Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahtsul Masail. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 24 Februari 2018

Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan

Pati, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Dewan Pembina Yayasan Nurussalam Dr KH A. Sahal Mahfudh yang juga Rais Aam PBNU mahasiswa atau santri yang telah lulus dari lembaga pendidikan agar mampu menjadi tauladan bagi masyarakat.

Kiai Sahal menyampaikan hal itu dalam acara wisudah pertama Sekolah Tingga Agama Islam Mathaliul Falah (STAIMAFA) Kajen-Pati, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan

Dalam kesempatan itu, Kiai Sahal juga menekankan pentingnya rasa syukur. “Syukur tidak hanya sekedar mengucap kata hamdalah, tetapi lebih dari itu. Yaitu pada bagaimana kita bersyukur kepada Allah, juga bagaimana kita meningkatkan kinerja diri,” tegasnya di depan 65 wisudawan-wisudawati dan wali murid serta tamu undangan. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia berpesan agar keberhasilan dalam menyelesaikan studi tidak lantas menimbulkan rasa bangga, karena amanat dan tanggung jawab yang dibawa tidaklah mudah. 

Acara yang bertempat di aula kampus itu juga dihadiri oleh Bupati Pati Haryanto, Kepala Kantor Kementerian Agama Pati Drs H. Ahmad Mudzakir MSi,  Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah dan rektor IAIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Muhibbin M. Ag.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan itu, Ketua STAIMAFA, H. Abdul Ghaffar Razien, M.Ed, mengatakan dirinya sangat bersyukur atas kerja keras seluruh dosen dan mahasiswa di kampus itu, hingga pada prosesi wisuda. 

Ia juga mengatakan bahwa wisuda kali ini menjadi tonggak sejarah mencetak mahasiswa-santri yang memiliki kontribusi dalam pengembangan masyarakat. 

“Prosesi wisuda ini merupakan tonggak sejarah (milestone) bagi lembaga STAIAMAFA, agar dalam perkembangan berikutnya dalam mengabdi kepada masyarakat dengan sistem perguruan tinggi riset berbasis nilai-nilai pesantren,” ungkapnya. Razien juga mengharapkan agar mahasiswa tidak berhenti berproses setelah wisuda, namun terus belajar dan mengabdi dengan karakter mahasiswa yang memperjuangkan nilai-nilai moral berbasis pesantren.  

Sementara itu, dalam pidato laporan akademik oleh Wakhrodli M.Si (Pembantu Ketua STAIMAFA), menjelaskan bahwa wisuda perdana ini terdiri dari 16 mahasiswa prodi PMI (Perkembangan Masyarakat Islam), 24 Mahasiswa prodi PBA (Pendidikan Bahasa Arab) dan 25 mahasiswa prodi PS (Perbankan Syari’ah). Dari 65 peserta, 23% meraih peringkat mumtaz atau istemewa, dengan IPK tertinggi 3,79.

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Munawir Aziz

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 20 Februari 2018

KH Asyhari Abta: 2014, NU Seperti Gadis Cantik

Sleman, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Menjelang tahun 2014, warga NU menjadi seperti gadis-gadis cantik yang akan dipinang seorang pria. Kalau ingin berhasil, maka meminangnya dan maharnya harus baik.

Demikian perumpamaan menarik yang disampaikan oleh KH Asyhari Abta, Rais Syuriah PWNU DIY, dalam sambutannya pada acara Syawalan dan Pamitan Calon Jama’ah Haji Pengurus Wilayah Nahdhatul Ulama (PWNU) DI Yogyakarta, Sabtu (31/08), di Halaman Gedung SDNU, Jl. Ringroad Barat, Nogotirto, Gamping, Sleman.

Perumpamaan yang disampaikan tersebut memiliki pesan akan pentingnya bagi warga NU untuk tetap bersikap netral terhadap semua partai politik, menjelang Pemilu tahun 2014 nanti. Karena warga NU dapat dipastikan akan ‘dipinang’ oleh berbagai partai politik.

KH Asyhari Abta: 2014, NU Seperti Gadis Cantik (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Asyhari Abta: 2014, NU Seperti Gadis Cantik (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Asyhari Abta: 2014, NU Seperti Gadis Cantik

“Kita mendukung politik kebangsaan, bukan kepentingan. Kita harus bersikap netral dan sama terhadap semua partai politik. Warga NU juga jangan sampai memakai label NU untuk kepentingan seseorang,” himbaunya dihadapan warga NU Yogyakarta pagi menjelang siang itu.

KH Asyhari Abta menambahkan, bahwa tidak ada kebenaran muthlak di dalam dunia politik. Ia juga menekankan akan pentingnya “Akhlaqul Karimah” dalam Pemilu nanti.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Sikap NU harus diperjelas lagi, jangan sampai NU jadi tunggangan, atau kendaraan bagi politik. Siapapun yang ingin memanfaatkan warga NU, harus dengan akhlaqul karimah,” tandasnya.

Acara yang berlangsung pagi hingga siang tersebut dimeriahkan oleh Group Rebana SDNU Nogotirto, Gamping, Sleman, Yogyakarta, serta dihadiri pula oleh Al-Habib KH Said Agil Husin Al-Munawar sebagai Pembicara, PBNU, Perwakilan Gubernur DIY, segenap warga Nahdliyin Se-Yogyakarta, Calon Jama’ah Haji NU Yogyakarta, PCNU, IPNU-IPPNU, serta para wali murid SDNU. (Dwi Khoirotun Nisa’/Anam)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Cerita, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kamis Pagi (16/3) sekitar pukul 06.15 WIB Ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Hasyim Muzadi berpulang ke Rahmatullah. Kiai Hasyim Muzadi, Ketua PBNU periode 1999-2009 dipanggil Allah SWT setelah beberapa kali dirawat dirumah sakit pada usia 72 tahun.

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pendiri International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini merupakan Ulama yang kiprahnya sudah mendunia. Keuletan dan komitmennya dalam menyebarkan Islam rahmatan lil alamin sudah diakui oleh dunia.

Kesan inilah yang dirasakan oleh Ketua MUI Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid ? pernah mendampingi lawatan Kiai Hasyim ke luar negeri dalam rangka syiar Islam.

"Saya tidak hanya kenal, bahkan memiliki hubungan dekat. Saya pernah diberi kesempatan untuk mendampingi beliau ke Negeri China selama 8 hari pada 4-12 Juni 2007 untuk melakukan muhibbah, dan menyebarkan paham Islam rahmatan lil alamin pada komunitas muslim di negri tirai bambu itu," kata Kiai Khairuddin yang saat itu menjadi Ketua PWNU Provinsi Lampung periode 2002-2007.

Menurutnya, Kiyai Hasyim Muzadi adalah sosok yang populer dan populis. Ia adalah seorang agamawan dan sekaligus negarawan. "Wawasan beliau sangat luas, tidak hanya dalam bidang agama, tetapi juga sangat mendalam pengatahuannya tentang politik, hukum, budaya dan sejarah," tegasnya, Kamis siang (16/3).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain sebagai seorang ulama kharismatik tambahnya, Kiyai Hasyim juga merupakan seorang kiai yang sangat jenaka. "Saya ingat betul kumpulan kejenakaan beliau dirangkum dalam sebuah buku," jelas Kiai Khairuddin yang juga memiliki selera humor yang tinggi ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemikiran Kiai Hasyim menurutnya sangat orisinil dan visioner jauh kedepan. "Sering beliau mengatakan, orang zaman dulu itu, kalau ngomong sesuatu yang berat, yang rumit, bisa dibicarakan dengan cara yang mudah. Sementara orang zaman sekarang, ngomong hal mudah, tapi dibicarakan dengan cara yang sulit dan ruwet. Menurut mereka semakin rumit ngomongnya semakin ilmiah," kata Kiai Khairuddin diiringi senyum khasnya.

Kiai Khairuddin berharap ummat Islam khususnya warga NU mampu meneladani kiprah dan kepribadiannya. "Kami warga NU bangga punya tokoh panutan seperti beliau. Kami sangat terkesan dengan kesantunan dan kearifan beliau. Kami butuh tokoh seperti beliau. Selamat jalan Pak Kiai Hasyim, semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia, amin," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Habib, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Jepara, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara yang mengabdi di Desa Geneng Batealit bekerja sama dengan Badan Pengurus Cabang Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPC Hipmi) Kabupaten Jepara mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk.

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa Unisnu Latih Pelaku Usaha Kembangkan Bisnis

Pelatihan yang dilaksanakan di Balai Desa Geneng, Jepara, Jawa Tengah, Selasa (9/2) itu diikuti 30 peserta yang merupakan pelaku usaha kecil se-Desa Geneng, di antaranya usaha batik tulis Jepara, sirup Jahe, kerajinan aksesori, meubel, catering, dan lainnya.

Lukman Ihsanuddin, koordinator desa kegiatan tersebut mengatakan, pelatihan pengembangan dan pemasaran produk merupakan progam KKN Unisnu Desa Geneng. Tujuannya untuk mengenalkan potensi daerah, seperti batik tulis Jepara, boga, dan kerajinan aksesori kepada masyarakat Jepara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kegiatan ini kami sesuaikan dengan tema KKN Unisnu 2016, yaitu ‘Pemberdayaan Masyarakat melalui Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Penguatan Keagamaan’. Dan kami mengajak kerja sama dengan BPC Hipmi Jepara, karena organisasi tersebut memiliki jaringan bisnis yang luas," tambah mahasiswa Fakultas Dakwah dan Komunikasi ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Umun BPC Hipmi Kabupaten Jepara Syamsul Anwar mengatakan, pihaknya memang merasa bertugas untuk menularkan semangat dan pengalaman dalam berwirausaha untuk mengembangkan dunia usaha di Kabupaten Jepara.

"Kami tidak hanya memikirkan pekerjaan dalam bisnis usaha yang kami jalani, tapi juga memikirkan bagaimana agar dunia usaha yang sudah ada bisa berkembang menjadi lebih baik lagi, dan kami mendampingi pada pelaku usaha agar bisa mengakses pasar sehingga produk-produk lokal bisa ekspor," kata Syamsul.

Ia juga menambahkan, batik tulis Jepara perlu diperjuangkan seperti halnya kain tenun Troso yang awal-awal juga membutuhkaan perjuangan bersama, dan hasilnya sekarang tenun Troso menjadi andalan bagi Jepara, dan tidak menutup kemungkinan batik tulis Jepara juga akan seperti tenun Troso.

Dwi Bambang Hermawan, petinggi Desa Geneng menyampaikan terima kasih kepada Tim KKN Unisnu dan Hipmi Jepara yang telah mengadakan pelatihan pengembangan dan pemasaran produk bagi warga Desa Geneng.

"Ini juga ikut membantu progam Pemerintah desa Geneng dalam meminimalisir pengangguran, sehingga menciptakan penghasilan bagi warga kami. Dan pengembangan dalam dunia usaha perlunya menekankan pada produk dengan selalu kreatif dan inovatif," tambah pria berumur 33 tahun ini.

Pelatihan yang dimoderatori Miswan Anshori, Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, memberikan pengantar pentingnya strategi dalam mengembangkan dan memasarkan usaha dalam dunia bisnis, salah satunya yaitu dengan fokus pada usaha.

"Menjadi pengusaha jangan cepat menyerah, dan jadikan kegagalan sebagai cambuk untuk bangkit menjadi lebih baik," kata Muhammad Habli Mubarok, narasumber dalam pelatihan tersebut.

Ia memberikan strategi pada peserta pelatihan dalam pengembangan usaha, yaitu harus fokus dalam masa depan usaha, fokus kesempatan dengan 80 persen peluang, dan 20 persen problem. Sukses apa yang ada dan buatlah itu semua menjadi sebuah kejadian nyata.

Peserta tampak sangat antusias dalam mengikuti pelatihan tersebut, terlihat dari beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan pada sesi tanya jawab. Ibu April, salah satu pembatik Desa Geneng, menanyakan bagaimana membangun mental dalam berwirausaha.

Lain halnya yang ditanyakan Faridatun, Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Geneng yang memproduksi sirup jahe. Ia menanyakan tentang kiat bersaing dalam memasarkan produk. Adapun yang ditanyakan oleh Siti Rofiatun pengrajin aksesoris, sudah beberapa kali memasarkan produknya, tapi terkadang masih belum bisa memasarkan secara luas.

"Membangun mental wirausaha harus berani, karena dunia usaha kadang juga ada untung dan ruginya. Memasarkan produk agar bisa bersaing perlunya dibuat yang menarik kemasannya, bagaimana izin administrasinya dan tentunya label. Lakukan promosi terus menerus, sehingga produk tersebut menjadi dikenal banyak orang," jawab Mubarok.

"Hipmi merupakan mitra dari Pemerintah Kabupaten Jepara untuk membangun dan mencarikan solusi atas apa yang menjadi masalah bagi pelaku usaha," tambah Syamsul saat memberikan kesimpulan dalam pelatihan tersebut. (Muhammad Miqdad Syaroni/Mahbib)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Daerah, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016, Rabu (25/3). Pekan Pendidikan dilaksanakan di Sport Center UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dengan di hadiri 1200-an pelajar dan mahasiswa se-Jawa Timur.

IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016

Pekan Pendidikan di konsep dengan dialog publik dan deklarasi pelajar tertib berlalu lintas oleh Dishub Jawa Timur. ? Acara dibuka oleh Rektor UINSA H Abdul A’la. Kemudian dilanjutkan dialog publik yang dipandu moderator Suko Widodo (Unair). Turut hadir juga beberapa akademisi, antara lain KH Ali Maschan Moesa, Murtadlo, Mudjito, Zainuddin Maliki.

Haikal Atiq Zamzami, Ketua IPNU Jatim menuturkan, IPNU siap menjadi pelopor tertib berlalu lintas. “Kami ini setiap tahun selalu melakukan sosialisasi. Selalu melibatkan berbagai pihak di 38 kabupaten kota di Jawa Timur. Pembinaan kepada masyarakat, termasuk para pelajar, petugas perlintasan kereta api dan sebagainya. Dengan IPNU ini kami lakukan, karena anggota IPNU sangat banyak dan tersebar di semua daerah di Jawa Timur. Mereka bisa menjadi pelopor tertib lalu lintas,” jelasnya.

Karena menurutnya, ini adalah sebuah tanggung jawab dan isu penting juga buat pelajar. “Di setiap cabang IPNU itu, anggota kita bisa mencapai 500 hingga 1.000 pelajar. Sudah sangat efektif jika kami dilibatkan dalam program ini,” ? tandasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi menegaskan bahwa 81 persen dari 57 kecelakaan lalu lintas yang terjadi setiap hari di Jatim itu melibatkan pemuda dan pelajar.

"Dari 57 kecelakaan lalu lintas perhari itu pun tercatat 15 korban tewas, sehingga setahun bisa mencapai 5.475 korban tewas di jalanan Jatim," katanya saat berbicara dalam Pekan Pendidikan IPNU Jatim.

Di hadapan 1.200-an peserta seminar dan deklarasi dari kalangan pelajar, santri, dan mahasiswa di lingkungan IPNU Jatim, ia menilai pendidikan memiliki arti penting, terutama pendidikan tentang tertib berlalu lintas.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Pendidikan tertib berlalu lintas itu antara lain bagaimana memahami rambu-rambu di jalanan dan menghargai jalanan sebagai milik publik untuk saling menghormati sesama pengguna jalan," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mengapresiasi PW IPNU Jatim yang menggelar sosialisasi dan deklarasi pelajar pelopor tertib berlalu lintas dalam rangkaian Pekan Pendidikan Jatim 2016 yang dirangkai dengan dialog publik, stand up comedy edukasi dan penyerahan hadiah lomba foto selfie tentang pendidikan. (Taufik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

7 Veteran Hizbullah Dapat Talih Asih LAZIS NU

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Berbagai cara dilakukan memperingati hari pahlawan yang jatuh pada 10 November, salah satunya adalah pemberian talih asih kepada para pejuang perang kemerdekaan. Hal itu dilakukan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh NU, (10/11) di Makodim 0814 Jombang.

Sebanyak 7 veteran laskar Hizbullah mendapatkan santunan dari LAZIS NU Jombang bersama puluhan veteran TNI yang ikut berjuang kemerdekaan.?

7 Veteran Hizbullah Dapat Talih Asih LAZIS NU (Sumber Gambar : Nu Online)
7 Veteran Hizbullah Dapat Talih Asih LAZIS NU (Sumber Gambar : Nu Online)

7 Veteran Hizbullah Dapat Talih Asih LAZIS NU

"Ini sebagai bentuk kepedulian kita LAZIS NU kepada para pejuang kemerdekaan, karena atas jasa beliau-beliaulah negara kita bisa seperti sekarang ini," ujar H Maulana Syahiduzzaman Ketua LAZIS NU Jombang mengatakan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebagai generasi penerus, kaum muda harus terus berjuang untuk negara, karena Fatwa Resulusi Jihad KH Hasyim Asyari yang menjadi penggerak semangat perjuangan melawan penjajah hingga kini belum pernah dicabut.

"Kita harus terus berjuang mempertahankan NKRI, kedaulatan dalam segala bidang keumatan keindonesian dan semua perjuangan ini ranah hukumnya masih fardlu ain," tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Para veteran yang mendapatkan tali asih atau santunan ini, dikatakannya terdiri dari ? veteran laskar Hizbullah dan TNI ada sebanyak 35 veteran yang mendapatkan tali asih. Dari lasakar Hizbullah ada sebanyak 7 orang, dan yang paling banyak adalah veteran TNI. Setiap veteran mendapatkan santunan sebesar Rp250 ribu.

Sebelum pemberian santuanan, juga dibacakan tahlil dan doa bagi para pejuang kemerdekaan yang telah gugur di medan perang. Kemudian dilanjutkan testimoni para veteran saat ikut berjuang mengusir penjajah.?

"Kita serahkan dan patuh terhadap kiai, kiai meminta kita berjihad membela negara kita siap dan berangkat hanya menggunakan senjata bambu runcing," ujar Mbah Wahab (89) salah satu pejuang Hizbullah asal Megaluh Jombang dalam testimoninya.

Para santri, lanjut Mbah Wahab sebelum berangkat terlebih dahulu mendapat "gemblegan" oleh 7 kiai sepuh. Mereka dilatih perang dan juga mendapatkan ilmu kekebalan.

"Tidak ada rasa takut sama sekali, kita berperang lebih banyak malam hari, karena senjatanya hanya bambu runcing," imbuh Banser tertua di Jombang ini.

Para veteran yang mendapatkan santunan tidak hanya dari kaum laki laki, dua veteran perang perempuan juga mendapatkan santunan.

"Dulu saya pertamakali membantu memasak, kemudian tergabung di PMI kesehatan. Saat perang di Sumobito kita terdesak, pasukan mundur ke hutan, dan hanya makan paci atau buah mengkudu," tutur Tuminah nenek asal Carangrejo Kesamben.

Hadir dalam silaturrahmi dan pemeberian tali asih bagi veteran Hizbullah dan TNI ini diantaranya, Ketua PCNU Jombang KH Isrofil Amar, KH Masduqi Abdurrahman Al Hafidz, dan perwakilan Badan Otonom NU. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Pati, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Suara hentakan kaki puluhan pemuda ramai pada Jumat (25/3) sekitar pukul lima pagi selepas sembahyang subuh berjamaah. Dengan penuh semangat mereka melakukan senam pinguin sebelum mengawali aktivitas mereka hari itu.

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Ansor Wedarijaksa Segarkan Peserta Kaderisasi

Begitulah cara Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, menyegarkan para peserta pendidikan dan latihan (diklat) atau kaderisasi di kecamatan setempat. Puluhan pemuda tersebut adalah calon anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) X-7 Pati

Menurut Ketua PAC GP Ansor Wedarijaksa Ahmad Halimi, olahraga ini cocok untuk menjaga kesehatan tubuh dan jiwa peserta diklat agar selalu fit dalam setiap kegiatan. “Badan akan terasa enteng setelah melakukan senam pagi,” tuturnya. Dia juga menambahkan kalau peserta diklat akan menjadi fokus disetiap kegiatan setelah melakukan beberapa gerakan-gerakan senam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Setelah senam peserta lantas berjalan kaki memutari keindahan alam Desa Tluwuk, Wedarijaksa, Pati. Kegiatan ini memberikan dampak positif bagi peserta diklat dan juga warga sekitar. Di sela perjalanan peserta diklat diwajibkan membawa kantong plastik yang digunakan untuk menyisir sampah di jalan yang mereka lalui.

“Peserta memang harus mempunyai tubuh yang fit karena banyaknya kegiatan yang nanti dilakukan” ungkap Instruktur diklat Ahmad Thohir. Tubuh yang sehat akan menumbuhkan jiwa yang kuat, jiwa yang kuat akan membuat otak bekerja dengan maksimal. Dengan siklus yang seperti itu, peserta harus menjaga tubuh dan pikiran sebaik mungkin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Peserta diklat mencapai 93 orang dari target peserta 70 orang. “Kebanyakan memang berasal dari kecamatan Wedarijaksa, tapi tidak sedikit yang berasal dari luar wilayah Wedarijaksa,” ucap ketua panitia, Ahmad Halimi.? “Peserta diklat memang sengaja kami batasi, karena terbatasnya tempat” imbuhnya.

PAC GP Ansor Wedarijaksa mengadakan diklat tidak hanya karena perintah dari PC GP Ansor Kabupaten tetapi dari ranting yang memang mengusulkan untuk segera mengadakan pengaderan Banser. (Hasannudin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kiai, Doa, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

STAIMAFA Resmikan Pusat Fatwa Bank Syariah

Pati, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. KH. Abdul Ghaffar Rozien, M. Ed (Gus Rozin) selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Mathali’ul Falah (STAIMAFA) meresmikan Pusat Fatwa Bank Syariah, The Center of Shariah Banking Fatwa (CSiF), Rabu, (14/1) ditandai dengan pmotongan tumpeng di depan puluhan undangan yang hadir. Selaku Direktur Pusat, STAIMAFA menunjuk Dr. Jamal Mamur Asmani, MA.?

Menurut Jamal, lembaga syariah menjadi kebutuhan yang tidak bisa lepas dari kehidupan masyarakat muslim, mulai dari lembaga keuangan, hotel, kolam renang dan bidang usaha lainnya yang memiliki label syariah.

STAIMAFA Resmikan Pusat Fatwa Bank Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)
STAIMAFA Resmikan Pusat Fatwa Bank Syariah (Sumber Gambar : Nu Online)

STAIMAFA Resmikan Pusat Fatwa Bank Syariah

“Ini menjadi keharusan pemikir muslim untuk mengontekstualisasikan dan mentransformasikan fiqh muamalah di zaman sekarang,” ujarnya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kelahiran The Center of Shariah Banking Fatwa (CSiF), kata Jamal, berawal dari kunjungan studi banding mahasiswa Perbankan Syariah ke Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia (DNS-MUI) dua tahun yang lalu.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kemudian, lanjutnya, lahir gagasan untuk membuat lembaga yang menjadi partner DSN-MUI sebagai pemberi masukan saran dan kritik. Selain itu, tambah Jamal, untuk mengurangi jarak antara perbankan konvensional dan syariah dengan fatwa yang dikeluarkan oleh MUI.?

“Sebagian fatwa yang dikeluarkan oleh DNS-MUI kadang tidak membumi (tidak menyentuh masyarakat), sebab itu lembaga ini ingin mengusulkan metode fatwa baru yang dapat diterima oleh praktisi lembaga keuangan," ungkapnya.?

Wilayah kerja CSIF ini, ucap Jamal, juga akan mempelajari metode fatwa yang dikeluarkan oleh DNS-MUI untuk ikut menyosialisasikan fatwa kepada pihak-pihak terkait dan mengadakan pelatihan-pelatihan untuk memperkuat kelembagaan CSiF.?

Selain CSiF, STAIMAFA juga memiliki Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M), Pusat Bahasa Mathali’ul Falah (Pushami), Fiqh Sosial Institute (FISI) dan The North Cost Center (NCC).?

Setelah peresmian dilanjutkan dengan seminar bertema Menggagas Pembaharuan Metodologi Fatwa Perbankan Syariah dengan narasumber Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA, Muhammad Niam Sutaman, LLM dan KH. Shalahuddin al-Ayyubi, M.Si (Katib Syuriyah PBNU). (M. Zulfa/Fathoni)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kiai, Bahtsul Masail, Anti Hoax Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Habib Muhammad Luthfy bin Ali bin Hasyim bin Yahya ditetapkan kembali menjadi Rais Aam Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (Jatman) periode 2012 - 2016. Sementara Mudir Aam dipercayakan kepada KH Abdul Muthi Nurhadi yang sebelumnya menjabat sebagai Mudir Idaroh Wustho Jatman Propinsi Jawa Timur.

Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)
Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah (Sumber Gambar : Nu Online)

Habib Luthfy Kembali Pimpin Jamiyyah Thariqah

Keputusan penetapan pasangan Habib Luthfy dan KH Muthi dilakukan melalui sidang Komisi Majelis Ifta yang berlangsung Jumat (13/1) tadi malam, yang dipimpin langsung oleh Habib Luthfy bersama anggota majelis ifta yang diwakili dari unsur Idaroh Aliyah dan Rais Idaroh Wustho yang diambil dari unsur perwakilan Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

Sedangkan Posisi Katib Aam, Sekretaris Jendral dan Bendahara Umum masih dijabat pengurus lama yakni KH. Zaini Mawardi, KH. Mohammad Masroni dan Ir. Bambang Iriyanto.   

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

KH Mohammad Masroni kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal mengatakan, hasil sidang majelis ifta baru menghasilkan sebagian kepungurusan idaroh aliyah Jatman, sedangkan kelengkapan kepengurusannya baru akan dibahas pada pertemuan lanjutan tanggal 2 Pebruari 2012 di Pekalongan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebagaimana dalam tata tertib Muktamar XI Jatman pasal 19 bahwa pengangkatan Rais Aam diserahkan kepada Majelis Ifta sedangkan untuk Mudir Aam dipilih oleh Rais Aam atas pertimbangan Majelis Ifta setelah diajukan oleh peserta muktamar.

Hal ini sangat berbeda pada Muktamar NU yang selama ini berlangsung, dimana proses penetapan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU melalui pemilihan langsung oleh peserta muktamar dan kelengkapan pengurus dilakukan melalui rapat tim formatur.

Acara penutupan Muktamar XI Jatman akan dilakukan hari ini, Sabtu (14/1) pagi, oleh Menteri Koordinator (Menko) Perekonomian Hatta Rajasa yang didahului dengan ceramah dan deklarasi Mahasiswa Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah (MATAN) dan pengumuman hasil sidang Majelis Ifta tentang susunan kepengurusan Idaroh Aliyah Jamiyyah Ahlit Thariqah Al Mutabarah An Nahdliyyah periode 2012 - 2017 hasil Muktamar XI Jatman yang berlangsung di Pesantren Al Munawariyah Bululawang Kabupaten Malang Jawa Timur.

Redaktur     : A.Khoirul Anam

Kontributor : Abdul Muis

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pendidikan, Warta, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Menjadi Modern dengan Islam

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal
Islam juga memiliki nilai-nilai modernitas, walaupun tidak seperti di Barat. Menjadi modern berarti hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki. Jadi yang diperlukan adalah konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Prof. Tariq Ramadhan dalam acara Dialog Islam Barat, Pengalaman Seorang Muslim Eropa” di Perpustakaan Nasional (13/07)

Tariq Ramadhan yang merupakan cucu pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan al Banna menjelaskan bahwa Modernitas berbeda dengan modernisme karena modernisme mengarah pada sikap ekstrim. Secara umum nilai modernitas Barat meliputi Individualisme, Rasionalisme, Kebebasan, Kemajuan, dan Demokrasi.

Islam juga memiliki nilai-nilai tersebut akan tetapi terdapat perbedaan didalamnya. Dalam  Islam tanggung jawab lebih dahulu daripada hak, individu memiliki sikap kolektif dalam bentuk umat yang berarti menghormati orang lain. Tariq berkata “Hak pertama terdapat pada Allah dan justru karena itu, kita menghargai orang lain. Prinsip individualitas juga diakui bahwa kita pada akhirnya kita menghadap Allah sendiri-sendiri.”

Islam juga mengenal prinsip rasionalitas, akan tetapi rasionalitas dalam Islam dibatasi oleh wahyu “Ayat Iqra menunjukkan bahwa kita harus belajar dan hal ini bersifat rasional akan tetapi rasionalitas dalam Islam dibatasi oleh wahyu, sedangkan di Barat akal memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan segalanya” ungkap Tariq.

Islam juga memiliki nilai-nilai kebebasan, akan tetapi kebebasan menurut ajaran Islam adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan dalam Islam berarti menghormati orang lain dan tidak merusak kolektifisme “Bahwa kebebasan tersebut tidak mengganggu hak orang lain,” ungkapnya.

Prinsip kemajuan juga dihargai dalam Islam. Ijtihad merupakan salah satu perwujudan dari prinsip keterbukaan terhadap hal-hal yang bersifat baru, akan tetapi proses ijtihad tersebut juga didasari rambu-rambu dan nilai-nilai yang terkandung dalam Qur’an dan Hadist. “Kemajuan tercermin dalam bentuk ijtihad, namun demikian tetap dalam bingkai aturan tertentu dalam al Qur’an dan sunah sedangkan bagi Barat terbuka semuanya.”

Prinsip demokrasi berupa kebebasan untuk menentukan pilihan juga dijunjung tinggi dalam Islam, dengan menghargai orang lain, mematuhi hukum dll. “Akan tetapi unsur ini tidak secara langsung dinyatakan dalam Al Qur’an sehingga harus disesuaikan dengan budaya lokal masing-masing daerah, bahkan ada bentuk demokrasi yang menamakannya syurokrasi,” tambahnya

Tariq Ramadhan juga menjelaskan bahwa sekularisme tidak mesti bertentangan dengan Islam, terbukti dengan adanya pembagian urusan ibadah dan muamalah, dimana urusan ibadah adalah hubungan langsung dengan Allah sedangkan muamalah adalah hubungan antar manusia.

Harus diakui bahwa saat ini Barat memiliki kebudayaan yang lebih maju daripada dunia Timur dan hal ini menimbulkan sikap-sikap yang harus dihindari yang meliputi Pertama, merasa didominasi yang akan menimbulkan sikap lain, yaitu bahwa pihak-pihak yang bukan Islam ditolak, yaitu bersifat ekslusif terhadap pihak lain dan kedua adalah kekaguman total terhadap nilai-nilai Barat sehingga menelan mentah-mentah apa yang datang dari sana.

Hal lain yang juga harus dihindari adalah merasa menjadi korban yang tidak bisa berbuat apa-apa yang menimbulkan sikap pasrah terhadap nasib yang diterima dengan bersikap pasif. “Untuk itu harus ditanamkan sikap inklusif dengan mengambil yang baik-baik dan menerima perbedaan yang ada dengan melakukan dialog “Tidak semua yang datang dari Barat, Arab, maupun Indonesia merupakan hal yang baik, jadi harus dipilih,” ungkapnya.

Sikap lain yang juga harus dihindari adalah bersikap paranoid bahwa kebobrokan yang kita alami adalah diakibatkan oleh orang lain, bahwa pihak lain selalu mengancam keberadaan kita dan hal ini tidak membuat kita melakukan introspeksi.

“Jadi yang penting adalah kembali ke prinsip universal Islam dimana Allah menciptakan makhluk bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan memahami.” Ungkapnya.

Prinsip-prinsip tersebut merupakan sebuah nilai yang universal sedangkan model disesuaikan dengan kultur dan sejarah masing-masing. “karena sesuatu yang dating dari Barat atau Arab cocok untuk diterapkan di daerah lain,” ungkapnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Santri, Pahlawan, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menjadi Modern dengan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Modern dengan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Modern dengan Islam

Rabu, 20 Desember 2017

Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?



Muslimat Nahdlatul Ulama akan menggelar kongres ke-XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta pada tanggal 23 sampai 27 November. Hajatan bertema Dengan semangat Islam Nusantara, kita wujudkan Indonesia damai sejahtera tersebut akan diikuti sekitar tiga ribu peserta dari tingkat pusat, wilayah, dan cabang.?

Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar Kongres Bulan Ini, Muslimat NU Sowan PBNU

Pimpinan Pusat Muslimat NU yang dipimpin Ketua Umum Khofifah Indar Parawansa menyampaikan hajatan lima tahunan tersebut kepada Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj dan ? Katib Aam Syuriyah PBNU KH Yahya C Staquf di PBNU, Jakarta pada Jumat (11/11). ?

Menurut Khofifah rencananya kegiatan tersebut akan dimulai dengan registrasi peserta, ta’aruf, kemudian dibuka Wakil Presiden Jusuf Kalla. Pembukaan kemungkinan diubah di tengah kongres karena Wapres ada agenda ke luar negeri. ?

Menteri Sosial RI tersebut menambahkan, kegiatan tersebut akan diwarnai dengan penyampaian materi dengan narasumber beberapa orang menteri. Serta arahan-arahan dari PBNU.?

Pertemuan lebih dari sejam tersebut disambut kesediaan Kiai Said menghadiri kegiatan tersebut. Ia bersedia datang di pembukaan ataupun di penutupan.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain Khofifah, pada kesempatan tersebut hadir pengurus lain yaitu Sekretaris Umum Aniroh Slamet, Bendahara Umum Erna Yulia Sofihara, Ketua Mahfudhoh Ali Ubayd, Ketua Nurhayati Said Aqil, Wakil Sekretaris Nurifah, Ketua Induk Koperasi An-nisa (Inkopan) Ana Muawanah, dan Ketua Sri Mulyati. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Santri, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

PBNU Lantik Pengurus Baru Lembaga dan Banom NU Sulsel

Sulawesi Selatan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj yang disapa Kang Said melantik pengurus baru lembaga, lajnah, dan badan otonom NU Sulawesi Selatan. Pelantikan digelar di Gedung Graha Pena lantai empat, Sabtu (31/8).

Pelantikan pengurus baru lajnah, lembaga, dan banom NU digelar Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sulawesi Selatan bersamaan dengan acara halal bihalal dan silaturahmi pengurus NU Sulsel.

PBNU Lantik Pengurus Baru Lembaga dan Banom NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Lantik Pengurus Baru Lembaga dan Banom NU Sulsel (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Lantik Pengurus Baru Lembaga dan Banom NU Sulsel

Dalam pelantikan, KH Said Aqil Siroj mengimbau kepada pengurus baru untuk berkhidmat semaksimal mungkin. Pengurus baru diharapkan mendahulukan kepentingan umat dalam segala hal.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Pengurus harus ikhlas bekerja yang terbaik tanpa gaji,” kata Kang Said.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kang Said mengimbau pengurus NU agar mewaspadai gerakan dan ajaran-ajaran garis keras yang disebarkan dengan pelbagai media. Ia mendorong pengurus NU Sulsel untuk membuat gerakan-gerakan positif dalam membentengi paham Aswaja NU.?

Pelantikan dan halal bihalal ini juga dihadiri oleh ulama sepuh dari pelbagai pesantren di Sulawesi Selatan. Selain itu, Ketua Lembaga Seniman dan Budayawan Muslimin Indonesia (Lembumi) Udhin Palisuri tampil membacakan puisi di hadapan hadirin.

Dalam kesempatan sambutan itu, Rais Syuriyah NU Sulsel Anregurutt HM Sanusi Baco menekankan pentingnya kegiatan silaturahmi yang selain memanjangkan umur, juga memperbanyak rezeki.

(Andi Muhammad Idris/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Bahtsul Masail, Pendidikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

KPAI: Situs Nikah Siri Online Langgar Dua Undang-Undang

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Beberapa hari terakir ini masyarakat di gemparkan dengan situs nikah siri online. Situs tersebut merupakan bentuk pernikahan secara syari. Namun, hal tersebut bertentangan dengan Undang-Undang (UU) Perkawinan dan UU Perlindungan Anak. 

KPAI: Situs Nikah Siri Online Langgar Dua Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)
KPAI: Situs Nikah Siri Online Langgar Dua Undang-Undang (Sumber Gambar : Nu Online)

KPAI: Situs Nikah Siri Online Langgar Dua Undang-Undang

Menurut Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Traficking dan Eksploitasi Anak Ai Maryati Sholihah, akun membuka layanan lelang keperawanan untuk kawin siri dan kontrak dengan syarat utama usia 14 tahun ke atas.

"Usia 14 tahun tentu masih usia anak yang wajib mendapatkan proteksi maksimal," ungkap Ai Maryati.

Perdagangan orang dengan embel-embel apapun termasuk atas nama agama merupakan kejahatan yang harus kita waspadai. "Kita tidak boleh lengah sedikit pun. Apalagi trafficking adalah tindakan pidana yang akan dijerat UU Nomor 21/2007 tentang TPPPO," tegasnya.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dia mengungkapkan, KPAI sudah  berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengecek alamat AW dan kebenaran Akun Partai Ponsel agar proses penyelidikan lebih cepat.

Ditempat yang sama Ketua KPAI, Susanto mengungkapkan, situs nikah siri online justru karena sejumlah faktor. Di antaranya faktor ekonomi, kepuasan seksual, wisata dan ditemukan kasus prostitusi atas nama nikah siri. 

"Trend nikah siri dan kontrak berpotensi menjadi pintu masuk traficking, akhir-akhir ini menjadi persoalan. Bahkan trendnya, muncul bentuk human trafficking gaya lama, dimodifikasi melalui media sosial," ungkap Susanto kepada wartawan, belum lama ini.

Untuk itu, KPAI mengutuk keras modus praktik nikah seperti ini karena berdampak serius bagi tumbuh kembang anak sekaligus menghancurkan masa depan anak. 

Situs nikah sirih online tersebut beredar di salah satu media sosial bernama AW. Dalam hal ini, KPAI sedang mendalami keberadaan akun dimaksud. (Nita Nurdiani Putri/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Halaqoh, Quote Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada

Way Kanan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Way Kanan mengajak pelajar NU terlibat aktif dalam pemilihan kepala daerah (pilkada) pada Rabu 9 Desember mendatang. Pelajar NU yang sudah memiliki hak suara dan hak pilih, diminta partisipasinya untuk mengawal jalannya pemilukada mendatang.

IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Way Kanan Siap Jadi Pemantau Pemilukada

"Pelajar NU yang menapaki pendidikan di jenjang menengah ke atas, tentu tak sedikit yang sudah memiliki hak pilih. Bagi kami tentu menolak untuk golput," terang Ketua IPNU Way Kanan Zaenal Abidin di Blambangan Umpu, Selasa (30/6).

Menurut alumnus STAI Al-Ma’arif Way Kanan ini, pelajar NU harus selalu menghadirkan spirit kebangsaan sebagaimana telah dicontohkan oleh para sesepuh dan pendiri NU yang peduli terhadap nilai demokrasi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Beberapa hari yang lalu, IPNU Way kanan melakukan komunikasi dan kordinasi dengan KPU Way Kanan untuk menjadi pemanatu pemilukada 9 Desember mendatang.

Komisioner KPU Way Kanan Erwan Bustami membenarkan kedatangan IPNU yang melakukan koordinasi terkait minat organisasi pelajar NU tersebut sebagai pemantau.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Erwan mengatakan, saat ini KPU Way Kanan mengundang organisasi atau lembaga independen lainnya untuk menjadi pemantau Pemilukada 9 Desember mendatang. Calon pemantau pilkada ini berasal dari lembaga resmi yang telah berbadan hukum, baik ormas, atau lembaga yang memang membidangi.

Selain itu, calon pemantau disyaratkan berasal dari lembaga yang memiliki struktur kepengurusan yang jelas serta memunyai dana sendiri untuk melakukan pemantauan pada pilkada di Kabupaten Way Kanan, kata Erwan.

Ketua Pimpinan Cabang Generasi Muda Kesatuan Penerus Perjuangan Republik Indonesia (GARUDA KPP-RI) Way Kanan Heri Amanudin mengatakan bahwa masyarakat  diharapkan bisa cerdas dalam memilih. Jika ada kandidat yang bermain money politic, itu sudah jelas tidak boleh dipilih.

"Sebab, calon yang main money politic, disadari atau tidak, telah melakukan penodaan terhadap nilai demokratisasi. Juga, melecehkan rakyat dengan mengetengahkan suap," ujar Heri yang pernah memimpin PKC PMII Sumatera Selatan tersebut. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Bahtsul Masail, AlaNu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sabtu (5/7) dini hari, alunan musik patrol ini terdengar begitu merdu. Warga kelurahan Semampir kecamatan Kraksaan kabupaten Probolinggo terlihat sangat serempak memukul alat musik ala kadarnya yang terbuat dari sisa barang bekas itu. Dengan alat sederhana, mereka membuat harmoni musik yang sangat merdu untuk didengarkan.

Sambil berteriak “sahur-sahur” membangunkan warga untuk sahur, mereka terus memainkan alat musiknya yang terdiri dari jeriken, potongan besi, dan kentongan bambu. Alat musik yang lazimnya dimainkan anak-anak, cukup menarik perhatian orang dewasa untuk terlibat dalam keliling membangunkan sahur ini.

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol

Saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Lukman salah satu pemain musik patrol mengatakan, alat-alat musik itu didapatkan dengan memanfaatkan beberapa barang bekas yang ada di sekitar rumahnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Sambil menunggu waktu sahur, maka saya bersama teman-teman membangunkan warga yang masih ingin memasak. Biasanya kami keliling mulai pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Setelah itu kami pulang untuk sahur bersama keluarga,” ujar Lukman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ungkapan serupa juga disampaikan Aris. Bocah berusia 13 tahun ini mengaku kebagian memukul alat musik kentongan yang terbuat dari bambu. Dia mendapatkan alat musik itu dari ayahnya.

“Ayah yang membuatkan kentongan ini. Jika sudah selesai, alat musik ini dibawa pulang ke rumah masing-masing,” ujar Aris.

Menurut Aris, ia merasa sangat senang jika bulan puasa tiba. Pasalnya, bersama teman-temannya ia bisa memainkan musik patrol berkeliling membangunkan warga untuk sahur. “Alhamdulillah, tiap bulan puasa, saya aktif bermain musik patrol. Soalnya seperti tidak enak jika tidak bergabung dengan teman-teman,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, Sejarah, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 27 November 2017

Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro

Oleh Fathan Subchi



Istighotsah kubro tak hanya meninggalkan kekaguman sebab ratusan ribu orang berjubel dari berbagai kalangan. Kegiatan itu pun tak sekadar eksistensi sebuah jam’iyah yang menuntut perubahan radikal dan penuh paksaan. Istighotsah kubro ialah perenungan dan pencarian jawaban atas segala persoalan baik sosial, politik, agama yang berhubungan dengan negara dan kepentingan kebangsaan. Istighotsah kubro menyisakan pesan perdamaian, persatuan dalam bingkai perbedaan.

Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendalami (Pelajaran) Istighotsah Kubro

Ketika seseorang telah mengakui diri sebagai Muslim tentu melekat pada dirinya kepercayaan bahwa semua (kekacauan) yang terjadi tidak lepas dari ketentuan Allah SWT sebagai Tuhan. Dari situ muncul kesadaran untuk merenungi segala persoalan secara arif tanpa memunculkan kekacauan dibidang lainnya. Maka, sikap intoleransi yang mewujud dalam berbagai bentuk, semisal, menyesatkan, mengkafirkan bukanlah suatu yang dibenarkan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Merujuk pemikiran Prof. Dr. KH. Said Aqil Siraj, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), bahwa dalam berdakwah kita tidak diperkenankan menggunakan cara yang keras. Di zaman Rasulullah, larangan itu muncul ketika ada seorang sahabat yang mengancam akan membunuh anaknya jika tidak masuk Islam. Kemudian turunlah ayat la ikraha fiddin, yaitu jangan ada paksaan dalam agama (Islam) (www.nu.or.id).

Ulama NU paham betul ayat ini sehingga Istighotsah kubro tidak dilaksanakan secara sporadis dan memanaskan tensi kenyamanan publik. Kegiatan dalam rangka Harlah ke-94 Nahdlatul Ulama yang digagas oleh PWNU Jawa Timur itu sekaligus meneguhkan kesadaran bahwa ritual keagamaan tidak selayaknya dimanfaatkan sebagai eksistensi belaka. Buktinya tidak banyak media yang “membesar-besarkan” peristiwa tersebut dalam produk jurnalistiknya. Itu murni sebagai sarana berdoa, menjalin kemesraan dengan Tuhan secara berjamaah bersama jutaan makhluq-Nya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Meminjam istilah KH Musthofa Bisri, pengasuh pondok pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, peristiwa sakral pada Ahad (09/04) lalu merupakan manifestasi wajah Islam yang saleh ritual dan saleh sosial. Yaitu sebuah sikap yang mampu mengadopsi semua kepentingan tanpa mencederai pihak lain. Sebuah ritual keagamaan yang dilandasi dengan balutan komitmen saling mengasihi sesama dan menghargai aneka perbedaan.

Merujuk pada artikel Fathurrahman Ghufron di harian Kompas (12/04/17) bahwa dalam kondisi perbedaan, rasa saling memahami (mutual understanding) akan membuat kita supaya selalu waspada diri untuk mencegah cara otoritarian dan despotik dalam menyampaikan ajaran agama. Dengan itu kita juga akan sadar untuk tidak mencaci dan memaki orang lain hanya karena berbeda pendangan atau kepercayaan. Sebab sajian yang seperti itu hanya akan memperbesar konflik horizontal yang mengancam keutuhan NKRI.

Dalam hal ini, sesungguhnya kita tidak hanya berbicara tentang keagamaan tetapi juga kenegaraan yang wajib kita jaga demi satu keutuhan. Demikian bisa kita lihat dalam maklumat yang dibacakan di dalamnya. (1) Menjaga agama dari hal-hal yang merusak (hifdzud din amma yufsid) adalah wajib, sebagaimana sebelumnya dilakukan oleh para ulama. (2) Menjaga negara dari hal-hal yang merusak tatanan (hifdzud daulah amma yufsid) adalah wajib, karena Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah harta terbesar bangsa dan negara ini. (3) Menyeru kepada kebajikan dan mencegah kemungkaran (amr bil-maruf wa nahy anil munkar) wajib ditegakkan secara bijaksana untuk menjunjung tinggi marwah agama dan martabat manusia demi kemajuan bangsa dan negara ini.

Tiga poin pertama gagasan syuriah PWNU Jawa Timur itu telah menegaskan bahwa (gagasan) Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan harta terbesar bangsa dan negara. Yang wajib dirawat dan dipertahankan sebagai ideologi dengan semangat keagamaan yang menyertainya. Selanjutnya itu disokong oleh tiga point berikutnya agar berbagai kepentingan harus dilaksanakan demi sebuah kesejahteraan untuk umat yang mashlahat.

Yaitu, (4) Seluruh pemimpin bangsa dan negara ini wajib menjalankan amanah dan menegakkan keadilan secara bersamaan sebagai prinsip untuk mencapai kebajikan bersama. (5) Menjaga umat (riayatul ummah) dari kebangkrutan moral adalah tanggung jawab yang wajib ditunaikan oleh seluruh pemimpin agama, bangsa, dan negara ini. (6) Seluruh komponen umat wajib untuk semakin mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah sebagai bentuk tanggung jawab pribadi dan keumatan.

Terlihatlah bahwa Islam sesungguhnya tidak melulu tentang ibadah syar’i yang mengharuskan kita agar mengabaikan yang lainnya. Ibarat bangunan Islam adalah batu terakhir sebagai penyempurna suatu pondasi. Ia merupakan komponen untuk menciptakan kearifan yang penuh dengan damai dan ketentraman untuk tatanan kehidupan nyaman.

Maklumat Istighotsah Kubro mengingatkan kita pada amanat yang tidak disadari akan hilang. Yaitu berupa akal, kemampuan dan badan yang harusnya dibalut dengan akhlaq mulia. Sebagaimana diajarkan oleh Rasul dan para sahabatnya, yang rela hidup sengsara untuk kepentingan umat dan negaranya. Ada keseimbangan hubungan baik dengan Tuhan maupun antar sesama manusia. []

Penulis adalah Wasekjend DPP PKB dan Anggota F-PKB DPR RI



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 20 November 2017

Resolusi Jihad dan Kontekstualisasi Fiqih Pesantren

Oleh Khoirul Anwar



Pada tanggal 22 Oktober 1945, pendiri Nahdlatul Ulama, Hadratussyekh KH Muhammad Hasyim Asy’ari, bersama para kiai NU lainnya menyatakan bahwa hukum berperang melawan penjajah adalah fardlu ‘ain, yakni menjadi kewajiban setiap individu muslim, laki-laki, perempuan, dewasa, maupun anak kecil, bersenjata atau tidak. Wajib ‘ain ini berlaku bagi umat Islam yang berada di dalam lingkaran jarak 94 kilometer tempat kedudukan musuh.

Resolusi Jihad dan Kontekstualisasi Fiqih Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)
Resolusi Jihad dan Kontekstualisasi Fiqih Pesantren (Sumber Gambar : Nu Online)

Resolusi Jihad dan Kontekstualisasi Fiqih Pesantren

Sedangkan bagi umat Islam yang berada di luar jarak itu hukumnya fardlu kifâyah, kecuali apabila musuh tidak bisa dikalahkan maka hukumnya menjadi fardlu ‘ain supaya umat Islam bisa menang. Musuh di sini maksudnya para penjajah Belanda dan sekutunya.

Seruan perang di atas murni diambil dari literatur fiqih yang biasa diajarkan di pondok pesantren, yakni fiqih madzhab Syâfi’î. Dalam kitab Fathu al-Qarîb al-Mujîb karya Syaikh Muhammad bin Qâsim al-Ghazî (w. 918 H) dijelaskan, bahwa perintah jihad melawan orang-orang kafir pasca Nabi Muhammad wafat ada dua, yaitu: 1) fardlu kifâyah dalam setiap tahun apabila orang-orang kafir berada di negaranya sendiri, dan 2) fardlu ‘ain apabila orang-orang kafir sudah masuk ke dalam negara Islam atau berada di wilayah sekitarnya. (Al-Ghazî, tt: 58-59).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Gagasan Resolusi Jihad yang diambil dari kitab kuning ini sangat menarik. Alasannya, dalam literatur fiqih kerap dipahami bahwa jihad ialah perang melawan orang-orang kafir (non muslim). Perang dilakukan demi tersebarnya agama Islam dengan menundukkan orang-orang kafir. Rumusan fiqih ini berpijak pada hadis Nabi: “Aku diperintah untuk memerangi manusia hingga mereka berkata ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ (Umirtu an uqâtila an-nâsa hattâ yaqûlû lâ ilaha illallah).”

Sementara para kiai dan santri NU yang menggagas Resolusi Jihad memahami bahwa perang dilakukan demi mempertahankan tanah air. Baginya, mempertahankan tanah air bagian dari manifestasi rasa cinta terhadap tanah kelahiran. Dalam maqâlah yang sangat popular di kalangan warga nahdliyyîn disebutkan: “Mencintai tanah air bagian dari iman (Hubbu al-wathan min al-îmân).”

Di sini para kiai telah mendialogkan teks-teks yang ditulis puluhan abad lalu untuk kemudian dikontekstualisasikan dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat Indonesia saat itu, yakni jihâd di jalan Allah bukan “karena agama memerintahkan memerangi non muslim supaya mereka masuk atau tunduk kepada agama Islam”, melainkan “karena memperjuangkan kemerdekaan tanah air dari kaki-kaki penjajah”.

Bisa diandaikan, jika para penjajah itu kebetulan beragama Islam, pasti Resolusi Jihad akan tetap diterbitkan. Karena yang menjadi alasan terbitnya peristiwa bersejarah itu bukan terletak pada identitas agama penjajah, melainkan perilaku penjajahan itu sendiri, yakni hendak merebut hak kemerdekaan bangsa ini dan melakukan kejahatan serta kezaliman.



Kontekstualisasi Fiqih


Kontekstualisasi fiqih perang di atas tidak mungkin terjadi tanpa ada kesadaran lokalitas dari para kiai dan santri NU masa lampau. Baginya, fiqih bukan harus dipahami “apa adanya”, melainkan harus memperhatikan “ada apanya” atau kepentingan yang hendak digapai. Narasi fiqih adalah narasi realitas tempat di mana fiqih itu diproduksi, sehingga pemahaman atas sejarah sosial mutlak diperlukan demi menyingkap kehendak yang dimaksud penulis teks (mu`allif).

Pertimbangan aspek lokalitas atau konteks ini terlihat diperhatikan betul dalam keputusan-keputusan hukum yang diberikan para kiai masa lampau. Selain Resolusi Jihad, misalnya hukum memakai jas dan dasi. Pada masa penjajahan, hukum memakai jas dan dasi haram karena menyerupai para penjajah (tasyabbuh), tapi setelah merdeka KH. Wahab Chasbullah memakainya. Hukum berubah seiring dengan perubahan konteks.

Dengan mempertimbangkan konteks fiqih, maka fatwa-fatwa yang berpijak darinya akan banyak memberikan mashlahat kepada umat dan tidak menjadi bara api yang membakar perseteruan di antara anak bangsa.

Kini seiring dengan berjalannya waktu, banyak persolan-persoalan bangsa yang harus diselesaikan. Para kiai dan santri sebagai penerus perjuangan Mbah Hasyim Asy’ari dan para kiai pendahulu lainnya, punya tanggung jawab untuk memberikan jawaban-jawaban dan solusi keagamaan yang kontekstual dan meneduhkan.

Fatwa-fatwa keagamaan dari para kiai dan santri, terutama yang berkaitan dengan hubungan antar umat beragama dan persamaan hak warga negara sangat ditunggu oleh khalayak umum. Fatwa di sini tentunya fatwa yang kontekstual dan mencitrakan Islam rahmatan li al-‘âlamîn. Karenanya, melalui Hari Santri Nasional yang menjadi pengingat bagi masyarakat atas perjuangan para kiai dan santri masa lalu dalam memperjuangkan kemerdekaan, para kiai dan santri masa kini dituntut untuk melanjutkan pengawalan terhadap keutuhan NKRI dengan merawat keragaman dalam persatuan bangsa Indonesia.

Khoirul Anwar, warga NU, tinggal di Bukit Walisongo Ngaliyan Semarang.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 15 November 2017

Bapak Pulang Tanpa Kuku Jari Kaki

Oleh M. Hanif Dhakiri

"Politik itu bukan semata urusan dunia, tapi juga akhirat. Menyerah pada tekanan yang hendak menghancurkan kita punya prinsip, adalah kekerdilan yang memalukan. Dimanapun di dunia ini, tak ada tempat yang layak bagi kekerdilan semacam itu."

Bapak memandangi wajah-wajah di depannya. Suasana di ruang tamu rumah kami menjadi hening seolah tanpa manusia di dalamnya. Malam yang menua disesaki perlombaan suara kodok dan jangkrik. Mereka balapan memecah keheningan. Pakde Ishak, Siwo Masduki dan Lik Dalhar bergulat dengan pikiran masing-masing. Di bawah lampu petromaks nampak jelas ketegangan dan kekhawatiran di wajah mereka.

Bapak Pulang Tanpa Kuku Jari Kaki (Sumber Gambar : Nu Online)
Bapak Pulang Tanpa Kuku Jari Kaki (Sumber Gambar : Nu Online)

Bapak Pulang Tanpa Kuku Jari Kaki

Pakde Iskak yang awalnya banyak bicara, terdiam seribu bahasa. Kamituwo dusun sebelah itu sibuk dengan rokok klobotnya, menyedotnya dalam-dalam lalu menghempaskannya ke udara. Lelaki paruh baya itu sahabat karib Bapak, sama-sama memimpin kampung sebagai kamituwo. Mereka sering saling bertandang ke rumah masing-masing, membicarakan banyak hal dari masalah keluarga, pertanian dusun, hingga masalah politik. Keduanya kiai di desa kami, Desa Blotongan, sebuah desa yang menjadi basis Partai Nahdlatul Ulama (NU).?

"Tapi resikonya itu kang yang harus kita pikirkan, terutama sampeyan sama Mas Iskak yang jadi pimpinan kita semua. Ini bukan lagi zaman Bung Karno yang ingin mengayomi semua kelompok," suara Siwo Masduki memecah keheningan. Modin kampung kami ini teman seangkatan Bapak di pesantren. Hampir setiap hari ia menemani Bapak mengurus berbagai masalah di kampung.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Resiko itu bagian dari perjuangan, tak boleh kita menghitung-hitungnya. Kita berpolitik bukan karena kekuasaan, tetapi karena perintah agama agar politik bermakna bagi orang banyak," Bapak menghisap dalam-dalam rokok klobotnya.?

"Begitu juga kita mengikuti politiknya kiai-kiai besar seperti Mbah Bisri, Mbah Wahab atau Kiai Idham Chalid lewat Partai NU. Bukan karena apa-apa, tapi karena perintah agama dan tabarrukan sama kiai. Memangnya kita lupa: siyaasatul ummah mabniyatun alaa aqidatiha, politik ummat itu didasarkan pada aqidahnya. Akidah kita Ahlussunnah wal jamaah, makanya kita ikut Partai NU, partainya kiai-kiai Ahlussunnah. Masa iya kita menyerah dan ikut Sekber Golkar karena takut ditekan?," lanjutnya lebih tegas.

Dari amben? (dipan) dekat ruang tamu keluarga, tiba-tiba Simak nimbrung. "Iya Pak, tapi ada benarnya juga itu kata Kang Duki. Aku mengkhawatirkan Bapak nanti gimana-gimana," katanya sembari membungkus tempe dagangannya dengan daun jati.?

Aku pura-pura tidak mendengar obrolan mereka. Sebagai siswa yang baru lulus Madrasah Tsanawiyah, aku masih dianggap anak-anak oleh mereka yang berada di ruang tamu keluargaku. Dengan anggapan seperti itu, aku justru memperoleh kebebasan mencuri-dengar semua obrolan yang terjadi di ruang tamu. Tidak saja malam itu, tapi hampir setiap kali obrolan terjadi di ruang tamu rumahku. Dan alibinya selalu tepat, aku membantu Simak mengikat bungkusan tempe dengan tali yang terbuat dari sisiran kulit bambu.?

***

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kampungku bernama Dusun Bonorejo, dusun terluar dari Kota Salatiga dan Kabupaten Semarang. Lingkungannya indah dan berhawa segar karena terletak di kaki Gunung Merbabu. Warga Bonorejo sangat guyub, silaturrahim antar warga berlangsung ajeg, kerja bakti setiap minggu dilaksanakan bersama-sama untuk keperluan apa saja. Di masjid kami yang sederhana, Masjid Nurul Iman, pengajian Bapak selalu ramai diikuti oleh warga. Sebagai kamituwo, Bapak sudah memimpin kampung ini selama tiga belas tahun. Ia begitu dipercaya masyarakat.

Tetapi beberapa minggu setelah malam itu, suasana dusun berubah. Warga kampung seperti menjauhi keluarga kami, terutama Bapak. Pengajian di masjid berkurang drastis jamaahnya. Aku sering menemukan orang-orang berbisik-bisik saat Bapak lewat. Entah apa yang dibisikkan, yang jelas raut wajah mereka tampak aneh. Saat jalan berpapasan dengan Bapak, mereka memang masih menyapa ramah, tetapi seperti ada ketakutan untuk berbincang atau ngobrol lebih lama. Sungguh lain dari biasanya.

Dari radio Lik Dalhar, tetangga rumahku yang tergolong pedagang kaya, aku mendengar satu slogan yang kerap diulang-ulang: "parpol no, pembangunan yes." Aku tak begitu mengerti maksudnya. Tetapi di kampung, orang makin jarang berkumpul. Rumahku yang sering jadi tempat kongkow anak-anak muda, seketika menjadi sepi. Bahkan gardu ronda yang biasanya jadi posko main catur atau halma oleh para peronda, juga tidak tampak berfungsi.?

Para peronda hanya berkeliling kampung, mengambil jimpitan beras, dan langsung pulang. Biasanya mereka nongkrong dulu di gardu ronda. Tak jarang kalau tidak dipanggil anak atau istrinya, bapak-bapak peronda sering pulang larut ke rumah. Masjid juga bernasib sama. Sehabis sholat maghrib berjamaah, warga tidak lagi ngobrol di teras masjid, sambil menunggu anak-anak mereka mengaji al-Quran hingga waktu sholat Isya tiba. Mereka pulang terburu, seolah ada urusan teramat penting di rumah.

Salah satu kegiatanku membantu orang tua adalah memetik daun jati di kebun Simbah. Daun jati dipakai Simak untuk membungkus tempe bikinannya. Suatu hari sepulang dari kebun, aku melihat dua orang tak kukenal berbicara dengan beberapa warga di sawah. Aku berjalan seolah tak memperhatikan, tetapi sudut mataku menangkap beberapa warga kampung itu seperti dicekam ketakutan.?

Di lain kesempatan, aku dua tiga kali berpapasan dengan orang berseragam doreng keluar masuk kampung. Orang yang sama sekali tidak kukenal! Simak pernah menasehatiku agar hati-hati bicara karena banyak orang asing keluar masuk kampung seperti mengawasi. Kepala desa pilihan kami, kata Simak, baru saja diganti seorang pejabat militer drop-dropan dari Ungaran.

"Nasir, kamu jangan jauh-jauh ya kalau dolan," kata Simak suatu hari. "Sekarang ini semua orang harus hati-hati karena mau pemilu," katanya lagi.?

"Kamu tahu nggak, kemarin ada kiai di Brebes ditemukan tewas mengenaskan di jurang dekat pesantrennya. Ia dikabarkan hilang beberapa hari sebelum mayatnya ditemukan seorang petani. Simak dapat cerita dari Bapakmu."?

Simak menatapku dalam-dalam menunjukkan kekhawatirannya yang sudah mencapai tingkat dewa. Ketakutan segera mengalir ke pikiran dan seluruh bagian tubuhku.

Aku tak habis mengerti, mengapa keadaan kampung bisa berubah begitu cepat? Dari cerita Simak, perubahan begitu bukan hanya terjadi di kampungku. Di kampung dan bahkan daerah lain, perubahan keadaan yang sama juga terjadi.?

"Kata orang-orang, ketegangan dan kecemasan ada dimana-mana. Kita harus hati-hati," kata Sudrun, teman mainku, menirukan nasehat Bapaknya.

***

"Nasir, kamu tahu Bapak pergi kemana?," tanya Simak suatu malam. "Udah Mak, nggak usah dipikirkan. Ntar juga pulang," kataku santai sembari mengencangkan tali bambu pada bungkusan tempe yang dibuat Simak. Hampir setiap malam setelah ngaji kitab kuning di Pakde Rubai, aku membantu Simak membungkus dan mengikat tempe dagangannya.?

Simak memang perempuan ulet dan hebat. Selain mengurus keperluan rumah tangga, ia juga membantu Bapak berjualan tempe. Simak yang membuat, Bapak yang mengantarnya ke pasar setiap pagi. Membungkus dan mengikat tempe itu seperti pekerjaan ringan, tetapi teramat melelahkan karena jumlah yang banyak dan dilakukan malam hari. Menanak kedelai, mencampur kedelai masak dengan ragi, membungkus dengan daun jati dan mengikat dengan tali sisiran kulit bambu adalah ritual Simak mengurus tempe sepanjang sore hingga malam.?

Ia hampir selalu menyelesaian pekerjaannya jam satu atau dua dinihari. Ditemani Bapak tentunya. Aku kadang membantu dan menemani mereka hingga selesai kalau keesokan harinya libur sekolah. Sering aku merasa tidak tega saat menemukan Simak terkantuk berat sementara di tangannya masih memegang bungkusan tempe yang belum selesai ditali.

?

Waktu menunjukkan jam dua dinihari. Bapak belum juga pulang. Simak sangat gelisah hingga akhirnya tertidur di amben dekat ruang tamu. Keesokan harinya, Bapak tidak juga ada kabarnya. Aku dan Simak menanyakan ke beberapa tetangga, tetapi tak ada yang tahu keberadaannya. Lik Dalhar juga ikut mencari, bertanya ke dusun sebelah soal keberadaan Bapak, tapi nihil juga hasilnya.?

Simak mulai menangis mengkhawatirkan Bapak. Tiga hari sudah Bapak belum pulang dan tak ada seorang pun di kampung yang tahu keberadaannya. Sampai kemudian bertandanglah Siwo Masduki ke rumah dan mengabarkan kalau Pakde Iskak juga tidak pulang selama beberapa hari. Simak benar-benar shok! Ia menangis terus-terusan.?

"Bapakmu kenapa ya, Le? Moga-moga Gusti Allah melindunginya." Simak hanya bisa menangis dan berdoa.

Seisi kampung geger. Aku dan Simak mendengar kesimpulan mereka: Bapak dan Pakde Iskak hilang diculik! Simak pingsan berulang-ulang. Aku dan Huda, anak Pakde Iskak, sudah kesana kemari mencari informasi keberadaan Bapak dan Pakde Iskak. Tak seorang pun tahu, atau mungkin tak berani membuka mulut. Hanya desas-desus menyebutkan kemungkinan Bapak dan Pakde Iskak diculik terkait pemilu yang akan berlangsung bulan depan.?

Sehari sebelum Bapak menghilang, ia sempat bercerita kepada Simak kalau tak lagi menjabat kamituwo. Oleh kepala desa yang baru, Bapak diganti orang dari dusun sebelah. Alasannya, katanya, untuk kepentingan pembangunan desa agar berjalan lebih cepat.Sungguh aneh, pikirku. Kamituwo dan Kepala Desa lama hasil pilihan warga bisa diganti begitu saja oleh kepala desa baru hasil penunjukan dari atas.

Hilangnya Bapak membuat warga dusun semakin cemas. Terlebih setelah beberapa hari kemudian ditemukan adanya tanda X di rumah-rumah sebagian besar warga. Tanda X dibuat dari cat kapur yang digoreskan menyilang di pintu atau pada dinding rumah. Secara acak dan bergantian, rumah-rumah yang bertanda X itu dilempari batu pada malam hari. Pelakunya tidak pernah ketahuan karena menghilang begitu cepat di kegelapan malam. Mereka yang rumahnya ditandai adalah penduduk yang dikenal sebagai warga NU. Dari daerah lain aku juga mendengar bentrokan terjadi dimana-mana. Bahkan diberitakan, sejumlah kiai dan santri ditangkap, disiksa dan bahkan ada yang dibunuh.

***

Dua bulan berlalu. Aku pulang dari memeriksakan Simak ke Pak Mantri di dusun sebelah. Simak jadi sakit-sakitan karena Bapak menghilang. Begitu masuk ke rumah, aku dan Simak terkejut mendapati Bapak tiduran di atas amben. Lik Dalhar sedang melap sekujur badannya yang tampak kotor. Wajah dan badannya lebam, berwarna kebiru-biruan. Pipi sebelah kanan bengkak. Sesekali ia meringis kesakitan saat kain lap di tangan Lik Dalhar menyentuh bagian tubuhnya yang dibersihkan dengan air hangat. Jemari kedua kakinya dibungkus kain kumal yang mengalirkan bau amis.

"Ya Allah, bapaaakkkkk! Sampeyan kenapa begini?," Simak menghambur ke pelukan Bapak sambil menangis. Tangannya membelai wajah Bapak, pandangan matanya memeriksa tubuh lelaki paruh baya di depannya. Aku naik ke amben dan duduk disamping Bapak. "Yang sabar, Mbakyu", kata Lik Dalhar menenangkan Simak.

Pandangan mata Simak menatap dalam-dalam ujung jemari kaki Bapak yang dibungkus kain kumal. Masih sambil menangis, Simak membuka kain pembungkus itu perlahan-lahan.?

"Astaghfirullaaaaaahal adhiiiiiimmmm...", jerit Simak histeris saat kain penutup terbuka.?

Dilihatnya gumpalan-gumpalan darah hitam di atas ujung sepuluh jari kaki Bapak. Sambil berderai air mata, Simak membersihkan jari jemari yang sudah tak berkuku itu. Hatinya tersayat membayangkan perlakuan kejam dan sadis yang dialami suaminya. ?

"Siapa tega melakukan ini, pak?", tanya Simak. Bapak menegakkan tubuhnya dan duduk bersandar pada tiang rumah di sebelah amben.?

Setelah menghela nafas panjang, Bapak menyuruhku mengambilkan perlengkapan rokok klobot di ruang tamu. Dikeluarkannya dua lembar daun jagung kering dari dalam kotak seng butut bekas biskuit. Lalu diambilnya tembakau lembab dari kotak yang sama dan digelar secara merata di atas daun jagung. Keduanya ditaruh di atas amben, lalu dikeluarkannya gunting kecil dan beberapa butir cengkeh.?

Cengkeh digunting kecil-kecil lalu ditabur di atas tembakau yang sudah dialasi daun jagung kering. Segera setelah itu tangannya bergerak lincah melinting tembakau itu. Setelah ujung atas dan bawah dipotong, tampaklah rokok klobot kegemaran Bapak. Dibakarnya ujung rokok itu, lalu dihisapnya dalam-dalam. Asap tebal memenuhi mulutnya dan mengepul di depan wajahnya. Huuuuuufffffff! Begitu bunyi asap dihempas dari mulut Bapak.?

"Simak, Nasir. Kalian nggak usah sedih. Kalian harus bersyukur Bapak masih bisa pulang walau badan remuk dan tanpa kuku jari kaki. Beruntung di jalan tadi ketemu Lik Dalhar, jadi ada yang membantu jalan. Beberapa orang lain malah nggak ada kabarnya sama sekali sampai sekarang, termasuk Pakde Iskak. Padahal pemilu sudah usai," Mata Bapak berkaca-kaca saat menyebut nama Pakde Iskak.

Ditatapnya aku dan Simak bergantian, lalu kembali menghisap rokoknya dalam-dalam. Kendati seperti menahan sakit di sekujur tubuh, Bapak kelihatan sangat tegar. Lik Dalhar bercerita bahwa dari berita radio dikabarkan Pemilu 5 Juli 1971 dimenangkan Sekber Golkar dengan suara mayoritas mutlak sebesar 62,82 persen atau setara 236 kursi DPR, disusul Partai NU dengan 18,68 persen suara atau setara 58 kursi DPR. Delapan partai politik lainnya seperti Parmusi dan PNI berada jauh di bawah kedua kekuatan politik itu.?

"Nasir, dengar baik-baik, ya Nak. Mereka bisa menumpulkan kaki Bapak dengan mencabut kuku-kukunya. Tetapi mereka tidak akan pernah bisa menumpulkan hati dan pikiran Bapak yang menyatu dengan tradisi keagamaan dan pikiran politik para kiai", kata Bapak penuh semangat. "Politikku, dan politik keluarga kita, adalah pengabdian kepada Gusti Allah. Kalau sudah begitu, tak ada resiko yang boleh menciutkan nyali atau mematikan semangat kita. Kita boleh kalah saat ini, tetapi kita tidak boleh mati!".?

Bapak menyedot lagi rokoknya dalam-dalam. Asap membubung memenuhi angkasa di depan wajahnya. Lelaki paruh baya itu menatapku tajam seakan hendak meminta jawaban dariku, anaknya semata wayang.***

Pengadegan, 25 Juni 2016

Penulis adalah Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 13 November 2017

Ramadhan, NU CARE Tangsel Gelar Safari Takjil

Tangerang Selatan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Selama Ramadhan ini, NU Care Tangerang Selatan menggelar Safari Takjil. Kegiatan ini terselenggara atas kerja sama dengan Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Putri (IPPNU) Kota Tangerang Selatan.?

“Setiap hari minimal ada sepuluh relawan dari NU Care dan IPPNU Tangsel. Kegiatan berupa pembagian takjil bagi warga yang melintas dan berada di lokasi-lokasi relawan,” kata Direktur NU Care Tangsel Rizky Subagia

Ramadhan, NU CARE Tangsel Gelar Safari Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, NU CARE Tangsel Gelar Safari Takjil (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, NU CARE Tangsel Gelar Safari Takjil

Risky menyebutkan lokasi kegiatan berpindah-pindah di tujuh kecamatan yang ada di Kota Tangerang Selatan.

“Minimal kami bagikan 150 takjil setiap harinya. Isinya paket takjil sederhana yaitu kurma, roti, air mineral, kadang-kadang berupa kolak. Dan setiap Jumat kita berbagi nasi kotak,” lanjut Rizky.

Menurutnya, kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan takjil kepada para pengguna jalan dan pedagang kaki lima serta para pelajar yang masih berada di luar rumah saat waktu berbuka telah tiba.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Juga kami ingin melakukan syiar tentang zakat, ? infak, dan sedekah,” ujarnya,

Rizky mengatakan sumber dana dari sedekah perorangan. Dan bila ada masyarakat yang tertarik menjadi donatur dapat mengirimkan melalui transfer ke LAZISNU Tangsel ke rekening Bank Mandiri nomor 1230009991912. Setelah itu donatur dapat melakukan konfirmasi pentransferan ke nomor 082331499005.

“Mari kita sama-sama meningkatkan semangat untuk berbuat kebaikan di momentum bulan suci Ramadhan ini. Dan mari perbanyak sedekah untuk kebahagiaan dunia dan akhirat melalui NU Care LAZISNU Tangsel,” ajak Rizky. (Kendi Setiawan/Abdullah Alawi)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Anti Hoax Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 17 Oktober 2017

Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Situs islam ramah islami.co membuka program magang bagi mahasiswa tingkat akhir di perguruan tinggi. Kesempatan ini memberikan peluang bagi siapa saja yang ingin mendalami literasi keislaman, khususnya di dunia digital.

Pendiri Islami.co, Savic Ali menjelaskan, situs ini didedikasikan untuk menyebarluaskan informasi dan gagasan yang mendukung tumbuhnya masyarakat yang penuh toleransi dan kedamaian. Apalagi, para pegiat di dalamnya merupakan penulis-aktivis yang selama ini bergelut dalam dunia keislaman dan penyebaran islam ramah di dunia digital.?

Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor (Sumber Gambar : Nu Online)
Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor (Sumber Gambar : Nu Online)

Islami.co Buka Program Magang bagi Penulis dan Editor

"Di gawangi oleh anak-anak muda lulusan pesantren, islami.co adalah bentuk counter-hegemony atas web-web yang sarat provokasi, sehingga bisa meneguhkan Islam sebagai agama yang bukan hanya rahmat bagi pemeluknya, tapi juga umat manusia pada umumnya," ujarnya di Jakarta, Rabu (15/3).?

Untuk itulah, Islami.co mengajak kepada mereka yang ingin berkontribusi terhadap penyebaran Islam ramah dan kebinekkaan di Indonesia untuk bergabung melalui program magang tersebut, dengan syarat-syarat sebagai berikut:

Usia minimal 20 tahunPernah mengenyam pendidikan pesantren/keislamanTertarik dunia digital, literasi, dan jurnalismeAkrab dengan media sosialBersedia bekerja di JakartaBagi para calon peserta magang dipersilakan mengirimkan biodata diri (curriculum vitae) ke redaksi@islami.co, dengan subjek Penulis atau Editor. Waktu pendaftaran dimulai sejak berita ini tayang sampai 31 Maret 2017.? (Mahbib)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock