Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 Februari 2018

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Penentu kelulusan siswa itu seyogianya diserahkan kepada pihak sekolah. Penentuan kelulusan oleh pemerintah pusat berarti merampas hak guru dan sekolah karena pemerintah hanya menilai prestasi pelajar dari ujian tulis saja.

Demikian tanggapan Drs. Suharyanto, Kepala Sekolah SMK Ma’arif Yogyakarta, terhadap isu kebijakan pemerintah tentang ujian nasional yang akan ditentukan oleh sekolah, saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal di kantornya, Jl. Hos Cokroaminoto, Sabtu (17/01).

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)
Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN (Sumber Gambar : Nu Online)

Guru Harus Dilibatkan dalam Penentuan Kelulusan UN

Ia menjelaskan, memang seharusnya, dalam penentuan kelulusan harus mempertimbangkan budi pekerti, perilaku dan kreativitas siswa. “Kita (guru) tahu siswa kita seperti apa.? Kita bisa menambah nilai bagi anak yang patut ditambah. Misalnya, kalau ada siswa yang rajin sekali masuk sekolah dan berperilaku baik, maka ini akan kita pertimbangkan. Kalau siswa seperti itu dinyatakan tidak lulus kan tidak adil,” ungkapnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Suharyanto menjelaskan tentang ketidakadilan lain, misalnya ketika ada siswa yang sering bolos, buruk secara perilaku, tapi lulus karena ia beruntung mennjawab soal dengan benar meski dengan cara mengundi.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Budi pekerti, sopan santun, menjadi krisis di sekolah, karena penentuan kelulusan hanya berdasarkan ujian tulis. Kalau kelulusan ditentukan oleh sekolah, itu akan menjadi bahan pertimbangan kelulusan bagi siswa. Kalau kelulusannya ditentukan oleh pusat, guru tidak berhak menilai anak,” tandasnya.

Sampai saat ini, kata Suharyanto, belum ada surat edaran resmi dari pemerintah. “Baik besok ujiannya mau Unas atau apa, ditentukan oleh pemerintah atau sekolah, kita sudah siap. Guru-guru sudah kita bagi tugas, masing-masing guru kita minta untuk menangani dua siswa, untuk mengawal sejak sekarang hingga menjelang ujian," tuturnya. (Nur Sholikhin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah, Pendidikan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Pariaman, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Mahasiswa harus menyiapkan dirinya menjadi pemimpin dan wirausahawan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Karenanya selagi mahasiswa harus fokus belajar baik di dalam kampus, maupun di luar kampus.

Demikian terungkap dalam seminar nasional yang digelar Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, Sabtu (30/9) di hall Saiyo Sakato, Pariaman.

Seminar menampilkan narasumber Ketua DPW Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sumatera Barat Syamsul Bahri  dan Ketua GP Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana dengan moderator Wakil Ketua II STIE Sumbar Satria Effendi Tuanku Kuning. Seminar dibuka Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyudin.

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Mardison menyampaikan, saat ini kondisi generasi muda terbelah. Di satu sisi banyak yang melakukan tindakan negatif yang merugikan diri sendiri dan masyarakat di lingkungannya. Di sisi lain, banyak pula generasi muda  bertindak positif dengan berbagai kegiatan yang bermanfaatkan. "Bagaimana kita bersama merangkul generasi muda yang bertindak negatif tersebut berubah menjadi bertindak positif dalam hidupnya," kata Mardison.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, generasi muda yang diharapkan adalah generasi yang sehat, islami, mampu berkarya, inovatif, kreatif. Generasi muda semacam inilah yang lebih siap jadi pemimpin dan pengusaha sebagaimana tema dari seminar ini. PMII sebagai wadah organisasi mahasiswa tentu diharapkan mampu menyiapkan generasi muda yang mandiri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Zeki Aliwardana dalam paparannya menyebutkan, pemimpin harus menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik menggunakan kewenangannya secara cerdas dan peka sehingga menjadi sangat berwenang tanpa sewenang-wenang.

"Menjadi pemimpin bukan berarti mendapatkan hak untuk memerintah. Tetapi justru kewajiban memberi teladan sehingga orang lain bisa menerima perintahnya tanpa merasa direndahkan," kata Zeki Aliwardana yang mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Ia menambahkan, karakteristik pribadi pemimpin yang harus memiliki kecerdasan cukup tinggi, kecakapan berkomunikasi, kecakapan mendidik, emosi terkendali, memiliki motivasi berprestasi, kepercayaan diri dan ambisi. Pemimpin yang tidak memiliki karakteristik tersebut, tidak akan pernah menjadi pemimpin sukses.

Syamsul Bahri menyebutkan, wirausahawan dan kepemimpinan saling terkait. Pemimpin yang mandiri adalah pemimpin yang mampu mengayomi orang-orang yang dipimpinnya. Wirausahawan bagaimana pun harus bermanfaat bagi lingkungannya. Begitu pula pemimpin, harus bermanfaat bagi orang di lingkungannya.

Ketua PK PMII STIE Sumbar Zulkifli mengatakan, seminar nasional dan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-X yang diikuti 100 peserta bertemakan, Melahirkan Pemimpin dan Pengusaha yang Kreatif, Inovatif Menuju Indonesia Mandiri.

"Ini Mapaba pertama di Kota Pariaman yang paling banyak pesertanya. Sehingga Ketua GP Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana memberikan penghargaan kepada PK PMII STIE Sumbar yang diserahkan usai seminar menjelang sesi Mapaba dimulai," kata Zulkifli. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 14 Januari 2018

Pesantren Bentengi Anak Muda dari Budaya dan Ajaran Luar

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mustasyar PCNU Kota Kraksaan Kabupaten Probolinggo H Hasan Aminuddin meminta agar jangan sampai anak cucu masyarakat terjebak dan mudah dipengaruhi oleh budaya dan ajaran lain di luar Islam.

Pesantren Bentengi Anak Muda dari Budaya dan Ajaran Luar (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Bentengi Anak Muda dari Budaya dan Ajaran Luar (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Bentengi Anak Muda dari Budaya dan Ajaran Luar

Permintaan tersebut disampaikannya saat menghadiri haflatul imtihan Pondok Pesantren Ar-Rofi’iyyah di Kelurahan Semampir Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo, Selasa (15/12) malam. Menurutnya, untuk membentengi anak muda saat ini, pesantren menjadi solusi dan pilihan para orang tua.

“Pesantren harus terus berbenah dan melakukan perbaikan. Saat ini ukuran pesantren bukan kuantitas lagi tetapi kualitasnya. Oleh karena itu, tingkatkanlah kualitas pesantren. Sebab pesantren ini sudah menjadi para orang tua untuk membentengi anaknya dari ancaman budaya dan paham-paham lain di luar NU,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Hasan, lembaga pendidikan di lingkungan pesantren sangat lengkap. Baik urusan dunia maupun akhirat. Masyarakat akan tertarik asalkan aman dan manajemennya bagus. “Kalau manajemennya bagus, maka orang tua akan tertarik menitipkan anaknya di pesantren,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kepada para dewan guru Hasan meminta agar ikhlas mengalirkan ilmu kepada para santrinya. Manajemennya juga harus dirubah dengan mengikuti perkembangan zaman. “Didiklah anak santri ini sebagaimana zaman hari ini. Buatlah manajemen sesuai dengan tuntutan zaman saat ini. Kepada santri, mantapkanlah sekolah disini dengan disiplin. Sebab kalian adalah calon pemimpin masa depan,” pungkasnya.

Sementara Pengasuh Pondok Pesantren Ar-Rofi’iyyah KH Hafidz Rofi’i Abdul Karim mengungkapkan bahwa sistem pembelajaran yang diterapkan di pesantrennya adalah kombinasi antara salafiyah dan umum. Dimana pagi sampai siang hari santri sekolah umum dan sore hingga malam harinya melakukan aktivitas di pesantren.

“Sesuai dengan SK Kementerian Hukum dan HAM RI, luas pesantren ini mencapai 1,250 hektar. Namun ke depan kami akan terus berupaya untuk memperluas lingkungan pesantren. Mohon doa dan dukungannya demi perbaikan dan kemajuan pesantren,” katanya.

Haflatul imtihan yang diikuti oleh para santri dan wali santri ini dihadiri oleh Rais Syuriyah PCNU Kota Kraksaan KH Munir Kholili, Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Kraksaan H Nasrullah A. Suja’i serta sejumlah tokoh agama dan tokoh masyarakat di Kecamatan Kraksaan Kabupaten Probolinggo. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah, Pertandingan, Hikmah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 12 Januari 2018

Problem Pendidikan Nasional

Oleh Aswab Mahasin

Manusia mendapati dirinya dalam keadaan bimbang, di satu sisi ia adalah subjek dari dunia, di sisi lain ia adalah objek dari dunia. Kedua sisi itu dialami secara sadar oleh manusia. Namun, kesadaran manusia belum menjamin bahwa ia paham akan realitas dunia, manusia tertutup oleh fakta hidupnya sendiri. Namun yang perlu diingat, sebuah fakta bukanlah kebenaran mutlak, fakta hanya kebenaran realitas (bisa berubah-ubah), dan sebuah fakta akan menjadi kebenaran ketika di dalamnya mengandung sisi “kemanfaatan”.

Pendidikan merupakan jalan manusia menjadi manfaat dan sadar. Perspektif ini, tidak berbicara makna pendidikan dalam arti sempit, persepsi yang saya bangun adalah “Semua untuk Sekolah”, tidak hanya “Sekolah untuk Semua”. Maksudnya, dunia ini adalah sekolah bagi seluruh manusia. 

Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Problem Pendidikan Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Problem Pendidikan Nasional

Manusia terlahir ke dunia tujuan utamanya adalah sekolah/menuntut ilmu/berpengetahuan, Rasulullah berpesan, “(sekolahlah kalian semua)/menuntut ilmu sejak dari buaian sampai ke liang lahat.” Dan Pesan selanjutnya, “Siapa saja yang ingin bahagia di dunia dan akhirat harus dengan ilmu (harus bersekolah)”. Kenapa pesan tersebut menjadi penting buat kita? Karena kualitas hidup manusia terus meningkat.

Kalau pun nantinya manusia harus menempuh jalur pendidikan formal, itu sebagai nilai tawar semata (menjadi wajib bagi manusia sekarang). Karena pasar menghendaki demikian; ijazah, nilai yang tinggi, dan ketekunan. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Akan tetapi,jika ada yang mengatakan seseorang memiliki ijazah belum tentu mempunyaiskill, bagi saya keliru. Terlalu vulgar mengatakan itu.Skill spektrumnya luas, dalam hal ini harus ada kesepakatan mengenai definisi skill, karena ada hard skill, soft skill, science skill, life skill, dan skill-skill yang lainnya. Kita jangan menafikan manusia sebagai makhluk yang berpotensi.

Inilah salah satu persoalan klasik pendidikan yang kita hadapi, di satu sisi kita dituntut untuk pintar secara akademik, di sisi lain kita dituntut untuk memiliki “seabreg” kemampuan (skill). Persepsi kedua sisi ini mengakar dalam otak manusia Indonesia. Penilaian seorang guru terhadap siswanya ditilik dari keaktifan siswa, rekam jejak prestasi/nilai siswa (sejenis PR, ulangan harian, UTS, tugas-tugas, dan sebagainya). Namun, bagi para pengamat pendidikan—seharusnya penilaian kecerdasan tidak hanya diukur dari sisi kognitif semata, melainkan harus melimbatkan seluruh potensi siswa dan bakat siswa. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dua pandangan di atas selalu bertolak belakang dalam dunia pendidikan. Para pakar sudah melakukan penelitian mendalam tentang masalah ini. Tetapi, polemik ini masih saja menjangkit pada dunia pendidikan kita. Buktinya sampai sekarang masih banyak yang mengkritisi—sekolah jangan hanya melulu soal nilai (termasuk saya).

Polemik lain, munculnya sekolah unggulan dikhawatirkan berefek pada psikologis calon siswa, tidak sedikit calon siswa gagaltes masuk sekolah unggulan. Akhirnya mereka masuk ke sekolah yang dianggap buangan—dengan kesan, sekolah yang mengakomodir orang-orang bodoh. 

Saya tidak sepakat dengan istilah “sekolah buangan”. Walaupun kita dapati itu sebagai fakta dan pandangan yang lumrah di kalangan pengamat dan masyarakat. Kesan ini sebenarnya yang membuat pendidikan kita susah untuk berkembang. Karena kita sendiri yang membuka ruang para calon siswa menjadi minder akan kecerdasannya, kita sendiri yang membuka lahan kumpulan anak-anak bodoh, dan kita sendiri yang menghinakan generasi kita. Itu tanpa kita sadari. 

Seharusnya kita memahami banyak hal, tidak ada orang bodoh dalam proses belajar mengajar, selagi ia tak berhenti belajar, tidak ada pemalas yang menuntut ilmuselagi ia sekolah, dan tidak ada penindasan intelektualitas dengan mengapling antara si pintar dan si bodoh (hanya dengan standar sekolah semata).

 

Bagi saya, biarkan sekolah unggulan dengan stampel unggulannya (setiap orang punya hak untuk menjadi bangga dengan prestasinya), tetapi jangan biarkan sekolah yang dianggap buangan disuarakan sebagai sekolah rendahan. Seharusnya, konsep pengembangan sekolah ditawarkan tidak melulu fokus pada sekolah unggulan (konsep: “sekolah unggulan yang manusiawi”). Lebih tidak manusiawi lagi ketika sekolah (yang katanya) “kumpulan orang bodoh” dibiarkan tanpa solusi.

Sebenarnya saya kurang nyaman memakai istilah “sekolah buangan”. Terlalu hina bagi sebuah lembaga pendidikan yang berusaha mencetak generasi bangsa. Apalagi di dalam sekolah tersebut ada guru yang terhormat dan ada murid yang punya cita-cita tinggi. Kita harus melihat polemik ini secara utuh, tidak gegabah mengambil kesimpulan, lantaran gara-gara gagal tes masuk sekolah unggulan lantas teramputasi kecerdasannya, saya katakan, tidak! Pasti banyak faktor yang melatarbelakangi ini semua. Mari kita renungkan bersama.

Dalam hal ini, saya hanya ingin menyampaikan, bahwa semua sekolah itu sama, yang membedakan kualitas kesadaran kita terhadap pentingnya belajar, bisa dari siswanya, gurunya, atau sistemnya. Menurut Lucien Goldmann ada dua kesadaran yang harus kita bangun untuk merubah stigma sekolah yang dianggap “tanda kutip”, yaitu “kesadaran nyata” dan “kesadaran potensial”. Kenyataan berbanding lurus dengan realitas dan potensi berbanding seimbang dengan individu.

Beranjak dari hal tersebut, jika kita mau menggugat Polemik Pendidikan Nasional tentu akan menghasilkan deretan panjang dalam tulisan ini, seperti; rendahnya kontrol terhadap buku-buku pelajaran (terutama lembar kerja siswa), biaya sekolah yang mahal (terutama yang disebut unggulan), kebijakan yang kadang hanya berpijak pada kora-kota besar, marjinalisasi guru dalam pembangunan nasional, sekolah yang menghamba terhadap pasar, dan lebih anehnya,kebiasaan buruk setiap ganti Mentri pasti wacana pergantian kurikulum selalu hadir. (polemik-polemik ini bisa kita lanjutkan panjang lebar dilain kesempatan)

Wal hasil, di Indonesia jangan sekali-kali memukul rata kualitas pendidikan, karena kesejahteraan, keadilan, dan kemapanan pun belum merata di seluruh pelosok Indonesia. Masih banyak ketimpangan-ketimpangan yang membuat pendidikan tidak terselenggara dengan baik.

Saya tutup tulisan ini dengan kesan, setiap saya membaca buku pendidikan selalu ada pertanyaan, dimanakah anak-anak keluarga miskin dan orang bodoh bersekolah? Saya menjawabnya, di sekolahnya. Kemiskinan bukanlah suatu alasan untuk berhenti sekolah, apalagi berhenti belajar (pemerintah sudah mensiapkan program untuk menanggulangi ini), dan tidak ada orang bodoh di dunia ini, yang ada orang yang tidak mau belajar, selagi dia masih bersekolah, berarti dia masih belajar (tidak bodoh). 

Di sinilah saya merenung, kenapa “miskin” dan “bodoh” selalu menjadi korban dalam dunia pendidikan? Padahal salah satu fungsi pendidikan adalah mengentaskan manusia dari kedua hal tersebut. Ada yang salah? Wallahu a’lam.

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah, Pahlawan, AlaNu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 11 Januari 2018

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Oleh Candra Malik

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar. Laa ilaaha illalaahu, Allahu Akbar. Allahu Akbar, wa lillaahil hamdu.

Gelombang ribuan malaikat selalu bertawaf dan shalat di Baitul Makmur di langit ketujuh. Ketika diperjalankan Allah dalam Isra Mikraj, Muhammad SAW berjumpa dengan Ibrahim AS di Rumah Allah yang diyakini segaris lurus dengan Kabah di Makkah itu. Sementara, lautan manusia bertawaf di Baitullaah di Tanah Haram.

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendorong Makin Tumbuh Kembangnya Sastra Santri

Namun, Hamzah Fansuri, penyair Sufi dari Barus yang berada di bawah pendudukan Kasultanan Aceh pada kurun 1524-1668, memiliki sentuhan keindahan tersendiri mengabadikan kerinduannya pada Allah. Ia meyakini “kediaman” Allah tak jauh, yakni dalam hati manusia. Sebab, Tanah Haram bersemayam di hati insan beriman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hamzah Fansuri di dalam Mekkah

Mencari Tuhan di Bait al-Kabah

Dari Barus ke Qudus terlalu payah

Akhirnya dapat di dalam rumah

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pengarang kitab Syarab al-Asyiqin (Minuman Pecinta yang Birahi) ini memberi pengaruh besar tidak hanya di semesta kesufian di tanah air. Ia juga menjadi rujukan penting di dunia kesusastraan hingga sekarang. Jika berbicara tentang Sastra Indonesia, niscaya kita tak bisa lepas dari Sastra Nusantara, termasuk Sastra Melayu.

Ketika percakapan sampai pada Sastra Indonesia, A. Teeuw mencatat Muhammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai salah seorang tokoh penting Sumpah Pemuda 1928 dan pendiri bangsa Indonesia, sebagai peletak tonggak. Sajaknya berjudul Bahasa, Bangsa pada 1921 dianggap membuka sastra Indonesia modern.

Selagi kecil berusia muda,

Tidur di anak di pangkuan bunda,

Ibu bernyanyi, lagu dan dendang

Memuji si anak banyaknya sedang;

Berbuai sayang malam dan siang

Buaian tergantung di tanah moyang.

Terlahir di bangsa, berbahasa sendiri

Diapit keluarga kanan dan kiri

Besar budiman di tanah Melayu

Berduka suka, sertakan rayu;

Perasaan serikat menjadi padu

Dalam bahasanya, permai merdu.

Meratap menangis bersuka raya

Dalam bahagia bala dan baya;

Bernafas kita pemanjangkan nyawa

Dalam bahasa sambungan jiwa

Di mana Sumatra, di situ bangsa,

Di mana Perca, di sana bahasa.

Andalasku sayang, jana bejana

Sejakkan kecil muda teruna

Sampai mati berkalang tanah

Lupa ke bahasa, tiadakan pernah

Ingat pemuda, Sumatra malang

Tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Sungguh benar perkataan M. Yamin dalam puisi itu bahwa tiada bahasa, bangsa pun hilang. Oleh karena itu, saya bahagia menyambut gagasan para santri Pesantren Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur ini. Gerakan Menulis Serentak 1.111 Sajak adalah gerakan kesadaran yang selayaknya diapresiasi dan didukung.

Gerakan dari dalam pesantren ini dapat membawa efek puncak gunung es jika digelindingkan. Apalagi, tak dapat dipungkiri, sastrawan Muslim dicatat sejarah mengoreskan pena kepenyairan. Dari Hamzah Fansuri hingga Nuruddin al-Raniri, dari Raja Ali Haji sampai Hamka. Dari Chairil Anwar hingga Acep Zamzam Noor. Dari Sunan Bonang sampai Raden Ronggowarsito. Dari Sutan Takdir Alisyahbana sampai Ahmad Mustofa Bisri. Dari H.B. Jassin hingga Emha Ainun Nadjib. Dari Asrul Sani sampai Mahbub Djunaidi. Dan, masih banyak lagi nama besar penyair Muslim, atau yang lebih khusus lagi dapat disebut sebagai penyair santri.

Nama Ronggowarsito yang abadi sebagai pujangga besar pun ternyata adalah santri Pesantren Tegalsari di Ponorogo, Jawa Timur, yang didirikan oleh Kiai Besar Hasan Besari pada awal abad 18. Salah satu dari sekian banyak syair yang ditulis Raden Mas Burham, nama kecil Ronggowarsito, adalah Serat Kalatidha.

?

Petikan:

Amenangi jaman edan

Ewuhaya ing pambudi

Melu ngedan ora tahan

Yen tan milu anglakoni

Boya keduman melik

Kaliren wekasanipun

Ndilalah kersa Allah

Begja-begjane kang lali

Luwih bedja kang eling klawan waspada

Terjemah Bebas:

Menyaksikan zaman gila

Serba susah dalam bertindak

Ikut gila tidak akan tahan

Tapi kalau tidak mengikuti (gila)

Tidak akan mendapat bagian

Kelaparan pada akhirnya

Namun telah menjadi kehendak Allah

Seberuntung-beruntungnya orang yang lalai

Lebih beruntung orang yang tetap ingat dan waspada.

Sastrawan Ahmad Tohari dalam sejumlah kesempatan mendorong kalangan pesantren untuk melahirkan kembali penyair-penyair unggulan. Penulis trilogi novel Ronggeng Dukuh Paruk, yang mengasuh Pesantren Al Falah di Jatilawang, Banyumas, Jawa Tengah ini terus mendorong tumbuh dan berkembangnya sastra Islam.

Tema tasawuf yang disarikan dari kandungan Al-Quran memang tidak pernah kering menginspirasi. Kitab Jatiswara yang berangka tahun Jawa 1711 hingga gubahannya, yaitu Suluk Tambangraras atau populer disebut Serat Centhini, yang berangka tahun 1742 (sekira 1814 Masehi), pun meneguhkan khazanah tasawuf itu.

Bagi masyarakat pesantren, yang sehari-hari bergaul dengan ilmu alat, yang salah satunya adalah balaghah, selayaknya sastra diyakini sebagai pena bertinta emas yang dengannya kalam-kalam indah dan berderajat adiluhung dapat diciptakan. Sastra santri patut ditumbuhkembangkan.

Terlebih, sejak 22 Oktober telah ditetapkan sebagai Hari Santri Nasional, kita perlu mendorong sastra santri sebagai perwujudan dari Resolusi Jihad. Penjajahan sesungguhnya adalah penjajahan terhadap bangsa. Dan, seperti yang disajakkan oleh Muhammad Yamin: tiada bahasa, bangsa pun hilang.

Kami lahir di Indonesia

minum airnya menjadi darah kami

Kami makan beras dan buah-buahan Indonesia menjadi daging kami

Kami menghirup udara Indonesia menjadi nafas kami

Kami bersujud di atas bumi Indonesia

Berarti bumi Indonesia adalah Sajadah kami

Bila tiba saatnya kami mati

Kami akan tidur dalam pelukan bumi Indonesia

Syair karya KH Zawawi Imron, Penyair "Celurit Emas" dari Madura ini adalah konfirmasi betapa wajib kita sendiri yang menyelamatkan bangsa dan bahasa Indonesia. Dan dengan puisi, kata Kiai Zawawi, kita dapat kembali menjadi putra ibu dan sekaligus putra bangsa dan tanah air dengan kesadaran penuh.

Selamat bertumbuh, sastra santri.

Jakarta, 10 Dzulhijjah 1437 H, 12 September 2016

Candra Malik, sastrawan sufi, Wakil Ketua Lesbumi PBNU



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 10 Januari 2018

Pelajar NU Jakpus Juara Pemuda Pelopor

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pelajar NU mendapat juara 1 bidang wirausaha atas nama Ahmad Sukry, juara 1 bidang pendidkan atas nama Jafar Shodiq dan juara 1 bidang seni budaya atas nama Ahmad Yani. Mereka juara pada Program Seleksi dan Pengiriman Pemuda Pelopor yang digelar Sudin Olahraga dan Pemuda Kota Administrasi Jakarta Pusat.

Juara 1, 2, dan 3 dari masing-masing bidang akan dikirim ketingkat provinsi untuk mengikuti seleksi berikutnya. Bagi juara di tingkat provinsi akan mengikuti kegiatan pertukaran program kerja bersama dengan organisasi binaan Sudin Orda yang akan digelar di Purwokerto pada bulan Juni mendatang.

Pelajar NU Jakpus Juara Pemuda Pelopor (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Jakpus Juara Pemuda Pelopor (Sumber Gambar : Nu Online)

Pelajar NU Jakpus Juara Pemuda Pelopor

Kegiatan tersebut berlangsung di Gedung KONI DKI Jakarta Jl. Tanah Abang I Jakarta Pusat selama 3 hari mulai 20 sampa 22 Mei.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Teknis kegiatan ini adalah masing-masing peserta menyiapkan materi perlombaan berupa MS Power Point yang dipersentasikan di depan dewan juri dengan menguraikan bakat dan kemampuan di bidang wirausaha, pendidikan, dan seni budaya.

Drs. H. Ahmad Zulfi, MPd Kepala Sudin Olah Raga Kota Administrasi Jakarta Pusat mengatakan, seleksi dan  pengiriman pemuda pelopor 2013 ini akan terus ditingkatkan “Diharapkan pemuda bisa terus berpacu dalam ajang olah raga dari tingkat walikota, provinsi dan nasional untuk mengharumkan nama baik bangsa,” jelasnya

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Redaktur     : Abdullah Alawi

Kontributor : Yudhi Permana

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pada Bulan Ramadhan, Allah menurunkan malam penuh dengan fadhilah dan barakah yang berjuluk malam seribu bulan yaitu malam lailatul qadar. Malam ini merupakan malam dimana diturunkan Al-Qur’an dan para Malaikat Allah ke muka bumi.

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)
Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad (Sumber Gambar : Nu Online)

Tanda-tanda Malam Lailatul Qadar dalam Kitab Irsyadul Ibad

"Kita sebagai ummat Nabi Muhammad SAW patut bersyukur karena malam spesial ini hanya diberikan kepada kita. Ummat sebelum Nabi Muhammad tidak memilikinya," ujar Rais Syuriyah PCNU Kabupaten Pringsewu KH Ridwan Syuaib saat menyampaikan materi Ngaji Ahad Sore (Jihad Sore), Ahad (26/6).

Berdasarkan beberapa Hadits yang termaktub pada Kitab Irsyadul Ibad, pada 10 hari terakhir di Bulan Ramadhan Nabi Muhammad meningkatkan kuantitas dan kualitas ibadahnya bersama keluarganya.

"Nabi selalu beribadah dengan sungguh-sungguh di 10 hari terakhir dan mengamalkan ibadah yang tidak dilakukan beliau pada bulan lainnya," terangnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lebih lanjut Abah Ridwan, begitu Ia biasa dipanggil, menjelaskan beberapa ciri datangnya lailatul qurban yang salah satunya adalah turun dimalam-malam ganjil pada 10 malam terakhir ramadhan.

"Rasul juga memberitahukan bahwa pada ciri lain Lailatu Qadar di antaranya suasana malam yang terang, cerah, tidak panas dan tidak dingin, tidak ada mendung, tidak hujan dan berangin dan tidak ada bintang berjalan," rincinya. Pada siang harinya tambahnya, suasana cerah dan matahari bersinar namun tidak terasa panasnya.

Pada lailatul qadar, Abah Ridwan menghimbau seluruh ummat Islam untuk memburu malam yang hanya ada di Bulan Ramadhan. "Mari bersama-sama memburu, mengintai lailatul qadar dengan doa, shalat dan amalan-amalan ibadah lainnya," ajaknya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Secara pribadi, Abah Ridwan dan Jamaah dilingkungannya sudah melakukan Program Tahunan untuk mendapatkan lailatul qadar. "Kita beritikaf di Masjid pada malam-malam ganjil sampai dengan shubuh dengan melakukan rangkaian amalan Ibadah," ujarnya.

Ibadah-ibadah tersebut meliputi Shalat Tahiyatul Masjid Shalat Sunnat Wudlu, Taubat, Hajat dan Tahajud. Setelah itu membaca Tasbih, Fatihah dan doa yang ditujukan untuk para Nabi, Guru, Orang Tua dan putera-puteri kita.

"Setelah membaca shalawat dan tahlil sebanyak 100 kali kegiatan ditutup dengan doa," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nusantara, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 06 Januari 2018

Tokoh Agama Jangan Ikut Sembahyangi Jenazah Koruptor

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Untuk mengambil peran dalam pemberantasan korupsi, tokoh agama diharapkan tidak menghadiri sembahyang jenazah mereka yang terbukti korupsi. Tokoh agama perlu mengambil tindakan tersebut sebagai upaya strategis di tengah masyarakat.

Tokoh Agama Jangan Ikut Sembahyangi Jenazah Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)
Tokoh Agama Jangan Ikut Sembahyangi Jenazah Koruptor (Sumber Gambar : Nu Online)

Tokoh Agama Jangan Ikut Sembahyangi Jenazah Koruptor

Hal ini dikemukakan oleh KH. Malik Madani, Katib Aam PBNU dalam diskusi terbuka dengan tajuk ‘Meneguhkan Gerakan Agama Antikorupsi’ yang diselenggarakan Lakpesdam NU di gedung PBNU, Kamis (22/11) petang.

“Putusan NU mengatakan demikian. Jadi sembahyang jenazah koruptor cukup dilakukan kalangan orang awam saja,” kata Katib Aam di hadapan sedikitnya empat puluh orang peserta diskusi yang juga dihadiri oleh penasihat KPK, tokoh agama Katolik dan Konghucu.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Kiai Malik, para tokoh agama bukan hanya menggemakan suara moral antikorupsi. Mereka juga bisa mengambil peran konkret dalam mengatasi persoalan korupsi. Para tokoh agama, kiai, pendeta, biksu, bisa antara lain memboikot pengurusan jenazah koruptor.

Kiai Malik menambahkan, putusan NU itu tidak berarti melarang masyarakat untuk menyembahyangkan jenazah koruptor. Karena, pengurusan jenazah itu wajib kifayah mulai dari pemandian, pengafanan, penyembahyangan, dan penguburan. Hanya saja, wajib kifayah itu menjadi gugur saat diwakili oleh segelintir masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Putusan NU itu berlaku bagi kalangan kiai saja. Untuk umat Islam yang bukan kiai atau tokoh agama, tetap berkewajiban untuk mengurusi jenazah koruptor,” imbuhnya.

Putusan NU itu bernilai strategis karena kiai, ulama, dan tokoh agama merupakan barisan terdepan dalam kehidupan keberagamaan di tengah masyarakat. Cara-cara konkret tokoh agama seperti itu tidak bisa dianggap sepele. Tindakan itu cukup menggentarkan mereka yang berniat korupsi mengingat masyarakat Indonesia masih terbilang religius yang menggantungkan upacara-upacara keagamaan kepada tokoh agama, tegasnya.

Redaktur: A. Khoirul Anam

Penulis ? ? : Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah, Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 03 Januari 2018

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?

Ketua Umum Pimpinan Pusat Fatayat NU Anggia Ermarini berharap semua warga negara Indonesia dengan berbagai latar belakang agama, ras dan lainnya bisa bersatu kembali.?

"Apapun agamanya, apapun rasnya, apapun kepercayaannya. Itu adalah keluarga Indonesia," katanya saat memberikan sambutan pada acara Halal Bihalal dan Silaturahim Lintas Agama di lantai 8 Gedung PBNU, Jakarta Pusat, Senin (24 /7).

Pada acara yang bertemakan "Merawat Kebinekaan, Menjaga NKRI" ini, perempuan yang juga dosen Universitas Indonesia ini berharap agar tidak berhenti hari ini, melainkan kedepan harus saling bergandengan tangan.?

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Fatayat NU Ajak Tokoh Lintas Agama dan Kepercayaan Jihad Sosial

"Terutama jihad (bergandengan tangan) memerangi kemiskinan, jihad kebodohan, jihad memerangi tindakan kekerasan terhadap perempuan dan anak terutama," kata Anggia.?

Lebih lanjut ia mengatakan, bahwa semua ini bisa memberikan kemanfaatan yang lebih kepada manusia yang lebih maksimal.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Kita sangat berharap acara ini nanti bisa menelurkan kesepakatan aksi tidak hanya komitmen tapi juga aksi untuk bisa bersama-sama menyelamatkan bangsa ini. Melakukan gerakan sederhana untuk masyarakat luas," terangnya.?

Acara ini juga diharapkan bisa memiliki kontribusi secara luas apapun latar belakanganya.

“Mudah-mudahan bisa memberikan impact ? yang luar biasa. Tidak hanya di Fatayat tapi juga diperluas lagi,”?

Acara ini dihadiri Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama KH Said Aqil Siroj, Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghoni, Ketua PBNU Robikin Emas, Ketua PBNU H. Umar Syah dan berbagai tokoh agama serta aliran kepercayaan. (Husni Sahal/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Ahlussunnah, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 31 Desember 2017

Faqih fi Mashalihil Khalqi

Faqih fi mashalihi-l-khalqi adalah sebutan tentang identitas ulama yang memahami dan mengenal dengan baik kesejahteraan dan kemaslahatan umat manusia. Sebutan ini diangkat oleh Imam al-Ghazali dalam bukunya yang terkenal, Ihya Ulumiddin.?

Dalam karya tersebut yang sering dijadikan rujukan oleh orang-orang pesantren, disebutkan bahwa setiap ulama adalah orang yang abid (ahli ibadah), zuhud (tidak serakah), mengerti ilmu-imu akhirat, pengetahuannya diabdikan untuk Allah, peka, jeli, dan paham benar akan kemaslahatan makhluk (faqihun fi mashalihi-l-khalqi). ? ?

Faqih fi Mashalihil Khalqi (Sumber Gambar : Nu Online)
Faqih fi Mashalihil Khalqi (Sumber Gambar : Nu Online)

Faqih fi Mashalihil Khalqi

Predikat ulama seperti ini kemudian diaktualisasikan dalam konteks ke-NU-an oleh KH Sahal Mahfudh (kini Rais Am PBNU), dalam berbagai tulisan, kiprah dan juga dalam gagasannya tentang fiqih sosial.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Peranan ulama sebagai faqihun fi mashalihi-l-khalqi sudah ditunjukkan oleh Kiai Sahal sejak tahun 1980-an, yang menggagas program pemberdayaan masyarakat melalui pesantren, kerjasama Pesantren Maslakul Huda, kajen, pati, yang beliau bina, bersama dengan LP3ES dan P3M (Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat) Jakarta.?

Program berbasis masyarakat bawah tersebut menginspirasikan sebuah pergumulan para kiai dan kaum santri dengan masyarakatnya, untuk terlibat dalam masalah-masalah sosial yang dihadapi masyarakat. Kiai atau ulama sebagai motivator dan pemberi inspirasi dan solusi.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di samping memberikan motivasi keagamaan maupun sosial, sekaligus mereka ? mampu mempengaruhi masyarakat untuk menumbuhkan dinamika yang tinggi dalam meningkatkan kualitas hidup dan kehidupannya, di bidang material maupun spiritual, untuk mencapai keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara dimensi ruhiyah dan waqi’iyah.?

Dengan peran seperti ini, para ulama berupaya sekuat tenaga untuk menjaga kehormatan dan kemandirian bangsa, serta melakukan perbaikan terhadap umat.

Menurut Kiai Sahal, program penguatan dan pengembangan masyarakat ini merupakan bagian dari komitmen sosial-kebangsaan ulama.?

Selanjutnya, hal itu akan menjadi bahan tambahan khazanah ilmu pengetahuan kaum santri. Karena dengan bergumul dengan program-program sosial tersebut akan menambah wawasan pemikiran sehingga menambah kepekaan kaum santri terhadap masalah-masalah sosial yang ada di sekitarnya.?

Kepekaan seperti ini yang ditunjukkan Kiai Sahal dalam forum-forum bahsul masail (pembahasan masalah-masalah sosial-keagamaan) di lingkungan pesantren dan pengurus NU dari berbagai tingkatan. Dalam forum ini para warga NU mengadukan masalahnya, bukan hanya tentang soal-soal keagamaan, tapi juga problem-problem ekonomi, sosial, bahkan politik.?

Kompleksitas persoalan yang dihadapi masyarakat di tingkat akar rumput tersebut, langsung direspons oleh sang kiai dengan berbagai kiat dan pendekatan keulamaannya. Kiai Sahal tidak langsung begitu saja mengolah jawaban-jawaban tersebut secara hitam putih, yang bisa langsung saja dicomot dari teks-teks yang ada.?

Berkat kekayaan khazanah keilmuan yang dimiliki, Kiai Sahal malah sempat menulis sebuah risalah tentang ushul fiqih dalam bahasa Arab. Ia melihat satu persoalan dari berbagai kemungkinan dan warna-warninya. Kiai Sahal memakai alat pendekatan dan analisis yang juga tidak tunggal, sebelum diambil keputusan fiqhiyah yang manusiawi terhadapnya, dari karakter faqihun fi mashalihi-l-khalqi ini.?

Jelaslah apa yang seharusnya dilakukan oleh para ulama pengasuh pesantren dan pengurus NU dalam rangka membina umat dan bangsa ini. Bukan saja membina dalam kehidupan beragama, melainkan juga kehidupan sosial-ekonomi, serta membina kehidupan berbangsa dan bernegara menuju tercapainya cita-cita baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur yang berkeadilan sosial. (Ahmad Baso)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 25 Desember 2017

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser

Pematangsiantar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Dalam rangka memperingati hari Sumpah Pemuda Ke-88, GP Ansor Kota Pematanngsiantar menyelenggarakan Pendidikan dan Latihan Dasar (DIKLATSAR) Barisan Ansor Serbaguna (Banser) selama tiga hari. Pendidikan untuk anggota baru Banser ini dibuka pada Jumat (28/10). Kegiatan ini berlangsung di Balai Diklat Kehutanan Pematangsiantar hingga Ahad (30/10).

Ketua GP Ansor Kota Pematangsiantar Arjuna menyatakan bahwa hari Sumpah Pemuda 28 Oktober merupakan momentum kebangkitan bagi pemuda dalam mengisi pembangunan, khususnya pemuda di Pematangsiantar.

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Pematangsiantar Rekrut Puluhan Pemuda Masuk Banser

Tampak hadir pada pembukaan Gubernur Sumatera Utara H Tengku Erry Nurady, pengurus GP Ansor Sumut, Walikota Pematangsiantar Jumsadi Damanik, pengurus harian PCNU Kota Pematangsiantar, Fatayat NU Kota Pematangsiantar, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, sejumlah pimpinan SKPD, dan tokoh masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Erry Nurady mengatakan bahwa kaderisasi sangat penting dalam upaya membina mental generasi muda yang berkualitas dan berakhlakul karimah.

Dalam kesempatan itu GP Ansor Kota Pematangsiantar mengukuhkan Satuan Koordinasi Cabang (Satkorcab) Banser Kota Pematangsiantar masa khidmat 2015-2019. GP Ansor Kota Pematangsiantar berkomitmen mendukung gerakan nasional antinarkoba. Mereka mendeklarasikan Badan Ansor Anti Narkoba (Baanar) Kota Pematangsiantar masa khidmat 2016-2019.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pendidikan ini ditutup pada Ahad (30/10) dengan menghasilkan puluhan kader Banser. (Fajar Prabowo/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Tokoh, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 19 Desember 2017

Hardiknas, ISNU Deklarasikan Gerakan Wakaf Buku

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mengambil momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) mendeklarasikan Gerakan Wakaf Buku yang digelar di Pesantren Al Hakim Perum Mahkota Indah Mangunjaya, Tambun Selatan Bekasi, Rabu (2 Mei 2012.

Ketua Umum PP ISNU Ali Masykur Musa menjelaskan bahwa tanaman terbaik adalah ilmu dan ilmu dapat diperoleh melalui buku karena itu, mewakafkan buku sama dengan menyebarluaskan ilmu.?

Hardiknas, ISNU Deklarasikan Gerakan Wakaf Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Hardiknas, ISNU Deklarasikan Gerakan Wakaf Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Hardiknas, ISNU Deklarasikan Gerakan Wakaf Buku

“Kita mendorong agar warga NU dan masyarakat pada umumnya untuk mewakafkan buku sebagai bagian dari kecintaan terhadap ilmu. Kami menggugah kepada masyarakat luas yang memiliki kelebihan agar dibagi kepada yang membutuhkan,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dihadapan murid-murid SD dan SMP, Ali Masykur memberi motivasi mereka agar sukses diantaranya dengan mematuhi orang tua dan belajar yang baik. “Nanti anak-anak sini kalau birrul walidain dan belajar dengan baik, bisa jadi bupati, gubernur atau presiden,” paparnya.?

Mengutip sebuah ayat Qur’an, ia menjelaskan kesuksesan seseorang karena bisa memadukan iman dan ilmu yang nantinya akan diangkat derajatnya oleh Allah. Ia membahasakannya dalam 3 H, yaitu heart, memiliki hati atau kecerdasan emosi, head, memiliki akal atau kecerdasan intelektual dan hand, yaitu memiliki ketrampilan yang bisa dimanfaatkan dalam menjalani kehidupan.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Jika bisa memadukan tiga hal ini, insyaallah akan sukses,” katanya.

Anggota Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini menegaskan bahwa pendidikan terbaik adalah pendidikan yang memuliakan manusia dan mengantarkan mereka kepada derajat kemanusiaan yang luhur, yaitu pendidikan yang mampu membentuk manusia-manusia paripurna atau insan kamil, bukan sekedar mencetak tenaga-tenaga kerja untuk memenuhi selera pasar.

ISNU, katanya, merupakan organisasi yang terdiri dari para sarjana NU yang diharapkan dapat memadukan dzikir dan fikir untuk kepedulian kepada rakyat. Seorang sarjana tidak boleh berdiri di sebuah menara gading, tetapi harus mampu membebaskan anak didik dari kebodohan. Gerakan wakaf buku ini merupakan salah satu bentuk yang dilakukan.?

Selain memberikan bantuan buku, ISNU juga memberi sumbangan dana untuk perbaikan sanitasi di lingkungan sekolah agar para santri bisa belajar dengan nyaman.

Terkait dengan anggaran pendidikan, Ali Masykur meminta peningkatan anggaran untuk renovasi sekolah, terutama sekolah swasta yang selama ini kurang diperhatikan, baik di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan atau Kementerian Agama.

Ia juga berpendapat Ujian Nasional saat ini masih diperlukan untuk mendorong anak-anak belajar lebih baik sehingga kualitas pendidikan Indonesia tak kalah dengan negeri tetangga, tetapi ia tidak setuju jika menjadi standar kelulusan. “Sekolah diberi wewenang untuk menentukan nilai kelulusannya, tetapi ditambah dengan komponen lain,” paparnya.

KH Imam Suhairi Iskandar, ketua yayasan pesantren Al Hakim menjelaskan, siswa yang sekolah dan mengaji di tempat ini tidak membayar alias gratis. Hal ini sebagai upaya membantu pemerintah dalam mencerdaskan anak bangsa. Meskipun demikian, ia menegaskan lembaga pendidikan yang didirikan tahun 2006 ini masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana agar siswa dapat belajar dengan baik. ?

Penulis: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pemurnian Aqidah, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 15 Desember 2017

Dinamika Adat dan Syariat di Gorontalo

Sebagaimana di daerah lain, Islam masuk ke Gorontalo dengan cara damai. Juga dengan cara perkawinan, yaitu antara Sultan Amai (kadang ditulis Amay) dengan Putri Boki Antungo, anak perempuan Raja Palasa dari Mautong Sulawesi Tengah sekitar tahun 1500-an.

Menurut salah seorang tokoh adat di Gorontalo, H. Yamin Husain, Raja Amai, menyanggupi permintaan calon istrinya itu. Ia kemudian memeluk Islam, terus kembali ke kerajaannya. Ketika sampai memasuki waktu shalat dhuhur, ia langsung mendirikan shalat. Dan kemudian ia memerintahkan bawahannya untuk mmembangun masjid yang kelak dikenal dengan masjid Hunto.

Dinamika Adat dan Syariat di Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)
Dinamika Adat dan Syariat di Gorontalo (Sumber Gambar : Nu Online)

Dinamika Adat dan Syariat di Gorontalo

"Kini masjid tersebut diganti menjadi masjid Sultan Amai,” katanya kepada Ekspedisi Islam Nusantara Rabu (25/5).

Kemudian Sultan Amai meletakkan dasar agama Islam di kerajaannya. Antara adat yang telah ada dengan syariat Islam yang baru masuk mengalami dinamika yang panjang. Awalnya, masyarakat muslim zaman Sultan Amai diletakkan falsafah dalam bahasa Gorontalo yang dalam bahasa Indonesia artinya syara bertumpu pada adat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Falsafah ini kemudian diubah pengganti Sultan Amay, Raja Matololula Kiki dalam bahasa Gorontalo yang artinya adat bertumpu pada syara. Lalu pada masa Raja Eyato, yang dipercayai sebagai ulama, merevisi falsafah sebelumnya dengan adat bertumpu pada syara dan syara bertumpu pada Al-Quran. ?

Yamin Hsain menambahkan, dari falsafah tersebut melahirlkan 5 prinsip yang dipegang muslim Gorontalo, yaitu agama dikedepanakan, negeri dimuliakan, diri diabdikan, harta disedekahkan, dan terakhir nyawa pun dipertaruhakan.

Di Gorontalo, Ekspedisi Islam Nusantara dimulai dengan ramah-temah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama dan pengurus lembaga, banom seperti GP Ansor, serta mahasiswa yang tergabung di PMII. Kemudian bersilaturahim dengan Wakil Gubernur. Lalu ke rumah adat, ke masjid-masjid bersejarah dan berziarah ke ulama-ulama penyebar Islam. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa, Sejarah, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 05 Desember 2017

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Berdakwah bukan saja dilakukan dengan cara pengajian saja, bisa juga dilakukan dengan seminar dan talk show. Materi dakwah juga bukan sebatas masalah ritual ibadah, tetapi juga terkait kesehatan masyarakat, apalagi terkait kesehatan reproduksi. Inilah yang terus diupayakan Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) DIY (Daerah Istimewa Yogyakarta) melalui bekerjasama dengan berbagai pihak dalam melayani masyarakat.

Demikian ditegaskan drg H Abdul Kadir, Ketua LKNU DIY, dalam acara Talk Show Kesehatan Reproduksi pada Ahad, (8/11) lalu di aula lantai 2 Gedung PWNU DIY. Acara ini terselenggara berkat kerjasama LKNU DIY dengan Majlis Pengajian An-Nisan’ Yogyakarta, Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY.?

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)
LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi (Sumber Gambar : Nu Online)

LKNU DIY Gelar Talk Show Kesehatan Reproduksi

Menurut drg. Kadir, pemeriksaan papsmear dan payudara adalah upaya membentengi para ibu dari penyakit dengan prevalensi sangat tinggi dan menjadi penyebab kematian tertinggi ini. Untuk itu, lanjut drg. Kadir, pasangan suami-istri harus saling mendukung dalam mengupayakan kesehatan reproduksi. Suami adalah agen kesehatan bagi istrinya, sehingga harus setia dan bersama-sama periksa kepada dokter. Suami juga harus selalu mengingatkan, disitulah kerjasama keduanya dalam menjaga kesehatan. ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“LKNU DIY akan terus bekerjasama dengan berbagai pihak. Semua ini semata wujud khidmat untuk kemaslahatan semuanya. Ada banyak kader muda NU yang menekuni kesehatan, kita akan terus mengajak mereka untuk terlibat dalam berbagai program kesehatan, sehingga NU terus hadir di tengah-tengah masyarakat,” tegasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara itu, Dr. H.A. Zuhdi Muhdlor, Wakil Ketua PWNU DIY yang membuka acara menjelaskan, bahwa kaum ibu adalah agen perubahan. Dari rahim para ibu yang sehat dan berkualiatas akan terlahir generasi yang sehat dan berkualitas pula.?

“Generasi yang sehat menjadi perhatian serius NU. Untuk itu, kami berharap LKNU terus menjalin kerjasama dengan banyak pihak dalam merealisasikan program-programnya, sehingga generasi yang sehat dan berkualitas bisa tumbuh untuk membangun bangsa di masa depan,” tegasnya.?

Acara ini diikuti oleh 125 ibu-ibu dari berbagai daerah di DIY. Para ibu ini sangat antusias, terbukti dalam sesi tanya jawab bersama dr. Nila Amalia, dokter muda lulusan UGM yang juga santri Pesantren Al-Muhsin, Krapyak Yogyakarta. Sementara dalam dalam pemeriksaan, tenaga medis dari Dinas Kesehatan DIY dan Yayasan Kanker Indonesia DIY penuh senyum ketika melayani para ibu yang hadir di Gedung PWNU DIY. (Muahmmadun/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa, Sejarah, Meme Islam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 03 Desember 2017

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sabtu (5/7) dini hari, alunan musik patrol ini terdengar begitu merdu. Warga kelurahan Semampir kecamatan Kraksaan kabupaten Probolinggo terlihat sangat serempak memukul alat musik ala kadarnya yang terbuat dari sisa barang bekas itu. Dengan alat sederhana, mereka membuat harmoni musik yang sangat merdu untuk didengarkan.

Sambil berteriak “sahur-sahur” membangunkan warga untuk sahur, mereka terus memainkan alat musiknya yang terdiri dari jeriken, potongan besi, dan kentongan bambu. Alat musik yang lazimnya dimainkan anak-anak, cukup menarik perhatian orang dewasa untuk terlibat dalam keliling membangunkan sahur ini.

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)
Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol (Sumber Gambar : Nu Online)

Bangunkan Sahur Warga Probolinggo dengan Musik Patrol

Saat ditemui Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Lukman salah satu pemain musik patrol mengatakan, alat-alat musik itu didapatkan dengan memanfaatkan beberapa barang bekas yang ada di sekitar rumahnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Sambil menunggu waktu sahur, maka saya bersama teman-teman membangunkan warga yang masih ingin memasak. Biasanya kami keliling mulai pukul 02.00 hingga 03.00 WIB. Setelah itu kami pulang untuk sahur bersama keluarga,” ujar Lukman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ungkapan serupa juga disampaikan Aris. Bocah berusia 13 tahun ini mengaku kebagian memukul alat musik kentongan yang terbuat dari bambu. Dia mendapatkan alat musik itu dari ayahnya.

“Ayah yang membuatkan kentongan ini. Jika sudah selesai, alat musik ini dibawa pulang ke rumah masing-masing,” ujar Aris.

Menurut Aris, ia merasa sangat senang jika bulan puasa tiba. Pasalnya, bersama teman-temannya ia bisa memainkan musik patrol berkeliling membangunkan warga untuk sahur. “Alhamdulillah, tiap bulan puasa, saya aktif bermain musik patrol. Soalnya seperti tidak enak jika tidak bergabung dengan teman-teman,” pungkasnya. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, Sejarah, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 02 Desember 2017

P3M Kulon Progo Gelar Pelatihan Penelitian Partisipatif

Kulon Progo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) menggelar pelatihan penelitian partisipatif di Pondok Pesantren Nurul Dholam, Pengasih, Kulon Progo. Peserta pelatihan merupakan para pengurus masjid di Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, Sabtu (7/9).

P3M Kulon Progo Gelar Pelatihan Penelitian Partisipatif (Sumber Gambar : Nu Online)
P3M Kulon Progo Gelar Pelatihan Penelitian Partisipatif (Sumber Gambar : Nu Online)

P3M Kulon Progo Gelar Pelatihan Penelitian Partisipatif

Di hari Sabtu yang merupakan hari ketiga pelatihan, para peserta ditugasi langsung untuk terjun di masyarakat. Sementara dua hari sebelumnya, para peserta dibekali dengan sejumlah teori praktis terkait penelitian partisipatif.

Peserta yang berjumlah dua puluh satu orang dibagi menjadi tiga kelompok besar. Tiga kelompok menjalankan tugas penelitian di dusun berbeda.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Penelitian-penelitian yang selama ini dilakukan menempatkan masyarakat sebagai objek. Sementara penelitian partisipatif ini menjadikan masyarakat subjek penelitian. Artinya, dalam penelitian partisipatif, peneliti dan masyarakat yang diteliti sama-sama bekerja sama dalam melakukan penelitian,” kata KH Hilmy Ali yang menjadi narasumber dalam pelatihan.?

Ketika ditanya mengenai harapan dari pelatihan ini, salah satu peserta menginginkan para takmir masjid bisa ikut andil dalam pemerintahan dan bisa memberikan sumbangsih nyata terhadap masyarakat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kalau harapan itu terwujud, maka fungsi masjid akan kembali sebagaimana masjid di zaman Rasulullah yang bukan hanya berfungsi untuk ibadah mahdhah, tapi juga untuk ibadah ghairu mahdah (ibadah murni),” jelas perwakilan dari Majid Kokap Kulon Progo Chandra.

Pelatihan rencananya akan berakhir hari Senin (9/9). Pelatihan ini diikuti oleh perwakilan takmir ? lima masjid se-Kulon Progo.

(Rokhim/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ahlussunnah, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kedatangan rombongan Kirab Hari Santri Nasional dan Resolusi Jihad di Kudus Senin (19/10) malam bukan hanya sekedar ziarah ke makam KHR Asnawi di Komplek Makam Menara Kudus. Di depan makam pendiri NU itu, mereka juga mengucapkan lima poin ikrar santri sebagai wujud meneguhkan komitmen menjaga dan mempertahankan ideologi bangsa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman memimpin pengucapan Ikrar Santri Indonesia yang diikuti semua rombongan dan warga NU Kudus. Diawali pembacaan dua syahadat, mereka menyatakan siap ? berpegang teguh pada aqidah ajaran, nilai dan tradisi Islam Aswaja.

Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ikrar Santri Perteguh Komitmen Jaga Ideologi Bangsa dan NKRI

"Sebagai santri Negara Kesatuan Republik Indonesia, bertanah air satu, tanah air Indonesia, berideologi Pancasila, berkonstitusi satu, Undang-Undang Dasar 1945, berkebudayaan satu, kebudayaan Bhinneka Tuggal Ika," ucapnya diikuti semua anggota rombongan.

Berikut secara keseluruhan teks Ikrar Santri Indonesia yang dibacakan oleh Ketua PBNU H Aizuddin Abdurrahman:

Ikrar Santri Indonesia

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bismillahirrahmanirrahim,? Asyhadu allaa Ilaaha Illallah, Wasyhadu anna Muhammadar Rasulullah

Kami santri Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), berikrar :

1. Sebagai santri NKRI, berpegang teguh pada aqidah ajaran ? nilai dan tradisi islam Ahlussunnah wal Jamaah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

2. Sebagai santri NKRI, bertanah air satu, ? tanah air Indonesia, berideologi negara satu, ? ideologi Pancasila, berkonstitusi satu, UUD 1945, berkebudayaan satu, kebudayaan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Sebagai santri NKRI, selalu bersedia dan siap siaga menyerahkan jiwa dan ? raga membela tanah air dan bangsa Indonesia, mempertahankan persatuan dan kesatuan nasional serta mewujudkan perdamaian abadi.

4. Sebagai santri NKRI, berperan aktif dalam pembangunan nasional, mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin untuk seluruh rakyat Idonesia yang berkeadilan

5. Sebagai santri NKRI, pantang menyerah, pantang putus asa serta siap berdiri di depan melawan pihak-pihak yang akan merongrong Pancasila, UUD 1945, NKRI dan ? Bhineka Tunggal ika, serta konstitusi dasar lainnya ? yang bertentangan dengan semangat proklamasi kemerdekaan dan resolusi jihad Nahdlatul Ulama. (Qomarul Adib/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 04 November 2017

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mengikuti perkembangan teknologi, pada Muktamar Ke-33 NU ini, Panitia menggunakan sistem IT/online untuk proses registrasi. Lewat web muktamar.nu.or.id, panitia menyediakan formulir online dimana calon peserta (PCNU/PWNU), media dan peninjau bisa melakukan pendaftaran online.

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Soal IT Registrasi, Ini Penjelasan Panitia Muktamar NU

Media dan peninjau banyak yang mengajukan aplikasi secara online, tapi PC dan PW hanya sedikit yang mengajukan pendafataran secara online. Oleh karenanya, ID Card peserta yang bisa diproses sebelum muktamar jumlahnya tidak terlalu banyak.

“Hal itu berimbas pada riuhnya pendaftaran di ruang registrasi yang bertempat di GOR Jombang. Ribuan peserta antri penuh sesak untuk bisa mendaftarkan diri dan rombongannya,” jelas Ketua Panitia Nasional Muktamar Ke-33 NU, H Imam Aziz lewat rilis yang diterima Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Ahad, (2/8) di Jombang.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Namun karena sesuatu hal, lanjutnya, sistem IT registrasi sempat mengalami down sehingga mengganggu proses registrasi. Beberapa kali sistem mengalami gangguan yang berimbas pada lambatnya tim registrasi dalam memproses pengajuan calon peserta, yang membuat suasana sedikit tidak kondusif.

Imam Aziz menerankan, Problem IT akhirnya bisa ditangani, namun persoalan tak lantas otomatis teratasi. Proses pendaftaran tetap relatif lambat, yang bersumber dari kurangnya jumlah peralatan, yaitu printer dan alat laminating ID Card.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pengajuan ID Card di luar peserta, yaitu media dan peninjau di luar dugaan kami. Maka dampaknya antrian sangat lama, berjejalan dan secara psikologis mengganggu muktamirin.

Oleh karenanya, imbuh Imam, mengingat kekurangsiapan yang dilakukan panitia, kami:

1. Meminta maaf atas ketidaknyamanan muktamirin dalam melakukan proses registrasi.

2. Akan tetap melayani pendaftaran hingga tuntas sehingga memastikan seluruh peserta teregistrasi dan mendapatkan ID card. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 27 Oktober 2017

Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial

Bogor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kota Bogor Ifan Haryanto mengatakan, kurban dimaksudkan untuk napak tilas tentang keteladanan, ketulusan hati, dan ketakwaan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)

Kurban Media Mengasah Kesalehan Sosial

"Ritual kurban yg dilakukan oleh umat Muslim dalam peringatan Hari Raya Idul Adha bisa juga dimanfaatkan sebagai media untuk mengasah kesalehan sosial," kata Ifan usai menyerahkan hewan kurban Lazisnu Kota Bogor di kawasan Lapangan Sempit Bogor, Jumat (1/9).

Ia menyatakan, segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia di dunia ini adalah merupakan titipan dari Allah. Oleh karena itu, orang yang dmendapatkan titipan lebih banyak hendaknya berbagi dengan mereka yang kurang mampu.

"Sudah selayaknya dalam konteks kehidupan sosial kita (yang mampu) mesti ikhlas berbagi dengan kaum yang kurang mampu dan kurang beruntung," ucapnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Turut mendampingi Ifan, Ketua Lazisnu Kota Bogor Zimamul Adli dan segenap Pengurus Lazisnu Kota Bogor serta Keluarga Mahasiswa NU (KMNU) IPB.

Lazisnu Kota Bogor setiap tahunnya rutin menyalurkan hewan kurban ke daerah yang masyarakatnya dianggap kurang mampu. Selain kegiatan kurban, Lazisnu dan PCNU Kota Bogor juga banyak melakukan kegiatan sosial kemasyarakatan yang ditujukan untuk masyarakat umum seperti santunan fakir miskin, pemberian beasiswa kepada siswa yang kurang mampu, layanan dakwah dan keagamaan, serta kegiatan lainnya. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sejarah, Fragmen Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 06 Oktober 2017

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Lazimnya semua peperangan yang terjadi di beberapa belahan bumi sepanjang sejarah, tim medis mempunyai peran sentral dalam memberikan pertolongan kepada para prajurit yang masih bisa diselamatkan. Di antara layanan medis yang sangat penting di medan tempur ialah proses transfusi darah (bloodtransfoesie).

Para pelaku peperangan sebagian besar mengalami pendarahan hebat disebabkan terkena tembak maupun serangan yang lain. Hal ini menjadi perhatian para ulama Indonesia yang tergabung di MIAI (al-Majlisul Islami A’la Indonesia) untuk membahas bagaimana hukum transfusi darah untuk kepentingan perang dan penjajahan.

Organisasi yang merupakan wadah semua kelompok umat Islam Indonesia ini didirikan oleh KH Abdul Wahab Chasbullah dan KH Ahmad Dahlan (tokoh NU yang pernah menjadi wakil Hadratussyekh Hasyim Asy’ari dalam kepengurusan NU 1926) pada 12-15 Rajab 1356 H (18-21 September 1937) di Pondok Kebondalem Surabaya, Jawa Timur. Kedua tokoh pendiri NU itu dibantu oleh KH Mas Mansur Pimpinan Muhammadiyah serta W. Wondoamiseno dari Syarikat Islam (SI).

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)
Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan (Sumber Gambar : Nu Online)

Perdebatan soal Hukum Transfusi Darah di Zaman Penjajahan

Para tokoh NU berperan penting dalam kemajuan badan federasi perkumpulan Islam itu. Agenda cukup sentral dalam organisasi tersebut di antaranya Kongres Al-Islam. Namun, para tokoh NU mengubah istilah tersebut dengan Kongres Muslimin Indonesia (KMI) untuk menunjukkan bahwa umat Islam di Indonesia kuat meski terbagi menjadi beberapa kelompok.

Singkatnya, puncak perjuangan MIAI terlihat pada KMI ketiga pada 5-8 Juli 1941 di Solo, Jawa Tengah. Kongres ini didahului sidang pleno Dewan MIAI untuk membahas persoalan penting dan mendesak di antaranya, 1) perubahan tata negara; 2) soal milisi; dan Bloodtransfoesie (pemindahan/transfusi darah). (Pertumbuhan dan Perkembangan NU, 2010)

Tentang perubahan tata negara, sidang Dewan MIAI memberikan kesempatan kepada dua pembicara utama, yaitu A.Ghoffar Ismail (Wakil PB PII) dan Abikoesno Tjokrosoejoso (PSII). Untuk masalah milisi-diestplicht, sidang mempersilakan kepada Wakil HBNO/Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama), KH Ahmad Ilyas untuk membuat pertimbangan (konsiderannya). Sedangkan untuk persoalan bloodtransfoesie terjadi perbedaan pendapat yang cukup sengit antara Persatuan Islam (Persis), PB PII, dan HBNO.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam perdebatana tersebut, Persis membolehkan bloodtransfoesie karena hal itu (sama halnya dengan) ikhtiar menolong atau mengobati orang sakit, terutama yang kekurangan darah dengan cara memindahkan darah dari orang yang sehat kepada orang yang sakit. Namun, atas persoalan bloodtransfoesie ini, HBNO dan PB PII memberikan dua alternatif.

Pertama, pemindahan darah ke lain tubuh yang kekurangan darah guna pengobatan, maka hukumnya seperti pemberian. Kedua, jika karena pemberian itu akan terjadi suatu perkara terlarang, mislanya untuk peperangan yang tidak diridhoi Allah SWT, maka hukumnya terlarang atau tidak diperbolehkan. Dengan kata lain, hukumnya haram.

Atas argumen syar’i dari HBNO, Kongres Muslimin Indonesia ketiga itu berakhir dengan keputusan bulat, yakni melarang atau mengharamkan bloodtransfoesie untuk kepentingan membantu peperangan Belanda, dan mengharamkan milisi-diestplicht karena perbuatan tersebut berarti membantu penjajah (kolonial). Sedangkan mengenai perubahan tata negara, menuntut Indonesia berparlemen atas dasar pijakan nilai-nilai agama. (Fathoni Ahmad)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Doa, Sejarah, Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock