Rabu, 23 November 2016

Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa

Jakarta, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal . Selain warga NU di tingkat akar rumput, Mustasyar PBNU KH Ma’ruf Amin juga angkat bicara soal rencana penerapan sistem Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa) dalam menentukan pemumpin baru NU pada Muktamar ke-33 NU di Jombang awal Agustus mendatang.

Ia menyebut posisi Rais Aam di tubuh NU adalah maqam (derajat yang tinggi), sehingga yang berhak mendudukinya adalah shahibul maqam (yang layak pada posisi itu). “Menurut saya standar Rais Aam itu ya (seperti) KH Wahab Chasbullah, atau paling tidak yang mendekati beliau,” tuturnya pada forum Musyawarah Nasional Alim Ulama, Ahad (14/6) malam.

Pada forum yang digelar di gedung PBNU, Jakarta, ini hadir perwakilan dari 27 Pengurus Wilayah NU (PWNU) dari berbagai daerah di Indonesia. Forum tertingi setelah Muktamar NU ini fokus pada pembahasan Ahlul Halli wal Aqdi, model pemilihan melalui semacam tim formatur yang terdiri dari orang-orang terpilih.

Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)
Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa (Sumber Gambar : Nu Online)

Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa

“Memang harus dijaga. Menurut saya ada dua cara pengamanannya. Yang pertama adalah kriteria, dan yang kedua adalah sistem. Sistem saja tanpa kriteria, bisa nyelonong. Kriteria tanpa sistem juga sulit terealisasi,” imbuhnya.

Kiai Ma’ruf Amin memaparkan, setidaknya Rais Aam memiliki empat kriteria, antara lain faqih atau berwawasan agama secama mendalam, munadhdhim (organisatoris), muharrik (penggerak), dan mutawarri’ (berlaku sangat hati-hati dan jauh dari kepentingan duniawi).

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

“Rais Aam itu harus menjadi merupakan penggerak , bukan bergerak sendiri. Kalau bergerak sendiri namanya gasing. Yang keempat harus mutawarri’, wira’i,” tutur Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat ini.

Bagi Kiai Ma’ruf Amin, keempat hal tersebut adalah kriteria ideal, yang semestinya dipenuhi atau paling tidak mendekati sejumlah kriteria tersebut. ? Kriteria ini akan semakin terjaga ketika didukung oleh sistem yang memungkin hal itu.

“Saya kira Ahlul Halli wal Aqdi adalah sistem yang paling aman. Sehingga orang yang tidak paham tidak meilih orang yang mereka tidak paham, memilih yang bukan shahibul maqam,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Kiai Maruf Amin tidak mengungkapkan pendapatnya secara spesifik tentang penerapan sistem Ahwa untuk pemilihan ketua umum tanfidhiyah. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Hikmah, Pondok Pesantren, Sunnah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Pandangan Kiai Ma’ruf Amin tentang Penerapan Ahwa di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal ini merupakan bukan asli tulisan admin, oleh karena itu cek link sumber.


EmoticonEmoticon

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock