Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahdlatul Ulama. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Karawang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Puluhan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu evakuasi korban banjir di sejumlah titik, salah satunya di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Lokasi tersebut merupakan salah satu kecamatan terparah dari 16 kecamatan di Karawang yang terkena banjir.

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Karawang, Ade Permana SH mengatakan, banjir di Karawang saat ini, merupakan banjir terparah dalam dua tahun terakhir akibat luapan Sungai Citarum. "Wilayah yang terkena banjir mencapai 16 kecamatan, dengan puluhan ribu rumah terendam dan empat orang yang meninggal dunia," katanya, Selasa (22/1).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Melihat kenyataan tersebut, pihaknya menerjunkan anggota Banser untuk membantu evakuasi korban banjir. Kegiatan yang dilakukan, mulai dari evakuasi korban, hingga memperbaiki tanggul yang jebol. "Anggota kita bergerak dengan cepat, bahkan salah satu anggota Banser yang menemukan dan membawa jenazah salah satu korban banjir untuk dievakuasi," ucapnya.

Selain bantuan tenaga, lanjut Ade, GP Ansor juga memberikan bantuan logistik untuk korban banjir yang disebar ke beberapa titik. Bantuan tersebut didapat dari hasil penggalangan anggota Ansor dan juga masyarakat. "Kita juga mengirim bantuan logistik untuk korban banjir," tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Karena banjir di Karawang terjadi tiap tahun, Ade meminta kepada Pemkab Karawang, untuk bisa mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun mendatang. "Carikan solusi yang tepat, agar banjir tidak terulang lagi. Kasihan masyarakat kalau setiap tahun harus merasakan banjir. Tentunya, secara materi dan psikologis pasti terganggu," pungkasnya. 

Keterangan foto: Banser dan anggota Pramuka membantu mengangkut karung berisi pasir untuk menahan air di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Syahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Nasional, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Oleh Aswab Mahasin

Saya akan memulai tulisan ini dengan diskursus seorang atheis Will Durant, “Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah dibunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia dibunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.” Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “dimanfaatkan” dan “bermanfaat”. Agama dimanfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar difungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri, sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Namun, kedua posisi itu tidak bisa dielakan dalam situasi dan dinamika sosialyang terus berkembang. Memang, agama tidak berubah, tetapi agama dianut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individudalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, diberbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi disemua lapisan pemeluk agama, agama apapun mengalami hal yang sama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”. Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila ditatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”. Artinya, Nabi Muhammad Saw ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan demikian, secara alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun). Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, berdampingan dan bersamaan. Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.?

Misalnya dikatakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia. Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia. (Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA, dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya berhenti pada ajaran-ajaran kaku. Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah. Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.?

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak berimbang.Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa dikontrol apalagi dibatasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan dilakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.?

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya. Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis. Tidak hanya umat Islam, melainkan semua umat dari berbagai agama.”

Kita bisa lihat juga potret yang berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional, dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini didengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt). Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah dicetuskan oleh Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006)

Hal tersebut adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat. Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu.?

Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya satu kiblat pengetahuan. Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan. Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan dengan iman kita.?

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah di mana Islam mampu mewarnai perubahan dunia. Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama, melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk merespon dinamika sosial. Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.?

Lain lagi dengan Munawir Syadzali lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang harus dikedepankan. (Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual. “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama khususnya sejarah yang berkembang. Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide, respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda. Namun, tetap dilandasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi motivasi buat kitas semua, “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul Ulama, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Cilacap, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam lintasan sejarah, NU memiliki peran politik yang sangat signifikan. Kenyataan ini dibuktikan dengan kiprah organisasi para kiai ini dalam mempengaruhi kebijakan publik secara nasional maupun internasional. Peran ini justru banyak terjadi ketika NU di luar jalur partai.

Pandangan ini disampaikan Ketua PBNU H Imam Azis dalam sesi diskusi Bahtsul Masail Nasional yang digelar Pengurus Pusat Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU) di Pondok Pesantren al-Ihya’ Ulumaddin Kesugihan, Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (8/5) malam.

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Politik NU Tak Harus Melalui Partai

Imam menunjukkan fakta perjuangan NU pra-kemerdekaan hingga menjelang NU menjadi partai politik pada 1952. Saat itu para kiai mampu mengintervensi kebijakan kolonial Belanda dan Jepang, hingga terlibat dalam proses-proses menentukan pembentukan dan penyelenggaraan Republik Indonesia bersama jaringan yang dimiliki.

”Jadi, kalau NU ingin berperan secara politik, jalurunya tidak harus melalui partai,” tegasnya. Menurut Imam, NU pasca menjadi partai memang memiliki kantong suara yang cukup menjanjikan, tapi, produktivitasnya menurun hingga akhirnya kembali ke khittah pada 1984.

Di era demokrasi pascareformasi, lanjut Imam, NU berada di dalam ancaman ”pusaran uang” yang sangat kencang. Independensi organisasi sosial-keagamaan ini ditantang untuk konsisten menjadi motor perubahan meski tanpa kendaraan partai. Di jalur non-partai, NU dapat memerankan politik secara lebih luas.

”Artinya apa? Partai politik itu bukan keniscayaan bagi NU,” tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Penulis: Mahbib Khoiron

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Fragmen, Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Cegah Radikalisme, Mahasiswa Nganjuk Ikuti Seminar Kebangsaan

Nganjuk, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal 

Ratusan mahasiswa dari berbagai peguruan tinggi di Kabupaten Nganjuk mengikuti seminar Kebangsaan dan Keaswajaan di kampus IAI Pangeran Diponegoro, Nganjuk, Jumat (13/10). Kegiatan ini mendapatkan perhatian lebih dari para mahasiswa. 

Cegah Radikalisme, Mahasiswa Nganjuk Ikuti Seminar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cegah Radikalisme, Mahasiswa Nganjuk Ikuti Seminar Kebangsaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cegah Radikalisme, Mahasiswa Nganjuk Ikuti Seminar Kebangsaan

Koordinator acara, Ustad Agus Wahyudin mengatakan salah satu alasan mendasar diadakannya seminar tersebut lantarab banyak mahasiswa yang memiliki pemikiran kritis, open minded, justru apatis dengan nilai kebangsaan dan keaswajaan.

“Padahal generasi muda NU, utamanya dari kalangan mahasiswa adalah penerus estafet NU dan NKRI sehingga seminar semacam ini perlu digalakkan,” katanya.

Selain pemaparan materi, juga diadakan sesi tanya jawab. Pada sesi ini banyak mahasiswa yang bertanya tentang kebhinnekaan dan toleransi yang tepat dipakai di era sekarang.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hadir sebagai pemateri Ketua ISNU Nganjuk, Ali Anwar; dan Direktur Aswaja NU Canter Nganjuk, KH Muhammad Zuhal.

Seminar Kebangsaan dan Keaswajaan menjadi salah satu kegiatan dalam rangkaian Hari Santri Kabuaten Nganjuk. Pihak panitia menambahkan acara-acara di bulan santri ini dioptimalkan menyasar seluruh kalangan, baik dari pelajar tingkat dasar, pelajar tingkat atas, mahasiswa, masyarakat, tak ketinggalan pondok pesantren. Dengan begitu masyarakat lebih merasakan kehadiran NU. (Irvan Kaze/Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Jepara, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang mengabdi di Desa Geneng Batealit bekerja sama dengan Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC Hipmi) Kabupaten Jepara mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk.

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Pelatihan yang dilaksanakan di Balai Desa Geneng, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (9/2) itu diikuti 30 peserta yang merupakan pelaku usaha kecil se-Desa Geneng, di antaranya usaha batik tulis Jepara, sirup Jahe, kerajinan aksesori, meubel, catering, dan lainnya.

Lukman Ihsanuddin, koordinator desa kegiatan tersebut mengatakan, pelatihan pengembangan dan pemasaran produk merupakan progam KKN Unisnu Desa Geneng. Tujuannya untuk mengenalkan potensi daerah, seperti batik tulis Jepara, boga, dan kerajinan aksesori kepada masyarakat Jepara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kegiatan ini kami sesuaikan dengan tema KKN Unisnu 2016, yaitu ‘Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Penguatan Keagamaan’. Dan kami mengajak kerja sama dengan BPC Hipmi Jepara, karena organisasi tersebut memiliki jaringan bisnis yang luas," tambah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Umun BPC Hipmi Kabupaten Jepara Syamsul Anwar mengatakan, pihaknya memang merasa bertugas untuk menularkan semangat dan pengalaman dalam berwirausaha untuk mengembangkan dunia usaha di Kabupaten Jepara.

"Kami tidak hanya memikirkan pekerjaan dalam bisnis usaha yang kami jalani, tapi juga memikirkan bagaimana agar dunia usaha yang sudah ada bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, dan kami mendampingi pada pelaku usaha agar bisa mengakses pasar sehingga produk-produk lokal bisa ekspor," kata Syamsul.

Ia juga menambahkan, batik tulis Jepara perlu diperjuangkan seperti halnya kain tenun Troso yang awal-awal juga membutuhkaan perjuangan bersama, dan hasilnya sekarang tenun Troso menjadi andalan bagi Jepara, dan tidak menutup kemungkinan batik tulis Jepara juga akan seperti tenun Troso.

Dwi Bambang Hermawan, petinggi Desa Geneng menyampaikan terima kasih kepada Tim KKN Unisnu dan Hipmi Jepara yang telah mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk bagi warga Desa Geneng.

"Ini juga ikut membantu progam Pemerintah desa Geneng dalam meminimalisir pengangguran, sehingga menciptakan penghasilan bagi warga kami. Dan pengembangan dalam dunia usaha perlunya menekankan pada produk dengan selalu kreatif dan inovatif," tambah pria berumur 33 tahun ini.

Pelatihan yang dimoderatori Miswan Anshori, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, memberikan pengantar pentingnya strategi dalam mengembangkan dan memasarkan usaha dalam dunia bisnis, salah satunya yaitu dengan fokus pada usaha.

"Menjadi pengusaha jangan cepat menyerah, dan jadikan kegagalan sebagai cambuk untuk bangkit menjadi lebih baik," kata Muhammad Habli Mubarok, narasumber dalam pelatihan tersebut.

Ia memberikan strategi pada peserta pelatihan dalam pengembangan usaha, yaitu harus fokus dalam masa depan usaha, fokus kesempatan dengan 80 persen peluang, dan 20 persen problem. Sukses apa yang ada dan buatlah itu semua menjadi sebuah kejadian nyata.

Peserta tampak sangat antusias dalam mengikuti pelatihan tersebut, terlihat dari beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Ibu April, salah satu pembatik Desa Geneng, menanyakan bagaimana membangun mental dalam berwirausaha.

Lain halnya yang ditanyakan Faridatun, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Geneng yang memproduksi sirup jahe. Ia menanyakan tentang kiat bersaing dalam memasarkan produk. Adapun yang ditanyakan oleh Siti Rofiatun pengrajin aksesoris, sudah beberapa kali memasarkan produknya, tapi terkadang masih belum bisa memasarkan secara luas.

"Membangun mental wirausaha harus berani, karena dunia usaha kadang juga ada untung dan ruginya. Memasarkan produk agar bisa bersaing perlunya dibuat yang menarik kemasannya, bagaimana izin administrasinya dan tentunya label. Lakukan promosi terus menerus, sehingga produk tersebut menjadi dikenal banyak orang," jawab Mubarok.

"Hipmi merupakan mitra dari Pemerintah Kabupaten Jepara untuk membangun dan mencarikan solusi atas apa yang menjadi masalah bagi pelaku usaha," tambah Syamsul saat memberikan kesimpulan dalam pelatihan tersebut. (Muhammad Miqdad Syaroni/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Daerah, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 23 Januari 2018

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Setelah berpuasa selama satu bulan penuh, akhirnya umat Islam di seluruh dunia merayakan hari raya Idul Fitri atau hari kemenangan.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj menyampaikan pesan Idul Fitri, “Kepada seluruh umat Islam, mari kita hayati arti Idul Fitri dengan menjadi hamba Allah yang bersih dan mari kita sempurnakan dengan saling silaturrahim dan saling memaafkan.”

Kiai Said mengutip sebuah ajaran Islam “Innama amwalukum waaulaadukum fitnah” yang dapat dimaknai bahwa dalam kehidupan sehari-hari, selalu ada kesalahan dan dengan saling memaafkan, maka kesalahan tersebut selesai.

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)
Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih (Sumber Gambar : Nu Online)

Hayati Idul Fitri dengan Menjadi Hamba yang Bersih

Ia mengingatkan bahwa Islam adalah agama yang damai, yang mengajarkan untuk saling memaafkan, bukan saling membunuh. “Kelompok Islam yang mengajarkan kebencian bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dakwah dengan pendekatan budaya yang dilakukan oleh para Walisongo terbukti lebih berhasil daripada pendekatan lewat perang sebagaimana terjadi di Spanyol. Tanpa terasa nilai-nilai Islam terinternalisasi. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Islam Indonesia adalah Islam mayoritas yang tidak sombong, bahkan mayoritas melindungi minoritas.” (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Ulama, Pemurnian Aqidah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Sarbumusi Kawal Kebijakan THR Buruh

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sarikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi) akan terus memantau praktik perusahaan dalam menerapkan kebijakan Tunjangan Hari Raya (THR). Kebijakan ini dikeluarkan oleh Kemenakertrans untuk menanggulangi lonjakan kebutuhan buruh atau karyawan di sekitar hari raya.

“Kemenakertrans menetapkan bahwa setiap perusahaan harus mencairkan dana THR paling lambat 7 hari sebelum hari H. Kebijakan ini bersifat wajib,” tegas Baitul Khairi, wakil sekretaris PP Sarbumusi saat dikonfirmasi Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di lantai dua Gedung PP Sarbumusi, jalan Raden Saleh I nomor 7 A, Jakarta Pusat, Rabu (8/8).

Sarbumusi Kawal Kebijakan THR Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)
Sarbumusi Kawal Kebijakan THR Buruh (Sumber Gambar : Nu Online)

Sarbumusi Kawal Kebijakan THR Buruh

Mengingat besarnya kebutuhan buruh menjelang hari H, PP Sarbumusi menghimbau kepada seluruh pengurus Sarbumusi di tingkat wilayah dan cabang untuk terus melakukan kontrol dan pemantauan atas penerapan putusan Kemenakertrans.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“PP Sarbumusi mengimbau pengurus wilayah atau cabang yang menemukan pelanggaran untuk segera melakukan verifikasi,” tambah Khairi, hasil verifikasi ini akan dilanjutkan sebagai bahan advokasi untuk melakukan tindakan-tindakan hukum.

Di kursi kerja, ia menjelaskan kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal bahwa keputusan Kemenakertrans ini bersifat mengikat. Perusahaan yang mencoba berbuat ‘nakal’, bisa dikenakan sanksi pidana.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kebijakan itu menetapkan bahwa setiap karyawan tetap, berhak menerima dana THR sebesar satu bulan gaji plus tunjangan yang biasa diterima setiap bulannya. Sementara karyawan baru yang belum satu tahun bekerja, berhak menerima dana THR sebesar setengah gaji. Untuk dana THR karyawan baru, perusahaan bisa bernego dengan yang bersangkutan.

“Pelaksanaan pencairan dana THR tahun ini relatif lancar,” ungkap Khairi. Adalah sebuah keniscayaan karena Kemenakertrans mengumumkan dini ketetapan THR tersebut.

Adapun penerapan putusan Kemenakertrans tidak berlaku bagi karyawan kontrak (tenaga outsourching). Karena, ada undang-undang tersendiri yang mengatur masalah tersebut.

“Sementara PP Sarbumusi mendorong Kemenakertrans untuk merevisi Undang-Undang terkait tenaga outsourcing,” tutup Khairi.

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis    : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, PonPes Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Santri Cirebon Ngaji Fikih Siyasah Bareng Mahfud MD

Cirebon, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sore selapas ashar para santri dan masyarakat pesantren Babakan Ciwaringin sudah berkumpul di sekitar Madrasah al-Hikamus Salafiyah (MHS). Dijadwalkan bahwa pada Selasa (18/2) Mahfud MD akan bersilaturahmi dan berdialog bertajuk “Menegakkan Supremasi Hukum, untuk Indonesia Bermartabat.”

Acara berlangsung dengan khidmat dan meriah. Dalam sambutan atas nama panitia, Ust. Muhammad Jamaluddin mengatakan, pihaknya merasa bahwa dialog semacam ini penting untuk para santri, terutama dalam hal ngaji fikih siyasah, yang selama ini tidak begitu dipelajari di pesantren.

Santri Cirebon Ngaji Fikih Siyasah Bareng Mahfud MD (Sumber Gambar : Nu Online)
Santri Cirebon Ngaji Fikih Siyasah Bareng Mahfud MD (Sumber Gambar : Nu Online)

Santri Cirebon Ngaji Fikih Siyasah Bareng Mahfud MD

Sementara KH. Nurhadi Toyib, mewakili sesepuh pesantren Babakan Ciwaringin, juga mengimbau bahwa masyarakat pesantren untuk bersatu. Dia mengajak untuk satu suara kepada Mahfud, MD, wa’tashimu bihablillahi jami’a wala tafarraqu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Alhamdulillah, kami berbangga, kedatangan orang yang membanggakan, seorang santri profesor, mantan ketua Mahkamah (konstitusi, red),” ungkap Kiai Nurhadi.

Dalam kesempatan orasinya, Prof. Mahfud MD banyak berbicara tentang kondisi politik dan hukum di Indonesia dewasa ini. Ia juga menegaskan bahwa politik itu tidak kotor, orang mungkin sesungguhnya menjurus partai politik (yang kotor, red).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kita harus berpolitik, jangan sampai mereka yang duduk di sana para penjahat-penjahat. Bayangkan saja, APBN kita itu 1.800 trilyun, tapi utang kita 2.400 trilyun, padahal yang dikorupsi 7.000 trilyun,” ucap Prof Mahfud.

Dialog ini dihadiri tidak kurang dari 200-an orang, berlangsung selama kurang lebih datu jam, diisi juga dengan sesi tanya jawab. Kegiatan pun ditutup dengan do’a oleh KH. Yasif Maimun. (Qomarudin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Ikapas Nisam Galang Dana dan Do’a Untuk Palestina

Nisam, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ribuan masyarakat Aceh Utara dan Lhokseumawe memadati halaman komplek Dayah Darut Thalibin Gp. Keutapang, Kec. Nisam, Aceh Utara untuk menghadiri dzikir akbar dan do’a bersama untuk Palestina yang dilakukan pada Senin malam (03/8).

Acara yang bertajuk Satu Juta Umat Islam bershalawat, dan berdo’a untuk Palestina ini dilaksanakan oleh Ikatan Pemuda dan Santri (Ikapas) Kecamatan Nisam bekerjasama dengan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Malikussaleh Lhokseumawe.

Ikapas Nisam Galang Dana dan Do’a Untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikapas Nisam Galang Dana dan Do’a Untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikapas Nisam Galang Dana dan Do’a Untuk Palestina

Dzikir dan shalawat akbar dipandu oleh Majelis Zikir dan Shalawat Zikra al-Hasani LPI Mudi Mesjid Raya Samalanga, dan Tausiah oleh Tgk. Muhammad Yusuf A. Wahab dari Jeunieb.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam tausiah, Ayah Sop memberikan semangat juang yang luar biasa supaya tetap maju membela Islam dan Muslimin.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Yahudi hari ini tidak hanya menguasai Palestina tetapi mereka menguasai dunia, termasuk negeri kita. Konsep Yahudi dalam menguasai dunia adalah karena mereka menggunakan seluruh harta, ilmu, semangat dan segala-galanya untuk mengalahkan umat Islam, inilah konsep Islam yang telah kita tinggalkan,” ujar Ayah Sop.

“Umat Islam hari ini sangat pelit untuk menyumbang hartanya untuk agama, banyak mesjid terlantar, tetapi pembangunan rumah untuk pribadinya tidak ada kendala, semua dicurahkan untuk nafsunya. Tapi tidak untuk agama,” lanjut Ayah.

Anak-anak umat Islam tidak lagi dihantarkan ke pesantren untuk menjadi ulama. Jikapun ada hanya bahagian kecil saja, yang bangai, yang cacat, yang ka batat sahao hana le so ngui, nayan tajok U dayah (yang bodoh, cacat, bandel yang tidak diterima dimana-mana, mereka yang kita antarkan ke pesantren). Demikian sekelumit nasihat Ayah.

Selain dihadiri oleh ribuan masyarakat dari Aceh Utara dan Lhokseumawe juga dihadiri oleh para tokoh masyarakat, Muspika Nisam dan ulama, seperti Abati Babah Buloh, Ayah Nurdin Keutapang, Abu Hasballah Nisam, Waled Jala, ? Krueng Geukueh, Abi Muslim at-Thahiri MA, Ketua STAIN Malikussaleh Lhokseumawe dan PK 1. 2 dan 3.

Sebelum Zikir Akbar dimulai acara dimulai dengan sambutan Panitia Tgk. Abdul Munir, Sambutan Bapak Camat Nisam, Fauzan dan sambutan Abu Hasballah, selaku dewan Pembina Ikapas Nisam.

Selain agenda Zikir dan Do’a, kesempatan ini juga dimamfaatkan penggalangan dana untuk dikirim kepada para mujahidin Palestina, dalam kesempatan ini Abi Muslim berperan mengarahkan warga untuk mendukung kaum muslimin Palestina dan memberikan informasi terkini tentang keadaan Palestina. Sumbangan terkumpul mencapai 5 juta lebih.

Terakhir di tutup dengan penyerahan cindera mata kepada Majelis Zikra al-Hasani dan kepada Ayah Sop, kemudian pembagian hadiah juara ujian TPQ Ikapas yang digelar selama Ramadhan di Dyah Nurul Mubin Al-Aziziyah Gp. Mns. Cut Kec. Nisam. (mukafi niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Oleh Fathoni Ahmad

Ulama dinisbatkan kepada seseorang yang ‘alim, mempunyai ilmu agama yang mumpuni, menebar maslahat untuk masyarakat, perangai yang ramah tetapi tegas terhadap setiap kemunkaran, dan akhlak yang baik. Ulama yang produktif dalam beberapa gerakan dan karya selalu menjadikan masyarakat mempunyai daya.

Dalam sejarah emas peradaban Islam, terbukti banyak ulama yang mampu mempelopori berbagai temuan ilmiah di bidang ilmu pengetahuan selain jago berijtihad dalam membaca? nash. Hal ini membuktikan bahwa kebangkitan ulama telah berjalan sejak ratusan abad lalu sehingga saat ini manusia (tak terkecuali bangsa Barat) bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang banyak diinisiasi oleh para ulama tersebut.

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Istilah kebangkitan ulama sendiri sebetulnya kurang tepat, karena kebangkitan seolah menyimpan makna bahwa para ulama sebelumnya dalam kondisi terpuruk. Namun demikian, kebangkitan di sini mempunyai arti bahwa tidak semua ulama mempunyai jiwa bangkit untuk mengubah tatanan sosial atau kondisi di sekitarnya.

Itulah mengapa para ulama pesantren di Indonesia yang dikomandoi oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memilih istilah Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) untuk organisasinya pada 1926 silam. Namun, dalam sejarahnya, ulama dan NU mempunyai titik awal kebangkitan yang berbeda. Bisa dikatakan, titik awal kebangkitan ulama mewujud dalam perjuangan organisasi bernama NU yang hingga saat ini masih eksis berjuang untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara, bahkan dalam skala global.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Simpul yang bisa ditarik dari perjuangan ulama untuk bangkit mengubah tatanan sosial ialah, mereka berusaha menjaga dan merawat tanah air yang berawal dari lingkup lokal. Kondisi dan tatanan kehidupan sosial yang tidak seimbang dan cenderung negatif menggerakkan para ulama untuk melakukan langkah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu selain kewajiban mereka mengamalkan ilmunya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah Hijaz, Mekkah dan Madinah.

Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Tobagus Muhammad Falah (1842-1972), KH Bisri Syansuri, KH Syamsul Arifin Situbondo, serta ulama-ulama lain di berbagai daerah yang menginisiasi kebangkitan ulama melalui perjuangan mendirikan pesantren di daerah yang terbilang ada dalam kondisi tatanan sosial yang sangat negatif. Begitulah mestinya pijakan awal perjuangan agama, mengubah dari kondisi negatif ke tatanan sosial yang lebih baik dalam bingkai religiusitas komunal, bukan individual.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam sejumlah literatur sejarah, di penghujung abad ke-19, tepatnya pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari bangkit mendirikan ‘tratak’ (bangunan yang belum sempurna) berukuran sekitar 10x10 meter persegi di Kampung Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar 8 kilometer di selatan Kota Jombang. Masyarakat mengenal Tebuireng sebagai daerah yang sangat rawan. Pembunuhan, pencurian, perampokan, dan perkelahian hampir terjadi setiap hari. Aroma anyir tatanan sosial tersebut semakin kuat dengan hadirnya tempat-tempat maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan mabuk-mabukan di setiap sudut kampung.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah KH Hasyim Asy’ari untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh masyarakat kala itu. Perjuangan mendirikan pondok untuk belajar agama Islam secara mendalam setiap hari mendapatkan rintangan yang beberapa kali mengancam jiwa Kiai Hasyim Asy’ri dan santrinya yang saat itu masih bisa dihitung jari. Melihat kondisi tersebut, Kiai Hasyim merasa perlu mempelajari ilmu bela diri, begitu juga dengan para santrinya.

Akhirnya Kiai Hasyim mengutus seorang santrinya pergi ke Cirebon, Jawa Barat untuk meminta bantuan kepada Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Abdul Jamil Buntet, dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai tersebut merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka dikenal ahli dalam ilmu silat dan sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih Kiai Hasyim dan para santrinya.

Ilmu bela diri tersebut terbukti ampuh untuk menghadapi para penjahat yang terus berusaha menggangu aktivitas belajar agama di Pondok Tebuireng. Bahkan, Kiai Hasyim dengan kelembutan akhlaknya mudah saja memberikan pengampunan kepada para penjahat sehingga dengan sendirinya mereka bertobat dan memohon kepada Kiai Hasyim agar dijadikan sebagai muridnya di pondok.

Perjuangan Kiai Hasyim di atas hanya salah satu contoh terhadap banyaknya ulama yang melakukan perjuangan serupa di berbagai daerah meski dalam kondisi masih terjajah oleh Belanda saat itu. Di Jombang sendiri, Kiai Hasyim mampu merangsang tumbuh dan berkembanngnya pondok pesantren di beberapa kampung seperti Denanyar, Sambong, Sukopuro, Paculgowang, Watugaluh, Nggayam, Suwaru, Tegalsari, Banjarsari, Mojodadi, Balonggading, Pojokkulon, Semelo, Dukuhsari, dan Seblak. (Choirul Anam, 1985)

Perjuangan serupa dilakukan oleh ulama asal Banten KH Tobagus Muhammad Falak yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Falak pada 1907 di Kampung Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, Kota Bogor. Kemudian KH Bisri Syansuri yang mendirikan Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif di Denanyar pada 1917, KH Syamsul Arifin Situbondo ayah KH Raden As’ad Syamsul Arifin yang mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Situbondo pada tahun 1910-an.

Ke semua perjuangan ulama tersebut tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.

Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Gelora cinta tanah air ini tidak hanya membakar semangat perjuangan para santri dan umat Islam, tetapi juga para tokoh pergerakan nasional lintas etnis dan agama untuk bersama-sama berjuang mengusir penjajah agar meraih kemerdekaan lahir dan batin. Maka, cinta tanah air menjdi kunci perjuangan seluruh bangsa Indonesia yang saat ini disatukan dengan prinsip agung Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Mari kita jaga!

Penulis mengajar di Fakultas Agama Islam UNU Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Sholawat, Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 18 Desember 2017

Publikasi Karya Ulama Nusantara Harus Lebih Intensif

Situbondo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Setelah terjadinya kekisruhan di berbagai negara Timur Tengah, perhatian dunia tertuju ke Indonesia. Khazanah keilmuan umat Islam Tanah Air harus semakin disebarkan agar bisa diterima khalayak.

Publikasi Karya Ulama Nusantara Harus Lebih Intensif (Sumber Gambar : Nu Online)
Publikasi Karya Ulama Nusantara Harus Lebih Intensif (Sumber Gambar : Nu Online)

Publikasi Karya Ulama Nusantara Harus Lebih Intensif

"Karena itu karya ulama Nusantara harus terus dipublikasikan ke penjuru dunia," kata Abu Yazid, Rabu (11/1) malam. Sedangkan tugas ini harus diemban secara serius oleh Lembaga Talif wan Nasyr, lanjut guru besar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya tersebut.

Dalam pandangan Abu Yazid, Indonesia memiliki kelebihan salah satunya sebagai destinasi kajian. "Bahkan diminati kalangan internasional," kata dosen Pascasarjana Mahad Aly Salafiyah Syafiiyah Sukorejo Situbondo Jatim ini.?

Untuk dapat menghimpun sejumlah karya tersebut, ada beberapa cara yang dapat dilakukan. "Di antaranya adalah memanfaatkan karya para kiai dan santri di berbagai pesantren," jelasnya. Demikian juga kajian para mahasiswa dan dosen di kampus-kampus.

Baginya, kehadiran LTN di kepengurusan NU harus benar-benar dioptimalkan untuk menjawab tantangan tersebut. Apalagi tidak sedikit dari kiai, santri, dosen hingga mahasiswa yang produktif dalam menulis.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pandangan ini disampaikan Abu Yazid ketika menjadi narasumber pada Seminar Nasional Refleksi 33 Tahun Khittah NU. Kegiatan diselenggarakan di aula Mahad Aly hasil kerja sama ikatan alumni kampus setempat denga ? PW LTN NU Jatim dan TV 9 NUsantara. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal News, Nahdlatul Ulama, Olahraga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

Fatayat NU Jatim Ajak Perbaiki Adab Bangsa

Surabaya,Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Selama dua hari (16-17/5), PW Fatayat NU Jawa Timur melangsungkan kegiatan dalam rangkaian harlah yang ke-65 tahun. Kegiatan dipusatkan di jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya yang juga kantor PWNU Jatim.

Fatayat NU Jatim Ajak Perbaiki Adab Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Jatim Ajak Perbaiki Adab Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Jatim Ajak Perbaiki Adab Bangsa

"Untuk hari ini kegiatan diisi dengan lomba fashion show dengan tema batik, handycraft, artikel, presenter, senam dan bazar," kata Hikmah Fafagih, Sabtu (16/5). Ketua Fatayat NU Jawa Timur ini mengemukakan bahwa untuk seluruh lomba diselenggarakan di kantor PWNU Jatim. Sedangkan khusus untuk bazar produk unggulan ditempatkan di parkir utara kantor tersebut.

Mbak Hikmah, sapaan akrabnya, mengemukakan bahwa tema yang diambil harlah kali ini adalah "Ikhtiar Fatayat NU menuju Indonesia Berkeadaban". Terkait tema tersebut ia menandaskan bahwa Fatayat yang merupakan kumpulan aktivis perempuan muda NU, sadar dengan kelemahan dan kekurangan yang dimiliki. "Karenanya kita akan terus berusaha untuk melakukan berbagai karya nyata," katanya kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pun demikian, kita harus sadar bahwa ada sesuatu yang salah dari bangsa ini yang harus dibangun bersam-sama menuju keberadaban. "Karena itu bersama Fatayat NU, mari kita bangun ulang keadaban kita tentunya dengan Islam Ahlus Sunnah wal Jamaah atau yang kita kenal dengan Islam Nusantara," terangnya.

Sejumlah lomba dan kegiatan yang diselenggarakan sebagai wahana bagi kesinambungan kader baru Fatayat NU mendatang. "Kita ingin memunculkan kader penulis, desainer, juga mereka yang sehat," ungkapnya. Demikian juga dengan adanya bazar produk unggulan yang diikuti utusan dari kepengurusan di kabupaten kota se-Jawa Timur, lanjutnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kegiatan ini diikuti 37 kepengurusan PC Fatayat NU se-Jatim. "Ada beberapa utusan yang berhalangan datang karena berbarengan dengan kegiatan lain," terangnya.

Prinsipnya, usai kegiatan ini akan ada tindaklanjut terkait lomba yang telah diselenggarakan. "Kita telah mengadakan kerjasama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia atau APPMI agar sejumlah hasil desain perancang muda tersebut bisa dikomunikasikan," kata dosen Universitas Islam Malang ini.

 

Sedangkan khusus untuk bazar produk unggulan, hal ini sebagai bagian dari upaya pemberdayaan ekonomi warga. "Beberapa kali pelatihan keterampilan telah diselenggarakan di sejumlah tempat yang bekerjasama dengan dinas terkait maupun tambahan permodalan hingga terbentuknya koperasi," ungkapnya. Sejumlah pameran produk unggulan yang ditampilkan saat bazar maupun lomba handycraft adalah upaya pemberdayaan ekonomi dan keterampilan tersebut, lanjutnya.

 

Hari Ahad (17/5) besok, kegiatan terkonsentrasi dalam resepsi harlah. "Insyaallah Menpora, Imamk Nahrawi hadir, Wakil Gubernur Jatim Saifullah Yusuf, Ketua DPRD H A Halim Iskandar dan ketua partai politik dan ormas maupun mitra jejaring fatayat juga akan datang," pungkasnya. (Syaifullah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 29 November 2017

Kemendes PDTT Gandeng ILUNI Pasok Listrik di Desa

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) mengajak Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI) untuk mendukung elektrifikasi di desa-desa. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) juga bisa dilibatkan dalam upaya mendukung elektrifikasi tersebut.

"Membangun desa tidak bisa berdiri sendiri. Butuh peranan semua pihak untuk terlibat di dalamnya, termasuk untuk listrik ini. BUMDes bisa dilibatkan," ujar Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, dalam Diskusi Forum Energizing, di Jakarta, Rabu (10/5).

Kemendes PDTT Gandeng ILUNI Pasok Listrik di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kemendes PDTT Gandeng ILUNI Pasok Listrik di Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kemendes PDTT Gandeng ILUNI Pasok Listrik di Desa

Menteri Eko mengatakan, BUMDes bisa dilibatkan dengan membantu pembangunan transmisi listrik melalui dana desa. Alternatif cara tersebut juga akan mendorong agar BUMDes memiliki pendapatan. ?

"Rata-rata satu desa satu megawatt. Bisa menggunakan instalasi listrik tenaga surya atau air. Kita perlu fokus dulu membangun infrastrkturnya agar desa menjadi terang benderang," lanjutnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menteri Eko menambahkan, penting untuk membangun optimisme masyarakat desa karena pembangunan di desa-desa sesuai amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Optimisme tersebut, lanjutnya, terbukti diantaranya dengan pembangunan sekitar 66.000 kilometer (Km) jalan desa, 5.000 Km jembatan dan 38.000 unit penahan longsor.

"Ini belum pernah ada dalam sejarah republik ini. Pembangunan di desa-desa yang dilakukan langsung oleh masyarakat desa," ungkapnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senada dengan hal tersebut, Ikatan Alumni Departemen Teknik Gas Petrokimia, Fakultas Teknik Universitas Indonesia (ILUNI DTGPK FTUI) siap membantu elektrifikasi desa di Jawa Barat yang belum teraliri listrik, seperti yang telah dilakukan di Cileungsi dan Belitung. Langkah awal yang akan dilakukan adalah pendataan.

"Untuk sekarang kita akan fokus mendata desa yang belum teraliri listrik di Jawa Barat. Setelah bulan puasa kita akan tetapkan lokusnya," ujar Ketua ILUNI DPTGPK FTUI, Mauren Torun.

Maruen mengungkapkan, Jawa Barat dipilih sebagai lokasi awal untuk memudahkan proses monitoring. Ia menambahkan, kegiatan yang akan dilakukannya merupakan bentuk nyata lembaga yang dipimpinnya untuk membantu program pemerintah dalam menyelesaikan 13 ribu desa yang belum teraliri listrik.

"Paling nanti itu satu desa dengan sumber dana yang akan kita galang dari perusahan dalam bentuk Corporate Social Responsibility (CSR)," katanya.

Pembangunan desa menjadi salah satu fokus dari visi Nawacita Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Suksesnya pembangunan tak lepas dari besarnya dana desa yang dialokasikan pemerintah. Pada 2015 lalu, pemerintah mengalokasikan Rp 20,8 triliun. Angka ini terus naik di 2016 menjadi Rp Rp 46 triliun dan meningkat menjadi Rp 60 triliun di 2017. (kemendesa.go.id/Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 19 November 2017

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Jakarta,Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Aminuddin Ma’ruf terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia periode 2014-2016 pada Kongres Jambi yang berlangsung 30 Mei sampai 10 Juni 2014.

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Aminuddin Ma’ruf Ketum PB PMII 2014-2016

Amin, kader PMII yang diusung Cabang Jakarta Timur tersebut menyelesaikan S1 di Universitas Negeri Jakarta dan melanjutkan S2 di Universitas Trisakti. Di PB PMII sebelumnya ia dipercaya sebagai Ketua Biro Pemberdayaan Ekonomi.

Salah seorang pengurus PB PMII, Abdul Malik, menceritakan proses pemilihan di kongres tersebut. Menurut dia, awalnya yang mencalonkan diri menjadi ketua umum sekitar 15 orang. Setelah beberapa calon mengundurkan diri, 5 kandidat maju pada putaran pertama.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kata Malik, pada putaran pertama itu Muammarullah Umam mendapat 51 suara, Aminuddin Ma’ruf 38,? Abdul Aziz 7, Zaini Mustakim 41, Jabidi Ritonga 35, Miftahul Aziz 45. Sementara pada putaran kedua Aminuddin 102, Muammarullah Umam 74, Miftahul Aziz 64.? ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Aminuddin terpilih secara demokratis pada kongres tersebut,” kata Abdul Malik melalui telpon Selasa (10/6). (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 08 November 2017

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Ketua Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Cholil Nafis menilai, apa yang terjadi di Rohingya adalah tragedi kemanusiaan.?

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal Rohingya, MUI Keluarkan Tujuh Maklumat

Maka dari itu, Ketua Komisi Dakwah MUI tersebut mengeluarkan tujuh tuntutan. Pertama, kembalikan keamanan di daerah Rakhine dan menghormati hak-hak masyarakat terutama penduduk yang beragama Islam.

"Kedua, hentikan segala bentuk tindak kekerasan yang dilakukan oleh pemerintah dan militer Myanmar terhadap penduduk dan umat Islam di Rakhine dan di daerah lainnya di Myanmar," kata Kiai Cholil kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal melalui pesan tertulis, Ahad (3/9).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketiga, lindungi seluruh penduduk yang ada di Myanmar dan hak-haknya, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

Keempat, berikan akses kepada lembaga kemanusiaan internasional dan dari Indonesia untuk masuk ke wilayah Rakhine guna memberikan bantuan dan pertolongan kepada masyarakat yang telah menjadi korban kekerasan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"(Kelima) Hendaklah PBB melakukan tindakan tegas terhadap aksi brutal dan pelanggaran HAM berat terhadap etnis Rohngya," tegasnya.

Keenam, ASEAN harus melakukan terobosan untuk menyelesaikan krisis di Myanmar. Sehingga perbuatan genosida yang terjadi di sana bisa dihentikan.

"Terakhir, Indonesia segera mengambil tindakan tegas untuk perwakilan Myanmar yang berada di Indonesia (Bubes Myanmar untuk Indonesia) jika (Pemerintah Myanmar) tetap melakukan tindakan kekerasan dan pengusiran terhadap etnis Rohingya," tutupnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Nahdlatul Ulama, Kiai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya?

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal 



H. Mahbub Djunaidi aktif di NU sejak masih pelajar dengan menjadi anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU). Kemudian menjadi Ketua UMum Pergerakan Mahasiswa Indonesia pertama, kedua dan ketiga. Ia juga pernah aktif di GP Ansor. Ketika umurnya makin, ia menjadi pengurus PBNU. Sampai wafatnya ia adalah Mustasyar PBNU. 

Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Mahbub Dujunaidi Kenalkan NU kepada Anaknya?

Menurut pengakuan anak-anaknya, Mahbub yang dikenal orang sebagai Pendekar Pena itu memang tidak pernah menjelaskan apa itu NU, tapi mengajak ke kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan NU. 

“Dulu pernah diajak main ke PBNU,” kata Yuri Mahatma, salah seorang anaknya di sela Haul H. Mahbub Djunaidi ke-22 bertajuk "Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi" yang digelar Omah Aksoro dan PMII UNUSIA di lapangan parkir UNISIA, Jakarta, Kamis malam (5/10).  

Yuri mengaku pernah diajak ke pantai utara dalam misi penggembosan Partai Persatuan Pembangunan ketika dipimpin Naro yang diduga didesain penguasa Orde Baru. Waktu itu, NU sebagai pemilik massa terbanyak, malah tersisihkan.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Saya diajak ke kantong-kantong NU di Jawa Timur. Sampai saat itu saya tidak bahwa dia itu tokoh dan banyak dikenal orang. Baru ketika diajak jalan, oh beneran…hahaha. Saya SMP kelas 2, sekitar usia 14 tahun waktu itu,” kenang musisi jazz yang tinggal di Bali itu.  

Mahbub Djunaidi menjelaskan kepada Yuri, yang tadinya NU dengan PPP sebegitu akurnya, akhirnya oleh Soeharto, Naro tiba-tiba masuk menjadi Ketua Umum PPP. 

“Terus merasa NU disepak begitu...haha, Bapak marah. Akhirnya gerilya ke kantong-kantong NU supaya tak usah masuk PPP lagi. Tapi ya lucu juga ya hahaha,” kenang pria yang dihadiahi buku 80 Hari Keliling Dunia karya Jules Verne oleh ayahnya saat ulang tahun kedelapan itu. 

Anak Mahbub Djunaidi yang lain, Isfandiari juga pernah diajak keliling pesantren oleh ayahnya. Salah satu yang paling ingat adalah ke Pesantren Salafiyah Syafiiyah Asembagus, Situbondo yang dipimpin KH As’ad Syamsul Arifin. Mahbub memang memiliki hubungan yang erat dengan kiai itu. 

Bahkan Isfan menyaksikan ayahnya mengajak Kiai As’ad untuk berkeliling ke pesantren NU di Bali. Tapi ketika hendak sampai di pesantren, Mahbub meminta Kiai Asad mengubah niatnya. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Udah jangan ke pesantren mulu, bosen. Kita ke pantai Kuta saja,” kenang Isfan yang vokalis band Jentre yang beraliran rock itu. 

Pada saat itu, lanjut Isfan, akhirnya kiai kharismatik yang merupakan narahubung pendirian NU atara Syaikhona Cholil Bangkalan dengan Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari mengikuti ajakan ayahnya. (Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Amalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 02 November 2017

Ditempati MTQ Jabar, Kota Tasikmalaya Jadi Lautan Al-Quran

Tasikmalaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mengawali dibukanya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-34 tingkat Provinsi Jawa Barat, Kota Tasikmalaya sebagai tuan rumah mendadak jadi lautan Al-Quran.

Ditempati MTQ Jabar, Kota Tasikmalaya Jadi Lautan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)
Ditempati MTQ Jabar, Kota Tasikmalaya Jadi Lautan Al-Quran (Sumber Gambar : Nu Online)

Ditempati MTQ Jabar, Kota Tasikmalaya Jadi Lautan Al-Quran

Kafilah dari 26 Kota dan Kabupaten di Jawa Barat, tumpah ruah memenuhi seluruh ruas jalan pusat Kota Tasikmalaya mengikuti karnaval yang dihadiri langsung Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan.

Aneka hiasan termasuk replika Al-Quran menjadi ikon tersendiri pada karnaval yang dimulai pukul 08.00, Ahad (17/4/2016) ini. Setiap Kota/Kabupaten membawa replika sebagai pertanda bahwa MTQ tingkat Jabar dimulai.

Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kota Tasikmalaya yang juga Ketua Tanfidiziyah Nahdlatul Ulama (NU) Kota Tasikmalaya, KH Didi Hudaya mengatakan, MTQ adalah syiar. Target juara bukan utama tetapi bagaimana membumikan "Kalam-Kalam Ilahi" di Kota Tasikmalaya.

MTQ sendiri akan dimulai MukAhad malam dan akan berakhir pada Ahad, 23 April 2016. (Nurjani/Mukafi Niam)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 03 Oktober 2017

1500 Warga Nahdliyin Mudik Kembali Mudik Gratis dari PKB

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Warga Nahdliyin kembali menikmati mudik gratis bersama menyusul mudik bareng PBNU, Ahad (12/7). Kali ini mudik bareng difasilitasi Partai Kebangkitan Bangsa. Kurang lebih 1500 orang turut serta dalam program mudik bareng PKB yang berangkat, Senin, 13 Juli 2015.

1500 Warga Nahdliyin Mudik Kembali Mudik Gratis dari PKB (Sumber Gambar : Nu Online)
1500 Warga Nahdliyin Mudik Kembali Mudik Gratis dari PKB (Sumber Gambar : Nu Online)

1500 Warga Nahdliyin Mudik Kembali Mudik Gratis dari PKB

Pantauan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, 30 armada bus berkapasitas 60 orang tampak terparkir rapi di seputar Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat. Para pemudik pun berlalu lalang dengan bawaan beraneka macam. Rerata tas panggul dan kardus di kedua tangan sebagai oleh-oleh bagi keluarga di kampung halaman.

Salah seorang pemudik, Noviana, ibu muda asal Surakarta bercerita, ia ikut mudik bareng lantaran kedua anaknya sudah pulang ke rumah neneknya beberapa hari lalu. "Saya sendirian, suami masih ada kerjaan di Jakarta. Jadi, mudiknya nanti menyusul," ujarnya. 

Novi mengaku baru sekali ini ikut mudik bareng PKB. "Itu juga saya tahunya sudah mepet. Dapat kabar dari teman. Mestinya, kalau sosialisasinya jauh hari sebelumnya, mungkin yang ikut akan banyak," tandasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, pria asal Tasikmalaya mengaku mudik ke Wonogiri. Bersama anak perempuannya yang masih SD, pria yang tidak bersedia disebut namanya ini mudik ke rumah mertua. "Karena istri saya masih ada kerjaan di Jakarta. Jadinya tanggung, sayang kalau ditinggal (kerjaannya-red)," ungkapnya.

Ia mengaku sudah biasa mudik ke Wonogiri tanpa dibarengi istrinya. "Saya senang merayakan di kampung istri. Sebab, pasti ramai. Ada kegiatan takbir keliling dari remaja masjid dan musholla. Anak saya senang banget lihat acara itu," jelasnya.

Mudik bareng PKB yang dipusatkan di Tugu Proklamasi dilepas Sekjen PKB Abdul Kadir Karding. "Pak ketua umum lagi ada acara. Jadi, saya yang mewakili. Saya nitip salam buat keluarga di rumah. Semoga perjalanan lancar, aman, dan nyaman," ujar Karding di hadapan ribuan pemudik.

Bagi Karding, mudik merupakan tradisi sakral yang dimiliki bangsa Indonesia. Pihaknya merasa terpanggil untuk membantu masyarakat khususnya warga Nahdliyin yang susah mendapat tiket. "Apalagi tren harga tiket mengalami kenaikan signifikan," ujarnya.

Beberapa pengurus teras PKB tampak hadir dalam pelepasan pemudik, antara lain KH Abdul Ghafur. Tampak juga artis yang juga kader PKB Arzetty Bilbina. Wartawan media cetak dan media online sibuk mengabadikan momen pemberangkatan "mudik berkah" ini. (Musthofa Asrori/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 September 2017

KHR Cece Suryadin, Putera Pendiri NU Subang Wafat

Subang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal? . KH Raden Cece Suryadin, putra dari pendiri PC NU Kabupaten Subang KH Syamsuddin Sulaiman wafat, Senin (9/2) pagi pukul 05.00 WIB di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Kepergian kiai yang juga aktif sebagai Mustasyar PC NU Subang ini meninggalkan duka mendalam bagi para tokoh NU dan masyarakat Subang.

Pemakaman Pimpinan Ponpes al-Huda Pungangan Patokbeusi ini dilakukan di kampung halamannya di komplek pemakaman keluarga KH Syamsuddin, Dusun Pungangan Desa Rancabango Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat.

KHR Cece Suryadin, Putera Pendiri NU Subang Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)
KHR Cece Suryadin, Putera Pendiri NU Subang Wafat (Sumber Gambar : Nu Online)

KHR Cece Suryadin, Putera Pendiri NU Subang Wafat

Sebelum dimakamkan, ribuan santri, kiai serta tokoh NU menyolati jenazahnya di Masjid Jami Al-Huda Pungangan. Santri dan masyarakat sekitar berebut untuk bisa memegang kranda yang membawa jenazah Kiai Cece menuju pemakaman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Hari ini kita bersama-sama hadir menyaksikan proses pemakaman ulama besar dan guru masyarakat, maka patutlah jika kita semua bersedih atas wafatnya beliau," ujar Ketua PC NU Subang, KH Musfieq Amrullah di komplek pemakaman.

Dia menambahkan, karena sebagaimana hadits Nabi Muhammad SAW Man lam yahzan bimautil ulama fahuwa munafiq, barang siapa yang tidak sedih atas wafatnya ulama maka dia termasuk orang yang munafik.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, Kiai Raden Cece merupakan ulama yang memiliki jasa besar, karena sudah turut serta dalam mencerdaskan masyarakat, sudah banyak menyampaikan hukum-hukum Allah kepada masyarakat khususnya di Kabupaten Subang.?

"Saya yakin beliau juga sudah mengkader putra-putranya beserta para santrinya untuk menneruskan perjuangannya," ujarnya.

Dia menyampaikan, bahwa pendiri NU Subang, KH Mama Syamsuddin telah melahirkan ulama besar yakni KH Raden Cece Suryadin ini, dan tentu diharapkan keturunan-keturunannya juga bisa menjadi ulama besar yang bisa membimbing masyarakat menuju jalan Allah SWT.

Kiai Musfieq juga menyampaikan ucapan terima kasih kepada KH Raden Cece beserta keluarga, karena sudah bisa menyumbangkan pengetahuan keagamaannya untuk kemajuan pendidikan Islam khususnya di Kabupaten Subang.

"Saya atas nama pribadi dan PC NU Kabupaten Subang meminta maaf dan mengucapkan terima kasih kepada beliau dan keluarga," pungkasnya. (Zaenal Mutaqin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Cerita Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 September 2017

Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I)

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Di kalangan kader Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), H Mahbub Djunaidi tidak hanya dikenal sebagai ketua umuma pertama organisasi yang berdiri pada 17 April 1960 itu. Lebih dari itu Mahbub dikenang dan menjadi sosok inspirasi dunia kepenulisan.

Tak terkecuali, bagi Joko Priyono, kader PMII Kentingan Surakarta. Demi memenuhi nazar, ia melakukan perjalanan napak tilas perjuangan Mahbub Djunaidi dari Kota Solo ke Bandung, tepatnya ke makam tokoh yang berjuluk “Sang Pendekar Pena” itu.

Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I) (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I) (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader PMII Solo Penuhi Nazar Ziarahi Mahbub Djunaidi (Bag. I)

“Pertama memang karena nazar. Jadi selesai RTK, pada kepengurusan lalu, saya sudah berjanji untuk ziarah ke makam Mahbub. Kedua, ini menjadi salah satu usaha saya untuk napak tilas perjuangan Mahbub,” ungkap Joko, saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Selasa (28/3).

Sejak awal bergabung di PMII, Joko memang mengidolakan sosok Mahbub. Ia kini bahkan telah mengoleksi buku-buku Mahbub, seperti novel Dari Hari ke Hari, Asal Usul, Binatangisme (terjemah dari buku karya George Orwell) dan lain sebagainya. Ia pun menekuni jalan pergerakan yang pernah ditempuh Mahbub, dengan aktif di LSO Jurnalistik PMII Komisariat Kentingan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Joko yang kini masih menyelesaikan pendidikan kuliah di Fakultas MIPA UNS memulai perjalanannya seorang diri, Jumat (24/3) lalu dengan menaiki kereta api jurusan Kutoarjo. Selanjutnya, berganti kereta menuju ke Kota Kembang.

Tiba di Bandung, ia tak langsung ke tempat persemayaman terakhir Mahbub. Justru, Rayon Saintek PMII UIN Sunan Gunung Djati (SGD) Kabupaten Bandung yang menjadi destinasi pertamanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ironisnya, papar Joko, beberapa anggota PMII di daerah tersebut justru banyak yang tidak mengetahui keberadaan makam Mahbub di Bandung. “Termasuk buku-buku Mahbub juga tidak dimiliki mereka,” imbuh Joko.

Pemuda asal Wonosegoro Boyolali itu pun kemudian mengajak sejumlah anggota Rayon Saintek PMII UIN SGD untuk ikut berziarah bersama ke makam Mahbub yang terletak di Kompleks Pemakaman Assalam Caringin Kota Bandung. (Ajie Najmuddin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, RMI NU, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock