Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Oleh Aswab Mahasin

Saya akan memulai tulisan ini dengan diskursus seorang atheis Will Durant, “Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah dibunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia dibunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.” Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “dimanfaatkan” dan “bermanfaat”. Agama dimanfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar difungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri, sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Namun, kedua posisi itu tidak bisa dielakan dalam situasi dan dinamika sosialyang terus berkembang. Memang, agama tidak berubah, tetapi agama dianut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individudalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, diberbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi disemua lapisan pemeluk agama, agama apapun mengalami hal yang sama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”. Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila ditatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”. Artinya, Nabi Muhammad Saw ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan demikian, secara alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun). Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, berdampingan dan bersamaan. Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.?

Misalnya dikatakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia. Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia. (Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA, dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya berhenti pada ajaran-ajaran kaku. Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah. Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.?

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak berimbang.Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa dikontrol apalagi dibatasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan dilakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.?

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya. Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis. Tidak hanya umat Islam, melainkan semua umat dari berbagai agama.”

Kita bisa lihat juga potret yang berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional, dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini didengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt). Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah dicetuskan oleh Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006)

Hal tersebut adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat. Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu.?

Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya satu kiblat pengetahuan. Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan. Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan dengan iman kita.?

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah di mana Islam mampu mewarnai perubahan dunia. Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama, melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk merespon dinamika sosial. Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.?

Lain lagi dengan Munawir Syadzali lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang harus dikedepankan. (Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual. “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama khususnya sejarah yang berkembang. Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide, respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda. Namun, tetap dilandasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi motivasi buat kitas semua, “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul Ulama, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Ketua PCINU Belanda Fachrizal Afandi mengungkapkan bahwa dalam konteks pergaulan sosial sebagai kaum minoritas di Eropa, masyarakat Nahdliyin mengemban beban berat sebagai duta yang wajib mempromosikan Islam Nusantara yang ramah di tengah Islamophobia yang makin menggejala di Eropa.

“Melalui dakwah dengan amaliyah yang baik, ngilmu kanthi laku, sebagaimana dicontohkan oleh para wali terdahulu diharapkanakan membuka mata masyarakat Belanda akan sosok sejati Islam yang rahmatan lil alamin,” ujarnya dalam siaran pers, Ahad (22/5).

NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa

Seperti ribuan warga Muslim Belanda lainnya, Sabtu (21/5) masyarakat Nahdliyin di Belanda juga menyelenggarakan pengajian yang digelar khusus dalam rangka memperingati malam Nishfu Sya’ban dan menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatan yang berlangsung di gedung lama Masjid Al Ikhlash, Saaftingestraat, 312? 1069 BW Amsterdam ini menjadi bagian dari cara PCNU Belanda dalam mensyiarkan Islam yang ramah di Eropa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Antusiasme masyarakat peserta pengajian untuk menyemarakkan kegiatan ini tergolong tinggi. Hal ini dibuktikan dengan terkumpulnya uang sumbangan pembangunan masjid sebesar kurang lebih 5000 Euro hanya dalam waktu semalam .

Acara pengajian ini sendiri seperti tradisi di Tanah Air, dimulai dengan pembacaan surah Yaasin sebanyak 3 kali yang dipimpin oleh pengurus PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) Belanda dan diakhiri dengan ceramah agama dan doa oleh Ustadz Muhammad Latif Fauzi, mahasiswa doktoral Universitas Leiden.

Ustadz Fauzi yang juga pengurus PCINU Belanda ini menekankan bahwa ritual peringatan malam Nishfu Sya’ban ini merupakan ajaran Islam yang baik untuk ajang refleksi diri terhadap amalan yang sudah dilakukan selama 1 tahun kemarin. Hal ini, menurutnya, penting dilakukan untuk senantiasa termotivasi untuk berbuat baik, utamanya dalam membantu dakwah Islam di Eropa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan ini pula, Hansyah Iskandar Putera selaku Ketua Persatuan Pemuda Muslim se- Eropa (PPME) Al-Ikhlash menyatakan bahwa pembangunan masjid baru Al Ikhlas di Amsterdam sudah hamper rampung dan siap ditempati untuk pelaksanaan ibadah Ramadhan tahun ini.

Hansyah menambahkan bahwa tahun ini pihaknya telah mendapatkan bantuan penceramah yang telah diseleksi secara ketat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta untuk memberikan taushiyah sepanjang Ramadhan yang akan disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat muslim di Belanda. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pemurnian Aqidah, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid

Demak, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlarul Ulama (MWC NU) kecamatan Guntur Kabupaten Demak Ahad (10/3)  telah mengadakan musyawarah kerja (Musker) di Aula kantor kecamatan Guntur. 

Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid

Dalam pengarahannya ketua tanfidziyah Kiai Tamim Romli menyampikan Musker yang diikuti oleh pengurus pleno MWC, ranting, lembaga, lajnah dan badan otonom NU se Kecamatan Guntur tersebut bertujuan mengevalausi dan merumuskan prioritas program tiap tahun dengan berbagai solusi terhadap program yang kurang berjalan baik. 

"Dalam merencanakan program kita mengambil yang sederhana, mudah dan bisa dijalankan Disamping itu hendaknya program seharusnya bisa menumbuhkkan semangat berjamiyah dan  memberikan manfaat kepada warga NU," katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia menandaskan memasuki era globalisasi, NU harus tampil didepan dan mengambil peran yang maksimal dalam mengantisipasi perubahan zaman sekaligus kontribusi positif tetap eksis dalam bingkai Islam Aswaja.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Budaya globalisasi sangat mempengaruhi kehidupan kita makanya perlu pemahaman bersama maupun bersikap profesional. Dari sini, peran NU sangat signifikan dalam kehidupan bermasyarakat," tandasnya..  

Tak kalah menarik dan berita sangat menggembirakan dalam forum musker itu dengan hadirnya camat Guntur H Mohammad Syahri yang juga sebagai musytasar NU Guntur dimana walau datangnya terlambat ditengah tengah berlangsungnya rapat, saat diberi waktu untuk memberikan sambutan mantan satkorcab Banser Grobogan tersebut memberikan bantuan hibah empat masjid kepada empat ranting masing masing sejumlah Rp.10.000.000 yaitu ranting Tlogorejo, Sidokumpul, Blerong dan Trimulyo

“Dalam kesempatan  ini kami memberikan bantuan hibah kepada empat masjid dimana dalam penggunaannya bisa untuk memperbaiki masjid bapak bapak yang belum sempurna, dan ini insyaallah bertahap, silahkan dibagi pengurusnya” tutur HM Syahri yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari peserta musker

Lebih lanjut Syahri meminta kepada pengurus dan ranting penerima bantuan untuk bisa dipergunakan sesuai peruntukannya dan bisa dipertanggungjawabkan denan laporan pertanggung jawabannya (LPJ),

“Hibah dari Pemda ini jikalau takmirnya bisa mempertanggungjawabkannya maka tahun berikutnya akan diberikan lagi, tentunya gentian pada ranting lain,” pintanya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : A Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, PonPes Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?

Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini berharap semua warga negara Indonesia dengan berbagai latar belakang agama, ras dan lainnya bisa bersatu kembali.?

"Apapun agamanya, apapun rasnya, apapun kepercayaannya. Itu adalah keluarga Indonesia," katanya saat memberikan sambutan pada acara Halal Bihalal dan Silaturahim Lintas Agama di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (24 /7).

Pada acara yang bertemakan "Merawat Kebinekaan, Menjaga NKRI" ini, perempuan yang juga dosen Universitas Indonesia ini berharap agar tidak berhenti hari ini, melainkan kedepan harus saling bergandengan tangan.?

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial

"Terutama jihad (bergandengan tangan) memerangi kemiskinan, jihad kebodohan, jihad memerangi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak terutama," kata Anggia.?

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa semua ini bisa memberikan kemanfaatan yang lebih kepada manusia yang lebih maksimal.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kita sangat berharap acara ini nanti bisa menelurkan kesepakatan aksi tidak hanya komitmen tapi juga aksi untuk bisa bersama-sama menyelamatkan bangsa ini. Melakukan gerakan sederhana untuk masyarakat luas," terangnya.?

Acara ini juga diharapkan bisa memiliki kontribusi secara luas apapun latar belakanganya.

“Mudah-mudahan bisa memberikan impact ? yang luar biasa. Tidak hanya di Fatayat tapi juga diperluas lagi,”?

Acara ini dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU Robikin Emas, Ketua PBNU H. Umar Syah dan berbagai tokoh agama serta aliran kepercayaan. (Husni Sahal/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Ahlussunnah, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Pada tahun 1958, ada yang menyebutkan pada tahun 1950, Presiden Soekarno berkunjung ke Mataram, melalui bandara Selaparang, Ampenan. Tujuannya untuk meresmikan kantor gubernur Nusatenggara Barat (NTB).

Rencana kedatangannya, telah tersiar jauh hari sebelumnya oleh warga di pulau Lombok itu, termasuk oleh Tuan Guru Haji (TGH) Saleh Hambali. Jika kejadian itu tahun 198, saat itu berarti ia adalah Rais Syuriyah PWNU NTB. Saat itu NU masih berstatus partai. ?

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Tuan Guru itu sebetulnya dikenal masyarakat sebagai orang yang rendah hati dan jarang berkomunikasi dengan pihak luar, apalagi dengan seorang presiden. Namun, entah kenapa, dengan percaya diri ia menegaskan, bahwa Bung Karno akan berkunjung ke pesantrennya, Darul Qur’an di desa Bengkel. Sebuah desa yang akan dilalui Bung Karno jika melalui Ampenan. ?

Akan mampirnya Bung Karno, dikemukakan Tuan Guru kepada para santrinya. Salah seorang saksi hidup peristiwa itu adalah Ustadz Asmaun dari desa Bonder, Lombok Tengah yang diceritakan anaknya, Syaifullah. Ketua PWNU NTB saat ini, TGH Taqiudin Mansur juga membenarkan kisah itu.? Dia mendngar cerita itu dari ayahnya, TGH Mansur, santri Darul Qur’an saat itu. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Para santri merasa heran kenapa Tuan Guru Soleh Hambali bisa seyakin itu karena tidak ada pemberitahuan dari pihak mana pun tentang berkunjungnya Bung Karno ke pesantren Darul Qur’an.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Beberapa hari menjelang kedatangan, di agenda protokoler kepresidenan tetap tidak ada jadwal Presiden Soekarno ke pondok. Namun, TGH Saleh Hambali malah meminta para santri menyiapkan podium penyambutan.

Di hari kedatangan Bung Karno, dari bandara Selaparang Ampenan menuju kota Mataram, semua santri disuruh keluar oleh TGH Saleh Hambali.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh berkata kepada santri-santrinya, jika Bung Karno adalah pemimpin yang benar, dia akan mampir ke pesantren Darul Qur’an.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh waktu itu menulis ayat Al-Quran di dinding pesantren, yaitu “Fawaillul lil mushallin.” Namun, dalam pada catatan Yusuf Tantowi, ayat yang ditulis TGH Saleh adalah “Fa ammal yatima fala taqhar, wa amma sya ila fala tanhar” dan dia tidak menuliskannya di tembok, melainkan dibentangkan di atas spanduk.

Ternyata, ketika Bung Karno melewati pondok pesantren Darul Qur’an, ia benar-benar mampir. Hal itu di luar dugaan pasukan pengawal yang berada di paling depan. Mereka tidak mengetahui orang yang dikawalnya telah mampir pada tempat yang tidak dijadwalkan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Kajian Sunnah, Hadits Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menjelang tiba waktu ashar di hari kelima Ramadhan 1437 H, Jumat (10/6), lalu lalang kendaraan di jalanan sekitar Kampung Jayengan Solo, Jawa Tengah, masih tampak sepi. Namun, tidak demikian bila Anda masuk pada sebuah gang, tepatnya di kompleks Masjid Darussalam.

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin (Sumber Gambar : Nu Online)
Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin (Sumber Gambar : Nu Online)

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin

Di sana, Anda akan menemukan kerumunan warga yang tengah antre untuk mendapatkan hidangan bubur samin, sebuah kuliner khas kampung tersebut, sebagai menu buka puasa mereka.

Ya, tiap warga yang antre tersebut membawa wadah masing-masing. Wadah yang dibawa pun beragam, mulai dari mangkuk, piring, rantang, bahkan ada pula yang membawa termos nasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Satu persatu, wadah tersebut mulai diisi dengan bubur yang masih panas, yang diambil langsung dari tempat panci besar pembuatan bubur. Penulis sendiri, karena lupa membawa wadah, pernah mencoba dengan menggunakan kantong plastik. Hasilnya, kantong ikut meleleh karena saking panasnya bubur tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bubur Samin sendiri merupakan makanan takjil khas Masjid Darussalam. Tradisi pembagian bubur ini sudah berlangsung sejak 50 tahun lebih.

“Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata pengurus Takmir Masjid, H. Rosyidi Muchdlor.

Pembuatan bubur sudah dimulai sedari siang. Bubur sudah mulai dimasak di sebuah jimbeng (panci besar). Bahan-bahan seperti beras, daging sapi, aneka rempah dimasukkan satu per satu. Tak lupa minyak samin, inilah alasan kenapa dinamakan bubur samin, dicampurkan ke adonan bubur. Sekitar pukul 15.00 WIB, bubur sudah matang dan siap disajikan.

Seribu Porsi

Pada Ramadhan tahun ini, pihak takmir Masjid Darussalam Jayengan Solo, setiap hari menyediakan 45 kilogram atau 1000 porsi bubur samin. Seribu porsi tersebut, masing-masing 800 diperuntukkan untuk warga yang ingin membawa pulang ke rumah, sedangkan sisanya 200 porsi disantap untuk buka bersama di masjid. Lantaran tingginya animo warga yang ingin merasakan bubur khas warga Banjar itu, persediaan 1000 porsi masih belum dapat memenuhi permintaan warga.

“Awalnya kami menyediakan 800 bagi warga yang ingin membawa pulang bubur, tapi jumlah itu masih kurang. Akhirnya, porsi untuk takjil sebagian ada yang kami bagikan sebelum waktu buka,” terang Ilyas, salah satu takmir masjid, saat ditemui usai pembagian bubur.

Pembagian bubur samin di Masjid Darussalam ini akan berlangsung setiap hari selama bulan puasa. Selain bubur samin, aneka hidangan juga disediakan untuk takjil. Di antaranya kurma, kopi dan susu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser

Pematangsiantar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda Ke-88, GP Ansor Kota Pematanngsiantar menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) selama tiga hari. Pendidikan untuk anggota baru Banser ini dibuka pada Jumat (28/10). Kegiatan ini berlangsung di Balai Diklat Kehutanan Pematangsiantar hingga Ahad (30/10).

Ketua GP Ansor Kota Pematangsiantar Arjuna menyatakan bahwa hari Sumpah Pemuda 28 Oktober merupakan momentum kebangkitan bagi pemuda dalam mengisi pembangunan, khususnya pemuda di Pematangsiantar.

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser

Tampak hadir pada pembukaan Gubernur Sumatera Utara H Tengku Erry Nurady, pengurus GP Ansor Sumut, Walikota Pematangsiantar Jumsadi Damanik, pengurus harian PCNU Kota Pematangsiantar, Fatayat NU Kota Pematangsiantar, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, sejumlah pimpinan SKPD, dan tokoh masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Erry Nurady mengatakan bahwa kaderisasi sangat penting dalam upaya membina mental generasi muda yang berkualitas dan berakhlakul karimah.

Dalam kesempatan itu GP Ansor Kota Pematangsiantar mengukuhkan Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kota Pematangsiantar masa khidmat 2015-2019. GP Ansor Kota Pematangsiantar berkomitmen mendukung gerakan nasional antinarkoba. Mereka mendeklarasikan Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Kota Pematangsiantar masa khidmat 2016-2019.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pendidikan ini ditutup pada Ahad (30/10) dengan menghasilkan puluhan kader Banser. (Fajar Prabowo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 14 Desember 2017

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Suasana berbeda nampak terlihat dari Kegiatan Safari Ramadhan Pemerintah Daerah Kabupaten Pringsewu yang digelar tahun ini. Kegiatan tahunan di setiap Ramadhan kali ini nampak khidmah dan sejuk seiring lantunan ayat Quran yang dibaca oleh para jamaah.

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Safari Ramadhan di Pringsewu Diiringi Khotmil Qur’an

Sebelum Acara Safari dilaksanakan, setiap desa di Kecamatan yang mengadakan acara tersebut mengirimkan 30 jamaah yang akan menghatamkan Al-Qur’an. Kegiatan ini merupakan kegiatan kolaborasi antara MUI Kabupaten Pringsewu dan Tim Penggerak PKK Kabupaten Pringsewu.

Kegiatan pertama pada Safari yang dilaksanakan di Masjid Al-Muttaqin Kedaung Kecamatan Pardasuka, Kamis (9/6) tersebut diikuti oleh lebih kurang 500 orang jamaah yang terdiri dari Ibu Ibu Muslimat dan Pengurus MUI Kecamatan Pardasuka.

Dalam Kegiatan tersebut, Ketua MUI Kabupaten Pringsewu KH Hambali dan Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Pringsewu Ibu Nurrohmah Sujadi nampak langsung memandu Jamaah serta ikut membaca dan menghatamkan 1 juz Al Quran yang sudah diberikan.

Menurut KH Hambali, kegiatan ini dimaksudkan sebagai upaya untuk memohon barakah dan ridho dari Allah SWT agar cita cita Pringsewu yang Agamis dapat benar benar terealisasi di Kabupaten dengan Motto Bersenyum Manis tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kita akan laksanakan kegiatan Tahtimul Quran di sembilan kecamatan yang ada di Kabupaten Pringsewu mengiringi Kegiatan Safari Ramadhan Pemda. Semoga Allah memberkahi kegiatan ini dan memberkahi Kabupaten Pringsewu," harap KH Hambali yang juga sesepuh JQH NU Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Olahraga, Tokoh, Warta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 07 Desember 2017

Jangan Puas Sekedar Baca

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal
Acara Lomba Baca Kitab Kuning atau Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) Nasional II di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, hari ini, Jum’at (16/6) memasuki tahap akhir. Para juara akan diumumkan pada acara penutupan MQK malam nanti oleh Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Departemen Agama RI.

“Acara ini baik sekali dimana kelebihan atau tipologi pesantren adalah mendidik santri-santri yang mahir membaca kitab-kitab kuning, kutubut turats, yaitu kitab-kitab primer yang ditulis oleh para ulama ratusan tahun yang lalu. Ini sangat baik dalam rangka memahami literatur itu,” kata Ketua PBNU KH. Said Aqil Siradj di Jakarta, Jum’at (16/6).

Namun demikian, Said Aqil melanjutkan, musabaqah akan lebih berarti jika ditingkatkan menjadi musabaqah ta’lif atau lomba menulis. “Sehingga santri bukan hanya qariut tafsir tapi juga mufassir, bukan hanya qa’riul hadits tapi menjadi muhaddits. Ya, itu memang berproses, belajar dari qariut tafsir kemudian berlajar menjadi mufassir, belajar dari qari kutub fikih menjadi fuqoha’,” kata Said Aqil.

Dirinya meminta para santri pesantren agar tidak hanya berkonsentrasi kepada bagaimana membaca kitab kuning. Menurutnya, yang terpenting adalah memahami dan menyimpulkan kitab itu kemudian mengaktualisasikan dan mengontekkan dengan situasi dan tutuntutan zaman.

MQK II meliputi dua tingkatan, wustho (menengah) dan ulya (tinggi) dengan empat bahasan yakni tafsir, hadits, fikih dan lughoh. Tingkat wustho dan ulya berturut-turut memakai standar kitab Tafsir Jalalain dan Al-Maraghi untuk bahasan tafsir, Bulughul Maram dan Fathul Bari untuk bahasan Hadits, Fathul Qarib dan Fathul Muin untuk bahasan fikih, dan Imrithi dan Alfiyah untuk lughoh (kebahasaan).

“Ya itu kan kitab standar. Artinya, barangsiapa yang sudah mampu membaca itu sudah kiita anggap mumpuni untuk atau dianggap dia memahami ilmu keislaman dengan lumayan. Tak perlu terburu-buru beralih ke kitab yang lain,” kata Said Aqil.

Kang Said, panggilan akrab KH. Said Aqil Siradj, mengusulkan beberapa bahasan penting lain seperti sejarah, peradaban, syi’ir dan novel untuk musabaqah selanjutnya. “Ya, misalnya untuk sejarahnya kita ambil Sirah Ibnu Hisyam. Syi’irnya memakai Mua’allaqah Sab’ah (syair-syair zaman jahiliyah) dan Alfu Lailah wa Lailah (seribu satu malam),” kata Kang Said. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jangan Puas Sekedar Baca (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Puas Sekedar Baca (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Puas Sekedar Baca

Rabu, 29 November 2017

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Sleman, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pelatihan Pelatih Tingkat Nasional Pencak Silat Nahdhatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa resmi dibuka, Senin (03/03). Pelatihan akan berlangsung selama tujuh hari ke depan (3-9/3), di Gedung Youth Centre Tlogoadi, Mlati, Sleman, DI Yogyakarta.

Acara tersebut dibuka Majelis Pendekar Pencak Silat PSNU Pagar Nusa, yang diwakili oleh Zainal. Sebelum membuka, Zainal menyampaikan mengapa pelatihan tersebut perlu diadakan.

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelatihan Pelatih Silat Tingkat Nasional Dimulai

Pihaknya mengatakan bahwa salah satu hal utama adalah karena masalah penyeragaman gerakan dasar yang harus sesuai dengan buku panduan. “Sebab selama ini belum ada yang sama antara daerah satu dengan yang lain,” ujarnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berdasarkan penuturan ketua panitia, M. Roghib, acara pelatihan pelatih nasional ini diikuti oleh sekitar 70 peserta yang merupakan delegasi dari berbagai daerah, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Sumatra Barat, Riau, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, dan sebagainya.

Hadir dalam kesempatan itu beberapa tamu undangan, seperti PCNU Sleman, Polres Sleman, TNI, Pimpinan Wilayah PSNU Pagar Nusa DIY, Pimpinan Pusat PS NU Pagar Nusa, dan sejumlah undangan lain, termasuk pendiri PSNU Pagar Nusa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Acara pun tampak meriah dengan penampilan group hadrah PMII Ashram Bangsa dan sejumlah atraksi dari PSNU Pagar Nusa. Keduanya berasal dari UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sebelumnya, dikatakan bahwa acara pelatihan pelatih ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan peringatan Harlah Ke-28 Pagar Nusa, dan telah didahului oleh beberapa kegiatan lain. Seperti bedah buku, silaturrahmi majelis pendekar Pagar Nusa, dan puncak peringatan Harlah yang berlangsung di Cibinong, Jawa Barat.

Pelatihan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari peringatan hari lahir (Harlah) Pagar Nusa yang jatuh pada tanggal 3 Januari. (Dwi Khoirotun Nisa’/Abdullah Alawi)

.

? ? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hikmah, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Tidak jarang seorang pengarang merasa takut untuk berkarya dan mendekonstruksi suatu karya. Demikian ternyata juga dialami sastrawan Triyanto Triwikromo dalam berproses.?

Salah satunya ketika menuliskan cerita pendeknya yang ditujukan kepada budayawan KH A. Musthofa Bisri (Gus Mus) dengan judul "Setelah 16.200 Hari". Ia mengaku sempat takut untuk mengirimkannya ke media.

Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)
Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus (Sumber Gambar : Nu Online)

Cerita di Balik Cerpen Triyanto untuk Gus Mus

"Waktu itu saya juga takut ada reaksi berlebihan dari para pengikut atau santrinya Gus Mus," tuturnya saat menjadi pembicara kuliah tamu bertema "kreatif menulis cerpen Untuk meningkatkan budaya literasi bagi mahasiswa di Universitas Muria Kudus, Kamis (04/05).

Dalam cerita pendek itu dikisahkan seorang Nyai (istri kiai) yang sedang berbincang dengan sosok sakit atau kebanyakan orang memaknainya dengan malaikat maut. Obrolan keduanya berisi tentang masih banyaknya tugas yang harus dilakukan Nyai kepada suaminya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Yaitu mendampingi dengan penuh cinta agar suami itu teguh dan fokus dalam mengurus umat. Akhirnya sang Nyai itu harus berpasrah dan menerima takdir bahwa ia juga harus rela terpisah sementara dengan suaminya itu.?

Namun sebenarnya sang Nyai dengan suaminya itu masih bersama dalam dimensi cahaya yang diridlai Allah. Mereka saling mendoakan dan mengingatkan atas dasar cinta yang sama di alam yang berbeda.

Ketika sudah tayang di Harian Kompas pada Minggu 24 Juli 2016 cerpen itu ternyata benar mendapat reaksi dari Gus Mus dan keluarganya. Gus Mus yang sebelumnya tidak menangis lantaran ikhlas atas kehendak Allah yang mengambil istrinya itu kemudian menangis. Sebab itu juga Triyanto sempat "ditegur" oleh kerabat Mustasyar PBNU tersebut.

"Gus Mus juga berkirim pesan kepada saya. Beliau berterima kasih karena ungkapan yang tersimpan dihati beliau sedikit terwakilkan di cerpen itu," terang Triyanto.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Triyanto, waktu itu ia hanya ingin mengungkapkan bahwa cinta Gus Mus kepada Bu Fatma (istri Gus Mus) ? itu indah. Cinta itu lebih berharga dan pantas diteladani daripada berkoar tentang sesuatu yang berujung pada permusuhan dan perpecahan.

"Saat itu saya hanya ingin menyampaikan supaya masyarakat mencintai cinta dibanding kebencian sesama. Karena suasana kan sedang memanas karena politik identitas," paparnya.

Kini, cerpen itu sedang digodok dan masuk nominasi cerpen pilihan Kompas yang akan datang. Cerpen itu juga sudah dibagikan lebih dari 10.000 orang di jejaring sosial. Rata-rata pembaca menanggapinya dengan tangis haru dan kagum dengan cinta dari keduanya. (M. Farid/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan

Medan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Puluhan ribu warga Nahdlyin “putihkan” Istana Maimun yang terletak di Jalan Brigjen Katamso, Medan. Warga menghadiri acara Istigotsah Kubro di Istana peninggalan Kesultanan Deli itu dalam rangka memperingati Hari Lahir (Harlah) Ke-82, Ahad (3/2).

Hadir dalam acara tersebut sejumlah ulama NU seperti KH Muchtar Muda Nasution, tokoh-tokoh pesantren dan NU seperti Drs H Amri Tambunan, H Afiduddin Lubis, H Maratua Simanjuntak, H Abdul Wahab Dalimunthe Drs H Syariful Mahya Bandar, para pengurus NU Sumut, Pengurus Cabang (PC) NU Sumut, beberapa lembaga, lajnah dan badan otonom NU.

Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Puluhan Ribu Nahdylin juga Putihkan Istana Maimun Medan

Turut hadir juga sejumlah tokoh Ormas Islam seperti Ketua PW Alwashliyah Sumut Drs H Nizar Syarief. Demikian dilaporkan kontributor Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Muhammad Safii Sitorus dari Medan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Panitia Harlah NU Ke 82 PWNU Sumut HM Arifin Matondang dalam sambutannya menyatakan, kegiatan Istigosah Kubro ini merupakan puncak acara Harlah Ke-82 yang dilaksanakan secara serentak ditingkat Nasional dimulai pada 31 Desember 2008 lalu ditandai dengan pengibaran bendera NU di seluruh Sumatera Utara. Penyerahan bendera dilakukan oleh Mustasyar PWNU Sumut H Abdul Wahab Dalimunthe, SH dan Drs H Syariful Mahya Bandar.

Pada tanggal 12 Januari lalu dilakukan bakti sosial kepada kaum dhuafa di Jalan Sei Batanghari No 52 Medan. Pada 27 Januari 2008 pelaksanaan nikah masal di Asrama Haji Medan sebanyak 24 pasangan. Pada 28 Januari dilaksanakan Bahtsul Masail dengan topik "Faham Ahlussunnah wal Jamaah Menangkis Aliran Sesat" di wisma PHI Jalan Gatot Subroto Medan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pada 2 Februari 2008 lalu dilaksanakan silaturrahmi Ulama dan Umara NU di Hotel Madani Medan dan Seminar Nasional "Reposisi Aswaja Dalam Pergulatan Sosial, Ekonomi ,Politik ,dan Faham Keagamaan" di Hotel Dharma Deli Medan.

Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan menyatakan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah ikut mensukseskan acara ini. Dijelaskannya, Istigotsah juga dilaksanaan secara serentak di seluruh Indonesia yang dipusatkan di Istora Gelora Bung Karno.

Pada kesempatan itu Ashari juga menyatakan komitmen kebangsaan NU tidak akan tergoyahkan dalam situasi apapun dan kondisi apapun karena bagi NU yang terpenting bukan Islam seremonial, akan tetapi Islam subtansial.

Rais Syuriah PWNU Sumut Dr Pagar Hasibuan ,MA dalam tausyiahnya menyatakan pelaksanaan Isigosah Kubro ini membuktikan bahwa keberadaan NU di Sumatera tetap eksis dan Istigotsah ini menandakan kebangkitan NU di Sumut.

Dr Pagar juga menyatakan pelaksanaan Istiogah ini merupakan doa untuk keselamatan bangsa dijauhkan dari segala cobaan yang selama ini sering menimpa.

Usai pelaksanaan Istigosah dilanjutkan pawai seluruh kader muda NU dengan mengendarai ratusan sepeda motor mengelilingi Kota Medan. (nam)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Aswaja, Pahlawan, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 08 November 2017

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menilai, apa yang terjadi di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan.?

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Maka dari itu, Ketua Komisi Dakwah MUI tersebut mengeluarkan tujuh tuntutan. Pertama, kembalikan keamanan di daerah Rakhine dan menghormati hak-hak masyarakat terutama penduduk yang beragama Islam.

"Kedua, hentikan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah dan militer Myanmar terhadap penduduk dan umat Islam di Rakhine dan di daerah lainnya di Myanmar," kata Kiai Cholil kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal melalui pesan tertulis, Ahad (3/9).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketiga, lindungi seluruh penduduk yang ada di Myanmar dan hak-haknya, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Keempat, berikan akses kepada lembaga kemanusiaan internasional dan dari Indonesia untuk masuk ke wilayah Rakhine guna memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang telah menjadi korban kekerasan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"(Kelima) Hendaklah PBB melakukan tindakan tegas terhadap aksi brutal dan pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohngya," tegasnya.

Keenam, ASEAN harus melakukan terobosan untuk menyelesaikan krisis di Myanmar. Sehingga perbuatan genosida yang terjadi di sana bisa dihentikan.

"Terakhir, Indonesia segera mengambil tindakan tegas untuk perwakilan Myanmar yang berada di Indonesia (Bubes Myanmar untuk Indonesia) jika (Pemerintah Myanmar) tetap melakukan tindakan kekerasan dan pengusiran terhadap etnis Rohingya," tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Nahdlatul Ulama, Kiai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 05 November 2017

Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kegiatan bahtsul masail merupakan roh Nahdlatul Ulama. Bahtsul masail mengandung prinsip dasar warga NU, sikap ilmiah dalam mengatasi masalah. Karenanya, budaya ilmiah seperti itu diteruskan warga NU. 

Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama

Demikian dikatakan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ishomuddin saat sambutan pembukaan Bahtsul Masail Nasional LBM PBNU di Pondok Pesantren Pandanaran, Yogyakarta, Selasa (2/7) siang.   

“Bukan NU kalau tidak bahtsul masail,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bahtsul masail, lanjut KH Ishomuddin, merupakan upaya penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat. Penyelesaian masalah melalui bahtsul masail menumbuhkan sikap ilmiah karena peserta musyawarah bahtsul masail mendasarkan usulan dan komentarnya pada ilmu.

Sikap ilmiah ini menjadi ciri khas NU dalam mengatasi masalah. Sikap ilmiah seperti ini terbilang langka di kalangan organisasi masyarakat di Indonesia, tegasnya di hadapan sedikitnya 150 peserta musyawirin dari kalangan Syuriah PWNU, PCNU, dan utusan sejumlah pesantren.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain sikap ilmiah, bahstul masail juga menjadi forum silaturahmi dan momen konsolidasi bagi pengurus NU dan pesantren untuk menguatkan NU itu sendiri, tutup KH Ishomuddin.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Jadwal Kajian, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 01 November 2017

Kiai Hasyim: NU Jimatnya Agama dan Negara

Depok, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Jam’iyyah Nahdlatul Ulama harus dipertahankan, dibela, dan dikembangkan sesuai dengan relnya dan sesuai dengan zamannya. Karena sesungguhnya NU adalah jimatnya agama dan negara. Di tangan NU, akan tercipta suasana rahmatan li al-nahdliyin, rahmatan li al-muslimin dan rahmatan li al-Indunisiyyin.

Kiai Hasyim: NU Jimatnya Agama dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Hasyim: NU Jimatnya Agama dan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Hasyim: NU Jimatnya Agama dan Negara

Rais Syuriah PBNU KH A Hasyim Muzadi mengatakan hal tersebut pada acara pelantikan pengurus lembaga dan lajnah sekaligus peluncuran website PCNU Depok, Ahad (14/9/14) siang. Para pengurus PCNU dan ratusan warga Nahdliyin yang memenuhi gedung olahraga Yayasan Pendidikan Islam Al-Muhtadin Depok tampak khidmat mendengarkan mauidzah hasanah Pengasuh Pesantren Al-Hikam itu.

Setelah mengucapkan selamat kepada segenap pengurus NU yang baru saja dilantik, Kiai Hasyim berpesan agar para pengurus semangat mengurusi NU. “Sekarang banyak orang senang jadi pengurus, tapi ndak senang ngurus. Malah beberapa jadi urusan di mana-mana. Pengurus NU hendaknya betul-betul mengurusi,” ujarnya mengawali ceramah disambut senyum simpul hadirin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut mantan Ketua Umum PBNU ini, dari dulu NU tidak suka mencaci-maki golongan lain. Akan tetapi, kalau dicaci-maki justru sudah menjadi langganan. Yang terpenting, di tangan NU juga akan terjadi rahmatan li al-Indunissiyyin. “Indonesia akan mendapat rahmat. Kenapa? Karena NU punya ajaran bagaimana mempertahankan dirinya dari beberapa pandangan di kalangan sesama Islam,” tuturnya.

Selain itu, tambah Kiai Hasyim, NU juga memiliki cara tersendiri bagaimana mempertahankan aqidah dan syariah tanpa berkelahi dengan orang lain, baik sesama agama maupun dengan lintas agama. Sehingga NU membawa rahmat untuk seluruh masyarakat dalam suasana ketenangan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Yang paling penting, di dalam pikiran NU tidak membenturkan antara agama dan negara. Tetapi kita memasukkan nilai agama dalam negara itu. Sekalipun tidak secara tekstual tapi secara kontekstual (ma’nawiyah). Sekalipun tidak secara formal tapi secara substansial. Sehingga akan terjaga hubungan agama dan negara tanpa harus membenturkan negara kepada agama atau sebaliknya,” urainya.

Kiai Hasyim berpendapat, seandainya orang Islam di luar Indonesia, khususnya di Arab dan Timur Tengah, mau menggunakan manhaj NU maka tidak akan perang seperti sekarang ini. “Muslim di negara kita adalah separo jumlah muslim seluruh dunia. Tapi kita tidak pernah ribut karena ada NU di sini,” ungkapnya. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Nahdlatul Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 09 Oktober 2017

Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara

Rembang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sepekan lagi helatan akbar pertemuan kiai-kiai sepuh nusantara bakal diadakan di Pondok Pesantren Al-Anwar Pusat, Desa Karangmangu Kecamatan Sarang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, 16 Maret 2017.

Acara yang bakal menyedot perhatian publik ini dimotori oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan dalam sebuah video yang beredar di media sosial bahwa PBNU merencanakan adanya pertemuan para sesepuh di Sarang, Rembang.

Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Al-Anwar Sarang Siap Sambut Alim Ulama Nusantara

Dalam video pendek tersebut, Kiai Said sapaan akrabnya, juga mengungkapkan terkait tujuan acara, yakni mengharap nasihat, irsyadat (arahan), taujihad (petunjuk) dari para sesepuh, agar NU kedepan semakin bermanfaat.

Basit, Ketua Pondok Pesantren Al-Anwar Pusat membenarkan adanya kegiatan tersebut. Ia mengatakan, informasi tentang diadakannya acara tersebut sudah sampai kepada para Pengurus Pondok Pesantrean pada awal Maret.

"Sudah dua kali pihak PBNU melakukan survei ke sini (Pesantren Al-Anwar). Rencana awal di Ponpes Al-Anwar 3, tetapi Mbah Yai (KH Maimoen Zubair) dawuhan di pusat saja," jelasnya saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di Pondok Al-Anwar Sarang, Rabu (8/3) pagi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pihaknya juga telah melakukan beberapa persiapan, termasuk percepatan penyelesaian pembangunan gedung baru yang rencananya akan dipakai acara. Selain itu pembentukan kepanitiaan juga sudah diproses.

Diantara kiai sepuh yang datang dalam acara ini antara lain, KH Miftahul Akhyar, KH Said Aqil Siroj, KH Maimoen Zubair, Habib Luthfi bin Yahya, KH A Mustofa Bisri, KH Maruf Amin, KH Anwar Manshur, KH Munif Zuhri, TGH Turmudzi Badaruddin, KH Abuya Muhtadi, KH M Sanusi Baco, KH M Buya Letter, KH A Nawawi Abd Djalil, KH Dimyathi Rois, KH Ali Masyhuri, serta Tuan Guru A Zuhdiannoor. (Aan Ainun Najib/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 23 Agustus 2017

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia”

Tangerang Selatan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Grand Syekh Al-Azhar Prof Dr Syekh Ahmad Muhammad Ahmad Ath-Thayyeb mengatakan, kemampuan bangsa Indonesia memadukan antara ilmu, iman, dan amal telah menjadikan Indonesia mampu melakukan lompatan-lompatan sehingga menjadi salah satu negara termaju di kawasan Asia. Bahkan, Indonesia telah menjadi “Macan Asia”.

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia” (Sumber Gambar : Nu Online)
Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia” (Sumber Gambar : Nu Online)

Grand Syekh Al-Azhar Sebut Indonesia sebagai “Macan Asia”

“Indonesia juga telah menjadikan Islam sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan merupakan agama kemanusiaan secara universal,” ujar Ahmad Ath Thayyeb di alumni Al-Azhar University Kairo di Indonesia dan civitas akademika UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (23/2) siang.

Pemimpin tertinggi Al-Azhar ini sangat berbahagia bisa berkunjung ke negeri yang ia sebut sangat menghargai Mesir. Hal itu tercermin dalam kuatnya hubungan antara kedua belah pihak sepanjang sejarah umat Islam.

“Saya serta rombongan baik dari Al-Azhar maupun dari Majelis Hukama Muslim sangat syukur kepada Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengunjungi Republik Indonesia dan bertemu dengan rakyatnya yang sangat baik serta terutama dengan saudara-saudara kami seagama. Di mana keduanya berpegang teguh pada aqidah dan akhlaq lslam yang mulia,” paparnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Grand Syekh juga memuji bangsa Indonesia dengan mengatakan bahwa Indonesia telah dipilih Allah sebagai negeri tempat menyebarkan lslam sebagai agama yang menyerukan kepada kebahagiaan dunia dan akherat serta menjaga orisinalitas. “Dengan cara tetap menerima segala pembaruan yang keduanya dipadukan secara baik dalam individu maupun masyarakat Indonesia,” katanya.

Menurut Ahmad Thayyeb, Bangsa Indonesia juga telah mampu menyingkap khazanah keislaman yang suci serta nilai-nilai hukum Islam dan akhlaknya dengan mewujudkan nilai keadilan, persamaan, sikap terbuka pada orang lain. Serta memotivasi untuk memiliki sumber-sumber kekuatan dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Indonesia juga telah menjadikan Islam sebagai agama untuk membangun kehidupan dunia dan mencapai kebahagiaan ukhrawi, bahkan merupakan agama kemanusiaan secara universal,” ujarnya bangga.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bagi Grand Syekh, Indonesia juga mampu membantah bohongnya tuduhan yang disampaikan oleh musuh-musuh Islam bahwa Islam adalah agama kemalasan dan tidak produktif sehingga masyarakatnya tidak maju. Bahkan, Islam dianggap sebagai agama yang menghambat kemajuan ekonomi dan politik.

“Saat ini, Indonesia menjadi model negara muslim yang dapat dibanggakan oleh umat Islam seluruh dunia. Sebab, Indonesia telah mampu mencapai kemajuan ekonomi yang luar biasa terutama di Asia Tenggara,” tuturnya.

Hadir dalam Halaqah Nasional ini para dosen Mesir, para duta besar negara sahabat, Duta Besar Mesir untuk RI, Walikota Tangerang Selatan Airin Rachmi Diany, Gubernur NTB TGH M Zainul Majdi, dan Menlu era Gus Dur Alwi Shihab. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Daerah, Pahlawan, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya

Hague, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemerintah Belanda tidak memberi toleransi kepada warganya yang terindikasi terlibat dalam terorisme. Langkah-langkah politik administratif dilakukan untuk membendung gejala ekstremisme di negaranya.

‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Jihad’ ke Suriah, Belanda Cabut Kewarganegaraan 4 Warganya

Baru saja menteri kehakiman negeri kincir angin itu mencabut status kewarganegaraan empat orang warganya diduga kuat melakukan perjalanan ke zona konflik dan bergabung dengan organisasi teroris.

(Baca juga: Kisah Pilu Satu Keluarga asal Indonesia Gabung ISIS di Suriah)

 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kepada wartawan di Parlemen Belanda, Rabu (12/9), seperti dikutip AP, Menteri Kehakiman Belanda Stef Blok mengatakan, keempat orang tersebut diyakini telah melakukan perjalanan ke Suriah. Menurutnya, mereka semua berkebangsaan ganda, yakni Belanda dan Maroko.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mereka yang identitasnya belum dipublikasikan itu juga mendapat julukan sebagai "makhluk asing yang tak diinginkan," yang berarti mereka tidak dapat secara sah kembali ke Belanda atau ke negara lain di zona perjalanan paspor Schengen Uni Eropa.

Sejumlah warga Belanda telah pergi ke Suriah dan Irak dalam beberapa tahun terakhir untuk bergabung dengan kelompok ekstremis yang mengatasnamakan nama Islam. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Tokoh, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 10 Juli 2017

Rajin Shalat Saja Bisa Disebut Pendusta Agama

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan menyitir Surat al-Maun, KH Fahmi Amrullah mengingatkan bahwa menjadi Muslim yang taat dengan mengerjakan shalat secara ajek saja bukan jaminan nanti akan selamat. Bahkan ada ancaman yang bersangkutan adalah pendusta agama.

"Di Surat al-Maun disebutkan bahwa pendusta agama adalah mereka yang menghardik anak yatim, dan tidak menganjurkan memberikan makan orang miskin," kata Gus Fahmi, sapaan akrab Pengasuh Pondok Pesantren Putri Tebuireng ini, Sabtu (25/6) petang.

Rajin Shalat Saja Bisa Disebut Pendusta Agama (Sumber Gambar : Nu Online)
Rajin Shalat Saja Bisa Disebut Pendusta Agama (Sumber Gambar : Nu Online)

Rajin Shalat Saja Bisa Disebut Pendusta Agama

Penjelasan ini disampaikan saat ia memberikan ceramah pada kegiatan Tebar Hikmah Ramadhan 1437 H yang diselenggarakan Lembaga Sosial Pesantren Tebuireng (LSPT) di Masjid Ulul Albab Cukir Diwek Jombang Jawa Timur.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sehingga dalam paparannya, mereka yang shalat sekalipun belum bisa menjamin yang bersangkutan sebagai Muslim yang baik dan dijamin masuk surga. "Apalagi Muslim tapi tidak mengerjakan shalat," sergahnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Gus Fahmi kemudian menceritakan ada seorang Yahudi Majusi yang berkenan untuk merawat seorang janda dengan sejumlah anak yang dimiliki. Padahal sebelumnya ada penguasa Muslim yang ternyata menolak untuk memberikan perlindungan kepada janda tersebut.

"Hingga suatu malam, sang penguasa Muslim bermimpi bertemu Rasulullah yang menyediakan istana di surga," katanya di hadapan ratusan fakir miskin, janda dan duda yang memadati masjid setempat.

Ketika ditanyakan untuk siapa bangunan megah tersebut, Nabi Muhammad SAW menyatakan diberikan kepada mereka yang berkenan untuk membantu para janda dan anak yatim. "Spontan, keesokan harinya ia menemui Yahudi Majusi agar berkenan menyerahkan janda beserta anaknya untuk ditampung di kediamannya," terangnya.

Akan tetapi Yahudi Majusi tersebut menolak permintaan sang penguasa. "Karena semalam saya bermimpi disediakan istana megah di surga lantaran menerima janda dan anak yatim ini," jelasnya. Dan saat itu juga sang Yahudi berikrar menjadi Muslim.

Karena itu yang sangat dibutuhkan umat adalah Muslim yang memiliki kepedulian kepada para fakir miskin dan mereka yang lemah. "Juga mereka yang tidak suka pamer, serta memberikan bantuan dengan sesuatu yang terbaik," ungkapnya.

Tebar Hikmah Ramadhan adalah kegiatan rutin LSPT dengan memberikan sembilan bahan pokok, uang tunai serta menu berbuka kepada sejumlah penghuni panti asuhan, janda dan duda tanpa penghasilan tetap, serta masakin di sekitar pesantren.? Untuk Ramadhan kali ini ada sekitar 1500 paket yang diberikan kepada mereka. (Ibnu Nawawi/Mahbib)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Mei 2017

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) merasa prihatin ketika ada rencana Shalat Jumat di Jalan Raya pada 2 Desember 2016 oleh kelompok yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini memberikan pernyataan melalui akun twitter pribadinya @gusmusgusmu, Rabu (23/11) sebanyak 7 cuitan.

"Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jumat-an di jalan raya. Mudah-mudahan tidak benar," cuit Gus Mus.

"Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada bidah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran," sambung Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 ini.

Gus Mus mempertanyakan apa dalil Al-Qur’an dan haditsnya melakukan shalat Jumat di jalanan. Dia juga mempertanyakan apakah Rasullullah SAW, para sahabat dan tabiin pernah melakukan atau membolehkan salat Jumat di jalan raya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kalau benar, apakah shalat tahiyyatal masjid diganti shalat tahiyyatat thariq atau tahiyyatasy syari?" tanyanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jika shalat Jumat di jalan protokol Jakarta itu benar akan dilakukan, lanjut Gus Mus, dia mengimbau umat Islam yang percaya dirinya tidak punya kepentingan politik apapun agar memikirkan hal itu dengan jernih.?

"Setelah itu silakan Anda bebas untuk melakukan pilihan Anda. Aku hanya merasa bertanggung jawab mengasihi saudaraku. In uriidu illal ishlãha mãs tathatu wamã taufiiqii illa biLlãhil Aliyyil Azhiim," tulisnya.?

"Artinya kurang lebih: Aku hanya berniat (ber)baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung," imbuh Gus Mus menjelaskan artinya.

Sampai berita ini ditulis, tweet Gus Mus tersebut direspon oleh ribuan netizen jika diakumulasi, baik dalam bentuk retweet, like, mention, dan reply. Dalam pantauan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, pernyataan Gus Mus ini juga dijadikan rujukan oleh berbagai media online nasional untuk diterbitkan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Pesantren, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock