Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Ribuan Santri Madrasah Qudsiyyah mendeklarasikan tentang kemandirian ekonomi pada Selasa (2/8). Mereka secara bersama-sama berikrar “santri mandiri” yang dipimpin Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (Yapiq) KH Najib Hasan didampingi Sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Miftah Fakih.

Kegiatan berlangsung di lapangan Qudsiyyah JL KHR Asnawi Kudus tersebut diawali melantunkan Shalawat Asnawiyah. Kemudian para santri mengikuti bacaan ikrar. Salah satu bunyi pernyataannya, santri nusantara menolak hegemoni, tekanan dan pemanfaatan yang dapat merusak tatanan ekonomi santri.

Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi

Berikut bunyi teks lengkap deklarasi santri mandiri yang ditandatangani KH Najib Hasan dan KH Miftah Fakih:

Pertama, santri nusantara menyatakan kemandirian ekonomi untuk mewujudkan peradaban yang berkeadilan dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kedua,santri nusantara selalu menjalin ukhuwah taawuniyah untuk menumbuhkembangkan berbagai potensi demi tercapainya izzul Islam wal muslimin dalam panji-panji Ahlussunnah waljamaah.

Ketiga, santri nusantara menolak berbagai hegemoni, tekanan dan pemanfaatan yang dapat merusak tatanan ekonomi santri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebelumnya, Sekretaris Panitia Abdul Jalil mengatakan deklarasi “santri mandiri” merupakan dekontruksi salafi yang tidak hanya mengaji, melainkan juga bisa mandiri tanpa harus bergantung dengan pada orang lain.

"Ini bagian menjalankan ajaran konsep Gusjigang yang dibawa Sunan Kudus dimana santri harus pandai mengaji juga harus mandiri," ujarnya dalam konperensi pers panitia satu abad Qudsiyyah.

Deklarasi santri mandiri ini merupakan tindak lanjut dari halaqah “santri mandiri” yang berlangsung di hotel Qudsiyyah. Usai kegiatan, dilanjutkan penulisan mushaf Al Quran 30 juz oleh ribuan santri Qudsiyyah di panggung expo dan UMKM. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Maret 2018

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Karawang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Puluhan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu evakuasi korban banjir di sejumlah titik, salah satunya di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Lokasi tersebut merupakan salah satu kecamatan terparah dari 16 kecamatan di Karawang yang terkena banjir.

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Karawang, Ade Permana SH mengatakan, banjir di Karawang saat ini, merupakan banjir terparah dalam dua tahun terakhir akibat luapan Sungai Citarum. "Wilayah yang terkena banjir mencapai 16 kecamatan, dengan puluhan ribu rumah terendam dan empat orang yang meninggal dunia," katanya, Selasa (22/1).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Melihat kenyataan tersebut, pihaknya menerjunkan anggota Banser untuk membantu evakuasi korban banjir. Kegiatan yang dilakukan, mulai dari evakuasi korban, hingga memperbaiki tanggul yang jebol. "Anggota kita bergerak dengan cepat, bahkan salah satu anggota Banser yang menemukan dan membawa jenazah salah satu korban banjir untuk dievakuasi," ucapnya.

Selain bantuan tenaga, lanjut Ade, GP Ansor juga memberikan bantuan logistik untuk korban banjir yang disebar ke beberapa titik. Bantuan tersebut didapat dari hasil penggalangan anggota Ansor dan juga masyarakat. "Kita juga mengirim bantuan logistik untuk korban banjir," tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Karena banjir di Karawang terjadi tiap tahun, Ade meminta kepada Pemkab Karawang, untuk bisa mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun mendatang. "Carikan solusi yang tepat, agar banjir tidak terulang lagi. Kasihan masyarakat kalau setiap tahun harus merasakan banjir. Tentunya, secara materi dan psikologis pasti terganggu," pungkasnya. 

Keterangan foto: Banser dan anggota Pramuka membantu mengangkut karung berisi pasir untuk menahan air di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Syahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Nasional, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik

Pacitan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mudik ke kampung halaman saat lebaran merupakan tradisi tahunan bagi sebagian besar umat Muslim Indonesia. Pada saat itulah terdapat momen untuk berkumpul dengan sanak saudara. ? Hiruk pikuk aktivitas pemudik sudah terasa sejak pertengan bulan Ramadhan.

Di salah satu pesantren tertua di Pulau Jawa, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan mudik menjelang lebaran menjadi saat yang paling ditunggu para santri. Karena Banyak kisah manis yang mengiringinya. Namun banyak pula santri yang menghabiskan hari lebaran dengan memilih menetap di pondok. Para santri tersebut bukan tidak punya bekal untuk mudik, melainkan mereka tengah menjalani tradisi nahun.

Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik

Hulki Rosyid, salah satu santri asal Pekalongan mengaku sudah dua kali lebaran tidak mudik, ia bersama ratusan santri lainya ingin menghabiskan waktu lebaranya di pondok. Walaupun kadang merasa sedih karena harus jauh dari orang tua dan tidak bisa sungkem secara langsung. Namun, karena ketulusan niatnya suka duka ia jalani untuk terus bersabar menjalani hari raya di pondok. “Mudah-mudahan semakin kerasan di pondok dan tambah semangat dalam mengaji,” ujarnya saat berbincang dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Rabu ( 8/7).?

Riwayat tradisi nahun yang disebut juga tirakat atau lelakon, pertama kali dilakukan oleh santri simbah guru KH. Dimyathi Abdulloh. Dimulai sekitar tahun 1900-an dimana pada saat itu perkembangan pondok sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan ada yang datang dari negara tetangga.

Mengingat letak pondok yang jauh dari kampung halaman mereka waktu itu, sementara alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah Nahun dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari kompleks pondok dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Nahun sebenarnya tidak ada patokanya dan hanyalah istilah, bahkan pondok pun tidak mengatur tentang hal ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ada sebuah kisah yang melatarbelakangi tradisi ini. Suatu hari simbah guru putri, Nyai Khotijah, istri KH Dimyathi Abdulloh yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami hal yang sangat aneh. Saat ia mencuci beras di sumur untuk dimasak, tiba –tiba beras tersebut berubah menjadi emas. Simbah guru putri pun kaget seraya berdoa. “Yaa..Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu, ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul’ilmi dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu di sini menjadi santri yang barokah,” seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pondok Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya hingga terjun di masyarakat kelak.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi nahun yang berlaku di kalangan santri Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan? ada 3 yaitu, pertama tidak keluar dari kompleks Pondok Tremas, kedua tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan, dan ketiga tidak pulang ke rumahnya.

Yang berlaku umum di kalangan santri Pondok Tremas sekarang ini adalah nahun sesuai kategori kedua dan ketiga dengan waktu minimal 3 tahun, dan kebanyakan mereka yang melakukan berasal dari luar Jawa. (Zaenal Faizin/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Quote, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Blitar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menginginkan agar seluruh warga Muslimat ikut berpartisipasi aktif memberantas narkoba hingga di lini paling kecil, di keluarga.?

"Muslimat punya tugas di masing-masing keluarga, pastikan bebas narkoba. Pastikan juga di masng-masing jamiyah ranting (desa), anak cabang (kecamatan). Ini PR (pekerjaan besar) bangsa kita," katanya saat menghadiri harlah ke-70 Muslimat NU di Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahad.

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Ia juga menceritakan jika narkoba sudah masuk ke semua lini, termasuk ke pondok pesantren. Ia mengingatkan saat itu ada seorang yang memberikan obat dan dikatakan sebagai vitamin. Jika dikonsumsi, zikirnya bisa tambah panjang, tambah khusyuk. Bahkan, pengasuh pun juga mengetahui jika obat itu adalah vitamin, hingga belakangan dipastikan jika obat itu ternyata narkoba.?

"Hati-hati bila ada orang sepertinya baik hati memberikan vitamin, ini cuma pura-pura. Ini juga PR pesantren, kiai, bu nyai, supaya mengubah pikiran kita, yang semula pikiran lurus diubah menjadi melenceng, karena sudah terkena narkoba. Yang kena itu konstruksi otak," jelasnya di hadapan puluhan ribu warga Muslimat NU.

Ia juga mengatakan, dari informasi yang diterimanya di Indonesia narkoba sudah masuk ke segala lini. Bahkan, tingkat kematian akibat narkoba sangat besar, dimana sehari ada sekitar 40-50 orang meninggal dunia akibat narkoba.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Ini mengerikan dan bahaya luar biasa. Semoga kita semua dijaga, diselamatkan oleh Allah," katanya dengan langsung diamini para para hadirin.

Dalam acara itu, juga disertai dengan pembacaan ikrar laskar antinarkoba Muslimat NU. Ikrar itu sebelumnya juga pernah ditegaskan dalam puncak Harlah ke-70 Muslimat NU di Malang akhir Maret 2016.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Isi dari ikrar itu antara lain bersatu melawan narkoba, mendorong semua ibu memastikan keluarganya bebas narkoba, memberantas penyalahgunaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, mendukung hukuman berat bagi pengedar narkoba, hingga merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Isi dari ikrar itu dibacakan di hadapan seluruh jamaah yang hadir. Setelahnya, diadakan tanda tangan sebagai bentuk komitmen Muslimat NU mendukung program pemerintah untuk pemberantasan narkoba.?

Kegiatan Harlah ke-70 Muslimat NU itu dihadiri sejumlah tokoh. Selain dari kalangan pengurus Muslimat baik tingkat pusat, wilayah hingga daerah, juga dihadiri rombongan dari BPJS Kesehatan baik tingkat pusat hingga daerah, muspida Kabupaten Blitar, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam acara itu, juga disertai adanya nota kesepahaman di antara PP Muslimat NU dengan BPJS Kesehatan yang mencakup perluasan kepesertaan program JKN-KIS serta sosialisasi program itu ke masyarakat. Nota kesepahaman itu juga ditandatangani kedua belah pihak, dengan disaksikan seluruh warga Muslimat NU yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Nota itu berlaku satu tahun, terhitung 10 April 2016 hingga 9 April 2017. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka menyemarakkan bulan Muharram 1439 Hijriyah, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo memberikan santunan kepada ratusan anak yatim. Penerima santunan adalah utusan dari masing-masing ranting se-Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Sumberasih, Ahad (15/10).

Kegiatan yang digelar di Kantor PAC Muslimat NU Kecamatan Sumberasih ini dihadiri oleh Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati yang didampingi sejumlah pengurus serta pengurus PAC Muslimat NU Kecamatan Sumberasih.

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim

Pemberian santunan kepada anak yatim piatu ini merupakan agenda rutin yang dibuat oleh Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dilaksanakan secara istiqamah setiap tiga bulan sekali secara bergantian antarPAC Muslimat NU se-wilayah Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini diikuti oleh 1.000 orang lebih peserta yang merupakan para pengurus Muslimat NU mulai dari tingkat PAC hingga Ranting se-Kecamatan Sumberasih.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hj Nurhayati mengatakan, dalam hidup kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT dan apapun yang kita miliki yang terbaik bagi kita.

“Semakin banyak yang kita miliki maka pertanggungjawaban kita juga semakin berat. Amanah yang diterima ini nantinya akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat kelak. Oleh karena itu manfaatkan amanah ini dengan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim ini mengambil tema Dengan Kebersamaan Kita Mampu Memberikan Sedikit Terang Kehidupan Mereka, Rasa Memiliki Persaudaraan Tanpa Harus Membedakan.

“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan santunan kepada anak yatim dalam rangka menyambut 1 Muharram 1439 Hijriyah ini akan membuat para pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo semakin solid dan lebih sadar serta peduli dengan sesama,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor

Maroko, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dengan nilai Summa Cumlaude, Mustasyar PCINU Maroko H Muhammad Shofin Sugito berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji di aula utama perpustakaan Fakultas Sastra dan Humaniora Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah Fes, Maroko, Senin (7/4).

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor

Pada disertasi berjudul "Al-Hiwar ad-Diniy-ast-Tsaqafi wa atsaruhu fi Ma’arif al-Wahyi; dirasah qadhaya wa namadhij (Dialog Agama-Budaya dan Pengaruhnya pada Horizon Pemahaman Wahyu)", Shofin memaparkan risalah universal langit yang dibawa Nabi Muhammad Saw, yakni untuk seluruh makhluk di alam.

“Sehingga, risalah samawiyah ini akan terus bergulat dan berdialog dengan variasi pemikiran dan kebudayaan manusia dan bangsa di berbagai tempat dan masa hingga hari kiamat nanti,” kata Shofin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Shofin mengungkapkan, Islam sebagai agama langit tidak begitu saja turun ke bumi seperti makhluk luar angkasa yang asing dan menyendiri. Islam bersosial-diri dan berdialog dengan berbagai pola pikir dan kebudayaan masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Demikianlah yang diejawantahkan Nabi Muhammad SAW pembawa risalah langit dan para sahabat penerus estafet kepemimpinan umatnya,” tambahnya. 

Disertasi ini diuji oleh pakar semiotik Sayyid Mohamed Zuhair, pakar studi Quran-Sunnah dan Maqashid Syari’ah Idris Charqie, pakar Perbandingan Agama Lichaedhar Zohouth, dan pakar Pemikiran Islam Modern Al-Hassan Hamdouchi.

“Saya mendapati kuatnya bahasa Arab dan penyampaiannya dalam disertasi anak Indonesia ini. Saya kagum dari caranya meramu dan menyajikan banyak tema-tema lama (turats) yang terlupakan,” kata Idris Charqie.

Atas predikat Musyarraf Jiddan (Summa Cumlaude) yang diraih Shofin, Dubes RI untuk kerajaan Maroko H Tosari Widjaja beserta para staf, anggota PPI Maroko, dan warga Indonesia di Maroko memberikan apresiasi luar biasa.

H Tosari Widjaja menyatakan pihaknya akan meningkatkan jembatan peradaban Indonesia-Maroko terutama pada bidang keislaman dan budaya. Kerja sama itu akan memperkaya khazanah informasi ilmiah terkait Islam Indonesia melalui pertukaran dosen dan mahasiswa.

Ia juga berharap, disertasi itu dicetak setelah diperbaiki sesuai catatan para penguji untuk dimanfaatkan ilmunya. (Kusnadi El-Ghezwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Amalan, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejak tahun 1967 silam, sistem pengajaran keagamaan di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo sudah mulai berkembang. Hal ini dikarenakan saat itu ada pembelajaran agama lewat sebuah musholla kecil yang berkembang cukup pesat. Dari waktu ke waktu musholla tersebut selalu menjadi pusat pembelajaran agama masyarakat sehingga berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang kelak dikenal dengan Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Keberadaan Pondok Pesantren Rabithatul Islam ini memang tidak bisa dilepaskan dari dua kiai yang masih besanan. Yakni, KH Abdur Rouf dan KH Thoha. Dimana sebelum pesantren berdiri, kedua kiai ini selalu mengajarkan ilmunya di musholla kecil yang banyak didatangi oleh santri. Uniknya, kedua kiai ini mempunyai sebuah kelebihan yang berbeda sehingga mampu melengkapi. KH Abdur Rouf yang ahli tabib mampu diimbangi oleh KH Thoha yang ahli dalam ilmu Al Qur’an dan agama lainnya.

Perjuangan yang dilakukan oleh KH Thoha tampaknya diteruskan oleh sang menantu KH Ahmad Bisyri. Upaya itu diwujudkan dengan mendirikan sebuah pesantren yang awalnya menggunakan sebuah rumah sebagai tempat dalam menampung santrinya. Hingga akhirnya pada tahun 1976, dia mendirikan MI Raudlatul Muta’allimin dan MA tahun 1983.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Untuk menampung para santri, Abah (Kiai Bisyri) membangun sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu yang biasa disebut cangkruk. Biasanya santri-santri menjadikan tempat itu untuk beristirahat,” ujar Kiai Muhammad Hafid, Pengasuh kedua Ponpes Rabithatul Islam yang merupakan putra Kiai Bisyri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Hafid menerangkan bahwasanya Abahnya dulu awalnya mondok dan nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang berada di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Untuk menambah ilmunya, dia kemudian mondok di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Dari situlah dia kemudian mendapatkan penugasan menyebarkan agama Islam dari Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Hasan Saifourridzal di kawasan Tengger.

“Kebetulan waktu itu Abah langsung mendapatkan penugasan di kawasan Tengger yang mayoritas masyarakat sangat memegang teguh keyakinan terhadap agamanya. Disamping itu, Abah juga mendapatkan amanat agar bisa mendirikan pondok pesantren,” jelasnya.

Sejak diasuh oleh Kiai Hafid, Pondok Pesantren Rabithatul Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat. Di mana santrinya mampu mencapai 180 orang. Padahal waktu masih diasuh oleh Kiai Bisyri, rata-rata santrinya hanya berkisar antara 60 hingga 80 santri.

“Memimpin sebuah pondok pesantren itu tidaklah mudah. Butuh sebuah perjuangan dan kerja keras dari semua pihak. Apalagi sebelum Abah meninggal, beliau menyerahkan tanggung jawab perkembangan pesantren ini kepada saya. Oleh karena itu saya terus berupaya agar pesantren ini bisa terus maju dan berkembangan,” tegasnya.

Meskipun pesantrennya maju dengan pesat, namun Gus Hafid mengaku jika keinginannya untuk mendirikan laboratorium bahasa belum bisa terwujud. Hanya saja pendirian laboratorium ini masin terkendala dengan tenaga pendidikan dan sarana prasarana.

“Walau sudah lama berdiri, tetapi kami masih menggantungkan diri kepada suami-istri dan anaknya agar mau berkhidmat memajukan keberlangsungan pendidikan di pondok pesantren,” katanya.

Istiqomah Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Sama seperti halnya dengan pondok pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Rabithatul Islam secara istiqomah menerapkan sistem pendidikan salafiyah. Dimana para santri mulai mengikuti kegiatan pesantren sejak pukul 03.00 WIB dengan sholat Tahajjud yang dilanjutkan dengan sholat Subuh berjamaah. Kemudian santri mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00 WIB.

Yang berbeda pesantren ini dengan pesantren lainnya adalah pondok pesantren ini lebih mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam ikhtiar Kiai Bisyri yang mengarang kitab Qisshotul Qiyamah, sebuah kitab tauhid. Kitab tersebut dikarang Kiai Bisyri saat masih nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan.

“Prinsip kami santri yang mondok disini akhlaknya harus bagus. Tingkah lakunya bisa mencerminkan seorang santri yang menghormati orang tuanya. Sebab rasanya percuma memiliki santri pintar tetapi akhlaknya jelek,” ujar Kiai Hafid.

Di Pondok Pesantren Rabithatul Islam diterapkan sejumlah metode pendidikan salafiyah meliputi madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, holaqoh diniyah, Tahfidatul Qur’an hingga Jami’iyah Qurra’ wal Huffadz. Disamping juga mengelola lembaga kholafiyah atau modern seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Raudlatul Atfal (RA).

Keberadaan pesantren lengkap dengan adanya lembaga pendidikan formal yang sediakan. Misalnya, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Muta’allimin, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Islamiyah dan Madrasah Aliyah (MA) Zainul Hasan III. Walaupun berada di dalam lingkungan pesentren, namun lembaga formal tersebut juga menerima siswa dari luar pesantren. “Setidaknya sepulang dari sekolah umum, para santri bisa mengikuti sekolah diniyah,” katanya.

Lengkapnya lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Rabithatul Islam membuat para santrinya sukses menuai sejumlah prestasi. Seperti juara harapan tingkat Provinsi Jawa Timur untuk lomba Qiroatul Qutub dan Qori’. Sementara untuk di tingkat Kabupaten Probolinggo, prestasi yang diraih antara lain juara pertama lomba kaligrafi, juara kedua lomba bahasa Arab tingkat MA.

Budayakan Selalu Dakwah

Meskipun disibukkan mengurus pesantren, tetapi Pengasuh Pondok Pesantren Rabithatul Islam Kiai Muhammad Hafid tidak melupakan keberadaan masyarakat. Oleh karenanya, pesantren ini kemudian mendirikan majelis taklim untuk bisa memberikan pencerahan tentang agama kepada masyarakat. Kegiatan itu berlangsung secara istiqomah sejak pondok ini baru berdiri.

“Kami tidak hanya memberikan ilmu kepada para santri saja, setiap hari kami juga memberikan pengajaran ilmu agama kepada ibu-ibu lansia yang minim ilmu agamanya. Misalnya ilmu fiqih, hadits, tafsir dan lain sebagainya,” kata Gus Hafid.

Demi mendekatkan diri kepada masyarakat, Gus Hafid juga rutin setiap dua minggu sekali menjadi imam di masjid berbagai desa, utamanya yang berada di dataran tinggi. “Pesantren itu tidak bisa dilepaskan dari masyarakat. Perkembangan pesantren merupakan bagian dari peran serta masyarakat. Oleh karena itu, pesantren harus dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar)

Foto: Satu-satunya gubuk “cangkruk” yang menjadi saksi bisu berdirinya Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Arabisasi, Samakah dengan Islamisasi?

Oleh KH Abdurrahman Wahid. Beberapa tahun yang lampau, seorang ulama dari Pakistan datang pada penulis di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Jakarta. Pada saat itu, Benazir Bhutto masih menjabat Perdana Menteri Pakistan. Permintaan orang alim itu adalah agar penulis memerintahkan semua warga NU untuk membacakan surah Al-Fatihah bagi keselamatan Bangsa Pakistan. Mengapa? Karena mereka dipimpin Benazir Bhutto yang berjenis kelamin perempuan. Bukankah Rasulullah SAW telah bersabda “celakalah sebuah kaum jika dipimpin oleh seorang perempuan”? Penulis menjawab bahwa hadits tersebut disabdakan pada Abad VIII Masehi di Jazirah Arab. Ini berarti diperlukan sebuah penafsiran baru yang berlaku untuk masa kini?

Arabisasi, Samakah dengan Islamisasi? (Sumber Gambar : Nu Online)
Arabisasi, Samakah dengan Islamisasi? (Sumber Gambar : Nu Online)

Arabisasi, Samakah dengan Islamisasi?

Pada tempat dan waktu Rasulullah masih hidup itu, konsep kepemimpinan bersifat perorangan -di mana seorang kepala suku harus melakukan hal-hal berikut: memimpin peperangan melawan suku lain, membagi air melalui irigasi di daerah padang pasir yang demikian panas, memimpin karavan perdagangan dari kawasan satu ke kawasan lain dan mendamaikan segala macam persoalan antar para keluarga yang berbeda-beda kepentingan dalam sebuah suku, yang berarti juga dia harus berfungsi membuat dan sekaligus melaksanakan hukum.

Sekarang keadaannya sudah lain, dengan menjadi pemimpin, baik ia presiden maupun perdana menteri sebuah negara, konsep kepemimpinan kini telah dilembagakan/diinstitusionalisasikan. Dalam konteks ini, Perdana Menteri Bhutto tidak boleh mengambil keputusan sendiri, melainkan melalui sidang kabinet yang mayoritas para menterinya adalah kaum lelaki. Kabinet juga tidak boleh menyimpang dari Undang-undang (UU) yang dibuat oleh parlemen yang mayoritas beranggotakan laki-laki. Untuk mengawal mereka, diangkatlah para Hakim Agung yang membentuk Mahkamah Agung (MA), yang anggotanya juga lakilaki. Karenanya, kepemimpinan di tangan perempuan tidak lagi menjadi masalah, karena konsep kepemimpinan itu sendiri telah dilembagakan/ di-institusionalisasi-kan. “Anda memang benar,” demikian kata orang alim Pakistan itu, “tetapi tolong tetap bacakan surah Al-Fatihah untuk keselamatan bangsa Pakistan”.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

***

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kisah di atas, dapat dijadikan contoh betapa Arabisasi telah berkembang menjadi Islamisasi -dengan segala konsekuensinya. Hal ini pula yang membuat banyak aspek dari kehidupan kaum muslimin yang dinyatakan dalam simbolisme Arab. Atau dalam bahasa tersebut, simbolisasi itu bahkan sudah begitu merasuk ke dalam kehidupan bangsa-bangsa muslim, sehingga secara tidak terasa Arabisasi disamakan dengan Islamisasi. Sebagai contoh, nama-nama beberapa fakultas di lingkungan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) juga di-Arabkan; kata syarî’ah untuk hukum Islam, adab untuk sastra Arab, ushûluddin untuk studi gerakan-gerakan Islam dan tarbiyah untuk pendidikan agama. Bahkan fakultas keputrian dinamakan kulliyyat al-banât. Seolah-olah tidak terasa ke-Islaman-nya kalau tidak menggunakan kata-kata bahasa Arab tersebut.

Kalau di IAIN saja, yang sekarang juga disebut UIN (Universitas Islam Negeri) sudah demikian keadaannya, apa pula nama-nama berbagai pondok pesantren. Kebiasaan masa lampau

untuk menunjuk kepada pondok pesantren dengan menggunakan nama sebuah kawasan/tempat, seperti Pondok Pesantren (PP) Lirboyo di Kediri, Tebuireng di Jombang dan Krapyak di Yogyakarta, seolah-olah kurang Islami, kalau tidak menggunakan nama-nama berbahasa Arab. Maka, dipakailah nama PP Al-Munawwir di Yogya -misalnya, sebagai pengganti PP Krapyak.

Demikian juga, sebutan nama untuk hari dalam seminggu. Kalau dahulu orang awam menggunakan kata “Minggu” untuk hari ketujuh dalam almanak, sekarang orang tidak puas kalau tidak menggunakan kata “Ahad”. Padahal kata Minggu, sebenarnya berasal dari bahasa Portugis, “jour dominggo”, yang berarti hari Tuhan. Mengapa demikian? Karena pada hari itu orang-orang Portugis —kulit putih pergi ke Gereja. Sedang pada hari itu, kini kaum muslimin banyak mengadakan kegiatan keagamaan, seperti pengajian. Bukankah dengan demikian, justru kaum muslimin menggunakan hari tutup kantor tersebut sebagai pusat kegiatan kolektif dalam ber-Tuhan?

***

Dengan melihat kenyataan di atas, penulis mempunyai persangkaan bahwa kaum muslimin di Indonesia, sekarang justru sedang asyik bagaimana mewujudkan berbagai keagamaan mereka dengan bentuk dan nama yang diambilkan dari Bahasa Arab. Formalisasi ini, tidak lain adalah kompensasi dari rasa kurang percaya diri terhadap kemampuan bertahan dalam menghadapi “kemajuan Barat”. Seolah-olah Islam akan kalah dari peradaban Barat yang sekuler, jika tidak digunakan kata-kata berbahasa Arab. Tentu saja rasa kurang percaya diri ini juga dapat dilihat dalam berbagai aspek kehidupan kaum muslimin sekarang di seluruh dunia. Mereka yang tidak pernah mempelajari agama dan ajaran Islam dengan mendalam, langsung kembali ke “akar” Islam, yaitu kitab suci al-Qur’ân dan Hadits Nabi Saw. Dengan demikian, penafsiran mereka atas kedua sumber tertulis agama Islam yang dikenal dengan sebutan dalil naqli, menjadi superficial dan “sangat keras” sekali. Bukankah ini sumber dari terorisme yang kita tolak yang menggunakan nama Islam?

Dari “rujukan langsung” pada kedua sumber pertama Islam itu, juga mengakibatkan sikap sempit yang menolak segala macam penafsiran berdasarkan ilmu-ilmu agama (religious subject). Padahal penafsiran baru itu adalah hasil pengalaman dan pemikiran kaum muslimin dari berbagai kawasan dalam waktu yang sangat panjang. Para “Pemurni Islam” (Islamic puritanism) seperti itu, juga membuat tudingan salah alamat ke arah tradisi Islam yang sudah berkembang di berbagai kawasan selama berabad- abad. Memang ada ekses buruk dari pengalaman perkembangan pemikiran itu, tetapi jawabnya bukanlah berbentuk puritanisme yang berlebihan, melainkan dalam kesadaran membersihkan Islam dari ekses-ekses yang keliru tersebut.

Agama lainpun pernah atau sedang mengalami hal ini, seperti yang dijalani kaum Katholik dewasa ini. Reformasi yang dibawakan oleh berbagai macam kaum Protestan, bagi kaum Katholik dijawab dengan berbagai langkah kontrareformasi semenjak seabad lebih yang lalu. Pengalaman mereka itu yang kemudian berujung pada teologi pembebasan (liberation theology), merupakan perkembangan menarik yang harus dikaji oleh kaum muslimin. Ini adalah pelaksanaan dari adagium “perbedaan pendapat dari para pemimpin, adalah rahmat bagi umat (ikhtilâful a’immah rahmatul ummah).” Adagium tersebut bermula dari ketentuan kitab suci al-Qur’ân: “Ku-jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku bangsa agar kalian saling mengenal (Wa ja’alnâkum syu’ûban wa qabâ’ila li ta’ârafû)” (QS al-Hujurat(49):13). Makanya, cara terbaik bagi kedua belah pihak, baik kaum tradisionalis maupun kaum pembaharu dalam Islam, adalah mengakui pluralitas yang dibawakan oleh agama Islam.

*) Diambil dari Abdurrahman Wahid, Islamku Islam Anda Islam Kita: Agama Masyarakat Negara Demokrasi, 2006 (Jakarta: The Wahid Institute).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Syariah, Pemurnian Aqidah, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 21 Desember 2017

Lakpesdam NU Agendakan Rakernas di Batam

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU akan menggelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Asrama Haji Batam, Kepulauan Riau, 14-16 April 2015.

Lakpesdam NU Agendakan Rakernas di Batam (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Agendakan Rakernas di Batam (Sumber Gambar : Nu Online)

Lakpesdam NU Agendakan Rakernas di Batam

“Kami sudah melakukan koordinasi dengan bapak Walikota Batam Ahmad Dahlan dan alhasil beliau menyambut baik niat kami untuk melakukan Rakernas,” kata Ketua PP Lakpesdam NU Yahya Maksum di Kantor PP Lakpesdam NU, Selasa (3/3) malam.

Dia menjelaskan, saat menerima kedatangan pengurus Lakpesdam, orang nomor satu di kota terbesar di Kepulauan Riau itu tampak sangat gembira karena kota tercintanya dipercaya menjadi tuan rumah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Beliau mengapresiasi niat kami dengan baik, selain itu beliau juga ingin memperkenalkan beberapa wisata di Batam dengan harapan Kepulauan Riau bisa lebih dikenal oleh masyarakat NU secara khusus,” ungkap Yahya.

Secara terpisah, ketua panitia penyelenggara, Eko Agus Priyono mengatakan, saat ini pihaknya sudah mempersiapkan beberapa kebutuhan kepanitiaan, baik dari segi tempat, akomodasi, ataupun lainnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dia menambahkan,? dalam Rakernas nanti panitia akan menyambut peserta Rakernas dengan mempertunjukkan tarian Nusantara sekaligus mengajak peserta berkunjung ke beberapa tempat wisata kota seusai Rakernas.

“Kami memilih kepulauan ini karena suasananya yang kondusif, dan itu sangat kami harapkan untuk menelurkan ide-ide brilian nantinya guna memberikan kontribusi yang positif terhadap NU ke depan. (Agus Baha’udin Anwar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, RMI NU, Pemurnian Aqidah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Kairo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. PM Turki Recep Tayyip Erdogan menghadiahi Presiden Amerika Barack Obama sebuah cindera mata berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

Kantor berita Turki Cihan (17/5) melansir, Presiden Obama menggelar pertemuan khusus dengan PM Turki Erdogan sebelum digelarnya kongres umum Amerika-Turki di Gedung Putih, Washington DC.

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)
PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya (Sumber Gambar : Nu Online)

PM Turki Hadiahi Obama Kaligrafi Bertuliskan Namanya

Sebelum pertemuan khusus itu, PM Erdogan terlebih dahulu memberikan cindera mata kepada Presiden Obama. Cindera mata tersebut berupa lukisan kaligrafi yang bertuliskan namanya "Barack Hussein Obama".

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Peristiwa pemberian cindera mata ini pun kini menjadi berita heboh di beberapa media Turki dan juga media-media Arab.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Penulis: Ahmad Ginanjar Syaban

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 11 November 2017

Berkah Ramadhan, Penjual Bunga Laris Manis

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Datangnya bulan suci Ramadhan sepertinya memberikan berkah tersendiri bagi para penjual bunga di Kabupaten Probolinggo, Ahad (5/6). Bagaimana tidak, sehari menjelang bulan puasa ini, penjual bunga laris manis diserbu pembeli yang akan nyekar ke makam keluarganya.

Berkah Ramadhan, Penjual Bunga Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)
Berkah Ramadhan, Penjual Bunga Laris Manis (Sumber Gambar : Nu Online)

Berkah Ramadhan, Penjual Bunga Laris Manis

Momentum datangnya bulan Ramadhan ini tidak disia-siakan oleh para penjual bunga. Terlebih pembelinya meningkat hingga 50 kali lipat dibandingkan dengan hari-hari biasanya. Peluang ini ternyata juga dimanfaatkan oleh para penjual bunga dadakan.

Seperti yang terlihat di pemakaman umum Dusun Krajan Desa Patokan Kecamatan Bantaran Kabupaten Probolinggo. Biasanya para penjual bunga tersebut hanya menjajakan dagangannya setiap malam Jum’at di sepanjang pintu masuk makam. Tapi kali ini, mereka mulai membuka dagangannya sejak pagi hingga menjelang Maghrib tiba.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berdasarkan pantauan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, di area pemakaman umum ini setidaknya ada sekitar 15 penjual bunga. Padahal biasanya pada malam Jumat tidak lebih dari 5 penjual saja.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Bulan Ramadhan benar-benar memberikan berkah bagi para penjual bunga. Meskipun musiman, tetapi ini bisa memberikan peluang bagi yang sedang menganggur. Dengan modal yang tidak begitu besar, tetapi omzetnya lumayan,” ujar Sulasmi, salah satu penjual bunga.

Hal senada juga diungkapkan oleh Sholeha. Menurutnya, membludaknya penjual bunga dikarenakan banyak masyarakat yang datang untuk menyekar. Selain dari masyarakat sekitar, mereka juga datang dari luar daerah untuk mengunjungi dan nyekar di makam keluarganya.

“Terkadang yang dari luar daerah itu rombongan bersama keluarganya. Mereka datang dan langsung membeli bunga disini. Apalagi bunganya sudah ditaruh dalam plastik dengan harga Rp 2 ribu,” katanya.

Totok, asal Kecamatan Kencong Kabupaten Jember mengaku sangat terbantu dengan keberadaan para penjual bunga di sekitar makam. Dia sengaja datang dan tidak membawa bunga dari Jember.

“Saya tahu di sini pasti ada yang jualan bunga dan harganya sangat terjangkau. Makanya tidak bawa dari Jember takut kering. Ini benar-benar sangat membantu bagi masyarakat yang ingin nyekar ke makam keluarganya,” tuturnya. (Syamsul Akbar/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 30 Oktober 2017

Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB

Brebes, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Meski berusia tidak lagi muda, para ibu Muslimat NU dengan menggunakan fasilitas gadget mampu menggaet pasangan usia subur (PUS) untuk mengikuti program Keluarga Berencana (KB). Lewat program Pilihanku, selama setahun ini Mereka berhasil mengajak ribuan PUS di Kabupaten Brebes untuk memasang Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP).

“Progresnya bagus banget, para motivator Muslimat NU dalam perkembangannya tidak hanya sosialisasi tetapi juga menjadi pengantar, penjemput bahkan hingga menunggui sampai selesainya pemasangan alat kontrasepsi,” tutur Ketua Pelaksana Program Pilihanku PP Muslimat NU Hj Kusnia Nasser di sela Refresh Training Motivator KB Muslimat NU di Grand Dian Hotel Jalan Jenderal Sudirman Brebes, Selasa (9/5).

Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Brebes Manfaatkan Gadget untuk Jaring Akseptor KB

Dalam refresh ini, kata Nia, dimaksudkan untuk menggali pengalaman motivator, kendali dan kendali, serta berbagai pengalaman bagus sebagai bahan pertimbangan untuk pengambilan langkah berikutnya.

Nia mengaku bangga dengan capaian yang telah dilakukan oleh para motivator Muslimat NU Brebes. Tidak harus dengan dana yang besar, ternyata ajakan dari para motivator mampu merubah perilaku PUS. Yang tidak peduli jadi peduli, yang acuh jadi semangat.?

“Muslimat bisa menjadi penangkal hoaks tentang KB,” pujinya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebanyak 60 motivator Muslimat NU dalam praktiknya tidak sekadar memberi saran, mengajak atau memotivasi PUS saja tetapi juga aksi turun ke lapangan dengan semangat membara.?

Kusnia yang juga Ketua 2 Yayasan Kesejahteraan Muslimat NU Pusat mengatakan program ini akan berakhir pada Oktober 2017. Untuk itu kepada Pemerintah Kabupaten Brebes dipersilahkan untuk memanfaatkan keberadaan motivator KB Muslimat NU untuk mensukseskan program KB.

Sebab, BKKBN Pusat, lanjutnya, Indonesia membutuhkan 85.000 Penyuluh Lapangan KB. Sedangkan PLKB yang dimiliki pemerintah berkisar antara 15-20 ribu orang penyuluh, sehingga kekurang 65 ribu PLKB. “Kehadiran Motivator di tengah-tengan masyarakat perlu dirawat dan dijaga keberlanjutan kerjanya,” tandasnya.

Selain di Brebes para motivator KB Muslimat NU yang dibekali tablet ini, juga tersebar di Cilacap, Klaten, Jakarta Utara dan Jakarta Timur.?

Kepala DP3KB Khambali mengaku bangga dengan adanya motivator Muslimat NU, karena bisa membantu PLKB dalam menyukseskan program KB. Terbukti, Muslimat NU selalu menjadi juara 1 dalam perolehan akseptor KB tingkat Provinsi Jawa Tengah.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua PC Muslimat NU Brebes Hj Chulasoh menambahkan, 60 motivator direkrut dari anggota PC Muslimat NU yang tersebar di 17 Kecamatan Brebes. Tugas pokok utama hanya mensosialisasikan dan mengajak akseptor untuk ber-KB. Mereka dibekali tablet yang sudah diisi aplikasi tertentu.

Sehingga motivator bisa menggunakannya secara intensive. Selain itu, metode ceramah di pengajian, perkumpulan PKK dan dasa wisma menjadi tempat yang dimanfaatkan oleh ibu-ibu Muslimat untuk melakukan ajakan ber KB. (Wasdiun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Pertandingan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 11 Oktober 2017

Peserta Region Jatim 1 Terbanyak se-Jawa Timur Siap Bermain Fair

Trenggalek, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Sepekan lagi, kick off liga santri region Jawa Timur 1 akan dibuka Menteri Pemuda dan Olahraga H Imam Nahrawi di Stadion Menak Sopal, Kabupaten Trenggalek. 32 tim pesantren peserta LSN sepakat berkompetisi dengan prinsip Fair Play. Mereka pun menyatakan siap untuk menang dan kalah.

Tidak hanya itu, mereka siap mematuhi semua kewajiban yang ditetapkan dalam perjanjian klub peserta dan menerima segala hal administrasif, disiplin dan perwasitan yang berhubungan dengan kompetisi.

Peserta Region Jatim 1 Terbanyak se-Jawa Timur Siap Bermain Fair (Sumber Gambar : Nu Online)
Peserta Region Jatim 1 Terbanyak se-Jawa Timur Siap Bermain Fair (Sumber Gambar : Nu Online)

Peserta Region Jatim 1 Terbanyak se-Jawa Timur Siap Bermain Fair

Kesepakatan itu mereka nyatakan saat mengikuti Technical Meeting yang digelar oleh panitia Regional di kantor PCNU Trenggalek, Jumat (8/9) sore.

Koordinator regional, Habib Mustofa (Gus Toev) mengapresiasi kesiapan seluruh peserta LSN. Menurutnya, regional Jawa Timur 1 yang meliputi Karesidenan Kediri dan Madiun merupakan satu-satunya regional yang paling banyak mendapat animo dari pesantren. "Jawa Timur 1 ini termasuk regional yang terbaik, karena jumlah pesertanya paling banyak, yaitu 32 tim pesantren," katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Gus Toev berharap dari kompetisi ini nanti akan muncul bibit-bibit pesepakbola profesional. "Dan yang paling penting, tim yang juara nanti bisa mewakili regional Jawa Timur 1 untuk tampil di seri Nasional LSN 2017," tukasnya.

Panitia pelaksana, Khotamil Anam menjelaskan Kompetisi liga santri tahun ini, seluruh peserta menyepakati menggunakan sistem pertandingan setengah kompetisi. Dimana 32 tim dibagi kedalam delapan grup. Satu grup berisi empat tim, dan tiap tim akan bertanding tiga kali. "Dan hanya dua peringkat teratas yang berhak maju mewakili masing-Masing grup ke babak selanjutnya," katanya.

Melihat pertandingan yang akan berlangsung cukup ketat ini, seluruh tim diminta menyuguhkan permainan terbaiknya. Sehingga gelaran liga santri  benar-benar menjadi ajang pembibitan pesepakbola profesional dan sebagai wahana silaturahmi antar pesantren.

Sementara, pada pembukaan Liga Santri yang akan digelar 17 September nanti, tuan rumah kesebelasan Pesantren Bumi Hidayah Attaqwa Trenggalek akan berhadapan dengan kesebelasan Darul Huda Mayak Ponorogo, yang merupakan juara bertahan Liga Santri Region Jawa Timur 1 tahun 2016. (Zaenal Faizin/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nahdlatul, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 06 September 2017

Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat

Tujuan shalat adalah menghadap Allah swt. dengan penuh ketundukan dan keikhlasan. Dalam shalat seseorang dituntut untuk khusyu’ sesuai dengan kemampuannya masing-masing, meskipun sulit akan tetapi kekhusyuan itulah yang bisa menenangkan hati pada saat menjalankan shalat. Karena sesungguhnya Allah tidak akan memberatkan hambanya dengan sesuatu kecuali sesuai dengan kemampuan hamba tersebut.

Salah satu dari hal yang membatalkan shalat adalah makan dan minum, saat seseorang sedang menjalankan shalat ia tidak diperbolehkan makan dan minum, dikarenakan hal itu bisa menyebabkan hilangnya kekhusyuan dalam shalat. Lebih dari itu pekerjaan makan dan minum juga tidak layak jika dilakukan ketika seseorang sedang menghadap Allah swt. dalam shalat.

Makan dan minum ketika sedang shalat jelas mebatalkan shalat, lalu bagaimanakah dengan menelan sisa makanan atau meminum tetesan air yang masuk kemulut. Istilah makan dan minum secara umum adalah memasukan sesuatu kedalam mulut, entah itu banyak maupun sedikit. Hanya saja terkadang sisa makanan itu tertinggal dimulut dan belum masuk keperut, sehingga dengan menggerakan lidah kekanan kekiri atau keatas kebawah mengakibatkan sisa makanan tersebut tertelan keperut.

Dalam kitab Fathul Qarib Imam Al-Ghazzi memberi penjelasan, bahwa pekerjaan makan dan minum dalam shalat, baik itu banyak maupun sedikit tetap membatalkan shalat. Sedangkan menelan sisa makanan termasuk dari kategori sedikit, maka menelan sisa makanan juga bisa membatalkan shalat.

Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sisa Makanan yang Membatalkan Shalat

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Diantara hal yang membatalkan shalat adalah pekerjaan makan dan minum, entah itu banyak maupun sedikit, kecuali jika seorang tersebut tidak tahu hukumnya.

Dalam hal ini menelan tetesan air bekas wudlu’ ataupun tetesan air yang lain juga membatalkan shalat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Maka dari itu menjaga etika dalam shalat sangat dituntut oleh syara’, karena orang tersebut sedang menghadap kepada Allah swt. (Pen. Fuad H/Red. Ulil H) 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 September 2017

Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I)

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Di kalangan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), H Mahbub Djunaidi tidak hanya dikenal sebagai ketua umuma pertama organisasi yang berdiri pada 17 April 1960 itu. Lebih dari itu Mahbub dikenang dan menjadi sosok inspirasi dunia kepenulisan.

Tak terkecuali, bagi Joko Priyono, kader PMII Kentingan Surakarta. Demi memenuhi nazar, ia melakukan perjalanan napak tilas perjuangan Mahbub Djunaidi dari Kota Solo ke Bandung, tepatnya ke makam tokoh yang berjuluk “Sang Pendekar Pena” itu.

Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I)

“Pertama memang karena nazar. Jadi selesai RTK, pada kepengurusan lalu, saya sudah berjanji untuk ziarah ke makam Mahbub. Kedua, ini menjadi salah satu usaha saya untuk napak tilas perjuangan Mahbub,” ungkap Joko, saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Selasa (28/3).

Sejak awal bergabung di PMII, Joko memang mengidolakan sosok Mahbub. Ia kini bahkan telah mengoleksi buku-buku Mahbub, seperti novel Dari Hari ke Hari, Asal Usul, Binatangisme (terjemah dari buku karya George Orwell) dan lain sebagainya. Ia pun menekuni jalan pergerakan yang pernah ditempuh Mahbub, dengan aktif di LSO Jurnalistik PMII Komisariat Kentingan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Joko yang kini masih menyelesaikan pendidikan kuliah di Fakultas MIPA UNS memulai perjalanannya seorang diri, Jumat (24/3) lalu dengan menaiki kereta api jurusan Kutoarjo. Selanjutnya, berganti kereta menuju ke Kota Kembang.

Tiba di Bandung, ia tak langsung ke tempat persemayaman terakhir Mahbub. Justru, Rayon Saintek PMII UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Kabupaten Bandung yang menjadi destinasi pertamanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ironisnya, papar Joko, beberapa anggota PMII di daerah tersebut justru banyak yang tidak mengetahui keberadaan makam Mahbub di Bandung. “Termasuk buku-buku Mahbub juga tidak dimiliki mereka,” imbuh Joko.

Pemuda asal Wonosegoro Boyolali itu pun kemudian mengajak sejumlah anggota Rayon Saintek PMII UIN SGD untuk ikut berziarah bersama ke makam Mahbub yang terletak di Kompleks Pemakaman Assalam Caringin Kota Bandung. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, RMI NU, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 11 Juli 2017

Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman

Jember, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriah PCNU Kencong KH Khoiruz Zad Maddah menyerukan agar NU terus meneguhkan komitmennya dalam berkebangsaan dan keragaman sekaligus menjadi contoh dalam bernegara. Sebab, komitmen kebersamaan dalam keragaman, bekangan ini semakin mengkhawatirkan. 

Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Aneh Jika Umat Islam Menolak Keragaman

Penegasan tersebut  diungkapkan kiai yang akrab disapa Gus Ya pada Taushiyah Kebangsaan di aula kantor PCNU Kencong, Selasa (15/8).

Menurutnya, para ulama (NU) cukup memahami arti kebersamaan dalam keragaman. Bagi NU, katanya, keragaman budaya, suku, agama dan sebagainya adalah sunnatullah yang tidak bisa diganggu gugat, sehingga diharapkan keragaman itu tidak memberangus kebersamaan dan kerukunan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Bagi kiai dan ulama (NU), keragaman itu sudah biasa. Tidak ada masalah. Sikap  ini pula yang dipegang warga NU dalam bermazhab kepada beragam imam. Sehingga terasa aneh kalau ada orang Islam mempertanyakan, bahkan tidak setuju terhadap keragaman," ujarnya.

Sementara itu, Ketua PC Lakpesdam NU Kencong, Mohammad Dasuki menyatakan betapa pentingnya bangsa Indonesia menghargai pluralitas. Sebab, tanpa saling menghargai dan menghormati, mustahil Indonesia bisa aman. 

"Kita semua perlu belajar dari  sejarah bahwa betapa keragaman mampu meluluhlantakkan suatu bangsa, jika tidak ada penghargaan terhadap keragaman itu sendiri," ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 13 Juni 2017

Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Rekan Muhammad Said terpilih sebagai Ketua Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (PW IPNU) DKI Jakarta dalam Konferensi Wilayah yang ke-XVII yang bertempat di jalan Utan Kayu Raya No. 112 Matraman Jakarta Timur, Sabtu-Ahad (13-14/4).

Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)
Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI (Sumber Gambar : Nu Online)

Muhammad Said Nahkoda Baru PW IPNU DKI

Pembukaan konferwil berlangsung dengan khidmat yang dihadiri oleh pengurus PWNU DKI Jakarta yang diwakilkan oleh Drs. KH. Hasanuddin, SH, Sekretaris PWNU DKI Jakarta, Hj. Neneng Hasanah, anggota DPRD Provinsi DKI Jakarta, DR. H Nawawi dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta dan rekan Ketum PP IPNU Khairul Anam serta ratusan peserta dari masing-masing Pimpinan Cabang se-DKI Jakarta.

Ketua PW IPNU DKI Heri Susanto dalam sambutannya mengatakan kader IPNU Jakarta harus selalu bergerak dan solid. Ia juga menyampaikan terimakasih kepada seluruh pengurus PW IPNU dan PC IPNU se DKI Jakarta yang telah membantu merealisasikan program-program kegiatan dan mohon maaf atas beberapa kegiatan yg belum teralisasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Heri Susanto yang juga Wakil Ketua PP IPNU berharap penggantinya nanti adalah orang progresif dalam menjalankan agenda-agenda IPNU kedepan. 

Sementara Ketua Umum PP IPNU Khairul Anam HS mengatakan, bahwa program PP IPNU tahun ini adalah tahun pengabdian pada Pimpinan Komisariat IPNU dan penguatan kaderisasi yakni mempersiapkan kader-kader unggulan yang siap untuk dimakestakan. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Saya akan beri tantangan kepada PW IPNU DKI Jakarta untuk mampu mengadakan makesta unggulan, ya kalau bisa anaknya Gubernur, anaknya pejabat-pejabat lainnya kita ikut sertakan dalam makesta tersebut.  Maka PP IPNU siap memfasilitasi 100 % dalam kegiatan tersebut,” tambahnya yang juga kandidat Doktor UIN Jakarta.

Konferwil ini berlanjut ke diskusi atau talk show dengan tema “Quo Vadis Arah dan Kebijakan Pendidikan di DKI Jakarta.”  Sebagai narasumber adalah DR. H Nawawi, Drs Hamid dari Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta  dan ketua Umum PP IPNU, Khairul Anam HS.

Kegiatan dilanjutkan dengan laporan dan pandangan umum pertanggungjawaban oleh PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2009-2012. Dan dilanjutkan dengan sidang-sidang, yang meliputi sidang tatip (tata tertib) Konferwil, sidang komisi, sidang pleno dan sidang tatib pemilihan ketua PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2013-2016. 

Laporan pertanggung jawaban pengurus masa khidmat 2009-2012 menjadi menarik karena dari 6 PC IPNU, 3 menerima dan 3 menolak. Tapi pimpinan sidang akhirnya menyatakan menerima  laporan pertanggung jawaban dengan berbagai catatan untuk dilanjutkan dikepengurusan berikutnya.

Setelah melalui proses sidang tatib pemilihan ketua PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2013-2016. Ada 2 calon yang mendaftarkan dan yang memenuhi syarat yaitu rekan Muhammad Said dari PC IPNU Jakarta Pusat dan rekan Ahmad Muhajir dari PC IPNU Jakarta Barat. Sebelum melakukan prosesi pemilihan, bakal calon menyampaikan visi dan misi dihadapan peserta Konferwil.

Suasana Konferwil semakin memanas ketika ada perdebatan antara salah satu perwakilan pimpina cabang IPNU dengan pimpinan sidang karena ada salah satu pimpinan cabang tidak mendapat hak suara dikarena SK belum memenuhi syarat. 

Proses pemilihan ketua PW IPNU DKI Jakarta terpilih rekan Muhammad Said yang mendapatkan 3 suara. Sementa Muhajir 2 suara. Muhammad Said terpilih menjadi ketua PW IPNU DKI Jakarta masa khidmat 2013-2016. Suasana sangat mengaharukan saat semua peserta berpelukan denga ketua PW IPNU yang terpilih.  

Dalam sambutannya ketua PW IPNU DKI Muhammad Said berjanji akan memaksimalkan potensi kader, memperbaiki data base IPNU dan memfasilitasi berbagai program ke depan. Dengan syarat seluruh kader IPNU harus kompak, bersatu dengan di bawah satu visi yaitu Nahdhatul Ulama. Selamat bekerja!

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Anshory

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Budaya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 07 Juni 2017

Menunggu Peran Pemda dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Pesantren

Oleh Hafis Muaddab

--Awal bulan Desember kemarin, pemerintah melalui Menteri Kebudayaan, Pendidikan Dasar dan Menengah Anies Baswedan memutuskan untuk menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 (K-13) di seluruh Indonesia. Keputusan tersebut mengejutkan banyak kalangan, mengingat K-13 ini masih baru diterapkan sejak Juli 2013 lalu. Meski sebenarnya berbicara perubahan kurikulum bukan hal yang baru lagi di negeri ini. Setiap ada pergantian penguasa, di situlah kurikulum juga mengalami perubahan. Tentunya, perubahan tersebut tidak lepas dari perkembangan politik, sosial, budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan. Dampaknya pun sangat memengaruhi kualitas pendidikan itu sendiri.

Meski disadari bersama kurikulum berdasarkan pada fungsi dan tujuan dari pendidikan nasional, haruslah berakar pada budaya bangsa, kehidupan bangsa masa kini, dan kehidupan bangsa masa depan. Kurikulum pendidikan sebagai seperangkat rencana pendidikan perlu dikembangkan secara dinamis, sesuai dengan kebutuhan, tantangan, tuntutan, dan perubahan masyarakat. Keributan kita semua menyikapi polemik K-13 adalah bukti bahwa perlu ada standarisasi dalam rangka perbaikan mutu pendidikan.

Menunggu Peran Pemda dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Menunggu Peran Pemda dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Menunggu Peran Pemda dalam Peningkatan Kualitas Pendidikan Pesantren

Keributan K-13 sebagaimana kita tahu hanya berlaku bagi sekolah sekolah formal, sedang bagi entitas seperti pesantren hal ini tidak berlaku. Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang khas. Kegiatannya terangkum dalam “Tri Dharma Pesantren” yaitu: 1) Keimanan dan ketaqwaan kepada Allah swt; 2) Pengembangan keilmuan yang bermanfaat; dan 3) Pengabdian kepada agama, masyarakat, dan negara. (Pendidikan Berbasis Pesantren, Siradj 2014:xi). Nurcholis Madjid menyebutkan, bahwa pesantren mengandung makna keislaman sekaligus keaslian (indigenous) Indonesia. Lembaga pendidikan pesantren biasanya terdapat lima elemen dasar yang tidak terpisah-pisahkan, yaitu: pondok, masjid, santri, pengajaran kitab-kitab klasik dan kyai.

Menurut mantan Presiden Abdurrahman Wahid pondok pesantren merupakan sebuah subkultur masyarakat yang memiliki karakter, watak dan tradisi tersendiri yang berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Pesantren bisa disebut sebagai sebuah subkultur karena memiliki keunikan sendiri dalam aspek-aspek kehidupannya seperti; pertama, pola kepemimpinan pondok pesantren yang mandiri tidak terkooptasi oleh negara; kedua, kitab-kitab rujukan umum yang selalu digunakan dari berbagai abad dalam bentuk kitab kuning; dan ketiga, sistem nilai (value system) yang digunakan adalah bagian dari masyarakat luas. Dengan bermodalkan ketiga elemen itulah, maka pondok pesantren memiliki hubungan yang sangat erat dengan kehidupan masyarakat Indonesia, dan sekaligus sebagai salah satu penopang pilar utama pendidikan di bumi Nusantara ini. Sebab, pondok pesantren telah membuktikan dirinya diterima ditengah-tengah masyarakat dan kyainya menjadi panutan. Fenomena ini telah menunjukkan bahwa puluhan ribu bahkan ratusan lebih orang Indonesia yang ikut merasakan pola pembelajaran pondok pesantren.

Meski sampai dengan sekarang pihak Departemen Pendidikan Nasional masih mensyaratkan ijazah wajar Dikdas yang Pemerintah terbitkan, di samping ijazah yang diterbitkan oleh pihak pesantren. “Pertanyaan yang masih ada adalah mengapa harus ada dua ijazah bagi peserta didik di pesantren? Kenapa pemerintah tidak menganggap cukup dengan ijazah yang diterbitkan pesantren saja?”.

Menyoal Kurikulum Pesantren

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hal yang menggembirakan hari ini adalah pesantren saat ini sudah dianggap sebagai bagian dari sistem pendidikan nasional, melalui Peraturan Pemerintah (PP) PP No 55/2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Meski dukungan pendanaan dari pemerintah juga belum semuanya dapat dinikmati oleh pesantren untuk memungkinkannya untuk terus berkembang dan masih mengharuskan mencari pendanaan alternatif. Sebab bagi beberapa pihak adanya Peraturan Pemerintah (PP) PP No 55/2007 sebagai penjabaran UU Sistem Pendidikan Nasional dikhawatirkan akan menjebak pesantren pada standarisasi dan reduksi pengajaran agama.

PP tersebut memungkinkan pemerintah atau lembaga mandiri yang berwenang untuk melakukan akreditasi atas pendidikan keagamaan untuk penjaminan dan pengendalian mutu pendidikan sesuai Standar Nasional Pendidikan (SNP).  Isi SNP tersebut meliputi standar isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidikan dan tenaga pendidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian pendidikan. Keadaan ini dalam jangka panjang akan mengancam eksistensi, karakter dan ciri khas pesantren sebagai lembaga pendidikan yang mengajarkan keilmuan dan nilai-nilai agama (tafaqquh fiddin), sebagai kontrol sosial dan sebagai agen pengembangan masyarakat.

PP ini hanya cocok untuk sekolah formal sedangkan pendidikan informal dan non formal perlu dibuatkan aturan tersendiri. PP ini sangat besar kemungkinannya akan menempatkan pesantren sebagai lembaga yang harus ditertibkan. Aturan seperti ini akan membunuh dengan adanya standar nasional dan Ujian Nasional (UN). Ukuran-ukuran seperti ini dianggapnya terlalu menyederhanakan dan tidak akan mampu menghadapi kompleksitas permasalahan di pesantren. Dengan terbitnya PP ini, pemerintah dinilainya juga abai mempertimbangkan aspek budi pekerti yang harus dimiliki para siswa. Jika terjadi penurunan nilai moral, maka bukan semata kesalahan orang tua, tapi kesalahan pemerintah yang tidak bijak dalam mengelola pendidikan. Dalam hal ini, pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang holistik integratif. Internalisasi pendidikan karakter di pesantren ditekankan untuk menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga peserta didik menjadi paham (kognitif) tentang mana yang benar dan salah, mampu merasakan (afektif) nilai yang baik dan biasa melakukannya (psikomotor). Di pesantren, anak didik sangat ditekankan pada nilai-nilai moralitas seperti keikhlasan dan spiritualitas yang tidak bisa dengan mudah diukur dengan standar yang dibuat dalam PP tersebut. Apa yang ada di pesantren seperti keikhlasan dan spiritualitas mendorong kita untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Jiwa keikhlasan sudah menjadi tuntunan.

Pondok pesantren tentu tidak sama dengan sistem boarding school sebagaimana dimaksud dalam PP tersebut, meskipun sama-sama diasramakan layaknya pesantren. Keduanya memiliki motif dan tujuan pembelajaran yang sangat berlainan sehingga tidak bisa distandarkan hanya dengan PP tersebut.  Meski harus diakuinya saat ini memang terjadi perubahan seperti perlunya persyaratan ijazah bagi politisi, lurah, bupati dan lainnya. Pesantren dalam hal ini juga harus luwes dan mampu mengakomodasi kepentingan santri yang berminat meniti karir di sektor publik. Meskipun begitu, ciri khas pesantren tak boleh dihilangkan. Pesantren tetap harus bebas intervensi dari siapa pun dalam memberikan sumbangan yang besar pada pelayanan publik.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menunggu Keterlibatan Stakeholder Lokal

Nilai-nilai karakter pendidikan pesantren secara umum bisa diringkas dalam tiga kata: al Khair (goodess), al Birr (virtues) dan al Taqwa (religion commitment). Namun persoalan pendidikan pesantren bukan hanya berhenti dengan mengenali nilai-nilai apa yang ada dan selanjutnya menerapkannya pada lembaga formal lain. Upaya untuk menjadikan pendidikan pesantren mampu beradaptasi dengan modernitas dan menjaga keberlanjutan pendidikannya adalah persoalan yang harus ditemukan solusinya. Tentunya tidak akan selesai dengan keberadaan PP, yang diakui benar tidak dapat menangkap kekhasan pendidikan pesantren disetiap daerah di Indonesia.

Dalam peran inilah stakeholder lokal seperti pemerintah daerah perlu membuat terobosan berupa regulasi tentang penjaminan mutu pendidikan berbasis pesantren. Penyusunan regulasi ini tidak bertujuan mendikte pondok pesantren agar menjalankan proses penjaminan mutu seperti diuraikan dalam pedoman ini, melainkan pedoman ini bertujuan memberikan inspirasi tentang factor-faktor yang pada umumnya terkandung di dalam proses penjaminan mutu di suatu pondok pesantren. Perumusan kebijakan ini diambil karena didasari bahwa setiap pondok pesantren memiliki spesifikasi yang berlainan, antara lain dalam hal ukuran, struktur, sumber daya, visi dan misi, sejarah, dan kepemimpinan.

Peran penting pemerintah daerah untuk memberikan keberpihakannya terhadap peningkatan kualitas pendidikan berbasis pesantren. Mengingat posisi dan arti penting penjaminan mutu suatu pondok pesantren dapat dikemukakan bahwa di masa mendatang, bahwa eksistensi suatu pondok pesantren tidak semata-mata bergantung pada pemerintah, melainkan terutama bergantung pada penilaian pemangku kepentingan (steakholder), yaitu santri, orang tua, dunia kerja, pemerintah, pengajar (ustad), tenaga penunjang, serta pihak-pihak lain yang berkepentingan, tentang mutu pendidikan pondok pesantren yang diselenggarakan.

Konsep kebijakan otonomi daerah merupakan bagian integral dari program reformasi sistem pemerintahan dan pembangunan secara menyeluruh, tetapi pendidikan adalah salah satu aspek yang mendapat perhatian sangat besar di dalamnya. Bidang pendidikan, khususnya pendidikan dasar dan menengah serta pondok pesantren, adalah salah satu bidang yang diotonomikan kepada pemerintah daerah sebagai titik tolak reformasi bidang sosial dan politik, sekaligus reformasi sistem pendidikan nasional.   Dalam konteks daerah berbasis pondok pesantren, seperti Jombang dan daerah-daerah lain di Jawa Timur persoalan ini sangatlah penting. Persoalan tentang belum meratanya pencapaian kualitas hasil pendidikan pesantren, perbedaan kualitas penyelenggaraan pesantren hingga menyangkut persoalan proses rekrutmen pengajar (ustad), hingga kuantitas dan kualitas pengajar (ustad) yang dibutuhkan pondok pesantren.

Dalam menghadapi semua permasalahan ini pondok pesantren kerapkali harus berinisiatif sendiri atas keterbatasan peran pemerintah daerah. Padahal seharusnya pendidikan berbasis pesantren mendapat perhatian secara total bukan hanya perhatian terkait dengan hal-hal tertentu, seperti dalam isu radikalisasi, terorisme dan ajaran-ajaran tertentu. Melalui terobosan regulasi tentang penjaminan mutu pendidikan berbasis pesantren pemerintah daerah dengan sendirinya telah menjawab kebutuhan masyarakatnya akan perlindungan terhadap praktek pendidikan yang salah.

Hafis Muaddab, Wakil Sekretaris PC GP Ansor NU Jombang

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Quote, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Mei 2017

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) merasa prihatin ketika ada rencana Shalat Jumat di Jalan Raya pada 2 Desember 2016 oleh kelompok yang mengatasnamakan dirinya Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI.

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Gus Mus: Shalat Jumat di Jalan Raya Bidah Besar

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang, Jawa Tengah ini memberikan pernyataan melalui akun twitter pribadinya @gusmusgusmu, Rabu (23/11) sebanyak 7 cuitan.

"Aku dengar kabar di Ibu Kota akan ada Jumat-an di jalan raya. Mudah-mudahan tidak benar," cuit Gus Mus.

"Kalau benar, wah dalam sejarah Islam sejak zaman Rasulullah SAW baru kali ini ada bidah sedemikian besar. Dunia Islam pasti heran," sambung Pj Rais Aam PBNU 2014-2015 ini.

Gus Mus mempertanyakan apa dalil Al-Qur’an dan haditsnya melakukan shalat Jumat di jalanan. Dia juga mempertanyakan apakah Rasullullah SAW, para sahabat dan tabiin pernah melakukan atau membolehkan salat Jumat di jalan raya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kalau benar, apakah shalat tahiyyatal masjid diganti shalat tahiyyatat thariq atau tahiyyatasy syari?" tanyanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jika shalat Jumat di jalan protokol Jakarta itu benar akan dilakukan, lanjut Gus Mus, dia mengimbau umat Islam yang percaya dirinya tidak punya kepentingan politik apapun agar memikirkan hal itu dengan jernih.?

"Setelah itu silakan Anda bebas untuk melakukan pilihan Anda. Aku hanya merasa bertanggung jawab mengasihi saudaraku. In uriidu illal ishlãha mãs tathatu wamã taufiiqii illa biLlãhil Aliyyil Azhiim," tulisnya.?

"Artinya kurang lebih: Aku hanya berniat (ber)baik semampuku; taufikku hanya dengan pertolongan Allah Yang Maha Luhur dan Agung," imbuh Gus Mus menjelaskan artinya.

Sampai berita ini ditulis, tweet Gus Mus tersebut direspon oleh ribuan netizen jika diakumulasi, baik dalam bentuk retweet, like, mention, dan reply. Dalam pantauan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, pernyataan Gus Mus ini juga dijadikan rujukan oleh berbagai media online nasional untuk diterbitkan. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Pesantren, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 09 Mei 2017

Fadhilah Puasa di Bulan Dzulhijjah

Allah swt memiliki tiga waktu istimewa yang masing-masing berisi sepuluh hari dalam tiap tahunnya yang dibahasakan dengan stalsta a’syaratin (sepuluh hari yang tiga) yaitu 10 hari terakhir di bulan Ramadhan (asyrul awakhir min ramadhan), 10 hari di awal bulan Dzulhijjah, dan 10 hari pertama pada bulan Muharram.

Banyak hadits yang menerangkan keistimewaan bulan Dzulhijjah. Bulan yang seharusnya dimanfaatkan kaum muslimin untuk melipat gandakan ibadahnya karena, pahala yang dijanjikan Allah swt di dalamnya sangat luar biasa. Dua hadits berikut dapat dijadikan ukuran keistimewaan bulan Dzul Hijjah ini.

? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Dari Ibnu Abbas ra. ia berkata “Tidak ada hari di mana amal shaleh di dalamnya sangat dicintai oleh Allah ? melebihi 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah. Para sahabat lantas bertanya “apakah amal itu dapat membandingi pahala jihad fi sabilillah?” bahkan amal pada 10 hari Dzulhijjah lebih baik dari pada jihad fi sabilillah kecuali jihadnya seorang lelaki yang mengorbankan dirinya, hartanya, dan dia kembali tanpa membawa semua itu (juga nyawanya) sehingga ia mati sahid. Tentu yang demikian itu (mati sahid) lebih baik..

Fadhilah Puasa di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)
Fadhilah Puasa di Bulan Dzulhijjah (Sumber Gambar : Nu Online)

Fadhilah Puasa di Bulan Dzulhijjah

? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?, ? ? ? ? ? ?

Tidaka ada hari yang paling disukai oleh Allah swt, ? dimana Dia disembah pada hari itu kecuali, sepuluh hari bulan Dzulhijjah. Puasa satu hari di dalamnya sama halnya dengan puasa satu tahun. Ibadah, shalat malam sekali pada malamnya seperti sahalat malam selama satu tahun pula.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ada tiga hari teristimewa dalam sepuluh hari spesial awal bulan Dzulhijjah, yaitu tanggal 8 Dzulhijjah yang disebut dengan yaumu tarwiyah, tanggal 9Dzulhijjah yang disebut yaumul ‘arafah dan tanggal 10 Dzulhijjah yang disebut yaumun nahr. Meskipun tiga hari ini bernilai spesial, tetapi ketujuh hari lannya juga msih tetap istimewa karena kandungan sejarah yang luar biasa.

Secara historis, Ibnu Abbas pernah menerangkan bahwa dalam rentangan sejarahnya hari-hari di sepuluh pertama bulan Dzulhijjah ini adalah hari penuh makna karena terjadi berbagai peristiwa besar yang berhubungan pada perubahan kehidupan manusia selanjutnya.

Hari pertama Dzulhijjah adalah hari pertama dimaafkannya Nabi Adam oleh Allah swt, setelah beberapa lama beliau meminta pengampuanan atas kesalahannya memakan buah huldi di surga. Oleh karena itu Rasulullah saw pernah bersabda

Barang siapa yang berpuasa di hari pertama bulan Dzulhijjah maka Allah akan memaafkan dosa-dosanya sebagaimana yang terjadi kepada Nabi Adam.

Hari kedua Dzulhijjah adalah hari diselamatkannya Nabi Yunus as oleh ikan Nun setelah beberapa hari berada di dalam perutnya sembari terus bertasbih dan beribadah kepada Allah swt. Pada hari inilah Nabi Yunus dipersilahkan keluar dari perut ikan Nun. Oleh karena itulah Rasulullah saw pernah bersabda:

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Barang siapa beribadah di hari kedua bulan Dzulhijjah baginya pahala yang menyerupai ibadah satu tahun tanpa ada maksiat.

Hari ketiga Dzulhijjahh adalah hari dikabulkannya do’a nabi Zakariya as. untuk kemudian dianugerahi seorang anak.namanya Yahya. Adapun hari keempat Dzulhijjah adalah hari kelahiran Nabi Isa as. Hari kelima Dzulhijjah hari kelahiran Musa as. Hari keenam Dzulhijjah adalah hari-hari kemenangan para Nabi dalam memperjuangkan ajaran tauhid. Hari ketujuh bulan Dzulhijjah adalah hari ditutupnya pintu neraka Jahannam. Oleh karena itu Rasulullah saw pernah bersabda

Barang siapa berpuasa di hari ke tujuh bulan Dzulhijjah akan ditutup tiga puluh kesulitan dalam hidupnya dan dibuka tiga puluh pitu kemudahan baginya.

Adapun hari kedelapan yang disebut dengan hari tarwiyah diantara fadhilah yang masyhur bagi mereka yang berpuasa pada hari tarwiyah maka baginya pahala yang sangat besar, yang karena sangat besarnya tiada yang tahu pasti ukurannya kecuali allah swt.

Begitu pula hari kesembilan yang disebut dengan hari tasu’a, barang siapa yang berpuasa pada hari kesembilan maka pahala baginya seperti berpuasa selama enampuluh tahun. Adapun pada hari kesepuluh yang disebut dengan yaumun nahr hari penyembelihan korban, maka diharamkan kepada siapapun berpuasa waktu itu. (Ulil H)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Ulama, Anti Hoax Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock