Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ulama. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa

Ini adalah halaman sampul dan halaman terakhir dari kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” karangan seorang ulama Nusantara asal Rawa (Rao, Minangkabau) yang hidup dan berkarir di Makkah pada akhir abad ke-18 M dan awal abad ke-19 M, yaitu Syekh Muhammad Shâlih Râwah (dikenal dengan Syekh Saleh Rawa atau Syekh Saleh Rao, w. 1272 H/ 1856 M).

Kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” berisi ringkasan kajian akan tiga ilmu paling prinsip dan pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu ilmu tauhid (teologi), ilmu fikih (yurisprudensi), dan ilmu tasawuf (esoterisme Islam). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa

Pada halaman depan kitab ini, nama pengarang tidak dicantumkan. Di sana hanya tertulis judul kitab dan sub-judulnya saja, sekaligus keterangan jika nama pengarang tidak mau disebutkan karena “tidak ingin riya dan menjaga diri”.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Keterangan jika kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” adalah karya Syikh Saleh Rawa didapati pada halaman terakhir kitab ini, tepatnya pada kolom editor (pentashih) pada versi cetakan Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî, Kairo, pada tahun 1374 Hijri/ 1955 Masehi (setebal 38 halaman). Tertulis di sana;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

(Telah selesai seraya memuji Allah Ta’ala, proses pencetakan kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” karangan al-‘Allâmah al-Fâdhil Syekh Shâlih al-Jâwî, dalam menerangkan masalah-masalah tauhid dan hal-hal yang diharuskan bagi manusia mengetahuinya daripada perkara syari’at yang dapat memperbaiki hati dan menghilangkan kerusakan. Karya ini ditulis dalam bahasa Jawi [Melayu] dalam rangka menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah negeri Jawi itu).

Dalam kata pengantarnya, Syekh Saleh Rawa mengatakan jika kitab ini merupakan sebuah risalah kecil yang ringkas, yang menghimpun kajian atas perkara-perkara yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, dari ilmu tauhid dan fikih. Beliau menulis;

? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

(Ammâ ba’du. Maka ini adalah sebuah catatan yang lembut, yang menerangkan hal-hal yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, daripada masalah-masalah akidah keimanan dan masalah-masalah hukum ibadah. Aku namakan karya ini dengan “Bidâyatul Mubtadî wa ’Umdatul Awlâdi”).

Dalam kolofon, dikatakan bahwa kitab ini diselesaikan oleh pengarangnya pada waktu pagi hari Ahmad, di awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijri (bersamaan dengan bulan Agustus 1938 Masehi). Tertulis di sana;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Dan telah selesai penulisan karya ini pada hari Ahad yang diberkati, di waktu pagi, pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijri).

Pengarang kitab ini, yaitu Syekh Saleh Rawa, tidak banyak diketahui oleh para pengkaji sejarah keislaman di Nusantara dan literaturnya. Padahal, beliau adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah dan jaringan intelektual ulama Nusantara—Timur Tengah di awal abad ke-19 M, meneruskan tongkat estafet generasi sebelumnya, yaitu generasi Syekh Abdul Shamad Palembang, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Dauwd Pattani, dan Syekh Abdul Rahman Betawi.

Syekh Saleh Rawa satu generasi dengan Syekh Muhammad Azhari ibn Abdullah Palembang, Syekh Muhammad Ali ibn Abdul Rasyid Sumbawa, Syekh Isma’il al-Khalidi Minang, Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Idris Buton, Syekh Abdul Manan Dipamanggala (Tremas), Syekh Hasan Besari (Ponorogo), Syekh Abdul Hamid (Pangeran Diponegoro), dan lain-lain.

Biografi Syekh Saleh Rawa terlacak dalam beberapa kitab hagiografi (“tarâjim” dan “thabaqât”) ulama Makkah yang hidup di abad ke-13 Hijri (19 Masehi), seperti kitab “al-Mukhtashar min Nasyr al-Nûr wa al-Zuhr” karya Syekh Abdullâh Mirdâd (hal. 214), “A’lâmul Makkiyyîn” karya al-Mu’allimî (j. I/ hal. 450), “Fadh al-Malik al-Wahhâb al-Muta’âlî” karya ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî (hal. 706), dan “al-Mukhtashar al-Hâwî fî Tarâjim ‘Ulamâ Bilâd Jâwî” karya alfaqir (hal. 47).

Nama lengkap Syekh Saleh Rawa adalah Muhammad Shâlih Râwah ibn Muhammad Murîd al-Khalwatî al-Sammânî al-Râwî al-Jâwî. Beliau dilahirkan di Kampung Roa (Rawa, Sumatera Barat/ Minangkabau), namun tidak terlacak tarikh kelahirannya.

Beliau lalu pergi ke Makkah dan mermujawarah di sana. Di Kota Suci itu, beliau belajar kepada Syekh Daud Pattani, Syekh Abdul Shamad Palembang, dan Syekh Arsyad Banjar. Beliau juga belajar kepada Syekh Ahmad al-Marzûqî al-Dharir al-Makkî dan Syekh ‘Utsmân al-Dimyâthî al-Makkî. Setelah menempa masa pembelajaran yang cukup lama, beliau kemudian mendapatkan ijazah (lisensi) untuk mengajar di Masjidil Haram.

Syekh Saleh Rawa menulis beberapa karya, di antaranya; (1) “Bidâyatul Mubtadî” yang kita bicarakan ini, dan (2) “Fattul Mubîn” yang diselesaikan pada Zulhijjah tahun 1272 Hijri (Agustus 1856 Masehi). Beliau wafat di Makkah pada tahun 1272 H (1856 M) dan dikuburkan di Pemakaman Ma’la, Makkah. (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal RMI NU, Ulama, News Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Nahdliyin Bangkalan Doakan Gaza dalam Nuzulul Quran

Bangkalan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Warga NU Bangkalan mengisi peringatan Nuzulul Quran dengan istighotsah yang dipimpin Mustasyar NU Bangkalan KH Syarifuddin Damanhuri untuk perdamaian di jalur Gaza, Kamis (17/7). Difasilitasi PCNU Bangkalan, mereka melantunkan doa bersama yang dipandu Habib Sholeh Ali Smith dan Ketua PCNU KHR Fachrillah Ascahall di Masjid Agung Bangkalan.

Nahdliyin Bangkalan Doakan Gaza dalam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Nahdliyin Bangkalan Doakan Gaza dalam Nuzulul Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Nahdliyin Bangkalan Doakan Gaza dalam Nuzulul Quran

Ketua panitia, KH Makki Nasir menyatakan rasa syukur atas penyelanggaraan Nuzulul Quran pertama oleh PCNU Bangkalan. “Meski perdana, Alhamdulillah pengurus NU mulai dari tingkat cabang hingga ranting hadir. Penyelenggaraan ini murni hasil swadaya murni warga NU sekabupaten Bangkalan.”

Sementara Ketua PCNU Jember KH Abdullah Syamsyul Arifin yang hadir sebagai penyampai taushiyah membahas penekanan pengamalan Al-Qur’an dalam hidup keseharian. Segala aktivitas yang dilandasi nilai-nilai Al-Quran akan menghasilkan sebuah manfaat besar.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Al-Quran harus membudaya dalam sikap keseharian di tengah lingkungan kita,” kata Kiai Abdullah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di akhir taushiyah, ia mengimbau warga NU tidak terprovokasi terkait pilpres. Menurutnya,  tugas warga NU sudah selesai dengan memilih Capres-Cawapres sesuai kecocokan hati masing-masing.

“Jangan beraksi dan bertindak terkait ajakan-ajakan sebagai akibat dari keputusan penetapan hasil Pilpres nanti,” tandas Kiai Abdullah. (Supandi/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Ahlussunnah, Meme Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 12 Februari 2018

GP Ansor Subang Dukung Program Gapura

Subang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang mendukung penuh apa yang menjadi program unggulan Pemerintah Daerah Kabupaten Subang. Hal itu ditegaskan Ketua GP Ansor Subang Asep Alamsyah Heridinata saat bersilaturahim dengan sejumlah jurnalis Subang di RM Sate Cijengkol, Sukamelang Rabu (7/12). Acara tersebut dihadiri beberapa media, baika lokal, nasional, cetak, elektronik dan online.

GP Ansor Subang Dukung Program Gapura (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Subang Dukung Program Gapura (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Subang Dukung Program Gapura

Dalam kesempatan tersebut, Asep mendorong Pemerintah Daerah Kabupaten Subang untuk terus menjalankan roda pemerintahan yang baik dan bersih serta fokus pada penyelesaiaan masalah sehingga program Gerakan Pembangunan untuk Rakyat (GAPURA) bisa terrealisasikan.

“Apalagi menyangkut persoalan disclaimer, nama baik Subang sangat dipertaruhkan. Untuk itu kami sangat mendukung penuh dan percaya kepada pemerintah daerah untuk mengatasi pesoalan itu,” tegasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan tersebut, Asep juga sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada segenap jurnalis di Kabupaten Subang dalam kiprahnya bekerjasama dengan GP Ansor Kabupaten Subang.

“Untuk itu, silaturahim seperti ini mutlak dilakukan pasca dilantiknya kepengurusan GP Ansor beberapa waktu yang lalu. Tanpa dukungan dari wartawan, kami bukan apa-apa,” ujar Asep.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain itu, dalam menjalankan roda organisasi, Asep lebih fokus pada pemberdayaan ekonomi dan pendidikan. “Saat ini kita sudah memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Ansoruna yang berlokasi di Tambakdahan. Kedepan, kita akan buka wilayah Subang bagian selatan,” pungkasnya. (Ade Mahmudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Daerah, Warta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

Laskar Bela Negara Bentukan NU Jombang Segera Berdiri

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang KH Isrofil Amar merencanakan dalam waktu dekat ini pembentukan organisasi baru, yaitu Laskar Bela Negara. Organisasi ini dibentuk untuk memperkuat kelembagaan internal NU di Kota Santri ini.

Di samping itu kondisi kesatuan bangsa di tanah air dan ideologi Pancasila belakangan ini seringkali mendapat gangguan juga tak luput dari sorotan dibentuknya organisasi tersebut.

Laskar Bela Negara Bentukan NU Jombang Segera Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)
Laskar Bela Negara Bentukan NU Jombang Segera Berdiri (Sumber Gambar : Nu Online)

Laskar Bela Negara Bentukan NU Jombang Segera Berdiri

"Insya Allah sebentar lagi NU akan membentuk satu organisasi, yaitu Laskar Bela Negara," kata salah satu dosen Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu) Peterongan Jombang itu, Kamis (9/2).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Isrofil menjelaskan, dalam struktur organisasi tersebut tersusun dari kepengurusan Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan warga nahdliyin di struktur lainnya. "Yang ini kepengurusannya kami susun beserta GP Ansor," jelasnya di Jombang.

Untuk lebih memperkuat dalam berdirinya organisasi ini, Kiai Isrofil juga akan meminta masukan kepada Bupati Jombang, pihak Polres juga Dandim. "Suatu ketika kami akan menghadap kepada bupati, dandim, dan bapak kapolres untuk mohon nasihat bagaimana sebaiknya, jadi NU itu sekali NU, tetap NU," katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Namun demikian, hingga saat ini ia belum menentukan waktu tepatnya peluncuran organisasi tersebut. (Syamsul Arifin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Olahraga, Ulama, Ahlussunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba

Tulang Bawang Barat, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Guna terus merekatkan silaturahmi dengan pengurus ormas dan insan pers di Kabupaten Tulang Bawang Barat (Tubaba) Wakil Bupati Tubaba Fauzi Hasan, penasehat IKA PMII menggelar halal bihalal di Rumah Dinas (Rumdis) di Kelurahan Panaragan Jaya, Kecamatan Tulang Bawang Tengah, Kamis (6-7-2017).

Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba (Sumber Gambar : Nu Online)
Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba (Sumber Gambar : Nu Online)

Penasehat IKA PMII Gelar Halal Bihalal Bersama Dewan Kesenian Tubaba

Acara yang berlangsung sederhana tersebut dihadiri oleh jajaran Pemerintahan, Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Tubaba, kemudian para insan pers/media, organisasi kemahasiawaan, organisasi masyarakat (ormas) seperti Pemuda Pancasila (PP), Oi, Pemuda Siliwangi, Dewan Kesenian Tubaba, IKA-PMII, Paguyuban Jawa Barat (Pajar),, serta masyarakat umum.

Fauzi Hasan mengatakan, silaturahmi ini dimaksudkan untuk saling mempererat silaturahmi antarormas dan insan pers di Kabupaten Tubaba, sebab dengan silaturahmi akan memberikan dampak bagi kemajuan Kabupaten Tubaba dan tidak gampang terpengaruh dengan isu-isu yang tidak benar (hoaks).

"Dengan silaturahmi dapat saling berkomunikasi dan saling mengenal dengan baik, dapat berpikir bersama untuk kemajuan Tubaba, sehingga orientasinya tidak saling menunjukkan kehebatan tetapi kebersamaan,"ungkapnya.

Dalam sambutan penasehat IKA PMII Tubaba, ini menambahkan pihaknya selaku wakil bupati berpesan pertama kepada Dewan Kesenian Tubaba untuk aktif kembali. Diakuinya sebelum pemilihan bupati dan wakil bupati dirinya membekukan sementara kegiatan Dewan Kesenian untuk menghindari adanya anggapan bahwa dia menunggangi Dewan Kesenian untuk menjadi wakil bupati.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Sekarang, mari kita aktif kembali, dan Bupati Umar Ahmad akan terus mengikuti langkah dan men-support kita," paparnya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Untuk PMII, Fauzi berpesan walaupun kepengurusan baru terbentuk dan belum dilantik pihaknya sangat berterima kasih PMII bisa dibentuk di kabupaten setempat, dengan terbentuknya IKA PMII ini ke depan orientasinya tidak mengedepankan kegagahan organisasi tetapi kepada bagaimana memajukan kabupaten Tubaba dengan bersatu dengan semua unsur yang ada.

"Saya juga kader PMII dan pertama mengikuti pelatihan kader dasar pada tahun 1979 di Wonosobo, saat ini masuk Kabupaten Pringsewu. Mari organisasi ini kita gunakan untuk belajar memimpin, bekerjasama dalam berorganisasi dan jika ini bisa dijalankan kunci kesuksesan ada disini," ungkapnya.

Dirinya juga sangat mengapresiasi dengan gerakan yang dilakukan oleh ormas Oi, walaupun gerakannya kecil tapi sangat menyentuh seperti melakukan gerakan bersih-bersih di tempat-tempat umum, dan di pasar-pasar. Untuk HIPMI ia berpesan dapat mengadakan kegiatan yang dapat memotivasi para pemuda untuk menjadi pebisnis dan orang sukses.

Sementara untuk PWI dan insan pers pihaknya juga mengucapkan banyak terima kasih yang telah memberikan dukungannya selama ini dalam menyebarkan informasi yang baik kepada masyakarat dalam bentuk kritik tentang pembangunan dan saran, "Pemberitaan merupakan sebuah respek yang sangat besar bagi pergerakan pembangunan di Kabupaten Tubaba.”

Fauzi berharap, ke depan seluruh elemen masyarakat dapat terus menjaga dan memanfaatkan hasil-hasil pembangunan yang telah dilaksanakan di kabupaten setempat,"Saya tidak keberatan rumah dinas ini digunakan untuk kegiatan apapun yang sifatnya positif, dan Bupati Umar Ahmad juga berpesan ormas dan masyarakat dapat memanfaatkan gedung Sesat Agung yang berada di Islamik Center dengan maksimal," pungkasnya.

Sementara perwakilan ormas dan insan pers yang hadir, Edi Zulkarnaen selaku Ketua PWI Tubaba mengucapkan banyak terima kasih telah mengundang insan pers dan ormas se-Tubaba untuk menghadiri acara halal bihalal ini,"Semoga jalinan silaturahmi dapat terus terjalin dan terjaga dengan baik," singkatnya.(Gati Susanto/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Anti Hoax, Kiai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Setelah berpuasa selama satu bulan penuh, akhirnya umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri atau hari kemenangan.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan pesan Idul Fitri, “Kepada seluruh umat Islam, mari kita hayati arti Idul Fitri dengan menjadi hamba Allah yang bersih dan mari kita sempurnakan dengan saling silaturrahim dan saling memaafkan.”

Kiai Said mengutip sebuah ajaran Islam “Innama amwalukum waaulaadukum fitnah” yang dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada kesalahan dan dengan saling memaafkan, maka kesalahan tersebut selesai.

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih

Ia mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang damai, yang mengajarkan untuk saling memaafkan, bukan saling membunuh. “Kelompok Islam yang mengajarkan kebencian bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dakwah dengan pendekatan budaya yang dilakukan oleh para Walisongo terbukti lebih berhasil daripada pendekatan lewat perang sebagaimana terjadi di Spanyol. Tanpa terasa nilai-nilai Islam terinternalisasi. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Islam Indonesia adalah Islam mayoritas yang tidak sombong, bahkan mayoritas melindungi minoritas.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Ulama, Pemurnian Aqidah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Tafsir Ayat-ayat tentang Puasa Ramadhan

Uraian Al-Quran tentang puasa Ramadhan ditemukan dalam surat Al-Baqarah (2): 183, 184, 185, dan 187. Ini berarti bahwa puasa Ramadhan baru diwajibkan setelah Nabi Saw tiba di Madinah, karena ulama Al-Qur’an sepakat bahwa surat Al-Baqarah turun di Madinah. Para Sejarawan menyatakan bahwa kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan ditetapkan Allah pada 10 Syaban tahun kedua Hijrah.

Apakah kewajiban itu langsung ditetapkan oleh Al-Qur’an selama sebutan penuh, ataukah bertahap? Kalau melihat sikap Al-Qur’an yang seringkali melakukan penahapan dalam perintah-perintahnya, maka agaknya kewajiban berpuasa pun dapat dikatakan demikian. Ayat 184 yang menyatakan ayyaman madudat (beberapa hari tertentu) dipahami oleh sementara ulama sebagai tiga hari dalam sebutan yang merupakan tahap awal dari kewajiban berpuasa. Hari-hari tersebut kemudian diperpanjang dengan turunnya Al-Baqarah ayat 185:

“Barangsiapa di antara kamu yang hadir (di negeri tempat tinggalnya) pada bulan itu (Ramadhan), maka hendaklah ia berpuasa (selama bulan itu), dan siapa yang sakit atau dalam perjalanan, maka wajib baginya berpuasa sebanyak hari yang ditinggalkannya.”

Tafsir Ayat-ayat tentang Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)
Tafsir Ayat-ayat tentang Puasa Ramadhan (Sumber Gambar : Nu Online)

Tafsir Ayat-ayat tentang Puasa Ramadhan

Pemahaman semacam ini menjadikan ayat-ayat puasa Ramadhan terputus-putus tidak menjadi satu kesatuan. Merujuk kepada ketiga ayat puasa Ramadhan sebagai satu kesatuan, salah seorang Mufassir Indonesia M. Quraish Shihab (2000) mendukung pendapat ulama yang menyatakan bahwa Al-Qur’an mewajibkannya tanpa penahapan.

Memang, tidak mustahil bahwa Nabi dan sahabatnya telah melakukan puasa sunnah sebelumnya. Namun itu bukan kewajiban dari Al-Qur’an, apalagi tidak ditemukan satu ayat pun yang berbicara tentang puasa sunnah tertentu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Uraian Al-Quran tentang kewajiban puasa di bulan Ramadhan, dimulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat Islam untuk melaksanakannya dengan baik, tanpa sedikit kekesalan pun.

Perhatikan surat Al-Baqarah: 185. Ia dimulai dengan panggilan mesra, "Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan kepada kamu berpuasa." Di sini tidak dijelaskan siapa yang mewajibkan, belum juga dijelaskan berapa kewajiban puasa itu, tetapi terlebih dahulu dikemukakan bahwa, "sebagaimana diwajibkan terhadap umat-umat sebelum kamu." Jika  demikian, maka wajar pula jika umat Islam  melaksanakannya, apalagi tujuan puasa tersebut adalah untuk kepentingan yang berpuasa sendiri yakni "agar kamu bertakwa (terhindar dari siksa)."

Kemudian Al-Qur’an dalam surat Al-Baqarah: 186 menjelaskan bahwa kewajiban itu  bukannya sepanjang tahun, tetapi hanya "beberapa hari tertentu," itu pun hanya diwajibkan bagi yang berada di kampung halaman tempat tinggalnya, dan dalam keadaan sehat, sehingga "barang siapa sakit atau dalam  perjalanan," maka dia (boleh) tidak berpuasa dan menghitung berapa hari ia tidak berpuasa untuk digantikannya pada hari-hari yang lain.

"Sedang yang merasa sangat berat berpuasa, maka (sebagai gantinya) dia harus membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin." Penjelasan di atas ditutup dengan pernyataan bahwa "berpuasa adalah baik."

Setelah itu disusul dengan penjelasan tentang keistimewaan bulan Ramadhan, dan dari sini datang perintah-Nya untuk berpuasa pada bulan tersebut, tetapi kembali diingatkan bahwa orang yang sakit dan dalam perjalanan (boleh) tidak berpuasa dengan memberikan penegasan mengenai peraturan berpuasa sebagaimana disebut sebelumnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

 

Ayat tentang kewajiban puasa Ramadhan ditutup dengan, "Allah menghendaki kemudahan untuk kamu bukan kesulitan," lalu diakhiri dengan perintah bertakbir dan bersyukur. Ayat 186 tidak berbicara tentang puasa, tetapi tentang doa. Penempatan uraian tentang doa atau penyisipannya dalam uraian Al-Qur’an tentang puasa tentu mempunyai rahasia tersendiri.

Agaknya ia mengisyaratkan bahwa berdoa di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang sangat dianjurkan, dan karena itu ayat tersebut menegaskan bahwa, "Allah dekat kepada hamba-hamba-Nya dan menerima doa siapa yang berdoa."

Selanjutnya ayat 187 antara lain menyangkut izin melakukan hubungan seks di malam Ramadhan, di samping penjelasan tentang lamanya puasa yang harus dikerjakan, yakni dari terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari. Banyak informasi dan tuntunan yang dapat ditarik  dari ayat-ayat di atas berkaitan dengan hukum maupun tujuan puasa.

(Fathoni Ahmad)

Disunting dari M. Quraish Shihab dalam buku karyanya “Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhui atas Pelbagai Persoalan Umat” (Mizan, 2000).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Hikmah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum

Dubai, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sebuah saluran televisi budaya di Arab Saudi, Al-Tsaqafiyah TV, untuk pertama kalinya menayangkan konser musik pada tengah malam. 

Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum

Dalam akun Twiternya, seperti dikutip Al Arabiya, pihak Al-Tsaqafiyah TV mengumumkan akan menayangkan konser musik penyanyi kenamaan asal Mesir, Umi Kulsum.

(Baca juga: Pemerintah Mesir Tangkap Ulama al-Azhar karena Nyanyi di Televisi)

Dalam pengumuman di Twitter itu juga disertakan tautan bagi siapa pun yang ingin menonton rekaman konser musik penyanyi masyhur yang wafat pada 1975 tersebut secara online.

Penayangan konser musik di televisi merupakan peristiwa langka di negeri kaya minyak yang dikenal konservatif ini selama 30 tahun terakhir.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



(Baca: Perayaan Hari Nasional Saudi, dari Konser hingga Tarian Tradisional)

Seorang penyanyi Saudi, Abdul Majeed menyambut gembira dengan perkembangan ini di negaranya. Ia mengaku akan hadir secara langsung bersama keluarganya dalam konser berikutnya yang digelar di Jeddah, sebagaimana mereka hadir dalam konser di Dubai dan Kuwait.

"Kerajaan kita yang tercinta ini telah memasuki era baru yang akan membawa kita semua pada hal yang baik. Sesuatu yang lebih baik lagi akan tiba saatnya," tambahnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, AlaSantri, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Keluarga besar SMP Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, bahagia. Sebab, beberapa hari lalu, Fathurrosy, salah seorang siswanya yang mewakili Kabupaten Probolinggo dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi Jawa Timur, berhasil menjadi juara I dari bidang seni lomba Cipta Puisi.

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013

Ajang prestisius yang digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di Surabaya, pada (9-12/5) itu, siswa SMP Nurul Jadid kelas VIII A itu, berhasil menyisihkan para peserta lain dari SMP Negeri/Swasta se-Jawa Timur. Sebelumnya, di bulan yang sama, siswa asal Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu, jadi jawara dalam ajang serupa tingkat Kabupaten Probolinggo.

Selanjutnya, Fathurrosy akan mewakili Provinsi Jatim dalam FLS2N di tingkat nasional. Ajang bergengsi nasional itu, akan digelar di Medan, pada Juni 2013, untuk bidang seni yang sama. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Dalam lomba Cipta Puisi tingkat provinsi itu, saya mengambil tema tentang bunga siwalan yang berhubungan dengan budaya dan karakter bangsa. Sementara judulnya adalah Dzikir Siwalan,” ujar siswa yang bercita-cita menjadi guru TIK itu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Rabu (22/5).

Kepala SMP Nurul Jadid, Faizin Syamwil, M.Pd., mengatakan, keberhasilan yang diukir oleh Fathurrosy itu, merupakan salah satu bentuk kesuksesan pembinaan yang terus dilakukan oleh SMP Nurul Jadid. “Selain ada pembinaan di sekolah. Fathurrosy juga dilatih dan dibimbing oleh Imron, mahasiswa IAI Nurul Jadid. Tiap 2 hari sekali, Fathurrosy mengirimkan hasil karya puisinya kepada saudara Imron itu,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Faizin, di SMP Nurul Jadid, ada pembinaan ekstrakurikuler. Seperti seni islami yang meliputi, drama, teater, baca puisi, dan cipta puisi. Selain itu, ada juga kaligrafi, hadrah, pencak silat, pramuka, jurnalistik, dan khitobah.

“Dan setiap ada informasi perlombaan, kami selalu berpartisipasi. Tujuannya sebagai bahan evaluasi terhadap pembinaan yang sudah kami lakukan. Juga sebagai pembentukan mental dan sebagai daya saing siswa,” ungkapnya.

Dengan adanya siswanya yang berhasil mewakili Provinsi Jatim di tingkat nasional, Faizin berharap, prestasi itu bisa menjadi motivasi bagi siswanya yang lain. “Kami juga berharap ada pembinaan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim sebagai persiapan ke tingkat nasional nanti,” harapnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Kyai, AlaSantri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Pamekasan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Perjalanan bahtsul masail yang digelar Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBMNU) Pamekasan berlangsung seru, akhir pekan kemarin (12/5) dan bertempat di pendopo Kecamatan Pegantenan. Pengasuh pesantren Al-Huda Sumber Nangka, Larangan, Pamekasan, KH Syaifuddin Syam bertindak sebagai mushahhih.

Keseruan tersebut tidak terlepas dari semangat peserta. Pasalnya, para pengurus MWC NU dari 13 kecamatan di Pamekasan saling beradu argumen dengan ragam kitab kuning di tangannya. Sekitar 3 jam dihabiskan untuk berdiskusi guna mengupas tuntas 2 masalah, yaitu tentang penggunaan ruang kelas di luar peruntukannya dan khatib Jumat meninggalkan rukun/syarat khutbah.

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail LBMNU Pamekasan Berlangsung Seru

Sebagaimana dimaklumi, deskripsi masalah yang pertama berangkat dari fakta yang sering terjadi di Madura. Ada suatu yayasan mengelola beberapa unit lembaga, yaitu PAUD, RA/TK, MI/SD, MTs/SMP, dan MA/SMA/SMK yang waktu pelaksanaannya dilaksanakan pagi hari, juga Madrasah Diniyah yang waktu belajarnya sore atau malam hari.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari deskripsi masalah tersebut, diajukan 2 pertanyaan. Pertama, bagaimana hukumnya menggunakan ruang kelas yang peruntukan bantuannya untuk MI dipergunakan oleh unit lembaga yang lain yang waktu belajarnya bersamaan? Kedua, bolehkah unit lembaga yang waktu belajarnya tidak bersamaan dengan MI seperti Madrasah Diniyah mempergunakan ruang kelas tersebut, mengingat tidak sesuai peruntukan dan pada saat itu tidak dipakai?

Adapun deskripsi masalah berikutnya juga berangkat dari kenyataan. Pasalnya, khatbah Jumat termasuk salah satu syarat sahnya sembahyang Jumat. Dalam khatbah tersebut ditentukan rukun dan syarat sahnya. Berkaitan dengan hal tersebut, terjadi dalam pelaksanaan sembahyang Jumat seorang khotib meninggalkan salah satu syarat atau rukun khutbah. Mamum tahu, sembahyang lagi di rumahnya dengan niat sembahyang Zuhur.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ada 2 pertanyaan yang diajukan. Pertama ialah wajibkah mamum mengingatkan khotib tersebut dan bagaimana caranya? Kedua, kalau khotib diingatkan tetap tidak menghiraukan, apa yang harus dilakukan mamum selanjutnya?

Dari penelusuran kitab kuning yang dilakukan peserta bahtsul masail, dicetuskanlah beberapa jawaban atas permasalahan di atas.

Jawaban dari permasalahan yang pertama ialah tidak boleh, kecuali ada qorinah yang dikembalikan kepada urf.

Adapun permasalahan yang kedua dijawab wajib, cuma cara menegur khotib masih mauquf, belum disepakati.

Tetapi dalam sambutannya, ketua NU Pamekasan KH Abd Ghoffar menegaskan bahwa takmir masjid punya wewenang untuk menegur dan meluruskan kesalahan khutbah Jumat dari khotib dimaksud.

Redaktur : Sudarto Murtaufiq

Kontributor : Hairul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal PonPes, Ulama, Humor Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

NU Pasca-Peristiwa Aksi 212

Oleh Fatih Maftuh

212—sebutan aksi super damai Jumat, 2 Desember 2016 di kawasan Monas Jakarta—konon mencengangkan dunia. Aksi massa yang biasanya dalam hitungan puluhan ribu orang, 212 memobilisasi ratusan ribu. Aksi massa besar yang biasanya dibumbui praktek rusuh, 212 berlangsung sangat damai. Aksi massa akbar yang biasanya menyisakan sampah dan pengrusakan taman, 212 berakhir dengan kesan bersih dan rapih. 212 banjir pujian publik. Ingat sambutan dan pekik takbir Presiden Joko Widodo usai Jumatan bersama jamaah Aksi?

NU Pasca-Peristiwa Aksi 212 (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pasca-Peristiwa Aksi 212 (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Pasca-Peristiwa Aksi 212

Masih misteri bagaimana 212 bisa terorganisasi. Adakah karena FPI Habib Rizieq? Selama ini pengerahan massa FPI dalam berbagai momen hanya bergerombol dan terkenal anarkis atas nama nahi munkar. Adakah karena isu penistaan agama? Bukan kali ini saja isu penistaan kitab suci mengemuka. Adakah karena semangat khilafah? Dalam urusan ancaman atas NKRI, Polri dan TNI tidak mungkin mentoleransi. Adakah karena sentimen Wahabi? Aliran ini tidak lazim dengan demo dan festival shalawatan. Adakah karena kepentingan Pilkada DKI? Massa 212 melibatkan peserta dari berbagai daerah yang tidak ada hubungannya dengan DKI. Demikian misteri sehingga 212 diglorifikasi sebagai gerakan suci atas nama Tuhan. Konsekuensinya, upaya? merasionalisasikan 212 atau apatis dengan 212 --apalagi mengkritisinya--? menjadi sasaran buli.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Adalah Nahdlatul Ulama (NU) korbannya. NU dibuli habis di medsos. Seabrek sebutan negatif menyasar para tokoh dan pengurus NU. Resonansi Islam Nusantara yang menjadi trade-mark NU bagai tenggelam dalam kubangan hina versus Islam militan. Aktivis NU merasa kewalahan dengan arus cacian dan olok-olok. Bahkan tidak sedikit di antara Nahdliyin sendiri pun termakan dan larut dalam tradisi buli --melupakan martabat kiai.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jamiyyah NU memang tidak mendorong warganya untuk ikut dalam 212. PBNU melalui Lembaga Bahtsul Masailnya mengeluarkan simpulan tidak sah bershalat jumat di jalan umum. Salah seorang tokohnya men-tweet kalau rencana shalat di sepanjang jalan MH Thamrin itu bidah besar. Alih-alih ikut 212, pesantren-pesantren Nahdliyin seperti Lirboyo, Tebuireng, Langitan, Sarang, Lasem, Kajen, dan Babakan Ciwaringin lebih asyik mengaji sebagaimana kesehariannya.

212 sudah berlalu. Apa akan ada aksi serupa atau aksi lanjutan ke depan? Belum ada berita resmi. Bagaimana dengan NU? Apa akan ada reposisi sebagai adjustment atas dampak 212? Ataukah NU akan terpolarisasi antara NU Rais Am dan NU Ketua Umum? Ataukah NU akan semakin mengkristal dalam watak kebangsaannya? Sambil menuggu perkembangan apa yang akan terjadi dengan NU paska 212, beberapa catatan kecil berikut mungkin bisa diperhatikan.

Tradisi konflik dalam sejarah NU sudah menjadi watak. Pernyataan ini jangan buru-buru diterima. Ada catatannya, yakni bahwa konflik dalam tradisi NU bukanlah pertengkaran atau perseteruan, tetapi lebih pada perbedaan pendekatan dalam merespons permasalahan. Sebabnya sederhana, yakni adanya independensi pada setiap kiai, karena satu sama lain tidak ada pretensi saling menguasai. Bukankah jamiyyah bertugas untuk menyatukan? Memang. Tetapi dalam NU, persatuan tidak menafikan kemandirian dan perbedaan. Fenomena inilah yang sering dipahami di permukaan sebagai konflik.

Tidak dipungkiri NU lekat dengan kultur Jawa-santri. Ciri menonjol kultur ini adalah respek terhadap habaib di satu sisi dan respek terhadap budaya lokal di sisi lain. Apa yang diminta dan diperintah Habaib hampir pasti dijalankan. Namun dalam keseharian Nahdliyin berbaur dengan kehidupan masyarakat sebagaimana adanya. Para kiai bersedia menemani kalangan yang minimalis dalam beragama. Tidak heran jika simbol kekiyaian tidak selalu identik dengan nuansa Arab. Santrinisasi yang dilakukan kiai lebih bersifat substantif sehingga terkesan membela budaya lokal dari pada budaya Arab.? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Corak pemikiran keagamaan di kalangan NU sederhananya bergerak antara fiqh dan tasawwuf. Interaksi antara dua pendekatan yang menonjol ini membuat produk pemikiran NU tegas tetapi lentur. Tegas dalam kedudukan hukumnya, tetapi lentur dalam proses penerapannya. Dalam banyak kasus, kesan lentur lebih dominan sehingga dianggap plin-plan oleh kalangan yang ketat dengan syariah. Walaupun, dalam kenyataannya, kelenturan itu justru menguntungkan kepentingan orang banyak.

Pola politik NU lebih menekankan komitmen kebangsaan. Ini berbeda dengan pola politik Islam-puritan yang bersikeras menerapk? n syariah sebagaimana dipahaminya. Bagi kelompok ini, sebuah negara-bangsa harus tunduk pada formalitas Islam. Sementara bagi NU, Pancasila adalah asas final NKRI. Menjalankan Pancasila adalah menjalankan Islam. Walau bernama Pancasila, ideologi negara ini sejalan dengan ajaran Islam sebagaimana diperjuangkan para kiai yang ikut menyusun konstitusi negara ini. Sebaliknya, menjalankan apa yang disebut syariat Islam dengan menentang Pancasila, akan membahayakan NKRI dan pada gilirannya merugikan perjuangan Islam yang sebenarnya. Dengan Pancasila, hubungan Islam dan negara dipandang sudah selesai. Posisi ini bukan tanpa argumen al-Quran dan al-Hadits sebagaimana lazimnya para kiai berfikir dan bertindak.

Demikian total komitmen NU terhadap Pancasila dan NKRI sehingga siapa saja yang menyelewengkan atau berusaha memecah belahnya, akan dilawan habis. Dalam sejarah, NU tidak ragu berjihad untuk mengusir penjajah yang melanggar kedaulatan NKRI. Sejarah juga mencatat kegigihan relawan Nahdliyin dalam mengganyang PKI yang mempreteli Pancasila. Begitupun NU tidak mentoleransi gerakan pendirian Negara Islam yang akan menggantikan NKRI. NU sangat sadar mana gerakan Islam sebagai sebuah dakwah amar makruf nahi munkar dan mana gerakan Islam sebagai alat pemburu kepentingan.

Gerakan politik Islam dimungkinkan muncul dalam alam demokrasi. Bahkan tidak jarang resonansinya mencuat begitu kuat dan memukau. Kalangan a-historis mudah termakan dan larut begitu saja dalam jargon-jargon kitab suci yang diusung politik Islam ini.? Dalam waktu bersamaan, gerakan kebangsaan berbasis budaya lokal tidak jarang menunjukan posisi alergi terhadap peran agama. Arti dan peran ajaran agama direduksi dan bahkan cenderung dinafikan. Kekuatan moral agama pun cenderung terabaikan alias dijauhkan dari Pancasila. Dua arus dan pola politik ekstrem ini akan terus bertarung dan seringkali mempertaruhkan keberlangsungan NKRI. Adalah NU—dari kalangan Islam—yang mengambil posisi penyeimbang dan pemersatu, konsisten dengan Pancasila dan setia dengan NKRI.

Dinamika dan konstalasi politik terus bergerak. Kehadiran NU sangat vital dan menjadi target perhatian semua faksi. Dengan pengalamannya yang panjang dan pola keberagamaannya yang istiqamah dan toleran, NU harus semakin cerdas dan berani. Penetrasi politik Islam belakangan sangat tinggi sebagai reaksi atas kekuatan politik kebangsaan yang mendominasi berbagai lini pemerintahan. Sangat mungkin muncul reaksi balik yang menekan politik Islam pada gilirannya. Pertarungan boleh jadi akan terus memanas, tetapi politik adiluhung NU harus terus hidup dan menjadi pemersatu semua elemen bangsa. Tidak dalam posisi terjepit, melainkan dalam posisi terdepan untuk mengawal Pancasila dan menjaga keutuhan NKRI. Wallahu alam bish-shawab.

Penulis adalah Alumni Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Keraton Yogyakarta menggelar upacara Grebeg Syawal, Kamis (8/8). Ratusan warga yang mengikuti acara tersebut berebut Gunungan Lanang yang merupakan sedekah dari Raja Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X pada 1 Syawal 1434 Hijriyah.

Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

Grebeg Syawal Keraton Yogyakarta

Pihak Keraton mengeluarkan tujuh buah gunungan yang terdiri dari tiga Gunungan Lanang (putra), dan tiga Gunungan Estri (putri) serta satu Gunungan Awohan (buah). Tujuh gunungan yang terdiri dari buah-buahan dan hasil bumi lainnya dihantarkan dari Bangsal Ponconiti Keraton Yogyakarta menuju Masjid Gedhe Kauman, Pura Pakualaman dan Kepatihan mulai pukul 10.00 WIB.

Selanjutnya gunungan yang dikenal dengan nama Gunungan Lanang ini akan diperebutkan oleh masyarakat yang hadir. Menurut kepercayaan, mereka yang berhasil memperoleh hasil bumi dari gunungan akan mendapatkan berkah dari Yang Maha Kuasa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Diantara warga yang hadir, Jaya, menuturkan dia rutin mengikuti acara ini setiap tahunnya. "Saya selalu mengajak anak dan istri saya agar nanti tetap bisa nguri-uri kebudayaan dan bisa menjadi pembelajaran bagi anak saya juga," ungkapnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun ini tidak lepas dari pengaruh Islam di Jawa. Grebeg ini merupakan wujud ucapan terima kasih pada Tuhan karena telah berhasil menjalankan ibadah puasa selama 1 bulan, juga sebagai ritual dalam menyambut tahun baru Hijriah atau Islam.

 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Ajie Najmuddin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, PonPes, Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pendidikan agama saat ini masih terhenti pada pengajaran ilmu agama, belum mencapai internalisasi nilai.? Pendidikan agama masih lebih terfokus pada aspek afektif, bukan kognitif.

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Tholchah: Guru Agama Tak Sekedar Pendidik Profesional

“Pendekatannya masih pada a’malul jawarih (gerak tubuh), tidak sampai a’malul qulub (ketergerakan hati: red),” kata Mustasyar PBNU KH Tholchah Hasan, ketika menjadi narasumber dalam Temu Pakar Pendidikan Islam: Deradikalisasi, Multikultural, Wawasan Kebangsaan, serta PenguatanAkhlakul Karimah, di Jakarta, Senin (24/9).

Dalam kesempatan itu, Kiai Tholchah mempertanyakan pencapaian pendidikan agama selama ini. “Banyaknya perilaku menyimpang di kalangan pemuda pelajar, seperti radikalisasi, narkoba, pergaulan bebas, dan kriminalitas, memunculkan pertanyaan tentang sampai di mana capaian dan pengaruh pendidikan Islam terhadap perubahan perilaku dan sikap peserta didik di sekolah,” ujarnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, tidak semua guru agama di sekolah mempunyai kelayakan mengajar agama, baik dari segi penguasaan bahan ajar, performa dalam menjalankan tugas, maupun keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Untuk itu, perlu adanya pembekalan berkesinambungan bagi peguatan penguasaan guru terhadap materi ajar.

“Guru agama selama ini lebih mencerminkan dirinya sebatas sebagai pendidik professional, tidak bisa menjadi pendakwah yang bertanggungjawab terhadap pendidikan spiritual,” katanya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Kiai Tholchah, di luar kompetensi pendidik yang diatur dalam PP 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khusus guru agama, harus ada 2 kompetensi yang dikuasai, yaitu: leadership dan spiritual. Jika tidak ada 2 kompetensi ini, pendidikan agama di sekolah terasa kering.

Ditambahkan, guru agama selama ini juga kurang menggunakan soft-skill secara kreatif sehingga sulit dalam membentuk lingkungan keagamaan yang mendukung. Selain itu, apresiasi dan dukungan komunitas sekolah juga sering kurang memadai. Akibatnya fasilitas dan sarana pembelajaran pendidikan agama sangat terbatas.

Lebih dari itu, pendidikan agama sebagai saranan pembentukan karakter luhur, membutuhkan figur keteladanan (uswah hasanah). Tanpa itu, pendidikan agama akan kering dan hambar.?

Sayangnya, tambah Kiai Tholchah, keteladanan justru mulai langka di sekolah. Guru agama bahkan tidak mampu menjadi teladan di sekolahnya. Banyak guru agama yang minder di sekolahnya, dan merasa lebih rendah di banding guru lain.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Sumber ? : Kementerian Agama

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriyah PBNU KH Hasyim Muzdi menyatakan paham Sunni maupun Syiah yang dianut oleh masyarakat di Madura itu masih menjadi bagian dari Islam. 

Kiai Hasyim menyatakan hal itu di Malang, Sabtu, 1 September. Untuk meredam sekaligus mengupayakan penyelesaian konflik antara Sunni dengan Syiah di Sampang, katanya, akhir pekan depan (8/9) dirinya bersama PWNU Jatim akan ke Sampang. 

KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Hasyim Muzadi: Syiah Bagian dari Islam

"Sebaiknya para ulama ini melakukan dakwah yang isinya bimbingan dan penyuluhan serta argumen-argumen yang benar, jangan pakai kekerasan. Kelompok minoritas itu kalau dikerasi justru akan tambah militan," tandasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dan, tegasnya, yang lebih penting lagi, ulama yang tidak cocok dengan ulama lain jangan menggaet umat lainnya agar perbedaan paham ini tetap bisa hidup dan berkembang secara berdampingan tanpa harus melakukan kekerasan.

"Kita berharap masalah ini secara perlahan bisa dituntaskan dengan baik," tegasnya. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Hasyim juga mengakui, masyarakat di Madura cenderung lebih taat kepada ulama ketimbang ajaran yang termaktub dalam kitab suci (syariat). Oleh karena itu, peran ulama untuk mendamaikan dua paham yang berselisih ini sangat penting dan sentral.

"Oleh karena itu, para ulama di Sampang ini harus didukung dengan berbagai informasi yang lebih luas agar penyelesaian konflik tersebut lebih obyektif dan proporsional, apalagi ulama di Madura memiliki peran penting sebagai panutan umat," tegasnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Sumber   : Antara

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Amalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Kairo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. PM Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiahi Presiden Amerika Barack Obama sebuah cindera mata berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

Kantor berita Turki Cihan (17/5) melansir, Presiden Obama menggelar pertemuan khusus dengan PM Turki Erdogan sebelum digelarnya kongres umum Amerika-Turki di Gedung Putih, Washington DC.

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)
PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Sebelum pertemuan khusus itu, PM Erdogan terlebih dahulu memberikan cindera mata kepada Presiden Obama. Cindera mata tersebut berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Peristiwa pemberian cindera mata ini pun kini menjadi berita heboh di beberapa media Turki dan juga media-media Arab.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Penulis: Ahmad Ginanjar Syaban

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 11 Desember 2017

Di Zaman Fitnah, Syuriyah PCNU Jaksel Imbau Nahdliyin Kedepankan Tabayun

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Rais Syuriyah PCNU Jakarta Selatan KH Lukman Hakim mengingatkan masyarakat untuk mendahulukan husnuzzhan atau berbaik sangka terhadap orang lain. Menurutnya, di era sekarang ini orang mudah sekali menjatuhkan vonis terhadap orang lain tanpa melakukan tabayyun atau verifikasi terlebih dahulu.

Demikian disampaikan Kiai Lukman pada halaqah Aswaja An-Nahdliyyah yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) DKI Jakarta dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jakarta Selatan di aula Darul Marfu‘, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Ahad (17/9) siang.

Di Zaman Fitnah, Syuriyah PCNU Jaksel Imbau Nahdliyin Kedepankan Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Zaman Fitnah, Syuriyah PCNU Jaksel Imbau Nahdliyin Kedepankan Tabayun (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Zaman Fitnah, Syuriyah PCNU Jaksel Imbau Nahdliyin Kedepankan Tabayun

“Kita harus mengedepankan husnuzzhan. Sekarang masalah sepele itu dibesar-besarkan. Contoh, soal pesan singkat atau sms tidak dibalas saja, itu sudah nyangka macam-macam,” kata Kiai Lukman di hadapan peserta halaqah Aswaja An-Nahdliyyah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia mengingatkan warga NU untuk mewaspadai banjir informasi yang keluar-masuk lewat hape. Zaman ini, kata dia, banyak orang kerepotan memastikan kebenaran berita. Ia mengajak nahdliyin untuk menjauhkan diri dari su’uzhan hanya karena informasi yang tidak jelas sumbernya.

“Waspada terima informasi. Mana yang informasi yang provokatif dan mana yang hoaks itu sudah sulit dibedakan,” kata Kiai Lukman.

Halaqah ini diisi dengan dua sesi diskusi dengan tema berbeda. Satu sesi membahas materi Aswaja An-Nahdliyah mulai dari sikap keislaman hingga sikap kebangsaan. Sementara sesi kedua membahas dinamika NU paling aktual di lingkungan Jakarta Selatan mulai dari sikap politik hingga pembahasan plang NU di masjid-masjid. (Alhafiz K)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Santri, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017

Oleh Zamzami Almakki

Kebutuhan akan identitas visual hari ini semakin terasa. Tak lagi pada perusahan, produk, lembaga ataupun perseorangan, sebuah gelaran acara tahunan seperti HUT RI pun perlu ditandai dengan rangkaian angka yang bisa dibedakan rupanya pada setiap tahunnya. Begitu pula dengan gelaran acara Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Kongres Besar Nahdlatul Ulama yang akan dilaksanakan pada tanggal 23-25 November 2017 di Lombok.



Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Balik Logo Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2017

Dari brief yang disampaikan, diketahui bahwa event ini mengusung tema Memperkokoh Nilai Kebangsaan melalui Gerakan Deradikalisasi dan Penguatan Ekonomi Warga? ini akan dihadiri oleh alim ulama serta para pengurus pusat serta wilayah Nahdlatul Ulama.

Persoalan logo merupakan persoalan lampau, Adams dan Morioka (2004) menengarainya semenjak peradaban-peradaban tertua seperti Mesopotamia dan Mesir dalam menandai atau kepemilikan akan sesuatu.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam perancangan logo Munas Konbes NU 2017 terdapat dua proses dalam pembentukannya. Pada proses awal pembentukan logo, konsep yang diusung adalah letterforms yang metaforis. Ide dasar dalam konsep tersebut adalah ide tentang keberadaan alim ulama. Alim ulama secara umum diartikan sebagai orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya.

Lazimnya, penanda yang berkaitan dengan ilmu adalah buku dan pena, seperti halnya yang redundan bermunculan pada logo lembaga-lembaga pendidikan dan pengajaran. Dalam hal ini, yang dibicarakan bukanlah ilmunya, tapi subyek yang memiliki ilmu, sehingga apabila meminjam cara pikir yang serupa, penanda yang memungkinkan adalah orang yang memegang buku atau tangan yang memegang pena di atas buku.

Namun, logo memiliki kode-kode/aturan yang berbeda dari ilustrasi dan pictogram, seperti halnya yang terjadi pada logo Apple versi pertama yang dibuat oleh Roy Wayne (1975, Newton under his apple tree)? dan ketiadaannya sendok garpu untuk logo restoran, sehingga hal tersebut kecil kemungkinannya menjadi dasar penciptaan logo. Alim ulama atau orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya, seringkali dikiaskan bagaikan penerang atau pelita, karena ilmu disamakan kedudukannya sebagai cahaya (nur).?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Penanda-penanda untuk penerang atau pelita atau benda bercahaya teramat banyak tersedia: dari matahari, bohlam lampu hingga lilin. Namun, sebagaimana yang tertera di konsep yakni letterforms yang metaforis, maka dicarilah huruf yang dapat mereprepresentasikan alim ulama yang berarti penerang atau pelita,? yakni ‘ain yang diserupakan dengan lentera.

‘Ain mewakili alim ulama dan bentuk lentera sebagai kendaraan (vehicle) dalam mengantarkan makna (tenor) orang yang berilmu yang mengamalkan keilmuanya yang seringkali diibaratkan pelita yang menerangi kegelapan. Komposisi logogram yang dihasilkan menghasilkan komposisi simetris dan warna hijau mengguyur seluruh logo, agar menjadi kesatuan (unity) saat disandingkan dengan logo NU yang dibuat oleh KH. Ridwan Abdullah (1884-1962).?



Pada proses kedua dari pembentukan logo, konsep dan perancangan sebelumnya mengalami perkembangan. Berpijak pada hasil diskusi atas hasil perancangan, perlu adanya penambahan konteks yakni ke-Indonesia-an dan tempat berlangsungnya acara. Pada konteks ke-Indonesia-an, merujuk pada perancangan logo Munas Konbes 2012 Cirebon, yakni warna merah putih. Konteks tempat berlangsungnya acara yakni di Lombok ditampilkan tidak melalui penanda yang umumnya digunakan yakni ornamen/ragam hias, melainkan berasal dari julukan Lombok sebagai Pulau Seribu Masjid, sehingga ornamen dapat dijadikan elemen hias pada berbagai aplikasi logo.? ?



Dari proses perancangan yang telah dilakukan, dapat dipetik pelajaran bahwa bentuk apa pun yang muncul dari konsep perancangan, pada akhirnya logo dibagun atas kesepakatan/konvensi. Sebagai sebuah kesepakatan, yang menyapakati bukan hanya antara perancang logo dan pemakai logo dalam hal ini panitia Munas Konbes NU 2017, tapi pada akhirnya juga peserta dan warga Nahdlatul Ulama.

? ?

Perancangan logo Munas Konbes NU 2017 merupakan kesempatan kedua kalinya bagi saya ikut andil dalam event yang dilaksanakan oleh Nahdlatul Ulama. Kesempatan pertama merupakan sayembara desian logo Muktamar ke-33, dan kesempatan kedua ini melalui keberadaan Komunitas Desain Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal atau biasa disingkat KoDe Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.?

*Penulis adalah santri dan dosen Desain Komunikasi Visual Universitas Multimedai Nusantara; pembuat logo Munas Konbes NU 2017

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 17 November 2017

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Penulisan sejarah hidup dan perjuangan ajengan Sunda (Jawa Barat) masih terbilang langka, termasuk di Cianjur. Padahal daerah tersebut banyak melahirkan ajengan yang memiliki jaringan kaliber nasional, bahkan yang dikenal sampai mancanegara.

Perjuangan para ajengan yang senantiasa menjadi pemimpin dan panutan masyarakat tidak kecil. Selain mencerdaskan masyarakat, mereka juga bahkan memperjuangankan dan merebut kemerdekaan. Namun, sekali lagi, peran para ajengan tersebut masih dalam cerita lisan.?

Oleh karena itulah Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin mengupayakan menuliskannya pada buku berjudul “Ulama Jumhur dari Cianjur”. Menurut penulis buku tersebut, pada pengantarnya, memamg sejarah dan perjuangan ajengan terus hidup karena diceritakan dari mulut ke mulut.

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendokumentasikan Kisah Ajengan dari Mulut ke Mulut

Namun, cerita tersebut dikenal terbatas pada lingkup keluarga pesantren dan para santrinya. Sebagian ada yang dituliskan dalam bentuk selebaran yang dibuat pada momentum haul seorang ajengan, sebagian di beberapa media cetak dan daring. (hal. Xiiv)

Kedua penulis mengaku mendasarkan penulisannya pada sumber tersebut, pihak keluarga dan para santri ajengan-ajengan tersebut.?

Buku menyebutkan, sebetulnya Cianjur dihuni manusia sejak 3000-4000 tahun lalu. Bukti keberadaannya adalah situs gunung Padang, berupa bukit batu megalitikum. Hanya punden berundak itu yang menunjukkan adanya ciri-ciri bahwa manusia pernah ada waktu itu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kemudian penulis menarik sejarah pendirian Cianjur dari masa datangnya Dalem Cikundul atau dikenal sebagai Raden Aria Waratanudatar I. Ia adalah putra dari Wangsa Goparana, keturunan Prabu Siliwangi yang telah memeluk agama Islam.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Raden Aria Waratanudatar I mendapatkan tugas dari ayahnya untuk menyebarkan Islam ke wilayah Priangan Barat dengan menetap di daerah Cianjur sekarang. Ia hijrah ke daerah itu dengan membawa sekitar 313 kepala keluarga.?

Sebelumnya, ia pernah nyantri di sebuah pesantren di Gunung Jati, Cirebon. Sehingga suasana keberagamaan Islam di wilayah barunya itu sangat terasa karena dipimpin seorang dalem yang ahli agama. Dalem inilah yang kemudian banyak melahirkan kiai. (hal 8-10).?

Buku ini memuat 25 profil ajengan. Mereka adalah kiai yang lahir di Cianjur dan menyebarkan agama di Cianjur seperti Mama Ajengan KH Ahmad Syatibi, beberapa kiai kelahiran Cianjur yang terkenal di luar daerah seperti Mama Ajengan KH Abdullah bin Nuh, kiai yang dibuang Belanda ke Cianjur yaitu KH Asnawi Banten, kiai kelahiran daerah lain yang terkenal yang sebelumnya pernah berguru di Cianjur seperti KH Sohibul Wafa Tajul Arifin (Abah Anom), serta kiai dari luar negeri (Singapura) yang memiliki hubungan dengan Cianjur, Guru Haji Isa.?

Salah satu kiai dalam buku tersebut adalah Mama Ajengan Syatibi. Ia adalah guru dari ajengan-ajengan Jawa Barat. Silsilah leluhur terhubung kepada Rasulullah SAW karena masih keturunan Syekh Abdul Muhyi Pamijahan, Tasikmalaya.?

Pada masa nyantrinya, Mama Ajengan Syatibi dikenal cerdas. Pada usia 16 tahun, ia berguru kepada Mama Ajengan Adzro’i, Garut. Di pesantren tersebut ia mampu menghafalakan kitab Nadhom Al-Maqsud, Kailany, Amrity, Alfiyah ibnu Malik, Samarqandy, Jauhar Maknun, dalam waktu 40 hari.?

Mama Syatibi kemudan berguru kepada Mama Gudang, Tasikmalaya, selama 9 tahun. Kemudian melanjutkan pencarian ilmunya ke tanah suci Makkah, kepada Syekh Hasbullah.?

Ada cerita kecerdasan Mama Syatibi ketika berguru kepada Syekh Hasbullah. Suatu ketika, Syekh Hasbullah meminta semua muridnya untuk meneliti kitab Tuhfatu Muhtaj kemudian menuangkan penelitian tersebut dalam bentuk catatan. Para muridnya mengikuti anjuran tersebut, termasuk Mama Syatibi.?

Keesokan harinya, Syekh Hasbullah memeriksa buku muridnya. Ia tertegun ketika mendapati catatan Mama Syatibi.?

Kemudian Syekh Hasbullah mengatakan kepada murid-muridnya bahwa pengajian kitab Tuhfatul Muhtaj dibatalkan karena ia harus berguru terlebih dahulu kepada Mama Syatibi. (hal. 26)

Namun sayangnya, buku tersebut tidak melacak secara detil tahun-tahun penting dan karya para ajengan tersebut. Serta banyak salah ketik yang tidak perlu, yang tentunya mengganggu pembaca. Dan tentu saja, sebagaimana diakui penulisnya, masih banyak fragmen hidup kiai yang ditulis yang tidak tercantum. Juga ajengan-ajengan lain yang belum termasuk dalam buku tersebut.?

DATA BUKU

Judul : Ulama Jumhur dari Cianjur

Penulis ? ? ? ? : Rudy Asyarie dan Ending Bahrudin

Penerbit : Yaspumah Cianjur

Cetakan 1 : 2016?

ISBN : -

Tebal : 120 halaman

Peresensi : Abdullah Alawi

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Olahraga, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 03 November 2017

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

Medan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa membawakan mainan masak-masakan dan diecast pesawat berwarna putih untuk Balita Kinara (4) korban selamat pembunuhan sekeluarga di Medan, Sabtu (15/4).?

Khofifah menjenguk Kinara sekembalinya dari Aceh Tenggara mengunjungi korban longsor dan banjir bandang. Kirana dirawat di RSUP H Adam Malik Medan setelah menjalani operasi pembekuan darah di bagian kepala.?

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Besuk Kinara, Balita Selamat Pembunuhan Satu Keluarga di Medan

"Dua mainan itu adalah permintaan khusus Kinara jadi sebisa mungkin dipenuhi, terutama diecast pesawat berwarna putih," ungkap Khofifah.?

Khofifah juga membawakan tas sekolah, tempat makan dan minum, buku cerita anak, susu, dan pampers. Seluruh bingkisan itu sengaja dibawa Khofifah guna menghibur Kinara.?

Melihat bingkisan tersebut, Kinara langsung meresponnya lalu bangun dan ikut bermain. Balita perempuan tersebut terlihat begitu gembira.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Khofifah, Balita Kinara dipastikan mengalami trauma mendalam setelah menyaksikan pembunuhan kejam yang dilakukan oleh Andi Lala yang masih memiliki hubungan saudara.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kami akan lakukan assesmen terlebih dahulu, setelah itu dilakukan pendampingan oleh tim psikososial," ujarnya.

Lama pendampingan, lanjut dia, minimal dilakukan selama tiga bulan kedepan. Setelah itu, akan dilakukan secara berkala sesuai keadaan psikologi Kinara.?

Menurut Khofifah, hal terpenting saat ini adalah memastikan Kinara memperoleh perlindungan, pengasuhan, dan pemenuhan kebutuhan utamanya dari keluarga inti. Dengan demikian kesejahteraan Kinara dapat lebih terjamin.?

"Saya harap keluarga yang ditunjuk menjadi wali bisa memberikan perlindungan dan pengasuham yang baik kepada Kinara," tuturnya.?

Sebelumnya, kejahatan menimpa dan menewaskan satu keluarga di Medan, Ahad (9/4/2017) lalu. Para korban adalah pasangan suami istri Riyanto (40) dan Sri Ariyani (35), serta dua anak, Naya (13), dan Gilang (8). Mereka warga Jalan Kayu Putih, Gang Benteng, Mabar, Medan Deli. Sumarni (60), mertua Riyanto, juga meninggal. Mereka warga Jalan Kayu Putih, Gang Benteng, Mabar, Medan Deli.?

"Semoga seluruh korban diterima Allah SWT dan Kirana bisa melanjutkan hidup lebih baik dan mampu melupakan kejadian ini," tutup Khofifah. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 25 Oktober 2017

KH Musthafa Aqil: Hanya Pemilihan Kuwu, Santri Jangan Diminta Pulang

Cirebon, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Pengasuh Pesantren Kiai Haji Aqil Siroj (KHAS) Kempek KH Musthafa Aqil Siroj mengajak segenap wali santri untuk mengikhlaskan anaknya untuk mengaji dan belajar dengan fokus di pesantren. Kiai Mushtafa meminta wali santri untuk memercayakan masa pertumbuhan anak mereka dilewati dalam kultur keseharian pesantren.

Demikian disampaikan Kiai Musthafa Aqil di hadapan sedikitnya 2000 hadirin pada pembukaan Rapat Pleno Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) di arena rapat, Pesantren Kempek, Kabupaten Cirebon, Ahad (24/7) siang.

KH Musthafa Aqil: Hanya Pemilihan Kuwu, Santri Jangan Diminta Pulang (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Musthafa Aqil: Hanya Pemilihan Kuwu, Santri Jangan Diminta Pulang (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Musthafa Aqil: Hanya Pemilihan Kuwu, Santri Jangan Diminta Pulang

“Biarkan anak-anak ngaji dulu. Biarkan mereka fokus belajar di pesantren,” kata Kiai Musthafa Aqil yang juga Rais Syuriyah PBNU.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia melanjutkan, pengasuh pondok mendidik para santri untuk betul-betul “berkhalwat” dalam mengaji dan belajar. Di pondok para santri tidak diperkenankan menggunakan fasilitas yang mengganggu konsentrasi mengaji dan belajar.

“Mereka tidak pegang hape, nonton televisi di pesantren. Tapi kadang orang tuanya yang mengajarkan sebentar-sebentar pulang. Ada pemilihan kuwu, santri diminta pulang. Saudaranya sunatan, kawinan, santri diajak pulang,” kata Kiai Musthafa Aqil. (Alhafiz K)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaNu, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock