Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dalam pengajian Tafsir Al-Quran di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus, Sabtu (25/6), Mustasyar PBNU KH.Syaroni Ahmadi menyinggung sikap manusia yang tidak punya malu, bluboh dan tidak konsisten.

Lalu, Mbah Syaroni memberikan contoh seekor ayam saat bertelur. Ketika telur sudah keluar dari dubur ayam, orang seringkali menyebut itu telur miliknya.

"Saat ditanya, ini telurnya siapa? Biasanya pada menjawab, ini telurku," tutur Mbah Syaroni.?

Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten





Namun, saat ayam mengeluarkan kotoran, setiap orang terlihat tidak konsisten mengakuinya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Ketika ditanya, semua orang pada menjawab ini telek (kotoran) ayam, padahal sama seperti telur yang keluar dari dubur ayam. Harusnya kalau konsisten, orang tersebut bilang iku telek ku," kata Kiai Syaroni, yang langsung? disambut gerr jamaah. (Qomarul Adib/Zunus). Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Pusat IPNU mempersiapkan sejumlah program konkret penanggulangan terorisme di kalangan pelajar pada 2015 mendatang. Mereka akan menyosialisasikan program ini kepada seluruh pengurus wilayah dan cabang se-Indonesia. Mereka akan mengambil 10 provinsi dan 10 kabupaten di Indonesia sebagai model.

IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah

“Sasarannya pelajar di sekolah-sekolah umum seluruh Indonesia termasuk juga mereka yang seusia pelajar,” kata Ketua Umum PP IPNU Hairul Anam Haritsah kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Selasa (11/11) sore.

Menurut Anam, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada akhir Oktober kemarin mengadakan pertemuan dengan IPNU dan sejumlah organ kepemudaan lainnya. Pihak BNPT meminta IPNU dan lainnya untuk membuat sejumlah program pencegahan terorisme di sekolah-sekolah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kita pada pertemuan itu menyerahkan data-data perkembangan rohis dan sistem pengajarannya se-Indonesia kepada BNPT,” ujar Anam.

Untuk program 2015 mendatang, IPNU antara lain akan melakukan konsolidasi ke sekolah-sekolah. Di sana pihaknya menggelar dialog pengenalan Islam rahmatan lil alamin kepada pelajar dan guru agama selain mendistribusikan buku-buku dengan konten Islam moderat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kita, kata Anam, akan membuka pengajian kitab kuning bagi aktivis rohis. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Keluarga besar SMP Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, bahagia. Sebab, beberapa hari lalu, Fathurrosy, salah seorang siswanya yang mewakili Kabupaten Probolinggo dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi Jawa Timur, berhasil menjadi juara I dari bidang seni lomba Cipta Puisi.

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013

Ajang prestisius yang digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di Surabaya, pada (9-12/5) itu, siswa SMP Nurul Jadid kelas VIII A itu, berhasil menyisihkan para peserta lain dari SMP Negeri/Swasta se-Jawa Timur. Sebelumnya, di bulan yang sama, siswa asal Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu, jadi jawara dalam ajang serupa tingkat Kabupaten Probolinggo.

Selanjutnya, Fathurrosy akan mewakili Provinsi Jatim dalam FLS2N di tingkat nasional. Ajang bergengsi nasional itu, akan digelar di Medan, pada Juni 2013, untuk bidang seni yang sama. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Dalam lomba Cipta Puisi tingkat provinsi itu, saya mengambil tema tentang bunga siwalan yang berhubungan dengan budaya dan karakter bangsa. Sementara judulnya adalah Dzikir Siwalan,” ujar siswa yang bercita-cita menjadi guru TIK itu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Rabu (22/5).

Kepala SMP Nurul Jadid, Faizin Syamwil, M.Pd., mengatakan, keberhasilan yang diukir oleh Fathurrosy itu, merupakan salah satu bentuk kesuksesan pembinaan yang terus dilakukan oleh SMP Nurul Jadid. “Selain ada pembinaan di sekolah. Fathurrosy juga dilatih dan dibimbing oleh Imron, mahasiswa IAI Nurul Jadid. Tiap 2 hari sekali, Fathurrosy mengirimkan hasil karya puisinya kepada saudara Imron itu,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Faizin, di SMP Nurul Jadid, ada pembinaan ekstrakurikuler. Seperti seni islami yang meliputi, drama, teater, baca puisi, dan cipta puisi. Selain itu, ada juga kaligrafi, hadrah, pencak silat, pramuka, jurnalistik, dan khitobah.

“Dan setiap ada informasi perlombaan, kami selalu berpartisipasi. Tujuannya sebagai bahan evaluasi terhadap pembinaan yang sudah kami lakukan. Juga sebagai pembentukan mental dan sebagai daya saing siswa,” ungkapnya.

Dengan adanya siswanya yang berhasil mewakili Provinsi Jatim di tingkat nasional, Faizin berharap, prestasi itu bisa menjadi motivasi bagi siswanya yang lain. “Kami juga berharap ada pembinaan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim sebagai persiapan ke tingkat nasional nanti,” harapnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Kyai, AlaSantri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan!

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Presiden Joko Widodo secara resmi telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatanganinya pada 15 Oktober 2015. Hari bersejarah itu kini memasuki tahun ketiga dan selalu diperingati dengan semarak di berbagai daerah.

Tanggal 22 Oktober dipilih lantaran pada momen itulah terbit Resolusi Jihad pada tahun 1945 sebagai seruan membela tanah air dari penjajah yang hendak kembali. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari berfatwa bahwa hukum perang dalam hal ini adalah fardhu ‘ain dan bernilai jihad.

Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan!

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, KH Afifuddin Muhajir kehadiran hari santri bisa dimaknai sebagai manifestasi pengakuan yang jujur terhadap péran besar yang dimainkan oleh kaum santri dalam mendirikam Negara Indonesia merdeka dan menjaga keutuhannya.

“Bahkan, sungguh tidak berlebihan bila dikatakan, kelahiran NKRI dibidani oleh para kiai dan santri mereka,” kata katib syuriyah PBNU periode 2010-2015 ini di akun Facebook pribadinya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi, katanya, anak yang dilahirkan tersebut sampai saat ini belum menunaikan kewajiban birrul walidain (berbakti) terhadap orang tua yang melahirkannya, yakni, kaum santri dan pesantren belum mendapatkan hak sebagai mana mestinya dari negara tèrutama menyangkut politik kebijakan dan anggaran.

“Memang, kaum santri dan pesantren tidak perlu dianakemaskan tetapi tidak boleh dianaktirikan. Cukup diperlakukan dengan adil,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua I Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur Hasanudin Tiro menyatakan, arus globalisasi yang ditandai derasnya arus informasi dan teknologi adalah suatu tantangan besar bagi kaum terpelajar dan pergerakan. Generasi muda selain harus mempunyai kematangan pikiran juga harus mempunyai kedalaman spiritualnya

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual

Maka pihaknya selaku ketua I PKC PMII Jatim segera menggelar Sekolah Kader Wilayah (SKW). Yang mana SKW ini adalah kaderisasi non-formal tertinggi di tingkat PMII Jawa timur dan merupakan sebuah Pelatihan Integral ke-materi-an, ke-fasilitator-an, kedisiplinan dan keagamaan.

“Sekolah kader wilayah (SKW) adalah pelatihan non-formal PKC PMII Jatim

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebuah pelatihan integral antara pematerian, kedisiplinan dan keagamaan. Globalisasi yang ditandai dengan derasnya  gelombang informasi dan teknologi sudah berkembang sedemikian rupa,” terangnya saat di temui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Kamis (10/1) di kantor PKC PMII Jawa Timur.

Tantangan ini harus kita hadapi dengan mempersiapkan genersi Bangsa yang tidak hanya maju di bidang intelektual tapi juga kematangan jiwa dan kedalaman spiritual,” lanjutnya.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Adapun out put dari Sekolah Kader Wilayah (SKW) adalah lahirnya idiolog-Idiolog handal yang dimiliki oleh pengurus cabang PMII di seluruh jawa timur. Yang kemudian dapat meneruskan kaderisasi di tingkat daerah masing-masing.

“Adapun kegiatan ini out putnya adalah lahirnya ideolog dan tim pelatih inti di masing2 cabang PMII se Jawa Timur,” tuturnya.

Ketika dikonfirmasi lebih lanjut pihaknya saat ini sedang menggodong rencana kegiatan tersebut karena kegiatan ini butuh waktu dan tenaga yang sangat ekstra maka dibutuhkan kekuatan dan fikiran yang cukup. bulan depan tanggal 13 Februari sudah dapat dilaksanakan. 

"Insyaallah 13 Februari 2013 sudah siap semuanya saat ini kita sedang menggodonk rangkain kegiatan tersebut, termasuk input pakar, mempersiapkan ketentuan peserta, dan buku-buku yang harus dibaca oleh calon peserta dalam kegiatan tersebut," pungkasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Anang Romli

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Kiai, Kajian Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda III. Kali ini acara wisuda digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. 

“Wisuda bukan berarti proses belajar itu berhenti, ini langkah awal dalam mempertanggungjawabkan keilmuan kita sebagai seorang sarjana di masyarakat,” ujar Ketua STAINU Jakarta, HM Mujib Qulyubi, MH dalam sambutannya di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Rabu (7/5).

Sebuah lembaga pendidikan, kata Mujib menyitir Pakar Pendidikan NU, Prof Dr KH M Tolhah Hasan, mengalami tiga transformasi, yang pertama adalah tahap bertahan, kedua yaitu tahap berkembang, dan yang ketiga ialah tahap bersaing. STAINU Jakarta, lanjut Mujib, telah melalui ketiga tahap tersebut dengan baik.  

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Sementara itu, H Abdul Wahid Hasyim, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta menuturkan bahwa STAINU Jakarta telah berkontribusi nyata untuk masyarakat dalam mencetak lulusan-lulusannya. “Oleh karena itu, STAINU Jakarta harus terus membangun sumber daya yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Untuk dapat melakukan itu, lanjut Hasyim, STAINU Jakarta juga harus senantiasa meningkatkan kualitas Dosen-dosennya, sebab merekalah pencetak lulusan berkualitas. “Untuk wisudawan dan wisudawati, masyarakat menunggu kiprah kalian, selamat bekerja,” pungkas Hasyim.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat RI H Djan Faridz dalam kertas sambutan yang dibawakan oleh asistennya Dr Muhammad Dimyati mengingatkan, dalam tahap bersaing ini, STAINU Jakarta dapat menerapkan strategi yang disebut Diamond In Diamond Out (DIDO) yaitu masuknya emas, keluarnya harus berlian. “Artinya, STAINU Jakarta harus membangun dan memperkuat,” ungkapnya.

Pada wisuda kali ini, STAINU Jakarta telah meluluskan sebanyak 222 wisudawan dan wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU H Marsudi Suhud, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Dr KH Nur Muhammas Iskandar SQ, Anggota DPR RI yang juga Dosen STAINU Jakarta, H Djazilul Fawaid, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kemendikbud RI Prof Ir H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Pondok Pesantren, Amalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Oleh Fathoni Ahmad

Ulama dinisbatkan kepada seseorang yang ‘alim, mempunyai ilmu agama yang mumpuni, menebar maslahat untuk masyarakat, perangai yang ramah tetapi tegas terhadap setiap kemunkaran, dan akhlak yang baik. Ulama yang produktif dalam beberapa gerakan dan karya selalu menjadikan masyarakat mempunyai daya.

Dalam sejarah emas peradaban Islam, terbukti banyak ulama yang mampu mempelopori berbagai temuan ilmiah di bidang ilmu pengetahuan selain jago berijtihad dalam membaca? nash. Hal ini membuktikan bahwa kebangkitan ulama telah berjalan sejak ratusan abad lalu sehingga saat ini manusia (tak terkecuali bangsa Barat) bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang banyak diinisiasi oleh para ulama tersebut.

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Istilah kebangkitan ulama sendiri sebetulnya kurang tepat, karena kebangkitan seolah menyimpan makna bahwa para ulama sebelumnya dalam kondisi terpuruk. Namun demikian, kebangkitan di sini mempunyai arti bahwa tidak semua ulama mempunyai jiwa bangkit untuk mengubah tatanan sosial atau kondisi di sekitarnya.

Itulah mengapa para ulama pesantren di Indonesia yang dikomandoi oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memilih istilah Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) untuk organisasinya pada 1926 silam. Namun, dalam sejarahnya, ulama dan NU mempunyai titik awal kebangkitan yang berbeda. Bisa dikatakan, titik awal kebangkitan ulama mewujud dalam perjuangan organisasi bernama NU yang hingga saat ini masih eksis berjuang untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara, bahkan dalam skala global.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Simpul yang bisa ditarik dari perjuangan ulama untuk bangkit mengubah tatanan sosial ialah, mereka berusaha menjaga dan merawat tanah air yang berawal dari lingkup lokal. Kondisi dan tatanan kehidupan sosial yang tidak seimbang dan cenderung negatif menggerakkan para ulama untuk melakukan langkah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu selain kewajiban mereka mengamalkan ilmunya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah Hijaz, Mekkah dan Madinah.

Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Tobagus Muhammad Falah (1842-1972), KH Bisri Syansuri, KH Syamsul Arifin Situbondo, serta ulama-ulama lain di berbagai daerah yang menginisiasi kebangkitan ulama melalui perjuangan mendirikan pesantren di daerah yang terbilang ada dalam kondisi tatanan sosial yang sangat negatif. Begitulah mestinya pijakan awal perjuangan agama, mengubah dari kondisi negatif ke tatanan sosial yang lebih baik dalam bingkai religiusitas komunal, bukan individual.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam sejumlah literatur sejarah, di penghujung abad ke-19, tepatnya pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari bangkit mendirikan ‘tratak’ (bangunan yang belum sempurna) berukuran sekitar 10x10 meter persegi di Kampung Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar 8 kilometer di selatan Kota Jombang. Masyarakat mengenal Tebuireng sebagai daerah yang sangat rawan. Pembunuhan, pencurian, perampokan, dan perkelahian hampir terjadi setiap hari. Aroma anyir tatanan sosial tersebut semakin kuat dengan hadirnya tempat-tempat maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan mabuk-mabukan di setiap sudut kampung.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah KH Hasyim Asy’ari untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh masyarakat kala itu. Perjuangan mendirikan pondok untuk belajar agama Islam secara mendalam setiap hari mendapatkan rintangan yang beberapa kali mengancam jiwa Kiai Hasyim Asy’ri dan santrinya yang saat itu masih bisa dihitung jari. Melihat kondisi tersebut, Kiai Hasyim merasa perlu mempelajari ilmu bela diri, begitu juga dengan para santrinya.

Akhirnya Kiai Hasyim mengutus seorang santrinya pergi ke Cirebon, Jawa Barat untuk meminta bantuan kepada Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Abdul Jamil Buntet, dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai tersebut merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka dikenal ahli dalam ilmu silat dan sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih Kiai Hasyim dan para santrinya.

Ilmu bela diri tersebut terbukti ampuh untuk menghadapi para penjahat yang terus berusaha menggangu aktivitas belajar agama di Pondok Tebuireng. Bahkan, Kiai Hasyim dengan kelembutan akhlaknya mudah saja memberikan pengampunan kepada para penjahat sehingga dengan sendirinya mereka bertobat dan memohon kepada Kiai Hasyim agar dijadikan sebagai muridnya di pondok.

Perjuangan Kiai Hasyim di atas hanya salah satu contoh terhadap banyaknya ulama yang melakukan perjuangan serupa di berbagai daerah meski dalam kondisi masih terjajah oleh Belanda saat itu. Di Jombang sendiri, Kiai Hasyim mampu merangsang tumbuh dan berkembanngnya pondok pesantren di beberapa kampung seperti Denanyar, Sambong, Sukopuro, Paculgowang, Watugaluh, Nggayam, Suwaru, Tegalsari, Banjarsari, Mojodadi, Balonggading, Pojokkulon, Semelo, Dukuhsari, dan Seblak. (Choirul Anam, 1985)

Perjuangan serupa dilakukan oleh ulama asal Banten KH Tobagus Muhammad Falak yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Falak pada 1907 di Kampung Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, Kota Bogor. Kemudian KH Bisri Syansuri yang mendirikan Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif di Denanyar pada 1917, KH Syamsul Arifin Situbondo ayah KH Raden As’ad Syamsul Arifin yang mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Situbondo pada tahun 1910-an.

Ke semua perjuangan ulama tersebut tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.

Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Gelora cinta tanah air ini tidak hanya membakar semangat perjuangan para santri dan umat Islam, tetapi juga para tokoh pergerakan nasional lintas etnis dan agama untuk bersama-sama berjuang mengusir penjajah agar meraih kemerdekaan lahir dan batin. Maka, cinta tanah air menjdi kunci perjuangan seluruh bangsa Indonesia yang saat ini disatukan dengan prinsip agung Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Mari kita jaga!

Penulis mengajar di Fakultas Agama Islam UNU Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Sholawat, Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?



Muslimat Nahdlatul Ulama akan menggelar kongres ke-XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 23 sampai 27 November. Hajatan bertema Dengan semangat Islam Nusantara, kita wujudkan Indonesia damai sejahtera tersebut akan diikuti sekitar tiga ribu peserta dari tingkat pusat, wilayah, dan cabang.?

Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU

Pimpinan Pusat Muslimat NU yang dipimpin Ketua Umum Khofifah Indar Parawansa menyampaikan hajatan lima tahunan tersebut kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan ? Katib Aam Syuriyah PBNU KH Yahya C Staquf di PBNU, Jakarta pada Jumat (11/11). ?

Menurut Khofifah rencananya kegiatan tersebut akan dimulai dengan registrasi peserta, ta’aruf, kemudian dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pembukaan kemungkinan diubah di tengah kongres karena Wapres ada agenda ke luar negeri. ?

Menteri Sosial RI tersebut menambahkan, kegiatan tersebut akan diwarnai dengan penyampaian materi dengan narasumber beberapa orang menteri. Serta arahan-arahan dari PBNU.?

Pertemuan lebih dari sejam tersebut disambut kesediaan Kiai Said menghadiri kegiatan tersebut. Ia bersedia datang di pembukaan ataupun di penutupan.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain Khofifah, pada kesempatan tersebut hadir pengurus lain yaitu Sekretaris Umum Aniroh Slamet, Bendahara Umum Erna Yulia Sofihara, Ketua Mahfudhoh Ali Ubayd, Ketua Nurhayati Said Aqil, Wakil Sekretaris Nurifah, Ketua Induk Koperasi An-nisa (Inkopan) Ana Muawanah, dan Ketua Sri Mulyati. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Santri, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Shalawat Nariyah dan Pentas Teater Sambut Kirab Resolusi Jihad di Situbondo

Situbondo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Di Pondok Pesantren Walisongo Situbondo, Tim Kirab Resolusi Jihad 2016 disambut penampilan hadrah Walisongi, Kamis (13/10) malam. Tidak hanya itu, iring-iringan pawai dari santri sepanjang dua kilometer, turut mengiringi Tim Kirab memasuki Ponpes Walisongo.

Shalawat Nariyah dan Pentas Teater Sambut Kirab Resolusi Jihad di Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Nariyah dan Pentas Teater Sambut Kirab Resolusi Jihad di Situbondo (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Nariyah dan Pentas Teater Sambut Kirab Resolusi Jihad di Situbondo

Begitu tim tiba di Pondok Pesantren asuhan KH Kholil Asad Syamsul Arifin, upacara penyambutan segera digelar. Bupati Situbondo Dadang Widiarto, Ketua Tanfidziyah PCNU Bondowoso KH Abdul Qodir Syam, Ketua PCNU Situbondo KH Zaini Samhadi, turut hadir. KH Ahmad Khusyari dan Pengasuh Ponpes Walisongo KH Kholil Asad Syamsul Arifin memberikan taushiyah.

Menurut KH Kholil Asad Syamsul Arifin, Islam adalah agama perdamaian, persatuan, kemanusiaan dan kemerdekaan. Oleh karena itu, umat Islam, harus membantu menciptakan terciptanya perdamaian, persatuan, kemanusiaan, dan kemerdekaan. Dunia pesantren berperan besar dalam kesemuanya itu.

Usai tausiyah oleh KH Kholil, peserta diajak bersholawat. Sholawat yang dibacakan adalah solawat Nariyah. Dipimpin langsung KH Kholil, solawat Nariyah dibawakan dengan beberapa jenis nada atau cengkok.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Iringan musik hadrah dengan dominasi kendang khas Situbondo mengiringi salawat. Tak ayal, lapangan tempat berlangsungnya acara bergemuruh karena ribuan santri yang hadir turut bersemangat menyatu dalam alunan solawat Nariyah.

Dari Ponpes Walisongo, Tim sebenarnya diagendakan berpindah untuk selanjutnya menginap di kantor PCNU Situbondo. Namun agenda mendadak berubah karena pihak ponpes menginformasikan bahwa malam itu santri ponpes telah menyiapkan pentas budaya.

Beberapa anggota tim yang sudah bersiap menuju bus pun, kembali memadati panggung. Adalah Tabbhuen Walisongo, kelompok teater Ponpes Walisongo yang telah menyiapkan pertunjukan. Malam itu, mereka membawakan judul "Setetes Embun di Tengah Padang Tandus".

Pentas teater yang menerjunkan tak kurang dari empat puluh personel, berkisah tentang perjuangan KH Hasyim Asyari dalam masa perang kemerdekaan 1945 hingga melahirkan Resolusi Jihad. Pentas ini didukung antara lain Ahmad Hidayatullah sebagai KH Hasyim Asyari, Moh Wafi sebagai KH Wahab Hasbullah, Aguswedi sebagai KH Bisri Sansuri, Ahmad Dardiri sebagai Jenderal Sudirman, ? Mohammad Amin Toha sebagai Bung Tomo, Mohammad Aqibatul Lutfi sebagai Bung Karno, Mohammad Zaini sebagai Bung Hatta, dan Ahmad Jailani sebagai Ibunda Bung Tomo.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Untuk mendekatkan nuansa Surabaya 1945 ke masyarakat terkini, cerita dilengkapi tokoh tambahan Kusno Wibowo dan Markesot yang juga dimainkan secara apik oleh Abdul Wafi dan Ariyanto.

Pentas yang sesekali diiringi ilustrasi musik berupa lagu bernuansa hadrah, berakhir lewat tengah malam. Mohammad Alimus Syahid, penulis cerita, yang ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal selepas pentas, mengatakan pementasan ini merupakan produksi ke-15 kelompok teater mereka. Kisah yang ditampilkan adalah dorongan atau ide langsung dari KH Kholil Asad. Tema ini sesuai dengan Resolusi Jihad NU dan Hari Santri Nasional.

Sebelum dipentaskan, Ali merombak naskah hingga tiga kali. Penulisan naskah ini dilakukan juga dengan berkonsultasi terlebih dahulu kepada KH Agus Sunyoto. Tujuannya agar ada keakuratan cerita karena terkait dengan sejarah. Selain itu, konsultasi juga dilakukan dengan PWNU Jawa Timur.

Kemeriahan solawat Nariyah dan pentas teater, menjadi suguhan istimewa dari Ponpes Walisongo ? yang sulit dilupakan dalam perjalanan Kirab Resolusi Jihad 2016. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Habib, Kajian Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 26 November 2017

Sapa Masjid, Cara NU Gending Dekatkan Diri dengan Masyarakat

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gending Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur memiliki cara tersendiri untuk lebih mendekatkan diri dengan masyarakat. Salah satunya dengan melakukan kegiatan sapa masjid dari ranting ke ranting setiap malam Rabu se-Kecamatan Gending.

Sapa Masjid, Cara NU Gending Dekatkan Diri dengan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Sapa Masjid, Cara NU Gending Dekatkan Diri dengan Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Sapa Masjid, Cara NU Gending Dekatkan Diri dengan Masyarakat

Selasa (14/2) malam, kegiatan sapa masjid ini dilaksanakan di aula Kantor MWCNU Kecamatan Gending. Kegiatan yang diikuti oleh seluruh pengurus ranting ini diisi dengan sholawatan untuk Baginda Rasulullah Muhammad SAW bersama jam’iyah hadrah pimpinan Ketua LPNU MWC Gending Agus Basuki Wibowo.?

Selanjutnya dilakukan diskusi dan dialog tentang masalah ke-NU-an bersama Wakil Ketua PCNU Kota Kraksaan KH Mustofa, wawasan kebangsaan oleh Danramil Gending dan kamtibmas bersama Kapolsek Gending. Serta Camat Gending Muhammad Ridwan yang juga Mustasyar MWCNU Gending.

“Kegiatan menyapa masjid adalah sebuah kemasan acara, kolaborasi antara LTM NU, LBM, dan LDNU MWC Gending. Dimana masing-masing lembaga tersebut menjalankan tupoksinya sehingga kegiatan ini bisa berjalan sesuai dengan harapan,” kata Ketua MWCNU Gending Misnaji.

Menurut Misnaji, kegiatan menyapa masjid ini dibagi menjadi dua. Yakni, menyapa masjid yang kegiatannya dilaksanakan setiap malam Rabu dari masjid ke masjid di wilayah Kecamatan Gending dengan diisi pembacaan kitab Fathul Qorib dilanjutkan tanya jawab.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Menyapa masjid yang dilaksanakan setiap putaran kelima di Kantor MWCNU Gending dengan agenda acara pencerahan ummat dengan membahas masalah terkini yang berkembang di masyarakat bersama narasumber yang kompeten di bidangnya,” jelasnya.

Selain itu, menyapa masjid yang dilaksanakan setiap malam Jum’at manis di Pendopo Kecamatan Gending dilakukan dalam rangka istighotsah bersama warga masyarakat dan bergilir ke tiap-tiap pendopo desa se Kecamatan Gending.

“Semua kegiatan tersebut berawal dari pemberdayaan jama’ah masjid, sehingga walaupun tidak bertempat di masjid tetapi kami sebut sebagai kegiatan menyapa masjid,” terangnya.

Melalui kegiatan ini Misnaji mengharapkan agar roda organisasi berjalan baik di tingkat MWC maupun Ranting hingga badan otonom (banom) dan kelembagaan. Soliditas kepengurusan di NU bisa diukur dari adanya sinergi kerjasama antar organisasi NU, bukan berjalan sendiri sendiri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Serta terciptanya warga NU yang berwawasan kebangsaan, religius, intelektual dan berakhlaqul karimah ala Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja),” harapnya. (Syamsul Akbar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 24 Oktober 2017

Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini

Depok, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Di hadapan lebih dari 600 kaum ibu peserta Festival Toleransi 2015, Direktur The Wahid Institute (TWI) Zannuba Arifah Chafsoh Rahman alias Yenny Wahid mengajak masyarakat untuk menanamkan nilai-nilai toleransi sejak dini mulai dari lingkungan keluarga. Festival digelar di lapangan Pusaka, Kelurahan Duren Seribu, Kecamatan Bojongsari, Kota Depok, Jawa Barat, Ahad (13/12).

Dalam orasinya, Yenny Wahid mengingatkan peran penting para ibu rumah tangga dalam menyemai toleransi. Para ibu rumah tangga yang juga anggota Koperasi Cinta Damai (KCD) ini tampak semangat merayakan toleransi.?

Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)
Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini (Sumber Gambar : Nu Online)

Yenny Wahid Ajak Para Ibu Tanamkan Toleransi Sejak Dini

“Ibu-ibu punya peran besar membangun toleransi. Jika ibu-ibu di sini hatinya damai dan toleran, keluarganya akan damai. Jika keluarga damai, kampung ini damai. Jika kampung ini damai, bangsa ini kira-kira damai tidak?” tanya puteri kedua mendiang KH Abdurrahman Wahid itu disambut teriakan damai para peserta. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bangsa ini beruntung, lanjut Yenny, sejumlah negara di Timur Tengah seperti Suriah sekarang berada dalam situasi konflik dan saling bunuh. Kita, terangnya, harus berusaha agar bangsa tetap damai. “Caranya sederhana. Mulailah dari sendiri, dari lingkungan keluarga ibu-ibu. Contohnya tidak membuang sampah sembarangan dan tidak menggunjing tetangga.”

Di tempat yang sama, Sekretaris Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat KH Abdul Moqsith Ghazali juga menyampaikan pentingnya menyebar perdamaian dan toleransi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Toleransi merupakan ajaran dasar Islam yang disebarkan Nabi Muhammad. Di akhir shalat kita biasa mengucapkan salam ke kiri dan ke kanan. Artinya, kita diminta selalu menyebar perdamaian. Kepada siapapun, termasuk bagi mereka yang berbeda agama,” tandas Moqsith.

Menurut salah seorang panitia, Alamsyah M Ja’far, festival tersebut juga diramaikan sejumlah kegiatan. Mulai perlombaan menggambar untuk anak-anak, tasyakuran usaha cuci pakaian Koperasi Cinta Damai, pemberian modal usaha Rp 30 juta untuk anggota, hingga pembacaan deklarasi damai.

“Di lapangan pelosok kampung ini mereka berikrar sembari ngobrol soal toleransi dan kerukunan. Mereka bergembira bersama. Mereka juga membawa serta balita dan anak-anak, sebagian ikut lomba menggambar,” ujar Alam.

Disinggung soal KCD yang diinisiasi TWI ini, Alam menuturkan bahwa koperasi ini memiliki ‘Deklarasi Perempuan Cinta Damai’ yang biasa dibacakan dalam pertemuan rutin anggota. Isinya komitmen untuk hidup dalam cinta dengan segenap lapisan masyarakat dari berbagai suku, agama, dan keyakinan. “Mereka berjanji untuk menjadikan masa depan keluarga sebagai komitmen dan pendidikan anak sebagai ikhtiar bersama,” tandasnya.

Hingga tahun 2015, anggota KCD mencapai 1200 orang dari kalangan ibu rumah tangga. Mereka tersebar di sejumlah titik di Depok dan Parung, Bogor. Usaha yang dilakukan berupa koperasi simpan pinjam. Sebagian kelompok kini tengah mengembangkan sejumlah usaha, antara lain bergerak di kuliner dan kerajinan tangan. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 22 Oktober 2017

Shalawat Bareng Muallaf Bergema di Benteng Vastenburg Solo

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kawasan Benteng Vastenburg di jalan Jenderal Soedirman, Solo, Jawa Tengah, Jumat (30/8) malam dipadati oleh sekitar 30.000 jamaah yang berpakaian putih. Solo sebagai “Kota Shalawat” itu kembali menggelar acara Shalawat Akbar dan Halal bi Halal masyarakat Solo raya.

Shalawat Bareng Muallaf Bergema di Benteng Vastenburg Solo (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalawat Bareng Muallaf Bergema di Benteng Vastenburg Solo (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalawat Bareng Muallaf Bergema di Benteng Vastenburg Solo

Perhelatan yang dihadiri Habib Syech bin Abdul Qadir Assegaf dan seorang muallaf, Robby Sumampow, ini menyedot banyak pengunjung. Sejak pukul 18.30 WIB mereka membuat kawasan tersebut penuh sesak.

Berbeda dengan acara shalawatan biasanya, acara ini didukung oleh beberapa elemen masyarakat lintas agama Solo diantaranya, Ahbabul Musthafa, PCNU Solo, Jamuri, Kadin Solo, PMS (Persatuan Masyarakat Surakarta), Himpunan Fuqing, Sosialita Solo, dan sejumlah elemen lainnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sehingga, tidak hanya umat muslim saja yang hadir memenuhi kawasan Benteng Vastenburg yang kini dimiliki Robby Sumampow, pengusaha besar yang pada akhir Ramadhan yang lalu telah menjadi muallaf.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Robby Sumampow yang duduk bersandingan dengan Habib Syech terlihat senang melihat kawasan tersebut dipadati oleh puluhan ribu jamaah pecinta shalawat. Ia yang kabarnya diislamkan oleh Habib Syech ini memang cukup menyita perhatian, khususnya masyarakat Solo.

Di sela-sela shalawatnya, Habib Syech yang selalu terlihat cerah wajahnya menyampaikan beberapa tausiyah tentang akhlak Nabi Muhammad SAW. Ia bercerita bahwa suatu hari di zaman Rasulullah, ada seseorang yang kencing di masjid. Para sahabat marah melihat apa yang dilakukan orang tersebut dan hendak memukulinya.

Namun Rasulullah justru menghalangi perlakuan para sahabat. Rasulullah menjelaskan secara baik-baik kepada para sahabat bahwa mungkin saja orang tersebut tidak tahu kalau ini masjid. Dan betul bahwa ia tidak tahu kalau tempat yang dikencinginya itu adalah masjid tempat ibadah. Kemudian Rasulullah pun menasehatinya tentang etika kencing di tempat yang benar.

“Dari kisah tersebut hikmahnya adalah kalau melihat suatu kesalahan jangan langsung emosi. Dicari tahu dulu apa latar belakang ia melakukannya. Karena ucapan seperti ini (yang dilakukan para sahabat) malah bisa menambah permasalahan baru,” tutur Habib dengan bijak

.Dalam acara malam hari itu, hadir pula walikota Solo FX Rudiyatmo yang turut memberi pesan kepada seluruh masyarakat Solo. 

“Solo sebagai Kota Shalawat lebih membudayakan apa yang menjadi aktivitas warga Solo. Apa yang terjadi pada Senin kemarin (di Keraton Solo) bisa diselesaikan secara musyawarrah mufakat,” ujar Rudi.

Terakhir Habib Syech menyampaikan apa yang menjadi keprihatinannya dan masyarakat Solo secara umum. “Semoga Keraton Solo kembali rukun,” pungkasnya. (Ahmad Rodif Hafidz/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 September 2017

Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia

Rembang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dalam sebuah acara pengajian, Mustasyar PBNU KH Maimoen Zubair menyinggung soal Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) yang digelar serentak di sebagian besar kabupaten dan kota di Indonesia pada 9 Desember lalu.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang, Jawa Tengah menuturkan, pemilihan umum ini merupakan tonggak demokrasi Indonesia.

Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Mbah Moen: Pemilu Tonggak Demokrasi Indonesia

"Siapapun yang ikut mencalonkan diri pada tanggal 9 Desember kemarin, mereka adalah anak bangsa yang juga telah ikut andil dalam menyukseskan demokrasi di Indonesia", tuturnya dalam acara Haflah Khatmil Qur’an di Pondok Pesantren Al-Hamidiyah Islamic Center, Lasem, Rembang, Senin (14/12) sore.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Mbah Moen, sapaan akrabnya, politik bukan untuk memuaskan kepentingan sesaat, melainkan untuk mendialogkan Islam dengan kebangsaan. Ia menambahkan, pemilihan umum ini merupakan tindak lanjut dari praktik yang pernah dicontohkan oleh Khulafaur Rasyidin.

Turut hadir dalam acara ini beberapa tokoh agama, di antaranya KH Sofwan (Imam Masjid Lasem), KH Khaizul Maali (Mustasyar PCNU Kabupaten Rembang), H Arwani Thomafi (anggota DPR RI). Acara ditutup dengan doa oleh KH Maimoen Zubair. (Aan Ainun Najib/Mahbib)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Nusantara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 18 Agustus 2017

Suluk MATAN Bangun Kader Intelektual Aswaja Penjaga NKRI

Bogor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Wilayah (PW) Mahasiswa Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah (MATAN) DKI Jakarta menggelar kegiatan Suluk MATAN, Jumat-Sabtu (23-24/12) lalu di Al-Rabbani Islamic College, Nagrak, Gunung Putri, Bogor, Jawa Barat.

Suluk MATAN Bangun Kader Intelektual Aswaja Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Suluk MATAN Bangun Kader Intelektual Aswaja Penjaga NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Suluk MATAN Bangun Kader Intelektual Aswaja Penjaga NKRI

Kegiatan bertajuk Membangun Kader Intelektual Berbasis Spiritual dan Kemandirian Ekonomi sebagai Benteng NKRI ini diikuti oleh beberapa kampus di Jabodetabek.

“Peserta yang mendaftar ada 81 orang, mereka berasal dari IPB, UI, UIN, UNJ, UNU dan kampus lainnya. Mayoritas peserta aktif mengikuti kegiatan dari awal hingga akhir,” ujar Ketua MATAN DKI Jakarta, KH Ali M. Abdillah yang juga menjadi salah satu narasumber dalam kegiatan tersebut.

Adapun narasumber lain yang hadir di antaranya, KH Hamdani Muin, KH Cholil Nafis, Ulil Abshar Abdalla, Sekretaris Deputi Pembinaan Pemuda Kemenpora Imam Gunawan, dan dari BNPT Syamsul Hadi.

KH Ali M. Abdillah menyampaikan materi soal tasawuf yang relevan untuk kalangan mahasiswa. “Sebagai sipirit membangun pribadi yang berakhakul karimah sehingga berperan sebagai kader dalam membangun bangsa,” ujarnya kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Selasa (27/12).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kemudian, Imam Gunawan menyampaikan tema tentang membangun jiwa entrepreneur kader muda. “Alhamdulillah ada langkah kongkrit terbentuknya MATAN Entrepreneur yang menjadi wadah untuk menampung potensi entreprenuer kader-kader MATAN. Pihak kemenpora akan membantu pembinaan dan pemberian modal usaha sesuai dengan program Kemenpora tahun 2017,” ucapnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Samsul hadi dari BNPT memberikan keterangan tentang masuknya ajaran radikal di kampus-kampus. “Program BNPT tahun 2017 akan fokus di kampus. BNPT akan mendukung program kader MATAN terkait program deradikalisasi di kampus,” tutur Samsul.?

Lalu, intelektual muda Ulil Abshar Abdallah menyampaikan tentang dinamika pemikiran Islam klasik dan kontemporer. Ulil menyatakan, dirinya tetap istiqomah sebagai kader Nahdliyyin yang Sunni, Syafi’i, dalam tasawuf al-Ghazali dan falsafi.?

“Sedangkan pemikiran Islam liberal saya gunakan untuk dakwah di luar NU terutama utk menghadapi pemikiran barat,” ujarnya.

Selain itu, dia juga memberikan pencerahan terkait dinamika pemikiran Islam sejak wafatnya Rasulullah hingga moderen, baik dalam soal politik, keagamaan (madzhab) maupun sosial.?

KH Cholil Nafis menyampaikan materi tentang tantangan Aswaja. Cholil menegaskan perlunya kembali membaca prinsip-prinsip Aswaja dan Qanun Asasi yg dibuat oleh KH Hasyim Asyari supaya terhindar dari bahaya pemikiran liberalisme dan radikalisme.?

Kemudian, KH Hamdani Muin menyampaikan materi tentang Kematanan yang berpegang pada 5 prinsip: tafaquh fiddin, iltijamut thaat, tazkiyat nafs dan tasfiyatul qulub, mulazamah zikir dan aurad, khidmah lil ummah. “Kader MATAN bertanggung jawab dalam menjaga Aswaja an-Nahdliyah, membangun harmonisasi antara umat beragama dan sebagai benteng NKRI,” ujarnya. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Kyai, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 27 Juni 2017

Ini Deklarasi untuk Indonesia Damai dari Manado

Manado, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kementerian Agama RI menggelar Annual International Conference on Islamic Studies (AICIS) di Manado, Sulawesi Utara. Kegiatan bertema “Harmoni in Diversity: Promoting Moderation and Preventing Conflicts in Socio-Religious Life” tersebut berlangsung dari Kamis (3/9) sampai Ahad (6/9).

Ini Deklarasi untuk Indonesia Damai dari Manado (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini Deklarasi untuk Indonesia Damai dari Manado (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini Deklarasi untuk Indonesia Damai dari Manado

Pada pembukaan kegiatan yang berlangsung di Hotel Penisula tersebut Kemenag mengeluarkan “Deklarasi Manado untuk Indonesia Damai”. Berikut deklarasi tersebut:

Kami, pimpinan perguruan tinggi keagamaan dan tokoh-agama, adat dan masyarakat dengan ini mendeklarasikan:

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

1. Kami meyakini bahwa keragaman bangsa indonesia adalah sumber kekuatan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

2. Kami bertekad menjaga suasana damai dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk indonesia yang kuat, sejahtera, dan berdaulat.

3. Kami akan bahu membahu dengan semua komponen bangsa untuk mencegah setiap usaha, gerakan, dan pemikiran yang dapat mengusik kedamaian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

4. Kami mendukung setiap langkah negara untuk mencegah berkembangnya segala bentuk fanatisme, ekstrimisme, dan radikalisme yang mengatasnamakan suku, agama, ras, dan golongan.

5. Kami mengajak semua komponen bangsa untuk berperan aktif dalam menegakkan nilai-nilai kebersamaan dan menjaga kedamaian.

Deklarasi ini dibuat dengan penuh kesadaran sebagai pernyataan sikap dan komitmen bersamademi terwujudnya indonesia yang lebih aman, damai, dan sejahtera.

Manado, 3 September 2015

Tertanda:

1. H. Lukman Hakim Saifuddin, (Menteri Agama)

2. H. Kamaruddin Amin (Dirjen Pendis)

3. Djauhari Kansil (Wakil Gubernur)

4. H. Amsal Bakhtiar (Direktur Diktis)

5. H. Mukri (Rektor Iain Lampung)

6. Rukmina Gonibala (Rektor IAIN Manado)

7. Farid Wajdi (Rektor UIN Arraniry)

8. H. Musafir Pababbari (Rektor UIN Alauddin, Makassar)

9. H. Abd. A’la (Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya)

10. Fauzi Aseri (Rektor IAIN Banjarmasin)

11. Hasbullah Toisuta (Rektor IAIN Ambon)

12. Habib Al-Idrus (Ketua STAIN Jayapura)

13. H.m. Taufik (Ketua Stain Pamekasan)

14. Jeane Tulung (Ketua STAKN Manado)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 Maret 2017

Ali Masykur Musa: ISNU Sumut Harus Perkuat Jaringan

Medan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Umum Pimpinan Pusat Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Ali Masykur Musa meminta kepada Pimpinan Wilayah ISNU Sumatera Utara (Sumut) memperkuat jaringan.

Ali Masykur Musa: ISNU Sumut Harus Perkuat Jaringan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ali Masykur Musa: ISNU Sumut Harus Perkuat Jaringan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ali Masykur Musa: ISNU Sumut Harus Perkuat Jaringan

Menurutnya, salah satu fungsi ISNU adalah bagaimana membuat jaringan yang kuat di seluruh penjuru Nusantara. "PW ISNU Sumut harus membangun dan memperkuat jaringan. Dengan demikian, ISNU tidak hanya kuat di Pulau Jawa, tetapi juga mewarnai seluruh penjuru Indonesia, termasuk Sumut," katanya.

Ia menyampaikan hal tersebut pada pembukaan Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) dan Silaturahim Kebangkitan PW ISNU Sumut di Aula Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumut, Jalan Sei Batanghari Medan, Suumt, Sabtu (19/3).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pria yang biasa dipanggil Cak Ali? ini yakin, ISNU sebagai pencetak kader-kader NU mampu membangun jaringan hingga ke seluruh penjuru Nusantara. Karena kalau dilihat dari kulturnya, 80 persen umat Islam di Indonesia menganut paham Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja), dan dari 60 persen di antaranya berkultur NU.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Jadi tugas ISNU untuk membangun network harus dilaksanakan," tegas mantan Wakil Ketua Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI ini.

Fungsi ISNU lainnya, kata Ali Masykur, adalah kaderisasi. Kalau NU mau berkembang, harus konsisten melakukan kaderisasi. Sebab kaderisasi adalah darahnya sebuah organisasi. "Kalau darahnya tidak bersih, tentu akan mengalami kerusakan-kerusakan sistem," tutur mantan Ketua Umum PB Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ini.

Selain itu, fungsi ISNU adalah peningkatan kapasitas kader. Menurutnya, penempatan kader-kader terbaik di posisi strategis bangsa adalah tugas ISNU untuk berjuang demi kepentingan bangsa.

Tokoh masyarakat Sumut H Syamsul Arifin menyatakan hal senada. "ISNU harus bergerak, karena ISNU punya kader di mana-mana. Tugas ISNU bagaimana menghimpun kader itu menjadi jaringan yang kuat," kata mantan Gubernur Sumut dan penasehat GP Ansor Sumut ini.

Dalam kesempatan itu, Ketua PWNU Sumut diwakili Wakil Ketua H Takbir Siregar menyatakan siap mendukung program ISNU. Bahkan dia menantang ISNU Sumut untuk sama-sama membesarkan Universitas Nahdlatul Ulama Sumatera Utara (UNUSU) yang sudah beroperasi sejak tahun lalu.

"Bagi pengurus ISNU yang sudah bergelar S2 silakan bergabung ke UNUSU," kata Takbir yang juga Wakil Rektor II UNUSU.

Sekretaris PW ISNU Sumut H Fadli Yasir menyatakan, Rakerwil dan Silaturahmi Kebangkitan ini digelar agar ISNU di Sumut bangkit, tidak lagi sekadar organisasi papan nama.

"Dari Rakerwil ini akan disusun program-program sekaligus menyatukan tekad agar ISNU berbicara dan bangkit di Sumut. ISNU akan jadi corong dan laboratorium untuk membesarkan NU di Sumut," kata mantan Ketua PW GP Ansor Sumut ini.

Sebelumnya, Ketua Panitia Rakerwil Erwin Arisandi melaporkan, Rakerwil yang digelar 19-20 Maret diikuti 21 PC ISNU se-Sumut. Setelah acara pembukaan di Aula PWNU Sumut, Rakerwil? dilanjutkan di Hotel Grand Jamee, Jalan Gagak Hitam. (Hamdani Nasution/Mahbib)

?

? ?

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 Maret 2017

Munajat Ramadhan GP Ansor Bersama Habiburrahman El-Shirazy

Semarang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor Genuk, Semarang, menyelenggarakan kegiatan Amalan Ramadhan yang bertajuk "Munajat Ramadhan Bersama Habiburrahman El-Shirazy", penulis novel Ayat-Ayat  Cinta.

Munajat Ramadhan GP Ansor Bersama Habiburrahman El-Shirazy (Sumber Gambar : Nu Online)
Munajat Ramadhan GP Ansor Bersama Habiburrahman El-Shirazy (Sumber Gambar : Nu Online)

Munajat Ramadhan GP Ansor Bersama Habiburrahman El-Shirazy

Habiburrahman menyampaikan tausiah ramadhan dengan tema “Mendidik Karakter Pemuda Islam dengan Ramadhan” yang bertempat di Aula Kecamatan Genuk Jl. Dongbiru Rt 3 Rw 3 Semarang, Ahad  (14/7) lalu.

Para jamaah baik dari masyarakat, MWC NU, Fatayat, Muslimat dan IPNU-IPPNU dan para kiai sepuh memadati aula kecamatan meski hujan menguyur kota Semarang, namun antusias jamaah semakin bersemangat saat group shalawat melantunkan syair dan pujian shalawat yang menghiasi seisi aula.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Muhammad Sodri, Ketua GP Ansor Genuk mengatakan Kegiatan Amalan Ramadhan merupakan kegiatan rutin tahunan dan Munajat Ramadhan dengan menghadirkan Habiburrahman El-Shirazy selayaknya menjadi pemicu semangat bagi pemuda khususnya warga Genuk untuk mengambil pengalamannya karena dia terlahir di desa yang bisa melambung namanya hingga dunia.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Habiburrahman El-Shirazy menyampaikan pesan kepada para jamaah untuk kembali belajar tentang Islam dan kedirian, adakah yang salah pada umat Islam sehingga peradaban Islam semakin lama semakin tergerus. Ketika orang-orang barat di tengah malam asyik membaca, kita umat Islam enak nonton bola.

Sebagai sastrawan Habiburrahman tak lupa membacakan puisinya yang berjudul Al-Qur’an Bernyawa. “Di Jabal Nur dalam Kepasrahan hampa, tubuhnya bercahaya, Jibril mengokohkan seruanya, bacalah,” salah satu bait puisi yang patut menjadi renungan bagi kita, bahwa kita harus mampu untuk kembali dengan cara “Iqra” atau bacalah. Sebagaimana Nabi Muhammad diperintahkan untuk membaca, bukan hanya membaca buku tapi membaca kehidupan ini, tutur Habiburrahman.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Lukni Maulana

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Budaya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Desember 2016

28 Mei, Waktunya Luruskan Arah Kiblat

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Selasa 28 Mei 2013 pukul 16:17:54 WIB, adalah saat yang tepat untuk meluruskan arah kiblat untuk wilayah-wilayah di Indonesia yang mendapatkan cahaya matahari. Sore itu terjadi peristiwa yang disebut “roshdul qiblat” atau saat matahari benar-benar berada di atas Ka’bah.

Tepat pasa saat terjadi roshdul qiblat semua benda yang berdiri tegak bayangannya akan mengarah ke Ka’bah. Peristiwa alam ini dapat dimanfaatkan untuk menyempurnakan arah kiblat di masjid, musholla atau di tempat shalat masing-masing dengan cara yang sangat sederhana.

28 Mei, Waktunya Luruskan Arah Kiblat (Sumber Gambar : Nu Online)
28 Mei, Waktunya Luruskan Arah Kiblat (Sumber Gambar : Nu Online)

28 Mei, Waktunya Luruskan Arah Kiblat

"Roshdul qiblat" adalah istilah khas di kalangan ahli falak pesantren. Istilah lain untuk Roshdul Qiblat adalah istiwa a‘dzam (istiwa utama) Mekkah atau transit utama matahari di atas kota Makkah.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Peristiwa roshdul qiblat terjadi dua kali dalam setahun, yakni pada bulan Mei dan Juli. Pada Mei 2013 ini roshdul qiblat terjadi pada tanggal 28, pukul 16:17:54 WIB. Peristiwa roshdul qiblat berlangsung singkat, sekitar satu menit saja.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berikut ini cara mengukur arah qiblat dengan roshdul qiblat sesuai panduan Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama:

1. Tancapkan batang kayu yang lurus berdiri tegak

2. Amati perjalanan matahari sampai pada waktu yang diperkirakan tersebut.

3. Pada saat waktu tersebut, bayangan batang kayu itu mengarah ke tenggara (timur serong ke selatan)

4. Ujung bayangan sampai ke batang kayu (barat laut) adalah arah qiblat yang benar.

Lajnah Falakiyah PBNU mengimbau, apabila terdapat arah kiblat masjid atau musholla yang sudah ada ternyata tidak sesuai dengan arah kiblat yang diukur dengan memanfaatkan roshdul qiblat, maka bangunan itu tidak perlu dibongkar. “Cukup shafnya saja yang diluruskan sesuai dengan arah kiblat yang benar,” kata Ketua lajnah Falakiyah PBNU KH A. Ghazalie Masroeri terkait roshdul qiblat.

Penulis: A. Khoirul Anam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Ubudiyah, Aswaja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 26 Oktober 2016

Santri MA Unggulan Pesantren Darul Ulum Pilih Ketua OSIS Pakai e-Voting

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Sebanyak 500 santri Madrasah Aliah Unggulan Pesantren Darul Ulum Rejoso, Jombang, Jawa Timur, mengikuti pemilihan Ketua OSIS (Pemilos) dengan menggunakan e-voting, di aula madrasah setempat, Kamis (15/9). Proses pemungutan suara secara elektronik ini termasuk yang pertama kali diselenggarakan oleh sekolah di lingkungan pesantren.

Panitia Pemilos, Ahmad Muchtar Badarudin mengatakan, MA Unggulan Darul Ulum Rejoso baru pertama kali ini menggunakan e-voting. Menurutnya, proses pemilihan itu lebih efektif dan efisien. Sedangkan hasilnya juga lebih cepat dan akurat.

Santri MA Unggulan Pesantren Darul Ulum Pilih Ketua OSIS Pakai e-Voting (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri MA Unggulan Pesantren Darul Ulum Pilih Ketua OSIS Pakai e-Voting (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri MA Unggulan Pesantren Darul Ulum Pilih Ketua OSIS Pakai e-Voting

"Mereka dibekali username dan password yang sudah diberikan panitia, kemudian pemilih mengklik komputer yang digunakan sebagai alat pemilihan. Salah satu dari para kandidat yang dijagokan akan muncul dilayar," jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ahmad yang merupakan Ketua OSIS MAUDU periode sebelumnya mengungkapkan, untuk menggelar Pemilos dengan e-voting pihaknya membutuhkan persiapan sekitar satu minggu. Mulai pembuatan program hingga penjaringan calon.

"Alhamdulillah, animo peserta cukup bagus. Terbukti, sebanyak 33 bakal calon mendaftar. Setelah menjalani serangkaian tes tulis dan lisan, yang lolos hanya empat pasangan calon," imbuhnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Keempat? pasangan kandidat itu di antaranya adalah pasangan M Tamim Asrofi-Safa Salsabila (nomor urut 1), Tito Saksono-Afifah Khoirunnisa (nomor urut 2), Naila Habiba Ghufron-Gusti (nomor urut 3), serta Hunna Hayu Rosidah (nomor urut 4). "Sedangkan siswa yang memiliki hak pilih sekitar 500 orang. Mereka adalah siswa kelas X hingga kelas XII,” ungkasnya.

Sementara itu, Kepala MAUDU, Solikhan menambahkan, Pemilos dengan metode e-voting ini sebagai pembelajaran muridnya tentang proses demokrasi. Terpenting lagi, metode pemilihan tersebut baru pertama kali dicoba. "Ini adalah yang pertama kali, dan saya rasa jika pemilu di Indonesia menggunakan e-voting juga lebih efektif. Anggaran biayanya juga jauh lebih murah," bebernya. (Muslim Abdurrahman/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Budaya, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 September 2016

Nabi Musa Ditegur Malaikat Jibril

Seorang wanita dari Bani Israil pernah datang kepada Nabi Musa ‘alaihissalam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, aku telah melakukan dosa yang besar, aku telah bertobat kepada Allah SWT. Maka, mohonkanlah kepada Allah agar Dia mengampuni dosa dan menerima tobatku!”

Nabi Musa penasaran dengan dosa besar apa yang telah dilakukan. “Wahai perempuan, apa dosa yang engkau maksud itu?”

Nabi Musa Ditegur Malaikat Jibril (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Musa Ditegur Malaikat Jibril (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Musa Ditegur Malaikat Jibril

Perempuan menjawab, “Aku berzina dan melahrkan anak. Setelah lahir anak itu langsung aku bunuh.”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nabi Musa tidak habis pikir dengan perilaku perempuan itu. “Keluarlah, wahai orang yang bejat (fajirah), supaya tidak turun api dari langit yang dapat membakar kami semua akibat perilakumu!”

Mendapat respon tersebut, si perempuan pun keluar dengan hati tersayat-sayat.

Tak selang lama, Malaikat Jibril turun dan memperingatkan Nabi Musa, “Wahai Musa, Tuhan Yang Maha Luhur titip pesan. ‘Apa gerangan engkau mengusir wanita yang bertobat tadi?’ Tahukah engkau keburukan yang lebih parah dari yang dilakukan perempuan itu?’”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Perbuatan siapa yang lebih parah dari permpuan tadi?” Tanya Nabi Musa.

“Perbuatan orang meninggalkan shalat dengan sengaja,” jawab Jibril.

Cerita tersebut memperingatkan dan menegaskan akan kedudukan shalat bagi umat Islam. Sudah jamak kita dengar hadits: “shalat ialah tiang agama. Barangsiapa menegakkan shalat sama dengan meneguhkan agama, dan barangsiapa meninggalkan shalat sama dengan merobohkan agama itu sendiri”. Selain itu, tidak pantas bagi siapa pun memutus harapan seseorang yang memiliki niat berubah menuju lebih baik. Sebab, kasih sayang dan pengampunan Allah melebihi keburukan-keburukan manusia. (Ali Makhrus)



Cerita diolah dari kitab "Irsyadul Ibad" karya Syeikh Zainuddin bin Abdul Aziz bin Zainuddin Al Malibariy, tt (Surabaya: al-Hidayah)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Kyai, Makam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock