Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Senin, 26 Februari 2018

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Oleh Aswab Mahasin

Saya akan memulai tulisan ini dengan diskursus seorang atheis Will Durant, “Agama punya seribu jiwa, segala sesuatu jika sudah dibunuh ia akan sirna, kecuali agama. Agama sekiranya ia dibunuh seratus kali, akan muncul lagi dan kembali hidup setelah itu.” Pernyataan ini senada dengan judul buku Komarudin Hidayat, “agama punya seribu nyawa”.

Agama sekarang ini berada pada posisi “dimanfaatkan” dan “bermanfaat”. Agama dimanfaatkan ketika suatu kelompok tertentu bertindak, berbuat, dan berdalih atas nama agama demi kepentingan pribadi atau kelompok tertentu. Selanjutnya. Agama bermanfaat ketika agama benar-benar difungsikan sesuai dengan esensi dari nilai-nilai agama itu sendiri, sebagai sistem pengajaran yang mendidik, sebagai sistem sosial yang mensejahterahkan, dan sebagai ajakan yang menentramkan.

Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)
Islam dan Dinamika Sosial Terkini (Sumber Gambar : Nu Online)

Islam dan Dinamika Sosial Terkini

Namun, kedua posisi itu tidak bisa dielakan dalam situasi dan dinamika sosialyang terus berkembang. Memang, agama tidak berubah, tetapi agama dianut oleh masyarakat baik secara menyeluruh maupun individudalam gerak sejarahnya terus mengalami perubahan, diberbagai dimensi sosialnya.

Fenomena tersebut terjadi disemua lapisan pemeluk agama, agama apapun mengalami hal yang sama. Dengan demikian, ada pergumulan antara agama dan sosial, atau biasa kita kenal juga dengan istilah “peradaban”. Agama dari mulai kelahirannya (agama manapun), selalu berinstrumen dengan kondisi sosialnya, di satu sisi agama membangun kebudayaan, di sisi lain agama berusaha membentuk peradaban.

Bila ditatap dari perspektif sejarah, setiap agama memang membentuk dan membangun kebudayaan serta peradabannya sendiri. Ketika Nabi Muhammad Saw Hijrah ke Yastrib, Kanjeng Nabi langsung mengganti nama kota Yastrib yang berarti “tanah gersang berdebu” menjadi Madinah yang berarti “kota atau peradaban”. Artinya, Nabi Muhammad Saw ingin membangun dan mewujudkan perdaban dunia melalui makna kota Madinah, dengan kreatifitas peradaban masyarakatnya dan nilai-nilai Islam melalui petunjuk Ilahi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan demikian, secara alamiah agama mempunyai kemampuan untuk melahirkan peradaban (madinah atau tamaddun). Berarti agama dan peradaban dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan, berdampingan dan bersamaan. Walaupun banyak orang menyangsikan bahwa agama dan peradaban adalah berbeda, mereka mencoba membuat distingsi (pembedaan), dengan konklusi, agama di satu sisi dengan peradaban di sisi yang lain.?

Misalnya dikatakan, Agama adalah wahyu Tuhan, sedangkan peradaban adalah inovasi manusia. Pembedaan semacam ini sesungguhnya hanya ada dalam wacana dan verbalisme belaka, dan tidak pernah ada dalam kenyataan hidup manusia. (Prof. Dr. Said Agil Husin Al-Munawwar, MA, Prof. Dr. M. Quraish Shihab, MA, dan Dr. Achmad Mubarok, MA, dalam buku Agenda Generasi Intelektual: Ikhtiar Membangun Masyarakat Madani: 2003)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Realitas hidup manusia menghendaki sesuatu yang oprasional, tidak hanya berhenti pada ajaran-ajaran kaku. Agama memang tidak berubah, namun sekali lagi saya tekankan masyarakatnya yang berubah, pemeluknya yang berubah. Perubahan ini mau tidak mau mempengaruhi pula cara dan sikap keberagamaan mereka.?

Apalagi di era informasi serba terbuka, tidak sedikit dari mereka berguru pada google, youtube, facebook, twitter, dan sebaginya—seringkali memuat informasi atau penyampaian tidak berimbang.Dari hal tersebut, akan terjadi penguapan yang tidak bisa dikontrol apalagi dibatasi, setiap orang boleh menyampaikan sesuatu, dan dilakukan secara bebas, dengan cara; emosi, tanpa data, ujaran kebencian, dan ngawur. Tidak bisa dipungkiri, hal tersebut merupakan masalah untuk mendapatkan pemahaman yang utuh.

Menanggapi persoalan tersebut, kita harus berpikir dialektis, umat Islam berkembang variatif, jargon-jargon dan simbol-simbol keIslaman tidak hanya dimiliki oleh satu golongan, melainkan semua golongan yang beragama Islam dengan pandangan tertentu, madzhab tertentu, dan diskursus tertentu. Sehingga tidak sedikit dari kita terjebak pada kebingungan, mana yang Islam di antara kita. Ini menjadikan kita berpikir satu pihak, sehingga timbul sikap menyempit, karena Islam cenderung meluas.?

Sebab itu, dalam dinamika sosial ada kecenderungan kelompok yang menutup diri, sebagai cara untuk menjadikan kelompoknya pada kemurnian ideologi serta menuduh kelompok lain telah menyeleweng. Hal ini seleras seperti yang disampaikan Gunawan Mohamad dalam dialognya, “Efek dari penyempitan itu salah satunya adalah hilangnya toleransi.?

Namun, di sisi lain hilangnya toleransi bukan hanya masalah teologi lokal semata, juga menyangkut krisis sosial budaya. Sambung Gunawan Muhammad, Nurcholish benar ketika mengatakan semua agama dewasa ini mengalami krisis. Tidak hanya umat Islam, melainkan semua umat dari berbagai agama.”

Kita bisa lihat juga potret yang berkembang, di Amerika Serikat menjelang tahun 1980-an muncul gerakan intelektual internasional, dengan misi “Islamisasi Pengetahuan”, pertama kali gerakan ini didengungkan oleh Isma’il Raji Al-Faruqi dari lembaga Pemikiran Islam Internasional (Internatioanl Institute of Islamic Thouhgt). Gagasan ke arah Islamisasi Pengetahuan sebelumnya sudah dicetuskan oleh Naquib Al-Attas dari Malaysia. (Kuntowijoyo, Islam Sebagai Ilmu: 2006)

Hal tersebut adalah respon dari sebagian umat Islam, supaya tidak begitu saja menelan mentah-mentah ala Barat. Namun menjadi lucu, ketika objek dunia yang luas ini, dengan berbagai ragam spektrumnya lantas harus didudukan pada satu paradigma saja, dengan tiga dalih kesatuan; kesatuan pengetahuan, kesatuan kehidupan, dan kesatuan sejarah. Jelas, kalau kita jabarkan lebih panjang, akan rancu.?

Minimal Anda bisa menelaah sendiri, bagaimana jika pengetahuan hanya tunggal, dimana pengetahuan hanya punya satu kiblat pengetahuan. Saya hanya membayangkan, tidak kreatifnya dunia ini dan merupakan pekerjaan yang tidak berguna memikirkan islamisasi pengetahuan. Toh menurut Kuntowijoyo, metode dimana-mana sama: metode survei, metode partisipan, atau metode grounded dapat dipakai dengan aman, tanpa resiko akan bertentangan dengan iman kita.?

Dalam hal ini, saya lebih sepakat dengan istilah Kuntowijoyo, bukan Islamisasi Pengetahuan, melainkan “Pengilmuan Islam” terhadap ilmu-ilmu yang telah ada, gerakan ini tidak seperti Islamisasi Pengetahuan (konteks ke teks), melainkan (teks ke konteks).

Pengilmuan Islam yang dimaksud adalah di mana Islam mampu mewarnai perubahan dunia. Intinya, dalam hal ini Islam bukan hanya sebagai ideologi atau doktrin agama, melainkan sebagai ide dan ilmu.

Kuntowijoyo hanya masih salah satu gambaran pemikir Indonesia yang mencoba memetakan Islam sebagai model pembangunan untuk merespon dinamika sosial. Berbeda dengan Nurcholish Madjid mengembangkan “sekularisasi”, dan Amin Rais berkiblat pada “Islamisasi ilmu pengetahuan”, sedangkan Jalaludin Rahmat menggaungkan “Islam alternatif”.?

Lain lagi dengan Munawir Syadzali lebih banyak berbicara tentang “reaktualisasi Islam” mengingat dinamika historis sudah berkembang cepat di samping adanya prinsip-prinsip keadilan dan kemanusiaan yang harus dikedepankan. (Syamsul Bakri dan Mudhofir, Jombang Kairo, Jombang Chicago: Sintesis Pemikiran Gus Dur dan Cak Nur dalam Pembaruan Islam Indonesia: 2004)

Sedangkan Gus Dur menggaungkan Pribumisasi Islam, untuk mencairkan pola dan karakter Islam yang normatif menjadi sesuatu yang kontekstual. “Pribumisasi Islam” tergambar bagaimana Islam sebagai ajaran yang normatif berasal dari Tuhan diakomodasikan ke dalam kebudayaan manusia tanpa kehilangan identitasnya masing-masing.

Pada pijakan tersebut, para pemikir melihat pentingnya perspektif universal sebagai sebuah sistem gagasan yang ideal/kompleks dalam memahami agama khususnya sejarah yang berkembang. Munculnya ide-ide baru ini, dan mungkin masih banyak ide lainnya dari para pemikir, tidak lain sebagai respon ideologi, respon ide, respon kultural, respon pemikiran, respon sosial, dan berbagai respon lainnya dengan menilik pada perkembangan dinamika masyarakat yang terus berkembang.

Islam dan dinamika sosial adalah sebuah proses mencari bentuk operasional agama yang sesuai untuk menjawab persoalan-persoalan kemanusiaan, walaupun dengan corak dan karakter pemikiran yang berbeda. Namun, tetap dilandasi dengan pijakan-pijakan, data, refrensi yang ilmiah—tanpa gegabah dalam mengambil kesimpulan—dengan gambaran besarnya bagaimana Kitab Suci dan Rasulullah dalam menerjemahkan ajaran langit pada realitas bumi.

Saya tutup tulisan ini dengan wasiat dari KH Wahid Hasyim, semoga menjadi motivasi buat kitas semua, “Setiap manusia adalah anak dari jerih payahnya. Semakin keras berusaha, semakin pantas ia jaya. Cita-cita yang tinggi dapat mengangkatnya ke derajat yang tinggi. Semakin keras berkemauan semakin terang derajat itu. Tak ada langkah mundur bagi orang yang ingin maju. Tak ada kemajuan bagi orang yang menghendaki mundur.”

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Nahdlatul Ulama, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Ketua PCINU Belanda Fachrizal Afandi mengungkapkan bahwa dalam konteks pergaulan sosial sebagai kaum minoritas di Eropa, masyarakat Nahdliyin mengemban beban berat sebagai duta yang wajib mempromosikan Islam Nusantara yang ramah di tengah Islamophobia yang makin menggejala di Eropa.

“Melalui dakwah dengan amaliyah yang baik, ngilmu kanthi laku, sebagaimana dicontohkan oleh para wali terdahulu diharapkanakan membuka mata masyarakat Belanda akan sosok sejati Islam yang rahmatan lil alamin,” ujarnya dalam siaran pers, Ahad (22/5).

NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Belanda: Islamophobia, Tantangan Berat Nahdliyin Dakwah di Eropa

Seperti ribuan warga Muslim Belanda lainnya, Sabtu (21/5) masyarakat Nahdliyin di Belanda juga menyelenggarakan pengajian yang digelar khusus dalam rangka memperingati malam Nishfu Sya’ban dan menyambut bulan suci Ramadhan. Kegiatan yang berlangsung di gedung lama Masjid Al Ikhlash, Saaftingestraat, 312? 1069 BW Amsterdam ini menjadi bagian dari cara PCNU Belanda dalam mensyiarkan Islam yang ramah di Eropa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Antusiasme masyarakat peserta pengajian untuk menyemarakkan kegiatan ini tergolong tinggi. Hal ini dibuktikan dengan terkumpulnya uang sumbangan pembangunan masjid sebesar kurang lebih 5000 Euro hanya dalam waktu semalam .

Acara pengajian ini sendiri seperti tradisi di Tanah Air, dimulai dengan pembacaan surah Yaasin sebanyak 3 kali yang dipimpin oleh pengurus PCINU (Pengurus Cabang Istimewa NU) Belanda dan diakhiri dengan ceramah agama dan doa oleh Ustadz Muhammad Latif Fauzi, mahasiswa doktoral Universitas Leiden.

Ustadz Fauzi yang juga pengurus PCINU Belanda ini menekankan bahwa ritual peringatan malam Nishfu Sya’ban ini merupakan ajaran Islam yang baik untuk ajang refleksi diri terhadap amalan yang sudah dilakukan selama 1 tahun kemarin. Hal ini, menurutnya, penting dilakukan untuk senantiasa termotivasi untuk berbuat baik, utamanya dalam membantu dakwah Islam di Eropa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan ini pula, Hansyah Iskandar Putera selaku Ketua Persatuan Pemuda Muslim se- Eropa (PPME) Al-Ikhlash menyatakan bahwa pembangunan masjid baru Al Ikhlas di Amsterdam sudah hamper rampung dan siap ditempati untuk pelaksanaan ibadah Ramadhan tahun ini.

Hansyah menambahkan bahwa tahun ini pihaknya telah mendapatkan bantuan penceramah yang telah diseleksi secara ketat oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta untuk memberikan taushiyah sepanjang Ramadhan yang akan disesuaikan dengan konteks kehidupan masyarakat muslim di Belanda. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pemurnian Aqidah, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 22 Februari 2018

Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid

Demak, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlarul Ulama (MWC NU) kecamatan Guntur Kabupaten Demak Ahad (10/3)  telah mengadakan musyawarah kerja (Musker) di Aula kantor kecamatan Guntur. 

Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadiri Musker Camat Guntur Beri Bantuan Hibah Masjid

Dalam pengarahannya ketua tanfidziyah Kiai Tamim Romli menyampikan Musker yang diikuti oleh pengurus pleno MWC, ranting, lembaga, lajnah dan badan otonom NU se Kecamatan Guntur tersebut bertujuan mengevalausi dan merumuskan prioritas program tiap tahun dengan berbagai solusi terhadap program yang kurang berjalan baik. 

"Dalam merencanakan program kita mengambil yang sederhana, mudah dan bisa dijalankan Disamping itu hendaknya program seharusnya bisa menumbuhkkan semangat berjamiyah dan  memberikan manfaat kepada warga NU," katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia menandaskan memasuki era globalisasi, NU harus tampil didepan dan mengambil peran yang maksimal dalam mengantisipasi perubahan zaman sekaligus kontribusi positif tetap eksis dalam bingkai Islam Aswaja.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Budaya globalisasi sangat mempengaruhi kehidupan kita makanya perlu pemahaman bersama maupun bersikap profesional. Dari sini, peran NU sangat signifikan dalam kehidupan bermasyarakat," tandasnya..  

Tak kalah menarik dan berita sangat menggembirakan dalam forum musker itu dengan hadirnya camat Guntur H Mohammad Syahri yang juga sebagai musytasar NU Guntur dimana walau datangnya terlambat ditengah tengah berlangsungnya rapat, saat diberi waktu untuk memberikan sambutan mantan satkorcab Banser Grobogan tersebut memberikan bantuan hibah empat masjid kepada empat ranting masing masing sejumlah Rp.10.000.000 yaitu ranting Tlogorejo, Sidokumpul, Blerong dan Trimulyo

“Dalam kesempatan  ini kami memberikan bantuan hibah kepada empat masjid dimana dalam penggunaannya bisa untuk memperbaiki masjid bapak bapak yang belum sempurna, dan ini insyaallah bertahap, silahkan dibagi pengurusnya” tutur HM Syahri yang disambut dengan tepuk tangan meriah dari peserta musker

Lebih lanjut Syahri meminta kepada pengurus dan ranting penerima bantuan untuk bisa dipergunakan sesuai peruntukannya dan bisa dipertanggungjawabkan denan laporan pertanggung jawabannya (LPJ),

“Hibah dari Pemda ini jikalau takmirnya bisa mempertanggungjawabkannya maka tahun berikutnya akan diberikan lagi, tentunya gentian pada ranting lain,” pintanya.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : A Shiddiq Sugiarto

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, PonPes Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?

Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini berharap semua warga negara Indonesia dengan berbagai latar belakang agama, ras dan lainnya bisa bersatu kembali.?

"Apapun agamanya, apapun rasnya, apapun kepercayaannya. Itu adalah keluarga Indonesia," katanya saat memberikan sambutan pada acara Halal Bihalal dan Silaturahim Lintas Agama di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (24 /7).

Pada acara yang bertemakan "Merawat Kebinekaan, Menjaga NKRI" ini, perempuan yang juga dosen Universitas Indonesia ini berharap agar tidak berhenti hari ini, melainkan kedepan harus saling bergandengan tangan.?

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial

"Terutama jihad (bergandengan tangan) memerangi kemiskinan, jihad kebodohan, jihad memerangi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak terutama," kata Anggia.?

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa semua ini bisa memberikan kemanfaatan yang lebih kepada manusia yang lebih maksimal.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kita sangat berharap acara ini nanti bisa menelurkan kesepakatan aksi tidak hanya komitmen tapi juga aksi untuk bisa bersama-sama menyelamatkan bangsa ini. Melakukan gerakan sederhana untuk masyarakat luas," terangnya.?

Acara ini juga diharapkan bisa memiliki kontribusi secara luas apapun latar belakanganya.

“Mudah-mudahan bisa memberikan impact ? yang luar biasa. Tidak hanya di Fatayat tapi juga diperluas lagi,”?

Acara ini dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU Robikin Emas, Ketua PBNU H. Umar Syah dan berbagai tokoh agama serta aliran kepercayaan. (Husni Sahal/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Ahlussunnah, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Pada tahun 1958, ada yang menyebutkan pada tahun 1950, Presiden Soekarno berkunjung ke Mataram, melalui bandara Selaparang, Ampenan. Tujuannya untuk meresmikan kantor gubernur Nusatenggara Barat (NTB).

Rencana kedatangannya, telah tersiar jauh hari sebelumnya oleh warga di pulau Lombok itu, termasuk oleh Tuan Guru Haji (TGH) Saleh Hambali. Jika kejadian itu tahun 198, saat itu berarti ia adalah Rais Syuriyah PWNU NTB. Saat itu NU masih berstatus partai. ?

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)
Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali (Sumber Gambar : Nu Online)

Kunjungan Aneh Bung Karno kepada TGH Saleh Hambali

Tuan Guru itu sebetulnya dikenal masyarakat sebagai orang yang rendah hati dan jarang berkomunikasi dengan pihak luar, apalagi dengan seorang presiden. Namun, entah kenapa, dengan percaya diri ia menegaskan, bahwa Bung Karno akan berkunjung ke pesantrennya, Darul Qur’an di desa Bengkel. Sebuah desa yang akan dilalui Bung Karno jika melalui Ampenan. ?

Akan mampirnya Bung Karno, dikemukakan Tuan Guru kepada para santrinya. Salah seorang saksi hidup peristiwa itu adalah Ustadz Asmaun dari desa Bonder, Lombok Tengah yang diceritakan anaknya, Syaifullah. Ketua PWNU NTB saat ini, TGH Taqiudin Mansur juga membenarkan kisah itu.? Dia mendngar cerita itu dari ayahnya, TGH Mansur, santri Darul Qur’an saat itu. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Para santri merasa heran kenapa Tuan Guru Soleh Hambali bisa seyakin itu karena tidak ada pemberitahuan dari pihak mana pun tentang berkunjungnya Bung Karno ke pesantren Darul Qur’an.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Beberapa hari menjelang kedatangan, di agenda protokoler kepresidenan tetap tidak ada jadwal Presiden Soekarno ke pondok. Namun, TGH Saleh Hambali malah meminta para santri menyiapkan podium penyambutan.

Di hari kedatangan Bung Karno, dari bandara Selaparang Ampenan menuju kota Mataram, semua santri disuruh keluar oleh TGH Saleh Hambali.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh berkata kepada santri-santrinya, jika Bung Karno adalah pemimpin yang benar, dia akan mampir ke pesantren Darul Qur’an.

Menurut Syaifullah, TGH Saleh waktu itu menulis ayat Al-Quran di dinding pesantren, yaitu “Fawaillul lil mushallin.” Namun, dalam pada catatan Yusuf Tantowi, ayat yang ditulis TGH Saleh adalah “Fa ammal yatima fala taqhar, wa amma sya ila fala tanhar” dan dia tidak menuliskannya di tembok, melainkan dibentangkan di atas spanduk.

Ternyata, ketika Bung Karno melewati pondok pesantren Darul Qur’an, ia benar-benar mampir. Hal itu di luar dugaan pasukan pengawal yang berada di paling depan. Mereka tidak mengetahui orang yang dikawalnya telah mampir pada tempat yang tidak dijadwalkan. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Kajian Sunnah, Hadits Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin

Solo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menjelang tiba waktu ashar di hari kelima Ramadhan 1437 H, Jumat (10/6), lalu lalang kendaraan di jalanan sekitar Kampung Jayengan Solo, Jawa Tengah, masih tampak sepi. Namun, tidak demikian bila Anda masuk pada sebuah gang, tepatnya di kompleks Masjid Darussalam.

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin (Sumber Gambar : Nu Online)
Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin (Sumber Gambar : Nu Online)

Rela Antre Demi Mendapatkan Bubur Samin

Di sana, Anda akan menemukan kerumunan warga yang tengah antre untuk mendapatkan hidangan bubur samin, sebuah kuliner khas kampung tersebut, sebagai menu buka puasa mereka.

Ya, tiap warga yang antre tersebut membawa wadah masing-masing. Wadah yang dibawa pun beragam, mulai dari mangkuk, piring, rantang, bahkan ada pula yang membawa termos nasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Satu persatu, wadah tersebut mulai diisi dengan bubur yang masih panas, yang diambil langsung dari tempat panci besar pembuatan bubur. Penulis sendiri, karena lupa membawa wadah, pernah mencoba dengan menggunakan kantong plastik. Hasilnya, kantong ikut meleleh karena saking panasnya bubur tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bubur Samin sendiri merupakan makanan takjil khas Masjid Darussalam. Tradisi pembagian bubur ini sudah berlangsung sejak 50 tahun lebih.

“Sejak saya kecil bubur ini sudah ada. Dulu saya juga sering antre untuk mendapatkan bubur samin setiap kali menjelang berbuka puasa,” kata pengurus Takmir Masjid, H. Rosyidi Muchdlor.

Pembuatan bubur sudah dimulai sedari siang. Bubur sudah mulai dimasak di sebuah jimbeng (panci besar). Bahan-bahan seperti beras, daging sapi, aneka rempah dimasukkan satu per satu. Tak lupa minyak samin, inilah alasan kenapa dinamakan bubur samin, dicampurkan ke adonan bubur. Sekitar pukul 15.00 WIB, bubur sudah matang dan siap disajikan.

Seribu Porsi

Pada Ramadhan tahun ini, pihak takmir Masjid Darussalam Jayengan Solo, setiap hari menyediakan 45 kilogram atau 1000 porsi bubur samin. Seribu porsi tersebut, masing-masing 800 diperuntukkan untuk warga yang ingin membawa pulang ke rumah, sedangkan sisanya 200 porsi disantap untuk buka bersama di masjid. Lantaran tingginya animo warga yang ingin merasakan bubur khas warga Banjar itu, persediaan 1000 porsi masih belum dapat memenuhi permintaan warga.

“Awalnya kami menyediakan 800 bagi warga yang ingin membawa pulang bubur, tapi jumlah itu masih kurang. Akhirnya, porsi untuk takjil sebagian ada yang kami bagikan sebelum waktu buka,” terang Ilyas, salah satu takmir masjid, saat ditemui usai pembagian bubur.

Pembagian bubur samin di Masjid Darussalam ini akan berlangsung setiap hari selama bulan puasa. Selain bubur samin, aneka hidangan juga disediakan untuk takjil. Di antaranya kurma, kopi dan susu. (Ajie Najmuddin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser

Pematangsiantar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda Ke-88, GP Ansor Kota Pematanngsiantar menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) selama tiga hari. Pendidikan untuk anggota baru Banser ini dibuka pada Jumat (28/10). Kegiatan ini berlangsung di Balai Diklat Kehutanan Pematangsiantar hingga Ahad (30/10).

Ketua GP Ansor Kota Pematangsiantar Arjuna menyatakan bahwa hari Sumpah Pemuda 28 Oktober merupakan momentum kebangkitan bagi pemuda dalam mengisi pembangunan, khususnya pemuda di Pematangsiantar.

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser

Tampak hadir pada pembukaan Gubernur Sumatera Utara H Tengku Erry Nurady, pengurus GP Ansor Sumut, Walikota Pematangsiantar Jumsadi Damanik, pengurus harian PCNU Kota Pematangsiantar, Fatayat NU Kota Pematangsiantar, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, sejumlah pimpinan SKPD, dan tokoh masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Erry Nurady mengatakan bahwa kaderisasi sangat penting dalam upaya membina mental generasi muda yang berkualitas dan berakhlakul karimah.

Dalam kesempatan itu GP Ansor Kota Pematangsiantar mengukuhkan Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kota Pematangsiantar masa khidmat 2015-2019. GP Ansor Kota Pematangsiantar berkomitmen mendukung gerakan nasional antinarkoba. Mereka mendeklarasikan Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Kota Pematangsiantar masa khidmat 2016-2019.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pendidikan ini ditutup pada Ahad (30/10) dengan menghasilkan puluhan kader Banser. (Fajar Prabowo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock