Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Oleh Aswab Mahasin

Saya akan memulai tulisan ini dengan diskursus seorang atheis Will Durant, “Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah dibunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia dibunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.” Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “dimanfaatkan” dan “bermanfaat”. Agama dimanfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar difungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri, sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Namun, kedua posisi itu tidak bisa dielakan dalam situasi dan dinamika sosialyang terus berkembang. Memang, agama tidak berubah, tetapi agama dianut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individudalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, diberbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi disemua lapisan pemeluk agama, agama apapun mengalami hal yang sama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”. Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila ditatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”. Artinya, Nabi Muhammad Saw ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan demikian, secara alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun). Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, berdampingan dan bersamaan. Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.?

Misalnya dikatakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia. Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia. (Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA, dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya berhenti pada ajaran-ajaran kaku. Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah. Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.?

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak berimbang.Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa dikontrol apalagi dibatasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan dilakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.?

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya. Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis. Tidak hanya umat Islam, melainkan semua umat dari berbagai agama.”

Kita bisa lihat juga potret yang berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional, dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini didengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt). Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah dicetuskan oleh Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006)

Hal tersebut adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat. Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu.?

Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya satu kiblat pengetahuan. Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan. Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan dengan iman kita.?

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah di mana Islam mampu mewarnai perubahan dunia. Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama, melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk merespon dinamika sosial. Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.?

Lain lagi dengan Munawir Syadzali lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang harus dikedepankan. (Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual. “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama khususnya sejarah yang berkembang. Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide, respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda. Namun, tetap dilandasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi motivasi buat kitas semua, “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul Ulama, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Menganiaya Anjing?

Sebagian umat Islam mungkin beranggapan bahwa anjing adalah hewan yang paling menjijikan setelah babi. Saking jijiknya, tak jarang ditemukan di beberapa perkampungan, anjing dijadikan objek kekesalan dan kemarahan. Setiap ada anjing yang lewat, entah apa salahnya, tubuhnya selalu dihujani dengan batu-batu. Anjing malang itu pun lari sambil terkaing-kaing.

Sikap antianjing ini sekilas memang memiliki dukungan dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)
Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)

Menganiaya Anjing?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh anjing kecuali anjing pemburu, anjing penjaga gembala dan penjaga ternak.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berdasarkan hadits ini dipahami bahwa diperbolehkan membunuh anjing yang tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia. Bila dia bisa digunakan sebagai penjaga gembala, rumah, dan ternak, kita tidak diperbolehkan membunuhnya.

Akan tetapi, sebenarnya para ulama berbeda pendapat mengenai makna dan maksud hadits di atas. Ada yang memahami larangan Nabi dalam hadits tersebut dikhususkan untuk anjing yang membahayakan saja, karena konteks kemunculan hadis ini di saat banyaknya anjing yang mengganggu dan membahayakan manusia.

Ada pula yang berpendapat bahwa hadits membunuh anjing sudah di-nasakh (dihapus) oleh hadits lain yang menunjukkan larangan membunuhnya. Maka dari itu, Imam al-Harmain (Abu Ma’ali al-Juwaini) menuturkan dalam karyanya Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?.

Anjing yang tidak bisa dimanfaatkan dan tidak pula membahayakan, tidak boleh dibunuh. Kami telah menjelaskan permasalahan ini dalam pembahasan “Perburuan Pada Waktu Manasik” ketika menyinggung hewan-hewan fasik (berbahaya). Memang ada riwayat sahih yang menyatakan Nabi SAW memerintah membunuh anjing dan kemudian pada satu riwayat dikatakan Nabi SAW melarangnya. Penjelasan rinci masalah ini sudah kami jelaskan. Sesungguhnya perintah Nabi untuk membunuh anjing hitam itu sudah di-nasakh (dihapus).

Pada hakikatnya, manusia tidak hanya dituntut menghormati sesama manusia. Binatang dan tumbuhan pun perlu dijaga, dirawat, dan dilindungi kehidupannya. Demikian pula dengan anjing walaupun ia termasuk hewan yang diharamkan secara syariat. Tetapi bukan berarti ia boleh disakiti ataupun dibunuh dengan seenaknya.

Ia boleh dibunuh bila membahayakan dan merusak kenyaman manusia, misalnya anjing gila. Sedangkan anjing yang tidak berbahaya sekalipun tidak ada gunanya, tidak dibolehkan bagi kita untuk menyakiti dan membunuhnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Cerita, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 13 Februari 2018

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai

NU tak dipisahkan dengan pesantren. Ketika regenerasi di pesantren mandek, maka akan mandek juga di NU. Sehingga butuh pengkaderan yang khusus untuk putra-putri kiai agar pesantren tetap jalan. Ketika itu berhasil, akan membantu untuk mendinamisasi NU yang pada gilirannya untuk bangsa Indonesia.?

Jadi, dengan demikian, kaderisasi dan regenerasi di pesantren tiada lain adalah untuk bangsa ini.?

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren, NU, dan Penggemblengan Putra-putri Kiai

Lalu bagaimana resep agar putra-putri kiai bisa menjalankan cita-cita NU dan bangsa ini? Pengasuh Pondok Pesantran Al-Huda Doglo, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, KH Habib Ihsanuddin bercerita pengalaman dan resepnya kepada Abdullah Alawi dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Berikut petikannya.?

Bagaimana caranya mempertahankan pesantren?

Pertama kiai itu harus ikhlas. Ikhlas itu adalah nilai tertinggi. Dia mendirikan pondok pesantren itu betul-betul dari lubuk hati untuk bisa bagaimana umat islam bisa paham terhadap agama. pertama kiai itu harus ikhlas. Kedua, kiai itu harus istiqomah di dalam mengajar karena tidak istiqomah ibaratnya seperti ayam mengerami. Kalau ayam itu dikerami, tapi tidak istiqomah, sering ditinggal pergi, ya tidak akan jadi, tidak akan menghasilkan kutuk yang sangat baik, bahasa jawanya kemelekeren atau gagal. Podok juga sama.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Yang kedua kalinya, pondok itu harus ditangani dinomorsatukan dari yang lain, tidak boleh dinomorduakan. Kalau dinomorduakan banyak sekali, seorang kiai punya pondok pesantren merangkap menjadi anggota DPR, ini akhirnya pondoknya yang akan kalah, jika dinomorduakan.?

Jadi istilah orang punya istri, harus dijadikan istri nomor satu. Jadi saya ini saya udah 53 tahun membina anak-anak dari nol. Saya mempelajari setiap pergerakan itu. Sering saya pergi begitu saja, anak-anak itu sudah bimbang tidak karu-karuan. Jadi harus istiqomah, ikhlas, tabah, tiga itulah yang menjadi sayarat untuk mempertahankan pesantren.?

Jadi, terutama sekarang ini. Sekarang ini NU dalah kekuatan Indonesia. Kekuatan NU itu di pondok pesantren. Contohnya yang memimpin NU kan kiai-kiai. Semua kiai keluaran dari pondok pesantren. Tidak ada kiai keluaran bukan pondok pesantren. Kiai mesti keluaran pesantren. Kita harus betul-betul memperhatikan permasalahan pondok pesantren ini karena ini adalah dasarnya NU, mempertahankan pondok pesantren berarti mempertahankan NU.?

Oleh karena itu, kalau sampai terjadi rencana pelajaran hanya lima hari dan 8 jam, ini yang akan akan kena akibatnya adalah pondok pesantren. Karena pondok pesantren itu rata-rata sekarang sudah diadakan pendidikan formal. Kalau 8 jam sampai jam empat, diniyah itu biasanya waktu sore, anak sudah payah, habis pikirannya, sehingga diniyahnya hilang, padahal diniyah itu bagian dari pondok pesantren. Oleh karena itu, NU melalui Rais ‘Aam menolak gagasan itu, saya dari pondok pesantren sangat-sangat setuju.?

Bagaimana supaya putra dan putri pesantren bisa melanjutkan perjuangan orang tuanya, salah satunya melanjutkan pesantren?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain mempelajari pelajaran agama secara paripurna, artinya tidak sepotong-sepotong, kalau tafsir Al-Qur’an ya 30 juz, kalau hadits ya namanya Muslim 4 jilid, Bukhori 4 jilid, dan dimulai dari bawah nahwunya, sharaf, badi’, ma’ani, bayan, balaghah sehingga dalam mempelajari agama itu betul-betul bisa paripurna, tidak sepotong-sepotong. Kemudian juga anak-anak itu di pondok itu harus diadakan sekolahan formal. Kalau tidak disertai dengan formal, sehingga katakanlah, dia bisa membaca kitab, tapi tidak bisa membaca tanda-tanda zaman. Oleh karena itu kedua-duanya harus ada. Dia nyantri, juga sekolah.?

Kemudian setelah ngaji, sekolah selesai, kemudian masuk organisasi, pendidikan yang sangat luar biasa organisasi itu karena banyak sekali kiai-kiai yang yang tidak berorganisasi itu enggak tahu keadaan sekarang seperti di Jakarta enggak tahu apa-apa, tapi masuk organisasi dari IPNU, Ansor, naik di NU, insyaallah akan tahu. Dia akan bisa. Selian itu juga harus sering membaca ya, bacaan-bacaan tujuan dia, membaca bukunya Pak Said Aqil, Gus Dur, Mbah Hasyim Asy’ari, sehingga kita akan bisa tahu para sesepuh dulu bagaimana perjuangannya. Juga para pimpinan sekarang. Kita kombinasikan. Insyaallah itu akan tahu tanda-tanda zaman.

Putra-putri kiai sebagai kader Ahlussunah wal-Jama’ah, bagaimana resep atau kunci mereka mengabdi di masyarakat?

Begini, yang pertama mengetahui bahwa ajaran Ahlussunah itu benar. Yakin. Kalau orang sudah yakin tidak mudah digoyah. Saya tiap bulan didatangi (dia menyebut nama sebuah organisasi), dari Solo, Yogya, dari pusat, mereka memberi penjelasan… Karena saya sudah yakin kepada kebenaran ajaran NU, ya tidak tergoyahkan. Perjuangan itu harus yakin dulu tentang apa yang diperjuangkan. Kalau tidak yakin, ya seperti orang-orang itu, pelacur politik, di sana tidak posisi pindah sini, di sini tak ada posisi pindah sana. Lha kalau kita didahului dengan yakin, kita tidak akan pindah. Kalau anda tidak bisa menyampaikan argumentasi yang bisa mengalahkan keyakinan saya, jangan harap saya ikut keyakinan saudara.?

Saya zaman Orba, didatangi tokoh-tokoh waktu itu, diberikan cek kosong untuk membangun pesantren, tidak bisa. Saya kalau tidak ada sangkut-pautnya dengan Islam, Islam tidak ada sangkut pautnya dengan Ahlussunah wal-Jama’ah, tidak. Yakin itu sudah ada. Kita sudah mempelajari tuntunan konsep-konsep Ahlussunah wal-Jama’ah dengan sungguh-sungguh sejak zaman Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari sampai Pak Idham Chalid, sampai sekarang, kita akan akan tahu programnya NU. Saya di hadapan orang-orang jenggotan, saya ini orang NU, didikan pesantren.?

Jadi, jika saudara mendengar dalil-dalil, argumen dari saya dalam debat nanti, itulah bahwa di Indonesia ada orang seperti saya, yang pendapatnya seperti saya, dahulu debat. Karena saya sudah yakin kebenaran jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Kemudian kita juga mengikuti perkembangan sekarang bagaimana berita, baik surat kabar, tv, buku-buku yang lain tentang doktrin Ahlussunah wal-Jama’ah. Itulah harapan kami.

Saya pernah didawuhi Pak Idham Chalid. Kalau ingin menjadi pemimpin itu, satu, jangan hasud. Jangan jadi orang dengki, iri hati. Itu harus dihilangkan dan jangan takut dihasudi. Jangan hasud dan jangan takut dihasudi.?

Saya tadi membaca orang yang menghasud Kiai Said Aqil. Tidak apa-apa, itu kan pendapat Saudara. Said Aqil tetap jalan terus, jangan berhenti. Menjalankan NU itu adalah menjalankan haq, menjalankan yang benar, jangan hasud, jangan dihasud. Orang yang hasud itu tidak akan menjadi pemimpin.?

Panjenengan semua itu harus bertanggung jawab, bahwa sespuh NU itu akan meninggal. Siapa lagi yang harus mengganti, ya kamu-kamu sekalian. Anak-anak muda itu harus mempersiapkan diri konsep-konsep NU, tujuan NU apa yang sekarang diperjuangkan NU, ini harus dipelajari di organisasi, mendapatkan gembelengan untuk memimpin. Pokoknya panjenegan harus bismillah siap untuk memikul tanggung jawab NU di masa yang akan datang. Benar, NU itu adalah haq, benar. Coba NU itu sudah berapa lama mau dihancurkan, sampai sekarang, tapi alhamdulillah wa qul jaal haqqu wazhaqal bathil innal bathila kana zahuqa.?

NU itu punya keistimewaan yang tidak dipunyai orang lain. Ya itu, masih banyak kiai yang ikhlas, masih banyak kiai yang memiliki karomah dan di dalam perjuangan itu tidak hanya pinter yang diajukan tapi syariat dengan haqiqat. Sebab syariat saja tanpa haqiqat itu, syariat hanya pintar saja, tidak disertai doa dan pendekatan kepada Allah, maka kosong, ibarat pohon tidak ada buahnya. Haqigar tanpa syariat, sampeyan berdoa saja, tanpa berjuang ngalor ngidul, ngetan ngulon, tidak mendirikan Pagar Nusa, tanpa Ansor, berdoa saja, klenik jadinya. Jadi kita harus syariat dan haqiqat besama-sama, insyaallah. Kepandaian dan wiridan yang ajeg, pondok pesantren itu tidak hanya dibangun semen dan beton dengna pasir, tapi panjang lagi harus dipndasi dengna prihatin, riyadlah supaya kekuatannya lahir batin.?

NU juga begitu. Saya akan selalu prihatin selain untuk pondok saya, saya juga insyaalah karena Idham Chalid mengatakan pesantren itu adalah ibarat ranjang dan kolong. Adanya NU adalah karena adanya pondok. Pondok itu karena yang mendukung orang NU. Syaiani mutalamijaini. Dua yang keberadaannya harus ada. Ada pondok ada NU. Ada pondok ada NU.?





Seandainya pondok itu berkurang atau bahkan tidak ada, bagaimana NU?

Saya rasa akan hancur. Karena NU itu dipimpin ulama. Ulama itu mesti lulusan pondok pesantren. Sampai detik ini belum ada ulama tidak tamatan pondok pesantren. Kalau ada ya ustadz. Jadi oleh karena itu, antara NU dan pondok pesantren harus ada. Ini menurut pendapat saya.?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 10 Februari 2018

Perkataan Gus Dur Jadi Motivasi Peraih Ikon Prestasi Indonesia Ini

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pegiat Gusdurian Lumajang Aak Abdullah Al-Kudus, terpilih menjadi salah satu tokoh yang terpilih dalam 72 Ikon Prestasi Indonesia, yang diserahkan dalam acara bertajuk Festival Prestasi Indonesia di Jakarta Convention Center (JCC) pada 21–22 Agustus 2017.

Pemuda dari Klakah, Lumajang, Jawa Timur tersebut mendapatkan prestasi karena dianggap berhasil dalam proses pelestarian dan penghijauan di Gunung Lemongan, Lumajang, Jawa Timur.

Perkataan Gus Dur Jadi Motivasi Peraih Ikon Prestasi Indonesia Ini (Sumber Gambar : Nu Online)
Perkataan Gus Dur Jadi Motivasi Peraih Ikon Prestasi Indonesia Ini (Sumber Gambar : Nu Online)

Perkataan Gus Dur Jadi Motivasi Peraih Ikon Prestasi Indonesia Ini

Bersama Laskar Hijau, kelompok sukarelawan peduli penghijauan, yang dibentuk pada tahun 2008, ia menanami pohon di sekitar Ranu Klakah dan Gunung Lemongan.

“Ranu Klakah perannya sangat vital untuk pertanian. Kelestarian Gunung Lemongan juga dapat membantu kelangsungan hidup 12 ranu yang ada di wilayah Kabupaten Lumajang dan Probolinggo, terang A’ak saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di Yogyakarta, belum lama ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sukarelawan Laskar Hijau umumnya adalah petani yang tinggal di sekitar Gunung Lemongan, seperti warga Desa Salak di Kecamatan Randuagung, Desa Sumberwringin di Kecamatan Klakah, Desa Sumber Petung di Kecamatan Ranuyoso, dan Desa Klakah di Kecamatan Klakah.

Mereka adalah orang-orang yang secara sadar tergerak untuk mengikuti gerakan menanam pohon yang dipelopori Aak. Jumlah sukarelawan Laskar Hijau sekarang 20-25 orang.

Mereka dengan sukarela mengeluarkan ongkos dari kantong pribadi untuk membiayai setiap kegiatan penanaman pohon di kawasan Ranu Klakah dan Gunung Lemongan.

Namun, jalan yang ia tempuh tak selalu mulus. Pada tahun 2007, pernah ia menyelenggarakan kegiatan kampanye pelestarian lingkungan yang dikemas dengan peringatan Maulid Nabi dengan tema “Maulid Hijau”.

Bukannya mendapatkan dukungan, acara tersebut justru difatwa sesat oleh MUI Lumajang. Namun, semangat untuk terus aktif dalam gerakan konservasi kembali mencuat setelah ia bertemu KH Abdurrahman Wahid.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Waktu itu saya dan Gus Dur talkshow di salah satu radio. Kongkow Bareng Gus Dur tentang kasus Maulid Hijau. Beliau setengah berbisik ke saya: yang sampeyan kerjakan itu benar, gak usah takut, teruskan saja,” kenang A’ak.

Perkataan Gus Dur itu lah yang membuat A’ak semakin bersemangat dan makin teguh untuk melanjutkan gerakan konservasi di Gunung Lemongan hingga kini. (Ajie Najmuddin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat

Jepara, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) IPNU-IPPNU kecamatan Kalinyamatan kabupaten Jepara memeriahkan Lebaran Ketupat dengan Karnaval Pesta Syawalan (KPS) dilaksanakan Senin (04/8) pagi.?

Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)
Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat (Sumber Gambar : Nu Online)

Karnaval IPNU-IPPNU Meriahkan Lebaran Ketupat

Kegiatan yang diikuti 6 tim, 5 IPNU-IPPNU Ranting dan 1 Remaja Masjid start dari pendopo kecamatan Kalinyamatan dan finish gedung MWCNU Kalinyamatan.?

Ahmad Alimul Hasan, ketua panitia menyatakan kegiatan bertujuan melestarikan budaya Islam di Indonesia. Disamping itu, Hasan menyampaikan sebagai wahana silaturrahim sesama Muslim, utamanya IPNU-IPPNU.?

“Momen ini menjadi wahana silaturrahim IPNU-IPPNU baik Ranting, PAC dan PC. Juga dengan sesama banom NU di kecamatan Kalinyamatan,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari silaturrahim tersebut kegiatan juga menjadi nuansa baru sekaligus hiburan positif baik untuk kader IPNU-IPPNU maupun khalayak luas.?

Ketua PAC IPNU Kalinyamatan, Rifqi Septian Prayogo menambahkan kegiatan untuk melestarikan program kerja. Rifqi menyebutkan sesuai dengan tema yang diusung Pelajar Hijau Peduli Palestina—pihaknya mengungkapkan hal tersebut sebagai bentuk kepedulian IPNU-IPPNU terhadap tragedi kemanusiaan yang terjadi di Gaza.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hal senada disampaikan Nur Faizin. Salah satu dewan juri tersebut menilai kegiatan menjadi menarik karena sesuai dengan kondisi kekinian.?

“Ini adalah bentuk kepedulian pelajar NU terhadap bencana yang terjadi di Palestina,” paparnya.?

Setelah proses penjurian yang diketuai Muhammad Khoironi memutuskan Juara I diraih PR IPNU-IPPNU Sendang dengan 7.445 disusul PR Kriyan dengan nilai 7.353 dan juara III PR Banyuputih dengan skor 7.155. Juara mendapat piala dan bingkisan dari panitia. (syaiful mustaqim/mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Tegal, Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 15 Januari 2018

Mengenang Munas Lombok 1997 dan Sedan yang Membawa Gus Dur

Lombok, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kurang lebih 20 tahun silam Munas Alim Ulama dan Konbes NU 1997 dihelat di Lombok. Tepatnya di Pondok Pesantren Qomarul Huda Desa Bagu, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah, NTB asuhan Mustasyar PBNU TGH Turmudzi Badaruddin.

Banyak kesan yang di kenang oleh warga Nahdliyin di Lombok saat itu. Seperti yang dialami H Mahdan, salah satu tokoh NU di Lombok yang juga saat Munas 1997 ikut menjadi saksi sejarah. 

Mengenang Munas Lombok 1997 dan Sedan yang Membawa Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Mengenang Munas Lombok 1997 dan Sedan yang Membawa Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Mengenang Munas Lombok 1997 dan Sedan yang Membawa Gus Dur

Dia pun menceritakan ketika almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menunjukkan kesederahaan sebagai Ketum Umum PBNU dimana saat itu Gus Dur memilih mobil sedan milik H Mahdan untuk dibawanya ke lokasi.

"Saat itu berjejeran mobil yang siap menjemput Gus Dur di Bandara Rembiga Mataram, tapi beliau menujuk mobil sedan yang disopirin oleh H Sarki untuk membawanya ke lokasi acara pas turun dari pesawat," kata pria berusia sekitar 70 tahun ini, Selasa (4/10) di kediamannya Desa Gerung Selatan Kecamatan Gerung Kabupaten Lombok Barat yang menjadi tempat rapat panitia daerah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hingga kini mobil tersebut masih tampak bagus dan terawat, karena baginya ada keberkahan sehingga dipelihara dengan baik, hanya keberkahan yang kita harapkan di NU ini, jangan harap yang lain.

Mahdan yang pensiunan Bulog NTB ini menceritakan ketika Munas dan Konbes NU hendak dibuka. Gus Dur memnggilnya dan menyuruhnya duduk disampingnya. Lalu ia pun duduk disampingnya sembari di tepuk punggugnya oleh Gus Dur. 

Dia hanya bisa menangkap pesan dan isyarat tersebut agar NU dipelihara, diurus, dan dijaga olehnya. Oleh karena itu, dia mengajak kepada semua panitia agar tidak setengah-setengah menyukseskan acara Munas.

“Mari kita dukung Munas dan Konbes NU 2017 ini semampu kita," serunya. (Hadi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai

Oleh Slamet



Agama dan politik memang dua hal yang sangat penting dalam kehidupan masyarakat. Adapun agama, selain mengatur kehidupan vertikal antara manusia dengan Tuhannya, juga menjadi pedoman atas etika pergaulan antara manusia dengan sesamanya. Sementara itu, politik menjadi pengatur sistem kehidupan manusia dalam bernegara yang tentu saja tak bisa dipisahkan dari kekuasaan (power). Lalu, apa jadinya jika agama dan politik dicampuradukkan? Tentu yang terjadi adalah ‘politisasi agama’. Artinya, politik akan mencari pembenaran atas kepentingannya dengan dalih teks-teks agama. Begitu pun agama yang? telah menyediakan seperangkat teks yang mampu ditafsirkan sesuai dengan kepentingan pembacanya. Benang merah ‘kemesraan’ agama dan politik ini salah satunya disebabkan karena sifat teks agama yang sangat ‘fleksibel’ dan sifat politik yang sangat pragmatis.

Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai (Sumber Gambar : Nu Online)
Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai (Sumber Gambar : Nu Online)

Pilkada Usai, Mimbar Agama Damai

Alhasil, ketika teks-teks agama disampaikan oleh orang atau kelompok yang berkepentingan dengan politik, maka nilai agama akan ‘penuh dengan kepentingan’ dan teks agama tidak lagi menjadi netral. Dalam konteks ini, teks agama kemudian dijadikan legitimasi atas kepentingan politik yang tetap ‘terbungkus’ rapi dalam ‘baju’ agama. Tidak bisa dipungkiri, fenomena inilah yang sempat ‘mewabah’ di Indonesia. Teks-teks agama yang awalnya digunakan untuk kemaslahatan umat, kemudian ditarik-tarik dalam percaturan kepentingan, hingga ‘berhasil’ mengubah mimbar-mimbar suci agama menjadi mimbar politik.

Alhasil, mimbar agama yang sejatinya berfungsi sebagai ‘panggung kecil’ untuk menyampaikan ajaran agama yang humanis kepada para pemeluknya, justru berubah menjadi mimbar-mimbar politik yang ‘bengis’ yang menjadi ‘medan pertarungan’ antar kelompok pemilik kepentingan. Bahkan parahnya lagi, hujatan, cacian, ujaran kebencina, fitnah hingga ajakan untuk melawan pemerintahan yang sah dikumandangkan secara terbuka melalui mimbar-mimbar agama yang suci.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Apakah ini penistaan? Jelas ini adalah penistaan, karena para pengkhotbah yang syarat dengan kepentingan telah melakukan disfungsionalisasi mimbar agama. Disfungsionalisasi yang dimaksud tidak lain adalah mengubah mimbar agama menjadi mimbar politik. Sebut saja, kasus penodaan Lambang Negara, fitnah terhadap tradisi lokal, hingga dugaan penistaan terhadap agama lain yang kesemuanya dilakukan melalui mimbar agama. Alhasil, jarak antara mimbar agama dengan mimbar politik tak lebih tebal dari kulit ari, karena kenyataanya muatan-muatan dalam mimbar agama telah ‘dirasuki’ oleh materi-materi politik. Akibatnya, untuk membedakan antara materi agama atau materi politik sangatlah susah, karena keduanya berbaur dalam simbol dan berbaju ‘agama’.

Pengembalian Fungsi Mimbar

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mimbar agama adalah ‘panggung suci’ yang memiliki magnet besar dalam menggerakan umat. Ajaran-ajaran yang disampaikan melalui mimbar, akan menjadi referensi bagi umatnya, terkhusus mereka yang berasal dari golongan yang minim terhadap tradisi literasi. Di sinilah posisi penyampai materi dalam mimbar sangatlah vital, karena secara personal ia tidak saja menjadi panutan, namun materi yang disampaikan akan menjadi rujukan. Singkatnya, umat akan bisa ‘dengan mudah’ digerakkan dari sebuah ‘panggung suci’ yang bernama mimbar. Lalu siapa yang menjadi penentu arah materi mimbar tersebut? Tidak lain dan tidak bukan adalah para tokoh agamanya.

Oleh karenanya, jika tokoh agama yang seharusnya menjadi penentu arah materi mimbar menjadi bagian dari kelompok kepentingan, maka umat yang akan menjadi ‘korban’. Mimbar-mimbar yang seharusnya menjadi penerang, berbalik menjadi panggung yang mengerikan karena sarat dengan kepentingan. Pun dengan para umatnya yang seharusnya menjadi pembelajar dan pendengar, harus ‘dipusingkan’ dengan materi hujatan, cacian, ujaran kebencian bahkan hasutan dan berakhir pada ‘perang saudara’. Tentu ini hal yang sangat menyedihkan.

Pertarungan politik pun telah memeras keringat dan mengorbankan banyak hal, mulai dari hubungan pertemanan hingga disfungsionalisasi mimbar agama. Namun, pertarungan politik tidak boleh berlarut-larut sampai menjadi penghalang rekonsiliasi antar kelompok kepentingan. Jika hal ini tidak terjadi, pertarungan politik yang awalnya menjadi pertarungan antar kelompok, bukan tidak mungkin akan menjadi pertarungan ‘atas nama agama’. Mengapa? Karena mereka pernah memanfaatkan mimbar agama untuk melakukan ‘doktrinasi’ politik.

Namun, kini Pilkada telah usai, saatnya mimbar agama kembali damai dan kembali difungsikan sebagaimana mestinya. Tidak lain sebagai panggung untuk berbagi ilmu pengetahuan untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat. Pertarungan dalam Pilkada memang tidak bisa dihindarkan dan merupakan bagian dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Akan tetapi, pemanfaatan mimbar agama sebagai panggung politik harus dihentikan, karena ada hal yang lebih besar yang harus diprioritaskan. Oleh karena itu, untuk mewujudkan hal ini, butuh kelapangan hati dari tokoh agama agar lebih mengutamakan kepentingan umat yang lebih besar dan menyudahi kepentingan politik yang pragmatis.

Sekali lagi, bahwa tokoh agama adalah panutan umat. Maka sudah seharusnya posisi dari tokoh agama adalah mencerahkan umatnya untuk mengarungi kehidupan dengan damai dan harmonis, sebagaimana yang telah dicita-citakan oleh para pendiri bangsa Indonesia. Sangat sayang jika umat tidak lagi memiliki panutan karena tokoh-tokohnya menggunakan “baju agama” untuk kepentingan politiknya.

Penulis adalah Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Hikmah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock