Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khutbah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 17 Februari 2018

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat

Bogor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pemuda, sesungguhnya bukan sekadar bagian dari lapisan sosial dalam masyarakat, sebab mereka memainkan peranan penting dalam perubahan sosial. Jauh daripada itu, pemuda merupakan konsepsi yang menerobos definisi pelapisan sosial tersebut, terutama terkait konsepsi nilai-nilai.

Demikianlah salah satu poin penting yang mengemuka pada diskusi Mengokohkan Kemanusiaan Indonesia  yang Adil dan Beradab, di Kedai Aer Mantjoer, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/10).

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat

Pemuda harus dapat memberikan pemaknaan yang nyata dari nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban dalam hidup berbangsa dan bernegara yang bermuara pada peningkatan kualitas kemanusiaan Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa (Pancasilais).

Pemuda juga harus mampu meneguhkan nilai-nilai spiritualitas Nusantara sebagai nilai-nilai luhur bangsa serta rasa cinta tanah air dan kemanusiaan untuk saling berbagi serta sikap saling welas-asih; meningkatkan semangat nasionalisme atas asas kekeluargaan, kebudayaan, dan kebangsaan; serta menumbuhkembangkan kembali sikap menghargai kemajemukan serta menghindari setiap upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan. 

Pada acara yang digelar dalam rangka Refleksi 89 Tahun Soempah Pemoeda , juga ditegaskan pemuda hendaknya dapat menghilangkan rasa prejudise atas barrier of psicology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa yang multi etnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, terhadap sesama anak bangsa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemuda atau generasi muda adalah konsep-konsep yang sering mewujud pada nilai-nilai herois-nasionalisme. Hal ini disebabkan keduanya bukanlah semata-mata istilah ilmiah, tetapi lebih merupakan pengertian ideologis dan kultural.

“Pemuda harapan bangsa,” “Pemuda pemilik masa depan bangsa,” dan sebagainya, betapa mensyaratkan nilai yang melekat pada kata “pemuda”. Pernyataan ini, dalam konteks Indonesia sebagai bangsa, menemukan jejaknya. Sebab, berbicara sosok pemuda memang identik dengan nilai-nilai dan peran kesejarahan yang selalu melekat padanya. Sosok pemuda selalu terkait dengan peran sosial-politik dan kebangsaan. Ini dapat dipahami mengingat hakikat perubahan sosial-politik yang selalu tercitrakan pada sosok pemuda. Citra pemuda Indonesia tidak lepas dari catatan sejarah yang telah diukirnya sendiri. 

Betapa peristiwa-peristiwa besar di negeri ini dilalui dan digerakkan oleh pemuda. Sejarah mencatat bahwa Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, merupakan rekayasa sosial-politik para pemuda Indonesia dalam menggerakkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia melawan penjajah kolonial. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tonggak penting itu direkatkan lagi oleh Ikrar/Sumpah Pemuda, yang menegaskan kesatuan niat, kebualatan tekad dan semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa nasional Indonesia, pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Lalu, semangat nasionalisme tersebut mengkristal dan menemukan momentumnya saat diproklamirkannya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarano dan Hatta.   

Tidak mengherankan jika kemerdekaan Indonesia tak lepas dari gerakan “revolusi kaum muda.” Prestasi dan citra kaum muda Indonesia begitu menyejarah sepanjang berdirinya Republik Indonesia. Pergantian rezim ke rezim di Indonesia juga melibatkan pemuda. Sedemikian melekatnya nilai-nilai kepeloporan dan semangat kebangsaannya, tentu saja ini menjadi beban  sekaligus tanggungjawab moral sosial pemuda Indonesia ke depan.

Diskusi tersebut juga  merupakan agenda pre-launching buku  Indonesia Rumah Kita karya Abdul Ghopur & Rizky Afriono. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 02 Februari 2018

GP Ansor Surabaya Baca Hizib Nashar dan Istighotsah Untuk Palestina

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Tidak cukup mengecam aksi biadab zionis Israel, Gerakan Pemuda Ansor Kota Surabaya melalui Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor menggelar doa bersama. Mereka mengadakan istighotsah dan membaca Hizb Nashar di dalamnya.

Hal ini merupakan bentuk keprihatinan guna menanggapi konflik yang semakin memanas terkait pemblokadean pintu masuk masjid Al-Aqsha Palestina dan pelarangan aktivitas ibadah umat Islam oleh tentara Israel.

GP Ansor Surabaya Baca Hizib Nashar dan Istighotsah Untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Surabaya Baca Hizib Nashar dan Istighotsah Untuk Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Surabaya Baca Hizib Nashar dan Istighotsah Untuk Palestina

Doa bersama ini diikuti seluruh pengurus harian GP Ansor, Majelis Rijalul Ansor Pengurus Anak Cabang (PAC), dan Pengurus Ranting (PR) se-Kota Surabaya di Gedung Hoofdbestuur PCNU Kota Surabaya, Kamis (27/7).

"Doa bersama dengan membaca istighotsah dan Hizb Nashar ini sebagai gerak batin kita untuk memohon pertolongan kepada Allah agar Masjid Al-Aqsa yang merupakan sebagai tempat suci ketiga umat Islam segera dibebaskan dari belenggu Israel," kata Ketua Majelis Dzikir Shalawat Rijalul Ansor Kota Surabaya M Mundir.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia juga berharap, semoga ada upaya nyata dari PBB setelah mengeluarkan ultimatumnya kepada Israel atas desakan negara-negara anggota termasuk Indonesia.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Harapan saya kepada PBB, umat Islam di Palestina tidak dibatasi dalam haknya beribadah melaksanakan shalat Jumat," kata Mundir.

Selain kegiatan ini, upaya lain dari Rijalul Ansor Kota Surabaya untuk menindaklanjuti imbauan dari PBNU adalah pengamalan dan penyebaran sahabat-sahabat Ansor se-Kota Surabaya atas pembacaan qunut nazilah pada shalat-shalat fardhu dan shalat Jumat di beberapa Masjid Kota Surabaya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 21 Januari 2018

Pembacaan Hizib, Doa Penolak FDS Secara Santun

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?

Penolakan terhadap kebijakan Menteri Pendidikan tentang five day school (FDS) kian meIuas hingga pelosok desa. Demikian itu tampak dari berbagai upaya yang dilakukan GP Ansor Kecamatan Dawe yang kompak akan melakukan doa bersama masyarakat.

Ketua PAC GP Ansor Kecamatan Dawe, Mohammad Sahlan, menyampaikan dirinya telah menginstruksikan kepada para pengurus ranting agar menggelar pembacaan hizib dan Shalawat Nariyah di daerahnya masing-masing. Hal itu dilakukan sebagaimana anjuran yang disampaikan oleh Pengurus RMI NU Pusat.?

Pembacaan Hizib, Doa Penolak FDS Secara Santun (Sumber Gambar : Nu Online)
Pembacaan Hizib, Doa Penolak FDS Secara Santun (Sumber Gambar : Nu Online)

Pembacaan Hizib, Doa Penolak FDS Secara Santun

“Iya akan dibaca serentak di waktu yang sama, tapi di tempat yang berbeda-beda karena kami telah intruksikan untuk membacanya baik di rumah, masjid, mushalla atau di manapun berada,” katanya, Rabu (12/7).

Menurut Sahlan, langkah itu sangat penting mengingat dampak yang ditimbulkan bisa saja membahayakan generasi Islam di masa mendatang. Alasannya, jika FDS dijalankan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan Madrasah Diniyah (Madin) yang merupakan pusatnya pendidikan dasar Islam yang akan tergerus.

“Ini sangat membahayakan kader generasi penerus Islam yang nantinya dikhawatirkan akan mudah terjerumus ke dalam paham radikalisme Islam,” ungkap pengasuh madrasah Tasywiqul Qur’an Kudus itu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Disamping itu, lanjut Sahlan, membaca hizb/dzikir adalah salah satu cara yang dianggap mujarab untuk berdoa pada Allah SWT. Tujuannya yaitu agar negeri ini diberi keselamatan dan diberikan jalan yang benar dan baik. Pembacaan hizb dan doa bersama itu juga dianggapnya sebagai penolakan dengan cara yang santun terhadap kebijakan FDS.

“ITU sekaligus bentuk santun penolakan FDS dari pada berdemontrasi memacetkan jalan sambil berteriak,” bebernya.

Senada dengan dia, anggota IPPNU Komisariat MA NU Miftahul Falah Cendono Dawe Kudus, Tsania Laila Maghfiroh, mengatakan dengan cara itu NU teguh memegang prinsip menjaga sikap santun.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Bagus sih, itu upaya NU untuk menolak FDS tpi secara halus, lewat doa-doa,” katanya.

Menurut Tsania, porsi belajar anak tidak bisa dipaksakan sama. Ia menilai FDS bukanlah solusi terakhir dari kebijakan pendidikan yang tepat. “Pasti ada metode pembelajaran yang lebih baik dari FDS,” katanya. (M. Farid/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin

Sagaf Faozata Adzkiya adalah violinis muda yang memiliki pengalaman pentas mendunia dibesarkan dalam keluarga pesantren di Cilacap, Jawa Tengah. Di kala kecil, ia sering bermain rebana di lingkungan rumahnya.

Ia menamatkan belajarnya di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dengan instrumen violin pada tahun 2003. Ia kemudian melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan instrumen yang sama. Ia menamatkan ISI pada tahun 2011.

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin

Ia memiliki sejumlah pengalaman pentas. Pengalaman pentasnya antara lain, pernah menjadi anggota orkestra kemerdekaan 17 Agustus  (Gita Bahana Nusantara) di Istana Merdeka tahun 2002, 2007, 2008, 2009, 2010; menjadi anggota Southeast Asian Youth Orchestra And Wind Ansamble (SAYOWE) di Bangkok tahun 2004, 2007, 2008; mengikuti ISI Japan workshop di Tokyo tahun 2007.

Bersama Buffa String Quartet, ia mendampingi Midori String Quartet di Yogyakarta tahun 2010. Ia pernah menjadi anggota Asian Simphoni Orchestra di Vietnam tahun 2011. Di tahun 2012, ia mengikuti Cambodian Music Festival di Pnom Penh. Terakhir, ia bermain solo bersama Ngayogstringkarta String Orchestra di Malang tahun 2013.Pada malam pidato kebudayaan dan Hadiah Asrul Sani dalam rangka 10 tahun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, ia akan mementaskan instrumental violin lagu Indonesia Raya, Selawat Badar, dan beberapa lagu lainnya di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam.

Bagaimana proses perjumpaan seorang Sagaf dengan dunia violin yang mengantarkannya ke panggung-panggung nasional maupun internasional, berikut ini merupakan hasil wawancara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan violinis muda berbakat melalui telepon, Kamis (21/3) malam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bagaimana keterkaitan Anda secara pribadi dengan NU?

Masalahnya dari kecil, saya mengetahui NU. Keluarga saya itu mengelola pesantren dari mbah, bapak, dan paklik. Waktu kecil, saya ikut pesantren di daerah Mejenang. Pengelolaan pesantren diteruskan oleh paklik tepatnya di daerah Paku Haji, Majenang, Cilacap Jawa Tengah. Jadi, dari kecil, saya sangat dekat dengan dengan pesantren.

Pernah masuk pondok pesantren?

Saya belum pernah mondok. Tetapi, saya hanya ikut pengajian mbah di pesantren.

Sempat mengaji apa saja?

Saya ikut mengaji Alquran. Kalau mengaji kitab kuning, saya hanya ikut sebentar, tidak sampai selesai.

Kitab apa saja?

Kitab Safinah. Itu pun tidak sampai tamat karena langsung masuk sekolah musik di Yogyakarta.

Sekolah apa?

Saya ambil jurusan musik di Yogyakarta.

Apa tanggapan orang tua?

Awalnya mereka menentang. Tetapi, saya menunjukkan antusias serius di musik. Saya juga meminta mereka dengan agak sedikit merayu seperti anak kecil.

Apa yang membuat Anda mencintai NU?

Setahu saya, penanaman dakwah lewat seni dan budaya. Secara awamnya seperti itu. Ada rebana dan selawatan. Kalau di Muhammadiyah, perihal seperti itu dianggap bid‘ah. Kalau di NU, perihal kayak begitu nyaman-nyaman saja. Karena saya senang dengan kesenian, sikap NU seperti itu sangat membahagiakan saya.

Siapa tokoh NU yang Anda suka?

Salah satunya Gus Dur. Dia memahami musik mulai dari klasik, kontemporer sekaligus aneka genre musik.

Bagaimana cara Anda menjalani hidup sebagai warga NU?

Menurut saya, semua hal  kehidupan bagi warga NU bisa dibuat sederhana. Mungkin bisa diartikan, warga NU itu tidak memaksakan diri untuk menunjukkan identitas. Setiap orang memang harus mempunyai tingkat pemikiran yang tinggi. Warga NU terbukti bisa. Hanya saja warga NU tidak menunjukkan kemampuannya. Saya menjalani kehidupan sesederhana mungkin, tidak eksklusif dan sebagainya. Dari NU, saya menyukai sikap hidup yang lebih merakyat.

Bagaimana cerita kedekatan Anda dengan violin?

Pada awalnya saya suka bermusik pada saat SMP. Saya belajar gitar otodidak. Saya menonton acara musik di televisi. Saya membaca majalah-majalah musik. Semuanya menunjukkan semangat tinggi saya untuk belajar musik.Awalnya saya bermain gitar. Ketika semakin giat belajar otodidak, seorang saudara menyarankan saya sekolah musik di Yogyakarta. Sampai di Yogyakarta, komunitas gitar di sekolah musik itu kurang produkif. Sementara violin dan orkestranya maju pesat. Lalu saya berkeinginan mempelajari instrumen yang ada di orkestra itu. Saya jatuh cinta pada violin. Violin alat musik gesek yang suaranya lebih tinggi dari viola.

Jadi, pintu masuk saya dalam bermusik melalui saudara itu. Karena ia menyarankan saya masuk ke sekolah musik itu.

Rencananya Anda mementaskan Selawat Badar dengan violin?

Saya akan menampilkan pengalaman bermusik. Saya akan menampilkan instrumentalnya saja Saya hanya menyampaikan notasi, namun aku tidak berpikir akan detail dari Selawat Badar. Dengan penampilan itu, saya kira pendengar akan tergugah “Oh, itu lagu Selawat Badar”. Dalam pementasan itu, saya hanya memberi pengantar melodinya yang akan membuat setiap orang bernyanyi. Jadi saya memberikan ruang bagi pendengar untuk menelaah sendiri. Instrumental itu tidak menunjukkan detail Selawat Badar.

Sebelum di PBNU, Anda pernah mementaskan Selawat Badar?

Dulu, saya pernah bermain rebana. Ibu saya di rumah, cukup aktif di kegiatan rebanaan. Saya terkadang diminta mengiringi musikal, dinamik, dan ritmisnya. Jadi saya mengarahkan dari segi musikalnya saja. Pesertanya adalah ibu-ibu. Rebanaan itu waktu kecil.

Selain Selawat Badar, lagu apa yang pernah Anda dengar?

Selawat, kasidah, grup Nasidaria, Wafiq Azizah, dan semacamnya. Karena, bapak sering memutar lagu-lagu itu. Jadi saya mengetahui itu secara tidak langsung. Namun, saya tidak terlalu fanatic sehingga menutup diri dari jenis musik lainnya.

Sebentar lagi Anda akan bermain di PBNU. Apa tanggapan Anda?

Saya sangat bangga. Tadi saya sempat mengabarkan perihal itu melalui telepon kepada keluarga di Cilacap. Keluarga di rumah sangat antusias. Mereka mengucapkan, “Selamat! Sukses!” Mereka sangat bangga.

 

Staf Redaksi: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ansor Kencong Bentuk Tim Tangani Bencana

Jember, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Untuk mengantisipasi datangnya bencana banjir dan tanah longsor karena kian seringnya turun hujan, Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kencong, Jember, Jawa Timur membentuk tim Bagana (Banser Tanggap Bencana) untuk terlibat dalam penanganan bencana alam, khususnya di wilayah Kencong dan sekitarnya.

Menurut Ketua PC GP Ansor Kencong Muhammad Yasin Yusuf Ghazali, tim inti Bagana? berjumlah 9 anggota Banser yang baru-baru ini telah mengikuti Diklatsus soal kebencanaan di Trenggalek.

Ansor Kencong Bentuk Tim Tangani Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Kencong Bentuk Tim Tangani Bencana (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Kencong Bentuk Tim Tangani Bencana

“Saya kira tim Bagana penting sekali mengingat wilayah Kencong juga rawan bencana, khususnya di Paseban, Puger dan sebagainya,” tukasnya kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal melalui sambungan telepon seluler, Senin (26/9).

Yasin menambahkan, tim khusus untuk menangani bencana memang harus selalu siap. Sebab, datangnya bencana kadang tiba-tiba karena terkait dengan kemarahan alam. Oleh karena itu, selain membentuk tim Bagana, PC GP Ansor Kencong juga telah lama melakukan penghijauan di sekian banyak bantaran sungai. Tujuannya adalah mencegah terjadinya banjir dalam jangka panjang.

“Kami juga giat melakukan penghijauan. Alam ini harsu kita jaga dan pelihara. Pepohonan terutama yang ada di bantaran sungai, jangan seenaknya dibabat,” ujarnya.

Dikatakan Yasin, penanganan bencana merupakan salah satu dari sekian tugas sosial anggota Banser. Dimanapun dan dalam hal apa pun, Banser seharusnya turun memberikan pelayanan kepada masyarakat. Sehingga keberadaan Banser dirasakan oleh masyarakat, yang ujung-ujungnya memberikan citra positif kepada NU, meskipun tujuannya bukan untuk mencari pencitraan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Tugas utama Banser adalah sebagai benteng ulama, baik secara fisik maupun moral. Maksudnya, Banser juga wajib mengawal ajaran Ashlussunnah wal Jama’ah. Selain itu, juga ada tugas sosial seperti penanganan bencana, kerja bakti dan sebagainya,” jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Anti Hoax, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejumlah akademisi menyerukan pentingnya Islam moderat untuk masa depan kedamaian di Indonesia. Seruan ini didukung oleh Petisi ratusan akademisi dari 107 PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) dari berbagai kawasan di Indonesia, yang bertemu pada Seminar Nasional dan Call for Paper "Menyemai Militansi Akademisi Berbasis Keilmuan Aswaja" di Universitas Islam Malang, Rabu (17/5).

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Seminar ini menandai deklarasi Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu) yang diikuti dosen-dosen Aswaja dari 107 perguruan tinggi. Asdanu merupakan Asosiasi Dosen Aswaja,? yang diinisiasi oleh Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA), Universitas Hasyim Asyari Jombang (Unhasy), Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Inistitut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto, Universitas NU Sidoarjo, dan Universitas Sunan Giri.

Hadir pada forum ini, Prof Dr KH Tholhah Hasan (Ketua Dewan Pembina Unisma, Mustasyar PBNU), Prof Dr Abdurrahman Masud (Puslitbang Kementrian Agama), Prof Dr Masykuri (Rektor Unisma), Marsudi Nurwahid (Jurnalis), beberapa rektor perguruan tinggi, serta ratusan dosen-peneliti dari berbagai kampus.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

KH Tholhah Hasan mengungkapkan pentingnya akademisi berpikiran terbuka dan berwawasan luas. Khususnya, tentang perbedaan pemaknaan Ahlussunnah wal Jamaah. "Saya pernah berbincang dengan beberapa pimpinan Islam radikal, ISIS dan FPI. Semuanya mengaku bagian dari Ahlussunnah wal Jamaah. Maka, kita harus jeli dan tegas tentang ideologi aswaja," ungkap Kiai Tolhah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Tolhah menambahkan, bahwa peneliti dan dosen yang memiliki konsentrasi di bidang keislaman harus memahami isu-isu pluralisme lintas madzhab. "Di dalam aswaja, ada perbedaan-perbedaan yang harus dipahami. Antara madzhab Syafii, Maliki, Hanbali dan Hanafi, ada perbedaan-perbedaan mendasar. Harus ada pemahaman pluralis, ini yang harus dilakukan," tegas Kiai Tolhah.

"Aswaja yang dikembangkan Kiai Indonesia, yang kemudian menjadi NU adalah Aswaja yang paling moderat dan toleran,” sambung Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini.

Rektor Unisma, Masykuri mengungkapkan, ada dinamika di perguruan tinggi terkait dengan gerakan keislaman. "Saya melakukan riset mendalam di beberapa kampus umum, ada potensi radikal terutama dari mahasiswa yang kuliah di jurusan sains. Sebagian dari mereka membentuk gerakan politik untuk berkontestasi pada kepemimpinan Indonesia masa depan," jelas Masykuri.

Dalam pandangan Masyukri, tindakan pemerintah melarang organisasi radikal sudah tepat. "Langkah Pemerintah melarang HTI sudah tepat, agar tidak mengancam masa depan dan kesatuan Indonesia," ungkap Masykuri.

Ratusan dosen-peneliti yang tergabung dalam Asdanu mendeklarasikan dan mengkampanyekan Islam moderat dalam riset-riset ilmiah dan pengajaran di kampus. (Yusuf Suharto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Berita, Khutbah, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 22 Desember 2017

Kader Muda Diminta Rekonstruksi Sejarah NU

Pekalongan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Belum banyaknya tulisan mengenai sejarah perjalanan NU mulai dari proses berdirinya pada tahun 1926 hingga kini, membuat Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlith Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah Habib Muhammad Luthfi bin Ali bin Hasyim bin Yahya merasa khawatir.

Menurutnya, tulisan-tulisan tentang proses berdirinya NU oleh Hadratus Syeikh KH Hasyim Asyari dan para kiai lainnya sangat penting untuk direkonstruksi dan dibaca oleh kader-kader muda NU.

Kader Muda Diminta Rekonstruksi Sejarah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Kader Muda Diminta Rekonstruksi Sejarah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Kader Muda Diminta Rekonstruksi Sejarah NU

Hal tersebut dikatakan Habib Luthfi saat memberikan tausyiyah dihadapan ribuan warga nahdliyyin Pekalongan dan sekitarnya saat mengikuti istighotsah kubro yang digelar Pengurus Cabang NU Kota Pekalongan dalam rangka memperingati 84 tahun berdirinya NU, Sabtu malam (30/1) di Masjid Agung Al Jami Kauman Pekalongan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dikatakan, proses berdirinya NU mengandung makna yang sangat dalam, bagaimana sesungguhnya ulama besar yang akhirnya menjadi Rais Akbar NU itu menjalani sebuah ritual untuk membentuk organisasi Islam dengan haluan ahlus sunnah wal jamaah.

Meski saat ini telah banyak buku yang menulis tentang kelahiran NU, akan tetapi belum banyak yang dapat digali dan disajikan kepada generasi muda NU. Karena sesungguhnya dibalik proses kelahiran NU, mengandung makna yang dapat dijadikan contoh dan tauladan bagi kader NU.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Melihat kondisi yang demikian, Habib Luthfi meminta kepada generasi muda NU agar melakukan rekonstruksi ulang tentang sejarah kelahiran NU dengan versi lain yang lebih lengkap. Jika hal itu dapat diwujudkan, akan menjadi khasanah baru bagi perkembangan Nahdlatul Ulama ke depan.

Acara istighotsah kubro meski digelar secara sederhana, yakni dibarengkan dengan kegiatan pengajian rutin kitab Al Bajuri dihadiri ribuan ummat Islam. Jika biasanya setiap kegiatan seremonial, PCNU selalu mengundang pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Pekalongan. Namun untuk kali ini sengaja tidak mengundangnya.

Meskipun demikian, kegiatan Peringatan Hari lahir NU ke 84 di Kota Pekalongan tetap berlangsung dengan meriah. Beberapa kegiatan sosial seperti pengobatan gratis di empat ranting dan donor darah menjadi aksi sosial yang selalu ditunggu-tunggu masyarakat. Tidak heran, jika setiap kegiatan sosial digelar selalu dipadati warga. (amz)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock