Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label IMNU. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Maret 2018

Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Ribuan Santri Madrasah Qudsiyyah mendeklarasikan tentang kemandirian ekonomi pada Selasa (2/8). Mereka secara bersama-sama berikrar “santri mandiri” yang dipimpin Ketua Yayasan Pendidikan Islam Qudsiyyah (Yapiq) KH Najib Hasan didampingi Sekretaris Rabithah Maahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMINU) KH Miftah Fakih.

Kegiatan berlangsung di lapangan Qudsiyyah JL KHR Asnawi Kudus tersebut diawali melantunkan Shalawat Asnawiyah. Kemudian para santri mengikuti bacaan ikrar. Salah satu bunyi pernyataannya, santri nusantara menolak hegemoni, tekanan dan pemanfaatan yang dapat merusak tatanan ekonomi santri.

Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)
Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi (Sumber Gambar : Nu Online)

Qudsiyyah Deklarasikan Santri Mandiri Tolak Hegemoni Ekonomi

Berikut bunyi teks lengkap deklarasi santri mandiri yang ditandatangani KH Najib Hasan dan KH Miftah Fakih:

Pertama, santri nusantara menyatakan kemandirian ekonomi untuk mewujudkan peradaban yang berkeadilan dalam kehidupan berbangsa, dan bernegara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kedua,santri nusantara selalu menjalin ukhuwah taawuniyah untuk menumbuhkembangkan berbagai potensi demi tercapainya izzul Islam wal muslimin dalam panji-panji Ahlussunnah waljamaah.

Ketiga, santri nusantara menolak berbagai hegemoni, tekanan dan pemanfaatan yang dapat merusak tatanan ekonomi santri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sebelumnya, Sekretaris Panitia Abdul Jalil mengatakan deklarasi “santri mandiri” merupakan dekontruksi salafi yang tidak hanya mengaji, melainkan juga bisa mandiri tanpa harus bergantung dengan pada orang lain.

"Ini bagian menjalankan ajaran konsep Gusjigang yang dibawa Sunan Kudus dimana santri harus pandai mengaji juga harus mandiri," ujarnya dalam konperensi pers panitia satu abad Qudsiyyah.

Deklarasi santri mandiri ini merupakan tindak lanjut dari halaqah “santri mandiri” yang berlangsung di hotel Qudsiyyah. Usai kegiatan, dilanjutkan penulisan mushaf Al Quran 30 juz oleh ribuan santri Qudsiyyah di panggung expo dan UMKM. (Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

?


Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaNu, Kajian Sunnah, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Maret 2018

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Karawang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Puluhan anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Kabupaten Karawang, Jawa Barat, diterjunkan langsung ke lapangan untuk membantu evakuasi korban banjir di sejumlah titik, salah satunya di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Lokasi tersebut merupakan salah satu kecamatan terparah dari 16 kecamatan di Karawang yang terkena banjir.

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser Karawang Bantu Evakuasi Korban Banjir

Sekretaris GP Ansor Kabupaten Karawang, Ade Permana SH mengatakan, banjir di Karawang saat ini, merupakan banjir terparah dalam dua tahun terakhir akibat luapan Sungai Citarum. "Wilayah yang terkena banjir mencapai 16 kecamatan, dengan puluhan ribu rumah terendam dan empat orang yang meninggal dunia," katanya, Selasa (22/1).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Melihat kenyataan tersebut, pihaknya menerjunkan anggota Banser untuk membantu evakuasi korban banjir. Kegiatan yang dilakukan, mulai dari evakuasi korban, hingga memperbaiki tanggul yang jebol. "Anggota kita bergerak dengan cepat, bahkan salah satu anggota Banser yang menemukan dan membawa jenazah salah satu korban banjir untuk dievakuasi," ucapnya.

Selain bantuan tenaga, lanjut Ade, GP Ansor juga memberikan bantuan logistik untuk korban banjir yang disebar ke beberapa titik. Bantuan tersebut didapat dari hasil penggalangan anggota Ansor dan juga masyarakat. "Kita juga mengirim bantuan logistik untuk korban banjir," tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Karena banjir di Karawang terjadi tiap tahun, Ade meminta kepada Pemkab Karawang, untuk bisa mengantisipasi datangnya banjir pada musim hujan tahun mendatang. "Carikan solusi yang tepat, agar banjir tidak terulang lagi. Kasihan masyarakat kalau setiap tahun harus merasakan banjir. Tentunya, secara materi dan psikologis pasti terganggu," pungkasnya. 

Keterangan foto: Banser dan anggota Pramuka membantu mengangkut karung berisi pasir untuk menahan air di Desa Telukbango, Kecamatan Batujaya.

Redaktur    : A. Khoirul Anam

Kontributor: Ahmad Syahid

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul Ulama, Nasional, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 21 Februari 2018

Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik

Pacitan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mudik ke kampung halaman saat lebaran merupakan tradisi tahunan bagi sebagian besar umat Muslim Indonesia. Pada saat itulah terdapat momen untuk berkumpul dengan sanak saudara. ? Hiruk pikuk aktivitas pemudik sudah terasa sejak pertengan bulan Ramadhan.

Di salah satu pesantren tertua di Pulau Jawa, Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan mudik menjelang lebaran menjadi saat yang paling ditunggu para santri. Karena Banyak kisah manis yang mengiringinya. Namun banyak pula santri yang menghabiskan hari lebaran dengan memilih menetap di pondok. Para santri tersebut bukan tidak punya bekal untuk mudik, melainkan mereka tengah menjalani tradisi nahun.

Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)
Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik (Sumber Gambar : Nu Online)

Jalani Tradisi Nahun, Santri Tremas Memilih Tidak Mudik

Hulki Rosyid, salah satu santri asal Pekalongan mengaku sudah dua kali lebaran tidak mudik, ia bersama ratusan santri lainya ingin menghabiskan waktu lebaranya di pondok. Walaupun kadang merasa sedih karena harus jauh dari orang tua dan tidak bisa sungkem secara langsung. Namun, karena ketulusan niatnya suka duka ia jalani untuk terus bersabar menjalani hari raya di pondok. “Mudah-mudahan semakin kerasan di pondok dan tambah semangat dalam mengaji,” ujarnya saat berbincang dengan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Rabu ( 8/7).?

Riwayat tradisi nahun yang disebut juga tirakat atau lelakon, pertama kali dilakukan oleh santri simbah guru KH. Dimyathi Abdulloh. Dimulai sekitar tahun 1900-an dimana pada saat itu perkembangan pondok sangat pesat sehingga banyak santri yang datang menuntut ilmu dari berbagai penjuru Nusantara, bahkan ada yang datang dari negara tetangga.

Mengingat letak pondok yang jauh dari kampung halaman mereka waktu itu, sementara alat transportasi juga belum ada sama sekali kecuali gerobak dan sejenisnya, maka dilakukanlah Nahun dalam arti hakiki yaitu tekun belajar dan tidak keluar dari kompleks pondok dalam jangka waktu 3 tahun ataupun 3 bulan dan 3 hari. Mengenai jangka waktu pelaksanaan Nahun sebenarnya tidak ada patokanya dan hanyalah istilah, bahkan pondok pun tidak mengatur tentang hal ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ada sebuah kisah yang melatarbelakangi tradisi ini. Suatu hari simbah guru putri, Nyai Khotijah, istri KH Dimyathi Abdulloh yang sedang melakukan tirakat puasa selama 3 tahun, 3 bulan dan 3 hari, mengalami hal yang sangat aneh. Saat ia mencuci beras di sumur untuk dimasak, tiba –tiba beras tersebut berubah menjadi emas. Simbah guru putri pun kaget seraya berdoa. “Yaa..Allah, saya bertirakat bukanlah untuk mengharapkan emas atau harta benda dunia, akan tetapi saya memohon kepada-Mu, ya Allah, jadikanlah Tremas ini bagian dari masyarakat, jadikanlah keluarga termasuk Ahlul’ilmi dan jadikanlah santri-santri yang menuntut ilmu di sini menjadi santri yang barokah,” seraya membuang emas tersebut ke dalam sumur.

Setelah kejadian itu banyak santri yang melakukan tradisi nahun sebagai bentuk tirakat agar kegiatan belajarnya di Pondok Tremas senantiasa lancar dan berhasil mencapai tujuannya hingga terjun di masyarakat kelak.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sesuai perkembangan zaman, tradisi ini tetap ditiru oleh generasi selanjutnya meskipun dengan versi yang berbeda-beda. Sekarang ini versi nahun yang berlaku di kalangan santri Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan? ada 3 yaitu, pertama tidak keluar dari kompleks Pondok Tremas, kedua tidak keluar dari wilayah Kabupaten Pacitan, dan ketiga tidak pulang ke rumahnya.

Yang berlaku umum di kalangan santri Pondok Tremas sekarang ini adalah nahun sesuai kategori kedua dan ketiga dengan waktu minimal 3 tahun, dan kebanyakan mereka yang melakukan berasal dari luar Jawa. (Zaenal Faizin/Mahbib)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Quote, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Blitar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Umum PP Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) Khofifah Indar Parawansa menginginkan agar seluruh warga Muslimat ikut berpartisipasi aktif memberantas narkoba hingga di lini paling kecil, di keluarga.?

"Muslimat punya tugas di masing-masing keluarga, pastikan bebas narkoba. Pastikan juga di masng-masing jamiyah ranting (desa), anak cabang (kecamatan). Ini PR (pekerjaan besar) bangsa kita," katanya saat menghadiri harlah ke-70 Muslimat NU di Kecamatan Bakung, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, Ahad.

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)

Khofifah Ajak Warga Muslimat Berantas Narkoba

Ia juga menceritakan jika narkoba sudah masuk ke semua lini, termasuk ke pondok pesantren. Ia mengingatkan saat itu ada seorang yang memberikan obat dan dikatakan sebagai vitamin. Jika dikonsumsi, zikirnya bisa tambah panjang, tambah khusyuk. Bahkan, pengasuh pun juga mengetahui jika obat itu adalah vitamin, hingga belakangan dipastikan jika obat itu ternyata narkoba.?

"Hati-hati bila ada orang sepertinya baik hati memberikan vitamin, ini cuma pura-pura. Ini juga PR pesantren, kiai, bu nyai, supaya mengubah pikiran kita, yang semula pikiran lurus diubah menjadi melenceng, karena sudah terkena narkoba. Yang kena itu konstruksi otak," jelasnya di hadapan puluhan ribu warga Muslimat NU.

Ia juga mengatakan, dari informasi yang diterimanya di Indonesia narkoba sudah masuk ke segala lini. Bahkan, tingkat kematian akibat narkoba sangat besar, dimana sehari ada sekitar 40-50 orang meninggal dunia akibat narkoba.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Ini mengerikan dan bahaya luar biasa. Semoga kita semua dijaga, diselamatkan oleh Allah," katanya dengan langsung diamini para para hadirin.

Dalam acara itu, juga disertai dengan pembacaan ikrar laskar antinarkoba Muslimat NU. Ikrar itu sebelumnya juga pernah ditegaskan dalam puncak Harlah ke-70 Muslimat NU di Malang akhir Maret 2016.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Isi dari ikrar itu antara lain bersatu melawan narkoba, mendorong semua ibu memastikan keluarganya bebas narkoba, memberantas penyalahgunaan peredaran dan penyalahgunaan narkoba, mendukung hukuman berat bagi pengedar narkoba, hingga merehabilitasi korban penyalahgunaan narkoba.

Isi dari ikrar itu dibacakan di hadapan seluruh jamaah yang hadir. Setelahnya, diadakan tanda tangan sebagai bentuk komitmen Muslimat NU mendukung program pemerintah untuk pemberantasan narkoba.?

Kegiatan Harlah ke-70 Muslimat NU itu dihadiri sejumlah tokoh. Selain dari kalangan pengurus Muslimat baik tingkat pusat, wilayah hingga daerah, juga dihadiri rombongan dari BPJS Kesehatan baik tingkat pusat hingga daerah, muspida Kabupaten Blitar, serta sejumlah tamu undangan lainnya.

Dalam acara itu, juga disertai adanya nota kesepahaman di antara PP Muslimat NU dengan BPJS Kesehatan yang mencakup perluasan kepesertaan program JKN-KIS serta sosialisasi program itu ke masyarakat. Nota kesepahaman itu juga ditandatangani kedua belah pihak, dengan disaksikan seluruh warga Muslimat NU yang jumlahnya mencapai puluhan ribu orang. Nota itu berlaku satu tahun, terhitung 10 April 2016 hingga 9 April 2017. (Antara/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Doa Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka menyemarakkan bulan Muharram 1439 Hijriyah, Pimpinan Cabang Muslimat NU Kabupaten Probolinggo memberikan santunan kepada ratusan anak yatim. Penerima santunan adalah utusan dari masing-masing ranting se-Pimpinan Anak Cabang (PAC) Muslimat NU Kecamatan Sumberasih, Ahad (15/10).

Kegiatan yang digelar di Kantor PAC Muslimat NU Kecamatan Sumberasih ini dihadiri oleh Ketua Muslimat NU Kabupaten Probolinggo Hj Nurhayati yang didampingi sejumlah pengurus serta pengurus PAC Muslimat NU Kecamatan Sumberasih.

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)

Muslimat NU Probolinggo Santuni Ratusan Anak Yatim

Pemberian santunan kepada anak yatim piatu ini merupakan agenda rutin yang dibuat oleh Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini dilaksanakan secara istiqamah setiap tiga bulan sekali secara bergantian antarPAC Muslimat NU se-wilayah Muslimat NU Kabupaten Probolinggo. Kegiatan ini diikuti oleh 1.000 orang lebih peserta yang merupakan para pengurus Muslimat NU mulai dari tingkat PAC hingga Ranting se-Kecamatan Sumberasih.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hj Nurhayati mengatakan, dalam hidup kita harus selalu bersyukur kepada Allah SWT dan apapun yang kita miliki yang terbaik bagi kita.

“Semakin banyak yang kita miliki maka pertanggungjawaban kita juga semakin berat. Amanah yang diterima ini nantinya akan diminta pertanggungjawaban di dunia dan di akhirat kelak. Oleh karena itu manfaatkan amanah ini dengan sebaik-baiknya untuk hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kegiatan pemberian santunan kepada anak yatim ini mengambil tema Dengan Kebersamaan Kita Mampu Memberikan Sedikit Terang Kehidupan Mereka, Rasa Memiliki Persaudaraan Tanpa Harus Membedakan.

“Mudah-mudahan dengan adanya kegiatan santunan kepada anak yatim dalam rangka menyambut 1 Muharram 1439 Hijriyah ini akan membuat para pengurus Muslimat NU di Kabupaten Probolinggo semakin solid dan lebih sadar serta peduli dengan sesama,” harapnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor

Maroko, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dengan nilai Summa Cumlaude, Mustasyar PCINU Maroko H Muhammad Shofin Sugito berhasil mempertahankan disertasinya di hadapan tim penguji di aula utama perpustakaan Fakultas Sastra dan Humaniora Universitas Sidi Mohamed Ben Abdellah Fes, Maroko, Senin (7/4).

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)
Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor (Sumber Gambar : Nu Online)

Mustasyar PCINU Maroko Raih Gelar Doktor

Pada disertasi berjudul "Al-Hiwar ad-Diniy-ast-Tsaqafi wa atsaruhu fi Ma’arif al-Wahyi; dirasah qadhaya wa namadhij (Dialog Agama-Budaya dan Pengaruhnya pada Horizon Pemahaman Wahyu)", Shofin memaparkan risalah universal langit yang dibawa Nabi Muhammad Saw, yakni untuk seluruh makhluk di alam.

“Sehingga, risalah samawiyah ini akan terus bergulat dan berdialog dengan variasi pemikiran dan kebudayaan manusia dan bangsa di berbagai tempat dan masa hingga hari kiamat nanti,” kata Shofin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Shofin mengungkapkan, Islam sebagai agama langit tidak begitu saja turun ke bumi seperti makhluk luar angkasa yang asing dan menyendiri. Islam bersosial-diri dan berdialog dengan berbagai pola pikir dan kebudayaan masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Demikianlah yang diejawantahkan Nabi Muhammad SAW pembawa risalah langit dan para sahabat penerus estafet kepemimpinan umatnya,” tambahnya. 

Disertasi ini diuji oleh pakar semiotik Sayyid Mohamed Zuhair, pakar studi Quran-Sunnah dan Maqashid Syari’ah Idris Charqie, pakar Perbandingan Agama Lichaedhar Zohouth, dan pakar Pemikiran Islam Modern Al-Hassan Hamdouchi.

“Saya mendapati kuatnya bahasa Arab dan penyampaiannya dalam disertasi anak Indonesia ini. Saya kagum dari caranya meramu dan menyajikan banyak tema-tema lama (turats) yang terlupakan,” kata Idris Charqie.

Atas predikat Musyarraf Jiddan (Summa Cumlaude) yang diraih Shofin, Dubes RI untuk kerajaan Maroko H Tosari Widjaja beserta para staf, anggota PPI Maroko, dan warga Indonesia di Maroko memberikan apresiasi luar biasa.

H Tosari Widjaja menyatakan pihaknya akan meningkatkan jembatan peradaban Indonesia-Maroko terutama pada bidang keislaman dan budaya. Kerja sama itu akan memperkaya khazanah informasi ilmiah terkait Islam Indonesia melalui pertukaran dosen dan mahasiswa.

Ia juga berharap, disertasi itu dicetak setelah diperbaiki sesuai catatan para penguji untuk dimanfaatkan ilmunya. (Kusnadi El-Ghezwa/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Amalan, IMNU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejak tahun 1967 silam, sistem pengajaran keagamaan di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo sudah mulai berkembang. Hal ini dikarenakan saat itu ada pembelajaran agama lewat sebuah musholla kecil yang berkembang cukup pesat. Dari waktu ke waktu musholla tersebut selalu menjadi pusat pembelajaran agama masyarakat sehingga berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang kelak dikenal dengan Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Keberadaan Pondok Pesantren Rabithatul Islam ini memang tidak bisa dilepaskan dari dua kiai yang masih besanan. Yakni, KH Abdur Rouf dan KH Thoha. Dimana sebelum pesantren berdiri, kedua kiai ini selalu mengajarkan ilmunya di musholla kecil yang banyak didatangi oleh santri. Uniknya, kedua kiai ini mempunyai sebuah kelebihan yang berbeda sehingga mampu melengkapi. KH Abdur Rouf yang ahli tabib mampu diimbangi oleh KH Thoha yang ahli dalam ilmu Al Qur’an dan agama lainnya.

Perjuangan yang dilakukan oleh KH Thoha tampaknya diteruskan oleh sang menantu KH Ahmad Bisyri. Upaya itu diwujudkan dengan mendirikan sebuah pesantren yang awalnya menggunakan sebuah rumah sebagai tempat dalam menampung santrinya. Hingga akhirnya pada tahun 1976, dia mendirikan MI Raudlatul Muta’allimin dan MA tahun 1983.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Untuk menampung para santri, Abah (Kiai Bisyri) membangun sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu yang biasa disebut cangkruk. Biasanya santri-santri menjadikan tempat itu untuk beristirahat,” ujar Kiai Muhammad Hafid, Pengasuh kedua Ponpes Rabithatul Islam yang merupakan putra Kiai Bisyri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Hafid menerangkan bahwasanya Abahnya dulu awalnya mondok dan nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang berada di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Untuk menambah ilmunya, dia kemudian mondok di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Dari situlah dia kemudian mendapatkan penugasan menyebarkan agama Islam dari Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Hasan Saifourridzal di kawasan Tengger.

“Kebetulan waktu itu Abah langsung mendapatkan penugasan di kawasan Tengger yang mayoritas masyarakat sangat memegang teguh keyakinan terhadap agamanya. Disamping itu, Abah juga mendapatkan amanat agar bisa mendirikan pondok pesantren,” jelasnya.

Sejak diasuh oleh Kiai Hafid, Pondok Pesantren Rabithatul Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat. Di mana santrinya mampu mencapai 180 orang. Padahal waktu masih diasuh oleh Kiai Bisyri, rata-rata santrinya hanya berkisar antara 60 hingga 80 santri.

“Memimpin sebuah pondok pesantren itu tidaklah mudah. Butuh sebuah perjuangan dan kerja keras dari semua pihak. Apalagi sebelum Abah meninggal, beliau menyerahkan tanggung jawab perkembangan pesantren ini kepada saya. Oleh karena itu saya terus berupaya agar pesantren ini bisa terus maju dan berkembangan,” tegasnya.

Meskipun pesantrennya maju dengan pesat, namun Gus Hafid mengaku jika keinginannya untuk mendirikan laboratorium bahasa belum bisa terwujud. Hanya saja pendirian laboratorium ini masin terkendala dengan tenaga pendidikan dan sarana prasarana.

“Walau sudah lama berdiri, tetapi kami masih menggantungkan diri kepada suami-istri dan anaknya agar mau berkhidmat memajukan keberlangsungan pendidikan di pondok pesantren,” katanya.

Istiqomah Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Sama seperti halnya dengan pondok pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Rabithatul Islam secara istiqomah menerapkan sistem pendidikan salafiyah. Dimana para santri mulai mengikuti kegiatan pesantren sejak pukul 03.00 WIB dengan sholat Tahajjud yang dilanjutkan dengan sholat Subuh berjamaah. Kemudian santri mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00 WIB.

Yang berbeda pesantren ini dengan pesantren lainnya adalah pondok pesantren ini lebih mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam ikhtiar Kiai Bisyri yang mengarang kitab Qisshotul Qiyamah, sebuah kitab tauhid. Kitab tersebut dikarang Kiai Bisyri saat masih nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan.

“Prinsip kami santri yang mondok disini akhlaknya harus bagus. Tingkah lakunya bisa mencerminkan seorang santri yang menghormati orang tuanya. Sebab rasanya percuma memiliki santri pintar tetapi akhlaknya jelek,” ujar Kiai Hafid.

Di Pondok Pesantren Rabithatul Islam diterapkan sejumlah metode pendidikan salafiyah meliputi madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, holaqoh diniyah, Tahfidatul Qur’an hingga Jami’iyah Qurra’ wal Huffadz. Disamping juga mengelola lembaga kholafiyah atau modern seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Raudlatul Atfal (RA).

Keberadaan pesantren lengkap dengan adanya lembaga pendidikan formal yang sediakan. Misalnya, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Muta’allimin, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Islamiyah dan Madrasah Aliyah (MA) Zainul Hasan III. Walaupun berada di dalam lingkungan pesentren, namun lembaga formal tersebut juga menerima siswa dari luar pesantren. “Setidaknya sepulang dari sekolah umum, para santri bisa mengikuti sekolah diniyah,” katanya.

Lengkapnya lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Rabithatul Islam membuat para santrinya sukses menuai sejumlah prestasi. Seperti juara harapan tingkat Provinsi Jawa Timur untuk lomba Qiroatul Qutub dan Qori’. Sementara untuk di tingkat Kabupaten Probolinggo, prestasi yang diraih antara lain juara pertama lomba kaligrafi, juara kedua lomba bahasa Arab tingkat MA.

Budayakan Selalu Dakwah

Meskipun disibukkan mengurus pesantren, tetapi Pengasuh Pondok Pesantren Rabithatul Islam Kiai Muhammad Hafid tidak melupakan keberadaan masyarakat. Oleh karenanya, pesantren ini kemudian mendirikan majelis taklim untuk bisa memberikan pencerahan tentang agama kepada masyarakat. Kegiatan itu berlangsung secara istiqomah sejak pondok ini baru berdiri.

“Kami tidak hanya memberikan ilmu kepada para santri saja, setiap hari kami juga memberikan pengajaran ilmu agama kepada ibu-ibu lansia yang minim ilmu agamanya. Misalnya ilmu fiqih, hadits, tafsir dan lain sebagainya,” kata Gus Hafid.

Demi mendekatkan diri kepada masyarakat, Gus Hafid juga rutin setiap dua minggu sekali menjadi imam di masjid berbagai desa, utamanya yang berada di dataran tinggi. “Pesantren itu tidak bisa dilepaskan dari masyarakat. Perkembangan pesantren merupakan bagian dari peran serta masyarakat. Oleh karena itu, pesantren harus dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar)

Foto: Satu-satunya gubuk “cangkruk” yang menjadi saksi bisu berdirinya Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock