Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pahlawan. Tampilkan semua postingan

Senin, 12 Februari 2018

Khutbah Iftitah Rais ‘Aam di Munas dan Konbes NU 2017

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ?



Yth Presiden RI, Bapak Ir. H. Joko Widodo

Khutbah Iftitah Rais ‘Aam di Munas dan Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Khutbah Iftitah Rais ‘Aam di Munas dan Konbes NU 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Khutbah Iftitah Rais ‘Aam di Munas dan Konbes NU 2017



Yth Para Pimpinan Lembaga Tinggi Negara

Yth Para Menteri Kabinet Kerja

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Yth Bapak Gubernur NTB TGH Muhammad Zainul Majdi

Yth Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, baik jajaran mustasyar, syuriah, tanfidziyah, a’wan, lembaga, dan banom.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hadirin-hadirat yang dirahmati Allah.

Syukur Alhamdulillah pada hari ini kita dapat berkumpul untuk menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama2017 yaitu pertemuan minimal dua kali diantara dua muktamar untuk mengevaluasi pelaksanaan program yang telah ditetapkan dalam muktamar yang lalu dan menyiapkan pelaksanaan program hingga muktamar mendatang, serta merespon permasalahan aktual yang terjadi pada saat ini. 

Terima kasih kami ucapkan kepada Bapak Presiden yang telah berkenan hadir dan membuka secara resmi Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama tahun 2017. Hal itu menunjukkan perhatian besar Bapak Presiden kepada Nahdlatul Ulama. 

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi terbesar di Indonesia mempunyai tanggung jawab besar untuk menjaga dan mengawal negara dan bangsa dari berbagai ancaman. Tanggung jawab tersebut harus diemban dengan penuh kesadaran oleh semua pengurus NU di setiap tingkatan dan mengajak warga Nahdliyin untuk dengan penuh keikhlasan mengemban tanggung jawab tersebut.

Melalui mars Syubbanul Wathan yang terus-menerus dikumandangkan di lingkungan NU antara lain menyatakan “Siapa datang mengancammu kan binasa di bawah dulimu” karena akan berhadapan dengan santri-santri NU. Kalau pada masa yang lalu NU telah berusaha menjaga dan mengawal negara melalui fatwa jihad yang dikeluarkan oleh Rais Akbar PBNU Hadratussyekh Hasyim Asyari yang menyatakan bahwa hukum memerangi kaum penjajah adalah wajib yang kemudian dijadikan Resolusi Jihad oleh PBNU sehingga mendorong masyarakat terutama para santri untuk melawan Belanda sehingga terjadi perang 10 November dan dinyatakan sebagai hari pahlawan. Alhamdulillah tanggal 22 Oktober lahirnya Resolusi Jihad akhirnya juga dinyatakan sebagai Hari Santri Nasional oleh Bapak Presiden Ir. Joko Widodo pada tahun 2015 walaupun sesudah 70 tahun dari peristiwa terjadinya Resolusi Jihad. Untuk itu, kepada presiden RI Joko Widodo kami sampaikan terima kasih sebesar-besarnya.

Salah satu ancaman yang kita hadapi sekarang ini menurut kami adalah radikalisme dan intoleran. Radikalisme adalah kelompok yang ingin mengganti Pancasila dan UUD 1945 dengan dasar yang lain. Sedangkan kelompok intoleran adalah kelompok yg dapat merusak keutuhan bangsa.

Munas Alim Ulama dan Konbes Nahdlatul Ulama ini akan membahas upaya-upaya yang sistematis dan terencana dalam menanggulangi bahaya radikalisme dan intoleransi tersebut, yang kemudian dirumuskan menjadi program kerja NU dan rekomendasi Munas/Konbes.

Nahdlatul Ulama tetap istiqamah dalam posisi menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia berdasarkan Pancasila dan Undang-undang Dasar tahun 1945 dari setiap upaya pembelokan arah oleh kelompok-kelompok radikalis agama ataupun sekuler, ekstrimis kanan ataupun kiri, kelompok separatis dan teroris, serta kelompok intoleran. Bagi NU Pancasila dan NKRI sudah final.

Bapak Presiden serta hadirin-hadirat yang kami hormati,

Tantangan berikutnya terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara adalah terkait ekonomi yang berkeadilan. Saat ini, kesenjangan ekonomi di negeri ini sudah sangat terasakan. Bagian terbesar asset ekonomi di negeri ini dikuasai oleh segelintir orang. Sedangkan bagian terbesar masyarakat memperebutkan “remah-remah” sisanya. Hal ini bisa menjadi bom waktu dan bisa memantik terjadinya konflik horizontal yang laten. Oleh karena itu, perlu ada upaya sungguh-sungguh yang terencana untuk mengikis kesenjangan tersebut.

Kami mengapresiasi Bapak Presiden yang telah memerintahkan kepada jajarannya untuk mengambil langkah dan upaya guna mengikis kesenjangan tersebut. Paradigma baru dalam kebijakan ekonomi yang lebih memprioritaskan pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dan menengah harus terus didorong dan diformalkan menjadi program utama pemerintah. Ide Presiden memberlakukan kebijakan redistribusi aset dan kemitraan antara usaha kecil-menengah dengan pengusaha besar merupakan terobosan yang perlu diformalkan menjadi kebijakan negara.

Nahdlatul Ulama mendukung upaya yang telah dilakukan presiden tersebut. Sebagai ormas yang besar, NU berkepentingan dengan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil dan menengah. Karena sebagian besar warga Nahdliyin adalah masyarakat kecil dan menengah tersebut.

Munas Alim Ulama ini akan menjadikan masalah tersebut sebagai salah satu materi pembahasan. Regulasi yang menyebabkan terbukanya peluang kepemilikan asset secara berlebihan akan dikaji secara kritis dan akan dibuat rekomendasi adanya regulasi baru yang memperkuat kebijakan redistribusi aset. 

Munas juga akan merumuskan dari perspektif ajaran agama, bagaimana distribusi aset dilakukan, sejauh mana negara berkewajiban mengatur terkait dengan penguasaan asset dan tanah yang berkeadilan, sehingga tidak terjadi adanya penguasaan asset dan tanah yang berlebihan oleh sekelompok orang, padahal di sisi lain banyak masyarakat yang tidak memilikinya. Munas akan merumuskan upaya apa saja yang akan dilakukan oleh NU terkait dengan masalah ini.





Bapak Presiden serta hadirin-hadirat yang kami hormati,

Munas dan Konbes juga akan membahas tentang penguatan organisasi NU, agar secara jam’iyah dapat menjalankan tugas-tugas besar terkait kebangsaan dan keumatan. Revitalisasi, konsolidasi, dan fungsionalisasi (REKONFU) setiap potensi yang dimiliki oleh jam’iyah merupakan upaya yang harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Sehingga NU sebagai ormas yang besar bisa memberikan sumbangsih yang besar pula kepada bangsa dan negara. Terlebih NU sebagai jam’iyah saat ini berada pada penghujung 100 tahun pertama dan akan memasuki 100 tahun kedua. Dalam sebuah hadis disebutkan:

« ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? »





“Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat ini setiap ujung seratus tahun orang yang memperbarui agama mereka.”

Dalam berjam’iyah, hadis tersebut dapat ditangkap semangat dan konteksnya. Di setiap seratus tahun akan ada orang yang melakukan gerakan pembaruan (harakah tajdidiyah). Nahdlatul Ulama saat ini berada pada penghujung usia seratus tahun, dan setelah itu akan memasuki babak baru fase seratus tahun kedua. Karena itu, kita para pengurus NU di setiap tingkatan harus siap bekerja lebih keras untuk menguatkan jam’iyah kita ini. Kita perbarui semangat kita untuk tetap mengusung cara berfikir dan beragama ala NU (fikrah nahdliyah). Kita perbarui semangat gerakan ke-NU-an (harakah nahdliyyah) di setiap tingkatan organisasi. Kita siapkan runway yang kuat, sehingga diharapkan di awal 100 tahun kedua, Nahdlatul Ulama sudah bisa take off dan tinggal landas secara mulus dan tanpa hambatan berarti.

Bapak Presiden serta hadirin-hadirat yang kami hormati

Demikianlah kiranya sambutan saya, mudah-mudahan ada manfaatnya dan dapat dijabarkan melalui persidangan Munas dan Konbes NU ini. Kami berdoa semoga permusyawaratan ini diridhai  oleh Allah SWT dan dapat merumuskan hasil-hasil yang baik. 

Selanjutnya, mohon berkenan Bapak Presiden memberikan sambutannya, dan dilanjutkan membuka secara resmi Musyawarah Alim Ulama dan Konferensi Besar NU tahun 20017.

Wallahul muwaffiq ila aqwamit thariq  

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. 

Mataram, November 2017

Rais ‘Aam,





Prof. DR. KH. Ma’ruf Amin

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Tegal, Kajian Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 08 Februari 2018

Rais Aam: Jangan Cederai Karakter Islam dengan Egosentrisme

Jember, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Rais Aam PBNU KH Maruf Amin mengungkapkan, Islam di Indonesia harus menjadi tenda besar bagi segenap lapisan masyarakat yang beraneka ragam budaya. Karakter Islam adalah mengayomi dan menjadi tempat berteduh bagi siapa pun dengan latar belakang etnis dan suku apa pun. Sebagai agama dengan pemeluk mayoritas di negeri ini, umat Islam tak perlu mencederai lebel tersebut dengan mengedepankan sifat ananiyah (egosentrisme, keakuan). Sebab, hal itu bisa mengusik kenyamanan dan ketenangan penganut agama lain, selain berpotensi mengacaukan internal umat Islam.

"Bahaya kalau sampai kita menonjolkan sifat ananiyah," kata KH Maruf Amin saat peresmian Masjid Roudhotul Muchlisin di Jember, Jawa Timur, Ahad (15/4).

Menurut Kiai Maruf, toleransi umat Islam di Indonesia sudah diakui dunia. Ia bercerita tentang seorang peneliti Eropa yang pernah berkunjung ke kediamannya, dan menyampaikan kekaguman tentang kerukunan yang terjadi dalam kehidupan antarumat beragama di Indonesia. Itulah yang dia korek saat bertemu dengan Kiai Maruf. Akhirnya, dia menyimpulkan bahwa kerukunan tersebut tercipta dengan kata kunci, Islam mayoritas.

Rais Aam: Jangan Cederai Karakter Islam dengan Egosentrisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Rais Aam: Jangan Cederai Karakter Islam dengan Egosentrisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Rais Aam: Jangan Cederai Karakter Islam dengan Egosentrisme

Untuk membuktikan itu, kata Kiai Maruf, si peneliti lalu mendatangi sejumlah lokasi yang di situ terdapat budaya dan penduduk non-Muslim sebagai minoritas seperti di Banten, Borobudur dan sebagainya. Faktanya, mereka yang berada di tengah-tengah umat Islam itu, hidupnya tenang, tak terusik, budaya dan aktifitas keagamaannya juga jalan. ? Dia menyaksikan sendiri tempat-tempat itu, dan ternyata aman-aman saja.?

"Akhirnya dia pulang ke Eropa dan menyatakan akan membuat film tentang itu (toleransi Islam) yang akan ditayangkan untuk masyarakat Eropa," jelasnya. (Aryudi A. Razaq/Zunus)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 06 Februari 2018

Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu

Bogor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Harga cabai yang sempat mencapai kisaran Rp130.000 menyebabkan masyarakat menjerit. Hal ini membuat Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan beberapa langkah untuk menekan harga setinggi langit itu.

Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu (Sumber Gambar : Nu Online)

Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu

Menurutnya, penurunan harga cabai ini dikarenakan meningkatnya produksi cabai di sentra-sentra produksi cabai rawit merah. Hal ini menyebabkan jumlah cabai tersebut melimpah sehingga masyarakat pun tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya.

“Saya sampaikan kepada ibu-ibu di seluruh Indonesia untuk menanam cabai. Jadi ini berkat peranan ibu-ibu semua. Saya percaya ibu-ibu adalah tiangnya negara,” kata Amran saat memberikan materi di Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Ahad (26/3) di Hotel Lor-In Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Amran mengakui, jika 120 juta perempuan Indonesia menanam cabai dan memelihara ayam yang hasilnya 2 juta per hari, itu bisa menghasilkan 120 triliun setiap bulannya, sedangkan jika 1 tahun bisa 1000 triliun.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Luar biasa dahsyatnya dan saya yakin akan terjadi swasembada terbaik atas kontribusi besar ibu-ibu Muslimat NU,” jelas Amran yang menyebut harga cabai saat ini dikisaran Rp40.000-Rp50.000 per kilogram.

Ia mengakui jika swasembada pangan muncul dari peran tangguh para ibu. Sebab itu menurutnya, jika lahir pemimpin yang tangguh, itu pasti lahir dari peran ibu-ibu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa berupaya mewujudkan inovasi produk pertanian. Hal ini tidak terlepas dari peran ibu-ibu Muslimat yang sebagian besar juga petani di desanya masing-masing.

“Saya mendorong kepada ibu-ibu Muslimat untuk memperbarui langkah. Saya tekankan agar hasil panen tidak hanya sekadar petik dan jual, tetapi petik, olah, kemas, dan jual,” terang Khofifah.

Inovasi ini, lanjut dia, tentu akan menghasilkan profit lebih sehingga usaha mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa akan tercapai. Dia tidak memungkiri, hal ini memerlukan keterampilan khusus yang bisa disinergikan dengan pemerintah.

“Kita kerja sama dengan Menteri Desa dan Menteri Pertanian dalam Rapimnas ini. Mereka mempunyai balai-balai latihan yang bisa dimanfaatkan ibu-ibu Muslimat di wilayah dan cabang untuk meningkatkan keterampilan olah dan kemas tadi,” tandas Khofifah. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal AlaSantri, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar

Brebes, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tengah mengintensifkan diskusi di kalangan pelajar. Diskusi digelar rutin sebulan sekali sebagai ajang silaturahim dan pendalaman wawasan.

IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar

Seperti yang diselenggarakan di Gedung NU, Jalan Yos Sudarso 36 Brebes, Ahad (21/9). Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ahmad Zacky Al Aman mengatakan, setiap pertemuan ada beberapa tema yang akan diangkat. “Selain Aswaja, tema nasionalisme, kenakalan pelajar, pembelajaran kurikulum 2013 akan diangkat pula,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Pembina Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Brebes Ahmad Fathoni menyataan, sikap kritis dan penambahan wawasan perlu dimiliki setiap pelajar Nahdlatul Ulama yang tergabung IPNU-IPPNU. Hal ini penting dilakukan agar pelajar NU tidak terkesan kerdil, meskipun penampilannya hanya berpakaian sarung.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Daya pikir, nalar dan wawasan kita harus cemerlang, meski hanya berbusana sarungan,” tuturnya saat mengisi Diskusi Pelajar.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, pelajar NU harus berkualitas dengan menggali berbagai potensi yang ada dalam diri sendiri agar bermanfaat bagi masyarakat. “Dengan banyaknya pemikiran yang didiskusikan, akan membuahkan solusi,” terangnya.

Dalam diskusi perdana, Toni mengupas tentang Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Menurutnya, Aswaja adalah suatu keluarga/kaum yang menjalankan sunnah Nabi muhammad SAW dan para penerusnya yaitu para sahabat, tabiin dan selanjutnya hingga para alim ulama. “Al -ulama warosatul anbiya,  ulama yaitu pewaris Nabi,” tegasnya.

Aswaja ala Nahdlatul Ulama lebih mencerminkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam. Sehingga ketika ada perbedaan atau ikhtilaf dijadikan sebagai rahmat bukan sebagai awal datangnya konflik. “Dengan rahmatan lil Alamin insya Allah hidup kita akan menjadi damai,” tuturnya di hadapan 70 peserta diskusi.

Zaki berharap, Diskusi Pelajar Ahadan juga bisa menambah wawasan dan tumbuhnya minat belajar bagi para pelajar dan generasi muda NU. (Wasdiun/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Kiai, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Panitia sidang komisi bahtsul masail waqi’iyah menetapkan empat kriteria untuk isu yang akan dibahas pada Muktamar Ke-33 NU mendatang. Dengan empat kriteria ini, mereka ingin menyeleksi masukan-masukan dari daerah yang masuk ke PBNU.

Rais Syuriyah PBNU KH A Ishomuddin yang memimpin rapat mengatakan, masalah yang dibahas di Muktamar NU nanti harus mengarah pada aktualitas yang tengah terjadi di masyarakat.

Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)
Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar (Sumber Gambar : Nu Online)

Komisi Bahtsul Masail Waqi’iyah Tentukan Kriteria Isu Muktamar

“Dari banyak usulan daerah ini, kita perlu memilah kembali mana di antara semua itu yang masuk kriteria aktual,” kata Kiai Ishom di Jakarta, Kamis (12/3) sore.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Panitia sidang komisi bahtsul masail diniyah waqi’iyah Muktamar NU ini mempertimbangkan juga aspek cakupan nasional dan juga mengarah pada tema besar muktamar, “Meneguhkan Islam Nusantara Untuk Peradaban Indonesia dan Dunia.”

“Kalau bahasannya sektoral, biar dibahas oleh PWNU dan PCNU saja,” kata Katib Syuriyah PBNU Mujib Qaliyubi menegaskan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Yang tidak kalah penting ialah persoalan yang mesti dibahas nanti mesti mengandung kepentingan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat luas.

Panitia menyortir sedikitnya 50 usulan persoalan dari daerah. Sementara ini, mereka baru menginventarisasi 5 masalah yang akan dibahas pada Muktamar NU di Jombang, Agustus mendatang. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam

Pontianak, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ada perbedaan antara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional VII Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) dengan yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ)?

MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam (Sumber Gambar : Nu Online)
MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam (Sumber Gambar : Nu Online)

MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam

“Seluruh cabangnya sama. Tapi kini, di JQH, ada pengembangan cabang tambahan, yaitu qiroatul kutub, pembacaan kitab kuning dan ulumul Qur’an,” ujar anggota dewan juri MTQ JQH NU, Hj. Maslahah Zen.

Lalu, sambung dewan juri cabang tahfidh 5 juz ini, ada perbedaan dalam sistemnya. Dalam cabang tilawah dewasa misalnya, kalau di LPTQ, tidak ada cara pembaacaan Al-Quran imam-imam lain. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kalau di JQH mengembangkan pembacaan Al-Quran dengan dengan tujuh riwayat. Bedanya di situ,” tambahnya.  

Selain itu, di JQH, ayat yang mesti dibaca peserta, iramanya sudah ditentukan panitia, “Peserta mengambil maqro melalui amplop. Di situ ditentukan oleh panitia. Kalau LPTQ peserta menentukan sendiri lagunya. Peserta bebas yang menenntukan,” tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hj. Rofiatu Sa’adah dari Kepulauan Riau menjelaskan lebih rinci, “Jadi begini, kalau di LPTQ, yang ditentukan ayatnya, lagunya terserah peserta. Tapi kalau di JQH, ayat sama lagunya sudah ditentukan bahwa kamu misalnya harus membawakan lagu hejaz, shaba. Sudah sepaket. Bisa, tidak bisa; suka, tidak suka, peserta otomatis harus menempilkannya,” tuturnya.

Contoh, sambung Rofiah yang juga pengurus JQHNU Kepri, peserta mendapat ayat riwayat Qolun yang bisa dibaca dengan tiga wajah. Ketiganya harus disertakan dengan lagu yang sudah ditentukan. Jadi, peserta berulang-ulang membaca satu ayat dengan cara membaca yang berbeda-beda.

“Menurut saya pribadi, peserta MTQ di JQH harus lebih siap dan berbobot karena tingkat keilmuannya juga harus lebih berbobot. Diterapkan seperti itu, dikarenakan pesertaJQH kan mayoritas dari pesantren,” ujarnya.

Tapi, menurut Rofiah, dengan sistem demikian, peserta banyak yang keberatan. Namun bukan berarti kualitas mereka yang kurang, tapi penguasaan keilmuan yang belun siap. 

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Makam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Twitter Indonesia Minta Netizen Bijak Gunakan Medsos

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Manager Public Policy Twitter Indonesia Agung Yudhawiranata meminta kepada pengguna media sosial (netizen) untuk bijak dalam menggunakannya, yaitu supaya bisa dijadikan alat sillaturrahmi, dan agar tidak merugikan diri sendiri.

“Jangan sampai perilaku di sosial media itu jadi menghilangkan silaturahmi di dunia nyata,” kata Agung pada acara hari lahir (Harlah) ke-62 Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) di masjid An-Nahdlah PBNU, Jakarta Pusat, Sabtu (11/3).

Twitter Indonesia Minta Netizen Bijak Gunakan Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)
Twitter Indonesia Minta Netizen Bijak Gunakan Medsos (Sumber Gambar : Nu Online)

Twitter Indonesia Minta Netizen Bijak Gunakan Medsos

Pria berambut gondrong dan berkacamata ini juga mengatakan, agar pengguna media sosial tidak mudah tersinggung.?

“(Pengguna) sosial media jangan baperan, jangan di bawa pake perasaan. Itu penting!,” tegasnya.

Karena kalau mudah tersinggung dalam ber-sosial media, lanjutnya, nanti bisa merusak hubungan silaturrahmi yang hal tersebut bukan manfaat dari sosial media. “Karena sebetulnya, manfaatnya untuk menambah silaturrahmi, bukan untuk megurangi silaturahmi,” jelasnya

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Agung juga meminta kepada pengguna twitter untuk jangan ragu bilamana ada yang mengancam dengan kekerasan, bahkan pembunuhan. “Jangan ragu-ragu untuk nglaporin! Lapor ke kita atau ke polisi,” ujarnya

Saat salah satu peserta bertanya tentang akun-akun yang suak menebar kebencian. Ia menanggapi dengan memberikan langkah-langkah alternatif.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kita bisa memilih untuk nglaporin, boleh. Memilih untuk mencuekin saja, boleh,” katanya. (Husni Sahal/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Problem Pendidikan Nasional

Oleh Aswab Mahasin

Manusia mendapati dirinya dalam keadaan bimbang, di satu sisi ia adalah subjek dari dunia, di sisi lain ia adalah objek dari dunia. Kedua sisi itu dialami secara sadar oleh manusia. Namun, kesadaran manusia belum menjamin bahwa ia paham akan realitas dunia, manusia tertutup oleh fakta hidupnya sendiri. Namun yang perlu diingat, sebuah fakta bukanlah kebenaran mutlak, fakta hanya kebenaran realitas (bisa berubah-ubah), dan sebuah fakta akan menjadi kebenaran ketika di dalamnya mengandung sisi “kemanfaatan”.

Pendidikan merupakan jalan manusia menjadi manfaat dan sadar. Perspektif ini, tidak berbicara makna pendidikan dalam arti sempit, persepsi yang saya bangun adalah “Semua untuk Sekolah”, tidak hanya “Sekolah untuk Semua”. Maksudnya, dunia ini adalah sekolah bagi seluruh manusia. 

Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Problem Pendidikan Nasional

Manusia terlahir ke dunia tujuan utamanya adalah sekolah/menuntut ilmu/berpengetahuan, Rasulullah berpesan, “(sekolahlah kalian semua)/menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat.” Dan Pesan selanjutnya, “Siapa saja yang ingin bahagia di dunia dan akhirat harus dengan ilmu (harus bersekolah)”. Kenapa pesan tersebut menjadi penting buat kita? Karena kualitas hidup manusia terus meningkat.

Kalau pun nantinya manusia harus menempuh jalur pendidikan formal, itu sebagai nilai tawar semata (menjadi wajib bagi manusia sekarang). Karena pasar menghendaki demikian; ijazah, nilai yang tinggi, dan ketekunan. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi,jika ada yang mengatakan seseorang memiliki ijazah belum tentu mempunyaiskill, bagi saya keliru. Terlalu vulgar mengatakan itu.Skill spektrumnya luas, dalam hal ini harus ada kesepakatan mengenai definisi skill, karena ada hard skill, soft skill, science skill, life skill, dan skill-skill yang lainnya. Kita jangan menafikan manusia sebagai makhluk yang berpotensi.

Inilah salah satu persoalan klasik pendidikan yang kita hadapi, di satu sisi kita dituntut untuk pintar secara akademik, di sisi lain kita dituntut untuk memiliki “seabreg” kemampuan (skill). Persepsi kedua sisi ini mengakar dalam otak manusia Indonesia. Penilaian seorang guru terhadap siswanya ditilik dari keaktifan siswa, rekam jejak prestasi/nilai siswa (sejenis PR, ulangan harian, UTS, tugas-tugas, dan sebagainya). Namun, bagi para pengamat pendidikan—seharusnya penilaian kecerdasan tidak hanya diukur dari sisi kognitif semata, melainkan harus melimbatkan seluruh potensi siswa dan bakat siswa. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dua pandangan di atas selalu bertolak belakang dalam dunia pendidikan. Para pakar sudah melakukan penelitian mendalam tentang masalah ini. Tetapi, polemik ini masih saja menjangkit pada dunia pendidikan kita. Buktinya sampai sekarang masih banyak yang mengkritisi—sekolah jangan hanya melulu soal nilai (termasuk saya).

Polemik lain, munculnya sekolah unggulan dikhawatirkan berefek pada psikologis calon siswa, tidak sedikit calon siswa gagaltes masuk sekolah unggulan. Akhirnya mereka masuk ke sekolah yang dianggap buangan—dengan kesan, sekolah yang mengakomodir orang-orang bodoh. 

Saya tidak sepakat dengan istilah “sekolah buangan”. Walaupun kita dapati itu sebagai fakta dan pandangan yang lumrah di kalangan pengamat dan masyarakat. Kesan ini sebenarnya yang membuat pendidikan kita susah untuk berkembang. Karena kita sendiri yang membuka ruang para calon siswa menjadi minder akan kecerdasannya, kita sendiri yang membuka lahan kumpulan anak-anak bodoh, dan kita sendiri yang menghinakan generasi kita. Itu tanpa kita sadari. 

Seharusnya kita memahami banyak hal, tidak ada orang bodoh dalam proses belajar mengajar, selagi ia tak berhenti belajar, tidak ada pemalas yang menuntut ilmuselagi ia sekolah, dan tidak ada penindasan intelektualitas dengan mengapling antara si pintar dan si bodoh (hanya dengan standar sekolah semata).

 

Bagi saya, biarkan sekolah unggulan dengan stampel unggulannya (setiap orang punya hak untuk menjadi bangga dengan prestasinya), tetapi jangan biarkan sekolah yang dianggap buangan disuarakan sebagai sekolah rendahan. Seharusnya, konsep pengembangan sekolah ditawarkan tidak melulu fokus pada sekolah unggulan (konsep: “sekolah unggulan yang manusiawi”). Lebih tidak manusiawi lagi ketika sekolah (yang katanya) “kumpulan orang bodoh” dibiarkan tanpa solusi.

Sebenarnya saya kurang nyaman memakai istilah “sekolah buangan”. Terlalu hina bagi sebuah lembaga pendidikan yang berusaha mencetak generasi bangsa. Apalagi di dalam sekolah tersebut ada guru yang terhormat dan ada murid yang punya cita-cita tinggi. Kita harus melihat polemik ini secara utuh, tidak gegabah mengambil kesimpulan, lantaran gara-gara gagal tes masuk sekolah unggulan lantas teramputasi kecerdasannya, saya katakan, tidak! Pasti banyak faktor yang melatarbelakangi ini semua. Mari kita renungkan bersama.

Dalam hal ini, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa semua sekolah itu sama, yang membedakan kualitas kesadaran kita terhadap pentingnya belajar, bisa dari siswanya, gurunya, atau sistemnya. Menurut Lucien Goldmann ada dua kesadaran yang harus kita bangun untuk merubah stigma sekolah yang dianggap “tanda kutip”, yaitu “kesadaran nyata” dan “kesadaran potensial”. Kenyataan berbanding lurus dengan realitas dan potensi berbanding seimbang dengan individu.

Beranjak dari hal tersebut, jika kita mau menggugat Polemik Pendidikan Nasional tentu akan menghasilkan deretan panjang dalam tulisan ini, seperti; rendahnya kontrol terhadap buku-buku pelajaran (terutama lembar kerja siswa), biaya sekolah yang mahal (terutama yang disebut unggulan), kebijakan yang kadang hanya berpijak pada kora-kota besar, marjinalisasi guru dalam pembangunan nasional, sekolah yang menghamba terhadap pasar, dan lebih anehnya,kebiasaan buruk setiap ganti Mentri pasti wacana pergantian kurikulum selalu hadir. (polemik-polemik ini bisa kita lanjutkan panjang lebar dilain kesempatan)

Wal hasil, di Indonesia jangan sekali-kali memukul rata kualitas pendidikan, karena kesejahteraan, keadilan, dan kemapanan pun belum merata di seluruh pelosok Indonesia. Masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang membuat pendidikan tidak terselenggara dengan baik.

Saya tutup tulisan ini dengan kesan, setiap saya membaca buku pendidikan selalu ada pertanyaan, dimanakah anak-anak keluarga miskin dan orang bodoh bersekolah? Saya menjawabnya, di sekolahnya. Kemiskinan bukanlah suatu alasan untuk berhenti sekolah, apalagi berhenti belajar (pemerintah sudah mensiapkan program untuk menanggulangi ini), dan tidak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada orang yang tidak mau belajar, selagi dia masih bersekolah, berarti dia masih belajar (tidak bodoh). 

Di sinilah saya merenung, kenapa “miskin” dan “bodoh” selalu menjadi korban dalam dunia pendidikan? Padahal salah satu fungsi pendidikan adalah mengentaskan manusia dari kedua hal tersebut. Ada yang salah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah, Pahlawan, AlaNu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Majalah NU Sejak 1928

Tidak banyak yang tahu bahwa Nahdlatul Ulama telah memiliki Majalah untuk mengabarkan dan mempublikasikan kegiatannya sejak Shafar 1347 H bertepatan dengan tahun 1928 M. Majalah pertama NU ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon. ?

Dalam buku sejarwan NU asal Surabaya, Choirul Anam, perkembangan media milik PBNU telah didirikan sejak berkantor di Surabaya. Para ulama pendiri NU, ini mengetahui betul peran media dalam penyebaran dan propaganda untuk mengembangkan organisasi dan ajaran Islam.

Majalah NU Sejak 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah NU Sejak 1928 (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah NU Sejak 1928

Dalam terbitan pertamanya, majalah dengan Nama Swara Nahddlatoel Oelama itu dengan redaktur KH Wahab Chasbullah, Direktur Kiai Mas Badul Kohar dan pengarang KH Ahmad Dahlan, KH Mas Alwi bin Abdul Azis dan KH Ridwan.

Majalah NU ini berkantor di Jalan Kawatan Gang Onderling Belang Nomor 9 Surabaya.? Isi majalah selain memberitakan internal kegiatan dan perjuangan NU, juga memuat perkembangan dunia Islam, masalah pemerintahan dan juga ilmu pengetahuan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Soal pemasaran, para pendiri NU dan pengelola majalah ini sangat memahami pasar. Bahkan daftar harga berlangganan majalah dicantumkan. Untuk satu tahun berlangganan seharga 2,50; setengah tahun 1,40, tiga bulan 0,75. Langganan luar daerah dikenakan berbeda terkait ongkos kirim dan ditentukan "uang harus dibayar lebih doeloe."

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tidak hanya soal berlangganan, harga advetorial juga sudah tercantum, baik untuk halaman muka maupun yang di dalam.

Dalam perkembangannya, Majalah Berita Nahdlatul Oelama pada tahun ke-6 atau 1936 H, sudah mencantumkan iklan sebuah toko yang menjual jas dan piayama.

Perkembangan majalah NU ini sepertinya banyak diminati pembaca. Kemudian dibuatlah majalah "Berita Nahdlatul Oelama”, “Oetoesan Nahdlatul Ulama” dengan bahasa bahasa Indonesia.

Perkembangan yang cukup pesat dan untuk keberlangsungan percetakan, KH Wahab Chasbullah bersama beberapa kawannya urunan membeli mesin cetak sendiri. "Begitulah totalitas KH Wahab kepada NU. Sepanjang hidupnya utuk mengembangkan NU," tulis Cak Anam yang juga mantan Ketua GP Ansor Jawa Timur ini. (Muslim Abdurrahman)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Sunnah, Pahlawan, Fragmen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi Kementerian Agama Republik Indonesia Mastuki memberikan penjelasan mengenai maksud dari pernyataan Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin tentang merangkul dan mengayomi pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Menurut Mastuki, yang dimaksud Menteri Agama tentang merangkul dan mengayomi, ialah mengajak para pelaku LGBT untuk kembali kepada jalan yang benar. 

Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul (Sumber Gambar : Nu Online)
Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul (Sumber Gambar : Nu Online)

Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul

Mastuki menegaskan bahwa sikap semua agama terhadap perilaku LGBT sudah jelas, yakni melarang dan dianggap sebagai perbuatan yang menyimpang. "Semua agama," kata Mastuki melalui sambungan telepon, Kamis (21/12) di Jakarta. 

Begitu pun di dalam hukum positif seperti dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan LGBT tidak diperkenankan. Di dalam UU tersebut, katanya, yang namanya perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan. 

"Jadi di sisi ini sudah tidak ada masalah," jelas pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta ini. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, dari sisi agama, para pelaku LGBT sebaiknya tidak dimusuhi, tapi seharusnya disadarkan kembali dengan berbagai cara seperti dilakukan edukasi atau pembinaan agar perilaku menyimpang itu kembali ke jalan yang benar.

"Makanya agama itu penting untuk menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum LGBT ini," pungkas pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu. (Husni Sahal/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Internasional, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 04 Januari 2018

Jelang UN, Pelajar SMAN 1 Jombang Intensifkan Amaliyah Nahdliyah

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menghadapi Ujian Nasional (UN) awal April 2016, seluruh guru dan siswa kelas akhir SMAN 1 Jombang dibekali dengan motivasi spiritual. Bentuk kegiatan yang digelar mengikuti berbagai amaliyah nahdliyah. Mereka melangsungkan shalat dhuha, shalat hajat, istighotsah, tahlil dan shalawatan di lapangan basket sekolah setempat, Jumat (1/4).

"Karena meskipun kalian belajar giat dan rajin, tapi melupakan Allah, itu kosong," kata Kepala SMAN 1 Sih Wihartini. Ia mendorong semua siswa untuk mengikuti kegiatan dengan serius mulai dari awal sampai akhir.

Jelang UN, Pelajar SMAN 1 Jombang Intensifkan Amaliyah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Jelang UN, Pelajar SMAN 1 Jombang Intensifkan Amaliyah Nahdliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Jelang UN, Pelajar SMAN 1 Jombang Intensifkan Amaliyah Nahdliyah

"Kepada siapa lagi kita akan memohon pertolongan jika tidak kepada Allah," ujarnya di depan para peserta.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Seluruh rangkaian kegiatan dipimpin oleh guru agama Islam. Naskah istighotsah yang dibaca adalah susunan Pengasuh Pesantren Darul Ulum Peterongan Jombang KH Muhammad Romli Tamim yang juga dikenal sebagai mursyid tarekat Qadiriyah Naqshabandiyah. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kegiatan seperti ini secara rutin digelar di SMAN 1 Jombang. "Biasanya kita gelar menjelang ujian, baik UN, UAS maupun UTS," kata Mukani, guru agama Islam sekolah tersebut.

Amaliyah nahdliyah ini dipilih, lanjutnya, karena terbukti sesuai dengan kultur masyarakat Jombang. "Juga diharapkan membekali mereka saat di peguruan tinggi nanti, karena di sana pasti banyak gempuran ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan kerangka NKRI," ujarnya.

Alumni Pesantren Seblak Jombang ini menjelaskan bahwa untuk siswa yang nonmuslim juga digelar peribadatan sesuai agama masing-masing. "Tempatnya di ruang perpustakaan," katanya.

Hal ini merupakan wujud dari sikap toleransi yang sudah menjadi kultur SMAN 1 Jombang. "Sikap ini sejalan dengan ajaran tasamuh dalam budaya NU," pungkasnya.

Kegiatan ini juga dilakukan sekolah-sekolah lain. Di level SMA se-Jombang, kegiatan serupa sudah digelar di Masjid Agung Jombang, Selasa (29/3). Pesertanya adalah seluruh siswa akhir dari SMA se-Jombang baik negeri maupun swasta.

"Kegiatan ini diapresiasi positif oleh Wakil Bupati Jombang saat memberikan sambutan. Bahkan Wakil Bupati Ibu Nyai Mundjidah Wahab yang juga Ketua Muslimat NU Jombang meminta kegiatan positif ini dilanjutkan di sekolah masing-masing," pungkasnya. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Nasional Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin

?Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Rais Syuriyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Hasyim Muzadi mengatakan, agar prahara hukum yang menimpa Mahkamah Konstitusi (MK) tak terulang kembali.

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasyim Muzadi: Hakim Harus Siap Miskin

"Semua hakim MK harus siap hidup miskin agar selama menjadi hakim tak mau menerima suap terkait perkara yang sedang dihadapi," kata Hasyim Muzadi saat menjadi tampil sebagai pakar pada uji kelayakan dan kepatuhan calon hakim MK di gedung DPR RI, Jakarta, Senin (3/3/2014).

Karena itulah, sebelum menjadi hakim, mereka harus mamantapkan niat tulusnya menjadi hakim agar di tengah jalan tak mudah tergoda oleh rayuan menerima suap. "Termasuk meminta izin dan meminta kesediaan istrinya untuk hidup miskin. Karena istri bisa menjadi salah satu provokator terjadinya suap," katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hukum di Indonesia, kata Hasyim, sekarang terasa jauh dari keadilan. Padahal tujuan hukum sebenarnya adalah keadilan. "Hukum di Indonesia masih prosedural. Karena. Itu, hukum kerap jauh dari rasa keadilan," jelas pengasuh pondok pesantren Al-Hikam Malang dan Depok ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pada kesempatan tersebut, mantan Ketua Umum PBNU juga menekankan pentingnya kejujuran hakim saat berhadapan langsung dengan suap. Calon hakim yang sekarang seorang akademisi, misalnya, sulit melakukan korupsi karena di kampus tak ada yang dikorupsi.

"?Kalau sudah berada di MK, rayuan untuk menerima suap sangat besar. Seperti yang menimpa Akil Mochtar. Karena itulah, kejujuran menjadi kunci utama untuk tegaknya hukum yang berkeadilan di Indonesia," katanya.

Hasyim Muzadi lebih menekankan kejujuran karena dalam pandangannya mencari orang pintar dan ahli hukum sangat mudah. Yang sulitnya, katanya, adalah mencari orang yang jujur. "Orang pintar banyak. Yang sulit orang jujur. Sayangnya, orang jujur banyak yang tak pintar-pintar," terangnya. (Ahmad Millah/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Kiai, Internasional Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Ketika Lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan Diiringi Musik Hadrah

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ada yang berbeda di panggung Bazar Ramadhan PWNU Jawa Timur, Jumat (9/6) malam. Karena akan ada prosesi pengibaran bendera merah putih lengkap dengan lagu Indonesia Raya. Yang unik adalah lagu kebangsaan tersebut akan diiringi dengan musik hadrah khas nahdliyyin.

?

Ketika Lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan Diiringi Musik Hadrah (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan Diiringi Musik Hadrah (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketika Lagu Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan Diiringi Musik Hadrah

"Iringan musik hadrah tersebut diaransemen oleh Komunitas Qasidah Surabaya atau KQS," kata Ustadz Zaini, koordinator KQS, Jumat (9/6) pagi. Menurutnya, ini merupakan kreasi baru yang unik. Mungkin baru pertama kali ini lagu Indonesia Raya diiringi musik hadrah, lanjutnya.

?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Penampilan tersebut sebagai mata rangkai episode spesial Ramadhan bertajuk "Romadonesia: Meneguhkan Kembali Khittah Keindonesiaan" yang dipersembahkan Cangkir9. Cangkir9 sendiri adalah forum cangkruk dan fikir yang digagas para pegiat PWNU Jatim. Dan penampilan nanti malam sekaligus memperingati proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia versi hijriyah yang tepatnya jatuh 9 Ramadhan.?

?

Mengingat ini adalah inovasi serta dilakukan kepada lagu kebangsaan yang sakral, KQS mempersiapkan dengan sebaik mungkin. "Lebih dari 20 personel terbaik KQS dihadirkan. Ada yang dari Mojokerto, Gresik, dan yang banyak dari Surabaya sendiri," terangnya.?

?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Untuk arasemennya, pembina di KQS yakni Bapak Buya Arif turun tangan langsung. Yang bersangkutan dikenal sebagai musisi senior dan sangat berpengalaman dalam menggarap aransemen musik islami. "Dalam latihan persiapannya, beliau tampak serius dan jeli dalam memadukan beberapa jenis musik, mulai dari rebana, gambus, biola, bass, bahkan juga angklung," tandasnya.

?

Kehadiran Buya Arif diharapkan bisa menampilkan lagu Indonesia Raya dalam aransemen hadrah khas NU dengan baik dan berkesan. "Melalui panggung Cangkir9 besok, inovasi kreatif ini diharapkan bisa menginspirasi bahwa nasionalisme melalui lagu kebangsaan dapat dipadukan budaya keislaman dalam hal ini melalui musik hadrah," jelasnya.?

?

Selain lagu Indonesia Raya, mars Syubbanul Wathon juga akan diaransemen versi hadrah. Dalam latihan terakhir kemarin, mars gubahan KH Abd Wahab Chasbullah tersebut terasa lebih hidup dengan chemistry ke-NU-annnya lebih kuat ketika dinyanyikan dengan iringan musik hadrah.

?

Bagi masyarakat yang penasaran dengan penampilan Indonesia Raya dan Syubbanul Wathan versi hadrah bisa hadir di Bazar Ramadhan PWNU Jatim. Lokasinya berada di parkir utara kantor setempat yang beralamat di Jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya.Kegiatan dimulai pukul 20.00 WIB usai shalat tarawih. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 23 Desember 2017

Menjadi Modern dengan Islam

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal
Islam juga memiliki nilai-nilai modernitas, walaupun tidak seperti di Barat. Menjadi modern berarti hidup sesuai dengan nilai-nilai yang dimiliki. Jadi yang diperlukan adalah konsistensi dalam menjalankan nilai-nilai Islam. Pernyataan tersebut diungkapkan oleh Prof. Tariq Ramadhan dalam acara Dialog Islam Barat, Pengalaman Seorang Muslim Eropa” di Perpustakaan Nasional (13/07)

Tariq Ramadhan yang merupakan cucu pendiri Ikhwanul Muslimin Hasan al Banna menjelaskan bahwa Modernitas berbeda dengan modernisme karena modernisme mengarah pada sikap ekstrim. Secara umum nilai modernitas Barat meliputi Individualisme, Rasionalisme, Kebebasan, Kemajuan, dan Demokrasi.

Islam juga memiliki nilai-nilai tersebut akan tetapi terdapat perbedaan didalamnya. Dalam  Islam tanggung jawab lebih dahulu daripada hak, individu memiliki sikap kolektif dalam bentuk umat yang berarti menghormati orang lain. Tariq berkata “Hak pertama terdapat pada Allah dan justru karena itu, kita menghargai orang lain. Prinsip individualitas juga diakui bahwa kita pada akhirnya kita menghadap Allah sendiri-sendiri.”

Islam juga mengenal prinsip rasionalitas, akan tetapi rasionalitas dalam Islam dibatasi oleh wahyu “Ayat Iqra menunjukkan bahwa kita harus belajar dan hal ini bersifat rasional akan tetapi rasionalitas dalam Islam dibatasi oleh wahyu, sedangkan di Barat akal memiliki kebebasan mutlak untuk menentukan segalanya” ungkap Tariq.

Islam juga memiliki nilai-nilai kebebasan, akan tetapi kebebasan menurut ajaran Islam adalah kebebasan yang bertanggung jawab. Kebebasan dalam Islam berarti menghormati orang lain dan tidak merusak kolektifisme “Bahwa kebebasan tersebut tidak mengganggu hak orang lain,” ungkapnya.

Prinsip kemajuan juga dihargai dalam Islam. Ijtihad merupakan salah satu perwujudan dari prinsip keterbukaan terhadap hal-hal yang bersifat baru, akan tetapi proses ijtihad tersebut juga didasari rambu-rambu dan nilai-nilai yang terkandung dalam Qur’an dan Hadist. “Kemajuan tercermin dalam bentuk ijtihad, namun demikian tetap dalam bingkai aturan tertentu dalam al Qur’an dan sunah sedangkan bagi Barat terbuka semuanya.”

Prinsip demokrasi berupa kebebasan untuk menentukan pilihan juga dijunjung tinggi dalam Islam, dengan menghargai orang lain, mematuhi hukum dll. “Akan tetapi unsur ini tidak secara langsung dinyatakan dalam Al Qur’an sehingga harus disesuaikan dengan budaya lokal masing-masing daerah, bahkan ada bentuk demokrasi yang menamakannya syurokrasi,” tambahnya

Tariq Ramadhan juga menjelaskan bahwa sekularisme tidak mesti bertentangan dengan Islam, terbukti dengan adanya pembagian urusan ibadah dan muamalah, dimana urusan ibadah adalah hubungan langsung dengan Allah sedangkan muamalah adalah hubungan antar manusia.

Harus diakui bahwa saat ini Barat memiliki kebudayaan yang lebih maju daripada dunia Timur dan hal ini menimbulkan sikap-sikap yang harus dihindari yang meliputi Pertama, merasa didominasi yang akan menimbulkan sikap lain, yaitu bahwa pihak-pihak yang bukan Islam ditolak, yaitu bersifat ekslusif terhadap pihak lain dan kedua adalah kekaguman total terhadap nilai-nilai Barat sehingga menelan mentah-mentah apa yang datang dari sana.

Hal lain yang juga harus dihindari adalah merasa menjadi korban yang tidak bisa berbuat apa-apa yang menimbulkan sikap pasrah terhadap nasib yang diterima dengan bersikap pasif. “Untuk itu harus ditanamkan sikap inklusif dengan mengambil yang baik-baik dan menerima perbedaan yang ada dengan melakukan dialog “Tidak semua yang datang dari Barat, Arab, maupun Indonesia merupakan hal yang baik, jadi harus dipilih,” ungkapnya.

Sikap lain yang juga harus dihindari adalah bersikap paranoid bahwa kebobrokan yang kita alami adalah diakibatkan oleh orang lain, bahwa pihak lain selalu mengancam keberadaan kita dan hal ini tidak membuat kita melakukan introspeksi.

“Jadi yang penting adalah kembali ke prinsip universal Islam dimana Allah menciptakan makhluk bersuku-suku dan berbangsa-bangsa untuk saling mengenal dan memahami.” Ungkapnya.

Prinsip-prinsip tersebut merupakan sebuah nilai yang universal sedangkan model disesuaikan dengan kultur dan sejarah masing-masing. “karena sesuatu yang dating dari Barat atau Arab cocok untuk diterapkan di daerah lain,” ungkapnya.(mkf)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Santri, Pahlawan, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menjadi Modern dengan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Menjadi Modern dengan Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Menjadi Modern dengan Islam

Kamis, 21 Desember 2017

NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Pengurus NU Surabaya merekomendasikan kepada pemkot setempat untuk menghadirkan suasana religius terintegrasi di Taman Bungkul. Mereka mengapresiasi penataan yang baik taman kota ini hingga mendapatkan penghargaan di dunia internasional. Hanya saja mereka menyayangkan pemisahan taman ini dengan eksistensi makam Sunan Bungkul sehingga sebagian masyarakat kadang menyalahgunakan taman ini.

Beberapa hari lalu pengurus Syuriyah NU Surabaya melakukan pertemuan membahas itu. "Itu janji Risma tiga tahun lalu dan sampai sekarang belum ditepati. Makanya kami akan tagih lagi," kata Ketua NU Surabaya Muhibbin Zuhri saat sambutan tasyakuran Halah Ke-93 NU di mushala Sunan Bungkul, Surabaya, Ahad (24/4).

NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul (Sumber Gambar : Nu Online)

NU Surabaya Tunggu Janji Pemkot Soal Taman Bungkul

NU, menurutnya, mengemban amanah untuk memperjuangkan kawasan terintegrasi religi khususnya di Taman Bungkul.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kami akan menagih janji Wali Kota Tri Rismaharini atas komitmen mengubah Taman Bungkul menjadi kawasan ziarah wali," ungkap Muhibbin saat memberikan sambutan di area makam.

Di Taman Bungkul Jalan Raya Darmo, Surabaya ini terdapat makam waliyullah Kiai Ageng Supo yang diriwayatkan hidup sezaman dengan Raden Rahmatullah Sunan Ampel. Karena tinggal di kawasan Bungkul, Ki Ageng Supo kemudian dikenal dengan sebutan Sunan Bungkul.

Sebenarnya penataan Taman Bungkul sudah bagus. Hanya keberadaan makam Sunan Bungkul seperti lenyap. Padahal, Sunan Bungkul dikenal sebagai salah satu sosok perintis Kota Surabaya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Dia tokoh dihormati dan bisa mengundang destinasi wisata religi. Tapi sekarang makam Mbah Bungkul seperti terisolasi, seakan terpisah dari taman," kata Muhibbin.

Kondisi Taman Bungkul kian miris karena banyak muda-mudi yang memanfaatkan taman tersebut berbuat tidak pantas. Sering kali digelar acara dengan pengeras suara sehingga mengganggu kekhusyukan para peziarah saat berdoa.

"Menurut informasi tim yang kami terjunkan, PKL di belakang makam Sunan Bungkul sering menggunakan lokasi untuk transaksi jasa layanan seksual," tegas Muhibbin.

Tasyakuran harlah ini diakhiri dengan ziarah di makam Mbah Bungkul. Peringatan ini diawali dengan tahlil bersama yang dipimpin Rais Syuriyah NU Surabaya KH Mas Sulaiman dan diakhiri dengan taushiyah oleh Wakil Rais Syuriyah NU Jatim KH Sholeh Qosim. (Rof Maulana/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Pahlawan, Kajian Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 20 Desember 2017

IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ikatan Pelajar Putri ? NU mendukung putusan MK terkait Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan Sekolah Berstandar Internasional (SBI) yang diputuskan Selasa (8/1) kemarin.

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum PP IPPNU Farida Farichah pada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal per telepon, Rabu (9/1) pagi. Pelajar Putri NU menyatakan kesepakatan yang sama dengan dengan Mahkamah Konstitusi dalam penghapusan RSBI dan SBI yang diatur dalam UU nomor 20 tahun 2003, pasal 50 ayat 3.

IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI (Sumber Gambar : Nu Online)
IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI (Sumber Gambar : Nu Online)

IPPNU Bersyukur Penghapusan Sistem RSBI

“Pencabutan pasal 50 ayat 3 terkait sistem pendidikan nasional dalam menyelenggarakan RSBI dan SBI, sudah benar. Karena, penyelenggaraan tersebut sangat tidak tepat dengan kondisi dunia pendidikan hari ini,” kata Farida.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Farida menilai bahwa RSBI dan SBI tidak memberikan dampak yang signifikan dalam memperbaiki kualitas pelajar Indonesia. Karenanya, Hasil keputusan yang dilakukan terhadap uji materi UU nomor 20 tahun 2003, menjadi sangat bijak dalam konteks kekinian masalah pendidikan.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Pelajar Putri NU menilai bahwa UU tersebut tidak sejalan dengan semangat UUD 1945 yang menjamin seluruh anak Indonesia untuk mendapatkan layanan pendidikan tanpa pembedaan dan diskriminasi. Sementara UU yang mengatur RSBI dan SBI membuat jarak bagi penyelenggaraan pendidikan di tengah masyarakat.

Farida menambahkan bahwa pengesahan UU yang mengatur RSBI dan SBI juga merupakan bukti kepicikan anggota dewan perwakilan rakyat dalam merumuskan UU. Dengan kata lain, kinerja dewan perwakilan rakyat menimbang kasus UU yang mengatur RSBI dan SBI, belum berpihak kepada rakyat banyak dan UUD 1945.

Kita juga berharap ke depan agar anggota dewan lebih cermat dalam merumuskan dan mengesahkan UU karena putusan mereka terkait dengan kepentingan banyak orang, tandas Farida.?

?

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis ? ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal News, Fragmen, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 17 Desember 2017

Bersama Pemerintah, NU Tanggung Jawab Tanggulangi Kemungkaran

Demak, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Warga NU sekarang dihadapkan pada berbagai persoalan yang timbul di masyarakat baik itu maraknya kemungkaran yang merebak dengan munculnya berbagai penyakit masyarakat. Belum lagi masalah berbagai aliran dan radikalisme merupakan tanggung jawab NU untuk ikut andil bersama pemangku pemerintahan dalam menanggulanginya.

“Kami sangat prihatin dengan merebaknya hiburan malam liar seperti tempat karaoke yang cenderung sebagai transaksi prostitusi. NU harus mampu ikut memberantasnya bersama pemerintah,” kata Katib Syuriyah NU Demak KH Muhammad Afif Zuhri saat memberikan wejangan pada pengurus NU dari cabang sampai ranting pada halal bihalal dan istighotsah kebangsaan yang diselenggarakan PCNU Demak di Gedung IHM NU Demak Jalan Yudhomenggalan Bintoro, Demak, Selasa (2/8) malam.

Bersama Pemerintah, NU Tanggung Jawab Tanggulangi Kemungkaran (Sumber Gambar : Nu Online)
Bersama Pemerintah, NU Tanggung Jawab Tanggulangi Kemungkaran (Sumber Gambar : Nu Online)

Bersama Pemerintah, NU Tanggung Jawab Tanggulangi Kemungkaran

Menurut Kiai Afif, ada berbagai langkah untuk bisa menanggulanginya yakni dengan pendekatan pada pejabat selaku pemangku kepentingan, dengan lisan melalui berbagai forum pengajian dan mesin organisasi serta do’a baik secara bersama-sama maupun dalam kesendirian.

“Dengan sosialisasi, kerja sama dengan pemerintah serta do’a bersama warga NU ini jika bisa telampaui saya yakin semuanya bisa tertanggulangi dan terselesaikan,” tutur Kiai Afif.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hadir pada kesempatan itu Ketua JATMAN Jateng KH Zaini Mawardi, staf ahli Bupati Demak Edi Jatmiko, Ketua MUI Demak KH Moh Asyiq serta pengurus NU Demak, lembaga dan banom, MWCNU serta ranting NU se-Kabupaten Demak. (A Shiddiq Sugiarto/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Cerita, Halaqoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Mapaba PMII Banda Aceh Diikuti Peserta dari 4 Kampus

Banda Aceh, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?



Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banda Aceh merekrut anggota baru melalui "Masa Penerimaan Anggota Baru" (Mapaba) Sabtu 8-9 Oktober di Aula Gedung Dispora Aceh.

Pada pembukaan, kegiatan tersebut dihadiri PWNU Aceh, PCNU Kota Banda Aceh, IPNU Aceh, PKC PMII Aceh dan juga beberapa perwakilan dari Pengurus Cabang PMII se-Aceh.

Mapaba PMII Banda Aceh Diikuti Peserta dari 4 Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)
Mapaba PMII Banda Aceh Diikuti Peserta dari 4 Kampus (Sumber Gambar : Nu Online)

Mapaba PMII Banda Aceh Diikuti Peserta dari 4 Kampus

Mapaba bertema "Membangun Integritas, Mencetak Kader Pembela Bangsa Penegak Agama” ini diikuti 57 peserta dari mahasiswa dari UIN Ar-Raniry, UNSYIAH, USM dan UNMUHA.

Ketua PMII Kota Banda Aceh Akmaluddin mengatakan, pengkaderan akan terus dilakukan karena kewajiban organisasi. "Pengurus Cabang sudah membentuk Tim Kaderisasi untuk mengawal berjalannya agenda pengkaderan yang dipusatkan di beberapa kampus," jelasnya.

Akmal berharap Mapaba tahun ini berjalan sebagimana yang diharapkan bersama. "Dengan ini kami sangat berharap, semoga kader-kader yang ada mampu membawa PMII Kota Banda Aceh lebih baik lagi ke depan," katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketua Mabincab PMII Kota Banda Aceh, Tgk. Asnawi M. Amin berharap warga pergerakan menjadi garda terdepan menjaga nilai-nilai Aswaja yang sudah melekat dikalangan kader PMII.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tak hanya itu, menurut dia, PMII hrus menggunakan rumus menerima nilai-nilai baru yang lebih baik sehingga menjadi kader militan berbasis intelektual yang siap memberikan kontribusi untuk Aceh khususnya dan Indonesia secara umum.

Setelah acara pembukaan selesai, para peserta disuguhkan dengan beberapa materi tentang Nilai Dasar Pegerakan (NDP), Mahasiswa dan Tanggung Jawab Sosial, dan materi-mater ke-PMII-an lainnya. (Fauzi Efend/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Nasional Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah

Semarang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa Aizzuddin mengusulkan agar pencak silat diajarkan di seluruh sekolah di Indonesia. Alasannya, olah raga bela diri ini adalah keterampilan asli Indonesia dan harus dilestarikan oleh bangsa Indonesia sendiri.

Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Pagar Nusa Usulkan Pencak Silat Jadi Pelajaran Wajib di Sekolah

Pria yang akrab disapa Gus Aiz ini mengatakan, di antara kekuatan negara kecil seperti Jepang yang pernah menjajah bangsa-bangsa lain dan sekarang menguasai teknologi di dunia belajar bela diri yang diwajibkan pembelajarannya sejak sekolah dasar.

Guz Aiz menyampaikan hal itu dalam acara pembukaan Kejuaraan Daerah (Kejurda) ke-2 di kompleks Pondok Pesantren Az-Zuhri, Ketileng, Semarang selama tiga hari, Sabtu sampai Senin (11-13/1).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Pencak Silat adalah warisan asli bangsa kita. Dulu dipakai para ulama dan para pahlawan untuk berjuang merebut kemerdekaan. Harus dilestarikan dan dijadikan pelajaran wajib di seluruh sekolah di Indonesia. Kita tiru Jepang dari sisi baiknya,” ujarnya berapi-api disambut tepuk tangan hadirin.

Sementara itu, Ketua Tanfidziyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama Jawa Tengah Abu Hafsin Umar menyampaikan, pihaknya telah menyetujui usulan Pagar Nusa, agar diajarkan sebagai olahraga wajib di seluruh sekolah NU, baik sekolah resmi milik Lembaga Pendidikan Maarif NU, maupun yang dinaungi NU.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kerjuda II ini diikuti 236 atlet wiralaga dan 23 kontingen Seni Jurus, baik putri maupun putra. Mereka utusan dari 23 Pimpinan Cabang IPS NU Pagar Nusa se-Jateng. Para atltet akan memperebutkan piala kategori tanding remaja Pa dan Pi, Dewasa Pa dan Pi, seni beregu, serta seni ganda. (Mohammad Ichwan/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 21 November 2017

Guru para Ahli Falak Indonesia

Penanggalan adalah alat ukur yang disepakati oleh setiap orang sebagai penentu kejadian-kejadian di sekeliling mereka. Karena masyarakat Indonesia mengenal dua jenis penanggalan, yakni penanggalan Qomariyah (berdasarkan edar Bulan) dan Syamsiyah (berdasarkan edar Matahari), maka menjadi cukup pelik untuk menyatukan keduanya.

Kepelikan ini dikarenakan penanggalan Qomariyah memiliki dua metode penentuan, yakni metode hisab (hitungan) dan rukyah (melihat) langsung wujud hilal (bulan sabit). Karena penanggalan Islam (syariah) didasarkan pada penanggalan Qomariyah maka tentu saja segala peristiwa-peristiwa keagamaan ditentukan berdasarkan penanggalan Qomariyah. Artinya jadwal dapat ditentukan dengan dua metode penentuan waktu pada sistem penanggalan ini. Padahal hasil dari masing-masing metode seringkali berbeda. Perangkat keilmuan yang digunakan untuk menentukan jadwal penanggalan syar’i inilah yang disebut sebagai ilmu falak. Maka tokoh-tokoh ilmu dan pengambil keputusan jadwal-jadwal penanggalan syar’i juga kemudian desebut sebagai ahli falak.

Guru para Ahli Falak Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru para Ahli Falak Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru para Ahli Falak Indonesia

Ketika terjadi peristiwa-peristiwa penting dalam kehidupan keagamaan masyarakat dengan hasil penentuan yang berbeda, maka umat pun biasanya menjadi terpecah, karena masing-masing pihak memiliki argumen dan landasan hukum yang biasanya juga dianggap sama-sama kuat dan valid.

Perselisihan menjadi semakin komplek manakala masing-masing pihak yang berbeda pendapat lebih mengedepankan ego masing-masing kelompoknya. Perbedaan penentuan ini kemudian menjadi semakin meruncing karena dianggap sebagai perbedaan akidah. Kondisi demikian ini terus berlarut-larut terjadi dalam kehidupan umat Islam Indonesia.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di tengah kondisi yang demikian, tentu umat membutuhkan panutan yang dapat mereka ikuti. Seorang figur yang dapat mempertanggungjawabkan pendapatnya serta tidak menimbulkan persengketaan berkepanjangan dan bertele-tele. Singkatnya, umat membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengayomi dan meredam konflik.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam hal ini, umat Islam Nusantara memilik salah seorang tokoh falak dari kota Kudus Jawa Tengah yang cukup mumpuni dan layak diteladani. Beliau adalah KH. Turaichan Adjhuri Asy-Syarofi, yang semasa hidupnya dipercayai menjadi Ketua Markas Penanggalan Jawa Tengah.

Ulama kelahiran Kudus, 10 Maret 1915 ini adalah putera Kiai Adjhuri dan Ibu Nyai Sukainah. Terlahir di lingkungan agamis kota santri, sebagai anak yang membekali dirinya dengan belajar melaui sistem tradisional masyarakat yang telah turn-temurun dijalani keluarga dan teman-teman di sekitarnya. Mengaji pada para Kiyai dan ulama di sekitar tempat tinggalnya dan memulai pendidikan formal di daerah setempat tanpa mengurangi menimba ilmu dalam sistem tradisional. Satu hal yang menjadi ciri Mbah Tur, Sapaan akrabnya, dibanding tokoh-tokoh dari daerah lain adalah bahwa Beliau tidak pernah mondok di sebuah pesantren sebagai santri yang diasramakan. Meski sebenarnya hal ini lazim bagi para ulama di daerah asalnya, namun tidaklah demikian halnya dengan para ulama yang berasal dari daerah-daerah Nusantara lainnya.

Kiai Turaichan hanya mengenyam pendidikan formal selama dua tahun saja, yakni ketika berusia tiga belas hingga lima belas tahun. Tepatnya di Madrasah Tasywiquth Thullab Salafiyyah (TBS) Kudus pada kisaran tahun 1928 M. yakni sejak madrasah tersebut didirikan. Namun karena kemampuannya yang melebihi rata-rata, maka beliau justru diperbantukan untuk membantu palaksanaan belajar mangajar. Namun demikian Beliau tetap melanjutkan menuntut ilmu dalam garis tradisional (non formal).

Sejak mulai mengajar di Madrasah TBS Kudus inilah, Kiai Turaichan mulai aktif di dunia pergerakan. Dalam arti Beliau mulai melibatkan diri dalam dunia dakwah kemasyarakatan dan diskusi-diskusi ilmiah keagamaan. Mulai dari tingkat terendah di kampung halaman sendiri, hingga tingkat nasional.

Sejak saat itu pula Beliau mulai turut aktif terlibat dalam forum-forum diskusi Batsul Masail pada muktamar-muktamar NU. Kecerdasan dan Keberaniannya mengungkapkan argumen telah terlihat sejak awal keterlibatannya dalam forum-forum tersebut. Ia tanpa segan-segan mengungkapkan pendapatnya di depan siapa pun tanpa merasa pekewuh jika pendapatnya berbeda dengan pendapat ulama-ulama yang lebih senior, seperti KH. Bisri Sansuri dari Pati yang kemudian mendirikan Pesantren Denanyar Jombang.

Kiprahnya Mbah Tur juga telihat dalam dunia politik di tingat pusat. Beberapa kali Kiai Turaichan ditunjuk menjadi panitia Ad Hoc oleh pimpinan Pusat Partai NU. Sementara di daerahnya sendiri, tercatat Beliau menjadi Rais Syuriyah Pimpinan Cabang. Pernah juga dipercaya menjadi qodhi (hakim) pemerintah pusat pada tahun 1955-1977 M.

Namun spesifikasi keilmuan yang menjadikannya sedemikian populer dan kharismatis adalah di bidang falak. Hal ini dikarenakan Kiai Turaichan sedemikian teguh dalam memegang pendapatnya. Beliau tergabung dalam tim Lajnah Falakiyyah PBNU. Beberapa kali terlibat silang pendapat dengan pendapat ulama-ulama mayoritas, namun ia tetap kukuh mempertahankan pendapatnya. Terbukti kemudian, pendapat-pendapatnya lebih banyak yang sesuai dengan kenyataan. Hal inilah yang membuat kharisma dan kealiman serta ketelitian Beliau semakin diperhitungkan. Hingga Kiai Turaichan kemudian lebih dikenal sebagai ahli falak yang sangat mashur di Indonesia, dan mempunyai banyak murid menekuni ilmu falakiyah hingga sekarang.

Selanjutnya, Mbah Tur tidak pernah absen dalam muktamar-muktamar NU, kecuali sedang udzur karena kesehatan. Belakangan, ketika terjadi perubahan asas dasar NU dari asas Ahlussunnah wal Jamaah menjadi asas Pancasila, Mbah Tur menyatakan mufaroqoh (memisahkan diri) dari Jamiyyah (keorganisasian NU).

Hal yang menarik di sini adalah, meski telah menyatakan mufaroqoh secara keorganisasian namun Beliau tetap dipercaya sebagai Rais Suriyah di tingkat Cabang. Sedangkan untuk tingkat Pusat Kiai Turaichan memang tidak lagi aktif seperti dahulu. Karenanya, Kiai Turaichan kemudian mempopulerkan istilah ”Lokalitas NU” yang berarti tetap setia untuk eksis memperjuangkan Jam’iyyah NU dalam skala lokal, yakni di NU cabang Kudus saja. Untuk tingkat yang lain (lebih tinggi), Beliau telah menyatakan mufaroqoh. Bahkan seringkali Beliau juga seringkali memiliki pendapat-pendapat falakiyah (penetapan tanggal suatu kejadian yang berbeda dengan garis kebijakan PBNU, dan karena telah menyatakan mufaroqoh, maka beliau tidak merasa terikat oleh keputusan apa pun yang dibuat oleh PBNU.

Kendati demikian, Kiai Turaichan tetap menjalin hubungan yang baik dengan pihak-pihak yang sering menolak keputusannya. Bahkan Beliau selalu bersikap akomodatif kepada pemerintah, walaupun pemerintah pernah beberapa kali mencekalnya karena mengeluarkan pernyataan berbeda dengan pemerintah perihal penentuan awal bulan Syawal. Termasuk akan menyidangkannya ke pengadilan pada tahun 1984, ketika menentang perintah pemerintah untuk berdiam diri di rumah saat terjadi gerhana Matahari total pada tahun tersebut. Alih-alih menaati, Beliau justru mengajak untuk melihat peristiwa tersebut secara langsung dengan mata kepala telanjang.

Pada waktu terjadi peristiwa gerhana Matahari total tersebut, Mbah Tur memberi pengumuman kepada umat Muslim di Kudus, bahwa gerhana Matahari total adalah fenomena alam yang tidak akan menimbulkan dampak (penyakit) apapun bagi manusia jika iengin melihatnya, bahkan Allah-lah yang memerintahkan untuk melihatnya secara langsung. Hal ini dikarenakan redaksi pengabaran fenomena yang menunjukkan keagungan Allah ini difirmankan oleh Allah menggunakan kata ”abshara”. Artinya, perintah melihat dengan kata ”abshara” adalah melihat secara langsung dengan mata, bukan makna denotatif seperti mengamati, meneliti dan lain-lain, meskipun memang ia dapat berarti demikian secara lebih luas.

Pada hari terjadinya gerhana matahari total di tahun tersebut, Kiai Turaichan tengah berkhutbah di Masjid al-Aqsha, menara Kudus. Tiba-tiba di tengah-tengah Beliau berkhutbah, Beliau berkata kepada seluruh jamah yang hadir, ”Wahai Saudara-saudara, jika Kalian tidak percaya, maka buktikan. Sekarang peristiwa yang dikatakan menakutkan, sedang berlangsung. Silahkan keluar dan buktikan, bahwa Allah tidak menciptakan bala’ atau musibah darinya. Silahkan. Keluar dan saksikan secara langsung!” Maka, para Jamaah pun lantas segera berhamburan keluar, menenagadah ke langit dan menyaksikan secara langsung dengan mata kepala telanjang terjadinya gerhana Matahari total.

Setelah beberapa saat, para jamaah kembali ke tempatnya semula, acara khutbah khushufusy Syamsy pun dilanjutkan dan tidak terjadi suatu musibah apa pun bagi mereka semua. Namun karena keberaniannya ini, Kiai Turaichan harus menghadap dan mempertanggungjawabkan tindakannya di depan aparat negara yang sedemikian represif waktu itu. Meski demikian sama sekali Kiai Turaichan tidak menunjukkan tabiat mendendam terhadap pemerintah.

Bahkan hingga menjelang akhir hayatnya pada 20 Agustus 1999, Mbah Tur termasuk ulama yang sangat antusias mendukung undang-undang pencatatan nikah oleh negara yang telah berlaku sejak tahun 1946 tersebut. Beliau sangat getol menentang praktik-praktik nikah Sirri atau di bawah tangan. Menurutnya, selama hukum pemerintah berpijak pada kemaslahatan umat dan tidak bertentangan dengan syariat Islam, maka wajib bagi seluruh umat muslim yang menjadi warga negara Indonesia untuk menaatinya. Artinya pelanggaran atas suatu peraturan (undang-undang) tersebut adalah juga dihukumi sebagai kemaksiatan terhadap Allah. Demikian pun menaatinya, berarti adalah menaati peraturan Allah. (Syaifullah Amin)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock