Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Makam. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Januari 2018

IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar

Brebes, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar NU (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri NU (IPPNU) Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, tengah mengintensifkan diskusi di kalangan pelajar. Diskusi digelar rutin sebulan sekali sebagai ajang silaturahim dan pendalaman wawasan.

IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Brebes Intensifkan Diskusi Pelajar

Seperti yang diselenggarakan di Gedung NU, Jalan Yos Sudarso 36 Brebes, Ahad (21/9). Ketua PC IPNU Kabupaten Brebes Ahmad Zacky Al Aman mengatakan, setiap pertemuan ada beberapa tema yang akan diangkat. “Selain Aswaja, tema nasionalisme, kenakalan pelajar, pembelajaran kurikulum 2013 akan diangkat pula,” terangnya.

Pada kesempatan tersebut, Pembina Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Brebes Ahmad Fathoni menyataan, sikap kritis dan penambahan wawasan perlu dimiliki setiap pelajar Nahdlatul Ulama yang tergabung IPNU-IPPNU. Hal ini penting dilakukan agar pelajar NU tidak terkesan kerdil, meskipun penampilannya hanya berpakaian sarung.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Daya pikir, nalar dan wawasan kita harus cemerlang, meski hanya berbusana sarungan,” tuturnya saat mengisi Diskusi Pelajar.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, pelajar NU harus berkualitas dengan menggali berbagai potensi yang ada dalam diri sendiri agar bermanfaat bagi masyarakat. “Dengan banyaknya pemikiran yang didiskusikan, akan membuahkan solusi,” terangnya.

Dalam diskusi perdana, Toni mengupas tentang Ahlussunah Wal Jamaah (Aswaja). Menurutnya, Aswaja adalah suatu keluarga/kaum yang menjalankan sunnah Nabi muhammad SAW dan para penerusnya yaitu para sahabat, tabiin dan selanjutnya hingga para alim ulama. “Al -ulama warosatul anbiya,  ulama yaitu pewaris Nabi,” tegasnya.

Aswaja ala Nahdlatul Ulama lebih mencerminkan Islam yang Rahmatan Lil Alamin, rahmat bagi seluruh alam. Sehingga ketika ada perbedaan atau ikhtilaf dijadikan sebagai rahmat bukan sebagai awal datangnya konflik. “Dengan rahmatan lil Alamin insya Allah hidup kita akan menjadi damai,” tuturnya di hadapan 70 peserta diskusi.

Zaki berharap, Diskusi Pelajar Ahadan juga bisa menambah wawasan dan tumbuhnya minat belajar bagi para pelajar dan generasi muda NU. (Wasdiun/Mahbib)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Kiai, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Senin, 29 Januari 2018

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Bupati Purwakarta, Jawa Barat Dedi Mulyadi hadir sebagai salah seorang pembicara dalam Seminar Nasional Sarung Nusantara yang digelar Lembaga Takmir Masjid (LTM) PBNU, Kamis (6/4) di Gedung PBNU Jakarta. Dalam seminar tersebut, ia diplot sebagai seorang Budayawan yang lekat dengan sarung.

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Dedi Mulyadi: Saya Pilih Surganya NU

Dalam kesempatan seminar bersarung itu, Dedi Mulyadi yang juga mengenakan sarung bersama narasumber lain, KH Agus Sunyoto dan Prof Imam Suprayogo mengungkapkan kesannya setiap kali berada di tengah Nahadlatul Ulama (NU).?

Baginya, NU memberikan pelajaran berharga tentang Islam secara menyeluruh tanpa harus menanggalkan identitasnya sebagai orang Sunda.

“Enaknya di NU itu, saya bisa belajar Islam secara menyeluruh dengan tetap menjadi orang Sunda. Jadi, saya memilih surganya NU, ringan, tidak berat,” ungkap Kang Dedi, sapaannya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dalam kesempatan pemaparannya terkait sarung, Bupati yang dinilai berhasil dalam mengangkat budaya Sunda itu menjelaskan bahwa sarung juga telah lama menjadi identitas budaya dalam diri orang-orang Sunda dalam sejarah kosmologinya.?

“Tepatnya pada masa Kerajaan Galuh Pakuan sebelum lahirnya Kerajaan Padjadjaran,” jelas pria yang kerap memakai ‘udeng-udeng’ khas Sunda di kepalanya ini.

Dedi mengurai sarung secara filosofis, terutama dalam perspektif Budaya Sunda. Dia mengartikan sarung dengan mengurai kata “Sa” dan “Rung”.

“Sa dalam bahasa Sunda berarti tidak terbatas, berlebihan. Ini sifat dasar manusia yang di dalam dirinya mengandung tanah, air, udara, dan api. Sudah mempunyai sertifikat tanah, tetapi manusia terus ingin memperlebar kepemilikan tanahnya,” ujar Kang Dedi, sapaan akrabnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Begitu juga dengan air, imbuhnya, manusia mempunyai kecenderungan memompa air sebanyak-banyaknya, padahal yang diminum hanya dua gelas. Menurutnya, udara dan api juga sama yang jika dimanfaatkan atau dikuasai secara belebihan akan mendatangkan bencana.

“Sebab itu diteruskan dengan kata ‘Rung’, artinya dikurung. Segala ketamakan manusia yang terdapat dalam keempat unsur tersebut berusaha dibatasi atau dikurung,” jelas Kepala Daerah yang mempunyai misi penguatan seni dan budaya Indonesia dalam tata kelola pemerintahannya ini. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Kajian Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 25 Januari 2018

MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam

Pontianak, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Ada perbedaan antara Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Nasional VII Jam’iyyatul Qurra` Wal Huffazh Nahdlatul Ulama (JQHNU) dengan yang diselenggarakan Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ)?

MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam (Sumber Gambar : Nu Online)
MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam (Sumber Gambar : Nu Online)

MTQ JQH NU Gunakan Bacaan Riwayat Tujuh Imam

“Seluruh cabangnya sama. Tapi kini, di JQH, ada pengembangan cabang tambahan, yaitu qiroatul kutub, pembacaan kitab kuning dan ulumul Qur’an,” ujar anggota dewan juri MTQ JQH NU, Hj. Maslahah Zen.

Lalu, sambung dewan juri cabang tahfidh 5 juz ini, ada perbedaan dalam sistemnya. Dalam cabang tilawah dewasa misalnya, kalau di LPTQ, tidak ada cara pembaacaan Al-Quran imam-imam lain. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Kalau di JQH mengembangkan pembacaan Al-Quran dengan dengan tujuh riwayat. Bedanya di situ,” tambahnya.  

Selain itu, di JQH, ayat yang mesti dibaca peserta, iramanya sudah ditentukan panitia, “Peserta mengambil maqro melalui amplop. Di situ ditentukan oleh panitia. Kalau LPTQ peserta menentukan sendiri lagunya. Peserta bebas yang menenntukan,” tuturnya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Hj. Rofiatu Sa’adah dari Kepulauan Riau menjelaskan lebih rinci, “Jadi begini, kalau di LPTQ, yang ditentukan ayatnya, lagunya terserah peserta. Tapi kalau di JQH, ayat sama lagunya sudah ditentukan bahwa kamu misalnya harus membawakan lagu hejaz, shaba. Sudah sepaket. Bisa, tidak bisa; suka, tidak suka, peserta otomatis harus menempilkannya,” tuturnya.

Contoh, sambung Rofiah yang juga pengurus JQHNU Kepri, peserta mendapat ayat riwayat Qolun yang bisa dibaca dengan tiga wajah. Ketiganya harus disertakan dengan lagu yang sudah ditentukan. Jadi, peserta berulang-ulang membaca satu ayat dengan cara membaca yang berbeda-beda.

“Menurut saya pribadi, peserta MTQ di JQH harus lebih siap dan berbobot karena tingkat keilmuannya juga harus lebih berbobot. Diterapkan seperti itu, dikarenakan pesertaJQH kan mayoritas dari pesantren,” ujarnya.

Tapi, menurut Rofiah, dengan sistem demikian, peserta banyak yang keberatan. Namun bukan berarti kualitas mereka yang kurang, tapi penguasaan keilmuan yang belun siap. 

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis    : Abdullah Alaw

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pahlawan, Makam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Jumat, 19 Januari 2018

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Pariaman, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal - Mahasiswa harus menyiapkan dirinya menjadi pemimpin dan wirausahawan setelah menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi. Karenanya selagi mahasiswa harus fokus belajar baik di dalam kampus, maupun di luar kampus.

Demikian terungkap dalam seminar nasional yang digelar Pengurus Komisariat Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Sumbar, Sabtu (30/9) di hall Saiyo Sakato, Pariaman.

Seminar menampilkan narasumber Ketua DPW Badan Komunikasi Pemuda Remaja Masjid Indonesia (BKPRMI) Sumatera Barat Syamsul Bahri  dan Ketua GP Ansor Kabupaten Padang Pariaman Zeki Aliwardana dengan moderator Wakil Ketua II STIE Sumbar Satria Effendi Tuanku Kuning. Seminar dibuka Ketua DPRD Kota Pariaman Mardison Mahyudin.

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)
Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman (Sumber Gambar : Nu Online)

Pertama, 100 Mahasiwa Ikuti Mapaba PMII di Kota Pariaman

Mardison menyampaikan, saat ini kondisi generasi muda terbelah. Di satu sisi banyak yang melakukan tindakan negatif yang merugikan diri sendiri dan masyarakat di lingkungannya. Di sisi lain, banyak pula generasi muda  bertindak positif dengan berbagai kegiatan yang bermanfaatkan. "Bagaimana kita bersama merangkul generasi muda yang bertindak negatif tersebut berubah menjadi bertindak positif dalam hidupnya," kata Mardison.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Menurutnya, generasi muda yang diharapkan adalah generasi yang sehat, islami, mampu berkarya, inovatif, kreatif. Generasi muda semacam inilah yang lebih siap jadi pemimpin dan pengusaha sebagaimana tema dari seminar ini. PMII sebagai wadah organisasi mahasiswa tentu diharapkan mampu menyiapkan generasi muda yang mandiri.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Zeki Aliwardana dalam paparannya menyebutkan, pemimpin harus menjadi teladan bagi orang yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik menggunakan kewenangannya secara cerdas dan peka sehingga menjadi sangat berwenang tanpa sewenang-wenang.

"Menjadi pemimpin bukan berarti mendapatkan hak untuk memerintah. Tetapi justru kewajiban memberi teladan sehingga orang lain bisa menerima perintahnya tanpa merasa direndahkan," kata Zeki Aliwardana yang mantan Sekretaris PMII Kota Pariaman ini.

Ia menambahkan, karakteristik pribadi pemimpin yang harus memiliki kecerdasan cukup tinggi, kecakapan berkomunikasi, kecakapan mendidik, emosi terkendali, memiliki motivasi berprestasi, kepercayaan diri dan ambisi. Pemimpin yang tidak memiliki karakteristik tersebut, tidak akan pernah menjadi pemimpin sukses.

Syamsul Bahri menyebutkan, wirausahawan dan kepemimpinan saling terkait. Pemimpin yang mandiri adalah pemimpin yang mampu mengayomi orang-orang yang dipimpinnya. Wirausahawan bagaimana pun harus bermanfaat bagi lingkungannya. Begitu pula pemimpin, harus bermanfaat bagi orang di lingkungannya.

Ketua PK PMII STIE Sumbar Zulkifli mengatakan, seminar nasional dan Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) ke-X yang diikuti 100 peserta bertemakan, Melahirkan Pemimpin dan Pengusaha yang Kreatif, Inovatif Menuju Indonesia Mandiri.

"Ini Mapaba pertama di Kota Pariaman yang paling banyak pesertanya. Sehingga Ketua GP Ansor Padang Pariaman Zeki Aliwardana memberikan penghargaan kepada PK PMII STIE Sumbar yang diserahkan usai seminar menjelang sesi Mapaba dimulai," kata Zulkifli. (Armaidi Tanjung/Alhafiz K)Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Sejarah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 07 Januari 2018

Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Kepala Biro Hubungan Masyarakat, Data, dan Informasi Kementerian Agama Republik Indonesia Mastuki memberikan penjelasan mengenai maksud dari pernyataan Menteri Agama H Lukman Hakim Saifuddin tentang merangkul dan mengayomi pelaku Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender (LGBT).

Menurut Mastuki, yang dimaksud Menteri Agama tentang merangkul dan mengayomi, ialah mengajak para pelaku LGBT untuk kembali kepada jalan yang benar. 

Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul (Sumber Gambar : Nu Online)
Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul (Sumber Gambar : Nu Online)

Perilaku LGBT Menyimpang, tetapi Orangnya Harus Dirangkul

Mastuki menegaskan bahwa sikap semua agama terhadap perilaku LGBT sudah jelas, yakni melarang dan dianggap sebagai perbuatan yang menyimpang. "Semua agama," kata Mastuki melalui sambungan telepon, Kamis (21/12) di Jakarta. 

Begitu pun di dalam hukum positif seperti dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan bahwa perkawinan LGBT tidak diperkenankan. Di dalam UU tersebut, katanya, yang namanya perkawinan itu antara laki-laki dan perempuan. 

"Jadi di sisi ini sudah tidak ada masalah," jelas pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pascasarjana Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA) Jakarta ini. 

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Doktor lulusan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini mengatakan, dari sisi agama, para pelaku LGBT sebaiknya tidak dimusuhi, tapi seharusnya disadarkan kembali dengan berbagai cara seperti dilakukan edukasi atau pembinaan agar perilaku menyimpang itu kembali ke jalan yang benar.

"Makanya agama itu penting untuk menjadi bagian dari solusi terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh kaum LGBT ini," pungkas pria kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur itu. (Husni Sahal/Fathoni)

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Internasional, Pahlawan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Kamis, 28 Desember 2017

Perjuangan Gus Dur Ibarat Kristal

Jepara, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Perjuangan Ketua Umum PBNU 1984-1999 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), ibarat kristal. Dimensi pemikirannya sangat luas bagi bangsa Indonesia, khusunya NU. Sehingga apa yang telah dilakukannya harus dilanjutkan.

Perjuangan Gus Dur Ibarat Kristal (Sumber Gambar : Nu Online)
Perjuangan Gus Dur Ibarat Kristal (Sumber Gambar : Nu Online)

Perjuangan Gus Dur Ibarat Kristal

Demikian disampaikan Alissa Wahid dalam dialog "Mengenal Gus Dur Lebih Dekat; Membedah Pemikiran Gus Dur" yang diselenggarakan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Institut Islam Nahdlatul Ulama (INISNU) Jepara, Jawa Tengah, Sabtu (27/4).

Putri sulung Gus Dur itu kemudian menceritakan perjuangan ayahnya. Ia mencontohkan pembelaan Gus Dur terhadap Inul tidak lantaran cucu pendiri NU, KH Hasyim Asy’ari itu, demen dengan goyangannya, “Melainkan Inul Daratista pada kasus itu, adalah perempuan yang ditindas,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Terkait warisan ayahnya, koordinator Jaringan Gusdurian itu menyontohkan, sosok Gus Dur merupakan pemimpin Islam yang ramah dan rahmat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Alissa menyatakan, Gus Dur juga memberikan Nahdlatul Ulama pandangan keragaman. Era 80-90-an, lanjut Alissa, NU merupakan komponen besar yang kuat di masyarakat Indonesia maupun dunia. Di samping itu, sebagai tokoh penghubung antariman dan seorang pemimpin publik.

Ia yang juga seorang psikolog keluarga mengungkapkan, meski hanya 21 bulan memimpin Indonesia, namun Gus Dur telah memisahkan militer dan polisi, menteri pertahanan dari orang sipil, menghapus organ negara yang korup, mendamaikan Tionghoa dan masih banyak lagi perjuangan untuk Indonesia.

“Bapak sebagai orang NU, sebagai publik, maupun seorang presiden, tetap melandasinya untuk kepentingan rakyat,” ungkap alumnus UGM Yogyakarta.

Alissa juga menambahkan, Gus Dur jika dirinci, mempunyai 9 nilai dasar, yakni ketauhidan, kemanusiaan, keadilan, kesetaraan, persaudaraan, pembebasan, kesederhanaan, kesatria, kearifan lokal. Dari 9 nilai dasar itu, sebenarnya Gus Dur mudah dipahami dari berbagai lensa (perspektif, red).

Redaktur        : Abdullah Alawi

Kontributor    : Syaiful Mustaqim

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Makam, Nahdlatul Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Minggu, 19 November 2017

Hukum Daging Babi dan Organ Lainnya

Assalamu ‘alaikum wr. wb.

Terlebih dahulu saya minta maaf. Kami mau menanyakan soal keharaman babi. Sebagaimana yang kami ketahui sejak kecil dari guru-guru kami, babi adalah hewan yang diharamkan termasuk juga kulit maupun tulangnya. Tetapi saya agak kebingunan ketika tetangga baik kami yang non-Muslim menyanggah bahwa yang diharamkan dalam Al-Qur`an adalah daging babi, bukan kulitnya. Bagaimana sebenarnya penafsiran ayat 173 Surat Al-Baqarah? Mohon penjelasannya dalam soal ini. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Bina Setiawan/Jakarta)

Hukum Daging Babi dan Organ Lainnya (Sumber Gambar : Nu Online)
Hukum Daging Babi dan Organ Lainnya (Sumber Gambar : Nu Online)

Hukum Daging Babi dan Organ Lainnya

Jawaban

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Umat Islam menyakini bahwa bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang ketika disembelih tidak disebut nama selain Allah adalah haram untuk dimakan. Hal ini dengan jelas termaktub dalam firman Allah swt salah satunya adalah dalam surat Al-Baqarah ayat 173 sebagaimana yang dikemukakan penanya di atas.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Artinya, “Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi, dan binatang yang (ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah. Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang,” (QS. Al-Baqarah [2]: 173).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Lantas apa yang dimaksud frase firman Allah wa lahmal khizir (dan daging babi)? Apakah hanya sebatas daging babinya atau juga mencakup juga organ tubuh yang lain? Dalam hal ini setidaknya ada dua pandangan. Yaitu pandangan Dawud Az-Zhahiri dan pandangan jumhurul ulama.

Dawud Az-Zhahiri menyatakan bahwa yang dimaksud dengan “daging babi” dalam ayat tersebut adalah daging itu sendiri, bukan selainnya sesuai dengan bunyi nash. Konsekuesninya adalah keharamannya hanya terbatas pada daging babi itu sendiri.

Sedang menurut jumhurul ulama, “daging babi” itu maksudnya adalah bukan hanya sebatas dagingnya, tetapi mencakup semua organ tubuh lainnya. Penyebutan daging babi lebih karena daging itu merupakan organ tubuh babi yang paling banyak dimanfaatkan. Jadi penggunaan kata “daging babi” untuk mengingatkan keseluruhan organ tubuhnya.

Dengan kata lain, menyebutkan sebagian organ tubuh babi tetapi maksudnya adalah keseluruhannya. Dalam bahasa Arab hal ini sudah maklum, dan dikenal dengan istilah majaz mursal. Konsekuensinya adalah keharaman babi itu bukan hanya sebatas dagingnya tetapi juga mencakup organ tubuh lainnya.

{ ? ? } ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Ada dua pendapat dalam memahami frase ayat ‘wa lahmal khinzir’ (dan daging babi). Pertama, keharamannya hanya sebatas daging babi, bukan yang lainnya sesuai bunyi nash. Ini adalah pendapat Dawud bin Ali. Kedua, keharamannya itu umum mencakup semua organ tubuh babi. Sedangkan nash yang hanya menyebutkan sebatas dagingnya itu dimaksudkan untuk mengingatkan keseluruhan bagian organnya karena sebagian besar organ tubuh babi adalah dagingnya,” (Lihat Al-Mawardi, An-Nukat wal ‘Uyun, Beirut, Darul Kutub Al-Ilmiyyah, juz I, halaman 222).

Pandangan Dawud Az-Zhahiri yang menyatakan keharaman babi hanya sebatas dagingnya sebagaimana dikemukakan di atas ternyata tidak selaras dengan pandangan penerusnya yaitu Ibnu Hazm.

Menurut Ibnu Hazm, haram memakan sesuatu apapun dari babi. Bahkan memanfaatkan rambutnya saja, menurut Ibnu Hazm, tidak diperbolehkan. Konskuensinya adalah keharaman babi bukan hanya sebatas dagingnya, tetapi juga mencakup organ tubuh lainnya, berbeda dengan pandangan Dawud Azh-Zhahiri.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Abu Muhammad berkata, tidak halal memakan sesuatu apapun dari babi, baik daging, lemak, kulit, urat, tulang rawan, usus, otak, tulang, kepala, organ tubuh lainnya, susu, dan rambutnya, baik jantan maupun betina, kecil maupun besar. Begitu juga tidak halal mengambil manfaat rambut babi baik untuk manik-manik atau selainnya,” (Lihat Muhammad Ibnu Hazm, Al-Muhalla, Beirut, Darul Fikr, juz VII, halaman 388).

Dengan mengikuti pandangan jumhurul ulama atau mayoritas ulama, dapat disimpulkan bahwa keharaman babi bukan hanya sebatas dagingnya, tetapi mencakup semua organ tubuhnya yang lain. Mengenai pandangan Dawud Azh-Zhahiri yang menyatakan keharaman babi hanya sebatas dagingnya, justru malah tidak diamini Ibnu Hazm yang notabene adalah penerus pemikirannya.

Saran kami, hindari makanan yang mengandung unsur babi karena itu diharamkan.

Demikian jawaban yang dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami selalu terbuka untuk menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu’alaikum wr. wb


(Mahbub Ma’afi Ramdlan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Fragmen, Makam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock