Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kyai. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Februari 2018

Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dalam pengajian Tafsir Al-Quran di Masjid Al-Aqsa Menara Kudus, Sabtu (25/6), Mustasyar PBNU KH.Syaroni Ahmadi menyinggung sikap manusia yang tidak punya malu, bluboh dan tidak konsisten.

Lalu, Mbah Syaroni memberikan contoh seekor ayam saat bertelur. Ketika telur sudah keluar dari dubur ayam, orang seringkali menyebut itu telur miliknya.

"Saat ditanya, ini telurnya siapa? Biasanya pada menjawab, ini telurku," tutur Mbah Syaroni.?

Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Syaroni Ahmadi: Urusan Ayam Saja, Manusia Sering Tidak Konsisten





Namun, saat ayam mengeluarkan kotoran, setiap orang terlihat tidak konsisten mengakuinya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Ketika ditanya, semua orang pada menjawab ini telek (kotoran) ayam, padahal sama seperti telur yang keluar dari dubur ayam. Harusnya kalau konsisten, orang tersebut bilang iku telek ku," kata Kiai Syaroni, yang langsung? disambut gerr jamaah. (Qomarul Adib/Zunus). Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Pusat IPNU mempersiapkan sejumlah program konkret penanggulangan terorisme di kalangan pelajar pada 2015 mendatang. Mereka akan menyosialisasikan program ini kepada seluruh pengurus wilayah dan cabang se-Indonesia. Mereka akan mengambil 10 provinsi dan 10 kabupaten di Indonesia sebagai model.

IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Rancang Program 2015 Pencegahan Terorisme di Sekolah

“Sasarannya pelajar di sekolah-sekolah umum seluruh Indonesia termasuk juga mereka yang seusia pelajar,” kata Ketua Umum PP IPNU Hairul Anam Haritsah kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Selasa (11/11) sore.

Menurut Anam, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme pada akhir Oktober kemarin mengadakan pertemuan dengan IPNU dan sejumlah organ kepemudaan lainnya. Pihak BNPT meminta IPNU dan lainnya untuk membuat sejumlah program pencegahan terorisme di sekolah-sekolah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kita pada pertemuan itu menyerahkan data-data perkembangan rohis dan sistem pengajarannya se-Indonesia kepada BNPT,” ujar Anam.

Untuk program 2015 mendatang, IPNU antara lain akan melakukan konsolidasi ke sekolah-sekolah. Di sana pihaknya menggelar dialog pengenalan Islam rahmatan lil alamin kepada pelajar dan guru agama selain mendistribusikan buku-buku dengan konten Islam moderat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kita, kata Anam, akan membuka pengajian kitab kuning bagi aktivis rohis. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Keluarga besar SMP Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, bahagia. Sebab, beberapa hari lalu, Fathurrosy, salah seorang siswanya yang mewakili Kabupaten Probolinggo dalam Festival dan Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat Provinsi Jawa Timur, berhasil menjadi juara I dari bidang seni lomba Cipta Puisi.

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)
SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013 (Sumber Gambar : Nu Online)

SMP Nurul Jadid Juara I FLS2N Jatim 2013

Ajang prestisius yang digelar oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, di Surabaya, pada (9-12/5) itu, siswa SMP Nurul Jadid kelas VIII A itu, berhasil menyisihkan para peserta lain dari SMP Negeri/Swasta se-Jawa Timur. Sebelumnya, di bulan yang sama, siswa asal Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo itu, jadi jawara dalam ajang serupa tingkat Kabupaten Probolinggo.

Selanjutnya, Fathurrosy akan mewakili Provinsi Jatim dalam FLS2N di tingkat nasional. Ajang bergengsi nasional itu, akan digelar di Medan, pada Juni 2013, untuk bidang seni yang sama. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Dalam lomba Cipta Puisi tingkat provinsi itu, saya mengambil tema tentang bunga siwalan yang berhubungan dengan budaya dan karakter bangsa. Sementara judulnya adalah Dzikir Siwalan,” ujar siswa yang bercita-cita menjadi guru TIK itu kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Rabu (22/5).

Kepala SMP Nurul Jadid, Faizin Syamwil, M.Pd., mengatakan, keberhasilan yang diukir oleh Fathurrosy itu, merupakan salah satu bentuk kesuksesan pembinaan yang terus dilakukan oleh SMP Nurul Jadid. “Selain ada pembinaan di sekolah. Fathurrosy juga dilatih dan dibimbing oleh Imron, mahasiswa IAI Nurul Jadid. Tiap 2 hari sekali, Fathurrosy mengirimkan hasil karya puisinya kepada saudara Imron itu,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Faizin, di SMP Nurul Jadid, ada pembinaan ekstrakurikuler. Seperti seni islami yang meliputi, drama, teater, baca puisi, dan cipta puisi. Selain itu, ada juga kaligrafi, hadrah, pencak silat, pramuka, jurnalistik, dan khitobah.

“Dan setiap ada informasi perlombaan, kami selalu berpartisipasi. Tujuannya sebagai bahan evaluasi terhadap pembinaan yang sudah kami lakukan. Juga sebagai pembentukan mental dan sebagai daya saing siswa,” ungkapnya.

Dengan adanya siswanya yang berhasil mewakili Provinsi Jatim di tingkat nasional, Faizin berharap, prestasi itu bisa menjadi motivasi bagi siswanya yang lain. “Kami juga berharap ada pembinaan dari Dinas Pendidikan Provinsi Jatim sebagai persiapan ke tingkat nasional nanti,” harapnya.

Redaktur     : A. Khoirul Anam

Kontributor : Syamsul Akbar

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, Kyai, AlaSantri Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 30 Desember 2017

Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan!

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Presiden Joko Widodo secara resmi telah menetapkan tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Ketetapan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015, yang ditandatanganinya pada 15 Oktober 2015. Hari bersejarah itu kini memasuki tahun ketiga dan selalu diperingati dengan semarak di berbagai daerah.

Tanggal 22 Oktober dipilih lantaran pada momen itulah terbit Resolusi Jihad pada tahun 1945 sebagai seruan membela tanah air dari penjajah yang hendak kembali. Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari berfatwa bahwa hukum perang dalam hal ini adalah fardhu ‘ain dan bernilai jihad.

Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan! (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan! (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Tak Perlu Dianakemaskan tapi Jangan Dianaktirikan!

Salah seorang pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah, Asembagus, Situbondo, Jawa Timur, KH Afifuddin Muhajir kehadiran hari santri bisa dimaknai sebagai manifestasi pengakuan yang jujur terhadap péran besar yang dimainkan oleh kaum santri dalam mendirikam Negara Indonesia merdeka dan menjaga keutuhannya.

“Bahkan, sungguh tidak berlebihan bila dikatakan, kelahiran NKRI dibidani oleh para kiai dan santri mereka,” kata katib syuriyah PBNU periode 2010-2015 ini di akun Facebook pribadinya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi, katanya, anak yang dilahirkan tersebut sampai saat ini belum menunaikan kewajiban birrul walidain (berbakti) terhadap orang tua yang melahirkannya, yakni, kaum santri dan pesantren belum mendapatkan hak sebagai mana mestinya dari negara tèrutama menyangkut politik kebijakan dan anggaran.

“Memang, kaum santri dan pesantren tidak perlu dianakemaskan tetapi tidak boleh dianaktirikan. Cukup diperlakukan dengan adil,” katanya. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua I Pengurus Koordinator Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Jawa Timur Hasanudin Tiro menyatakan, arus globalisasi yang ditandai derasnya arus informasi dan teknologi adalah suatu tantangan besar bagi kaum terpelajar dan pergerakan. Generasi muda selain harus mempunyai kematangan pikiran juga harus mempunyai kedalaman spiritualnya

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)
Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual (Sumber Gambar : Nu Online)

Antara Kematangan Pikiran dan Kedalaman Spiritual

Maka pihaknya selaku ketua I PKC PMII Jatim segera menggelar Sekolah Kader Wilayah (SKW). Yang mana SKW ini adalah kaderisasi non-formal tertinggi di tingkat PMII Jawa timur dan merupakan sebuah Pelatihan Integral ke-materi-an, ke-fasilitator-an, kedisiplinan dan keagamaan.

“Sekolah kader wilayah (SKW) adalah pelatihan non-formal PKC PMII Jatim

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebuah pelatihan integral antara pematerian, kedisiplinan dan keagamaan. Globalisasi yang ditandai dengan derasnya  gelombang informasi dan teknologi sudah berkembang sedemikian rupa,” terangnya saat di temui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Kamis (10/1) di kantor PKC PMII Jawa Timur.

Tantangan ini harus kita hadapi dengan mempersiapkan genersi Bangsa yang tidak hanya maju di bidang intelektual tapi juga kematangan jiwa dan kedalaman spiritual,” lanjutnya.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Adapun out put dari Sekolah Kader Wilayah (SKW) adalah lahirnya idiolog-Idiolog handal yang dimiliki oleh pengurus cabang PMII di seluruh jawa timur. Yang kemudian dapat meneruskan kaderisasi di tingkat daerah masing-masing.

“Adapun kegiatan ini out putnya adalah lahirnya ideolog dan tim pelatih inti di masing2 cabang PMII se Jawa Timur,” tuturnya.

Ketika dikonfirmasi lebih lanjut pihaknya saat ini sedang menggodong rencana kegiatan tersebut karena kegiatan ini butuh waktu dan tenaga yang sangat ekstra maka dibutuhkan kekuatan dan fikiran yang cukup. bulan depan tanggal 13 Februari sudah dapat dilaksanakan. 

"Insyaallah 13 Februari 2013 sudah siap semuanya saat ini kita sedang menggodonk rangkain kegiatan tersebut, termasuk input pakar, mempersiapkan ketentuan peserta, dan buku-buku yang harus dibaca oleh calon peserta dalam kegiatan tersebut," pungkasnya. 

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Anang Romli

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Kiai, Kajian Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 26 Desember 2017

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Jakarta menggelar Wisuda III. Kali ini acara wisuda digelar di Gedung Sasono Langen Budoyo, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta Timur. 

“Wisuda bukan berarti proses belajar itu berhenti, ini langkah awal dalam mempertanggungjawabkan keilmuan kita sebagai seorang sarjana di masyarakat,” ujar Ketua STAINU Jakarta, HM Mujib Qulyubi, MH dalam sambutannya di Gedung Sasono Langen Budoyo, TMII, Jakarta, Rabu (7/5).

Sebuah lembaga pendidikan, kata Mujib menyitir Pakar Pendidikan NU, Prof Dr KH M Tolhah Hasan, mengalami tiga transformasi, yang pertama adalah tahap bertahan, kedua yaitu tahap berkembang, dan yang ketiga ialah tahap bersaing. STAINU Jakarta, lanjut Mujib, telah melalui ketiga tahap tersebut dengan baik.  

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)
STAINU Jakarta Gelar Wisuda III (Sumber Gambar : Nu Online)

STAINU Jakarta Gelar Wisuda III

Sementara itu, H Abdul Wahid Hasyim, Wakil Koordinator Kopertais Wilayah I DKI Jakarta menuturkan bahwa STAINU Jakarta telah berkontribusi nyata untuk masyarakat dalam mencetak lulusan-lulusannya. “Oleh karena itu, STAINU Jakarta harus terus membangun sumber daya yang berkualitas, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

Untuk dapat melakukan itu, lanjut Hasyim, STAINU Jakarta juga harus senantiasa meningkatkan kualitas Dosen-dosennya, sebab merekalah pencetak lulusan berkualitas. “Untuk wisudawan dan wisudawati, masyarakat menunggu kiprah kalian, selamat bekerja,” pungkas Hasyim.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Menteri Perumahan Rakyat RI H Djan Faridz dalam kertas sambutan yang dibawakan oleh asistennya Dr Muhammad Dimyati mengingatkan, dalam tahap bersaing ini, STAINU Jakarta dapat menerapkan strategi yang disebut Diamond In Diamond Out (DIDO) yaitu masuknya emas, keluarnya harus berlian. “Artinya, STAINU Jakarta harus membangun dan memperkuat,” ungkapnya.

Pada wisuda kali ini, STAINU Jakarta telah meluluskan sebanyak 222 wisudawan dan wisudawati. Wisuda kali ini juga dihadiri oleh Sekjen PBNU H Marsudi Suhud, Pengasuh Pondok Pesantren Asshidiqiyah Dr KH Nur Muhammas Iskandar SQ, Anggota DPR RI yang juga Dosen STAINU Jakarta, H Djazilul Fawaid, serta orasi ilmiah oleh Direktur Kelembagaan dan Kerjasama Kemendikbud RI Prof Ir H Hermawan Kresno Dipojono, Ph.D. (Fathoni/Mahbib)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Pondok Pesantren, Amalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Oleh Fathoni Ahmad

Ulama dinisbatkan kepada seseorang yang ‘alim, mempunyai ilmu agama yang mumpuni, menebar maslahat untuk masyarakat, perangai yang ramah tetapi tegas terhadap setiap kemunkaran, dan akhlak yang baik. Ulama yang produktif dalam beberapa gerakan dan karya selalu menjadikan masyarakat mempunyai daya.

Dalam sejarah emas peradaban Islam, terbukti banyak ulama yang mampu mempelopori berbagai temuan ilmiah di bidang ilmu pengetahuan selain jago berijtihad dalam membaca? nash. Hal ini membuktikan bahwa kebangkitan ulama telah berjalan sejak ratusan abad lalu sehingga saat ini manusia (tak terkecuali bangsa Barat) bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang banyak diinisiasi oleh para ulama tersebut.

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Istilah kebangkitan ulama sendiri sebetulnya kurang tepat, karena kebangkitan seolah menyimpan makna bahwa para ulama sebelumnya dalam kondisi terpuruk. Namun demikian, kebangkitan di sini mempunyai arti bahwa tidak semua ulama mempunyai jiwa bangkit untuk mengubah tatanan sosial atau kondisi di sekitarnya.

Itulah mengapa para ulama pesantren di Indonesia yang dikomandoi oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memilih istilah Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) untuk organisasinya pada 1926 silam. Namun, dalam sejarahnya, ulama dan NU mempunyai titik awal kebangkitan yang berbeda. Bisa dikatakan, titik awal kebangkitan ulama mewujud dalam perjuangan organisasi bernama NU yang hingga saat ini masih eksis berjuang untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara, bahkan dalam skala global.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Simpul yang bisa ditarik dari perjuangan ulama untuk bangkit mengubah tatanan sosial ialah, mereka berusaha menjaga dan merawat tanah air yang berawal dari lingkup lokal. Kondisi dan tatanan kehidupan sosial yang tidak seimbang dan cenderung negatif menggerakkan para ulama untuk melakukan langkah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu selain kewajiban mereka mengamalkan ilmunya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah Hijaz, Mekkah dan Madinah.

Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Tobagus Muhammad Falah (1842-1972), KH Bisri Syansuri, KH Syamsul Arifin Situbondo, serta ulama-ulama lain di berbagai daerah yang menginisiasi kebangkitan ulama melalui perjuangan mendirikan pesantren di daerah yang terbilang ada dalam kondisi tatanan sosial yang sangat negatif. Begitulah mestinya pijakan awal perjuangan agama, mengubah dari kondisi negatif ke tatanan sosial yang lebih baik dalam bingkai religiusitas komunal, bukan individual.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam sejumlah literatur sejarah, di penghujung abad ke-19, tepatnya pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari bangkit mendirikan ‘tratak’ (bangunan yang belum sempurna) berukuran sekitar 10x10 meter persegi di Kampung Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar 8 kilometer di selatan Kota Jombang. Masyarakat mengenal Tebuireng sebagai daerah yang sangat rawan. Pembunuhan, pencurian, perampokan, dan perkelahian hampir terjadi setiap hari. Aroma anyir tatanan sosial tersebut semakin kuat dengan hadirnya tempat-tempat maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan mabuk-mabukan di setiap sudut kampung.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah KH Hasyim Asy’ari untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh masyarakat kala itu. Perjuangan mendirikan pondok untuk belajar agama Islam secara mendalam setiap hari mendapatkan rintangan yang beberapa kali mengancam jiwa Kiai Hasyim Asy’ri dan santrinya yang saat itu masih bisa dihitung jari. Melihat kondisi tersebut, Kiai Hasyim merasa perlu mempelajari ilmu bela diri, begitu juga dengan para santrinya.

Akhirnya Kiai Hasyim mengutus seorang santrinya pergi ke Cirebon, Jawa Barat untuk meminta bantuan kepada Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Abdul Jamil Buntet, dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai tersebut merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka dikenal ahli dalam ilmu silat dan sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih Kiai Hasyim dan para santrinya.

Ilmu bela diri tersebut terbukti ampuh untuk menghadapi para penjahat yang terus berusaha menggangu aktivitas belajar agama di Pondok Tebuireng. Bahkan, Kiai Hasyim dengan kelembutan akhlaknya mudah saja memberikan pengampunan kepada para penjahat sehingga dengan sendirinya mereka bertobat dan memohon kepada Kiai Hasyim agar dijadikan sebagai muridnya di pondok.

Perjuangan Kiai Hasyim di atas hanya salah satu contoh terhadap banyaknya ulama yang melakukan perjuangan serupa di berbagai daerah meski dalam kondisi masih terjajah oleh Belanda saat itu. Di Jombang sendiri, Kiai Hasyim mampu merangsang tumbuh dan berkembanngnya pondok pesantren di beberapa kampung seperti Denanyar, Sambong, Sukopuro, Paculgowang, Watugaluh, Nggayam, Suwaru, Tegalsari, Banjarsari, Mojodadi, Balonggading, Pojokkulon, Semelo, Dukuhsari, dan Seblak. (Choirul Anam, 1985)

Perjuangan serupa dilakukan oleh ulama asal Banten KH Tobagus Muhammad Falak yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Falak pada 1907 di Kampung Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, Kota Bogor. Kemudian KH Bisri Syansuri yang mendirikan Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif di Denanyar pada 1917, KH Syamsul Arifin Situbondo ayah KH Raden As’ad Syamsul Arifin yang mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Situbondo pada tahun 1910-an.

Ke semua perjuangan ulama tersebut tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.

Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Gelora cinta tanah air ini tidak hanya membakar semangat perjuangan para santri dan umat Islam, tetapi juga para tokoh pergerakan nasional lintas etnis dan agama untuk bersama-sama berjuang mengusir penjajah agar meraih kemerdekaan lahir dan batin. Maka, cinta tanah air menjdi kunci perjuangan seluruh bangsa Indonesia yang saat ini disatukan dengan prinsip agung Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Mari kita jaga!

Penulis mengajar di Fakultas Agama Islam UNU Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Sholawat, Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock