Pamekasan, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal. Duka mendalam masih dirasakan keluarga besar Pesantren Kebun Baru, Kacok, Palengaan. Kewafatan KH Ach Muafa Syafii Kamis 24 Januari, menyisakan perih jiwa tak terkira. Masyarakat Pamekasan masih diliputi rasa sedih tak tertahankan.
Kiai Muafa, merupakan tipikal sosok kiai kharismatik. Ilmunya tertakar di belantara Nusantara. Bahkan, menembus batas teritorial negara hingga ke Mekkah.
| Kiai Muafa, Pernah Jadi Sopir Ulama (Sumber Gambar : Nu Online) |
Kiai Muafa, Pernah Jadi Sopir Ulama
Setelah empat tahun di Mekkah, Kiai Muafa menetap di kediaman Syaikh Ismail Al-Yamani. Tugasnya semakin bertambah. Sejak tahun 1987 sampai Kiai Muafa boyong pada tahun 1990, Syaikh Ismail menjadikannya sebagai sopir pribadi.Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal
Untuk diketahui, Kiai Muafa mengawali perjalanan hidupnya dengan mengaji kepada ayahandanya, KH Moh Asyari. Setelah itu, ia melanjutkan petualangannya dalam mencari ilmu dengan masuk Sekolah Dasar dan madrasah milik ayahandanya. Itu, ditempuhnya selama 6 tahun."Setelah tamat SD dan MI, dalam sejarahnya, beliau ingin melanjutkan pendidikannya di sekolah umum, tetapi sang ayah tidak merestui. Lalu, Ponpes Sidogiri menjadi pilihan dalam pelabuhan ilmu agama bagi beliau," tutur H Muhammad Ali Wafa, Ketua II Bidang Madrasiyah Kebun Baru.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal
Dikatakan, awal mula Kiai Muafa menginjakkan kaki di Sidogiri ialah tahun 1973 M. Ketika itu, ia diterima di kelas enam Ibtidaiyah, setelah mengikuti tes layak masuk. Setamatnya kelas enam Tsanawoyah, ia menjadi utusan reguler mengajar setahun di Desa Baddian Tamanan Bondowoso, sebagai bentuk penerapan ilmu yang telah dipelajari selama di Sidogiri.Setelah menjalankan tugas di Baddian, Kiai Muafa masih melanjutkan pendidikannya di Sidogiri dengan masuk Kuliah Syariah. Dalam menjalankan kewajiban sebagai santri, Kiai Muafa sangat antusias dalam segala bidang.
"Sehingga, tak selang beberapa lama, beliau diangkat sebagai Ketua Ikatan Keluarga Santri Madura (IKSMA) pada 1981-1982. Kemudian pada 1983-1984, beliau diangkat menjadi wakil kepala MMU Ibtidaiyah," beber KH Ahmad Asir, Ketua Lembaga Pengembangan Pertanian NU Pamekasan.
Menurut pria yang banyak tahu sepak terjang Kiai Muafa ini, pada 1984, Kiai Muafa boyong dari Sidogiri dan langsung ke Mekkah, tanpa pulang ke rumah terlebih dahulu untuk melanjutkan pendidikannya.
"Selama di Mekkah, beliau menetap di kediaman Syaikh Ismail Al Yamani sekitar tujuh tahun."
Dalam usaha menggapai cita-cita yang luhur, selama di Mekkah, tambahnya, Kiai Muafa juga berguru kepada Syaikh Mohammad Alawi Al-Maliki. Dari Syaikh inilah, Kiai Muafa mendapat ijazah plus Sanad Kitab Kutub as-Sittah.
"Selain itu, beliau juga berguru kepada Syaikh Abdullah al-Lahji, Syaikh Abdullah Dardumzn dan Syaikh Yasin Al-Fadani. Dari ketiga ulama tersebut, beliau lebih banyak mengambil ilmu Nahwu," tukasnya.
Redaktur : Hamzah Sahal
Kontributor : Hairul Anam
Dari Nu Online: nu.or.id
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal Warta Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Tegal

EmoticonEmoticon