Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kajian. Tampilkan semua postingan

Selasa, 06 Maret 2018

Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612

Tasikmalaya, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dan Corp Brigade Pelajar (CBP) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kota Tasikmalaya melakukan Jumat Bersih (Jumsih) yang diselenggarakan Komando Distrik Militer (Kodim) 0612 Kota Tasikmalaya. Kegiatan tersebut berlangsung pada Jumat (25/11) dari pukul 08.00 pagi sampai 09.45.

Jumsih merupakan tindak lanjut dari Surat Perintah dan Derektif Danrem untuk melaksanakan kegiatan pembinaan peta jarak jaring teritorial tahun 2016. Kegiatan ini dilaksanakan dari berbagai unsur mulai anggota TNI, Organisasi Kepelajaran (OKP), dan masyarakat sekitar kampung Cikalang.

Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612 (Sumber Gambar : Nu Online)
Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612 (Sumber Gambar : Nu Online)

Banser dan CBP IPNU Tasik Jumsih Bersama Kodim 0612

Tiap peserta dari berbagai OKP mengirimkan 4 orang anggotanya untuk Jumsih di sekitar Jalan Laswi Kelurahan Cikalang Kecamatan Tawang. Peserta yang hadir sekitar 100 orang lebih dan berjajar membersihkan pinggir jalan sepanjang 1 km.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurut Wakil Komandan CBP IPNU Kota Tasikmalaya M. Baharudin Fauzi mengatkaan mendukung penuh Jumsih karena merupakan bagian dari untuk tetap menjaga kebersihan wilayah.

“Kita selaku pelajar NU harus cinta akan kebersihan dan harus mendorong semua lapisan masyarakat untuk cinta kebersihan karena kebersihan itu sebagian dari iman,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Komandan Banser Kota Tasikmalaya Haedar Burhan juga mendukung kerja sama pihak aparatur pertahanan dengan kepemudaan untuk senantiasa melaksanakan dan menjaga kebersihan.

Ia juga berharap agar jumsih ini dilakukan setiap seminggu sekali Supaya kota Tasik selalu bersih dan terhindar dari wabah penyakit. (Agum Gumilar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Islam, AlaSantri, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 26 Februari 2018

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI

Sidoarjo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal ?

Puluhan tim Turnamen Futsal tingkat MI/SD se-Kabupaten Sidoarjo bertanding memperebutkan juara satu, dua dan tiga pada ajang futsal yang diadakan oleh MTs Nurul Huda, Kalanganyar, Sedati, Sidoarjo, di lapangan futsal sekolah setempat, Jumat (3/3).

Menurut Panitia Turnamen Futsal Fathur Rahman, turnamen ini sebagai ajang silaturahim serta mencari bibit unggul dari anak MI atau SD yang mempunyai kelebihan, baik bidang akademik maupun nonakademik yang nantinya akan dikirim ke Koni untuk mengikuti turnamen tingkat nasional.

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI (Sumber Gambar : Nu Online)
Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI (Sumber Gambar : Nu Online)

Kenalkan Sekolah, MTs Nurul Huda Gelar Turnamen Futsal Tingkat MI

Turnamen Futsal itu rutin diadakan setiap dua tahun sekali untuk mendorong para pelajar khusunya di Kecamatan Sedati supaya masuk ke MTs Nurul Huda. Turnamen itu sendiri sudah ke empat kalinya diadakan.

"Tahun ini ada sekitar 32 tim futsal yang bertanding. Turnamen ini juga sebagai sarana untuk mengenalkan ke anak-anak tentang keberadaan sekolah MTs Nurul Huda," kata Fathur Rahman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Wakil Bupati Sidoarjo H. Nur Ahmad Syaifuddin mengapresisasi dengan adanya kegiatan tersebut. Pasalnya, turnamen ini bisa memotivasi anak-anak MI dan SD untuk senantiasa aktif daripada bermain dan membuang waktu secara sia-sia.

"Saya berpesan kepada seluruh peserta agar terus berjuang hingga berprestasi dan selalu menjunjung tinggi sportifitas. Sebab, anak yang senantiasa jujur, sportif akan menjadikan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang hebat," kata pria yang akrab disapa Cak Nur itu.

Turnamen futsal tingkat MI/SD se-Kabupaten Sidoarjo tahun 2017 ini dibuka Wakil Bupati Sidoarjo ditandai dengan tendangan bola ke gawang, dengan didampingi Kepala Kemenag Sidoarjo H Achmad Rofii, Kepala Dinas Pendidikan Sidoarjo Mustain Baladan, Ketua LP Maarif Sidoarjo H Misbahudin. (Moh Kholidun/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta, Kajian, Sholawat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 23 Februari 2018

Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda?

Assalamualaikum Wr. Wb. Kami suami-istri yang baru menikah. Dan selama seminggu saya keluar kota, begitu pulang karena kami tidak tahan kami melakukan hubungan badan pada siang hari di bulan Ramadlan. Yang ingin saya tanyakan apakah kami berdua wajib membayar kaffarat ataukah hanya pihak suami saja yang wajib, mengingat hubungan itu kami lakukan berdua dan sama-sama menikmatinya. Kami mohon penjelasannya, dan atas penjelasannya kami ucapkan terimakasih. (Ali-Sorong)

 

Jawaban

Penanya yang budiman, semoga selalu dirahmati Allah swt, dan bisa menjalankan puasa dengan lancar sampai selesai. Bahwa hubungan badan yang dilarang dan membatalkan puasa adalah hubungan yang dilakukan siang hari, dan pelakunya berhak mendapatkan kaffarat. Larangan ini tidak berlaku untuk hubungan badan yang dilakukan pada malam hari.

Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda? (Sumber Gambar : Nu Online)
Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda? (Sumber Gambar : Nu Online)

Suami-Istri Melakukan Hubungan Siang Hari, Siapa yang Didenda?

Yang menjadi persoalan apakah pihak perempuan yang melakukan hubungan di siang hari itu juga berhak mendapatkan kaffarat atau hanya pihak lelaki saja?

Ada dua pendapat ulama dalam hal ini. Menurut madzhab Hanafi dan Maliki jika seorang istri melakukan hubungan badan dengan suaminya maka ia wajib membayar kaffarat. Sedangkan menurut Imam Syafi’i dan Imam Dawud azh-Zhahiri tidak ada kewajiban membayar kaffarat atasnya. Demikian sebagaimana dikemukakan Ibnu Rusyd:

? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ?..

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Adapun masalah ketiga: yaitu perselisihan mereka (para ulama) tentang kewajiaban membayar kaffarat bagi seorang perempuan yang melakukan jima` dengan suaminya maka Abu Hanifah beserta para pengikutnya dan Imam Malik beserta para pengikutnya mewajibkan ia membayar kaffarat. Sedang menurut Imam Syafii dan Imam Dawud azd-Zhahiri, tidak ada kewajiban kaffarat baginya” (Ibnu Rusyd, Bidayah al-Mujtahid wa Nihayah al-Muqtashid, Mesir-Musthafa al-Babi al-Halabi, 1395 H/1975 M, h. 204)

Di antara alasan yang mewajibkan kaffarat, misalnya menurut madzhab Hanafi adalah bahwa sebab yang mewajibkan membayar kaffarat adalah pelanggaran dengan merusak puasa (jinayah al-ifsad). Dan keduanya dianggap berkolaborasi (musyarakah) dan bersama-sama dalam melakukan pelanggara tersebut. Karenanya, baik lelaki maupun pihak perempuan memiliki kewajiban membayat kaffarat.  

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sedangkan di antara alasan yang dikemukakan oleh pandangan kedua yang tidak mewajibkan kaffarat bagi pihak perempuan adalah, karena Rasulullah saw dalam haditsnya hanya memerintahkan kepada pihak laki-laki yang melakukan jima` dengan istrinya pada siang Ramadlan untuk membebaskan budak, jika tidak mampu puasa selama dua bulan berturut-turut, dan jika masih tidak mampu juga maka memberikan makanan kepada enam puluh orang miskin. Yang diwajibkan membayar kaffarat hanya suami, padahal jelas dalam kasus ini pihak perempuan juga terlibat di dalamnya.

Saran kami, ikuti pendapat yang pertama sepanjang bisa dilakukan. Karena jika kita mengikuti pendapat pertama, maka kita juga mengakomodir pendapat kedua. Di samping itu pendapat pertama adalah pendapat yang diikuti mayoritas ulama.

Demikian penjelasan yang dapat kami sampaikan, dan semoga bisa bermanfaat. Dan kami ingatkan jangan sekali-kali mengulangi hal tersebut karena itu jelas melanggar aturan syara’. Puasa adalah sarana untuk menahan diri dari hal-hal yang sebenarnya dihalalkan, dalam hal ini adalah hubungan suami istri seperti dibahas di atas. Jika merasa tidak kuat menahan, hindari intensitas pertemuan di siang hari. (Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pertandingan, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Bupati Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta. Dalam seminar tersebut, ia diplot sebagai seorang Budayawan yang lekat dengan sarung.

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Dalam kesempatan seminar bersarung itu, Dedi Mulyadi yang juga mengenakan sarung bersama narasumber lain, KH Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo mengungkapkan kesannya setiap kali berada di tengah Nahadlatul Ulama (NU).?

Baginya, NU memberikan pelajaran berharga tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” ungkap Kang Dedi, sapaannya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan pemaparannya terkait sarung, Bupati yang dinilai berhasil dalam mengangkat budaya Sunda itu menjelaskan bahwa sarung juga telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda dalam sejarah kosmologinya.?

“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” jelas pria yang kerap memakai ‘udeng-udeng’ khas Sunda di kepalanya ini.

Dedi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah yang mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad

Di era dunia digital seperti saat ini, informasi menjadi sesuatu yang tidak terbatas. Semua orang bisa mengaksesnya. Tidak dibatasi pada sekat-sekat wilayah dan geografi. Seseorang bisa mengetahui suatu peristiwa dan informasi di belahan dunia lain hanya dalam waktu beberapa detik dari kejadian peristiwa tersebut, bahkan real time pada saat itu juga. Semuanya tersambung ke dalam dunia maya yang begitu luas dan cepat. 

Perang informasi dengan skala yang lebih luas pun menjadi sesuatu yang tidak terelakkan. Masing-masing membuat dan menyebarkan informasi yang menurut mereka benar dan menganggap yang lain salah. Berbagai macam strategi pun dipakai untuk menarik perhatian publik. Membuat narasi playing victim, dan memenuhi konten-konten versi kelompoknya di media sosial adalah sederet strategi yang umumnya dipakai dalam perang informasi. 

Sehingga perang informasi ini menyebabkan masyarakat dunia maya atau netizen terbelah menjadi tiga kelompok. Kelompok pertama adalah yang bingung karena ada satu peristiwa namun ada dua informasi yang berbeda mengenai peristiwa tersebut. Kelompok kedua adalah yang hanya mempercayai informasi dari kelompoknya sendiri dan menolak segala informasi dari luar tanpa melakukan crosscheck informasi terlebih dahulu. 

Sebetulnya pada zaman Nabi Muhammad juga ada yang namanya perang informasi. Berbeda dengan saat ini yang menggunakan media sosial sebagai alat, pada zaman Nabi Muhammad perang informasi menggunakan syair dan disebarkan dari mulut ke mulut. Nabi Muhammad, sahabat, dan umat Islam saat itu pun terlibat dalam perang informasi. 

Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)
Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad (Sumber Gambar : Nu Online)

Perang Informasi pada Zaman Nabi Muhammad

Lalu bagaimana strategi dan langkah-langkah Nabi Muhammad dalam menghadapi perang informasi? Sebagaimana dikutip dari buku Perang Muhammad; Kisah Perjuangan dan Pertempuran Rasulullah, ada beberapa hal yang dilakukan Nabi Muhammad dalam menghadapi perang informasi.

Pertama, mendiamkan. Setelah kaum musyrik kalah dalam konfrontasi militer, mereka menyerang Nabi Muhammad dengan berbagai cara lainnya, termasuk dalam bentuk cacian dan makian. Adalah Ummu Jamil, istri Abu Lahab, yang pertama kali melakukan itu. Ia terus-terusan memaki Nabi Muhammad dan agama yang dibawanya. 

Pada saat dakwah Islam semakin berkembang, para penyerang dari kalangan penyair semakin banyak. Diantaranya Abdullah bin al-Zab’ari (seorang penyair Quraisy paling bersinar) Abu Suyan bin al-Harist (sepupu dan saudara susuan Nabi Muhammad), Hindun binti Uthbah (istri Abu Sufyan), dan lainnya.     

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bahkan, Kaum Quraisy mengubah nama Muhammad (artinya yang terpuji) menjadi Mudzammah (yang tercela). Mereka juga menggubah syair-syair yang menyerang Nabi Muhammad dan agama Islam. Pada tahap tertentu, Nabi Muhammad membiarkan dan mendiamkannya.  

Kedua, menyerang yang menyerang Nabi Muhammad. Gelombang perang informasi dan cacian kepada Nabi Muhammad dan umat Islam semakin banyak dan gencar. Melihat kondisi yang seperti ini, Nabi Muhammad meminta pada sahabatnya untuk mempersiapkan diri menyerang balik mereka yang menyerang Nabi Muhammad dan umat Islam. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ketiga, memilih orang yang tepat. Nabi Muhammad sangat paham betul bagaimana cara berperang, termasuk dalam perang informasi. Nabi Muhammad menunjuk sahabat terbaiknya untuk menjadi ujung tombak dalam perang informasi. Sahabat Hassan bin Tsabit menawarkan diri untuk menjadi pemimpin pasukan perang informasi. Setelah  menerima ujian dan tantangan langsung dari Nabi Muhammad dan dinyatakan qualified, maka Hassan bin Tsabit diangkat menjadi ‘komandan’ perang informasi. 

Ia menyerang siapa saja yang menyerang umat Islam. Dengan gubahan syairnya yang tajam, Hassan bin Tsabit berhasil mempermalukan dan membuat musuh-musuh Islam tidak berkutik. Maka kemudian dikenal lah Hassan bin Tsabit sebagai penyair dan penyeru kebenaran. Ia disegani oleh semua musuh Islam. Kalau dulu perang informasi pada zaman Nabi Muhammad mengandalkan keahlian dan kecerdasan seorang penyair untuk membungkam maka perang informasi saat ini seharusnya menggunakan data-data yang valid dan kata-kata yang sopan, bukan dengan kebohongan.

Keempat, memaafkan mereka yang menyerang. Seiring dengan tumbuhnya agama Islam, penyair yang membela Islam semakin banyak sementara penyair yang memusuhi Islam terus berkurang. Mereka mulai bertobat dan menyatakan diri bergabung dengan umat Islam. Melihat perkembangan ini, Nabi Muhammad memaafkan mereka semua yang dulu menyerangnya. 

Salah satu musuh yang dulu menyerang Islam, namun kemudian membela Islam adalah Nabighah al-Ja’di. Ia kemudian menggubah sebuah puisi sebagaimana berikut ini:

    Kudatangi Rasulullah

    Sang pembawa petunjuk Allah

    Sang pembaca Al-Qur’an

    Laksana bintang berkilauan

 A Muchlishon Rochmat,

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 18 Januari 2018

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Probolinggo, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Sejak tahun 1967 silam, sistem pengajaran keagamaan di Desa Krejengan Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo sudah mulai berkembang. Hal ini dikarenakan saat itu ada pembelajaran agama lewat sebuah musholla kecil yang berkembang cukup pesat. Dari waktu ke waktu musholla tersebut selalu menjadi pusat pembelajaran agama masyarakat sehingga berubah menjadi sebuah pondok pesantren yang kelak dikenal dengan Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Berawal dari Mushala Kecil, Istiqomah Sistem Salafiyah

Keberadaan Pondok Pesantren Rabithatul Islam ini memang tidak bisa dilepaskan dari dua kiai yang masih besanan. Yakni, KH Abdur Rouf dan KH Thoha. Dimana sebelum pesantren berdiri, kedua kiai ini selalu mengajarkan ilmunya di musholla kecil yang banyak didatangi oleh santri. Uniknya, kedua kiai ini mempunyai sebuah kelebihan yang berbeda sehingga mampu melengkapi. KH Abdur Rouf yang ahli tabib mampu diimbangi oleh KH Thoha yang ahli dalam ilmu Al Qur’an dan agama lainnya.

Perjuangan yang dilakukan oleh KH Thoha tampaknya diteruskan oleh sang menantu KH Ahmad Bisyri. Upaya itu diwujudkan dengan mendirikan sebuah pesantren yang awalnya menggunakan sebuah rumah sebagai tempat dalam menampung santrinya. Hingga akhirnya pada tahun 1976, dia mendirikan MI Raudlatul Muta’allimin dan MA tahun 1983.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Untuk menampung para santri, Abah (Kiai Bisyri) membangun sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu yang biasa disebut cangkruk. Biasanya santri-santri menjadikan tempat itu untuk beristirahat,” ujar Kiai Muhammad Hafid, Pengasuh kedua Ponpes Rabithatul Islam yang merupakan putra Kiai Bisyri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kiai Hafid menerangkan bahwasanya Abahnya dulu awalnya mondok dan nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah yang berada di Desa Sentong Kecamatan Krejengan Kabupaten Probolinggo. Untuk menambah ilmunya, dia kemudian mondok di Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong. Dari situlah dia kemudian mendapatkan penugasan menyebarkan agama Islam dari Pengasuh Pondok Pesantren Zainul Hasan Genggong KH Hasan Saifourridzal di kawasan Tengger.

“Kebetulan waktu itu Abah langsung mendapatkan penugasan di kawasan Tengger yang mayoritas masyarakat sangat memegang teguh keyakinan terhadap agamanya. Disamping itu, Abah juga mendapatkan amanat agar bisa mendirikan pondok pesantren,” jelasnya.

Sejak diasuh oleh Kiai Hafid, Pondok Pesantren Rabithatul Islam mengalami perkembangan yang cukup pesat. Di mana santrinya mampu mencapai 180 orang. Padahal waktu masih diasuh oleh Kiai Bisyri, rata-rata santrinya hanya berkisar antara 60 hingga 80 santri.

“Memimpin sebuah pondok pesantren itu tidaklah mudah. Butuh sebuah perjuangan dan kerja keras dari semua pihak. Apalagi sebelum Abah meninggal, beliau menyerahkan tanggung jawab perkembangan pesantren ini kepada saya. Oleh karena itu saya terus berupaya agar pesantren ini bisa terus maju dan berkembangan,” tegasnya.

Meskipun pesantrennya maju dengan pesat, namun Gus Hafid mengaku jika keinginannya untuk mendirikan laboratorium bahasa belum bisa terwujud. Hanya saja pendirian laboratorium ini masin terkendala dengan tenaga pendidikan dan sarana prasarana.

“Walau sudah lama berdiri, tetapi kami masih menggantungkan diri kepada suami-istri dan anaknya agar mau berkhidmat memajukan keberlangsungan pendidikan di pondok pesantren,” katanya.

Istiqomah Terapkan Sistem Pembelajaran Salafiyah

Sama seperti halnya dengan pondok pesantren pada umumnya, Pondok Pesantren Rabithatul Islam secara istiqomah menerapkan sistem pendidikan salafiyah. Dimana para santri mulai mengikuti kegiatan pesantren sejak pukul 03.00 WIB dengan sholat Tahajjud yang dilanjutkan dengan sholat Subuh berjamaah. Kemudian santri mengaji kitab kuning hingga pukul 06.00 WIB.

Yang berbeda pesantren ini dengan pesantren lainnya adalah pondok pesantren ini lebih mengutamakan pendidikan akhlak dalam mendidik para santri. Hal itu tergambar dalam ikhtiar Kiai Bisyri yang mengarang kitab Qisshotul Qiyamah, sebuah kitab tauhid. Kitab tersebut dikarang Kiai Bisyri saat masih nyantri di Pondok Pesantren Ihyaussunnah Desa Sentong Kecamatan Krejengan.

“Prinsip kami santri yang mondok disini akhlaknya harus bagus. Tingkah lakunya bisa mencerminkan seorang santri yang menghormati orang tuanya. Sebab rasanya percuma memiliki santri pintar tetapi akhlaknya jelek,” ujar Kiai Hafid.

Di Pondok Pesantren Rabithatul Islam diterapkan sejumlah metode pendidikan salafiyah meliputi madrasah diniyah, pengajian kitab kuning, holaqoh diniyah, Tahfidatul Qur’an hingga Jami’iyah Qurra’ wal Huffadz. Disamping juga mengelola lembaga kholafiyah atau modern seperti Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Raudlatul Atfal (RA).

Keberadaan pesantren lengkap dengan adanya lembaga pendidikan formal yang sediakan. Misalnya, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Raudhatul Muta’allimin, Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Islamiyah dan Madrasah Aliyah (MA) Zainul Hasan III. Walaupun berada di dalam lingkungan pesentren, namun lembaga formal tersebut juga menerima siswa dari luar pesantren. “Setidaknya sepulang dari sekolah umum, para santri bisa mengikuti sekolah diniyah,” katanya.

Lengkapnya lembaga pendidikan di Pondok Pesantren Rabithatul Islam membuat para santrinya sukses menuai sejumlah prestasi. Seperti juara harapan tingkat Provinsi Jawa Timur untuk lomba Qiroatul Qutub dan Qori’. Sementara untuk di tingkat Kabupaten Probolinggo, prestasi yang diraih antara lain juara pertama lomba kaligrafi, juara kedua lomba bahasa Arab tingkat MA.

Budayakan Selalu Dakwah

Meskipun disibukkan mengurus pesantren, tetapi Pengasuh Pondok Pesantren Rabithatul Islam Kiai Muhammad Hafid tidak melupakan keberadaan masyarakat. Oleh karenanya, pesantren ini kemudian mendirikan majelis taklim untuk bisa memberikan pencerahan tentang agama kepada masyarakat. Kegiatan itu berlangsung secara istiqomah sejak pondok ini baru berdiri.

“Kami tidak hanya memberikan ilmu kepada para santri saja, setiap hari kami juga memberikan pengajaran ilmu agama kepada ibu-ibu lansia yang minim ilmu agamanya. Misalnya ilmu fiqih, hadits, tafsir dan lain sebagainya,” kata Gus Hafid.

Demi mendekatkan diri kepada masyarakat, Gus Hafid juga rutin setiap dua minggu sekali menjadi imam di masjid berbagai desa, utamanya yang berada di dataran tinggi. “Pesantren itu tidak bisa dilepaskan dari masyarakat. Perkembangan pesantren merupakan bagian dari peran serta masyarakat. Oleh karena itu, pesantren harus dekat dengan masyarakat,” pungkasnya. (Syamsul Akbar)

Foto: Satu-satunya gubuk “cangkruk” yang menjadi saksi bisu berdirinya Pondok Pesantren Rabithatul Islam.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal IMNU, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Selasa, 16 Januari 2018

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin

Sagaf Faozata Adzkiya adalah violinis muda yang memiliki pengalaman pentas mendunia dibesarkan dalam keluarga pesantren di Cilacap, Jawa Tengah. Di kala kecil, ia sering bermain rebana di lingkungan rumahnya.

Ia menamatkan belajarnya di Sekolah Menengah Musik Yogyakarta dengan instrumen violin pada tahun 2003. Ia kemudian melanjutkan studinya di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dengan instrumen yang sama. Ia menamatkan ISI pada tahun 2011.

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin (Sumber Gambar : Nu Online)
Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin (Sumber Gambar : Nu Online)

Pesantren Cilacap Lahirkan Seniman Violin

Ia memiliki sejumlah pengalaman pentas. Pengalaman pentasnya antara lain, pernah menjadi anggota orkestra kemerdekaan 17 Agustus  (Gita Bahana Nusantara) di Istana Merdeka tahun 2002, 2007, 2008, 2009, 2010; menjadi anggota Southeast Asian Youth Orchestra And Wind Ansamble (SAYOWE) di Bangkok tahun 2004, 2007, 2008; mengikuti ISI Japan workshop di Tokyo tahun 2007.

Bersama Buffa String Quartet, ia mendampingi Midori String Quartet di Yogyakarta tahun 2010. Ia pernah menjadi anggota Asian Simphoni Orchestra di Vietnam tahun 2011. Di tahun 2012, ia mengikuti Cambodian Music Festival di Pnom Penh. Terakhir, ia bermain solo bersama Ngayogstringkarta String Orchestra di Malang tahun 2013.Pada malam pidato kebudayaan dan Hadiah Asrul Sani dalam rangka 10 tahun Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal, ia akan mementaskan instrumental violin lagu Indonesia Raya, Selawat Badar, dan beberapa lagu lainnya di Gedung PBNU Jakarta Pusat, Kamis (28/3) malam.

Bagaimana proses perjumpaan seorang Sagaf dengan dunia violin yang mengantarkannya ke panggung-panggung nasional maupun internasional, berikut ini merupakan hasil wawancara Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan violinis muda berbakat melalui telepon, Kamis (21/3) malam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Bagaimana keterkaitan Anda secara pribadi dengan NU?

Masalahnya dari kecil, saya mengetahui NU. Keluarga saya itu mengelola pesantren dari mbah, bapak, dan paklik. Waktu kecil, saya ikut pesantren di daerah Mejenang. Pengelolaan pesantren diteruskan oleh paklik tepatnya di daerah Paku Haji, Majenang, Cilacap Jawa Tengah. Jadi, dari kecil, saya sangat dekat dengan dengan pesantren.

Pernah masuk pondok pesantren?

Saya belum pernah mondok. Tetapi, saya hanya ikut pengajian mbah di pesantren.

Sempat mengaji apa saja?

Saya ikut mengaji Alquran. Kalau mengaji kitab kuning, saya hanya ikut sebentar, tidak sampai selesai.

Kitab apa saja?

Kitab Safinah. Itu pun tidak sampai tamat karena langsung masuk sekolah musik di Yogyakarta.

Sekolah apa?

Saya ambil jurusan musik di Yogyakarta.

Apa tanggapan orang tua?

Awalnya mereka menentang. Tetapi, saya menunjukkan antusias serius di musik. Saya juga meminta mereka dengan agak sedikit merayu seperti anak kecil.

Apa yang membuat Anda mencintai NU?

Setahu saya, penanaman dakwah lewat seni dan budaya. Secara awamnya seperti itu. Ada rebana dan selawatan. Kalau di Muhammadiyah, perihal seperti itu dianggap bid‘ah. Kalau di NU, perihal kayak begitu nyaman-nyaman saja. Karena saya senang dengan kesenian, sikap NU seperti itu sangat membahagiakan saya.

Siapa tokoh NU yang Anda suka?

Salah satunya Gus Dur. Dia memahami musik mulai dari klasik, kontemporer sekaligus aneka genre musik.

Bagaimana cara Anda menjalani hidup sebagai warga NU?

Menurut saya, semua hal  kehidupan bagi warga NU bisa dibuat sederhana. Mungkin bisa diartikan, warga NU itu tidak memaksakan diri untuk menunjukkan identitas. Setiap orang memang harus mempunyai tingkat pemikiran yang tinggi. Warga NU terbukti bisa. Hanya saja warga NU tidak menunjukkan kemampuannya. Saya menjalani kehidupan sesederhana mungkin, tidak eksklusif dan sebagainya. Dari NU, saya menyukai sikap hidup yang lebih merakyat.

Bagaimana cerita kedekatan Anda dengan violin?

Pada awalnya saya suka bermusik pada saat SMP. Saya belajar gitar otodidak. Saya menonton acara musik di televisi. Saya membaca majalah-majalah musik. Semuanya menunjukkan semangat tinggi saya untuk belajar musik.Awalnya saya bermain gitar. Ketika semakin giat belajar otodidak, seorang saudara menyarankan saya sekolah musik di Yogyakarta. Sampai di Yogyakarta, komunitas gitar di sekolah musik itu kurang produkif. Sementara violin dan orkestranya maju pesat. Lalu saya berkeinginan mempelajari instrumen yang ada di orkestra itu. Saya jatuh cinta pada violin. Violin alat musik gesek yang suaranya lebih tinggi dari viola.

Jadi, pintu masuk saya dalam bermusik melalui saudara itu. Karena ia menyarankan saya masuk ke sekolah musik itu.

Rencananya Anda mementaskan Selawat Badar dengan violin?

Saya akan menampilkan pengalaman bermusik. Saya akan menampilkan instrumentalnya saja Saya hanya menyampaikan notasi, namun aku tidak berpikir akan detail dari Selawat Badar. Dengan penampilan itu, saya kira pendengar akan tergugah “Oh, itu lagu Selawat Badar”. Dalam pementasan itu, saya hanya memberi pengantar melodinya yang akan membuat setiap orang bernyanyi. Jadi saya memberikan ruang bagi pendengar untuk menelaah sendiri. Instrumental itu tidak menunjukkan detail Selawat Badar.

Sebelum di PBNU, Anda pernah mementaskan Selawat Badar?

Dulu, saya pernah bermain rebana. Ibu saya di rumah, cukup aktif di kegiatan rebanaan. Saya terkadang diminta mengiringi musikal, dinamik, dan ritmisnya. Jadi saya mengarahkan dari segi musikalnya saja. Pesertanya adalah ibu-ibu. Rebanaan itu waktu kecil.

Selain Selawat Badar, lagu apa yang pernah Anda dengar?

Selawat, kasidah, grup Nasidaria, Wafiq Azizah, dan semacamnya. Karena, bapak sering memutar lagu-lagu itu. Jadi saya mengetahui itu secara tidak langsung. Namun, saya tidak terlalu fanatic sehingga menutup diri dari jenis musik lainnya.

Sebentar lagi Anda akan bermain di PBNU. Apa tanggapan Anda?

Saya sangat bangga. Tadi saya sempat mengabarkan perihal itu melalui telepon kepada keluarga di Cilacap. Keluarga di rumah sangat antusias. Mereka mengucapkan, “Selamat! Sukses!” Mereka sangat bangga.

 

Staf Redaksi: Alhafiz Kurniawan

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Kajian, Khutbah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock