Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Doa. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Maret 2018

Al-Quran Universal, Tafsirnya Nisbi

Tangerang Selatan,Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Buku “Rekonstruksi Metodologi Kritik Tafsir” dibedah di Pesantren Bayt al-Qur’an, Selasa (9/6). Pesantren yang mengelola program Pasca-Tahfidzh Al-Quran ini beralamat di Perum Villa Bukit Raya (South City) Jl Boulevard Diamond Selatan, No 10 Pondok Cabe, Cinere, Tangerang Selatan, Banten.

Diskusi dan bedah buku karya kader muda NU Dr M Ulin Nuha Husnan ini dimoderatori Romli Syarqawi Zain. Dua narasumber didaulat membedah buku tersebut, yakni intelektual muda NU Dr Abdul Moqsith Ghazali dan peneliti Pusat Studi Al-Quran (PSQ) Faried F Saenong, PhD.

Al-Quran Universal, Tafsirnya Nisbi (Sumber Gambar : Nu Online)
Al-Quran Universal, Tafsirnya Nisbi (Sumber Gambar : Nu Online)

Al-Quran Universal, Tafsirnya Nisbi

Dalam prolognya, moderator Romli Syarqawi Zain mengatakan, ada beberapa sarjana muslim yang mencoba memberi pendekatan baru bagi teks atau penafsiran Al-Quran. Selain Nasr Hamid Abu Zayd dari Mesir, Muhammad Syahrur asal Suriah juga mencoba mendekati kitab suci ini secara kritis.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tradisi kritis terhadap pendekatan Al-Quran, lanjut Romli, lahir bukan dari sarjana lulusan kuliah keagamaan, bukan lulusan UIN atau IAIN. Umumnya, yang menyumbangkan pemikiran kritis itu justru lulusan ilmu umum.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Nah, Doktor Ulin Nuha memecahkan rekor ini. Penulis buku ini ternyata santri lulusan madrasah dan pesantren di Lamongan lalu kuliah di Al-Azhar Cairo. Beliau ini adik kelas saya di Mesir. Huwa asgharu minni sinnan, wa akbaru minni ‘ilman. Meski secara umur lebih muda, namun ilmunya lebih luas dari saya,” ujar Romli mengawali diskusi.

Dalam presentasinya, Ulin Nuha Husnan mengatakan, metodologi tafsir penting untuk mengetahui makna Al-Quran. Penelitian ini berangkat dari beberapa temuan adanya inhirafat yang kalau dibiarkan akan berimplikasi kepada pemaknaan kitab suci itu sendiri.

“Padahal Al-Quran berbeda sama sekali dengan tafsir. Al-Quran itu universal yang melampaui ruang dan waktu. Sementara Tafsir itu nisbi. Meski nisbi, tetap saja ia harus memiliki parameter untuk mengukur kenisbian itu agar tidak melampaui batas,” ujar Ulin.

Abdul Moqsith Ghazali dalam penilaiannya menyatakan, tentu jika dicari kesalahan buku ini pasti banyak sekali apalagi ketika yang dikritik sudah dituliskan. Buku ini misalnya, menjelaskan adanya banyak kosakata dalam Al-Quran yang bukan bahasa Arab, misalnya, kaafuuraa, zanjabiilaa, firdaus, dan lain-lain.

Rekonstruksi penafsiran

Menurut Moqsith, buku tersebut berbicara mengenai al-dakhil fil Quran. Dari situ kemudian bergerak untuk merekonstruksi sebuah metodologi. Lalu tiba-tiba muncul hermeneutika.

“Saya menduga, penulis ingin lolos dari al-dakhil fil tafsiril Quran, tapi dia masuk ke al-dakhil fi qawaid wa manahij al-Quran. Sejak kapan hermeneutika punya otoritas punya mandat intelektual dipakai untuk menafsirkan Al-Quran. Hati-hati ini,” kritiknya.

Padahal, lanjut Moqsith, kita punya modal berupa karya para ulama untuk melakukan rekonstruksi metodologi terhadap penafsiran Al-Quran. Ada Usul al-Tafsir dan Qawaid Tafsir. Jadi, memasukkan perangkat metodologi dari luar perlu stamina luar biasa.

“Untungnya, para ulama kita zaman dahulu berani. At-Tabari misalnya, dalam Tafsirnya banyak muncul kisah Israiliyat. Mereka berani mengimpor informasi dari luar untuk membantu menjelaskan sesuatu yang tidak seluruhnya ingin dijelaskan dalam Tafsirnya,” terang Moqsith.

Sementara itu, Faried F Saenong menyebut selain kisah israiliyat ada juga maudhu’at dalam Al-Quran. Tafsir yang hanya menggunakan akal atau penafsiran yang diawali dengan skeptisisme. Menyikapi al-dakhil, Faried berpendapat, mau menolak atau menerima dipersilakan selama memiliki argumentasi yang bisa dipertanggungjawabkan.

Selama bisa menjelaskan al-dakhil dengan baik, lanjut Faried, kenapa harus ditolak. Bagi dia, tidak perlu jauh-jauh ke ranah Tafsir, Al-Quran saja banyak dakhil-nya. Termasuk harakat dan aneka bacaan yang mungkin tidak sahih.

“Jadi, kompleksitas Al-Quran sangat panjang. Nggak cukup kita bahas di sini. Yang penting, jangan hanya kita bicara metodologi kritik tafsir, namun juga bicara kritik metodologi tafsir. Nah, dua-duanya jadi bersinggungan. Karena pada dasarnya yang dikritik adalah produk tafsir itu sendiri,” tandas Faried.

Hadir dalam diskusi tersebut, pembina utama Pesantren Bayt Al-Quran Habib Ali bin Ibrahim Assegaf dan para santri. Sementara peserta dari luar terdiri dari mahasiswa UIN Ciputat, Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran, dan Institut Ilmu Al-Quran Jakarta. (Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Blitar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menginginkan agar seluruh warga Muslimat ikut berpartisipasi aktif memberantas narkoba hingga di lini paling kecil, di keluarga.?

"Muslimat punya tugas di masing-masing keluarga, pastikan bebas narkoba. Pastikan juga di masng-masing jamiyah ranting (desa), anak cabang (kecamatan). Ini PR (pekerjaan besar) bangsa kita," katanya saat menghadiri harlah ke-70 Muslimat NU di Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahad.

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Ia juga menceritakan jika narkoba sudah masuk ke semua lini, termasuk ke pondok pesantren. Ia mengingatkan saat itu ada seorang yang memberikan obat dan dikatakan sebagai vitamin. Jika dikonsumsi, zikirnya bisa tambah panjang, tambah khusyuk. Bahkan, pengasuh pun juga mengetahui jika obat itu adalah vitamin, hingga belakangan dipastikan jika obat itu ternyata narkoba.?

"Hati-hati bila ada orang sepertinya baik hati memberikan vitamin, ini cuma pura-pura. Ini juga PR pesantren, kiai, bu nyai, supaya mengubah pikiran kita, yang semula pikiran lurus diubah menjadi melenceng, karena sudah terkena narkoba. Yang kena itu konstruksi otak," jelasnya di hadapan puluhan ribu warga Muslimat NU.

Ia juga mengatakan, dari informasi yang diterimanya di Indonesia narkoba sudah masuk ke segala lini. Bahkan, tingkat kematian akibat narkoba sangat besar, dimana sehari ada sekitar 40-50 orang meninggal dunia akibat narkoba.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Ini mengerikan dan bahaya luar biasa. Semoga kita semua dijaga, diselamatkan oleh Allah," katanya dengan langsung diamini para para hadirin.

Dalam acara itu, juga disertai dengan pembacaan ikrar laskar antinarkoba Muslimat NU. Ikrar itu sebelumnya juga pernah ditegaskan dalam puncak Harlah ke-70 Muslimat NU di Malang akhir Maret 2016.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Isi dari ikrar itu antara lain bersatu melawan narkoba, mendorong semua ibu memastikan keluarganya bebas narkoba, memberantas penyalahgunaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, mendukung hukuman berat bagi pengedar narkoba, hingga merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Isi dari ikrar itu dibacakan di hadapan seluruh jamaah yang hadir. Setelahnya, diadakan tanda tangan sebagai bentuk komitmen Muslimat NU mendukung program pemerintah untuk pemberantasan narkoba.?

Kegiatan Harlah ke-70 Muslimat NU itu dihadiri sejumlah tokoh. Selain dari kalangan pengurus Muslimat baik tingkat pusat, wilayah hingga daerah, juga dihadiri rombongan dari BPJS Kesehatan baik tingkat pusat hingga daerah, muspida Kabupaten Blitar, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam acara itu, juga disertai adanya nota kesepahaman di antara PP Muslimat NU dengan BPJS Kesehatan yang mencakup perluasan kepesertaan program JKN-KIS serta sosialisasi program itu ke masyarakat. Nota kesepahaman itu juga ditandatangani kedua belah pihak, dengan disaksikan seluruh warga Muslimat NU yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Nota itu berlaku satu tahun, terhitung 10 April 2016 hingga 9 April 2017. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Reforma Agraria untuk Keadilan Pemilikan Tanah

Di antara ketimpangan yang sangat mencolok di Indonesia adalah soal kepemilikan tanah. Ketimpangan ini bahkan melebihi rasio gini distribusi kekayaan secara umum. Segelintir konglomerat menguasai jutaan hektare tanah yang digunakan untuk pengusahaan hasil hutan dan kayu, hutan tanaman industri, dan perkebunan atau sebagai daerah pertambangan. Di sisi lainnya, jutaan petani tidak memiliki lahan. Mereka terpaksa menjadi buruh tani atau merantau ke kota guna mencari nafkah. Dari tahun ke tahun, jumlah petani gurem bahkan terus bertambah.

Di perkotaan, tempat di mana harga tanah sudah sangat mahal, para pengembang raksasa telah menguasai bank tanah dengan luasan ribuan hektare pada lokasi-lokasi strategis. Rakyat biasa dengan penghasilan pas-pasan, harus membayar cicilan rumah yang mencekik dengan durasi waktu sampai 20 tahun. Sebagian terpaksa membeli rumah di pinggiran kota yang memerlukan akses sampai dengan dua jam perjalanan menuju tempat kerja. Akibatnya produktivitas kerjanya menurun karena sebagian waktunya dihabiskan di jalanan. Banyak pula yang dari tahun ke tahun terpaksa harus mengontrak dan kehilangan harapan memiliki rumah karena harganya dari waktu ke waktu terus melangit.?

Reforma Agraria untuk Keadilan Pemilikan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)
Reforma Agraria untuk Keadilan Pemilikan Tanah (Sumber Gambar : Nu Online)

Reforma Agraria untuk Keadilan Pemilikan Tanah

?

Persoalan tanah ini dari tahun ke tahun terus membesar dan menjadi bom waktu yang akan menimbulkan persoalan sosial di masyarakat jika tidak segera diatasi. Berbagai konflik agraria yang muncul di publik telah menimbulkan korban jiwa. Konflik ini selalu berlarut-larut dengan ongkos besar yang tidak terjangkau oleh rakyat biasa. Akhirnya mereka mengandalkan tenaga dan solidaritas sesama atau pihak bermodal kuat dalam mengatasi konflik tersebut.

Wacana reforma agraria untuk mengatasi sejumlah persoalan terkait pertanahan kini menjadi salah satu program Presiden Joko Widodo. Presiden-presiden sebelumnya juga sudah mewacanakan hal yang sama, tetapi sampai kekuasaan mereka berakhir, belum terlaksana. Jangan sampai, apa yang disampaikan Jokowi juga tidak terlaksana dengan baik mengingat umur kekuasaannya yang tak akan lama lagi, kecuali dia terpilih untuk periode yang kedua. Ada kepentingan pemilik modal yang kini menguasai jutaan hektare tanah agar aset mereka tetap aman.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Persoalan ketimpangan pemilikan tanah ini merupakan salah satu materi yang akan dibahas di musyawarah nasional (munas) dan konferensi besar (konbes) NU di Lombok akhir November 2017 ini. Jutaan warga NU merupakan sebagian dari kelompok yang menjadi korban atas ketidakadilan pemilikan tanah ini. Akibatnya, mereka terjebak dalam situasi kemiskinan, yang diwariskan dari generasi ke generasi. Bagi petani, tanah merupakan modal dalam berusaha. Bagi masyarakat Jawa, ada istilah sadumuk bathuk, sanyari bumi ditohi pati,? yang artinya biarpun sedikit kehormatan dan tanah harus dibela mati-matian.

Langkah redistribusi lahan yang digagas oleh pemerintah adalah melalui reforma agraria dengan total sembilan juta hektare lahan yang akan dibagikan kepada rakyat miskin. Tanah ini berasal dari 0,6 juta hektare tanah transmigrasi yang belum bersertifikat, 3,9 juta hektare tanah legalisasi aset masyarakat, 0,4 juta hektare tanah terlantar, dan 4,1 juta hektare tanah pelepasan kawasan hutan.?

Upaya redistribusi lahan juga harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Jangan sampai menimbulkan moral hazard, yakni ketika orang-orang yang tidak berhak mendapatkan lahan turut mendapat bagian, lalu dijual kembali sedangkan orang yang seharusnya mendapat bagian lahan malah tidak mendapat apa-apa karena tidak memiliki akses terhadap kekuasaan. Berbagai pola distribusi yang tidak tepat sasaran telah berulangkali terjadi sehingga harus menjadi pelajaran.

Selanjutnya, sekadar membagikan lahan lalu menyerahkan sepenuhnya kepada para petani untuk menggarapnya juga bisa menimbulkan kagagalan. Semasa program transmigrasi pada era Orde Baru, para penduduk sekadar dipindah dari daerah-daerah yang padat ke lokasi baru yang tidak ada apa-apanya. Infrastruktur yang tidak memadai, jenis tanah dan hama yang tidak dikenal, dan berbagai kesulitan lain yang semuanya harus diatasi sendiri. Tidak ada dukungan pemasaran atau bantuan lain yang menunjang keberhasilan program tersebut. Akibatnya, banyak transmigran yang kemudian pulang kembali ke daerah asalnya dengan membawa kekecewaan dan tetap dalam kondisi kemiskinan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bantuan pemasaran atau penyuluhan pertanian kini semakin mudah dengan perkembangan teknologi sehingga meningkatkan probabilitas keberhasilan pengelolaan lahan yang sebelumnya masih hutan atau diterlantarkan yang kemudian dimasukkan dalam program reforma agraria ini.?

Dengan sedemikian banyak orang yang berkepentingan terhadap tanah ini, semua pihak harus terus mendorong agar reforma agraria berjalan dengan baik dan tepat sasaran. Jangan sampai, upaya yang baik ini malah menjadi persoalan baru karena kesalahan dalam pengelolaan. Warga NU akan menjadi salah satu pihak yang mendapat manfaat terciptanya keadilan ini jika program ini berjalan dengan baik. (Ahmad Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, Doa, Olahraga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Kader Ansor Situbondo Ngaji Aswaja ke Pesantren Nuris Jember

Jember, NU? Online

Merebaknya aliran-aliran keagamaan yang menyimpang dari kultur arus besar masyarakat Indonesia, membuat sejumlah Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda Ansor Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur, merasa khawatir terhadap masa? depan NU sekaligus Indonesia.

Karenanya, akhir pekan lalu mereka mengunjungi Pondok Pesantren Nuris, Antirogo, Jember untuk melihat secara langsung geliat “penyemaian” kader Aswaja di pesantren yang terletak sekitar 6 kilometer ke arah utara kota Jember itu. Tidak sekadar kunjungan, mereka secara khusus mengaji Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja) ke pengasuh utama Nuris, KH. Muhyiddin Abdusshomad.

Kader Ansor Situbondo Ngaji Aswaja ke Pesantren Nuris Jember (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Ansor Situbondo Ngaji Aswaja ke Pesantren Nuris Jember (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Ansor Situbondo Ngaji Aswaja ke Pesantren Nuris Jember

“Niat kami di sini memang ingin mengaji dan mendalami Aswaja. Sebab, Kiai Muhyiddin merupakan mahaguru panutan Aswaja di Nusantara ini,” ujar Shaleh, salah seorang PAC GP Ansor Banyuputih kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Rabu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Shaleh, dewasa ini aliran Islam garis keras dan kelompok takfiri begitu deras mengguyur Indonesia. Mereka menyerang? amaliah NU tidak hanya lewat udara (media sosial)? tapi juga merongrong NU lewat darat. Secara kasat mata, mereka sudah berani menampakkan diri dan secara sporadis membuat kegiatan untuk memperkenalkan ajarannya di tengah-tengah masyarakat.

Jika gerakan mereka dibiarkan, katanya, bukan tidak mungkin masyarakat benar-benar akan terpengaruh propaganda yang mereka tebarkan. “Ini saya pikir bahaya. Karena mereka militan, agersif. Kalau mereka sudah kuat, tak segan-segan menggunakan kekerasan untuk memaksakan kehendaknya. Nah, sebelum ini menjadi masif, kami selaku pegiat Aswaja ingin mempertebal ilmu tersebut langsung kepada Kiai Muhyiddin,” tambahnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia bertekad untuk terus mendakwahkan Islam Nusantara yang merupakan inti dari ajaran Aswaja ala NU. Yaitu Islam yang moderat, penuh toleransi dan menjadi rahmat bagi seluruh alam. “Apa yang beliau amanahkan akan kami takdzimi, akan kami teruskan perjuangan beliau, terutama dalam menghahdapi aliran-aliran Islam garis keras,” jelasnya.

Selama dua hari, para kader NU tersebut? mengikuti pengajian “Hujjah Aswaja” yang disampaikan langsung oleh Kiai Muhyiddin. Kepada mereka, ia berpesan agar dapat mengayomi umat. “Antum semua ustadz, yang hadir di sini, masyarakat antum di sana itu, adalah umat antum, kawal, ayomi, itu mereka semua umat antum,” tegasnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal News, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahudin Wahid (Gus Sholah), berharap kader NU bisa menjadi Guberur Jawa Timur. Untuk itu, cucu pendiri NU ini berharap menghadapi pemilihan Gubernur 2013 mendatang Kader NU harus menyatu.

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Sholah Berharap Kader NU Pimpin Jatim

"Pada pilbug mendatang menurut saya jangan ada lagi kader NU yang sama sama ngotot maju mencalonkan diri akibatnya suara NU terpecah. ? Calon Gubernurnya ? harus satu ? saja, jangan ada calon dua orang, termasuk ada yang mencalonkan wakil gubernur,” ujarnya menjawab wartawan disela sela menerima kunjungan mantan wakilpresiden Jusuf Kalla, Senin (17/12).

Cucu pendiri NU ini sangat berharap dalam pilgub Jatim 2013 ? mendatang ? agar kader NU bisa menjadi Gubernur. Untuk menentukan siapa calon gubernur yang layak ? bakal running ? mendatang adik kandung Gus Dur ini berharap PWNU melakukan survey.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Harus. Untuk gubernur Jawa Timur menurut saya saatnya dari NU, siapa yang menentukan kader NU yang layak dan patut menjadi Gubernur harus dilakukan survey bersama,”tandas ? Gus Sholah menambahkan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Namun, meski mendukung kader NU maju menjadi orang nomor satu di Jatim, Gus Sholah ? tidak menginginkan NU secara kelembagaan terlibat aktif dalam pemilihan ” Tidak bolehlah, NU secara organisasi ikut terlibat aktif dalam politik,”tandasnya.

Tugas NU lanjutnya adalah hanya menentukan siapa yang layak untuk maju merebut Gubernur. Untuk itu dirinya menyarankan agar PWNU dan PW Muslimat duduk bersama untuk kemudian melakukan survey bersama guna menentukan siapa kandidat yang dimaui warganya.

”Karena ? sekarang yang muncul dua orang yakni Gus Ipul sama Khofifah. Maka menurut saya harus dilakukan survey bersama siapa yang paling layak menjadi Gubernur Jatim, ”pungkasnya seraya mengusulkan ? kalau perlu menyewa lembaga survey yang benar benar kompeten untuk menentukan kandidat.?

Redaktur ? ? : A. Khoirul Anam

Kontributor: Muslim Abdrrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa, Anti Hoax Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Ketika [Mushola] Tuhan Disudutkan

Oleh Ryan Perdana 

Tulisan ini berisi kegelisahan yang lama tertahan. Kegelisahan yang muncul setiap menginjakkan kaki di bangunan-bangunan besar nan megah. Kegelisahan akan jaminan kemudahan mendapatkan ruang yang baik untuk mencoba mengingat Tuhan, yang tiap hari terpinggirkan dari kesibukan duniawi yang tak berkesudahan. Ruang itu bernama mushola.

Saya tak berani menulis dan berharap adanya masjid. Karena pada kenyataannya, mushola saja seperti terlalu tinggi untuk diharapkan keberadaannya. Jangankan masjid, mushola saja entah ada atau tidak, misal ada, apakah cukup layak atau tidak.

Pemodal besar pemilik bangunan-bangunan agung tidak menempatkan mushola sebagai ruang yang diprioritaskan dalam master plan-nya. Mushola dipinggirkan, disudutkan, dipojokkan atau entah istilah lain apalagi yang pas untuk menjelaskan bahwa mushola tidak dimuliakan secara letak dan porsi ukuran. Dalam hal ini, Tuhan mau tidak mau harus mafhum bahwa umat ciptaan-Nya sendiri justru menempatkan-Nya dengan cara seperti itu.

Ketika [Mushola] Tuhan Disudutkan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika [Mushola] Tuhan Disudutkan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika [Mushola] Tuhan Disudutkan

Walaupun setiap jengkal bumi adalah rumah-Nya, namun tak terbantah, bagi sebagian besar umat, Tuhan hanya “terlihat” secara kadang-kadang melalui tempat ibadah. Kenyataannya, tempat ibadah sebagai representasi simbol kehadiran Tuhan di dunia justru tidak mendapat posisi sebagaimana mestinya. Mushola hanya ditempatkan pada sudut sempit parkiran di basement. Berkawan dengan centang-perenang selang-selang jalur air dan listrik. Tak jarang, letaknya menempel atau menyatu dengan WC umum yang kumuh. Menyedihkan.

Tuhan dinomorsekiankan. Rumah Tuhan hanya disisipkan dengan keadaan seadanya. Diada-adakan dengan terpaksa. Semacam pantes-pantes saja. Keterlaluan.

***

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketika itu, waktu dzuhur sudah masuk dan saya sedang berada di sebuah pusat perbelanjaan. Berputar-putar ke sana kemari mencari mushola. Setelah sekian menit berkeliling dan bertanya ke Pak Satpam, akhirnya mushola saya temukan. Baiklah, untuk sementara hati saya lega, dzuhur tidak terlewat. Namun, jujur saya agak menahan perasaan. Mushola yang kemudian saya masuki itu terletak di sudut, benar-benar sudut di tepi jalan masuk mobil dari luar mal. Misal pengguna mushola akan keluar atau masuk, harus selalu waspada dan tengok kanan kiri untuk memastikan tidak ada mobil yang mendekat. Posisinya persis dimana sopir akan memutar lingkar setir, memang itu semacam tikungan kecil.

Ukurannya hanya nol koma sekian persen dari bangunan inti mal. Kebersihan ala kadarnya. Jamaah harus giliran untuk sholat. Ketika berwudhu pun harus bersiap merampingkan tubuh agar tidak bersenggolan dengan pengguna lain.

Pengalaman berikutnya, di sebuah rumah makan cepat saji di bilangan Jakarta Utara. Terdapati oleh saya, mushola terletak di ujung belakang bangunan dan menyatu dengan mesin genset. Otomatis, deru mesin dengan kekuatan decibel yang besar itu akan mengalahkan fokus jamaah. Tuhan, aku yakin Engkau tidak akan merasa terganggu dan mengeluh berisik, namun itu bukti betapa Engkau ditepikan bersama mesin yang dianggap akan mengganggu kenyamanan konsumen dan mengurangi profit perusahaan.

Tidak hanya dua pengalaman yang saya miliki terkait hal di atas. Cukup banyak kejadian hingga akhirnya terakumulasi menjadi tumpukan rasa, lalu saya pilih tulisan ini menjadi media penuangannya. Begitulah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

***

Di jaman yang ukuran standar kemuliaan adalah materi, Tuhan berada di pojok terakhir. Tuhan menjadi dzat yang tidak lagi penting. Hingga apapun yang berkenaan denganNya menjadi suatu hal yang dipikirkan belakangan. Bangunan yang menjadi tempat pemujaanNya pun ada di belakang.. Diingat kalau sempat.

Sebagai orang biasa yang tak berkuasa, begini saja yang bisa dilakukan. Sekadar menulis yang mungkin tak ada artinya. Tak ada kontribusi nyata yang memiliki kadar kemungkinan untuk direalisasikan. Modal dan ciri-ciri kami hanya harapan. Hanya mempunyai kumpulan semoga dan semoga. Dengan sedikit upaya ini semoga ada perubahan bahwa Engkau semakin diutamakan dan dimuliakan. Tidak lagi berdampingan dengan bau sisa konsumsi. Tidak lagi bersisian dengan mesin yang tak merdu dalam berbunyi.

 

Ryan Perdana, tinggal di Sleman Yogyakarta, twitter @ruaien

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Jasa Tukar Uang Kecipratan Berkah

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Uang baru biasanya tampak ketika Hari Raya Lebaran. Tapi di Solo, sudah tampak sepanjang Ramadhan dari tangan para penukar uang. Mereka bisa dijumpai di sepanjang Jalan Slamet Riyadi dan Koridor Jenderal Sudirman. 

Jasa Tukar Uang Kecipratan Berkah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jasa Tukar Uang Kecipratan Berkah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jasa Tukar Uang Kecipratan Berkah

Para penjual jasa tukar uang tersebut menawarkan pecahan mulai Rp 2.000 hingga Rp. 10.000. Uang baru itu dapat diperoleh di Bank Indonesia (BI) kantor perwakilan Solo.

Salah seorang penukar uang adalah Tri (53). Ia sudah hampir 7 tahun menyeriusi usaha ini tiap Ramadhan. Ia yang sehari-hari berjualan di warung, Ramadhan ini, untuk sementara tutup.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Tahun ini, sudah saya kumpulkan modal Rp 10 juta. Semua sudah ditukarkan dengan uang baru,” tuturnya, beberapa waktu lalu (11/7).

Dari setiap penukaran, ia mendapatkan komisi sebesar 5 persen. Berdasarkan pengalamannya, besaran komisi ini dapat meningkat sepekan menjelang lebaran. Namun dibalik besarnya keuntungan yang dapat diperoleh, juga tak luput dari risiko kerugian.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Tahun kemarin, saya hampir tertipu Rp 3 juta. Uang yang akan ditukar ternyata palsu,” kata Tri.

Hal serupa juga pernah dialami Bandriyah (47). Dia mengaku pernah dipaksa seorang konsumen untuk menukar uang jutaan rupiah dengan pecahan kertas yang baru. Karena ragu akan keaslian uang itu, ia menolak untuk menukarkan uang kertas baru yang dimilikinya.

Meskipun dihadapkan pada risiko demikian, Tri, Bandriyah dan para penjual jasa penukaran uang baru lainnya tetap bersemangat berjualan setiap harinya. Keuntungan yang besar membuat melupakan mereka akan risiko uang palsu. 

“Untungnya lumayan. Yang penting bisa membelikan baju baru lebaran untuk anak-anak,” ungkap Bandriyah.

Redaktur    : Abdullah Alawi 

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock