Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Mahasiswa NU yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) PTNU Nusantara Kota Tangerang menggalang dana untuk membantu korban banjir di daerah Jakarta dan sekitarnya.?

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)
Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir (Sumber Gambar : Nu Online)

Mahasiswa NU Galang Dana Bantu Korban Banjir

Kegiatan yang dilakukan pada Senin, (9/2) ini menerjunkan para mahasiswa di jalan-jalan untuk menampung dana dari para pengguna jalan untuk disalurkan kepada korban banjir di kawasan Kapuk Muara, Jakarta Utara, salah satu kawasan terparah banjir Jakarta.

“Alhamdulilah kami bisa memberikan bantuan kepada warga yang terkena musibah banjir setelah seharian kami melakukan penggalangan dana di jalanan di tengah guyuran hujan,” ujar Idrus Steven Maulana Yusuf, Presiden BEM PTNU Nusantara melalui rilis yang diterima Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dia mengatakan, bantuan dana ini berupa uang tunai,beras dan pakaian yang disumbangkan dari para pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa PTNU Nusantara yang disalurkan melalui Posko Peduli Banjir di kawasan Jakarta Utara tersebut.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Idrus berpendapat, musibah bisa menimpa kepada siapa saja, tidak terkecuali warga Kapuk, karena itu setiap manusia memiliki kewajiban untuk saling menolong.

Siska Uliyana, Sekjen BEM PTNU menambahkan, bencana banjir yang menimpa warga Ibu Kota kali ini tentu menyisakan penderitaan dan kesedihan yang mendalam.

Akibat banjir itu, tambahnya, warga kehilangan ? harta benda mereka, karena itu sudah sepantasnya Mahasiswa PTNU Nusantara turun ke masyarakat untuk ? membantu warga yang sedang ? membutuhkan bantuan.?

“Sebab, bantuan ini sangat dibutuhkan oleh mereka dari aksi sosial kita bersama,” paparnya.

Anggota BEM PTNU lainnya, Maya Afandi mengatakan, bantuan ini merupakan bentuk kepedulian kami terhadap warga yang tertimpa musibah. “Semoga aksi ini dapat menumbuhkan kepedulian kita bersama dari seluruh lapisan masyarakat,” harapnya. (Red: Fathoni)?

?

Foto: Kondisi banjir di daerah Kapuk, Jakarta Utara (@BPBDJakarta).

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hadits, Sholawat, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI

Sidoarjo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal ?

Puluhan tim Turnamen Futsal tingkat MI/SD se-Kabupaten Sidoarjo bertanding memperebutkan juara satu, dua dan tiga pada ajang futsal yang diadakan oleh MTs Nurul Huda, Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo, di lapangan futsal sekolah setempat, Jumat (3/3).

Menurut Panitia Turnamen Futsal Fathur Rahman, turnamen ini sebagai ajang silaturahim serta mencari bibit unggul dari anak MI atau SD yang mempunyai kelebihan, baik bidang akademik maupun nonakademik yang nantinya akan dikirim ke Koni untuk mengikuti turnamen tingkat nasional.

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI

Turnamen Futsal itu rutin diadakan setiap dua tahun sekali untuk mendorong para pelajar khusunya di Kecamatan Sedati supaya masuk ke MTs Nurul Huda. Turnamen itu sendiri sudah ke empat kalinya diadakan.

"Tahun ini ada sekitar 32 tim futsal yang bertanding. Turnamen ini juga sebagai sarana untuk mengenalkan ke anak-anak tentang keberadaan sekolah MTs Nurul Huda," kata Fathur Rahman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syaifuddin mengapresisasi dengan adanya kegiatan tersebut. Pasalnya, turnamen ini bisa memotivasi anak-anak MI dan SD untuk senantiasa aktif daripada bermain dan membuang waktu secara sia-sia.

"Saya berpesan kepada seluruh peserta agar terus berjuang hingga berprestasi dan selalu menjunjung tinggi sportifitas. Sebab, anak yang senantiasa jujur, sportif akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat," kata pria yang akrab disapa Cak Nur itu.

Turnamen futsal tingkat MI/SD se-Kabupaten Sidoarjo tahun 2017 ini dibuka Wakil Bupati Sidoarjo ditandai dengan tendangan bola ke gawang, dengan didampingi Kepala Kemenag Sidoarjo H Achmad Rofii, Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan, Ketua LP Maarif Sidoarjo H Misbahudin. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, Kajian, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 17 Februari 2018

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat

Bogor, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pemuda, sesungguhnya bukan sekadar bagian dari lapisan sosial dalam masyarakat, sebab mereka memainkan peranan penting dalam perubahan sosial. Jauh daripada itu, pemuda merupakan konsepsi yang menerobos definisi pelapisan sosial tersebut, terutama terkait konsepsi nilai-nilai.

Demikianlah salah satu poin penting yang mengemuka pada diskusi Mengokohkan Kemanusiaan Indonesia  yang Adil dan Beradab, di Kedai Aer Mantjoer, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (21/10).

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)
Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat (Sumber Gambar : Nu Online)

Pemuda Tak Sekadar Bagian Lapisan Sosial Masyarakat

Pemuda harus dapat memberikan pemaknaan yang nyata dari nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan keadaban dalam hidup berbangsa dan bernegara yang bermuara pada peningkatan kualitas kemanusiaan Indonesia yang Berketuhanan yang Maha Esa (Pancasilais).

Pemuda juga harus mampu meneguhkan nilai-nilai spiritualitas Nusantara sebagai nilai-nilai luhur bangsa serta rasa cinta tanah air dan kemanusiaan untuk saling berbagi serta sikap saling welas-asih; meningkatkan semangat nasionalisme atas asas kekeluargaan, kebudayaan, dan kebangsaan; serta menumbuhkembangkan kembali sikap menghargai kemajemukan serta menghindari setiap upaya pengingkaran terhadap pluralitas bangsa Indonesia yang setiap saat dapat saja muncul ke permukaan. 

Pada acara yang digelar dalam rangka Refleksi 89 Tahun Soempah Pemoeda , juga ditegaskan pemuda hendaknya dapat menghilangkan rasa prejudise atas barrier of psicology (batas psikologis/prasangka) terhadap sesama anak bangsa yang multi etnis, ras, suku, budaya, bahasa dan agama, terhadap sesama anak bangsa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemuda atau generasi muda adalah konsep-konsep yang sering mewujud pada nilai-nilai herois-nasionalisme. Hal ini disebabkan keduanya bukanlah semata-mata istilah ilmiah, tetapi lebih merupakan pengertian ideologis dan kultural.

“Pemuda harapan bangsa,” “Pemuda pemilik masa depan bangsa,” dan sebagainya, betapa mensyaratkan nilai yang melekat pada kata “pemuda”. Pernyataan ini, dalam konteks Indonesia sebagai bangsa, menemukan jejaknya. Sebab, berbicara sosok pemuda memang identik dengan nilai-nilai dan peran kesejarahan yang selalu melekat padanya. Sosok pemuda selalu terkait dengan peran sosial-politik dan kebangsaan. Ini dapat dipahami mengingat hakikat perubahan sosial-politik yang selalu tercitrakan pada sosok pemuda. Citra pemuda Indonesia tidak lepas dari catatan sejarah yang telah diukirnya sendiri. 

Betapa peristiwa-peristiwa besar di negeri ini dilalui dan digerakkan oleh pemuda. Sejarah mencatat bahwa Kebangkitan Nasional 20 Mei 1908, merupakan rekayasa sosial-politik para pemuda Indonesia dalam menggerakkan semangat nasionalisme rakyat Indonesia melawan penjajah kolonial. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Tonggak penting itu direkatkan lagi oleh Ikrar/Sumpah Pemuda, yang menegaskan kesatuan niat, kebualatan tekad dan semangat satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa nasional Indonesia, pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928. Lalu, semangat nasionalisme tersebut mengkristal dan menemukan momentumnya saat diproklamirkannya Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945 oleh Soekarano dan Hatta.   

Tidak mengherankan jika kemerdekaan Indonesia tak lepas dari gerakan “revolusi kaum muda.” Prestasi dan citra kaum muda Indonesia begitu menyejarah sepanjang berdirinya Republik Indonesia. Pergantian rezim ke rezim di Indonesia juga melibatkan pemuda. Sedemikian melekatnya nilai-nilai kepeloporan dan semangat kebangsaannya, tentu saja ini menjadi beban  sekaligus tanggungjawab moral sosial pemuda Indonesia ke depan.

Diskusi tersebut juga  merupakan agenda pre-launching buku  Indonesia Rumah Kita karya Abdul Ghopur & Rizky Afriono. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Nabi Muhammad, Al-Qur’an, dan Puasa Jadi Syafaat Umat Islam

Kudus, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Mustasyar PBNU KH.Syaroni Ahmadi mengawali pengajian bulan Ramadhan di Masjid Menara Kudus, Ahad Fajar (12/6) lalu. Pada hari kedua, Senin (13/6), kiai kharismatik ini melanjutkan mengkaji kitab Tafsir Al-Quran surat Al-Baqoroh ayat 122-125..

Nabi Muhammad, Al-Qur’an, dan Puasa Jadi Syafaat Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Nabi Muhammad, Al-Qur’an, dan Puasa Jadi Syafaat Umat Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Nabi Muhammad, Al-Qur’an, dan Puasa Jadi Syafaat Umat Islam

Pada kesempatan itu, KH Syaroni menerangkan tentang syafaat bagi umat Islam. Diterangkan, pengertian syafaat adalan meminta pertolongan kebaikan kepada orang lain untuk orang lain pula.

?

"Memahami bab syafaat sangat rumit sekali sehingga perlu penjelasan yang luas.Kadang-kadang disebut syafaat itu ada, kadang-kadang pula tidak ada. Keterangannya sama-sama dari Al-Quran," kata kiai yang biasa disapa Mbah Syaroni dengan bahasa Jawa.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Ia menjelaskan syafaat bagi umat Islam akan ada di dunia dan di akhirat nanti. Sementara bagi orang kafir, hanya didapat di dunia tetapi di akhirat tidak mendapatkannya.

?

"Ayat-ayat Al-Quran? yang menyebut tidak ada syafaat itu keterangan dikhususkan bagi orang kafir yang di akhirat tidak mendapatkannya.Bahkan di hari kiamat, orang kafir pada ngomong sambil menangis, misal dikembalikan lagi hidup di dunia mereka akan memilih menjadi Islam. Karena mereks melihat umat islam bisa saling memberi pertolongan," urai Mbah Syaroni.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Di antara yang bisa memberi syafaat orang Islam di hari kiamat nanti, lanjut mbah Syaroni, adalah Kanjeng Nabi, Al-Quran dan puasa. Diuraikan, Nabi Muhammad menjadi salah satu nabi yang memiliki doa mustajab yang akan digunakan untuk menolong memberikan syafaat secara merata bagi umatnya yang tidak musyrik pada hari akhir nanti.

?

"Semua umat Islam yang tidak musyrik akan menerima syafaat kanjeng Nabi. Karenanya, ulama sepuh dulu sering mengucapkan syi’iran ‘huwal habibul ladzi turja syafaatahu.. tujuannya untuk mengharap syafaatnya Nabi," imbuh Mbah Syaroni.

?

Dijelaskan pula, puasa dan Al-Quran akan menjelma menjadi makhluk besar gagah dan ganteng yang akan memberi syafaat kepada umat Islam. "Ketika mau memberi syafaat, kedua makhluk itu (jelmaan puasa dan Quran) meminta izin kepada Allah, dan Allah mengizini.

?

"Puasa dan Quran bilang Gusti orang ini selalu puasa menahan lapar, mengekang hawa nafsunya dan selalu membaca alquran tiap malam, bolehkah sya memberi syafaat orang ini? Allah menjawab ya silahkan," tutur mbah Syaroni seraya mengutip keterangan hadits Nabi.

?

Sementara? pada pengajian perdana, Ahad (12/6), mbah Syaroni mengingatkan kebahagiaan orang puasa. Dijelaskan, setiap orang puasa akan meraih kebahagiaan dalam berpuasa yakni waktu berbuka puasa dan saat bertemu rabbi-nya.

?

Pengajian Tafsir Al-Qur’an yang diasuh Mbah Syaroni berlangsung setiap hari selepas subuh selama bulan Ramadhan. Ribuan jamaah dari berbagai daerah Kudus dan sekitarnya memadati ruangan dan pelataran masjid Menara Kudus.(Qomarul Adib/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Nahdlatul, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 31 Januari 2018

Sembilan Anggota Ahwa Telah Terpilih

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Setelah dilakukan tabulasi, telah terpilih anggota Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) melalui proses pemilihan yang dilakukan oleh Muktamirin. Pjs Rais Aam KH Musthofa Bisri dan KH Hasyim Muzadi ternyata tidak termasuk dalam Sembilan nama tersebut.

Berikut daftar anggota Ahwa pilihan para Muktamirin, Rabu (5/8) di ruang sidang komplek alun-alun Jombang, Jawa Timur beserta perolehan suaranya.

Sembilan Anggota Ahwa Telah Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)
Sembilan Anggota Ahwa Telah Terpilih (Sumber Gambar : Nu Online)

Sembilan Anggota Ahwa Telah Terpilih

KH Makruf Amin Jakarta, (313 suara)

KH Nawawi Abdul Jalil Pasuruan Jatim (302)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

TGH Turmudzi Badruddin NTB (298)

KH Kholilul Rahman Martapura, Kalsel (273)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

KH Dimyati Rais Jateng (236)

KH Ali Akbar Marbun Sumatra Utara (246)

KH Maemun Zubeir Jateng  (156)

KH Makhtum Hannan Jabar (142)

KH Mas Subadar Pasuruan Jatim (135)

Begitu ditetapkan nama-nama tersebut, mereka akan bersidang untuk memilih Rais Aam PBNU yang akan memimpin NU periode 2015-2020. Mereka mengadakan pemilihan rencananya pada pukul 08.00 WIB malam. (Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Budaya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?

Hari ke dua puasa Ramadlan, Sofiyah (67) ? nenek asal Desa Sumberkarang, Kecamatan Dlanggu, Kabupaten Mojokerto ini baru menapakkan kakinya di Pesantren Darul Ulum Rejoso Jombang. Kedatanggannya di Pesantren KH Romly Tamim ini untuk nyantri selama bulan puasa.?

Di Pesantren Rejoso ini, tradisi nyantri atau mondok selama bulan puasa bagi kaum lanjut usia (Lansia) memang sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. ? Karena rata-rata yang nyantri adalah mereka pengikut Tarikat ? Qodiriyah wan Naqsabandiyah.

Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)
Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali (Sumber Gambar : Nu Online)

Seminggu Puasa, Nenek Sofiyah (67) Khatamkan Al-Quran Dua Kali

“ Alhamdulillah, kalau berada di pesantren ini, saya lebih bisa tekun ibadah, ? terutama saat bulan puasa ramadlan seperti sekarang,”tutur Sofiyah saat ditemui diserambi masjid Induk pesantren yang berdiri sejak 1885 tersebut.

Selama seminggu berada di pesantren, nenek Sofiyah yang telah memiliki enam cucu ini mengaku telah menyelesaikan membaca Al Quran dua kali khatam.

“Saya sudah tiga kali puasa nyantri di sini. Puasa tahun lalu, Alhamdulillah bisa mengkhatamkan Al Quran sebanyak lima kali. Sudah begitu, ibadah pendukung lainnya juga lebih fokus. Seperti zikir salat malam, hingga mengaji kitab,”imbuhnya wanita dengan lima anak ini menambahkan.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bersama nenek Sofiyah ada sebanyak 160 lansia yang mengikuti pesantren selama bulan puasa Ramadlan di Pesantren Darul Ulum Rejoso Peterongan Jombang. Mereka biasanya diantar oleh anak atau keluarganya untuk mondok. ? Ketika puasa hendak berakhir, para santri lansia ini akan dijemput oleh keluarganya.?

Bagaimana dengan kebutuhan sehari hari ? karena sudah menjadi budaya di pesantren, untuk kebutuhan makan minum banyak warung yang menyajika makanan di sekitar pesantren.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pengasuh Pesantren Darul Ulum, KH Cholil Dahlan, mengatakan ? tradisi nyantri atau mondok selama bulan puasa bagi kaum Lanjut Usia (Lansia) di pesantren Darul Ulum sudah berlangsung puluhan tahun. Bahkan sudah menjadi tradisi turun temurun. "Sudah sejak zaman kakek saya dulu. Karena memang kebanyakan dari mereka adalah jamaah Tarekat Qodiriyah Wan Naqsabandiyah yang berpusat di PPDU," ujar Kiai Cholil.

Pada Ramadlan kali ini terdapat 160 orang yang datang dari berbagai daerah. Jumlah tersebut tidak jauh berbeda dengan Ramadan tahun sebelumnya. Karena banyaknya para lansia, mereka di tempatkan di dua lokasi. “Pertama di masjid utama, kemudian kedua berada di asrama putri PPDU. Seluruh lansia itu selalu mengikuti kegiatan pengajian yang digelar di masjid induk,”jelasnya.

Selama berada di pesantren, ratusan lansia itu mendapatkan berbagai macam materi pelajaran. Mulai dari ibadah murni seperti salat, zakat, dan puasa, hingga menjalankan ibadah tambahan seperti zikir, kajian kitab, serta matri tentang akhlak.?

"Pada pagi hari para lansia mengaji selama dua jam setelah salat duha. Kemudian mengaji lagi secara jamaah setelah azar selama satu jam. Kedatangan para lansia ini ingin melakukan ribat atau ibadah selama 24 sehari selama bulan puasa," ujar Kiai Cholil sembari mengatakan bahwa para lansia itu tidak ditarik biaya selama berada di pesantren.(Muslim Abdurahman)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Amalan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kesediaannya untuk hadir dan membuka kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama Nahdlatul Ulama, yang diagendakan digelar September mendatang.

"Tadi saya sampaikan, yang dulu-dulu Munas Konbes NU yang hadir adalah Wakil Presiden. Tapi tadi saya juga menyampaikan kali ini jika berkenan Presiden yang hadir, dan Alhamdulillah beliau bersedia," ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, usai bertemu dengan SBY di Istana Negara, Selasa kemarin (29/5).

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU

Kang Said, demikian Kiai Said disapa dalam kesehariannya, menemui SBY di Istana Negara dengan didampingi oleh Sekjen PBNU H. Marsudi Syuhud dan Ketua Panitia Munas dan Konbes Alim Ulama H. Dedi Wahidi. Mendampingi Presiden dalam kesempatan ini Mensesneg Sudi Silalahi, Menag Suryadharma Ali, dan Seskab Dipo Alam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Kiai Said menjelaskan, tema Munas kali ini yaitu Kembali ke Khittah Indonesia 1945: Meningkatkan Khidmah NU Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Di kesempatan yang sama PBNU juga menyampaikan akan digelarnya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) NU di Pontianak pada tanggal 3 Juli mendatang yang rencananya akan dibuka Wakil Presiden RI ? Boediono.

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hikmah, Sholawat, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 17 Januari 2018

Masjid Indonesia Jeddah Ciptakan Generasi Qur’ani dengan Beragam Lomba

Jeddah, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Masjid Indonesia Jeddah (MIJ) kembali menunjukkan dedikasinya dalam membentuk tunas-tunas bangsa di luar negeri sebagai generasi qur’ani. Selama 14 tahun MIJ rutin menjadi fasilisator berbagai lomba bagi anak-anak Indonesia yang berdomisili di Tanah Hijaz (Jeddah, Makkah, Madinah dan sekitarnya) setiap bulan Ramadhan.

Beberapa lomba yang diadakan MIJ di antaranya, Musabaqah Hifdhil Qur’an (MHQ), adzan, shalawat, pidato tiga bahasa (Indonesia, Arab, Inggris) dan kaligrafi.

Masjid Indonesia Jeddah Ciptakan Generasi Qur’ani dengan Beragam Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Indonesia Jeddah Ciptakan Generasi Qur’ani dengan Beragam Lomba (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Indonesia Jeddah Ciptakan Generasi Qur’ani dengan Beragam Lomba

Dimulai hari Kamis (8/7), kegiatan ini dihelat secara maraton selama tiga hari dan diikuti kurang lebih 250 peserta perwakilan dari TPA Al-Naashiriyyah Jeddah, Sekolah Indonesia Makkah (SIM), dan masyarakat lainnya.

“Di tengah masa amnesti kali ini, antusiasme masyarakat tidak surut. Masih sama besarnya dengan yang terdahulu. Diharapkan terus bertambah karena mereka adalah penerus perjuangan kita di Arab Saudi,” ungkap Ahmad Fuad, Ketua PCINU Arab Saudi.

KJRI Jeddah yang diwakili oleh Umar Badarsyah selaku Plt. Pensosbud KJRI Jeddah mengapresiasi semangat dan partisipasi masyarakat Indonesia di Jeddah yang konsisten memotivasi anak didik menjadi hafidh dan hafidhah (penghafal Al-Qur’an).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Saya bahagia sekali. Para penghafal Al-Qur’an adalah keluarga Allah SWT,” terangnya.

Pada puncaknya, acara ini ditutup dengan pembagian hadiah dan kehadiran KH Mudatstsir Badruddin (Wakil Rais Syuriyah PWNU Jatim), Ir Ahmad Fuad selaku Ketua PCINU Arab Saudi, KJRI Jeddah, Formida (Forum Masyarakat Indonesia Jeddah), GP Ansor Arab Saudi dan beberapa tokoh masyarakat serta ormas/LSM lainnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Para hafidh dan hafidhah termasuk golongan yang menjaga Al-Qur’an. Saya berharap yang di-tahfid bukan hanya Al-Qur’an. Tapi juga Al-Hadits semisal Arba’in Nawawi,” tutup KH Mudatstsir di puncak acara yang sekaligus untuk memperingati malam Nuzulul Qur’an Sabtu kemarin. (Thobib/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 08 Januari 2018

IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Jawa Timur menggelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016, Rabu (25/3). Pekan Pendidikan dilaksanakan di Sport Center UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dengan di hadiri 1200-an pelajar dan mahasiswa se-Jawa Timur.

IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016 (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU Jatim Gelar Pekan Pendidikan Jawa Timur 2016

Pekan Pendidikan di konsep dengan dialog publik dan deklarasi pelajar tertib berlalu lintas oleh Dishub Jawa Timur. ? Acara dibuka oleh Rektor UINSA H Abdul A’la. Kemudian dilanjutkan dialog publik yang dipandu moderator Suko Widodo (Unair). Turut hadir juga beberapa akademisi, antara lain KH Ali Maschan Moesa, Murtadlo, Mudjito, Zainuddin Maliki.

Haikal Atiq Zamzami, Ketua IPNU Jatim menuturkan, IPNU siap menjadi pelopor tertib berlalu lintas. “Kami ini setiap tahun selalu melakukan sosialisasi. Selalu melibatkan berbagai pihak di 38 kabupaten kota di Jawa Timur. Pembinaan kepada masyarakat, termasuk para pelajar, petugas perlintasan kereta api dan sebagainya. Dengan IPNU ini kami lakukan, karena anggota IPNU sangat banyak dan tersebar di semua daerah di Jawa Timur. Mereka bisa menjadi pelopor tertib lalu lintas,” jelasnya.

Karena menurutnya, ini adalah sebuah tanggung jawab dan isu penting juga buat pelajar. “Di setiap cabang IPNU itu, anggota kita bisa mencapai 500 hingga 1.000 pelajar. Sudah sangat efektif jika kami dilibatkan dalam program ini,” ? tandasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kepala Dinas Perhubungan Provinsi Jawa Timur Wahid Wahyudi menegaskan bahwa 81 persen dari 57 kecelakaan lalu lintas yang terjadi setiap hari di Jatim itu melibatkan pemuda dan pelajar.

"Dari 57 kecelakaan lalu lintas perhari itu pun tercatat 15 korban tewas, sehingga setahun bisa mencapai 5.475 korban tewas di jalanan Jatim," katanya saat berbicara dalam Pekan Pendidikan IPNU Jatim.

Di hadapan 1.200-an peserta seminar dan deklarasi dari kalangan pelajar, santri, dan mahasiswa di lingkungan IPNU Jatim, ia menilai pendidikan memiliki arti penting, terutama pendidikan tentang tertib berlalu lintas.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Pendidikan tertib berlalu lintas itu antara lain bagaimana memahami rambu-rambu di jalanan dan menghargai jalanan sebagai milik publik untuk saling menghormati sesama pengguna jalan," katanya.

Oleh karena itu, pihaknya mengapresiasi PW IPNU Jatim yang menggelar sosialisasi dan deklarasi pelajar pelopor tertib berlalu lintas dalam rangkaian Pekan Pendidikan Jatim 2016 yang dirangkai dengan dialog publik, stand up comedy edukasi dan penyerahan hadiah lomba foto selfie tentang pendidikan. (Taufik/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 24 Desember 2017

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Oleh Fathoni Ahmad

Ulama dinisbatkan kepada seseorang yang ‘alim, mempunyai ilmu agama yang mumpuni, menebar maslahat untuk masyarakat, perangai yang ramah tetapi tegas terhadap setiap kemunkaran, dan akhlak yang baik. Ulama yang produktif dalam beberapa gerakan dan karya selalu menjadikan masyarakat mempunyai daya.

Dalam sejarah emas peradaban Islam, terbukti banyak ulama yang mampu mempelopori berbagai temuan ilmiah di bidang ilmu pengetahuan selain jago berijtihad dalam membaca? nash. Hal ini membuktikan bahwa kebangkitan ulama telah berjalan sejak ratusan abad lalu sehingga saat ini manusia (tak terkecuali bangsa Barat) bisa mengembangkan ilmu pengetahuan yang banyak diinisiasi oleh para ulama tersebut.

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)
Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air (Sumber Gambar : Nu Online)

Kebangkitan Ulama untuk Tanah Air

Istilah kebangkitan ulama sendiri sebetulnya kurang tepat, karena kebangkitan seolah menyimpan makna bahwa para ulama sebelumnya dalam kondisi terpuruk. Namun demikian, kebangkitan di sini mempunyai arti bahwa tidak semua ulama mempunyai jiwa bangkit untuk mengubah tatanan sosial atau kondisi di sekitarnya.

Itulah mengapa para ulama pesantren di Indonesia yang dikomandoi oleh KH Muhammad Hasyim Asy’ari (1871-1947) memilih istilah Nahdlatul Ulama (kebangkitan ulama) untuk organisasinya pada 1926 silam. Namun, dalam sejarahnya, ulama dan NU mempunyai titik awal kebangkitan yang berbeda. Bisa dikatakan, titik awal kebangkitan ulama mewujud dalam perjuangan organisasi bernama NU yang hingga saat ini masih eksis berjuang untuk kepentingan agama, bangsa, dan negara, bahkan dalam skala global.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Simpul yang bisa ditarik dari perjuangan ulama untuk bangkit mengubah tatanan sosial ialah, mereka berusaha menjaga dan merawat tanah air yang berawal dari lingkup lokal. Kondisi dan tatanan kehidupan sosial yang tidak seimbang dan cenderung negatif menggerakkan para ulama untuk melakukan langkah perubahan ke arah yang lebih baik. Tentu selain kewajiban mereka mengamalkan ilmunya setelah bertahun-tahun menimba ilmu di tanah Hijaz, Mekkah dan Madinah.

Sebut saja KH Hasyim Asy’ari, KH Tobagus Muhammad Falah (1842-1972), KH Bisri Syansuri, KH Syamsul Arifin Situbondo, serta ulama-ulama lain di berbagai daerah yang menginisiasi kebangkitan ulama melalui perjuangan mendirikan pesantren di daerah yang terbilang ada dalam kondisi tatanan sosial yang sangat negatif. Begitulah mestinya pijakan awal perjuangan agama, mengubah dari kondisi negatif ke tatanan sosial yang lebih baik dalam bingkai religiusitas komunal, bukan individual.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam sejumlah literatur sejarah, di penghujung abad ke-19, tepatnya pada tahun 1899, KH Hasyim Asy’ari bangkit mendirikan ‘tratak’ (bangunan yang belum sempurna) berukuran sekitar 10x10 meter persegi di Kampung Tebuireng, Desa Cukir, Kecamatan Diwek, sekitar 8 kilometer di selatan Kota Jombang. Masyarakat mengenal Tebuireng sebagai daerah yang sangat rawan. Pembunuhan, pencurian, perampokan, dan perkelahian hampir terjadi setiap hari. Aroma anyir tatanan sosial tersebut semakin kuat dengan hadirnya tempat-tempat maksiat seperti perjudian, pelacuran, dan mabuk-mabukan di setiap sudut kampung.

Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan langkah KH Hasyim Asy’ari untuk menyebarkan ajaran Islam kepada seluruh masyarakat kala itu. Perjuangan mendirikan pondok untuk belajar agama Islam secara mendalam setiap hari mendapatkan rintangan yang beberapa kali mengancam jiwa Kiai Hasyim Asy’ri dan santrinya yang saat itu masih bisa dihitung jari. Melihat kondisi tersebut, Kiai Hasyim merasa perlu mempelajari ilmu bela diri, begitu juga dengan para santrinya.

Akhirnya Kiai Hasyim mengutus seorang santrinya pergi ke Cirebon, Jawa Barat untuk meminta bantuan kepada Kiai Saleh Benda, Kiai Abdullah Pangurangan, Kiai Syamsuri Wanantara, Kiai Abdul Abdul Jamil Buntet, dan Kiai Saleh Benda Kerep. Kelima kiai tersebut merupakan sahabat karib Kiai Hasyim. Mereka dikenal ahli dalam ilmu silat dan sengaja didatangkan ke Tebuireng untuk melatih Kiai Hasyim dan para santrinya.

Ilmu bela diri tersebut terbukti ampuh untuk menghadapi para penjahat yang terus berusaha menggangu aktivitas belajar agama di Pondok Tebuireng. Bahkan, Kiai Hasyim dengan kelembutan akhlaknya mudah saja memberikan pengampunan kepada para penjahat sehingga dengan sendirinya mereka bertobat dan memohon kepada Kiai Hasyim agar dijadikan sebagai muridnya di pondok.

Perjuangan Kiai Hasyim di atas hanya salah satu contoh terhadap banyaknya ulama yang melakukan perjuangan serupa di berbagai daerah meski dalam kondisi masih terjajah oleh Belanda saat itu. Di Jombang sendiri, Kiai Hasyim mampu merangsang tumbuh dan berkembanngnya pondok pesantren di beberapa kampung seperti Denanyar, Sambong, Sukopuro, Paculgowang, Watugaluh, Nggayam, Suwaru, Tegalsari, Banjarsari, Mojodadi, Balonggading, Pojokkulon, Semelo, Dukuhsari, dan Seblak. (Choirul Anam, 1985)

Perjuangan serupa dilakukan oleh ulama asal Banten KH Tobagus Muhammad Falak yang mendirikan Pondok Pesantren Al-Falak pada 1907 di Kampung Pagentongan, Desa Gunung Batu, Kecamatan Ciomas, Kota Bogor. Kemudian KH Bisri Syansuri yang mendirikan Pondok Pesantren Manbaul Ma’arif di Denanyar pada 1917, KH Syamsul Arifin Situbondo ayah KH Raden As’ad Syamsul Arifin yang mendirikan Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah di Desa Sukorejo, Kecamatan Asembagus, Situbondo pada tahun 1910-an.

Ke semua perjuangan ulama tersebut tidak berangkat dari kemapanan tatanan sosial, tetapi justru sebaliknya, dalam kondisi masyarakat dengan perilaku negatif hampir setiap hari. Hal ini membuktikan bahwa keberadaan ulama mampu membangkitkan masyarakat menjadi lebih baik dan berdaya. Selain itu, pijakan kehidupan masyarakat yang bernama tanah air menjadi kewajiban para ulama untuk menjaga dan merawatnya agar lebih baik.

Semangat menjaga tanah air dari para ulama inilah yang menjadi ‘virus’ positif dalam melakukan langkah awal perlawanan terhadap penjajah yang tidak berperikemanusiaan di tanah air bangsa Indonesia. Pesantren menjadi titik kumpul dimulainya perjuangan membebaskan diri dari kungkungan penjajah. Pemikiran dan sikap kritis tetapi terbuka (inklusif) yang ditanamkan para ulama kepada para santri menjadi motor pergerakan nasional melawan penjajah dalam semangat cinta tanah air (hubbul wathon).

Gelora cinta tanah air ini tidak hanya membakar semangat perjuangan para santri dan umat Islam, tetapi juga para tokoh pergerakan nasional lintas etnis dan agama untuk bersama-sama berjuang mengusir penjajah agar meraih kemerdekaan lahir dan batin. Maka, cinta tanah air menjdi kunci perjuangan seluruh bangsa Indonesia yang saat ini disatukan dengan prinsip agung Bhinneka Tunggal Ika dan Pancasila. Mari kita jaga!

Penulis mengajar di Fakultas Agama Islam UNU Indonesia (Unusia) Jakarta.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kyai, Sholawat, Nahdlatul Ulama Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 01 Desember 2017

Diknas Tulungagung Minta Maaf pada Keluarga Gus Dur

Jombang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung mendatangi Pesantren Tebuireng Jombang. Mereka meminta maaf kepada keluarga presiden Abdurrahman Wahid atas beredarnya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dinilai melecehkan Gus Dur.

Diknas Tulungagung Minta Maaf pada Keluarga Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Diknas Tulungagung Minta Maaf pada Keluarga Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)

Diknas Tulungagung Minta Maaf pada Keluarga Gus Dur

“Secara sadar, kami dari Diknas Tulungagung meminta maaf kepada keluarga Gus Dur, atas beredarnya LKS yang dinilai melecehkan,” ujar Bambang Setya Sukarjono, Kepala Dinas Pendidikan, Tulungagung bersama rombongan yang juga diantar keluarga besar PCNU, GP Ansor, Fatayat NU dan IPNU, Senin (17/12).

Bambang mengatakan, pihaknya mengakui keteledoran anak buahnya yang tidak teliti sehingga dalam LKS itu, muncul statemen atau pelajaran yang menyesatkan bagi anak didiknya di Tulungagung.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

”Kita sudah meminta LKS itu dicabut, dan harus dibenahi. Karena tidak hanya presiden Gus Dur juga ada Megawati dan Habibie,”tandasnya.

Senada, Pengurus Cabang NU Tulungagung, Ahyak menyatakan, sudah ada kesepakatan dengan Dinas Pendidikan untuk membenahi buku sejarah yang beredar saat ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

”Kita tidak ingin generasi kita mencederai tokoh tokoh bangsa, tidak hanya Presiden Abdurrahman Wahid, tetapi juga Bung Karno, Habibi dan juga Suharto,” tandasnya seraya mengatakan, pihaknya juga sudah memerintahkan guru mata pelajaran sejarah meminta maaf kepada Murid murid atas kesalahan tersebut.

Menanggapi permintaan maaf ini, adik kandung Gus Dur, KH Shalahudin Wahid yang juga pengasuh Pesantren Tebuireng menyatakan menerima permintaan maaf tersebut. Gus Sholah juga mengapresiasi langkah Dinas Pendidikan Tulungagung yang menarik buku yang mengajarkan sejarah yang salah. 

“Saya sudah berkomuniksi dengan pak Mahfudz MD, Gus Dur itu bukan jatuh karena korupsi, Gus Dur jatuh karena politik,” jelasnya.

Gus Sholah mengaku heran, mengapa sejarah bangsa ini khususnya terkait Gus Dur yang dituduh jatuh karena Bulogate dan Bruneigate banyak terjadi di beberpa daerah. 

“Ini kan sejarah yang membohongi masyarakat, harus dibenahi. Tidak hanya soal Gus Dur ada beberapa materi yang saat saya baca ternyata juga banyak yang salah,” ujarnya bercerita.

Tidak puas dengan peneriman maaf, rombongan Diknas ini juga meminta pernyataan tertulis dari keluarga Gus Dur untuk disampaikan kepada masyarakat Tulungagung. Usai menerima permintaan maaf, dari Gus Sholah, rombongan  kemudian melakukan ziarah di Makam Gus Dur yang berada dikomplek Pesantren Tebuireng.

Sekedar diketahui, dalam buku LKS kelas II SMA dan MA di Tulungagung memuat pelajaran yang menerangkan bahwa presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur jatuh dari kursi presiden akibat kaus korupsi Bullogate dan Brunaigate.

”Atas beredarnya LKS yang menyesatkan ini, keluarga besar NU Tulungaung mendesak Diknas untuk menariknya dan meminta maaf kepada keluarga Gus Dur,” ujar Robingan Abd Aziz, komandan Banser mengatakan. 

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Muslim Abdurrahman

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, News, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 30 November 2017

PBNU Serukan Bangsa Indonesia Tobat Nasional

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh bangsa Indonesia agar melakukan tobat nasional. Karena bencana alam dan bencana sosial yang datang bertubi-tubi menimpa negeri ini sudah di luar kemampuan manusia lagi untuk menghentikannya.

“Menjauhi perbuatan yang langsung atau tidak langsung menyebabkan murka Allah, seperti melakukan kezaliman, kepalsuan atau kepura-puraan, kebohongan, pengrusakan kehormatan dan martabat sesama, pengrusakan keseimbangan alam, korupsi/keserakahan, pengkhianatan hukum, pengkhianatan terhadap amanat, menelantarkan penderitaan rakyat kecil dan sebagainya,” demikian salah satu butir seruan yang dibacakan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi di hadapan wartawan di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Jakarta, Selasa (16/1)

PBNU Serukan Bangsa Indonesia Tobat Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Serukan Bangsa Indonesia Tobat Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Serukan Bangsa Indonesia Tobat Nasional

Hasyim meminta seruan tersebut dapat disiarkan seluas-luasnya kepada seluruh rakyat Indonesia. Pasalnya, hal tersebut bukan hanya untuk kepentingan NU semata, melainkan untuk kepentingan dan keselamatan seluruh bangsa. “Ini tidak hanya untuk NU, tapi untuk bangsa Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, PBNU menyerukan hal yang sama kepada warga nahdliyin (sebutan untuk warga NU). Pimpinan tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Tanah Air itu meminta kepada seluruh nahdliyin untuk melakukan puasa sunnah tasu’a dan asyura yang dimulai dengan puasa sunnah mutlaqah sejak tanggal 1-10 Muharram 1428 H/20-30 Januari 2007. PBNU juga mengimbau sebanyak mungkin ber-istighfar dan membaca hauqolah (mohon kekuatan kepada Allah).

Hasyim menegaskan, segala persoalan yang menimpa bangsa Indonesia saat ini adalah akibat dari perbuatan dan kesalahan yang dilakukan bersama-sama. Oleh karenanya, untuk mengakhiri hal itu semua dan permohonan ampun terhadap Tuhan harus dilakukan secara bersama-sama pula.

“Koruptor kecil dikejar-kejar, sementara koruptor besar digelarkan karpet merah (tanda penghormatan), illegal logging, kelaparan jamaah haji, hilangnya pesawat Adam Air, kasus lumpur Lapindo yang sampai saat ini belum selesai, dan lain sebagainya, semuanya adalah kesalahan kolektif kita sebagai bangsa,” terang Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur itu. (rif)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 28 November 2017

Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Dr KH Hasyim Muzadi memperingatkan kelompok Islam garis keras yang belakangan begitu gencar ‘merebut’ masjid yang didirikan warga nahdliyin. Ia meminta agar kelompok tersebut segera menghentikan gerakannya. Sebab, mereka diduga melakukan gerakan yang merusak akidah NU dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

”Saya ingatkan mereka yang melakukan gerakan ini agar berhenti mengganggu warga NU. Secara nasional, ujung-ujungnya gerakan ini merusak ukhuwah Islamiyah (persaudaraan umat Islam, Red), dan merongrong NKRI,” ungkap Hasyim kepada di kediamannya, di Komplek Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam, Malang, Jawa Timur, Senin (19/3) kemarin.

Soal dugaan keterlibatan partai politik tertentu dalam gerakan mereka, mantan Ketua Pengurus Wilayah NU Jatim itu menyatakan, jika di kemudian hari ternyata benar-benar terbukti ada keterlibatan partai tertentu, PBNU tak akan segan-segan mengeluarkan larangan keras bagi warga NU untuk tidak memilih partai tersebut.

Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada (Sumber Gambar : Nu Online)

Masjid Disusupi Perongrong NKRI, Nahdliyin Diminta Waspada

”Saya berharap ini tidak ada partai politik yang terlibat dalam hal ini. Tapi kalau ada yang terlibat, PBNU pasti mengeluarkan larangan memilih partai yang terlibat tersebut. Untuk apa warga NU memilih partai yang merusak akidah NU? Dan merusak ukhuwah Islamiyah? Semoga peringatan ini didengarkan,” tuturnya.

Hasyim menegaskan, akhir-akhir ini marak terjadi gerakan pengambilalihan masjid-masjid yang didirikan warga NU di semua daerah di seluruh Indonesia. Mereka melakukan penyusupan, mulai dengan cara meminta menjadi pengurus takmir atau membantu sedikit uang.

Jika gerakan tersebut dibiarkan, katanya, maka akidah warga NU akan semakin terancam. ”Oleh karenanya, seluruh warga NU harus mewaspadai gerakan ini. Secara akidah, gerakan ini merongrong Ahlussunnah Wal Jamaah dengan mengharamkan tahlil, istighotsah, dibaiyah, manakib, talqin, tawassul dan lain-lain,” jelasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lantas, cara apa yang harus ditempuh untuk menghadapi gerakan tersebut? Hasyim mengatakan, warga NU diimbau rajin melakukan aktivitas di setiap masjid yang didirikan, serta mengeluarkan para penyusup tersebut dari pengurus takmir masjid. (amh/rif)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, Sholawat, Ubudiyah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 24 November 2017

Politisi Kita Masih Gunakan Intrik Demi Kekuasaan

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kemajuan berdemokrasi di Indonesia sangat diakui banyak kalangan, bahkan hingga mancanegara. Meski demikian, yang terjadi saat ini masih miskinnya prilaku para politisi. Politisi kita masih belum mampu menjadi negarawan yang beradab, berakhlak. Mereka masih suka menggunakan intrik-intrik politik demi kekuasaan.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj kepada para pemimpin partai politik dan ratusan hadirin seusai memimpin istighotsah di Pesantren Luhur Al-Tsaqafah Jalan Mohammad Kahfi I No 22 Cipedak-Ciganjur, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Politisi Kita Masih Gunakan Intrik Demi Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)
Politisi Kita Masih Gunakan Intrik Demi Kekuasaan (Sumber Gambar : Nu Online)

Politisi Kita Masih Gunakan Intrik Demi Kekuasaan

Meski demikian, dibanding dengan yang yang terjadi di Timur Tengah, kondisi di Indonesia masih lebih baik. “Kita sangat prihatin dengan tragedi yang menimpa Suriah. Di sana hampir 180 ribu nyawa melayang sia-sia. Di Iraq, bahkan hampir 700 ribu. Sementara di Afghanistan yang 100 persen penduduknya muslim, 99 persen Sunni, hanya 1 persen Syiah, tiap hari justru berperang,” ujar Kiai Said.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hal ini terjadi, lanjutnya, karena antara Islam dan Nasionalisme belum ada titik temu. Masing-masing masih dipertentangkan satu sama lain. “Kita beruntung sekali. Di Indonesia jauh sebelum merdeka semua sepakat bentuk negara kita nasionalis. Jadi, syariat tidak untuk diformalkan. Tapi diamalkan,” ujarnya yang langsung disambut aplaus hadirin.

“Yang Kedua, di Timur Tengah tidak ada ormas. Tidak ada kekuatan civil society yang mampu mengayomi masyarakat. Di Indonesia, kita punya NU, Muhammadiyah, Al-Washliyah, PUI, DDII, dan masih banyak yang lain. Ini jika dijumlah anggotanya ada 123 juta. Inilah kemudian yang melatarbelakangi berdirinya POI,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menyinggung masalah istighotsah, Kiai Said menjelaskan, tradisi ini pernah dilakukan Rasulullah SAW ketika bersama hanya 314 pemuda yang dengan gagah berani mengalahkan 1000 tentara kafir Quraisy. “Berkah Istighotsah, pasukan Nabi yang sedikit itu dengan senjata apa adanya mampu mengalahkan pasukan Quraisy yang dipimpin Abu Jahal. Padahal mereka bersenjata lengkap,” paparnya.

Kang Said berharap Pemilu 2014 yang digelar dua hari lagi berlangsung aman dan sukses. “Mudah-mudahan pemilu besok dapat memberi keberkahan bagi Bangsa Indonesia. Tentang siapa yang menang, sebagai orang yang beriman, kita musti kembali kepada al-Qur’an yang menegaskan siapa yang menang siapa yang kalah, tidak lepas dari desain Allah,” tegas kiai asal Cirebon ini. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Fragmen, Sholawat, AlaNu Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 23 November 2017

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Depok, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ada yang istimewa pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah Depok, Senin (15/9) petang. Dua narasumber sangat kontras satu sama lain. Pertama, Menteri Agama Republik Indonesia ke-21, Lukman Hakim Saifuddin. Kedua, Emil Elestianto Dardak, PhD, peraih gelar doktor termuda pada usia 22 tahun dari Ritsumeikan Asia Pasific University Jepang. Usut punya usut, pria ini adalah mantan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang.

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)
Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU (Sumber Gambar : Nu Online)

Peraih Doktor Termuda di Jepang, Aktivis PCINU

Emil, sapaan akrabnya, menceritakan saat dirinya mengambil S2 dan S3 di Jepang, sebuah negara kepulauan mirip Indonesia, belum ada organisasi sebagai wahana diskusi tentang keislaman dan kemajuan teknologi. Kemudian ia bersama kawan-kawannya mendirikan NU di Jepang.

?

“Kami mahasiswa Indonesia di Jepang saat itu butuh wahana silaturahim. Sayangnya, belum ada untuk sekedar tempat bicara dan diskusi tentang keislaman yang ramah. Maka, kami mendirikan NU di sana,” ujar suami artis Arumi Bachsin ini kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal usai berbicara sebagai narasumber pada kuliah umum di STAI Al-Hamidiyah, Senin (15/9).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dia menambahkan, saat itu Rais Syuriah pertama Pak Kharirie. Kemudian penerusnya Pak Agus Zainal Arifin (sekarang dekan di ITS). “Kalau saya mulai aktif sebagai salah satu ketua, yaitu bidang Hubungan Pemerintah, sejak 2005. Nah, ketua umum saat itu Indra Singawinata,” sebutnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kepengurusannya, lanjut Emil, di PCINU pernah membuat program “Santri Nelayan” untuk membantu pesantren di daerah pesisir. Program tersebut berupa pembuatan soft ware Quran Digital, fasilitas teknologi informasi (IT), dan perangkat komputer untuk para santri agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi terkini. Hal tersebut dilakukan supaya proses belajar-mengajar di pesantren lebih efisien.

Menyinggung soal isu kemaritiman, Emil mengatakan belum lama ini koran Singapura The Street Time memuat pendapatnya mengenai poros maritim yang didengungkan Presiden terpilih Joko Widodo. Bagi dia, kunci terpenting poros maritim adalah mengaitkannya dengan kesatuan nasional. Isu ini sangat strategis di mana penduduk pesisir yang mayoritas warga Nahdliyin itu merupakan perekat persatuan dan kesatuan bangsa.

“Kita ini kan pulau-pulau besar. Satu pulau bisa melebihi satu negara. Tapi apa yang bisa merekatkan kita jadi satu? Lautan di negeri ini mestinya menjadi penyatu bukan pemisah. Jadi, penyatu Indonesia itu ya lautan. Oleh karena itu, perlu dibangun infrastruktur pelabuhan yang membuat ongkos membeli barang dalam negeri lebih murah daripada mengirim keluar. Sedangkan hari ini kebalikannya,” tutur dia.

?

Emil menekankan tidak berarti serta-merta ketika Indonesia berorientasi maritim lalu konektivitas di darat terlupakan. “Kita bikin pelabuhan tapi tidak tersambung ke mana-mana kan percuma. Justru harus ada konektivitas antara pelabuhan dengan pusat-pusat produksi. Jadi, logistik jadi terpadu. Itu yang penting,” tegasnya.

Emil bercerita, ia pernah meneliti tentang link and match. Kenapa di sebuah desa bisa tertinggal dari sisi SDM dan teknologi. Karena apa yang diajarkan di sekolah tidak dapat diaplikasikan di lingkungannya. “Harus ada satu keterpaduan di hilir dan di hulu. Misalnya, kita pengen nelayan menggunakan teknologi perkapalan atau penangkapan ikannya, ada demand di hilir. Di hulunya kita profit. Jadi, mindset mulai anak SD hingga SMA harus match,” paparnya.

Cucu KH Dardak asal Trenggalek Jawa Timur ini menambahkan, ilmu yang diperoleh sejalan dengan apa yang bisa dikaryakan di situ. Jadi kemampuan santri untuk mengoperasikan penangkapan ikan berbasis teknologi itu menjadi penting. Ia merasa, pesantren di mana-mana itu balance. Orang yang memiliki kondisi spiritual yang baik berada dalam kondisi belajar yang kondusif.

“Itu yang kami lihat. Dia bisa punya etos kerja. Jadi, harus dikaitkan ajaran Islam itu ke dalam etos belajar dan etos kerja yang baik. Karena sekarang ini SDM kita justru karakternya yang harus didorong, nggak cuma kemampuan teknis. Nah, format belajar yang menggunakan pendekatan pesantren itu diharapkan menjadi satu dobrakan ke arah sana,” pungkasnya. (Ali Musthofa Asrori/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Ubudiyah, Halaqoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 21 November 2017

Perempuan NU Ambil Peran dalam Pengawasan Pemilu 2014

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejumlah pengurus teras PP Muslimat NU, PP Fayatat NU dan PP IPPNU mengadakan pertemuan dengan Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) di Jakarta. Mereka membahas partisipasi konkret yang bisa dilakukan untuk mengawasi dan memantau pemilu awal bulan depan demi kelangsungan pemilu yang jujur dan demokratis.

Perempuan NU Ambil Peran dalam Pengawasan Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)
Perempuan NU Ambil Peran dalam Pengawasan Pemilu 2014 (Sumber Gambar : Nu Online)

Perempuan NU Ambil Peran dalam Pengawasan Pemilu 2014

Dalam pertemuan yang berlangsung Kamis (20/3), mereka sepakat bahwa pemantauan pemilu ini perlu melibatkan banyak elemen masyarakat. Dengan demikian, publik terpanggil untuk melaporkan pelanggaran yang terjadi baik di lapangan maupun KPUD setempat.

Manajer Proyek Pendidikan Pemilih PP Muslimat NU Susianah Afandi kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, Senin (24/3) mengatakan, “Di era pengembangan teknologi informasi seperti saat ini, partisipasi masyarakat dalam kegiatan pemantauan dan pengawasan Pemilu dapat berjalan efektif dan efesien dengan hadirnya media sosial yang mudah diakses dan murah.”

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Perhatian perempuan NU untuk terlibat aktif dalam pemilu didasarkan pada itikad untuk mengembalikan pemilu sebagai milik rakyat. Rakyat yang berdaulat sudah seharusnya mengawasi pemilu secara langsung sehingga dihasilkan pemilu yang demokratis dan berkualitas.

Di akhir pertemuan, tiga badan otonom NU tersebut pada pekan ini berencana menandatangani nota kesepahaman dengan Bawaslu terkait dukungan terhadap Gerakan 1 Juta Relawan Pengawas Pemilu. Tampak hadir dalam pertemuan ini PP IPM (Ikatan Pelajar Muhammadiyah) dan LMND. (Alhafiz K)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Amalan, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 12 November 2017

Lewat Perppu Ormas, NU Konsisten Bela NKRI

Surabaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pembelaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) mengantarkan NU sebagai satu-satunya organisasi sosial keagamaan yang tetap konsisten. Hal itu dibuktikan dengan dukungan NU terhadap lahirnya Peraturan Pemerintah Pengganti (Perppu) UU No 2 Tahun 2017 tentang Ormas, padahal banyak kalangan menolak.

Pandangan ini disampaikan Ahmad Najib AR saat memberikan sambutan pada halal bihalal sekaligus rapat koordinasi yang diselenggrakan di PWNU Jatim, jalan Masjid al-Akbar Timur 9 Surabaya. Tampak hadir ketua dan pengurus PC Lembaga Talif wan Nasyr (LTN) NU se-Jawa Timur.

Lewat Perppu Ormas, NU Konsisten Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)
Lewat Perppu Ormas, NU Konsisten Bela NKRI (Sumber Gambar : Nu Online)

Lewat Perppu Ormas, NU Konsisten Bela NKRI

Menurut Ketua PW LTN NU Jatim tersebut, terbitnya Perppu mengingat semakin menguatnya gerakan anti-Pancasila. "Sementara, Ormas lain sibuk menolak dengan alasan anti-demokrasi dan membungkam kebebasan," katanya, Selasa (25/7).?

Bahkan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS), melalui Koordinatornya Yati Andriyani, menuding pihak tertentu berada di balik penerbitan Perppu tersebut.

Dengan penolakan berbagai kalangan seolah NU menjadi musuh bersama. Kendati demikian, berdasar pengalaman yang ada, realita tersebut tidak menyurutkan NU dalam mendukung langkah pemerintah.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Tetapi, demi negara, NU siap menghadapi. Karena kita sudah terbiasa menghadapi situasi sulit seperti ini. Kita harus kuat. Kalau sampai NU jatuh, Indonesia runtuh," kata Gus Najib, sapaan akrabnya.

Gus Najib kemudian mengingatkan, bahwa, tantangan Nahdlatul Ulama ke depan semakin berat. Sekarang semakin jelas, bahwa, NU menjadi target operasi berbagai pihak dengan bermacam-macam isu, tujuannya untuk melemahkan kekuatan NU.

"Ini tugas kita, sebagai kader NU kita harus terus memperkuat barisan. Kita lanjutkan perjuangan para pendiri NU," ungkapnya.

?

Kegiatan ini juga diisi presentasi capaian dari sejumlah PC LTN NU di antaranya Kabupaten Malang serta Pamekasan. Tampak hadir Penasihat PW LTN NU Jatim, KH Maruf Asrori dan Muhammad Kayyis, serta Wakil Ketua PWNU Jatim, KH Sholeh Hayat. (Ibnu Nawawi/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal News, Doa, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Kapolres Metro Jakarta Selatan Kombes Pol Iwan mengajak masyarakat untuk tetap memperhatikan keamanan lingkungan di kawasan Jakarta Selatan. Menurutnya, gegap gempita Pilkada Jakarta jangan sampai melalaikan warga dari penjagaan keamanan lingkungan.

Demikian disampaikan Kombes Pol Iwan dalam tasyakuran Harlah Ke-94 NU di aula Yayasan Darul Marfu, Jalan H Zainudin, Radio Dalam, Gandaria, Jakarta Selatan, Ahad (9/4) malam.

Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)
Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan (Sumber Gambar : Nu Online)

Orang Tua Sibuk Pilkada, Keamanan Lingkungan Jakarta Selatan Terabaikan

“Orang tua sibuk siapkan Pilkada. Tapi lupa jaga keamanan,” kata Kombes Pol Iwan di hadapan ratusan nahdliyin yang memadati aula.

Polda Metro Jaya dan Polres-Polres Metro Jaya terus melakukan evaluasi berkala terkait keamanan. Kategori keamanan di lingkungan Jakarta Selatan, kata Iwan, dalam evaluasi terakhir yang sebelumnya cukup baik, belakangan menurun.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Jakarta Selatan tadinya putih. Sekarang naik tingkat menjadi waspada meski belum kategori bahaya. Artinya angka kejahatan di lingkungan Jakarta Selatan meningkat,” kata Kombes Pol Iwan.

Ia mengajak warga untuk berpartisipasi menjaga keamanan di lingkungan masing-masing. Menurutnya, partisipasi warga lebih efektif untuk mencegah kejahatan di lingkungan Jakarta Selatan.

“Kalau ada penjahat melihat seratus polisi, penjahat belum tentu takut. Tetapi melihat empat-lima warga berjaga di lingkungan masing-masing, penjahat akan mikir-mikir lagi untuk melancarkan aksinya.”

Peringatan Harlah NU ini diawali dengan khataman Al-Quran dan ditutup dengan istighotsah. Di sela acara pengurus harian PCNU Jakarta Selatan memberikan bantuan kepada puluhan anak-anak yatim dan dhuafa.

Dalam khataman dan istighotsah yang diselenggarakan PCNU Jakarta Selatan ini tampak hadir Direktorat Kamtibmas Polda Metro Jaya AKBP Anjar Gunadi, Kapolres Jaksel Kombes Pol Iwan, Dandim Jakarta Selatan, Walikota Jakarta Selatan. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 07 November 2017

Pendamping Desa Harus Jadi Pelopor Pembangunan Desa

Bandung, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo, meminta pendamping desa agar menjadi pelopor sekaligus motor penggerak pembangunan di desa. Menurutnya, kehadiran pendamping desa yang diamanatkan oleh Undang-Undang Desa yakni untuk mewujudkan desa yang mandiri maju dan sejahtera.

"Pendamping desa harus mampu menjadi agen perubahan di setiap desanya. Kalian adalah pahlawan dari agen perubahan desa," ujar Menteri Eko dalam acara penutupan pelatihan pendamping lokal desa di Bandung, Ahad (8/10).

Pendamping Desa Harus Jadi Pelopor Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pendamping Desa Harus Jadi Pelopor Pembangunan Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pendamping Desa Harus Jadi Pelopor Pembangunan Desa

Menteri Eko juga meminta para pendamping desa untuk terlibat aktif dalam setiap tahapan pembangunan desa, baik itu perencanaan maupun pelaksananaan pembangunan. Dengan jumlah dana desa yang terus naik, para pendamping desa harus proaktif mendengar dan memberi solusi bagi permasalahan desa.

"Ini adalah kesempatan untuk meningkatkan percepatan kesejahteraan untuk penduduk di desa. Nah, saya minta pendamping desa harus bisa berperan besar dalam pemanfaatan dana tersebut agar lebih produktif. Sebab untuk membiayai pendamping itu tidak kurang negara mengeluarkan sekitar Rp 2,8 trilun," ujar Menteri Eko.

Di tahun 2015, Menteri Eko melanjutkan, dana desa yang dikucurkan pemerintah senilai Rp 20 triliun. Kemudian, pada 2016 meningkat menjadi Rp 47 triliun dan tahun 2017 ini mencapai Rp 60 triliun untuk

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

74.910 desa. Untuk saat ini, program ini merupakan satu-satunya di dunia dengan besaran jumlah yang terus meningkat tiap tahunnya.

"Dana desa dapat dipergunakan untuk membangun sentra-sentra pertumbuhan perekonomian warga di desa, selain infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan lain sebagainya," sambungnya. 

Dengan besaran tersebut, Menteri Eko meminta kepada masyarakat jangan segan-segan melaporkan jika ditemukan ada penyelewengan dari dana desa. Terlebih, lanjutnya, Kemendes PDTT telah membentuk Satgas Dana Desa.

"Jika ditemukan ada penyelewengan dari dana desa jangan segan-segan untuk malapor ke Satgas Dana Desa ke nomor 1500040. Pelaku penyelewengan dari dana desa tersebut akan langsung ditindak tegas aparat penegak hukum," tegasnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Turut hadir dalam pelatihan pra tugas pendamping desa yang diikuti 670 peserta yakni Staf Khusus Mendes PDTT, Syaiful Huda, Direktur Jenderal Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat Desa (PPMD), Taufik Madjid, dan Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat Desa (BPMD) Provinsi Jawa Barat, Agus Hanafi. Pelatihan tersebut digelar selama satu minggu. (Red: Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pesantren, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 05 November 2017

Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama

Yogyakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kegiatan bahtsul masail merupakan roh Nahdlatul Ulama. Bahtsul masail mengandung prinsip dasar warga NU, sikap ilmiah dalam mengatasi masalah. Karenanya, budaya ilmiah seperti itu diteruskan warga NU. 

Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)
Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama (Sumber Gambar : Nu Online)

Bahtsul Masail Roh Nahdlatul Ulama

Demikian dikatakan Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ishomuddin saat sambutan pembukaan Bahtsul Masail Nasional LBM PBNU di Pondok Pesantren Pandanaran, Yogyakarta, Selasa (2/7) siang.   

“Bukan NU kalau tidak bahtsul masail,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bahtsul masail, lanjut KH Ishomuddin, merupakan upaya penyelesaian persoalan yang dihadapi masyarakat. Penyelesaian masalah melalui bahtsul masail menumbuhkan sikap ilmiah karena peserta musyawarah bahtsul masail mendasarkan usulan dan komentarnya pada ilmu.

Sikap ilmiah ini menjadi ciri khas NU dalam mengatasi masalah. Sikap ilmiah seperti ini terbilang langka di kalangan organisasi masyarakat di Indonesia, tegasnya di hadapan sedikitnya 150 peserta musyawirin dari kalangan Syuriah PWNU, PCNU, dan utusan sejumlah pesantren.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain sikap ilmiah, bahstul masail juga menjadi forum silaturahmi dan momen konsolidasi bagi pengurus NU dan pesantren untuk menguatkan NU itu sendiri, tutup KH Ishomuddin.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Sholawat, Jadwal Kajian, Tokoh Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock