Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lomba. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mahasiswa NU yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PTNU Nusantara Kota Tangerang menggalang dana untuk membantu korban banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya.?

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir

Kegiatan yang dilakukan pada Senin, (9/2) ini menerjunkan para mahasiswa di jalan-jalan untuk menampung dana dari para pengguna jalan untuk disalurkan kepada korban banjir di kawasan Kapuk Muara, Jakarta Utara, salah satu kawasan terparah banjir Jakarta.

“Alhamdulilah kami bisa memberikan bantuan kepada warga yang terkena musibah banjir setelah seharian kami melakukan penggalangan dana di jalanan di tengah guyuran hujan,” ujar Idrus Steven Maulana Yusuf, Presiden BEM PTNU Nusantara melalui rilis yang diterima Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dia mengatakan, bantuan dana ini berupa uang tunai,beras dan pakaian yang disumbangkan dari para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa PTNU Nusantara yang disalurkan melalui Posko Peduli Banjir di kawasan Jakarta Utara tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Idrus berpendapat, musibah bisa menimpa kepada siapa saja, tidak terkecuali warga Kapuk, karena itu setiap manusia memiliki kewajiban untuk saling menolong.

Siska Uliyana, Sekjen BEM PTNU menambahkan, bencana banjir yang menimpa warga Ibu Kota kali ini tentu menyisakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam.

Akibat banjir itu, tambahnya, warga kehilangan ? harta benda mereka, karena itu sudah sepantasnya Mahasiswa PTNU Nusantara turun ke masyarakat untuk ? membantu warga yang sedang ? membutuhkan bantuan.?

“Sebab, bantuan ini sangat dibutuhkan oleh mereka dari aksi sosial kita bersama,” paparnya.

Anggota BEM PTNU lainnya, Maya Afandi mengatakan, bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap warga yang tertimpa musibah. “Semoga aksi ini dapat menumbuhkan kepedulian kita bersama dari seluruh lapisan masyarakat,” harapnya. (Red: Fathoni)?

?

Foto: Kondisi banjir di daerah Kapuk, Jakarta Utara (@BPBDJakarta).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Sholawat, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik

Jepara, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Islam NU (Unisnu) tahun akademik 2015/2016 telah usai. Secara resmi pada Selasa (23/2) semua peserta ditarik oleh Rektor di pendopo kabupaten Jepara.?

454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik (Sumber Gambar : Nu Online)
454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik (Sumber Gambar : Nu Online)

454 Mahasiswa KKN Uninsu Jepara Resmi Ditarik

Meski diguyur hujan deras, tak membuat surut niat mahasiswa peserta KKN angkatan III ini untuk hadir. Sebanyak 454 mahasiswa dari 4 fakultas yaitu Fakultas Dakwah dan Komunikasi; Fakultas Syariah dan Hukum; Fakultas Tarbiyah dan Keguruan; dan Fakultas Sains dan Teknologi, didampingi ? 49 orang dosen pembimbing lapangan (DPL) akan kembali melaksanakan aktivitas seperti biasa di kampus.

Enam kecamatan menjadi objek kegiatan KKN Unisnu selama ? 40 hari. Untuk daerah Jepara, lokasi KKN meliputi Kecamatan Batealit, Pakisaji dan Kedung. Sedangkan di Demak berlokasi di kecamatan Mijen, Kabupaten Kudus berlokasi di kecamatan Dawe dan Kabupaten Pati di kecamatan Juwana. Mereka disebar ke 49 desa. Mulai tahun ini Unisnu berencana akan terus menerjunkan peserta KKN ke luar daerah di Jepara.

Hadir dalam kesempatan Sekda Jepara Sholih, Wakil Rektor II Drs H Hendro Martojo, MM, ketua Yaptinu KH Ali Irfan Muhtar serta segenap jajaran Dekanat, Muspika terkait dan tamu undangan. Turut hadir juga beberapa anggota masyarakat yang berhak menerima piagam pelatihan yang telah digelar oleh mahasiswa KKN.

Wakil Rektor II Drs H Martojo dalam sambutannya mengaku bangga dengan hasil yang telah diwujudkan para mahasiswa KKN. Unisnu berkomitmen memberi bekal kepada mahasiswa bukan sekadar ilmu akademik, kecerdasan, dan keterampilan guna membentuk mahasiswa menjadi insan yang berpendidikan, melainkan juga program pengabdian masyarakat agar lebih peduli kepada masyarakat sekitarnya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Ini adalah salah satu bentuk implementasi MoU dengan para kepala daerah, bahkan beberapa kabupaten lainnya sudah meminta untuk di tempati KKN Unisnu,” ungkapnya.

Ide inovatif

Sementara itu Sekda Jepara Sholih dalam sambutannya mengharapkan mahasiswa mempunyai kesempatan untuk menerapkan ilmu yang telah didapat secara langsung, sehingga berbagai potensi diri mahasiswa bisa terus digali dan dikelola secara optimal.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Pak Bupati juga mengapresiasi serta titip pesan tadi, semoga tahun depan bisa bersinergi lagi dengan program pemerintah dalam program KKN berbasis pemberdayaan masyarakat,” terangnya.

Beberapa waktu yang lalu Bupati Jepara bersama Unisnu dan Yayasan Damandiri juga telah melakukan penandatanganan MoU berkaitan dengan program Posdaya yang dihadiri langsung oleh Subiyakto Tjakrawerdaya dari Yayasan Damandiri dan banyak menerangkan secara rinci tentang program-program Posdaya yang bisa dijalankan diwilayah Jepara dan sekitarnya.

“Program Pos Pemberdayaan Masyarakat sendiri telah dilaksanakan di beberapa daerah yang ditempati KKN. Kami mengawali di tahun 2016 ini,” terang ketua KKN Adi Sucipto dalam sambutannya.?

Lebih rinci, bahwa selama 40 hari mahasiswa mengabdikan diri di masyarakat, banyak respon positif yang didapat, contohnya di Kecamatan Juwana Pati warga masih membutuhkan peran mahasiswa untuk promosi secara online dan menggali potensi batik khas bakaran, atau di wilayah Mijen juga membantu warga melakukan penanaman pohon dalam menanggulangi tanggul sungai yang kritis. Bahkan mahasiswa selalu membimbing adik-adik PAUD/TK dalam belajar dan bermain.

Semua itu mahasiswa lakukan semata-mata sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat dalam bersosialisasi bersama tentang pentingnya pemberdayaan masyarakat sesuai tema tahun ini ? yakni “Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pengembangan Potensi Daerah Berbasis Penguatan Keagamaan”. (Syaiful Mustaqim/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 09 Februari 2018

Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu?

Hadits dhaif (kalau merujuk pada ilmu Musthalah Hadits) merupakan tingkatan hadits paling rendah setelah hadits sahih dan hasan. Hadits ini dikatakan dhaif hanya karena penisbatannya yang tidak begitu meyakinkan kepada Rasulullah SAW.

Sebabnya antara lain adalah silsilah sanadnya yang terputus, rawinya yang kurang kuat ingatannya, dan lain sebagainya. Namun apakah hadits ini bisa sama dengan hadits maudhu (palsu)? Hal ini akan dijelaskan dalam tulisan sederhana ini.

Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu? (Sumber Gambar : Nu Online)
Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu? (Sumber Gambar : Nu Online)

Bagaimana Sikap Muslim Terhadap Hadits Dhaif dan Hadits Palsu?

Syekh Khalil bin Ibrahim dalam sebuah karyanya Khuthuratu Musawatil haditsid Dhaif bil Maudhu menjelaskan secara panjang lebar terkait perbedaan itu. Ia mengecam sebagian kalangan yang menyamakan hadits dhaif dengan hadits palsu. Keduanya mempunyai perbedaan yang sangat jauh. Menyamakan keduanya termasuk suatu kesalahan fatal dalam beragama.

Syekh Khalil menjelaskan, di antara perbedaan hadits dhaif dan maudhu adalah sebagai berikut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Hadits dhaif pada dasarnya tetap dinisbatkan kepada Nabi Muhammad SAW, berbeda dengan hadits maudhu yang merupakan kebohongan yang diada-adakan (atas nama Nabi SAW).

Selain itu, penyebab dhaifnya sebuah hadits adalah keterputusan sanadnya, atau kelemahan-kelemahan yang bersifat manusiawi dari para perawinya seperti lemahnya daya ingat, sering ragu ataupun tersalah dalam menyampaikan sesuatu. Sedangkan hadits maudhu adalah hadits yang tidak bersumber sama sekali dari Nabi Muhammad SAW. Kemudian hadits dhaif boleh diriwayatkan secara ijmak, sedangkan hadits maudhu tidak boleh diriwayatkan sama sekali kecuali dengan menjelaskan kepalsuannya.

Selanjutnya, hadits dhaif tetap diamalkan berdasarkan ijmak ulama dalam hal-hal yang berkaitan dengan keutamaan (fadhail), anjuran kebaikan, dan larangan keburukan. Sedangkan hadits maudhu haram diamalkan. Serta hadits dhaif akan naik derajatnya menjadi hasan li ghairihi ketika ada sanad lain yang memperkuat kebenarannya. Sedangkan hadits palsu tidak akan mengalami kenaikan status sekalipun mempunyai puluhan ataupun bahkan ratusan hadits pendukung dari jalur yang berbeda-beda.

Ibnu Hajar Al-Haitami dalam kitab Ad-Durrul Mandhud sebagaimana yang dikutip juga oleh Sayyid Muhammad bin Alwi bin Abbas Al-Maliki dalam karyanya Ma Dza fi Sya’ban menyebutkan sebagai berikut.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Para imam dari kalangan ahli hadits dan ahli fikih telah sepakat, sebagaimana yang disebutkan juga oleh Imam An-Nawawi dan lainnya, tentang kebolehan beramal dengan hadits dhaif dalam hal fadhail (keutamaan-keutamaan), anjuran kebaikan dan ancaman keburukan. Tidak dalam perkara yang berkaitan dengan hukum halal dan haram, selama tingkat kedhaifannya tidak terlalu parah.”

Melihat sejumlah perbedaan itu, maka sangat naif kalau ada seseorang yang begitu entengnya membuang hadits dhaif seolah-olah itu bukan (tidak tergolong) sebagai perkataan Nabi sama sekali. Sementara itu di sisi lain, tidak terhitung banyaknya ulama yang mengamalkan hadits-hadits dhaif selama kedhaifannya tidak terlalu parah dan tidak mempunyai hadits pendukung dari jalur atau sanad yang lain.

Berikut ini kutipan beberapa pendapat ulama terkait hal tersebut. Pertama, Imam Nawawi dalam Fatawa-nya menyebutkan adanya konsensus (ijmak) di kalangan ulama terkait kebolehan mengamalkan hadits dhaif untuk hal-hal yang tidak berkaitan dengan akidah dan hukum halal dan haram.

Kedua, boleh mengamalkannya secara mutlak dalam persoalan hukum ketika tidak ditemukan lagi hadits sahih yang bisa dijadikan sebagai sandaran. Pendapat ini dinisbatkan kepada Imam Ahmad dan Abu Daud. Selain itu Imam Abu Hanifah dan Ibnul Qayyimil Jauziyyah juga mengutip pendapat tersebut.

Ketiga, hadits dhaif boleh diamalkan jika ia tersebar secara luas dan masyarakat menerimanya secara umum tanpa adanya tolakan yang berarti (talaqqathul ummah bil qabul). Keempat, boleh mengamalkannya ketika hadits dhaif tersebut didukung oleh jalur periwayatan lain yang sama atau lebih kuat secara kualitas darinya, sebagaimana yang dijelaskan oleh Imam At-Tirmidzi dalam karyanya. Wallahu a‘lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Website Kemenag Jawa Timur Sudutkan Amaliyah NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Website Kementerian Agama RI Jawa Timur sebagai portal resmi pemerintah setempat memiliki peran penting dalam memuat konten positif seperti gagasan perdamaian antarumat beragama, toleransi atas perbedaan di dalam agama, dan muatan positif lainnya. Namun disayangkan website Kemenag Jatim memuat panduan sembahyang yang menganulir amaliyah ratusan tahun nahdliyin.

Portal Kemenag Jatim secara eksplisit memojokkan amaliyah warga NU dalam rubrik ‘DATA’. Dalam rubrik ini, portal Kemenag Jatim memuat makalah berisi Dalil dan Gambar Gerakan Sholat Sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah karya Ustadz Achmad Rofi’i Lc M Mpd.

Website Kemenag Jawa Timur Sudutkan Amaliyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Website Kemenag Jawa Timur Sudutkan Amaliyah NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Website Kemenag Jawa Timur Sudutkan Amaliyah NU

Pada sub rubrik ‘PANDUAN SHOLAT’, dikatakan secara jelas, “Dan tidak perlu melafadzkan ‘Usholli….’ melalui mulutnya, akan tetapi niat tersebut cukup digerakkan dan disengajakan oleh hatinya bahwa dia akan sholat.”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (PP LDNU) H Syaifullah Amin menyayangkan hal ini bisa terjadi di lingkungan Kemenag RI Jatim. Terlebih lagi Jawa Timur merupakan salah satu basis terbesar warga NU. Ini cenderung melukai rasa beragama warga NU.

“Mestinya Kemenag RI harus adil dan menghargai pendapat orang lain. Bahkan adil juga dalam menyiarkan pendapat lain melalui fasilitas kementerian,” kata H Amin, Kamis (11/6) malam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Terutama karena pendapat mayoritas adalah yang memperbolehkan membaca ‘usholli’ sebelum takbiratul ihram. Pendapat mayoritas ini perlu ditenggang.

H Amin menegaskan bahwa kejadian ini harus dijadikan pelajaran oleh pihak Kementerian Agama RI di manapun agar tidak terulang. Atas kasus ini, pihak Kemenag RI perlu lebih berhati-hati memuat konten-kontennya agar lebih bersikap adil sebagai portal pemerintah dan tidak membuat keresahan di masyarakat. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Internasional, Lomba, News Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Hadirin yang saya hormati...  

SEJAK Indonesia merdeka pada tahun 1945 telah muncul tiga dokumen yang berisi konsep kebudayaan Indonesia. Ketiga dokumen kebudayaan itu adalah Surat Kepercayaan Gelanggang (1951); Mukaddimah Lembaga Kesesenian Rakyat (LEKRA,1956); dan Manifest Kebudayaan (1963).

Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Kebudayaan Ahmad Tohari: Membela dengan Sastra

Konsep kebudayaan yang dicitakan dalam Surat Kepercayaan Gelanggang mengacu ke arah kebudayaan Barat yang bersifat sekuler, antroposenstris serta elitis. Agaknya para pemikir kebudayaan saat itu masih sangat terpesona oleh kemajuan Barat sehingga mereka mencitakan kebudayaan Indonesia berkiblat ke Barat.

Situasi perang dingin yang mulai menghangat menjelang tahun 1960-an menyeret Indonesia ke dalam  tarik-menarik antara pengaruh blok Barat dan blok Timur, juga di bidang pemikiran kebudayaan. Maka sebagai tandingan atas lahirnya Surat Kepercayaan Gelanggang yang mengarah ke Barat, lahirlah Mukaddimah Lembaga Kesenian Rakyat (Lekra) yang  mengarah ke blok sosialis di Timur, sama-sama sekuler, antroposentris, tapi punya kecenderungan populis. Meskipun begitu, polemik kebudayaan pun berkecamuk sengit  di antara pendudukung kedua kubu tersebut.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di tengah sengitnya polemik antara pengikut “kebudayaan Barat” dan pengikut “kebudayaan Timur” yang sama-sama sekuler itu muncullah pada tahun 1963 Manifest Kebudayaan yang seolah-olah hadir sebagai konsep alternatif kebudayaan Indonesia. Tetapi ternyata Manifest Kebudayaan, yang pada kalimat terakhirnya berbunyi “Pancasila adalah falsafah kebudayaan kami”, disanggah dan dicerca habis-habisan oleh para pengikut Mukadimah Lekra.

Bagi para budayawan Lekra, baik SKG maupun MK mereka anggap sebagai konsep kebudayaan yang sama-sama borjuis. Dan pembantaian kebudayaan ini baru berakhir pada tahun 1965 setelah PKI dibubarkan, dan Lekra pun gulung tikar.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hadirin yang saya muliakan..

Saya mulai berkarya sastra pada tahun 1971. Sebagai pribadi yang dekat dengan orang-orang Lesbumi saya memilih dengan sadar konsep kebudayaan yang berfalsafah Pancasila sebagai yang tercantum dalam Manifest Kebudayaan. Karena mengakui Pancasila sebagai falsafah kebudayaan Indonesia maka dalam berkarya saya punya niatan yang lebih tinggi daripada sekadar kepentingan pribadi maupun kepentingan kesusastraan semata.

Demikianlah, maka selalu ada pertanyaan yang mendasar yang muncul ketika saya akan memulai menulis sebuah karya. Pertanyaan itu:

Pertama, “Mengapa kamu menulis karya sastra?”

Kedua, “Apa niatmu melakukan hal itu?”

Mengapa seorang sastrawan, dalam hal ini saya menulis karya sastra, jawabnya sederhana. Yakni, karena saya punya kegelisahan jiwa dan ingin melahirkan kegelisahan itu. Setelah kegelisahan itu lahir sebagai karya sastra, maka terserah kepada masyarakat; mau membaca, lalu menangkap kandungan nilai yang terkandung dalam karya sastra itu, atau membiarkan karya saya tersimpan di rak-rak buku. Dalam hal ini saya sebagai penulis sudah menyelesaikan bagian saya.

Tentang niat menulis karya sastra jawabannya banyak. Adalah sah apabila karya sastra ditulis dengan niat mengaktualisasikan diri. Siapa saja boleh membangun eksistensi dirinya dengan jalan menulis karya sastra. Bahkan boleh saja sebuah karya sastra ditulis dengan niat mendapatkan uang, dan mengarahkan karya itu agar laris di pasaran. Ada lagi jawaban yang sering terdengar bahwa sastra ditulis demi kesusastraan itu sendiri.

Sebagai orang biasa dalam dunia kesusastraan Indonesia, saya merasa semua penjelasan itu ada benarnya. Tetapi buat saya semua itu tidak menjadi jawaban yang tuntas. Memang karena menulis karya sastra maka saya mendapat uang, dan nama saya dikenal di tengah masyarakat. Namun masih ada yang belum terwakili melalui penjelasan itu. Uang dan nama bukan segalanya. Atau, apakah saya bersastra untuk kesusastraan semata? Tidak cukup juga. Penjelasan ini seperti membawa saya ke arah jalan buntu.

Hadirin yang saya hormati;

Setiap karya sastra lahir dari seorang yang berada dalam keadaan sadar. Dengan demikian karya sastra lahir dengan sebuah motivasi atau maksud. Dan bila maksud itu bukan hanya untuk pemenuhan kepentingan sempit (cari uang, cari nama, atau sastra untuk sastra) maka adakah sesuatu yang lebih mendasar?

Saya termasuk orang yang percaya bahwa setiap perbuatan akan dimintai pertanggungjawaban. Maka niat harus ditata dan dibangun dengan baik agar setiap karya sastra yang saya tulis bisa dipertanggungjawabkan. Jadi apa niat saya bersastra?

Seluruh karya sastra saya ditulis dengan niat menjalankan perintah, “Hai orang-orang beriman jadilah kalian pemebela-pembela Tuhan”.

Apakah Tuhan butuh pembelaan? Tuhan Mahaperkasa, Mahamandiri Mahakuasa, jadi Tuhan sama sekali tidak butuh pembelaan. Meyakini pribadi Tuhan butuh pembelaan adalah kekonyolan yang nyata. Maka kewajiban menjadi pembela Tuhan sesungguhnya adalah kewajiban membela amanat dan “alamat”-Nya.

Amanat Tuhan kepada manusia tidak lain adalah keadaban kehidupan, yang dibangun melalui penegakan nilai-nilai keadaban seperti keadilan, kebenaran, kasih sayang, martabat kemanusiaan, pranata sosial yang baik, dan seterusnya.

Jelasnya, amanat Tuhan kepada manusia adalah penyebaran kasih sayang kepada seluruh isi alam. Melalui karya sastra yang semuanya menyangkut kehidupan orang-orang terpinggirkan saya bermaksud memberikan kasih sayang kepada mereka. Tentu, pembelaan secara sastrawi melalui persaksian dan pewartaan tidak akan serta merta mengubah keadaan orang-orang teraniaya itu. Sastra hanya punya tugas mengetuk nurani masyarakat bila terjadi gejala yang menandai adanya pelanggaran terhadap nilai keadaban.

Maka apakah pembelaan terhadap nilai-nilai keadaban melalui karya sastra bisa berhasil?

Sastra hanya menyampaikan nilai-niai yang terkandung dalam suatu narasi cerita kepada pembaca. Sastra hanya menyapa jiwa. Maka pembaca sendiri yang, kalau mau, mengolah penghayatan nilai-nilai itu menjadi kesadaran dalam jiwanya. Dan bila perkembangannya berlanjut maka kesadaran itu akan bergerak menjadi perilaku nyata.       

Para hadirin yang baik..

Pemberdayaan sastra sebagai “pembelaan” terhadan Tuhan juga bisa diarahkan kepada (alamat-alamat) Tuhan. Tuhan Yang Mahabijaksana tentu mahatahu bahwa kita adalah ciptaan yang begitu lemah dan nisbi. Oleh karena kita tidak akan mampu mencapai Dirinya Yang Mahakuat dan Mutlak. Maka dengan kasih-sayang-Nya, Tuhan ‘menuliskan alamat-alamant-Nya’ di bumi yang bisa dan mudah kita capai. Demikian, maka orangtua kita, kaum miskin, anak yatim, mereka yang tertindas adalah orang-orang yang pantas kita yakini menjadi “alamat-alamat” Tuhan.

(Kita juga percaya tentang  adanya percakapan antara seorang penghuni neraka yang bertanya. “Ya Tuhan, mengapa aku Engkau masukkan ke dalam neraka ini?” dan Tuhan menjawab, “Karena kamu tidak menjenguk ketika Aku sakit.” Si penghuni neraka bertanya lagi, “Bagaimana Engkau Yang Mahakuasa sakit?” Tuhan menjawab, “Tetanggamu yang sakit, dan kau tidak menjenguknya.”)

Istilah ‘tetangga yang sakit” tentu bisa ditafsir secara lebih luas menjadi orang-orang di sekeliling kita yang menderita, baik secara badani, batini, maupun sosial. Mereka bisa berwujud sebagai kaum gelandangan, anak-anak yang tak sempat bersekolah, mereka yang dihukum secara zalim dan sebagainya.

Dan sastra yang bertanggung jawab kepada keadaban punya kewajiban membela mereka. Tentu sesuai dengan kodratnya, pembelaan yang yang bisa dilakukan oleh sastra terhadap “Aku yang sakit” yakni kaum miskin, mereka yang tertindas, dan sebagainya, adalah pembelaan yang bersifat moral-sastrawi. Demikian, karena sastra tidak punya kekuatan apapun kecuali sesuatu yang diharapkan bisa menyentuh kesadaran dan jwa manusia.

Hadirin yang mulia..

Karya sastra hanya bisa dilahirkan oleh mereka yang lebih dulu telah cukup membaca. Dan tentu bukan suatu kebetulan bila membaca merupakan perintah pertama Tuhan dalam kitab suci kita: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan ...”.

Sasaran apakah kiranya yang diperintahkan Tuhan untuk dibaca oleh manusia?

Tentu bukan hanya kitab melainkan apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi yang semuanya adalah milik Tuhan semata. Orang Minang bilang, alam takambang jadi guru, orang Jawa bilang, meguru maca sastra kang gumelar. Kedua ungkapan itu mempunyai maksud yang sama, bahwa manusia diperintahkan membaca seluruh ciptaan Tuhan yang ada di langit dan di bumi. Karena, tidak ada kesia-siaan dalam penciptaan setiap makhluk; semuanya hadir membawa bukti-bukti kebesarannya.

Bila manusia  membaca dengan nama Tuhan terhadap sasaran yang baik maupun sasaran buruk, dia akan mendapat berkah ilmu dan kearifan. Membaca sejarah atau perilaku orang baik akan didapat pengetahuan dan kesadaran untuk menirunya.

Sebaliknya, membaca dengan nama Tuhan perilaku orang-orang yang mungkar maka akan dapat pengetahuan dan kesadaran untuk tidak menolaknya. Bahkan pembacaan yang ikhlas atas benda-benda yang kotor pun kita akan sampai kepada tanda-tanda kebesaran Tuhan. Misalnya, di bawah lensa mikroskop kita akan melihat kehidupan mahluk ciptaan Tuhan yang berwujud jutaan bakteria dalam secuil tinja manusia.

Hadirin yang terhormat...

Dalam pengalaman pribadi sebagai sastrawan, saya pernah menghadapi kondisi batin yang berat yakni ketika hendak menulis novel Ronggeng Dukuh Paruk pada tahun 1980.

Novel tersebut menceritakan kehidupan seorang ronggeng yang dituduh terlibat dalam pemberontakan PKI tahun 1965. Dua kata kunci “ronggeng” dan “PKI” adalah dua hal  yang sering dianggap berada di luar batas wilayah kesantrian dari mana saya berasal. Selain itu, hal-hal yang berbau PKI adalah isu yang amat sensitif pada era Suharto terutama di mata aparat keamanan.

Maka ketika novel ini selesai terbit pada tahun 1984, sebagian masyarakat menanggapinya dengan bertanya bernada menggugat, mengapa sasaran yang saya pilih adalah dunia ronggeng, yang terlibat PKI pula? Ya, semua orang tahu ronggeng adalah perempuan penari kesenian radisi yang mengobral birahi. Maka pantas para santri dicegah untuk menjauhinya.

Tetapi pada sisi lain, sejak saya masih ingusan dan ikut tahlilan selalu dibacakan ayat, “Kepunyaan Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi..”.

Maka saya pun berpikir dan percaya perwujudan ronggeng pun merupakan gejala  yang harus dibaca (dengan nama Allah); dari mana, bagaimana, mengapa. Dengan demikian  kita bisa menyikapinya dengan pengetahuan cukup.

Hadirin yang saya muliakan...

Mulai tahun 1960 PKI mulai membangun kekuatan fisik untuk melakukan makar. Di daerah saya, Banyumas, mereka membentuk kekuatan bersenjata di bawah tanah. Pasukan ini sering melakukan perampokan untuk merampas harta sekaligus menciptakan kerawanan sosial. Kurang ajarnya mereka mengaku sebagai pasukan DI/TII ketika melakukan penggarongan dan pembunuhan. Kami baru tahu siapa mereka sebenarnya setelah mereka tertangkap. Di antara pasukan yang mengaku DI/TII itu ada guru saya yang menjadi aktivis PKI.

Dalam dunia sastra, saya membaca karya-karya penulis kiri di Harian Bintang Timur dan Harian Rakyat serta buletin Indonesia Baru. Mereka suka sekali menista para tokoh agama; terutama kiai dan haji. Keluarga kami sendiri dinistakan oleh Barisan Tani Indonesia (di bawah PKI) sebagai tuan tanah dan setan desa yang harus diganyang hanya karena kami memiliki 1,5 hektar sawah. Maka tak kurang-kurang rasa sakit saya karena ulah orang-orang komunis.

Maka saya senang ketika PKI ternyata kalah dalam kudeta tahun 1965. Tetapi kemudian saya melihat gejala yang luar biasa. Rumah mereka dibakar massa. Bahkan mereka ditembak mati di depan umum, di depan mata saya. Di seluruh Indonesia ratusan ribu dibunuh. Keluarga mereka dilucuti hak-hak sipilnya hingga tiga atau empat generasi. Ini gejala kemanusiaan yang dahsyat, dan muncul pertanyaan dalam jiwa saya; apakah kekejaman massif ini tidak melanggar keadaban? Dan, bagaimana saya harus memahami sabda Tuhan bahwa Dirinya adalah Zat Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang?

Demikian, maka dalam novel RDP terasa ada empati saya terhadap mereka, terutama terhadap orang-orang biasa yang dibunuh karena dituduh terlibat PKI. Dalam keyakinan saya, empati ini adalah pembelaan terhadap keadaban yang menjadi amanat Tuhan. Sayangnya, pihak aparat keamanan memandang sikap saya ini sebagai bukti kedekatan saya dengan kaum komunis sehingga saya diinterograsi selama lima hari di Jakarta. Lima hari yang berat. Untung pada hari kelima ada interogrator yang bertanya kepada saya, adakah orang yang bisa menjamin bahwa saya bukan simpatisan komunis.

Pertanyaan tersebut terasa indah di telinga saya. Maka kemudian saya menulis sebuah nama dengan nomor telponnya. Saya menyilakan para interogrator menghubungi si empunya. Nama yang saya tulis: Abdurrahman Wahid.

Mereka ternyata membeku saja, dan saya boleh pulang.

Hadirin yang saya hormati...

Saya mengakhiri pidato ini dengan permohonan ampunan kepada Tuhan atas segala kesalahan saya, serta permohonan maaf kepada para hadirin atas segala kelancangan saya. Wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.                                           

                                                                                                    

Jakarta, 28 Maret 2014,                                                                         

 

 

Ahmad Tohari

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kamis Pagi (16/3) sekitar pukul 06.15 WIB Ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Hasyim Muzadi berpulang ke Rahmatullah. Kiai Hasyim Muzadi, Ketua PBNU periode 1999-2009 dipanggil Allah SWT setelah beberapa kali dirawat dirumah sakit pada usia 72 tahun.

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pendiri International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini merupakan Ulama yang kiprahnya sudah mendunia. Keuletan dan komitmennya dalam menyebarkan Islam rahmatan lil alamin sudah diakui oleh dunia.

Kesan inilah yang dirasakan oleh Ketua MUI Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid ? pernah mendampingi lawatan Kiai Hasyim ke luar negeri dalam rangka syiar Islam.

"Saya tidak hanya kenal, bahkan memiliki hubungan dekat. Saya pernah diberi kesempatan untuk mendampingi beliau ke Negeri China selama 8 hari pada 4-12 Juni 2007 untuk melakukan muhibbah, dan menyebarkan paham Islam rahmatan lil alamin pada komunitas muslim di negri tirai bambu itu," kata Kiai Khairuddin yang saat itu menjadi Ketua PWNU Provinsi Lampung periode 2002-2007.

Menurutnya, Kiyai Hasyim Muzadi adalah sosok yang populer dan populis. Ia adalah seorang agamawan dan sekaligus negarawan. "Wawasan beliau sangat luas, tidak hanya dalam bidang agama, tetapi juga sangat mendalam pengatahuannya tentang politik, hukum, budaya dan sejarah," tegasnya, Kamis siang (16/3).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain sebagai seorang ulama kharismatik tambahnya, Kiyai Hasyim juga merupakan seorang kiai yang sangat jenaka. "Saya ingat betul kumpulan kejenakaan beliau dirangkum dalam sebuah buku," jelas Kiai Khairuddin yang juga memiliki selera humor yang tinggi ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemikiran Kiai Hasyim menurutnya sangat orisinil dan visioner jauh kedepan. "Sering beliau mengatakan, orang zaman dulu itu, kalau ngomong sesuatu yang berat, yang rumit, bisa dibicarakan dengan cara yang mudah. Sementara orang zaman sekarang, ngomong hal mudah, tapi dibicarakan dengan cara yang sulit dan ruwet. Menurut mereka semakin rumit ngomongnya semakin ilmiah," kata Kiai Khairuddin diiringi senyum khasnya.

Kiai Khairuddin berharap ummat Islam khususnya warga NU mampu meneladani kiprah dan kepribadiannya. "Kami warga NU bangga punya tokoh panutan seperti beliau. Kami sangat terkesan dengan kesantunan dan kearifan beliau. Kami butuh tokoh seperti beliau. Selamat jalan Pak Kiai Hasyim, semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia, amin," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Habib, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Bahtsul Masail Nasional di Yogyakarta Dimulai

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pembahasan masalah-masalah kegamaan atau Bahtsul Masail Diniyah Nasional PBNU yang diselenggarakan di pesantren Sunan pandanaran, dimulai sejak Selasa (2/7) siang kemarin.

Bahtsul Masail Nasional di Yogyakarta Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Nasional di Yogyakarta Dimulai (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Nasional di Yogyakarta Dimulai

“Saya pribadi senang berkenaan dengan pesantren sunan pandanaran dijadikan sebagai tempat bahsul masial. para ulama-ulama, kiai-kiai datang dari Indonesia berkenaan memberikan berkah pada pesantren kami,” kata KH. Mu’tashim Billah, pengasuh Pesantren Pandanaran.

Senada dengan KH. Mu’tashim Billah, KH Zulfa Mustafa, ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PBNU juga mengungkapkan kegembiraannya atas terselenggaranya Bahtsul Masail di Pesantren Pandanaran.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Jika Kiai Mu’tashim tadi mengatakan senang, LBM PBNU malah lebih bahagia lagi. Karena amanah PBNU bisa dilaksanakan di Pesantren Pandanaran ini,” ujar KH Zulfa Mustafa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain itu, KH Zulfa Mustafa juga menyinggung tentang bahsul masail sebagai ruhnya NU.  “Banyak kiai-kiai yang bilang, bahwa NU ya pesantren dan pesantren ya Bahsul Masail. Bisa dikatakan bahwa memang Bahsul Masail adalah ruhnya NU,” ungkanya dengan menggebu-nggebu.

Sementara itu, KH Ahmad Ishomudin, Rais Syuryiah PBNU, dalam sambutannya memaparkan tentang fungsi Bahsul Masail.

“Ada beberapa hal yang menjadi fungsi dari Bahtsul Masail. Pertama, fungsi ilmiah, karena tidak ada pendapat yang dikeluarkan tanpa lmu, tanpa landasan dan tanpa rujukan. Kedua, fungsi silaturrahmi, karena setiap bahsul masail itu bisa mengukuhkan kembali hubungan-hubungan yang sempat terputus. Ketiga, fungsi konsolidasi. Dan terakhir, menjelang pilpres 2014, Bahsul masail barangkali bisa berfungsi siasat,” Ujar KH Ishomudin panjang lebar.

Acara yang akan berlangsung selama dua hari tersebut, dihadiri oleh para kiai dari perwakilan seluruh Indonesia. Materi yang akan dibahas dalam acara tersebut, antara lain, tentang tindak pidana pencucian uang, outsourcing dalam perspektif Islam, mekanisme fiqhiy biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH), dan badal thawaf ifadhah. 

Redaktur   : A. Khoirul Anam

Kontributor: Rokhim 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 20 Januari 2018

Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum

Dubai, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sebuah saluran televisi budaya di Arab Saudi, Al-Tsaqafiyah TV, untuk pertama kalinya menayangkan konser musik pada tengah malam. 

Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama Kali, Stasiun TV Saudi Tayangkan Konser Musik Umi Kulsum

Dalam akun Twiternya, seperti dikutip Al Arabiya, pihak Al-Tsaqafiyah TV mengumumkan akan menayangkan konser musik penyanyi kenamaan asal Mesir, Umi Kulsum.

(Baca juga: Pemerintah Mesir Tangkap Ulama al-Azhar karena Nyanyi di Televisi)

Dalam pengumuman di Twitter itu juga disertakan tautan bagi siapa pun yang ingin menonton rekaman konser musik penyanyi masyhur yang wafat pada 1975 tersebut secara online.

Penayangan konser musik di televisi merupakan peristiwa langka di negeri kaya minyak yang dikenal konservatif ini selama 30 tahun terakhir.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal



(Baca: Perayaan Hari Nasional Saudi, dari Konser hingga Tarian Tradisional)

Seorang penyanyi Saudi, Abdul Majeed menyambut gembira dengan perkembangan ini di negaranya. Ia mengaku akan hadir secara langsung bersama keluarganya dalam konser berikutnya yang digelar di Jeddah, sebagaimana mereka hadir dalam konser di Dubai dan Kuwait.

"Kerajaan kita yang tercinta ini telah memasuki era baru yang akan membawa kita semua pada hal yang baik. Sesuatu yang lebih baik lagi akan tiba saatnya," tambahnya. (Red: Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ulama, AlaSantri, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Tercatat sejak 18 Juli 2017 hingga 11 Agustus 2017 mendatang, empat mahasiswa asal Thailand, melakukan teaching internship program difasilitasi Universitas Muria Kudus (UMK). Teaching internship program dilakukan di dua sekolah mitra UMK, yaitu SMAN 2 Bae dan Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kudus.

Empat mahasiswa dari Hatyai University itu adalah Mr. Fakkrudien Buhas, Ms. Sureeyatee Salon, Mr. Khoirol Sahoh dan Hamedah Saah. Pertama kali menginjakkan kaki di Kudus, mereka diterima antara lain oleh Subarkah (Wakil Rektor IV), Rochmad Winarso (Wakil Rektor IV), dan Slamet Utomo (Dekan FKIP).

Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)

Di Kudus, Mahasiswa Thailand Diajak Pahami Khazanah Budaya

Usai menerima para mahasiswa dari Thailand itu, Subarkah berpesan kepada dosen pendamping agar mereka dikenalkan dengan kekayaan budaya serta kuliner lokal di tanah air, khususnya di Kabupaten Kudus.

"Saya berharap mahasiswa dari Hatyai University diajak menikmati khazanah budaya dan kuliner Indonesia, khususnya di Kudus. Di Kudus ini ada Menara Kudus, ada Museum Kretek, dan lainnya. Kuliner khas, antara lain ada Garang Asem, Lentog Tanjung, juga Jenang Kudus," paparnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Diah Kurniati, salah satu dosen pendamping, mengatakan, bahwa para mahasiswa asal Thailand itu memiliki kesan yang sangat baik selama di Kudus. “Mereka sudah kami ajak berkunjung ke Menara Kudus, mencicipi Garang Asem dan Lentog Tanjung, bahkan tertarik mengikuti Car Free Day (CFD),” katanya.

Selain itu, dalam beberapa hari ke depan, mereka akan kami ajak untuk berkunjung menikmati aneka destinasi wisata dan kuliner di Yogyakarta. “Belum lama ini, bersama mahasiswa UMK, para maahasiswa asal Thailand juga telah diajak berkunjung ke Kabupaten Jepara,” tuturnya.

Sedang di UMK, academic activities yang diikuti oleh para mahasiswa Thailand itu, lanjut Diah Kurniati menambahkan, antara lain diajak untuk berlatih karawitan bareng mahasiswa, tari kretek, dan dikenalkan dengan Bahasa Indonesia. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 13 Januari 2018

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejumlah akademisi menyerukan pentingnya Islam moderat untuk masa depan kedamaian di Indonesia. Seruan ini didukung oleh Petisi ratusan akademisi dari 107 PTAI (Perguruan Tinggi Agama Islam) dari berbagai kawasan di Indonesia, yang bertemu pada Seminar Nasional dan Call for Paper "Menyemai Militansi Akademisi Berbasis Keilmuan Aswaja" di Universitas Islam Malang, Rabu (17/5).

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)
107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Sumber Gambar : Nu Online)

107 PTAI Se-Indonesia Deklarasikan Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara

Seminar ini menandai deklarasi Asosiasi Dosen Aswaja Nusantara (Asdanu) yang diikuti dosen-dosen Aswaja dari 107 perguruan tinggi. Asdanu merupakan Asosiasi Dosen Aswaja,? yang diinisiasi oleh Universitas Islam Malang (Unisma), Universitas Islam Raden Rahmat Malang (UNIRA), Universitas Hasyim Asyari Jombang (Unhasy), Universitas KH Abdul Wahab Hasbullah (Unwaha), Inistitut Pesantren KH Abdul Chalim (IKHAC) Pacet Mojokerto, Universitas NU Sidoarjo, dan Universitas Sunan Giri.

Hadir pada forum ini, Prof Dr KH Tholhah Hasan (Ketua Dewan Pembina Unisma, Mustasyar PBNU), Prof Dr Abdurrahman Masud (Puslitbang Kementrian Agama), Prof Dr Masykuri (Rektor Unisma), Marsudi Nurwahid (Jurnalis), beberapa rektor perguruan tinggi, serta ratusan dosen-peneliti dari berbagai kampus.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

KH Tholhah Hasan mengungkapkan pentingnya akademisi berpikiran terbuka dan berwawasan luas. Khususnya, tentang perbedaan pemaknaan Ahlussunnah wal Jamaah. "Saya pernah berbincang dengan beberapa pimpinan Islam radikal, ISIS dan FPI. Semuanya mengaku bagian dari Ahlussunnah wal Jamaah. Maka, kita harus jeli dan tegas tentang ideologi aswaja," ungkap Kiai Tolhah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Tolhah menambahkan, bahwa peneliti dan dosen yang memiliki konsentrasi di bidang keislaman harus memahami isu-isu pluralisme lintas madzhab. "Di dalam aswaja, ada perbedaan-perbedaan yang harus dipahami. Antara madzhab Syafii, Maliki, Hanbali dan Hanafi, ada perbedaan-perbedaan mendasar. Harus ada pemahaman pluralis, ini yang harus dilakukan," tegas Kiai Tolhah.

"Aswaja yang dikembangkan Kiai Indonesia, yang kemudian menjadi NU adalah Aswaja yang paling moderat dan toleran,” sambung Menteri Agama era Presiden Gus Dur ini.

Rektor Unisma, Masykuri mengungkapkan, ada dinamika di perguruan tinggi terkait dengan gerakan keislaman. "Saya melakukan riset mendalam di beberapa kampus umum, ada potensi radikal terutama dari mahasiswa yang kuliah di jurusan sains. Sebagian dari mereka membentuk gerakan politik untuk berkontestasi pada kepemimpinan Indonesia masa depan," jelas Masykuri.

Dalam pandangan Masyukri, tindakan pemerintah melarang organisasi radikal sudah tepat. "Langkah Pemerintah melarang HTI sudah tepat, agar tidak mengancam masa depan dan kesatuan Indonesia," ungkap Masykuri.

Ratusan dosen-peneliti yang tergabung dalam Asdanu mendeklarasikan dan mengkampanyekan Islam moderat dalam riset-riset ilmiah dan pengajaran di kampus. (Yusuf Suharto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Berita, Khutbah, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Pesantren Sunan Drajat Lamongan Jadi Tuan Rumah MTQ dan Fantasi 2016

Lamongan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Perhelatan Musabaqah Tilawatil Quran Jawa Timur dan Festival Santri Berprestasi (Fantasi) Nasional akan digelar pada 23-25 Desember 2016 mendatang. Berbagai bersiapan dilakukan oleh panitia. Pesantren Sunan Drajat, Lamongan dipilih sebagai tempat MTQ Jawa Timur ke 13.

"Pesantren Sunan Drajat dinilai sudah sangat layak menjadi tuan rumah MTQ Jawa Timur dengan didukung sejumlah sarana prasarana yang ada di pesantren," kata H Zainul Arifin, Ketua PW JQH NU Jatim.

Pesantren Sunan Drajat Lamongan Jadi Tuan Rumah MTQ dan Fantasi 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Sunan Drajat Lamongan Jadi Tuan Rumah MTQ dan Fantasi 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Sunan Drajat Lamongan Jadi Tuan Rumah MTQ dan Fantasi 2016

Untuk mematangkan persiapan, panitia wilayah (Pusat) telah melakukan survei tempat pembukaan, penginapan peserta, pawai taaruf hingga pada tempat pendaftaran. Setelah melakukan survei, panitia pusat melaksanakan rapat gabungan dengan panitia JQH NU Cabang Lamongan dan panitia pesantren pada Ahad (21/8).

"Rapat perdana ini untuk taaruf antara panitia pusat, panitia cabang dan panitia pesantren, supaya kenal siapa saja anggota timnya," lanjut pria kelahiran Sidoarjo ini.

KH Abdul Ghofur, Pengasuh Pesantren Sunan Drajat mengatakan sangat senang pesantrennya menjadi tuan rumah event ahlil Quran ini. "Kalau ini sukses, kami siap menjadi tuan rumah MTQ tingkat Nasional," kata Kiai Ghofur saat ditemui di kediamannya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Untuk mensukseskan acara ini Kiai Ghofur siap menutupi apa yang menjadi kekurangan panitia MTQ dan Fantasi. Direncanakan Presiden RI akan membuka perhelatan Fantasi Nasional dan MTQ Jawa Timur. "Nanti saya coba membangun komunikasi dengan Presiden RI," kata Kiai Ghofur dihadapan panitia Fantasi dan MTQ Jatim ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rencana kehadiran Presiden RI ini disambut positif oleh panitia yang sebelumnya hanya direncanakan menghadirkan Menteri Agama RI dan Ketua Umum PBNU. "Kalau Presiden RI yang membuka ini menjadi sejarah baru bagi Fantasi Nasional yang pertama kali dihelat di Jawa Timur ini," kata H Syaroful Minan, Ketua Panitia MTQ dan Fantasi. (Rof Maulana/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, Nahdlatul Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Bupati Bener Meriah Dukung Penuh LSN 2017

Bener Meriah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Kabupaten Bener Meriah senang sekali diberi kesempatan sebagai tuan rumah kompetisi Liga Santri  Nusantara (LSN) Region Sumatera 2, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Demikian disampaikan oleh Bupati Bener Meriah Ahmadi dalam sambutan kick off LSN Region 2, Selasa pagi (12/9), di lapangan Bataliyon 114/Satria Musarq, Kabupaten Bener Meriah.

Bupati Bener Meriah Dukung Penuh LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Bener Meriah Dukung Penuh LSN 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Bener Meriah Dukung Penuh LSN 2017

Dia mengatakan keterbatasan penyelenggaraan tidak boleh menyurutkan semangat pertandingan. "Sebagai pengganti kekurangan penyelenggaraan, bupati Bener Meriah akan memberikan hadiah untuk kategori pencipta gol terbanyak dan pemain terbaik kompetisi ini," kata bupati disambut tepuk tangan tidak kurang dari 500 orang dari pelbagai unsur.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ahmadi meminta para santri di seluruh Aceh, khususnya yang bertanding di Sumatera Region 2 menunjukkan kemampuannya dalam bidang olahraga, tidak hanya pandai mengaji.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kompetisi ini adalah kesempatan para santri menunjukkan kemahiran di bidang olahraga, tidak hanya mengaji. Semangat, sportif, dan yang serius. Yang juara nanti akan ke Bandung. Di sana akan ketemu santri seluruh Indonesia," terang Ahmadi berapi-api.

Sementara itu Ketua Panitia Pelaksana Region Sumatera Region 2 Tgk. Bahruddin mengungkapkan rasa syukur atas pembukaan yang telah sukses dilaksanakan. "Ini kesuksesan kita bersama pihak pesantren, teungku,  pemda, TNI, PSSI dan masyarakat Bener Meriah. Semoga hasilnya nanti terbaik untuk kita semua," ujar Bahruddin seusai acara pembukaan. dilaksanakann dan kekompakan semua pihak.

LSN di Aceh tahun ini dibagi dua region dari 5 region di Pulau Sumatera. Region pertama meliputi Banda Aceh, Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Sigli, Aceh Utara, Bireuen, Kota Loksumawe, Aceh Timur, Aceh Tamiyang, dan Kota Sabang. Pertandingan akan diadakan di lapangan KH Murtadha, Banda Aceh.

Dan region kedua meliputi Bener Meriah, Aceh Tengah, Gayo Luwes, Aceh Tenggara, Subulussalam, Singkil, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Nagan Raya, dan Kota Semeulu.

"Aceh dibagi jadi dua karena luasnya daerah dan banyaknya pesantren mengikuti LSN tahun lalu. Permintaan ini dari dayah-dayah, santri-santri senang bola, para teungku pun mantan pemain bola banyak sekali," terang Bahruddin.

Secara keseluruhan LSN di Aceh diikuti 45 tim dari pondok pesantren dengan 23 pertandingan. Dua tim pemenang dari masing-masing region akan bertanding di Bandung, Oktober mendatang. (Hamzah Sahal)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pesantren, Santri, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

NU Kota Pekalongan Punya Radio

Pekalongan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Pekalongan periode 2012-2017 menggebrak dengan program unggulannya, yakni mendirikan radio komunitas dengan nama "Radio Aswaja FM".

NU Kota Pekalongan Punya Radio (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Kota Pekalongan Punya Radio (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Kota Pekalongan Punya Radio

Meski pendirian radio telah digagas sejak lima tahun yang lalu, namun keinginan mengelola radio sendiri bari bisa dipenuhi pada tahun 2013 bersamaan dengan peluncuran program yang disyahkan pada forum musyawarah kerja cabang (Muskercab) NU yang berlangsung Jumat (22/2) di Gedung Aswaja Pekalongan.

"Selama ini jika akan mempublikasikan berbagai kegiatan di lingkungan NU selalu mengalami kesulitan, terutama penyampaian informasi informasi penting seperti informasi awal ramadhan maupun idul fitri," ujar H. Muhtarom Sekretaris PCNU Kota Pekalongan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dengan memiliki radio sendiri, ujar Tarom, NU akan lebih leluasa mengembangkan program dakwah ala Ahlussunnah wal Jamaah yang sejuk dan damai. Pasalnya, meski di Pekalongan telah banyak radio bermunculan, akan tetapi belum ada yang bisa mewakili kebutuhan Nahdliyyin.

Radio Aswaja FM melengkapi media yang sebelumnya telah dimiliki PCNU Kota Pekalongan, yakni media online www.nubatik.net yang diharapkan dapat menyebarkan berbagai kegiatan di lingkungan NU, khususnya penanaman nilai nilai ajaran Islam yang ramah bukan Islam yang marah, kata H. Tarom.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Peresmian radio yang dilakukan oleh Ketua PBNU Prof. Dr. Ir. Mashum Mahfudz ditandai dengan pembukaan selubung papan nama radio disaksikan Wakil Walikota Pekalongan, Ketua DPRD Kota Pekalongan, pimpinan ormas Islam dan Parpol, tamu undangan dan ratusan delegasi Ranting dan MWC NU se Kota Pekalongan.

Ketua PCNU Kota Pekalongan, H. Ahmad Rofiq berharap radio Aswaja FM dapat mewarnai pola kehidupan masyarakat Pekalongan dan religius melalui program program yang telah disiapkan oleh manajer radio.

Beberapa program unggulan yang saat ini sedang dipersiapkan ialah "pengajian kitab kuning", "taushiyah kiai", "umat bertanya kiai menjawab" dan problema solusi yang dikemas melalui bahasa dialogis mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.

Dikatakan Rofiq, program unggulan pengajian kitab kuning, sebuah acara yang dikemas dalam bentuk rekaman mengkaji kitab kitab klasik karya para ulama salafus sholihin dengan metode bandongan, yakni guru sebagai pembaca kitab dengan berbagai penjelasannya, sedangkan murid atau santri mensyarahi kitab dengan tulisan Arab Pego.

Program pengajian kitab kuning lewat radio diharapkan akan memudahkan para santri atau alumni santri putra-putri bisa mengikuti pengajian tanpa harus datang ke majelis pengajian, akan tetapi cukup mendengarkan lewat radio pada jam jam yang telah ditentukan. 

Redaktur     : Hamzah Sahal

Kontributor : Abdul Muiz

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Fragmen, Pemurnian Aqidah, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa menghimbau para Pimpinan Wilayah, Cabang dan perguruan Pagar Nusa melaksanakan shalat ghaib dan tahlil untuk sang guru, penasihat, bahkan salah seorang pendiri Pagar Nusa KH Suharbillah, yang tutup usia, Senin (25/8) malam di Sedayu, Gresik, Jawa Timur.

Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat

“Kami selaku Pimpinan Pusat Pencak Silat Pagar Nusa mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya dan menghimbau kepada Pimpinan Wilayah, Cabang dan perguruan Pagar Nusa melaksanakan shalat ghaib dan tahlil untuk beliau, semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya,” demikian Ketua Umum PP Pagar Nusa dalam Gus Aizuddin Abdurrahman dan Sekretaris Umum MH Nabil Haroen dalam pesan singkatnya kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.

KH Suharbillah tercatat sebagai salah seorang pendiri Pagar Nusa, bahkan ia adalah sang inisiator. Tahun 1985, ia menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan keinginan para pendekar untuk membentuk organisasi. Keduanya lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri.

Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah para kiai dan pendekar di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “Pagar Nusa” yang merupakan kepanjangan dari “Pagarnya NU dan Bangsa. Pengukuhan dilakukan oleh Rais Aam KH Achmad Siddiq dan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. (A. Khoirul Anam)

Gambar: KH Suharbillah menunjukkan satu gerakan silat Pagar Nusa dalam satu acara halaqah silat di PBNU. (Foto Tachsin Sanjaya)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Pengurus Pusat (PP) Fatayat Nahdhatul Ulama (NU) melaunching program Gerakan Perlindungan Anak dari Tindak Kekerasan yang disingkat Gelatik. Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Sari Pan Pasific, Senin (19/9) ini dihadiri pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) serta perwakilan organisasi dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM).

Dalam sambutannya, Ketua PP Fatayat NU, Anggia Ermarini menjelaskan, program Gelatik dilatarbelakangi maraknya tindak kekerasan yang menimpa anak akhir-akhir ini. Apalagi, sebagai organisasi Fatayat NU juga fokus terhadap kasus-kasus sosial kemasyarakatan salah satunya terkait tindak kekerasan.

Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersinergi dengan KPPPA, Fatayat NU Launching Program Gelatik

"Sejak terbentuk memang Fatayat jelas fokus terhadap masalah sosial yang ada. Kali ini, kami khusus memprogramkan Gelatik agar anggota-anggota Fatayat hingga tingkat Pengurus Anak Ranting turut serta melindungi anak-anak dari kekerasan," ujarnya.

Ditambahkan, sementara ini sebagai langkah awal akan program Gelatik akan dilakukan di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Lampung Timur sebagai pelopor awal. "Rencana ke depan semoga bisa menyeluruh ke semua tingkatan pengurus Fatayat NU," imbuhnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain launching program, juga dilakukan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) dengan KPPPA sebagai tindaklanjut program dalam jangka panjang serta turut serta mengantisipasi masalah kekerasan di Indonesia.

Sementara itu, Deputi Perlindungan Anak KPPPA, Pribudiarta Nur Sitepu mengapresiasi kegiatan yang diprogramkan pihak PP Fatayat NU. Selain itu, pihaknya juga mengharapkan partisipasi semua elemen untuk menanggulangi masalah kekerasan ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Selama ini, pihak KPPPA sudah mencanangkan berbagai program mulai Kota Layak Anak (KLA) hingga Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat (PATBM) yang melibatkan langsung masyarakat dari semua tingkatan," ujarnya.

Dia yakin, kesadaran untuk menjaga anak sebenarnya menjadi tanggung jawab bersama sehingga harus bersinergi. "Selama ini, masalah-masalah anak terjadi karena orang tua kurang peduli, anak yang tak mampu memahami situasi hingga kurangnya komunikasi antar keluarga," jelasnya. (Mahbib Khoiron)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Quote, Kiai, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 12 Desember 2017

Ribuan Santri Wonosobo Adakan Festival Yanbu’a

Wonosobo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ribuan santri Taman Pendidikan al-Qur’an, Madrasah Diniyah, dan Majelis Taklim se-Kabupaten Wonosobo memadati Alun-alun, Gedung Adipura, serta Masjid Agung Jami Wonosobo, Ahad (19/2).

Para santri dari lembaga pendidikan yang menggunakan metode Yanbu’a (Thoriqoh Baca Tulis dan Menghafal al-Qur’an) ini tengah melaksanakan kegiatan tahunan, Festival Yanbu’a.?

Ribuan Santri Wonosobo Adakan Festival Yanbu’a (Sumber Gambar : Nu Online)
Ribuan Santri Wonosobo Adakan Festival Yanbu’a (Sumber Gambar : Nu Online)

Ribuan Santri Wonosobo Adakan Festival Yanbu’a

Festival Yanbu’a yang menjadi agenda rutin Lajnah Muroqobah Yanbu’a (LMY) Wonosobo ini meliputi kegiatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an dan Hifdzil Qur’an (lomba seni baca dan menghafal al-Qur-an), Khottil Qur’an , Menggambar, Karikatur, Karya ilmiah Al quran, Syarhil Qur’an, Fahmil Qur’an ? serta resensi kitab.

Festival kali ini, dua minggu sebelumnya diadakan halaqoh Ustadz-ustadzah bersama KH M. Ulil Albab Arwani dari Kudus sebagai muallif kitab Yanbu’a dan juga A’wan Syuriyah PBNU. Dalam kesempatan Halaqoh tersebut, Kiai Bab (panggilan akrabnya) memberikan materi Qiro’ah, riwayat serta Thoriq dalam pembacaan al-Qur’an, serta penulisan al-Qur’an Rosm Utsmani.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam Festival kali ini juga diadakan lounching penulisan al Qur’an Rosm utsmani dari santri TPQ. Kegiatan ini merupakan manistasi kecintaan kita kepada al qur’an dan sekalaigus tanggung jawab terhadap peradaban umat islam dan bangsa Indonesia dalam membangun generasi yang unggu. Sebab tidak akan muncul peradaban yang baik manakala tanpa ada ikhtiar untuk mencapai itu.?

“Peradaban akan terangi al Qur’an mankala ada pembelajaran al Qur’an. Jadi belajar al qur’an adalah membangun peradaban. Ngaji adalah berperadaban, berperadaban bertarti keren, maka ngaji adalah keren,” ujar Ustadz Saifudin Koordinator festival dalam sambutannya.

Kegiatan bertema “Ngaji itu keren” tersebut berlangsung sehari penuh. Selain menjadi ajang silaturahmi para pegiat al-Qur’an, momen ini juga untuk memotivasi anak agar semakin giat belajar dan mencintai kitab suci itu.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di tengah-tengah para ustadz, wali santri, para santri, dan kiai, turut hadir Habib Aqil Ba’abud dan kyai Muhadzir dalam acara pembukaan. Kegiatan yang semakin meriah dari tahun ke tahun ini diawali dengan pawai ta’aruf keliling kota Wonosobo yang diikuti para santri, wali santri, dan pengurus dengan iringan kesenian.

Kegiatan ini akan berakhir pada bulan maret 2017 dengan acara Khotmil Qur’an serta pentas seni dan ditutup dengan pembagian Piala. (Murdianto/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, Pendidikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 10 Desember 2017

Alumni Pesantren Guyangan, Ketua Baru Fatayat NU Mesir

Kairo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Konferensi Cabang (Konfercab) Ke-7 Fatayat NU Mesir memberikan amanah kepada Saidatul Arnia sebagai ketua baru Pimpinan Cabang Istimewa Fatayat NU Mesir 2015-2016. Dengan demikian mahasiswa asal Jepara, Jawa Tengah ini meraih suara terbanyak mengungguli dari tiga kandidat lainnya, yakni Neneng Khoiriyah, Wardah, dan Faiqoh.

Konfercab yang mengusung tema "Fatayat Menuju Muslimah yang Progressif, Transformatif dan Mandiri" ini berlangsung akhir Oktober kemarin di Auditorium Pesanggrahan District 10, Nasr City, Kairo, Mesir. Saidatul Arnia menjadi ketua baru PCI Fatayat NU Mesir menggantikan Wardatul Humairoh.

Alumni Pesantren Guyangan, Ketua Baru Fatayat NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)
Alumni Pesantren Guyangan, Ketua Baru Fatayat NU Mesir (Sumber Gambar : Nu Online)

Alumni Pesantren Guyangan, Ketua Baru Fatayat NU Mesir

Sa’idatul Arnia adalah mahasiswi lulusan Pesantren Raudlatul Ulum Guyangan Pati, Jawa Tengah. Ia pertama kali menempuh studi di Al-Azhar Kairo pada tahun 2011 dengan mengambil kuliah di Fakultas Lughah al-‘Arabiyah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Arnia berharap ada kerja sama yang solid dan hubungan saling menopang antara pengurus dan anggota sehingga Fatayat Nu bisa berdiri kuat untuk memajukan organisasi. ?

“Sebagaimana bangunan bisa kokoh jika ditopang oleh pilar-pilar yang kuat. Jika organisasi Fatayat ini ditopang oleh beragam pilar yang saling menguatkan, Fatayat ke depan bisa berjalan lebih baik.” ujarnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pada ujung sambutan, Arnia juga mengajak seluruh peserta Konfercab untuk menunduk sejenak, mengenang jasa para pendiri Nahdhatul Ulama seraya membacakan surah Al Fatihah untuk dihadiahkan kepada mereka. (Red: Mahbib)

Sumber: masisir.com

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Santri, Pertandingan, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 09 Desember 2017

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim

Sidoarjo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pelajar NU Sidoarjo kembali menggelar acara rutinan setiap bulan sekali yakni Maulid Diba wa Talim yang ke XI di Masjid Maslakhul Huda Desa Wonoayu pada Ahad, 15 November 2015. Acara ini dihadiri oleh PAC/PKPT IPNU-IPPNU se-kabupaten Sidoarjo.?

Gema sholawat berkumandang dengan merdunya sejak acara dimulai pada pukul 08.00-11.30.?

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Sidoarjo Gelar Maulid Diba’ wa Ta’lim

"Acara ini merupakan momentum untuk menjaga budaya shalawat tetap terjaga di kalangan pelajar Nahdliyin," tutur Mohammad Hendra selaku ketua PAC IPNU-IPPNU dalam sambutannya.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

KH Ahmad Imam Jazuly dalam mauidhoh hasanah mengajak hadirin untuk mempertahankan tradisi dan amaliyah yang baik agar mendapat manfaat yang baik (Zamroni/Mukafi Niam)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, AlaNu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Hasyim Muzadi memperingatkan kelompok Islam garis keras yang belakangan begitu gencar ‘merebut’ masjid yang didirikan warga nahdliyin. Ia meminta agar kelompok tersebut segera menghentikan gerakannya. Sebab, mereka diduga melakukan gerakan yang merusak akidah NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Saya ingatkan mereka yang melakukan gerakan ini agar berhenti mengganggu warga NU. Secara nasional, ujung-ujungnya gerakan ini merusak ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam, Red), dan merongrong NKRI,” ungkap Hasyim kepada di kediamannya, di Komplek Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, Senin (19/3) kemarin.

Soal dugaan keterlibatan partai politik tertentu dalam gerakan mereka, mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim itu menyatakan, jika di kemudian hari ternyata benar-benar terbukti ada keterlibatan partai tertentu, PBNU tak akan segan-segan mengeluarkan larangan keras bagi warga NU untuk tidak memilih partai tersebut.

Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada

”Saya berharap ini tidak ada partai politik yang terlibat dalam hal ini. Tapi kalau ada yang terlibat, PBNU pasti mengeluarkan larangan memilih partai yang terlibat tersebut. Untuk apa warga NU memilih partai yang merusak akidah NU? Dan merusak ukhuwah Islamiyah? Semoga peringatan ini didengarkan,” tuturnya.

Hasyim menegaskan, akhir-akhir ini marak terjadi gerakan pengambilalihan masjid-masjid yang didirikan warga NU di semua daerah di seluruh Indonesia. Mereka melakukan penyusupan, mulai dengan cara meminta menjadi pengurus takmir atau membantu sedikit uang.

Jika gerakan tersebut dibiarkan, katanya, maka akidah warga NU akan semakin terancam. ”Oleh karenanya, seluruh warga NU harus mewaspadai gerakan ini. Secara akidah, gerakan ini merongrong Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mengharamkan tahlil, istighotsah, dibaiyah, manakib, talqin, tawassul dan lain-lain,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lantas, cara apa yang harus ditempuh untuk menghadapi gerakan tersebut? Hasyim mengatakan, warga NU diimbau rajin melakukan aktivitas di setiap masjid yang didirikan, serta mengeluarkan para penyusup tersebut dari pengurus takmir masjid. (amh/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, Sholawat, Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Saat menyampaikan materi pada Ngaji Ahad Pagi atau Jihad Pagi di Gedung NU Kabupaten Pringsewu, Ahad (16/10), Ketua PCNU Kabupaten Bogor Jawa Barat KH. Romdhon mengatakan bahwa saat ini banyak terjadi kemiskinan aqidah ditengah masyarakat.

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis (Sumber Gambar : Nu Online)
Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis (Sumber Gambar : Nu Online)

Jangan Tergiur dengan Aliran Agamis Materialistis

Kang Doni, begitu Ia biasa disapa mengatakan bahwa fenomena semakin banyaknya orang yang memiliki sifat hedonis dan materialistis merupakan tanda sudah terjadinya kerapuhan mental spiritual.

Menurut Alumni Pesantren Cipasung Tasikmalaya dan Ciganjur Jakarta ini, banyak orang tergiur dengan iming-iming materi yang berkedok padepokan, Majelis taklim dan sejenisnya. Orang yang tergiur saat ini juga sudah tidak memandang lagi status sosial dan status pendidikan.

"Banyak sekarang yang berpendidikan sampai dengan S3 baik dalam maupun luar negeri yang ikut-ikut dalam aliran yang lebih mengarah kepada kecintaan pada dunia," ungkapnya.

Oleh karenanya, ini merupakan tugas yang berat bagi NU untuk memberikan pencerahan agar warga NU tidak ikut terbawa arus dengan aliran-aliran Agamis Materialistis tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kedatangan Kang Doni ke PCNU Pringsewu ini dalam rangka Silaturahmi dan lebih menambah ukhuwah antar PCNU Bogor dan Pringsewu. "Mudah-mudahan dengan silaturahmi ini kita dipanjangkan umur dan murah rezeki," harap kang doni.

Silaturahmi tersebut juga dimanfaatkan untuk berdiskusi dengan Mustasyar PCNU Pringsewu H Sujadi yang juga Bupati Pringsewu dan hadir pada kegiatan Jihad Pagi tersebut. Ditemui setelah kegiatan Jihad Pagi, Kang Doni mengatakan bahwa saat ini terjadi kelangkaan seorang ulama yang juga umara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Padahal menurutnya, sejarah mencatat dimasa lalu banyak sekali para ulama yang juga menjadi pemimpin pemerintahan dan membawa kemaslahatan bagi warganya.

"Kemiskinan struktural jika terjadi umara tidak bisa mengelola pemerintahan. Ketika Ulama menjadi pemimpin Insyaallah kemaslahatan dunia dan akhirat dapat diraih," katanya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock