Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 03 Maret 2018

MWCNU Pagelaran Pringsewu Ajak Warga Benahi Sanitasi lewat 5 Pilar

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kebersihan sebagian dari Iman. Demikian kalimat pertama Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Pagelaran H Bahrodin saat mengisi Jihad Pagi (Ngaji Ahad Pagi) disusul dengan ajakan kepada jamaah untuk menerapkan pola hidup bersih dalam kehidupan sehari-hari.

“Pola hidup bersih dapat ditempuh melalui 5 hal yang merupakan pilar Program Pemerintah STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat )," jelasnya di Kecamatan Pagelaran, Pringsewu, Lampung, Ahad (3/1),

MWCNU Pagelaran Pringsewu Ajak Warga Benahi Sanitasi lewat 5 Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Pagelaran Pringsewu Ajak Warga Benahi Sanitasi lewat 5 Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)

MWCNU Pagelaran Pringsewu Ajak Warga Benahi Sanitasi lewat 5 Pilar

Kelima pilar tersebut, menurutnya, meliputi setop buang air besar sembarangan, cuci tangan memakai sabun, pengelolaan air minum dan makanan dengan sehat, mengelola sampah dengan benar dan mengelola limbah cair rumah tangga dengan benar.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia mengaku prihatin terhadap kondisi banyaknya warga Indonesia yang masih buang air tidak pada tempatnya. "Budaya ini mengakibatkan Indonesia termasuk negara nomor 2 terjorok di dunia di bawah Negara Laos yang berada di posisi pertama," terang duta STBM di Kecamatan Pagelaran ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bahrodin mengingatkan fakta bahwa masyarakat Indonesia adalah mayoritas beragama Islam. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak orang Islam yang belum mempraktikkan hidup bersih dan sehat seperti anjuran Rasulullah.

"Banyak sekali hadits Rasul yang menjadi dasar tentang kebersihan khususnya masalah sanitasi. Hal ini menunjukkan bahwa Rasul sangat perduli dengan masalah kebersihan," tambah Bahrodin yang pada November 2015 diundang untuk mempresentasikan konsep “Jihad Sanitasi" yang dirintisnya pada Konfrensi Sanitasi dan Air Minum Nasional (KSAN) di Jakarta.

Salah satu contoh hadits Nabi, lanjutnya, adalah larangan Nabi kepada umatnya untuk buang air baik kecil maupun besar di air tergenang, air mengalir, di jalanan dan juga di tempat bernaung seperti pohon dan tempat-tempat umum.

"Inilah yang mendasari saya untuk terus menyosialisasikan pola hidup sehat melalui Konsep Jihad Sanitasi. Karena Jihad adalah mengajak ke arah yang lebih baik maka mengajak orang lain untuk memperbaiki kondisi kesehatan dan lingkungan ke arah yang lebih sehat dan bersih termasuk dalam jihad," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, AlaSantri, Hadits Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sabtu, 24 Februari 2018

Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan

Pati, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ketua Dewan Pembina Yayasan Nurussalam Dr KH A. Sahal Mahfudh yang juga Rais Aam PBNU mahasiswa atau santri yang telah lulus dari lembaga pendidikan agar mampu menjadi tauladan bagi masyarakat.

Kiai Sahal menyampaikan hal itu dalam acara wisudah pertama Sekolah Tingga Agama Islam Mathaliul Falah (STAIMAFA) Kajen-Pati, Jawa Tengah, akhir pekan lalu.

Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan (Sumber Gambar : Nu Online)
Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan (Sumber Gambar : Nu Online)

Kiai Sahal: Sarjana Harus Jadi Tauladan

Dalam kesempatan itu, Kiai Sahal juga menekankan pentingnya rasa syukur. “Syukur tidak hanya sekedar mengucap kata hamdalah, tetapi lebih dari itu. Yaitu pada bagaimana kita bersyukur kepada Allah, juga bagaimana kita meningkatkan kinerja diri,” tegasnya di depan 65 wisudawan-wisudawati dan wali murid serta tamu undangan. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ia berpesan agar keberhasilan dalam menyelesaikan studi tidak lantas menimbulkan rasa bangga, karena amanat dan tanggung jawab yang dibawa tidaklah mudah. 

Acara yang bertempat di aula kampus itu juga dihadiri oleh Bupati Pati Haryanto, Kepala Kantor Kementerian Agama Pati Drs H. Ahmad Mudzakir MSi,  Koordinator Kopertais Wilayah X Jawa Tengah dan rektor IAIN Walisongo Semarang Prof. Dr. Muhibbin M. Ag.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan itu, Ketua STAIMAFA, H. Abdul Ghaffar Razien, M.Ed, mengatakan dirinya sangat bersyukur atas kerja keras seluruh dosen dan mahasiswa di kampus itu, hingga pada prosesi wisuda. 

Ia juga mengatakan bahwa wisuda kali ini menjadi tonggak sejarah mencetak mahasiswa-santri yang memiliki kontribusi dalam pengembangan masyarakat. 

“Prosesi wisuda ini merupakan tonggak sejarah (milestone) bagi lembaga STAIAMAFA, agar dalam perkembangan berikutnya dalam mengabdi kepada masyarakat dengan sistem perguruan tinggi riset berbasis nilai-nilai pesantren,” ungkapnya. Razien juga mengharapkan agar mahasiswa tidak berhenti berproses setelah wisuda, namun terus belajar dan mengabdi dengan karakter mahasiswa yang memperjuangkan nilai-nilai moral berbasis pesantren.  

Sementara itu, dalam pidato laporan akademik oleh Wakhrodli M.Si (Pembantu Ketua STAIMAFA), menjelaskan bahwa wisuda perdana ini terdiri dari 16 mahasiswa prodi PMI (Perkembangan Masyarakat Islam), 24 Mahasiswa prodi PBA (Pendidikan Bahasa Arab) dan 25 mahasiswa prodi PS (Perbankan Syari’ah). Dari 65 peserta, 23% meraih peringkat mumtaz atau istemewa, dengan IPK tertinggi 3,79.

Redaktur    : Hamzah Sahal

Kontributor : Munawir Aziz

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, Bahtsul Masail Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 04 Februari 2018

KH Bisri Musthofa: Singa Podium Pejuang Kemerdekaan

Saat ini, sosok Kiai yang setara dengan Kiai Bisri Musthofa telah jarang ditemui. Kiai Bisri Musthofa merupakan sosok yang lengkap: Kiai, Budayawan, Muballigh, Politisi, Orator, dan Muallif (penulis). Sungguh, sosok Kiai yang memiliki kecerdasan lengkap. Ayahanda Kiai Mustofa Bisri dan Kiai Cholil Bisri ini menjadi referensi bagi santri dan tokoh negara. Tak heran, Kiai Sahal Mahfudh menyebut Kiai Bisri sebagai sosok yang memukau pada zamannya.

KH Bisri Musthofa lahir di Rembang, pada tahun 1914. Beliau putra pasangan KH. Zainal Musthafa dan Siti Khadijah, terlahir dengan nama Mashadi yang kemudian diganti dengan sebutan Bisri. Pada tahun 1923, KH. Zainal Musthofa menunaikan ibadah haji bersama istinya, Nyai Siti Khadijah, dengan membawa anak-anak mereka yang masih kecil. Setelah menunaikan ibadah haji, di pelabuhan Jeddah, Kiai Zainal jatuh sakit hingga wafat. Kiai Zainal dimakamkan di Jeddah, sedangkan istri dan putra-putranya kembali ke Indonesia.

KH Bisri Musthofa: Singa Podium Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Bisri Musthofa: Singa Podium Pejuang Kemerdekaan (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Bisri Musthofa: Singa Podium Pejuang Kemerdekaan

Ketika sampai di Indonesia, Bisri bersama adik-adiknya yang masih belia, diasuh oleh kakak tirinya, KH. Zuhdi (ayah Prof. Drs. Masfu Zuhdi), serta dibantu oleh Mukhtar (suami Hj. Maskanah). Bisri kecil menempuh pendidikan di Sekolah Ongko Loro (Sekolah Rakyat atau Sekolah Dasar untuk Bumi Putera), hingga selesai. Bisri kecil mengaji di pesantren Kasingan, Rembang di bawah bimbingan Kiai Kholil. Bisri juga mengaji kepada Syaikh Mashum Lasem, yang menjadi ulama besar di kawasan pesisir utara Jawa. Kiai Mashum merupakan sahabat Kiai Hasyim Asyarie, juga terlibat dalam pendirian Nahdlatul Ulama. Bisri muda juga tabarrukan kepada Kiai Dimyati Tremas, Pacitan, Jawa Timur. Dengan demikian, sanad keilmuan Kiai Bisri jelas tersambung dengan ulama-ulama di Jawa, yang menjadi jaringan ulama Nusantara. Kiai Bisri suntuk mengaji kepada Kiai Kholil Haroen, Kiai Mashum Lasem dan beberapa ulama lain.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Santri Kelana

Sebagai santri, Bisri muda memang dikenal gigih dan santun. Kecerdasan dan penguasaaan atas kitab-kitab kuning, serta sikap moral tawadhu terhadap Kiai, menjadikan Bisri dekat dengan Kiainya, Kiai Kholil Haroen. Kemudian, Kiai Kholil menjodohkan santrinya ini dengan putrinya, Marfuah binti Kholil. Pernikahan pasangan santri ini, berlangsung pada 1935, dengan dikarunai beberapa putra-putri: Kholil Bisri, Musthofa Bisri, Adib Bisri, Audah, Najikah, Labib, Nihayah dan Atikah.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Setelah menikah dengan putri Kiai Kholil, Bisri muda berniat melanjutkan petualangan keilmuan (rihlah ilmiah). Semangat belajar sebagai santri kelana memuncak pada diri Bisri muda. Akhirnya, jejak langkahnya untuk mengaji mendapat kesempatan, dengan melanjutkan tabarrukan kepada Kiai Kamil, Karang Geneng Rembang. Pada 1936, Kiai Bisri menuju Makkah untuk menunaikan ibadah haji dan mengaji kepada ulama-ulama Hijaz. Di antaranya guru-gurunya: Syeikh Hamdan al-Maghribi, Syeikh Alwi al-Maliki, Sayyid Amin, Syeikh Hasan Massyat dan Sayyid Alwi. Selain itu, Kiai Bisri juga mengaji kepada ulama-ulam Hijaz asal Nusantara, yakni KH. Abdul Muhaimin (menantu KH. Hasyim Asyarie) dan KH. Bakir (Yogyakarta).

Setelah setahun belajar kepada ulama Hijaz, Kiai Bisri pulang ke tanah air pada 1937. Kiai Bisri kemudian membantu mertuanya, KH. Kholil Kasingan mengasuh pesantren di Rembang. Setelah itu, Kiai Bisri bersama keluarga memutuskan untuk menetap di Leteh, dengan mendidik santri dan mendirikan pesantren Raudlatut Thalibin.

Dalam mengasuh santri, Kiai Bisri sangat gigih dalam memberikan perhatian dan penanaman nilai-nilai kepada anak didik, dengan mengenalkan ibadah sedini mungkin, budi pekerti, tata krama dan tradisi-tradisi pesantren yang menjadi benteng perjuangan para kiai. Kiai Bisri menganggap bahwa hubungan antara kiai dan santri harus dekat, sebagaimana hubungan antara Malaikat Jibril dan Nabi Muhammad.

Kiai Bisri berpandangan bahwa syariat Islam dapat terlakasana di Indonesia, namun ? tanpa harus menggunakan formalisme agama dalam bentuk negara Islam (Darul Islam). Kiai Bisri mendukung konsep Pancasila sebagai wawasan Nusantara, serta pilar NKRI. Beliau mendorong komunikasi antara Ulama dan Zuama, yang bertujuan mencetak kader-kader handal di Nahdlatul Ulama. Pada konteks ini, Kiai Bisri berpandangan bahwa, perjuangan bisa dilakukan dengan dua cara: yakni jalur politik dan jalur dakwah/pendidikan (Zainal Huda, 2005: 108).

Perjuangan Keindonesiaan

Menurut Kiai Sahal Mahfudh (2005), Kiai Bisri Musthofa memang "sosok yang luar biasa pada zamannya (faridu ashrihi). Bukan hanya keilmuannya yang luas, namun juga daya tariknya, daya simpatik dan daya pikat yang memukau siapa saja yang berhadapa dengan beliau. Apalagi, ketika beliau sedang berpidato di depan khalayak ramai, dapat dipastikan para pendengar terpukau dan terpingkal-pingkal karena gaya bicara, aksen suara dan lelucon-leluconnnya yang segar.

Kiai Bisri Musthofa juga dikenal sebagai penyair, yang sering menggubah syair dari bahasa Arab ke Bahasa Jawa, yang mudah dipahami publik. Kiai Bisri, di antaranya menggubah syair Ngudi Susilo dan Tombo Ati. Syair Ngudi Susilo merupakan syair yang berisikan pesan-pesan moral yang ditujukan bagi anak-anak tentang cara menghormati dan berbakti kepada orang tua (birrul walidain). Sedangkan, syair Tombo Ati merupakan syair terjemahan dari kata-kata mutiara Sayyidina Ali bin Abi Thalib (Zinul Huda, 2005: 80). Tidak banyak yang mengetahui bahwa Tombo Ati dalam versi Jawa merupakan gubahan Kiai Bisri. Syair ini, saat ini banyak dilantunkan dalam grup shalawat dan musik, di antaranya sering dinyanyikan Kiai Kanjeng dan Cak Nun (Emha Ainun Nadjib).

Kiai Bisri dikenal sebagai orator yang kondang, beliau memberikan ceramah di berbagai daerah. Kemampuan komunikasi yang handal di atas panggung, menjadikan Kiai Bisri disebut sebagai Singa Podium. Dalam catatan Saifuddin Zuhri (1983: 27), Kiai Bisri mampu mengutarakan hal-hal yang sebenarnya sulit menjadi begitu gamblang, mudah dicerna baik orang-orang perkotaan maupun warga desa yang bermukim di kampung-kampung. Dalam orasi Kiai Bisri, hal-hal yang berat menjadi begitu ringan, sesuatu yang membosankan menjadi mengasyikkan, hal sepele menjadi amat penting. Selain itu, kritik Kiai Bisri sangat tajam, dengan karakter khas berupa gojlokan dan guyonan ala pesantren. Kritikan spontan dan segar, menjadi strategi komunikasi yang tepat, sehingga pihak yang dikritik tidak merasa tersinggung atau marah. Inilah kelebihan Kiai Bisri sebagai muballigh, orator dan kiai yang paham politik.

Pada masa perjuangan kemerdekaan, Kiai Bisri juga bergerak untuk melawan pasukan Kolonial. Bersama para kiai, Kiai Bisri terlibat langsung dalam pertempuran 10 November 1945 di Surabaya. Ketika itu, Laskar Santri menjadi bagian penting dalam perjuangan bangsa. Barisan santri yang tergabung dalam Laskar Hizbullah dan Sabilillah telah dibentuk dibeberapa daerah. Laskah Hizbullah dikomando oleh Kiai Zainul Arifin, sedangkan Laskar Sabilillah dipimpin Kiai Masjkur Malang. Pada 22 Oktober 1945, Kiai Hasyim Asyarie menyerukan Resolusi Jihad, sebagai panggilan perjuangan para santri, pemuda dan warga untuk berperang melawan penjajah. Perjuangan ini menjadi bagian dari keimanan, demi tegaknya kemaslahatan bangsa Indonesia.

Resolusi Jihad yang digelorakan Kiai Hasyim Asyarie mengandung tiga unsur penting: Pertama, tiap muslim—tua, muda, dan miskin sekalipun—wajib memerangi orang kafir yang merintangi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kedua, pejuang yang mati dalam perang kemerdekan layak disebut Syuhada. Ketiga, warga Indonesia yang memihak penjajah dianggap sebagai pemecah belah persatuan nasional, maka harus dihukum mati. Di samping itu, haram hukumnya mundur ketika berhadapan dengan penjajah dalam radius 94 km (jarak diperbolehkannya qashar sholat). Di luar radius itu, dianggap fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Tentu saja, hal ini menjadi pelecut semangat ? para santri untuk berjuang menegakkan kemerdekaan Indonesia.

Untuk mendukung perjuangan para santri, Kiai Hasyim Asyarie mengundang beberapa kiai untuk bergabung. Laskar santri dalam barisan Hizbullah dan Sabilillah perlu didukung oleh para kiai. Pada waktu itu, Kiai Bisri Musthofa turun langsung ke medan pertempuran, bersama para kiai lain, di antaranya Kiai Abbas Buntet ? dan Kiai Amin Babakan Cirebon. Bahkan, rombongan Kiai Abbas Buntet singgah terlebih dulu di Rembang, untuk kemudian bersama Kiai Bisri melanjutkan perjalanan ke Surabaya.

Dalam bidang politik, Kiai Bisri pernah menjadi anggota konstituante. Perjuangannya dapat dilacak ketika beliau berkecimpung di parlemen maupun di luar struktur negara. Kiai Bisri juga dikenal sebagai sosok yang mendukung ide Soekarno, yakni konsep Nasakom (Nasionalis, Sosialis, Komunis). Kiai Bisri memberi catatan, bahwa ketika pihak yang berbeda ideologi, harus bersaing secara sehat dalam koridor keindonesiaan, dengan tetap mempertahankan NKRI. Akan tetapi, Kiai Bisri juga menjadi pengkritik paling tajam ketika Nasakom menjadi pahara politik. Diplomasi politik Kiai Bisri tidak hanya di ranah lokal, namun juga berpengaruh pada kebijakan politik nasional.

Jurus diplomasi politik Kiai Bisri layak dicontoh. Beliau tidak memisahkan politik dan agama, sehingga dalam menghadapi lawan-lawan politiknya, beliau tetap menggunakan etika dan fiqh sebagai referensi bersikap. Karena itu, tidak pernah dijumpai konflik antara Kiai Bisri dengan lawan-lawan politiknya. Aktifis NU pada zamannya, sangat menghormati Kiai Bisri, semisal KH. Idham Cholid, KH. Akhmad Syaichu, Subhan ZE dan beberapa kiai lain.

Kiai Bisri termasuk penulis (muallif) yang produktif. Karya-karyanya melimpah, dengan warna yang beragam. Sebagian besar, karyanya ditulis untuk memberi pemahaman kepada masyarakat awam. Karya-karya Kiai Bisri Musthafa meliputi berbagai macam ilmu tauhid, fikih, Sejarah Kebudayaan Islam, ilmu-ilmu kebahasaan Arab (nahwu, sharaf dan ilmu alat lainnya), hadits, akhlak, dan lain sebagainya. Salah satu karya fenomenal adalah Tafsir al-Ibriz, yang ditulis dalam Jawa Pegon. Karya beliau lebih dari 30 judul, di antaranya: Terjemah Bulughul Maram, Terjemah Lathaiful Isyarah, al-ikhsar fi ilm at-tafsir, Munyah adh-Dhaman (Nuzul al-Quran), Terjemah al-Faraid al-Bahiyah, Terjemah as-Sulam al-Munauraq, (Indonesia oleh KH. Khalil Bisri), Tanwir ad-Dunyam, Sanif as-Shalah, Terjemah Aqidah al-Awam, Terjemah Durar al-Bayan, Ausath al-Masalik (al-Khulashah), Syarh al-Ajrumiyah, Syarh ash-Shaaf al-Imrithi, Rafiq al-Hujjaj, Manasik Haji, at-Taliqah al-Mufidah Li al-Qasidah al-Munfarijah, Islam dan Shalat, Washaya al-Aba li al-Abna, Al-Mujahadah wa ar-Riyadhah, Tarikh al-Auliya, Al-Haqibah (kumpulan doa) jilid I-II, Syiir Rajabiyah, Ahl as-Sunnah wa al-Jamaah, Syiir Budi Pekerti, Al-Asma wa al-Aurad, Syiir Pemilu, Zad az-Zuama wa Dzakirat al-Khutaba, Pedoman Pidato, Primbon, Mudzakirah Juyub Al-Hujjaj dan lain sebagainya.

Kiai Bisri Musthofa wafat pada usia 63 tahun, pada 16 Februari 1977. Ketika itu, warga Indonesia sedang menyongsong pemilu 1977 pada masa Orde Baru. Santri Nusantara membutuhkan sosok-sosok dengan kecerdasan lengkap dalam diri Kiai Bisri Musthofa. Alfaatihah.

Munawir Aziz, Wakil Sekretaris LTN PBNU, Editor in-Chief islami.co dan Dewan Redaksi Penerbit Mizan.

Sumber:

Akhmad Zainul Huda, Mutiara dari Pesantren: Perjalanan Khidmah KH. Bisri Musthofa. Yogyakarta: LKIS. 2005.

Saifuddin Zuhri. Berangkat dari Pesantren. Jakarta, Gunung Agung, 1987.

Zainul Milal Bizawie, Laskar Ulama-Santri & Resolusi Jihad : Garda Depan Menegakkan Indonesia, 1945-1949, Jakarta: Pustaka Compass, 2014.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, Pemurnian Aqidah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 01 Februari 2018

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pringsewu, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kamis Pagi (16/3) sekitar pukul 06.15 WIB Ulama kharismatik Nahdlatul Ulama (NU) KH Ahmad Hasyim Muzadi berpulang ke Rahmatullah. Kiai Hasyim Muzadi, Ketua PBNU periode 1999-2009 dipanggil Allah SWT setelah beberapa kali dirawat dirumah sakit pada usia 72 tahun.

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua MUI Lampung Kenang Kejenakaan KH Hasyim Muzadi

Pendiri International Conference of Islamic Scholars (ICIS) ini merupakan Ulama yang kiprahnya sudah mendunia. Keuletan dan komitmennya dalam menyebarkan Islam rahmatan lil alamin sudah diakui oleh dunia.

Kesan inilah yang dirasakan oleh Ketua MUI Provinsi Lampung KH Khairuddin Tahmid ? pernah mendampingi lawatan Kiai Hasyim ke luar negeri dalam rangka syiar Islam.

"Saya tidak hanya kenal, bahkan memiliki hubungan dekat. Saya pernah diberi kesempatan untuk mendampingi beliau ke Negeri China selama 8 hari pada 4-12 Juni 2007 untuk melakukan muhibbah, dan menyebarkan paham Islam rahmatan lil alamin pada komunitas muslim di negri tirai bambu itu," kata Kiai Khairuddin yang saat itu menjadi Ketua PWNU Provinsi Lampung periode 2002-2007.

Menurutnya, Kiyai Hasyim Muzadi adalah sosok yang populer dan populis. Ia adalah seorang agamawan dan sekaligus negarawan. "Wawasan beliau sangat luas, tidak hanya dalam bidang agama, tetapi juga sangat mendalam pengatahuannya tentang politik, hukum, budaya dan sejarah," tegasnya, Kamis siang (16/3).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selain sebagai seorang ulama kharismatik tambahnya, Kiyai Hasyim juga merupakan seorang kiai yang sangat jenaka. "Saya ingat betul kumpulan kejenakaan beliau dirangkum dalam sebuah buku," jelas Kiai Khairuddin yang juga memiliki selera humor yang tinggi ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Pemikiran Kiai Hasyim menurutnya sangat orisinil dan visioner jauh kedepan. "Sering beliau mengatakan, orang zaman dulu itu, kalau ngomong sesuatu yang berat, yang rumit, bisa dibicarakan dengan cara yang mudah. Sementara orang zaman sekarang, ngomong hal mudah, tapi dibicarakan dengan cara yang sulit dan ruwet. Menurut mereka semakin rumit ngomongnya semakin ilmiah," kata Kiai Khairuddin diiringi senyum khasnya.

Kiai Khairuddin berharap ummat Islam khususnya warga NU mampu meneladani kiprah dan kepribadiannya. "Kami warga NU bangga punya tokoh panutan seperti beliau. Kami sangat terkesan dengan kesantunan dan kearifan beliau. Kami butuh tokoh seperti beliau. Selamat jalan Pak Kiai Hasyim, semoga Allah SWT memberi tempat yang mulia, amin," pungkasnya. (Muhammad Faizin/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Bahtsul Masail, Habib, Lomba Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 30 Januari 2018

‘Rausyanfikr’ dan Solusi Persatuan Umat

Oleh Ja’far Tamam

Dewasa ini Indonesia gerah melihat beragam pertikaian yang terjadi akibat  perbedaan pemahaman-pemahaman keagamaan yang kurang mendapatkan ruang untuk mendialogkan perkara permasalahan. Diskursus agama selalu menjadi hal yang manis untuk diperbincangkan dalam segala konteks kehidupan. Membahas agama adalah membahas sentimen yang mudah untuk dipanaskan dan dijadikan kuda tunggangan berbagai kepentingan. Baik itu politik, bisnis, diplomasi antar negara dan lain-lain.Selagi dibungkus dengan agama,sebuah perkara akan naik pamor.

‘Rausyanfikr’ dan Solusi Persatuan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)
‘Rausyanfikr’ dan Solusi Persatuan Umat (Sumber Gambar : Nu Online)

‘Rausyanfikr’ dan Solusi Persatuan Umat

Prof Nasaruddin Umar, dalam koran harian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal (27 Oktober 2017) mengatakan bahwa bahasa agama mempunyai kekuatan luar biasa. Bahasa agama bisa digunakan untuk memotivasi orang untuk berpartisipasi terhadap pembangunan atau sebaliknya bisa juga digunakan untuk menggunting partisipasi masyarakat di dalam sebuah program. 

Bahasa agama juga bisa digunakan untuk memicu konflik yang pada saatnya melahirkan jatuh korban. Dengan demikian, bahasa agama perlu dikelola dengan baik. Demikian Nasaruddin Umar. 

Islam sebagai agama yang mengusung kerahmatan amat membenci segala praktik yang menimbulkan keresahan di kalangan masyrakat. Islam bahkan menjadi pemersatu dua kubu yang saling bermusuhan sejak awal kedatangannya. Sebut saja suku Aus dan Khazraj, keduanya merupakan dua suku Arab di Madinah yang saling bermusuhan sejak lama. Namun, tak lama sejak kedatangan Muhammad, melalui utusan bernama Mus’ab bin Umair, masyrakat Madinah berduyun-duyun memasuki Islam dan dengan sendirinya mereka terjalin dalam satu ukhuwah yang kokoh. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bukan hanya jalinan ukhuwah Islamiyah yang membuat mereka mengakhiri dendam abadi, jalinan ukhuwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia)lah yang pada akhirnya juga membuat mereka tersadar bahwa permusuhan bukanlah jalan terbaik dalam melangsungkan proses bermasyarakat dan merancang sebuah peradaban mulia. 

Kaum intelektual, menurut Ali Syariati, adalahpelanjut perjuangan Nabi, baik dalam merancang persatuan dan kesatuan masayarakat, atau lainnya. Dalam bahasa Persia Ali Syariati mengistilahkannya dengan “rausyanfikr” (pemikir yang tercerahkan).

Ali Syariati melanjutkan, terjemahan yang paling tepat untuk istilah rausyanfikr adalah kaum intelektual dalam arti yang sebenarnya. Kaum intelektual bukan sarjana, yang hanya menunjukkan kelompok orang yang sudah melewati pendidikan tinggi dan memperoleh gelar sarjana. Mereka juga bukan sekadar ilmuwan, yang mendalami dan mengembangkan ilmu dengan penalaran dan penelitian. 

Mereka adalah kelompok orang yang merasa terpanggil untuk memperbaiki masyarakatnya, menangkap aspirasi mereka, merumuskannya dalam bahasa yang dapat dipahami setiap orang, menawarkan strategi dan alternatif pemecahan masalah. (Ali Syariati, Ideologi Kaum Intelektual, 1993:14-15)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di antara kaum rausyanfikr yang diharapkan adalah para alumni pesantren. Pesantren, sebagai sebuah institusi yang memasyarakatkan pemahaman moderat Islam dalam proses pembelajarannya, saat mereka kembali ke daerah masing-masing, merupakan duta rausyanfikr di setiap masyarakat yang mereka tinggali. 

Idris Jauhari dalam sebuah bukunya Alumni Pesantren Sebagai Perekat Umat mengatakan, sebagai sebuah lembaga pendidikan, pesantren dituntut untuk mendidik para santri agar mereka memiliki kesadaran, pengetahuan, dan keterampilan menyikapi perbedaan. 

Alumni pesantren mesti diarahkan untuk menjadi agen-agen perekat sosial (agent of social cohesion), agen-agen yang mampu dengan jernih dan tepat menempatkan diri di tengah perbedaan sesuai fungsi dan posisi masing-masing, bukan orang yang gampang terjebak dalam politisasi perbedaan dan konflik kepentingan secara tidak strategis. (Idris Jauhari, 2005:2)

Sebagai langkah lanjut mewujudkan cita-cita persatuan ini adalah dengan meyakini bahwa perbedaan merupakan fitrah yang tak bisa dihindari. Perbedaan adalah khasanah kehidupan yang perlu dirayakan. Dan, hal ini tak bisa diwujudkan kecuali dengan perasaan saling menghargai dan membuka ruang dialog antara kedua belah pihak yang berbeda.

Al-Qur’an menegaskan,

“Wahai manusia! Sungguh, kami telah menciptakan kami dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan berusku-suku agar kamu saling mengenal, Sesunguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Mahamengetahui, Mahateliti.” (QS. Al-Hujurat {49}: 13)

Idris Jauhari mengomentari ayat di atas bahwa umat Islam dituntut tidak saja untuk menyadari adanya perbedaan tersebut, tetapi juga untuk melakukan upaya-upaya perkenalan dan pengenalan terhadap keragaman itu sendiri, serta berbagai hal yang melatarbelakangi dan memotivasinya. 

Penulis adalah alumnus Institut PTIQ Jakarta dan pegiat kajian hadits di Darussunnah International Institute For Hadith Science, Jakarta

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hikmah, Habib, PonPes Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Jakarta,Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Fenomena keagamaan mutakhir, menunjukkan gejala semakin mengerasnya kelompok Muslim radikal. Kelompok-kelompok Islam yang melakukan aksi politik dengan simbol agama, mengabaikan tradisi-tradisi yang selama ini menjadi strategi dakwah.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Said Aqil Siroj mengungkapkan betapa pergerakan ormas-ormas Islam yang menyingkirkan tradisi, melupakan sejarah panjang dakwah Islam di negeri ini.

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PBNU: NU Merawat Agama dengan Tradisi

Hal ini, disampaikan Kiai Said, menjelang Peringatan Harlah Nahdlatul Ulama, di kantor PBNU, Jakarta, pada Sabtu (28/01/2017). Peringatan Harlah NU akan diselenggarakan pada 30-31 Januari 2017.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Mereka yang berdakwah dengan kekerasan dan memusuhi seni budaya, lupa dengan sejarah hadirnya Islam di bumi Nusantara. Dakwah Wali Songo dengan cara damai, menggunakan rasa dan seni. Medianya berupa wayang dan suluk-suluk yang menguatkan rasa," ungkap Kiai Said.

Menurut Kiai Said, memahami cara dakwah Wali Songo, harus bertahap hingga komprehensif. "Dakwah para wali itu merangkul, bukan memukul. Misalnya, mereka yang suka slametan diajak slametan dulu, yang kemudian diisi dengan ritual Islam, membaca ayat-ayat Al-Quran dan shalawat. Wayang juga sama, ada pesan tentang syahadat dan ajaran Islam," jelas Kiai Said.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Said berpesan, agar pendakwah Islam haruslah belajar dari Wali Songo. "Strategi Wali Songo dan kiai-kiai pesantren berhasil mengislamkan orang kafir. Ini sudah terbukti. Bukan malah mengkafir-kafirkan orang," terang Kiai Said.

Dalam uraiannya, Kiai Said menjelaskan tentang pentingnya fiqih, akhlak dan tasawuf sebagai rangkaian yang tidak bisa putus.

Menurut Kiai Said, dengan memahami hukum Islam, teladan sikap Rasulullah dan puncak spiritualitas, maka Islam akan menjadi agama yang sejuk dan ramah, bukan agama yang mengerikan. (Red: Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Habib, Cerita Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

Berperan Strategis, Mendes Ajak NU Aktif Bangun Desa

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah TegalMenteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Eko Putro Sandjojo mengajak kader Nahdlatul Ulama (NU) untuk berperan aktif bangun desa. Menurut Eko, kader NU telah tersebar di berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan, sehingga memiliki peran yang sangat strategis.

"Setelah era reformasi dengan banyaknya kader NU di berbagai partai, birokrasi pemerintahan, dan instansi lain, saya yakin kader-kader NU akan lebih berperan memajukan bangsa ini," ujarnya pada peletakan Batu Pertama Universitas Nahdlatul Ulama di Jakarta, Rabu (10/8).

Menteri Eko mengatakan, 70 tahun Indonesia merdeka, NU telah menjadi garda terdepan kemerdekaan Indonesia. NU juga telah membuktikan meskipun dalam masa kritis, maraknya terorisme, dan radikalisme, NU tetap menjadi garda terdepan.

"Lebih dari separuh masyarakat kita hidup di desa. Peran lembaga-lembaga yang berafiliasi dengan NU ini juga sangat penting sekali. Peran NU demi mensejahaterakan desa-desa kita dan mensejahterakan Indonesia," ujarnya.

Berperan Strategis, Mendes Ajak NU Aktif Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)
Berperan Strategis, Mendes Ajak NU Aktif Bangun Desa (Sumber Gambar : Nu Online)

Berperan Strategis, Mendes Ajak NU Aktif Bangun Desa

Ia melanjutkan, pembangunan desa di Indonesia sebanyak 74.754 desa, tidak bisa diatasi jika hanya mengandalkan tenaga pemerintah. Dibutuhkan komitmen semua komponen bangsa dan NU selaku Ormas Islam terbesar di Indonesia untuk turut berpartisipasi dan mengawasi.

"Desa-desa kita masih ada yang masih tertinggal dan maju. yang tertinggal kita fasilitasi dulu infrastruktur dasarnya, untuk yang sudah maju infrastrukturnya kita kembangkan sektor ekonominya," ujarnya.(Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Humor Islam, Habib Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock