolinggo, prestasi yang diraih antara lain juara pertama lomba kaligrafi, juara kedua lomba bahasa Arab tingkat MA.

Budayakan Selalu Dakwah

Meskipun disibukkan mengurus pesantren, tetapi Pengasuh Pondok Pesantren Rabithatul Islam Kiai Muhammad Hafid tidak melupakan keberadaan masyarakat. Oleh karenanya, pesantren ini kemudian mendirikan majelis taklim untuk bisa memberikan pencerahan tentang agama kepada masyarakat. Kegiatan itu berlangsung secara istiqomah sejak pondok ini baru berdiri.

“Kami tidak hanya memberikan ilmu kepada para santri saja, setiap hari kami juga memberikan pengajaran ilmu agama kepada ibu-ibu lansia yang minim ilmu agamanya. Misalnya ilmu fiqih, hadits, tafsir dan lain sebagainya,” kata Gus Hafid.

Demi mendekatkan diri kepada masyarakat, Gus Hafid juga rutin setiap dua minggu sekali menjadi imam di masjid berbagai desa, utamanya yang berada di dataran tinggi. “Pesantren itu tidak bisa dilepaskan dari masyarakat. Perkembangan pesantren merupakan bagian dari peran serta masyarakat. Oleh karena itu, pesantren harus dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar)

Foto: Satu-satunya gubuk “cangkruk” yang menjadi saksi bisu berdirinya Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin

Sagaf Faozata Adzkiya adalah violinis muda yang memiliki pengalaman pentas mendunia dibesarkan dalam keluarga pesantren di Cilacap, Jawa Tengah. Di kala kecil, ia sering bermain rebana di lingkungan rumahnya.

Ia menamatkan belajarnya di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dengan instrumen violin pada tahun 2003. Ia kemudian melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan instrumen yang sama. Ia menamatkan ISI pada tahun 2011.

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin

Ia memiliki sejumlah pengalaman pentas. Pengalaman pentasnya antara lain, pernah menjadi anggota orkestra kemerdekaan 17 Agustus  (Gita Bahana Nusantara) di Istana Merdeka tahun 2002, 2007, 2008, 2009, 2010; menjadi anggota Southeast Asian Youth Orchestra And Wind Ansamble (SAYOWE) di Bangkok tahun 2004, 2007, 2008; mengikuti ISI Japan workshop di Tokyo tahun 2007.

Bersama Buffa String Quartet, ia mendampingi Midori String Quartet di Yogyakarta tahun 2010. Ia pernah menjadi anggota Asian Simphoni Orchestra di Vietnam tahun 2011. Di tahun 2012, ia mengikuti Cambodian Music Festival di Pnom Penh. Terakhir, ia bermain solo bersama Ngayogstringkarta String Orchestra di Malang tahun 2013.Pada malam pidato kebudayaan dan Hadiah Asrul Sani dalam rangka 10 tahun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, ia akan mementaskan instrumental violin lagu Indonesia Raya, Selawat Badar, dan beberapa lagu lainnya di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam.

Bagaimana proses perjumpaan seorang Sagaf dengan dunia violin yang mengantarkannya ke panggung-panggung nasional maupun internasional, berikut ini merupakan hasil wawancara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan violinis muda berbakat melalui telepon, Kamis (21/3) malam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bagaimana keterkaitan Anda secara pribadi dengan NU?

Masalahnya dari kecil, saya mengetahui NU. Keluarga saya itu mengelola pesantren dari mbah, bapak, dan paklik. Waktu kecil, saya ikut pesantren di daerah Mejenang. Pengelolaan pesantren diteruskan oleh paklik tepatnya di daerah Paku Haji, Majenang, Cilacap Jawa Tengah. Jadi, dari kecil, saya sangat dekat dengan dengan pesantren.

Pernah masuk pondok pesantren?

Saya belum pernah mondok. Tetapi, saya hanya ikut pengajian mbah di pesantren.

Sempat mengaji apa saja?

Saya ikut mengaji Alquran. Kalau mengaji kitab kuning, saya hanya ikut sebentar, tidak sampai selesai.

Kitab apa saja?

Kitab Safinah. Itu pun tidak sampai tamat karena langsung masuk sekolah musik di Yogyakarta.

Sekolah apa?

Saya ambil jurusan musik di Yogyakarta.

Apa tanggapan orang tua?

Awalnya mereka menentang. Tetapi, saya menunjukkan antusias serius di musik. Saya juga meminta mereka dengan agak sedikit merayu seperti anak kecil.

Apa yang membuat Anda mencintai NU?

Setahu saya, penanaman dakwah lewat seni dan budaya. Secara awamnya seperti itu. Ada rebana dan selawatan. Kalau di Muhammadiyah, perihal seperti itu dianggap bid‘ah. Kalau di NU, perihal kayak begitu nyaman-nyaman saja. Karena saya senang dengan kesenian, sikap NU seperti itu sangat membahagiakan saya.

Siapa tokoh NU yang Anda suka?

Salah satunya Gus Dur. Dia memahami musik mulai dari klasik, kontemporer sekaligus aneka genre musik.

Bagaimana cara Anda menjalani hidup sebagai warga NU?

Menurut saya, semua hal  kehidupan bagi warga NU bisa dibuat sederhana. Mungkin bisa diartikan, warga NU itu tidak memaksakan diri untuk menunjukkan identitas. Setiap orang memang harus mempunyai tingkat pemikiran yang tinggi. Warga NU terbukti bisa. Hanya saja warga NU tidak menunjukkan kemampuannya. Saya menjalani kehidupan sesederhana mungkin, tidak eksklusif dan sebagainya. Dari NU, saya menyukai sikap hidup yang lebih merakyat.

Bagaimana cerita kedekatan Anda dengan violin?

Pada awalnya saya suka bermusik pada saat SMP. Saya belajar gitar otodidak. Saya menonton acara musik di televisi. Saya membaca majalah-majalah musik. Semuanya menunjukkan semangat tinggi saya untuk belajar musik.Awalnya saya bermain gitar. Ketika semakin giat belajar otodidak, seorang saudara menyarankan saya sekolah musik di Yogyakarta. Sampai di Yogyakarta, komunitas gitar di sekolah musik itu kurang produkif. Sementara violin dan orkestranya maju pesat. Lalu saya berkeinginan mempelajari instrumen yang ada di orkestra itu. Saya jatuh cinta pada violin. Violin alat musik gesek yang suaranya lebih tinggi dari viola.

Jadi, pintu masuk saya dalam bermusik melalui saudara itu. Karena ia menyarankan saya masuk ke sekolah musik itu.

Rencananya Anda mementaskan Selawat Badar dengan violin?

Saya akan menampilkan pengalaman bermusik. Saya akan menampilkan instrumentalnya saja Saya hanya menyampaikan notasi, namun aku tidak berpikir akan detail dari Selawat Badar. Dengan penampilan itu, saya kira pendengar akan tergugah “Oh, itu lagu Selawat Badar”. Dalam pementasan itu, saya hanya memberi pengantar melodinya yang akan membuat setiap orang bernyanyi. Jadi saya memberikan ruang bagi pendengar untuk menelaah sendiri. Instrumental itu tidak menunjukkan detail Selawat Badar.

Sebelum di PBNU, Anda pernah mementaskan Selawat Badar?

Dulu, saya pernah bermain rebana. Ibu saya di rumah, cukup aktif di kegiatan rebanaan. Saya terkadang diminta mengiringi musikal, dinamik, dan ritmisnya. Jadi saya mengarahkan dari segi musikalnya saja. Pesertanya adalah ibu-ibu. Rebanaan itu waktu kecil.

Selain Selawat Badar, lagu apa yang pernah Anda dengar?

Selawat, kasidah, grup Nasidaria, Wafiq Azizah, dan semacamnya. Karena, bapak sering memutar lagu-lagu itu. Jadi saya mengetahui itu secara tidak langsung. Namun, saya tidak terlalu fanatic sehingga menutup diri dari jenis musik lainnya.

Sebentar lagi Anda akan bermain di PBNU. Apa tanggapan Anda?

Saya sangat bangga. Tadi saya sempat mengabarkan perihal itu melalui telepon kepada keluarga di Cilacap. Keluarga di rumah sangat antusias. Mereka mengucapkan, “Selamat! Sukses!” Mereka sangat bangga.

 

Staf Redaksi: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

IPNU-IPPNU Jember Sasar Anggota Baru

Jember, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Patah tumbuh hilang berganti, mati satu tumbuh seribu. Itulah prinsip yang dipegang jajaran pengurus IPNU-IPPNU Cabang Jember dalam melakukan pengkaderan. IPNU-IPPNU Cabang Jember ? cukup aktif menggarap anak-anak SMA dan yang sederajat dengan sistem jemput bola.

IPNU-IPPNU Jember Sasar Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Jember Sasar Anggota Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Jember Sasar Anggota Baru

Seperti yang dilakukan Selasa (26/2) di aula kantor PCNU Jember, IPNU-IPPNU Jember menggelar pertemuan dengan 116 siswa kelas satu MAN 01 Jember.?

“Ini hanya perkenalan. Kami memperkenalkan kepada anak-anak MAN tentang organisasi ini. Jadi ini tahap perkenalan Bukan perekrutan, itu nanti,” tukas Ketua IPPNU Jember, Ahmad Andrik Irawan kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di sela-sela acara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Andrik, pengkaderan sangat pentng artinya bagi kelangsungan sebuah organisasi. Tanpa pengkaderan, ? sulit mendapatkan anggota yang baik. Karena itu, katanya, pengkaderan adalah sebuah keniscayaan. “Kami menawarkan ke pihak sekolah, kalau bisa ketemu di sekolah, syukur. Kalau mau ketemu di luar, juga tidak masalah,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Andrik mengaku bangga dengan respon calon-calon anggota IPNU-IPPNU. Pasalnya, mereka cukup antusias untuk menjadi anggota. ? Merekalah yang akan memegang ? tongkat estafet kepemimpinan di NU. “Jadi IPNU-IPPNU dan organisasi sayap NU yang lain adalah pemasok kader di tingkat NU,” jelasnya.?

Dalam pertemuan tersebut, para ketua, sekretaris dan pengurus IPNU-IPPNU Jember yang lain juga hadir memberikan gambaran seputar IPNU-IPPNU.

“Untuk kelas dua, kami masih menunggu jawaban dari kepala sekolah MAN 01 untuk perkenalan. Begitu juga sekolah yang lain, kami sudah mengirim surat ? permohonan,” ujar Sekretaris IPPNU Jember, Masdian Zainul Ilmi.

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Aryudi A. Razak

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif”

PBB, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-moon mengecam kegiatan permukiman Israel sebagai "tindakan provokatif" yang memunculkan pertanyaan tentang komitmen Israel pada solusi dua-negara di tengah meningkatnya rasa frustrasi rakyat Palestina akibat pendudukan selama hampir 50 tahun.

Rakyat Palestina menginginkan suatu negara merdeka di Tepi Barat, Gaza dan Yerusalem Timur, wilayah-wilayah yang direbut Israel dalam perang 1967.

Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif” (Sumber Gambar : Nu Online)
Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif” (Sumber Gambar : Nu Online)

Sekjen PBB Sebut Pemukiman Israel Sebagai “Tindakan Provokatif”

Putaran terakhir pembicaraan damai gagal pada April 2014 dan kekerasan antara Israel-Palestina telah melonjak dalam beberapa bulan terakhir.

Israel menegaskan pada Kamis bahwa akan mencadangkan sebidang tanah luas yang subur di Tepi Barat, dekat Yordania, tempat Israel telah mempunyai banyak peternakan di permukiman yang dibangun di atas tanah yang akan dijadikan wilayah negara oleh Palestina.?

Ban juga mengatakan ia "sangat terganggu" dengan laporan bahwa pemerintah Israel yang telah menyetujui rencana pembangunan lebih dari 150 unit rumah baru di "permukiman ilegal di Tepi Barat yang diduduki".

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Tindakan provokatif ini akan meningkatkan pertumbuhan populasi pemukim, lebih lanjut meningkatkan ketegangan dan merusak setiap prospek untuk langkah politik ke depan," kata Ban dalam Pertemuan Dewan Keamanan PBB di Timur Tengah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kegiatan permukiman yang terus berlanjut merupakan penghinaan terhadap rakyat Palestina dan masyarakat internasional. Kegiatan itu benar-benar menimbulkan pertanyaan mendasar tentang komitmen Israel pada solusi dua-negara," ujar Sekjen PBB seperti dilansir kantor berita Reuters.

Ban mengatakan rasa frustrasi terus meningkat di kalangan warga Palestina.?

Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Samantha Power mengatakan bahwa Washington sangat menentang aktivitas permukiman.

"Langkah-langkah yang bertujuan memajukan program permukiman Israel ... tidak sesuai dengan solusi dua negara dan menimbulkan pertanyaan legal tentang niat jangka panjang Israel," kata Power kepada Dewan Keamanan PBB.

Menurut data statistik pemerintah dan pusat kajian Israel, sekarang ini ada sekitar 550.000 pemukim Yahudi yang tinggal di Tepi Barat dan Yerusalem Timur.

Sementara itu, sekitar 350.000 warga Palestina tinggal di Yerusalem Timur dan 2,7 juta lainnya di Tepi Barat.

Kepala delegasi Palestina di PBB Riyad Mansour menyerukan Dewan Keamanan PBB mengambil tindakan terhadap permukiman Israel.

"Tindakan itu harus melibatkan langkah-langkah dari semua negara dan seterusnya tidak memberikan bantuan agar dapat membuat Israel mempertanggungjawabkan tindakannya," kata Mansour kepada Dewan Keamanan PBB.

Utusan Israel untuk PBB Danny Danon menuduh Dewan Keamanan bersifat "munafik" karena telah mengutuk "serangan teroris" yang dilakukan di tempat lain di dunia tetapi tidak di Israel. Namun, dia tidak membahas tentang permukiman Israel.

"Jalan menuju perdamaian memang panjang dan sulit, tetapi Israel berkomitmen untuk melakukan setiap upaya," ujar Danon kepada Dewan Keamanan PBB.(Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Humor Islam, News Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Pengasuh rubrik Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, saya mau bertanya. Pada sembahyang Id, ada saja masyarakat yang tertinggal jamaah. Ia menjadi makmum. Ia ketinggalan beberapa takbir sunah pada sembahyang Id pada rakaat pertama. Apakah ia harus melengkapi takbir sunah sebanyak tujuh kali atau mengikuti sedapatnya takbir si imam? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Nurfadhilah/Banjarmasin)

Jawaban

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Makmum Yang Tertinggal Takbir Sunah pada Shalat Id?

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Shalat Id merupakan shalat sunah yang paling dianjurkan untuk dihadiri setiap Muslim. Bahkan, perempuan yang berhalangan sekalipun dianjurkan untuk menghadiri upacara shalat Id dan khutbahnya hingga selesai. Bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa hukum shalat Id adalah wajib.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Shalat sunah Id ini memiliki keistimewaan. Setelah takbiratul ihram dan doa iftitah, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak tujuh kali pada rakaat pertama. Sedangkan pada rakaat kedua, kita disunahkan untuk bertakbir sebanyak lima kali. Takbir pada shalat Id ini sunah. Kalau ditinggalkan, tidak membatalkan shalat, tetapi membuat makruh.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Sebelum membaca Surat Al-Fatihah, ia bertakbir sebanyak tujuh kali dengan hitungan yakin yang berbarengan dengan mengangkat kedua tangan; (7 takbir ini) tepatnya (dilakukan) di antara doa iftitah dan ta‘wudz Al-Fatihah. Di rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Shalat Id sunahnya dikerjakan secara berjamaah. Kalau ada anggota masyarakat yang ikut berjamaah shalat Id saat imam telah melangsungkan takbir yang disunahkan, maka ia cukup mengikuti seberapa banyak imam bertakbir. Ia tidak perlu menggenapi kekurangannya hingga tujuh takbir bila tertinggal pada rakaat pertama, atau lima takbir bila tertinggal pada rakaat kedua.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?

Artinya, “Sedangkan masbuq (makmum yang tertinggal beberapa saat) hanya bertakbir sedapatnya mengikut sisa takbir imamnya. Di dalam Syarah dikatakan, kalau masbuq mengikuti imam di rakaat pertama misalkan, dan ia mendapati sisa sekali takbir imam, maka ia cukup sekali bertakbir. Atau kalau masbuq mengikuti imam pada rakaat kedua, ia cukup bertakbir sebanyak lima kali. Sedangkan di rakaat keduanya (setelah imam salam), ia cukup bertakbir sebanyak lima kali karena kalau mengqadha takbir yang luput, ia justru meninggalkan sunah lainnya,” (Lihat Syekh Sa‘id bin Muhammad Ba‘asyin, Busyral Karim, Beirut, Darul Fikr, 1433-1434 H/2012 M, juz II, halaman 355).

Dari sini, kita dapat menyimpulkan bahwa makmum shalat Id yang mendapati imamnya telah membaca surat Al-Fatihah atau surat yang disunahkan, tidak perlu lagi mengerjakan takbir sunah. Ia cukup mengerjakan takbiratul ihram, lalu mendengarkan bacaan imamnya.

Saran kami, kita sebaiknya menghadiri upacara shalat Id meskipun kita tertinggal beberapa takbir atau tertinggal satu rakaat. Karena shalat Id memiliki keutamaan luar biasa bahkan perempuan yang berhalangan sekalipun sangat dianjurkan untuk menghadiri shalat Id beserta khutbahnya hingga selesai. Bagi mereka yang tidak sempat ikut berjamaah, sebaiknya sebelum Zuhur ia mengerjakan shalat Id sendiri tanpa khutbah

Demikian jawaban singkat kami. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka dalam menerima kritik dan saran dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwathih thariq,

Wassalamu ’alaikum wr. wb.


(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kiai, Kajian, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Ribuan Pasukan Banser Apel Setia NKRI

Pekalongan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Barisan Ansor Serbaguna (Banser) se eks Karesidenan Pekalongan menggelar apel pasukan di Alun-alun Kota Pekalongan Selasa (12/2) mengucapkan janji setia membela Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Ribuan Pasukan Banser Apel Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Pasukan Banser Apel Setia NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Pasukan Banser Apel Setia NKRI

Apel dihadiri Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah Habib Luthfy bin Yahya sekaligus bertindak sebagai inspektur upacara, Ketua Umum Pimpinan Pusat GP Ansor Nusron Wahid, Ketua Pimpinan Wilayah Ansor Jawa Tengah Jabir Al Faruqi serta ratusan tamu undangan dari Pekalongan dan sekitarnya.

Ketua Umum PP GP Ansor Nusron Wahid dalam pengarahannya di hadapan ribuan anggota Banser mengatakan, Banser sebagai benteng Nahdlatul Ulama, harus setia dan menjunjung tinggi NKRI, Bagi Ansor NKRI adalah harga mati. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, akhir akhir ini NKRI mulai digoyang oleh sekelompok masyarakat yang ingin mengganti ideologi dengan harapan agar NKRI menjadi bercerai berai.

"Kita tidak rela NKRI dipecah belah oleh segelintir orang, maka Banser sebagai benteng Nahdlatul Ulama harus membela dengan sekuat tenaga," ujarnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebagai mayoritas pemeluk agama Islam di Indonesia dan sekaligus sebagai organisasi kemasyarakatan pemuda yang terbesar, kiprah kita sangat dinantikan oleh negara negara Timur Tengah. Jika kita lengah, maka kehancuran akan menimpa Indonesia. Oleh karena itu, sebagai pasukan yang berada di garis depan, Banser harus siap membela NKRI sampai titik darah penghabisan.

Acara gelar pasukan Banser sekaligus menyemarakkan peringatan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW 1434 H yang diselenggarakan Khodimul Maulid Kanzus Sholawat Habib Luthfy diawali dengan kirab merah putih menyusuri jalan sepanjang 10 km diikuti oleh TNI, Polri, Banser dan pelajar NU.

Dikatakan Nusron, kegiatan yang sama juga akan digelar di wilayah wilayah lain di seluruh Indonesia dengan tujuan yang sama, yakni meneguhkan komitmen membela NKRI.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Amalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Ada Kebijakan Cuti Nyekar Jelang Ramadhan bagi PNS Pemkab Brebes

Brebes, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Bupati Brebes Hj Idza Priyanti nguri-nguri tradisi nyadran sebelum datangnya bulan suci Ramadhan. Tradisi nyadran merupakan salah satu tradisi dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan, dengan nyekar dan membaca yasin, tahlil dan doa di pemakaman para leluhur Bupati.

“Sebagai anak, saya berusaha untuk birul walidain kepada orang tua dengan nyadran,” ungkap Bupati usai melaksanakan kegiatan nyadran di Makam Keluarga Pesurungan Lor, Kota Tegal, Jumat (3/6).

Ada Kebijakan Cuti Nyekar Jelang Ramadhan bagi PNS Pemkab Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)
Ada Kebijakan Cuti Nyekar Jelang Ramadhan bagi PNS Pemkab Brebes (Sumber Gambar : Nu Online)

Ada Kebijakan Cuti Nyekar Jelang Ramadhan bagi PNS Pemkab Brebes

Bupati menjelaskan, kegiatan nyadran bagi pegawai di lingkungan Pemkab Brebes sudah menjadi kebijakan yang dikeluarkan sejak dulu. Bahkan mereka diberi hak cuti nyadran selama dua hari terutama bagi pegawai yang rumahnya di luar kota. Pemkab telah membuat surat edaran tentang pengaturan cuti tahunan keperluan nyadran dan penetapan jam kerja PNS selama bulan Ramadhan tahun 2016.?

“PNS diberi hak untuk cuti dua hari bagi yang menginginkan, tetapi kebanyakan tidak diambil cuti tersebut,” kata Bupati.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Saat nyadran, Bupati dan Suami Kompol H Warsidin serta anaknya Elshinta membaca surat Yasin, Tahlil dan Doa yang dipimpin KH Muzani. Tampak juga para pejabat di lingkungan Pemkab Brebes turut mendampingi nyadran keluarga Bupati.?

Mereka tampak kusyu memanjatkan doa disamping makam H Ismail bin H Ali Jabidi di pemakaman keluarga Desa Pesurungan Lor. Sebelumnya, mereka juga membaca yasin, tahlil dan doa diatas pusara makam ayah dan Ibu dari Kompol Warsidin yakni Hj Rejeh binti Salwi dan H Siryad bin Daman di Pemakaman Umum Desa Krandon, Kota Tegal.

Menurut catatan sejarah, Nyadran berasal dari tradisi Hindu-Budha. Sejak abad ke-15 para Walisongo menggabungkan tradisi tersebut dengan dakwahnya, agar agama Islam dapat dengan mudah diterima. Pada awalnya para wali berusaha meluruskan kepercayaan yang ada pada masyarakat Jawa saat itu tentang pemujaan roh yang dalam agam Islam dinilai musrik.?

Agar tidak berbenturan dengan tradisi Jawa saat itu, maka para wali tidak menghapuskan adat tersebut, melainkan menyelaraskan dan mengisinya dengan ajaran Islam, yaitu dengan pembacaan ayat Al-Qur’an, tahlil, dan doa. Nyadran dipahami sebagai bentuk hubungan antara leluhur dengan sesama manusia dan dengan Tuhan. (Wasdiun/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Habib, Halaqoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 18 November 2017

Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road

Sidoarjo Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Banyak cara yang bisa dilakukan warga Nahdliyin untuk mendapatkan pahala di bulan Ramadhan khususnya pada malam Lailatul Qodar. Seperti yang dilakukan oleh Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Sidoarjo, Jawa Timur ini.

Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road (Sumber Gambar : Nu Online)
Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road (Sumber Gambar : Nu Online)

Buru Lailatul Qodar, PMII Gelar Sahur on The Road

Memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, PC PMII Sidoarjo membagikan 1000 bungkus nasi kepada warga Sidoarjo yang hendak menyantap sahur. Mereka menyusuri sepanjang jalan Sidoarjo mulai dari depan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo menuju pasar Larangan hingga berhenti di kantor PCNU Sidoarjo, jalan Airlangga Sidoarjo, Jawa Timur.

"Pada sahur on the road ini, kami membagikan 1000 bungkus nasi sebagai simbol 10 hari terakhir Ramadhan dan memburu berkah malam 1000 bulan. Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menambah kecintaan kita kepada sesama sebagai bukti nilai dasar pergerakan yaitu hablum minannas," kata Ketua Umum PC PMII Sidoarjo, Muhammad Mahmuda, Selasa (28/6).

Sahur on the road yang digagas oleh PC PMII Sidoarjo ini mendapatkan respon positif dari masyarakat setempat. Nampak antusias, warga yang mengetahui aktivis muda NU ini membawa bungkusan nasi, warga pun berdatangan dan berebut ingin mendapatkan nasi tersebut. Tak ayal, sampai terjadi aksi saling dorong sesama warga yang ingin mendapatkan nasi tersebut. (Moh Kholidun/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Khutbah, Ahlussunnah, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Tidak jarang seorang pengarang merasa takut untuk berkarya dan mendekonstruksi suatu karya. Demikian ternyata juga dialami sastrawan Triyanto Triwikromo dalam berproses.?

Salah satunya ketika menuliskan cerita pendeknya yang ditujukan kepada budayawan KH A. Musthofa Bisri (Gus Mus) dengan judul "Setelah 16.200 Hari". Ia mengaku sempat takut untuk mengirimkannya ke media.

Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus

"Waktu itu saya juga takut ada reaksi berlebihan dari para pengikut atau santrinya Gus Mus," tuturnya saat menjadi pembicara kuliah tamu bertema "kreatif menulis cerpen Untuk meningkatkan budaya literasi bagi mahasiswa di Universitas Muria Kudus, Kamis (04/05).

Dalam cerita pendek itu dikisahkan seorang Nyai (istri kiai) yang sedang berbincang dengan sosok sakit atau kebanyakan orang memaknainya dengan malaikat maut. Obrolan keduanya berisi tentang masih banyaknya tugas yang harus dilakukan Nyai kepada suaminya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Yaitu mendampingi dengan penuh cinta agar suami itu teguh dan fokus dalam mengurus umat. Akhirnya sang Nyai itu harus berpasrah dan menerima takdir bahwa ia juga harus rela terpisah sementara dengan suaminya itu.?

Namun sebenarnya sang Nyai dengan suaminya itu masih bersama dalam dimensi cahaya yang diridlai Allah. Mereka saling mendoakan dan mengingatkan atas dasar cinta yang sama di alam yang berbeda.

Ketika sudah tayang di Harian Kompas pada Minggu 24 Juli 2016 cerpen itu ternyata benar mendapat reaksi dari Gus Mus dan keluarganya. Gus Mus yang sebelumnya tidak menangis lantaran ikhlas atas kehendak Allah yang mengambil istrinya itu kemudian menangis. Sebab itu juga Triyanto sempat "ditegur" oleh kerabat Mustasyar PBNU tersebut.

"Gus Mus juga berkirim pesan kepada saya. Beliau berterima kasih karena ungkapan yang tersimpan dihati beliau sedikit terwakilkan di cerpen itu," terang Triyanto.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Triyanto, waktu itu ia hanya ingin mengungkapkan bahwa cinta Gus Mus kepada Bu Fatma (istri Gus Mus) ? itu indah. Cinta itu lebih berharga dan pantas diteladani daripada berkoar tentang sesuatu yang berujung pada permusuhan dan perpecahan.

"Saat itu saya hanya ingin menyampaikan supaya masyarakat mencintai cinta dibanding kebencian sesama. Karena suasana kan sedang memanas karena politik identitas," paparnya.

Kini, cerpen itu sedang digodok dan masuk nominasi cerpen pilihan Kompas yang akan datang. Cerpen itu juga sudah dibagikan lebih dari 10.000 orang di jejaring sosial. Rata-rata pembaca menanggapinya dengan tangis haru dan kagum dengan cinta dari keduanya. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 10 November 2017

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Bandarlampung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU) Universitas Lampung (Unila) secara resmi memilih Ahmad Nur Fuadi sebagai ketua baru periode 2016-2017 dalam Musyawarah Anggota yang digelar di Kantor Kesekretariatan KMNU Unila, Bandarlampung, Lampung.





KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
KMNU Unila Punya Ketua Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

KMNU Unila Punya Ketua Baru

Fuad, begitu ia biasa dipanggil, menggantikan ketua periode sebelumnya, Ahmad Saroji El-Shirozy. Fuad adalah mantan Kepala Departemen SKD KMNU Unila.?



Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Setelah terpilih menjadi Ketua Umum pada Ahad (17/01/16) malam itu, Fuad menyatakan bahwa amanah yang diembannya sangat berat. Mahasiswa FKIP Unila Jurusan Fisika ini berharap bisa menunaikannya dengan baik. Ia mendasarkan niatnya pada usaha mencari ridha Allah, bentuk cinta kepada Nabi Muhammad, serta cinta terhadap tanah air NKRI.



Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Pemuda berkacamata yang merupakan alumni MAN 1 Pringsewu ini meyakini bahwa berorganisasi, lebih-lebih di KMNU, merupakan sebuah cara lain untuk mencari Ilmu dan pengalaman yang tidak didapatkan di pelajaran atau materi kuliah.?





"Berorganisasi itu cari ilmu dengan aktif di organisasi. Kalau berorganisasi di KMNU insyallah tidak cuma ilmu yang didapat. Kalau aktif dan ikhlas berkhidmah maka kita juga akan dapat barokah doanya para ulama, masyayikh, dan muasis NU," ungkapnya. (Muhammad Faizin/Mahbib). Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Makam, Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 November 2017

Demi Kebaikan Kaderisasi NU, MWCNU Galis Rangkul Ansor-Fatayat & IPNU-IPPNU

Pamekasan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kekhawatiran akan merosotnya kaderisasi NU mulai disadari banyak pihak. Dan ini pasti terjadi kalau keberadaan Ansor, Fatayat, IPNU, maupun IPPNU kurang diperhatikan oleh para pengurus NU. Inilah yang melatarbelakangi pengurus MWCNU Galis mengadakan acara pembinaan Banom NU Ansor, Fatayat, IPNU, dan IPPNU Galis dengan melibatkan para pengurus cabang Banom tersebut.

Demi Kebaikan Kaderisasi NU, MWCNU Galis Rangkul Ansor-Fatayat & IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Demi Kebaikan Kaderisasi NU, MWCNU Galis Rangkul Ansor-Fatayat & IPNU-IPPNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Demi Kebaikan Kaderisasi NU, MWCNU Galis Rangkul Ansor-Fatayat & IPNU-IPPNU

Demikian disampaikan ketua MWCNU Galis Pamekasan KH Abd Hannan Zarkasi dalam sambutan di kantornya di tengah-tengah puluhan aktivis Ansor, Fatayat, IPNU, dan IPPNU Galis, Kamis (29/3) malam. Hadir pula Rais MWCNU Galis KH Abd Mannan Fadholi, para pembina IPNU-IPPNU Galis, pengurus IPNU-IPPNU dan PAC Ansor Galis, para ketua Pimpinan Ranting Ansor Galis, serta pengurus harian PC Ansor dan PC IPNU Pamekasan.

“Kekhawatiran saya cukup beralasan karena tak jarang dijumpai acara-acara muslimatan, misalnya, yang sepi dari para pemudi. Dianggapnya kurang modern dan sebagainya,” kata Kiai Zarkasi. “Saya pun pesimis dengan kaderisasi NU setelah kita.”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

 Upaya MWC NU Galis mengadakan acara pembinaan, lanjutnya, ialah sebagai landasan pijak dalam merumuskan kegiatan organisasi ke-NU-an agar menyentuh semua lapisan masyarakat. Dan keterlibatan Banom NU sangat diharapkan berperan besar untuk mewujudkan hal itu.

Seusai sambutan, dilanjutkan dengan acara inti berupa pembinaan dari PC Ansor dan PC IPNU Pamekasan. Ketua PAC Ansor Galis Hafiluddin didapok sebagai pemandu jalannya acara pembinaan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan itu, satu hal yang menjadi kesepakatan utama ialah berkenaan dengan pola kaderisasi Ansor dan IPNU-IPPNU Galis, yaitu pembentukan Pimpinan Ranting Ansor dan IPNU-IPPNU Galis yang dilakukan secara lebih maksimal. Khusus penanganan PK-PR IPNU-IPPNU, keterlibatan PAC Ansor sangat diharapkan oleh para pengurus MWCNU Galis.

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 September 2017

Tantangan IPNU di Era Digital: Antara Generasi Millennial dan Generasi Z

Oleh Uub Ayub Al-Ansori

Telinga kita mungkin akrab dengan istilah generasi millennial, tapi masih cukup asing dengan istilah generasi Z. Menurut Renald Kasali, generasi milenial adalah mereka atau kelompok manusia yang lahir pada tahun 1981-an hingga tahun 1994. Ada yang bilang antara 1981 dan 2000-an. Mereka disebut millennial karena merupakan satu-satunya generasi yang pernah melewati milenium kedua, sejak Teori Generasi ini diembuskan pertama kali oleh Karl Mannheim pada 1923.

Tantangan IPNU di Era Digital: Antara Generasi Millennial dan Generasi Z (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan IPNU di Era Digital: Antara Generasi Millennial dan Generasi Z (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan IPNU di Era Digital: Antara Generasi Millennial dan Generasi Z

Sedangkan generasi Z adalah kelompok manusia yang lahir pada tahun 1995-an hingga tahun 2010. Disebut juga i-generation, generasi net atau generasi internet. Mereka sejak kecil sudah mengenal dan akrab dengan teknologi canggih. Semua yang ada pada generasi millennial mereka punya, bahkan mereka sudah mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu, dan apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya.

Generasi ini sangat dipengaruhi oleh munculnya smartphone, internet, dan jejaring media sosial, sehingga memiliki pola pikir, nilai-nilai, dan perilaku yang serba instan dan serba cepat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

IPNU di Antara Generasi Millennial dan Generasi Z

Hubungannya dengan IPNU, seperti tertuang dalam PRT bahwa usia anggota dan kader IPNU antara 12 sampai dengan 27 tahun. Maka, generasi millennial di IPNU sudah memasuki usia 24-27 tahun. Sedangkan generasi Z sudah memasuki usia 12-23 tahun. Jika mengikuti Teori Generasi, maka saat ini IPNU memasuki dunianya generasi millennial akhir dan generasi Z awal. Artinya, anggota dan kader IPNU mayoritas berasal dari generasi Z.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bentuk nyatanya, semua pelajar, santri, atau mahasiswa saat ini, termasuk dalam kategori generasi Z. Mereka dilahirkan sudah dalam teknologi maju. Ke sekolah atau kampus sudah menenteng laptop, dan baca kitab kuning juga baca Yasin–saat tahlilan–lewat aplikasi android. Semuanya dilakukan lewat gadget baik HP maupun tablet.

Dalam pergaulan, generasi ini sudah dipenuhi dengan era digital yang unik, aneh, dan penuh tantangan. Berbagai peralatan super canggih, khususnya handphone yang semakin smart, komputer, internet, iPad, tablet, dan lain-lain sudah mereka nikmati.

Dunia organisasi khususnya IPNU (mungkin juga IPPNU) juga tidak lupu dari hal ini. Anggota dan kader IPNU lebih senang rapat atau musyawarah via online, bisa lewat grup WA atau facebook. Lebih senang ketawa-ketiwi di medsos hingga HP penuh dengan kata "Hahaha", "Hihihi", atau "wkwkwk".

Tantangan di Era Digital

Saat ini, di era digital, yang menjadi tantangan generasi millennial dan generasi Z–di mana usia mereka merupakan usia kader IPNU–berarti juga tantangan bagi IPNU dalam mengembangkan organisasi, adalah mereka yang hidup pada saat banyaknya orang awam belajar agama lewat medsos lalu salah memilih situs dakwah; pelajar awam masalah agama lalu terjebak dalam daurah/liqo rohis yang berbau radikal dan mahasiswa yang awam masalah agama lalu terjebak dalam daurah/liqo kaum khilafis dan radikalis karena terpengaruh informasi dan ajakan via internet dan medsos; dan fenomena "ustadz" "ustadzah" yang pegang gadget lalu belajar via situs abal-abal dan masuk ke grup-grup dakwah radikal.

Semua fenomena di atas sangat berpengaruh pada generasi milenial dan generasi Z. Karena mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih sehingga arus informasi begitu cepat. Hal ini secara tidak langsung tentu akan berpengaruh pada pola pikir, kepribadian, dan gaya hidup mereka.

Era digital di mana kemajuan teknologi yang demikian pesat akan berdampak juga pada proses pencarian jatidiri dan pilihan mengikuti organisasi. Mereka akan mencari organisasi yang dapat menuntun dan menemukan jatidirinya; organisasi yang menarik minat dan bakatnya; dan organisasi yang melek teknologi.

Kalaupun mereka memilih dan masuk IPNU, dalam mengikuti kaderisasi formal Makesta dan Lakmud, mereka cenderung kurang memperhatikan. Metode ceramah sudah terlalu membosankan. Menjawab pertanyaan-pertanyaan pun banyak yang tidak bisa. Jangankan menjawab pertanyaan? Mengajukan pertanyaan saja sulit–karena mereka lebih sibuk dengan materi-materi dari Mbah “Google” ketimbang dari Mbah Yai.

Dalam diskusi, mereka juga cenderung pasif, lebih memilih diam, padahal banyak bahan yang mereka bisa peroleh dari internet. Hal yang bertolak belakang saat mereka chatting lewat BBM, whatsapp, atau facebook, semua yang kesehariannya pendiam pun, bisa menjadi berani saat chatting.

Anehnya, saat diajak rapat atau kegiatan pun agak sulit, alasannya sedang sibuk-tidak ada waktu. Padahal sedang sibuk online di FB dan posting foto selfie di Instagram.

Inilah tantangan yang harus dijawab IPNU khususnya pengurus dan kader IPNU. Tetapi, generasi millennial juga memiliki kecenderungan kreatif dan inovatif. Lebih kritis dan terbuka (open minded).

Kelebihan-kelebihan mereka inilah yang harus ditangkap sebagai peluang kaderisasi IPNU. Bagaimana pola kaderisasi dan kegiatan-kegiatan IPNU lebih kreatif, menarik, dan asyik bagi mereka yang cenderung gandrung akan teknologi serba instan, bagaimana mengarahkan mereka ke arah positif dengan memanfaatkan teknologi internet melalui FB, Twitter, Instagram, Website, Youtube, dan lain-lain. Yang lebih penting, bagaimana mengkader Generasi Z tanpa harus kehilangan nilai-nilai Aswaja, ke-Indonesiaan, ke-NUan, dan ke-IPNUan di tengah zaman yang serba digital. Wallahu a‘lam bis shawab.

*) Mantan Ketua IPNU Kabupaten Cirebon.Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Halaqoh, Warta, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 13 September 2017

IPPNU Fokus pada Perlindungan Pelajar dan Perempuan

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) akan fokus pada perlindungan terhadap pelajar dan perempuan. Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum PP. IPPNU Puti Hasni dalam sambutannya pada pembukaan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang bertempat di Pondok Pesantren Luhur Ats-Tsaqofah, Ciganjur, Jakarta, Jumat (23/12).

“PP. IPPNU saat ini sedang berpikir dan juga berfokus pada perlindungan pelajar dan perempuan,” ujarnya.

IPPNU Fokus pada Perlindungan Pelajar dan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Fokus pada Perlindungan Pelajar dan Perempuan (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Fokus pada Perlindungan Pelajar dan Perempuan

Hal ini dipertegas dengan tema rakernas yang diusung, yakni Sinergitas Pelajar Putri dalam Memperjuangkan Perdamaian terhadap Perempuan.

Sebagai langkah praktisnya, IPPNU akan mendirikan Rumah Ramah Pelajar Perempuan. Ini yang mengantarkan PP. IPPNU meraih juara 1 Organisasi Kepemudaan Kementerian Pemuda dan Olahraga.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain perlindungan perempuan yang menjadi fokus utama, IPPNU juga akan memperkuat kaderisasi, baik di sekolah maarif dan pesantren, maupun di sekolah umum.

Rakernas kali ini akan mengadakan forum laporan kinerja selama setahun kepengurusan PP. IPPNU, baik dari pimpinan pusat sendiri, maupun dari 24 perwakilan pimpinan wilayah yang hadir.

Diadakannya rakernas di pesantren, menurut Puti, merupakan kesadaran IPPNU karena basis kadernya terdapat di pondok pesantren.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Rakernas diselenggarakan di pondok pesantren karena IPPNU menyadari, bahwa basis kader IPPNU adalah pondok pesantren,” tandasnya. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Olahraga, Habib, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 05 Agustus 2017

Mengenal Manhaj Salafi Wahabi untuk Bentengi Aswaja An-Nahdliyah

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Untuk membentengi paham Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja) annahdliyah, warga Nahdhatul Ulama’ (NU) hendaknya mengenal tentang Manhaj (metode) Salafi Wahabi, Abu Zahroh dalam kitabnya “Thoriqul Madzahib” mengungkapkan tentang berbagai manhaj yang ada dalam Islam. Demikian dikatakan KH Wazir Ali dalam pertemuan rutin Rais Syuriah MWCNU se Jombang dengan Jajaran Syuriah PCNU Jombang di aula PCNU seteempat, Ahad (06/12) kemarin.

Menurut salah satu Wakil Syuriah PCNU Jombang ini, menukil pendapat Syekh Abu Zahroh, ada 5 (lima) manhaj dalam Islam. Manhaj tersebut yang pertama adalah Manhaj Falasifah, yang menggunakan ayat-ayat teologi dan nalar (rasio) dalam menerangkan tentang ketuhanan.

Mengenal Manhaj Salafi Wahabi untuk Bentengi Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenal Manhaj Salafi Wahabi untuk Bentengi Aswaja An-Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenal Manhaj Salafi Wahabi untuk Bentengi Aswaja An-Nahdliyah

Manhaj yang kedua lanjutnya, yaitu Manhaj Mutakallimin (Mu’tazilah). Madzhab ini secara umum menggunakan qodiyah aqliyah (ketetapan nalar) daripada nash al-Qur’an. Akal digunakan untuk memaknai nash. Ayat-ayat yang terkait dengan aqidah harus sejalan dengan dengan rasio, meskipun terkadang keluar dari ketentuan nash al-Qur’an.

Manhaj selanjutnya, tambah dia, adalah Manhaj Maturidiyah yaitu  memahami dengan nash al-Qur’an dan Hadist tetapi juga didukung oleh rasio. Kemudaian yang keempat, yakni Manhaj Asy’ariah yang selalu berpegang kepada al-Qur’an dan Hadist tetapi juga tidak mengenyampingkan rasio (dalil-dalil aqliyah). Dan yang terahir Manhaj Salafi/Wahabi. Manhaj ini hanya menerima nash al-Qur’an dan Hadist tanpa melakukan ta’wil (menggunakan rasio) sama sekali.

Bahasan kali ini, menurut Kiai Wazir, fokus pada Salaf Wahabi. Mereka sama sekali tidak mau menggunakan ta’wil (akal) dalam meengartikan nash al-Qur’an dan Hadist. “Sehingga mereka dalam megartikan ayat yadullah fauqo aidihim, akan mengartikan yadullah, tangan Allah SWT (dalam arti seperti makhluq), karena itu mereka dikatakan juga berpaham mujassimah (men-jisim-kan Allah SWT)”, katanya.

Kiai Wazir menjelaskan bahwa paham Salafi Wahabi pertama-tama dikembangkan oleh Muhammad Bin Abdul Wahab. Seorang Ulama yang belajar dari gagasan Ibn Taimiyah dan madzhab Hambali. “Dia mengembangkan paham mujassimah-nya di kampung halamannya, tetapi ditolak oleh keluarga dan masyarakatnya. Di saat keluarga Ibn Saud, atas bantuan pembesar militer Inggris, berhasil menguasai jazirah Arab, menggunakan paham yang dikembangkan Muhammad bin Abdul Wahab sebagai asas teologinya,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Paham ini berlebihan dalam memaknai bid’ah (tawassa’a fil bid’ah), tidak saja dalam urusan ibadah, tetapi semua hal yang tidak ada dalam sunnah dikatakan sebagai bid’ah, dan bid’ah apapun bagi mereka adalah dlolalah (sesat). “Mereka tidak mengenal bid’ah sayyi-ah (buruk) adan hasanah (baik). Misalnya, tentang jenggot, bukan persoalan ibadah. Karena Nabi SAW berjenggot, maka bagi mereka memotong jenggot haram,” terangnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia juga menceritakan salah satu ajaran kaum Salafi Wahabi, saat datang ke suatu tempat baru, yang dituju pertama kali adalah kuburan (makam). Kuburan yang ada cungkupnya akan dibongkar, karena mereka tidak mau menyamakan kuburan dengan masjid sehingga mereka tidak mau kuburan ada cungkupnya. Meraka juga melarang taqorrub kepada Allah SWT dengan tawassul melalui orang-orang sholeh dan para wali, serta melarang istighotsah dan tawassul kepada orang yang sudah meninggal dunia. (Syamsul/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Khutbah, Kajian, Hikmah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 24 Juli 2017

Menyimak Kembali Lagu Nasida Ria ‘Damailah Palestina’

Purworejo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Sebuah grup musik asal Semarang yang ngetren di era 80-90-an, dan sampai kini masih eksis, telah lama menyuarakan perdamaian untuk Palestina dengan sebuah lagu. Grup musik itu bernama Nasida Ria.

Pada album Volume 12 bertajuk "Tahun 2000", grup kasidah yang semua personelnya digawangi oleh perempun itu menyanyikan lagu yang diciptakan oleh Drs. H. Abu Ali Haidar itu merilis lagu berjudul “Damailah Palestina”. Berikut adalah penggalan liriknya:

Menyimak Kembali Lagu Nasida Ria ‘Damailah Palestina’ (Sumber Gambar : Nu Online)
Menyimak Kembali Lagu Nasida Ria ‘Damailah Palestina’ (Sumber Gambar : Nu Online)

Menyimak Kembali Lagu Nasida Ria ‘Damailah Palestina’

Palestina negeri para Rasul dan para Nabi

Tempat suci umat Yahudi Nasrani dan umat Islam

Jadi lambang kerukunan semua agama samawi

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Tapi kini oh nasibmu

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

sangat menyedihkan

Bumimu panas tersiram darah

Penuh pembantaian dan penculikan



Wanita dan anak-anak yang tak berdosa

Menjadi korban ganasnya perang

Hampir punah oh Palestina



Reff.



Damailah hai umat Yahudi

Ingatlah petujuk Alloh dalam kitab Suci Taurat



Damailah hai umat Nasrani

Ingatlah petunjuk Alloh dalam kitab suci Injil



Damailah wahai umat Islam

Ingatlah petunjuk Alloh dalam Quran

Kembalilah pada Yang Maha Esa



Dunia jangan adu domba Palestina

Bantulah perdamaian Palestina

Koor:

Damailah... Damailah.. Palestina (2x)



Lirik lagu di atas, mencerminkan bahwa pencipta lagu sekaligus Nasida Ria – yang menyanyikan lagu itu – memiliki spirit pembebasan yang tinggi. Dibalik nuansa religi grup legendaris itu, tersimpat semagat revolusioner yang tinggi.

Sampai kini, di tengah keputusan Presiden AS Donald Trump yang menjadikan Yerusalem sebagai ibu kota Israel dan menuai kontroversi, lagu ini masih relevan untuk didengarkan dan menggugah kesadaran.

Dengan alunan alat musik yang kaya dan beragam, lagu itu masih memikat banyak pendengar. Ditambah suasana Palestina yang sampai kini masih berkecamuk, spirit lagu itu seakan terus hidup, menyuarakan kebenaran dan lantang menuntut keadilan.

Lagu-lagu Nasida Ria—grup kasidah yang dibentuk oleh H.M. Zain dan Hj. Mudrikah Zain pada 1975—selalu lantang menyuarakan kebenaran. Ada baiknya, sesekali kita simak ulang spirit pesannya dalam balutan nadanya, di tengah gempuran budaya musik pop yang banyak membuaikan realita.

Akhirnya, semoga negeri Palestina dapat segera aman, tenteram, damai dan sejahtera. Setidak-tidaknya, kita berjuang dengan mendoakannya. Untuk kemerdekaan Palestina seutuhnya, Alfaatihah. (Ahmad Naufa/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Sejarah, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock