Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RMI NU. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Februari 2018

Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa

Ini adalah halaman sampul dan halaman terakhir dari kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” karangan seorang ulama Nusantara asal Rawa (Rao, Minangkabau) yang hidup dan berkarir di Makkah pada akhir abad ke-18 M dan awal abad ke-19 M, yaitu Syekh Muhammad Shâlih Râwah (dikenal dengan Syekh Saleh Rawa atau Syekh Saleh Rao, w. 1272 H/ 1856 M).

Kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” berisi ringkasan kajian akan tiga ilmu paling prinsip dan pokok dalam ajaran agama Islam, yaitu ilmu tauhid (teologi), ilmu fikih (yurisprudensi), dan ilmu tasawuf (esoterisme Islam). Kitab ini ditulis dalam bahasa Melayu beraksara Arab (Jawi).

Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa (Sumber Gambar : Nu Online)
Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa (Sumber Gambar : Nu Online)

Kitab Teologi-Yurisprudensi-Tasawuf Karya Syekh Saleh Rawa

Pada halaman depan kitab ini, nama pengarang tidak dicantumkan. Di sana hanya tertulis judul kitab dan sub-judulnya saja, sekaligus keterangan jika nama pengarang tidak mau disebutkan karena “tidak ingin riya dan menjaga diri”.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Keterangan jika kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” adalah karya Syikh Saleh Rawa didapati pada halaman terakhir kitab ini, tepatnya pada kolom editor (pentashih) pada versi cetakan Maktabah Musthafâ al-Bâbî al-Halabî, Kairo, pada tahun 1374 Hijri/ 1955 Masehi (setebal 38 halaman). Tertulis di sana;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

(Telah selesai seraya memuji Allah Ta’ala, proses pencetakan kitab “Bidâyatul Mubtadî wa ‘Umdatul Awlâdi” karangan al-‘Allâmah al-Fâdhil Syekh Shâlih al-Jâwî, dalam menerangkan masalah-masalah tauhid dan hal-hal yang diharuskan bagi manusia mengetahuinya daripada perkara syari’at yang dapat memperbaiki hati dan menghilangkan kerusakan. Karya ini ditulis dalam bahasa Jawi [Melayu] dalam rangka menyebarkan ajaran agama Islam di seluruh wilayah negeri Jawi itu).

Dalam kata pengantarnya, Syekh Saleh Rawa mengatakan jika kitab ini merupakan sebuah risalah kecil yang ringkas, yang menghimpun kajian atas perkara-perkara yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, dari ilmu tauhid dan fikih. Beliau menulis;

? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?

(Ammâ ba’du. Maka ini adalah sebuah catatan yang lembut, yang menerangkan hal-hal yang harus diketahui oleh setiap Muslim yang mukallaf, daripada masalah-masalah akidah keimanan dan masalah-masalah hukum ibadah. Aku namakan karya ini dengan “Bidâyatul Mubtadî wa ’Umdatul Awlâdi”).

Dalam kolofon, dikatakan bahwa kitab ini diselesaikan oleh pengarangnya pada waktu pagi hari Ahmad, di awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijri (bersamaan dengan bulan Agustus 1938 Masehi). Tertulis di sana;

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

(Dan telah selesai penulisan karya ini pada hari Ahad yang diberkati, di waktu pagi, pada awal bulan Jumadil Akhir tahun 1254 Hijri).

Pengarang kitab ini, yaitu Syekh Saleh Rawa, tidak banyak diketahui oleh para pengkaji sejarah keislaman di Nusantara dan literaturnya. Padahal, beliau adalah salah satu tokoh besar dalam sejarah dan jaringan intelektual ulama Nusantara—Timur Tengah di awal abad ke-19 M, meneruskan tongkat estafet generasi sebelumnya, yaitu generasi Syekh Abdul Shamad Palembang, Syekh Arsyad Banjar, Syekh Dauwd Pattani, dan Syekh Abdul Rahman Betawi.

Syekh Saleh Rawa satu generasi dengan Syekh Muhammad Azhari ibn Abdullah Palembang, Syekh Muhammad Ali ibn Abdul Rasyid Sumbawa, Syekh Isma’il al-Khalidi Minang, Syekh Abdul Ghani Bima, Syekh Ahmad Khatib Sambas, Syekh Idris Buton, Syekh Abdul Manan Dipamanggala (Tremas), Syekh Hasan Besari (Ponorogo), Syekh Abdul Hamid (Pangeran Diponegoro), dan lain-lain.

Biografi Syekh Saleh Rawa terlacak dalam beberapa kitab hagiografi (“tarâjim” dan “thabaqât”) ulama Makkah yang hidup di abad ke-13 Hijri (19 Masehi), seperti kitab “al-Mukhtashar min Nasyr al-Nûr wa al-Zuhr” karya Syekh Abdullâh Mirdâd (hal. 214), “A’lâmul Makkiyyîn” karya al-Mu’allimî (j. I/ hal. 450), “Fadh al-Malik al-Wahhâb al-Muta’âlî” karya ‘Abd al-Sattâr al-Dihlawî (hal. 706), dan “al-Mukhtashar al-Hâwî fî Tarâjim ‘Ulamâ Bilâd Jâwî” karya alfaqir (hal. 47).

Nama lengkap Syekh Saleh Rawa adalah Muhammad Shâlih Râwah ibn Muhammad Murîd al-Khalwatî al-Sammânî al-Râwî al-Jâwî. Beliau dilahirkan di Kampung Roa (Rawa, Sumatera Barat/ Minangkabau), namun tidak terlacak tarikh kelahirannya.

Beliau lalu pergi ke Makkah dan mermujawarah di sana. Di Kota Suci itu, beliau belajar kepada Syekh Daud Pattani, Syekh Abdul Shamad Palembang, dan Syekh Arsyad Banjar. Beliau juga belajar kepada Syekh Ahmad al-Marzûqî al-Dharir al-Makkî dan Syekh ‘Utsmân al-Dimyâthî al-Makkî. Setelah menempa masa pembelajaran yang cukup lama, beliau kemudian mendapatkan ijazah (lisensi) untuk mengajar di Masjidil Haram.

Syekh Saleh Rawa menulis beberapa karya, di antaranya; (1) “Bidâyatul Mubtadî” yang kita bicarakan ini, dan (2) “Fattul Mubîn” yang diselesaikan pada Zulhijjah tahun 1272 Hijri (Agustus 1856 Masehi). Beliau wafat di Makkah pada tahun 1272 H (1856 M) dan dikuburkan di Pemakaman Ma’la, Makkah. (A. Ginanjar Sya’ban)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal RMI NU, Ulama, News Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 18 Februari 2018

Menganiaya Anjing?

Sebagian umat Islam mungkin beranggapan bahwa anjing adalah hewan yang paling menjijikan setelah babi. Saking jijiknya, tak jarang ditemukan di beberapa perkampungan, anjing dijadikan objek kekesalan dan kemarahan. Setiap ada anjing yang lewat, entah apa salahnya, tubuhnya selalu dihujani dengan batu-batu. Anjing malang itu pun lari sambil terkaing-kaing.

Sikap antianjing ini sekilas memang memiliki dukungan dari hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)
Menganiaya Anjing? (Sumber Gambar : Nu Online)

Menganiaya Anjing?

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. Rasulullah SAW memerintahkan untuk membunuh anjing kecuali anjing pemburu, anjing penjaga gembala dan penjaga ternak.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Berdasarkan hadits ini dipahami bahwa diperbolehkan membunuh anjing yang tidak ada manfaatnya untuk kehidupan manusia. Bila dia bisa digunakan sebagai penjaga gembala, rumah, dan ternak, kita tidak diperbolehkan membunuhnya.

Akan tetapi, sebenarnya para ulama berbeda pendapat mengenai makna dan maksud hadits di atas. Ada yang memahami larangan Nabi dalam hadits tersebut dikhususkan untuk anjing yang membahayakan saja, karena konteks kemunculan hadis ini di saat banyaknya anjing yang mengganggu dan membahayakan manusia.

Ada pula yang berpendapat bahwa hadits membunuh anjing sudah di-nasakh (dihapus) oleh hadits lain yang menunjukkan larangan membunuhnya. Maka dari itu, Imam al-Harmain (Abu Ma’ali al-Juwaini) menuturkan dalam karyanya Nihayatul Mathlab fi Dirayatil Madzhab,

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ?.

Anjing yang tidak bisa dimanfaatkan dan tidak pula membahayakan, tidak boleh dibunuh. Kami telah menjelaskan permasalahan ini dalam pembahasan “Perburuan Pada Waktu Manasik” ketika menyinggung hewan-hewan fasik (berbahaya). Memang ada riwayat sahih yang menyatakan Nabi SAW memerintah membunuh anjing dan kemudian pada satu riwayat dikatakan Nabi SAW melarangnya. Penjelasan rinci masalah ini sudah kami jelaskan. Sesungguhnya perintah Nabi untuk membunuh anjing hitam itu sudah di-nasakh (dihapus).

Pada hakikatnya, manusia tidak hanya dituntut menghormati sesama manusia. Binatang dan tumbuhan pun perlu dijaga, dirawat, dan dilindungi kehidupannya. Demikian pula dengan anjing walaupun ia termasuk hewan yang diharamkan secara syariat. Tetapi bukan berarti ia boleh disakiti ataupun dibunuh dengan seenaknya.

Ia boleh dibunuh bila membahayakan dan merusak kenyaman manusia, misalnya anjing gila. Sedangkan anjing yang tidak berbahaya sekalipun tidak ada gunanya, tidak dibolehkan bagi kita untuk menyakiti dan membunuhnya. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Ubudiyah, Cerita, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 15 Februari 2018

Penguatan Identitas, NU Kota Malang Gelar Bedah Buku Pahlawan Santri

Malang, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Semarak konferensi Pengurus Cabang NU Kota Malang ditandai dengan beberapa agenda prakonferensi. Salah satu agenda yang diselenggarakan oleh panitia dari unsur Lakpesdam adalah membedah buku Pahlawan Santri, Tulang Punggung Pergerakan Nasional karya Munawir Aziz, salah satu pengurus LTN PBNU di Ruang Seminar Lantai 2 Perpustakaan Universitas Negeri Malang (UM), Rabu (5/6) pagi.

Tampak hadir berbagai kalangan baik dari internal NU, peneliti, akademisi, kalangan santri, dan mahasiswa. Seminar ini menghadirkan penulis buku dan Kepala Perpustakaan UM Prof. Dr. Djoko Saryono sebagai pembanding.

Penguatan Identitas, NU Kota Malang Gelar Bedah Buku Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Penguatan Identitas, NU Kota Malang Gelar Bedah Buku Pahlawan Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Penguatan Identitas, NU Kota Malang Gelar Bedah Buku Pahlawan Santri

Ketua PCNU Kota Malang Gus H Mujab Masyhudi mengatakan, acara semacam ini penting untuk mengambil hikmah dan mutiara terpendam dari para ulama Nusantara.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

"Membacanya akan mendapatkan mutiara-mutiara yang akan bermanfaat bagi para santri dan kalangan Nahdliyin. Agar kita memahami sanad-sanad keilmuan kita melalui wasilah para ulama terdahulu," kata alumni Pondok Lirboyo ini.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Sementara pihak UM yang diwakili oleh Kabiro BAKPIK UM H Amin Sidiq menyampaikan terima kasih karena UM dipercaya sebagai tempat acara rangkaian prakonferensi PCNU Kota Malang terlebih khusus bedah buku.

"UM selalu giat menyambut segala aktivitas yang bernuansa intelektual seperti bedah buku. Karenanya pihak UM sangat berterima kasih atas diselenggaranya kegiatan bedah buku yang di tulis oleh Munawir Aziz. Mudah-mudahan dapat menginspirasi kalangan muda dalam membangun dan mempertahankan negeri," imbuhnya.

Menurut Munawir, buku ini merupakan puzzle dari sebuah perjalanan panjang negeri ini. Mereka, para peneliti dari luar, cenderung menggunakan perspektif outsider dalam menarasikan sejarah. Sehingga banyak narasi dan fakta yang terlewatkan. Buku ini mencoba mengisi kekosongan tersebut dengan menggunakan perspektif insider.

Setidaknya ada tiga komponen yang dibidik dalam buku ini, bagaimana santri dimaknai dalam konteks sejarah kebangsaan; simpul-simpul jejaring nama dan aksi dalam sejarah pergerakan nasional yang dilakukan oleh para kiai dan santri, dan sebagai umpan silang untuk para pemerhati khususnya santri agar memunculkan kiai-kiai yang layak sebagai pahlawan nasional, sebagai bentuk penegasan identitas kesantrian bahwa ia memiliki saham dalam perjuangan membangun santri.

Prof Dr Djoko Saryono mengatakan, terbitnya sebuah karya perlu disambut meriah. Kemudian merenungkannya dan perlu dilanjutkan dengan pengkajian-pengkajian berikutnya.

“Para pemikir Indonesia yang di dalamnya termasuk para kiai dan santri dalam sejarah adalah mereka yang memiliki lintas keilmuan yang sangat luar biasa," kata Djoko. (Irhamatul Jariyati/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 22 Januari 2018

Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo

Nganjuk, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal?



Pengurus Cabang Nadlatul Ulama Kabupaten Nganjuk menginstruksikan kepada lembaga dan banom NU untuk mendirikan posko NU Peduli Bencana dimulai sejak Selasa (11/4). Posko dikoordinatori LAZISNU Nganjuk, LPBHI NU serta Banser.?

Posko NU Peduli Bencana didirikan guna menyalurkan bantuan dari warga NU untuk keluarga korban bencana. Sebagaimana diketahui, hujan mengguyur Dusun SumberBendo, Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, Kabupaten Nganjuk. Hujan menyebabkan bencana longsor yang menewaskan lima korban, yaitu Paidi (55), ? Kodri (15), Doni (23), Dwi (17) dan Bayu (14). Longsor tersebut juga merusak area persawahan dan perkebunan masyarakat setempat.?

Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo (Sumber Gambar : Nu Online)
Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo (Sumber Gambar : Nu Online)

Keluarga Besar NU Nganjuk Bentuk Posko Bencana di Dusun Sumber Bendo

Pada Rabu (19/4), posko NU berakhir karena penanganan bencana beralih status menjadi pemulihan. Hal itu ditandai dengan istighatsah dan penyaluran bantuan kepada korban yang di gelar di Masjid Dusun Sumberbendo. Kegiatan dipandu Sekretaris PC.LAZISNU Nganjuk Moch.Masyhuri, sementara pembacaan istighatsah dipimpin Rais Syuriah PC NU Nganjuk KH Ali Musthofa Said.?

Sekretaris PCNU Nganjuk KH Moh. Hasyim Afandi atas nama NU menyampaikan turut bela sungkawa atas musibah yang menimpa masyarakat Ngetos dan khususnya keluarga korban bancana longsor. Serta mengapresiasi seluruh lembaga dan banom NU Nganjuk yang telah bekerja keras membantu proses penanganan bencana.?

Ia berharap sinergi lembaga dan banom NU akan terus terjadi di dalam berbagai kegaiatan NUguna menghadirkan NU sebagai solusi terhadap berbagai kondisi serta permasalahan masyarakat, dan Nadhliyin khususnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kegiatan tersebut dilanjutkan dengan pemberian bantuan kepada keluarga korban yang dipandu Direktur LAZISNU Nganjuk Subhan Shofwan Hadi bersama pengurus PC Maarif NU Nganjuk Aziz Kabul Budiono. Bantuan yang diberikan berupa uang dan logistik.?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Secara rinci, Subhan menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyalurkan bantuan dan bekerja keras di Posko NU Peduli Bencana yaitu Fatayat NU, Muslimat NU, LP Maarif NU, Ansor, Pagar Nusa, Banser, SMK Al Busthomi Mojosari, Pesantren Miftahul Ula Nglawak, Yayasan Al Hidayah Cengkok, Yayasan Darul Falah Pandanarum, MI Al Huda Bakalan, alumni SMPN 4 Nganjuk, FKDT Nganjuk, Gus Mujib Sekarputih.

Sesepuh Dusun Sumberbendo, Kiai Rohmad, mewakili keluarga korban mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas bantuan dan doa PCNU Nganjuk. Hal senada disampaikan Koordinator Dapur Umum Poskomando BPBD Nganjuk Masruhin.

Meski Posko NU Peduli Bencana Nganjuk telah berakhir, tapi Banser Ngetos pimpinan Abuddan Ganjar Nugroho akan membantu masa transisi pemulihan pasca bencana.? (Lj/Abdullah Alawi)

?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Berita, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan kesediaannya untuk hadir dan membuka kegiatan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Alim Ulama Nahdlatul Ulama, yang diagendakan digelar September mendatang.

"Tadi saya sampaikan, yang dulu-dulu Munas Konbes NU yang hadir adalah Wakil Presiden. Tapi tadi saya juga menyampaikan kali ini jika berkenan Presiden yang hadir, dan Alhamdulillah beliau bersedia," ungkap Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Said Aqil Siroj, usai bertemu dengan SBY di Istana Negara, Selasa kemarin (29/5).

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)
SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU (Sumber Gambar : Nu Online)

SBY akan Buka Munas dan Konbes Alim Ulama NU

Kang Said, demikian Kiai Said disapa dalam kesehariannya, menemui SBY di Istana Negara dengan didampingi oleh Sekjen PBNU H. Marsudi Syuhud dan Ketua Panitia Munas dan Konbes Alim Ulama H. Dedi Wahidi. Mendampingi Presiden dalam kesempatan ini Mensesneg Sudi Silalahi, Menag Suryadharma Ali, dan Seskab Dipo Alam.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Kiai Said menjelaskan, tema Munas kali ini yaitu Kembali ke Khittah Indonesia 1945: Meningkatkan Khidmah NU Menuju Indonesia yang Berdaulat, Adil dan Makmur.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

?

Di kesempatan yang sama PBNU juga menyampaikan akan digelarnya Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) NU di Pontianak pada tanggal 3 Juli mendatang yang rencananya akan dibuka Wakil Presiden RI ? Boediono.

Penulis: Emha Nabil Haroen

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hikmah, Sholawat, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Ijtihad Pengelolaan Zakat di Pacarpeluk

Oleh Nine Adien Maulana



Masa Lalu



Ijtihad Pengelolaan Zakat di Pacarpeluk (Sumber Gambar : Nu Online)
Ijtihad Pengelolaan Zakat di Pacarpeluk (Sumber Gambar : Nu Online)

Ijtihad Pengelolaan Zakat di Pacarpeluk

Dulu di Pacarpeluk Megaluh Jombang belum ada lembaga amil zakat, infak dan sedekah yang resmi. Jika ada warga yang telah mengetahui dan sadar akan kewajibannya mengeluarkan zakat maal, maka ia menyalurkannya secara mandiri. Warga menghitung sendiri berapa kadar hartanya harus dikeluarkan zakatnya. Setelah itu, ia menyalurkannya secara mandiri. Ia membagikannya kepada pihak yang berhak, khususnya fakir miskin di sekitarnya. Ada yang melakukannya dengan cara mengirimkannya secara langsung kepada pihak yang berhak. Ada pula yang mengundang pihak yang berhak itu untuk mengambil dan menerima bagian zakat.

Tidak banyak warga yang mengeluarkan zakat maal. Maklum masih banyak warga yang belum mengetahui dan sadar akan kewajibannya itu. Oleh karena itu, mengeluarkan zakat maal menjadi sangat elitis dan memiliki nilai prestise.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lain halnya dengan zakat fitri. Karena hampir semua warga yang beragama Islam di desa ini mengeluarkan zakat fitri, maka kegiatan ini menjadi sangat populis dan masif. Kegiatan ini menambah kuatnya syiar Islam pada bulan Ramadhan.

Demi pertimbangan kemudahan dan kemaslahatan dalam pengelolaannya, maka masyarakat membentuk kepanitiaan di tiap dusun yang dipusatkan pada masjid atau mushalla tertentu. Perangkat desa menjadi fasilitator bagi tokoh agama dan tokoh masyarakat yang mengorganisir kepanitian zakat fitri.

Panitia pengelolaan zakat fitri ini mengumpulkan beras zakat fitri dengan dua model. Model pertama, panitia berkeliling dari rumah ke rumah warga untuk memungut zakat fitrinya. Model kedua, panitia tidak berkeliling namun stand by di tempat pengumpulan zakat fitri. Warga yang berzakat datang menyetorkan zakat fitrinya.

Setelah beras zakat fitri itu terkumpul baik dengan model pertama maupun model kedua, maka panitia itu kemudian mengemasinya dengan ukuran tertentu. Biasanya ukurannya disamakan dengan kadar satu bagian zakat fitri. Setelah itu panitia itu mendata orang-orang yang bisa dikategorikan ke dalam delapan golongan yang berhak menerima zakat. Karena sekarang hampir mustahil bisa menemukan delapan golongan itu di suatu daerah, maka biasa golongan yang bisa ditemukan hanya fakir, miskin, amil, gharim, sabilillah. Tiga golongan lainnya yakni, muallaf, untuk membebaskan budak dan ibnu sabil sangat jarang bisa dijumpai.

Meskipun tidak sepenuhnya sesuai dengan definisi rigid dalam kitab-kitab fiqih klasik, golongan fakir dan miskin paling banyak mendapat jatah porsinya. Golongan gharim dianggap kondisional. Jika ada, maka biasanya dimasukkan dalam golongan fakir dan miskin.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dua golongan sisanya, yakni amil dan sabilillah biasanya diijtihadi dengan hasil yang sering memicu tanda tanya atau protes terhadapnya. Golongan amil diijtihadi sebagai panitia pengelola zakat fitri, sehingga mereka akhirnya mendapat bagian zakat fitri itu dengan mengatasnamakan diri sebagai amil. Sabilillah diijtihadi sebagai para imam dan marbot masjid dan mushalla, para guru TPQ, pengelola panti asuhan, masjid dan pondok pesantren. Pihak-pihak ini pula yang akhirnya diberi jatah beras zakat fitri itu sebagai golongan sabilillah.

Ijtihad pemaknaan golongan amil dan sabilillah ini yang sering menjadi rasan-rasan? atau gunjingan warga. Mereka mendapat ? bagian yang lebih banyak daripada yang dibagikan kepada tiap warga yang masuk golongan fakir dan miskin. Rasan-rasan itu semakin kuat jika ternyata mereka yang diijtihadi sebagai golongan amil dan sabilillah itu ternyata orang-orang yang status ekonominya jauh lebih baik daripada golongan fakir dan miskin.





Rasan-rasan ini hanya sebatas wacana yang tidak dicarikan jalan keluarnya. Tidak ada yang berani membenahinya. Banyak orang merasakan adanya ketidakpatutan, namun tidak bisa berbuat banyak untuk memperbaiknya.

Masa Kini

Kondisi itu kita telah menjadi masa lalu. Sejak beroperasinya Unit Pengumpul Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (UPZISNU) yang digerakkan oleh Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Pacarpeluk, pengelolaan zakat, khususnya fitri di desa ini mulai dibenahi. Lembaga ini merupakan kepanjangan tangan Lembaga Amil Zakat Nahdlatul Ulama (NU Care-LAZISNU) Jombang yang dikelola oleh Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jombang.

UPZISNU Pacarpeluk telah beroperasi dengan menerima dan mengelola zakat, infaq dan sedekah serta fidyah warga. Warga telah mulai sadar akan kewajibannya, sehingga secara mandiri datang ke UPZISNU Pacarpeluk untuk menyetorkan zakat mereka. Selain itu Gerakan Pacarpeluk Bersedekah yang dimotori oleh UPZISNU ini juga telah menjadi sarana bagi warga untuk membiasakan diri bersedekah dengan mengisi kaleng-kaleng sedekah yang telah diterimanya. Kurang lebih telah ada sekitar 400 warga yang bersedia dengan suka rela menjadi donator. Mereka telah berkomitmen tiap hari menyisihkan uang koin Rp500.00 untuk dimasukkan dalam kaleng sedekah itu. ?

Dana sedekah yang terkumpul itu akan dikelola oleh UPZISNU sebagai upaya menghadirkan kesejahteraan bagi warga yang lemah secara ekonomi (dhu’afa) dan menghidupkan syiar Islam di desa Pacarpeluk. UPZISNU ini tidak berlebihan jika dikatakan sebagai sarana saling menghidupi jama’ah dan jam’iyyah Nahdlatul Ulama khususnya di Pacarpeluk.

UPZISNU Pacarpeluk sebagai kepanjangan tangan lembaga amil zakat yang sah dikelola oleh Nahdlatul Ulama praktis telah memiliki dana operasional yang diambilkan dari perolehan zakat, infak dan sedekah yang dikelolanya. Dengan maksud untuk membenahi pengelolaan zakat fitri yang diselenggarakan oleh panita-panita zakat di tiap dusun, UPZISNU Pacarpeluk bermusyawarah dengan panitia-panitia untuk pembaharuan pengelolaannya secara lebih tepat baik secara organisasi maupun syar’i.

Langkah pertama yang dilakukan oleh UPZISNU Pacarpeluk adalah menyamakan persepsi bahwa sebenarnya panitia-panitia zakat yang bersifat sementara (adhoc) itu tidak bisa serta-merta disamakan dengan amil zakat yang berhak mengambil dan menerima bagian beras zakat fitri itu. Setelah hal ini diterima, maka langkah berikutnya adalah penawaran solusi atas kebutuhan biaya operasional untuk pengelolaan zakat fitri itu. ? ?

Solusi pertama yang ditawarkan oleh UPZISNU Pacarpeluk kepada para panitia zakat fitri adalah dengan memungut tambahan biaya operasional kepada para muzakki sebesar Rp1.000,00 atau Rp2.000,00 untuk tiap jiwa yang berzakat. Biaya itu bisa digunakan untuk untuk segala kebutuhan operasional pengelolaan zakat fitri, sehingga panitia tidak mengurangi beras zakat fitri dengan alasan digunakan untuk biaya operasional. ?

Panitia zakat itu juga tidak lagi diperkenankan mengambil bagian jatah amil untuk diri mereka. Panitia zakat tetap mengalokasikan jatah amil dan disalurkan kepada lembaga amil zakat UPZISNU Pacarpeluk. Perolehan jatah bagian zakat fitri itu dimasukkan dalam kas untuk dikelola dalam berbagai program yang dimiliki oleh lembaga amil zakat itu.

Dengan berbagai argumentasi, para panitia zakat fitri itu tidak bisa menerima tawaran solusi pertama itu. UPZISNU Pacarpeluk kemudian menawarkan solusi kedua, yaitu panitia zakat fitri tidak perlu memungut tambahan biaya operasional kepada para muzakki. Karena UPZISNU Pacarpeluk telah memiliki kas, maka seluruh biaya operasional pengelolaan zakat fitri itu ditanggung oleh lembaga amil ini. Panitia zakat fitri tinggal menjalankan segala hal yang terkait dengan pengelolaan zakat fitri itu, tanpa harus mengurangi beras zakat fitri untuk biaya operasional dan mengambil bagian jatah beras atas nama amil. Bagian jatah beras atas nama amil itu tetap dialokasikan dan diberikan kepada lembaga amil UPZISNU Pacarpeluk.

Secara mufakat semua panitia menyetujui tawaran solusi kedua ini. Panitia tinggal mengelola dana dan perlengkapan yang telah disediakan oleh UPZISNU Pacarpeluk. Dengan demikian eksistensi UPZISNU Pacarpeluk benar-benar nyata berperan dalam pengelolaan zakat fitri, meskipun dalam tataran praktis lokal ditangani oleh para panitia zakat fitri itu.

Sebagai sebuah upaya ijtihad dalam pengelolaan zakat, pengurus UPZISNU Pacarpeluk tetap sadar jika pilihan ijtihad ini pasti ada celah untuk dikritik dan dibenahi. Oleh karena itu pengurus UPZISNU Pacarpeluk membuka diri untuk menerima segala saran demi kemaslahatan dan kesempurnaan pengelolaan zakat, infaq dan sedekah agar potensi ekonomi umat Islam ini dapat benar-benar dikelola secara kreatif, profesional dan amanah tanpa menyimpang prinsip-prinsip syariat demi terwujudnya kemandirian dan kesejahteraan umat Islam.?

Penulis adalah ketua Tanfidziyah Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Pacarpeluk

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Meme Islam, Hadits, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Rabu, 27 Desember 2017

Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama Pagar Nusa menghimbau para Pimpinan Wilayah, Cabang dan perguruan Pagar Nusa melaksanakan shalat ghaib dan tahlil untuk sang guru, penasihat, bahkan salah seorang pendiri Pagar Nusa KH Suharbillah, yang tutup usia, Senin (25/8) malam di Sedayu, Gresik, Jawa Timur.

Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat (Sumber Gambar : Nu Online)
Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat (Sumber Gambar : Nu Online)

Shalat Ghaib dan Tahlil untuk Sang Guru Silat

“Kami selaku Pimpinan Pusat Pencak Silat Pagar Nusa mengucapkan duka yang sedalam-dalamnya dan menghimbau kepada Pimpinan Wilayah, Cabang dan perguruan Pagar Nusa melaksanakan shalat ghaib dan tahlil untuk beliau, semoga amal ibadah beliau diterima di sisi-Nya,” demikian Ketua Umum PP Pagar Nusa dalam Gus Aizuddin Abdurrahman dan Sekretaris Umum MH Nabil Haroen dalam pesan singkatnya kepada Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal.

KH Suharbillah tercatat sebagai salah seorang pendiri Pagar Nusa, bahkan ia adalah sang inisiator. Tahun 1985, ia menemui KH Mustofa Bisri dari Rembang dan menceritakan keinginan para pendekar untuk membentuk organisasi. Keduanya lalu bertemu dengan KH Agus Maksum Jauhari Lirboyo alias Gus Maksum yang memang sudah masyhur di bidang beladiri.

Pada tanggal 12 Muharrom 1406 M bertepatan tanggal 27 September 1985 berkumpulah para kiai dan pendekar di pondok pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, untuk membentuk suatu wadah di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU) yang khusus mengurus pencak silat. Musyawarah tersebut dihadiri tokoh-tokoh pencak silat dari daerah Jombang, Ponorogo, Pasuruan, Nganjuk, Kediri, serta Cirebon, bahkan dari pulau Kalimantan pun datang.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Musyawarah berikutnya diadakan pada tanggal 3 Januari 1986, di Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Jawa Timur, tempat berdiam Gus Maksum. Dalam musyawarah tersebut disepakati pembentukan organisasi pencak silat NU bernama Ikatan Pencak Silat Nahdlatul Ulama “Pagar Nusa” yang merupakan kepanjangan dari “Pagarnya NU dan Bangsa. Pengukuhan dilakukan oleh Rais Aam KH Achmad Siddiq dan Ketua Umum PBNU KH Abdurrahman Wahid. (A. Khoirul Anam)

Gambar: KH Suharbillah menunjukkan satu gerakan silat Pagar Nusa dalam satu acara halaqah silat di PBNU. (Foto Tachsin Sanjaya)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Lomba, RMI NU Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock