Minggu, 04 Juni 2017

Akademisi Singapura: Tradisi Penulisan Kitab di NU Jangan Berhenti

Makassar, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Salah satu yang menjadikan Islam Nusantara berakar adalah adanya tradisi kitab kuning yang diwarisikan dari generasi ke generasi. Kitab itu tak hanya dipelajari tapi juga dikembangkan dalam bentuk penulisan.

Akademisi Singapura: Tradisi Penulisan Kitab di NU Jangan Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)
Akademisi Singapura: Tradisi Penulisan Kitab di NU Jangan Berhenti (Sumber Gambar : Nu Online)

Akademisi Singapura: Tradisi Penulisan Kitab di NU Jangan Berhenti

Demikian pandangan Prof DR Azhar Ibrahim Alwee dari Universiti Nasional Singapura dalam diskusi Pra-Muktamar NU bertema “Islam Nusantara sebagai Islam Mutamaddin Menjadi Tipe Ideal Dunia Islam” di Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu (22/4) petang.

“Sayangnya di NU tradisi penulisan itu berhenti di abad ke-19,” katanya.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Azhar menyatakan, seharusnya karya ilmiah yang melanjutkan kitab-kitab ulama klasik tidak stagnan. Menurutnya, satu dari akar pemikiran Islam Nusantara terletak pada kesetiaan Muslim Indonesia terhadap turats (tradisi). Akar yang lain adalah pengalaman sejarah islamisasi yang damai, pribumisasi, keterbukaan, dan peran ormas-ormas Islam moderat.

“Pada golongan keras tidak ada yang seperti ini. Adanya hanya tulisan lima lembaran. Islam ‘lembaran’ tentu berbeda dengan Islam dengan tradisi kitab,” tuturnya. Azhar juga menambahkan, dalam beberapa hal pemikiran ulama klasik perlu mendapat revisi seiring dengan perubahan zaman.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Di hadapam ratusan peserta utusan PCNU se-Indonesia timur tersebut, ia juga mengaku kagum dengan karakter keberislaman NU yang kuat di bidang bahtsul masail. Tradisi ini juga mencerminkan adanya kesadaran ilmiah dan dan keterbukaan dalam perbedaan pendapat, termasuk di internal NU sendiri.

Hal ini pula yang tidak ia temukan dalam keberislaman kelompok garis keras yang menekankan pada doktrinasi dan penerbitan fatwa. “Di NU itu rileks. Bahtsul masail sambil rokok, joke-joke, juga debat habis-habisan. Pas jam makan malam, perbedaan tajam itu selesai. Bisa salam-salaman,” katanya disambut senyum hadirin. (Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Pesantren Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Akademisi Singapura: Tradisi Penulisan Kitab di NU Jangan Berhenti di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock